cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015" : 12 Documents clear
KEBERTAHANAN KAWASAN PERKAMPUNGAN PEDAMARAN SEMARANG Dhyah Puspita Dewi; Joesron Alie Syahbana
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.611 KB)

Abstract

Setiap kota besar biasanya mempunyai suatu kawasan yang masih mempertahankan kebudayaannya sebelumnya, baik fisik berupa bentuk bangunan yang masih tradisional maupun non fisik yaitu kegiatan-kegiatan yang sejak zaman dahulu dilakukan masih dilakukan. Kawasan tersebut sering disebut dengan kampung. Kampung berbeda dengan desa, salah satunya ialah lokasi desa yang berada di luar kota sedangkan kampung berada di dalam kota. Oleh karena itu, kampung memiliki masalah yang lebih pelik daripada desa. Secara keseluruhan, permasalahan yang dihadapi oleh Kawasan Perkampungan Pedamaran Semarang ialah banjir, drainase yang buruk, padat akan bangunan, kumuh dan tingginya angka kemiskinan. Masalah utama sendiri ialah masalah kemiskinan dan banjir. Namun, walaupun dihadang masalah demikian, kampung ini masih eksis. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui apa yang membuat Kampung Pedamaran di Kota Semarang bertahan hingga saat ini. Adapun metode yang digunakan ialah kualitatif desktriptif, dengan mengkaji karakteristik kampong melalui konsep elemen perancangan kota, mengkaji aspek fisik dan aspek non fisik kawasan. Pengumpulan data difokuskan kepada observasi lingkungan dan wawancara terhadap narasumber yang dianggap mengerti benar keadaan Kampung Pedamaran. Berdasarkan proses penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka dapat dilihat bahwa yang membuat kampung dapat bertahan dari berbagai permasalahan terutama terhadap banjir dan kemiskinan adalah oleh karena keadaan sosial kampung yang baik, dan karena kemudahan dalam mencari nafkah.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN TERENCANA KOTA DEPOK Laella Nuzullia; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.541 KB)

Abstract

Kota Depok sebagai bagian dari  Jakarta Metropolitan Region (JMR) mempunyai perkembangan yang cepat sebagai bentuk dari fenomena Mega-Urbanisasi. Salah satu bentuk perkembangannya dapat dilihat dari perkembangan kawasan permukiman terencana. Namun, seringkali pembangunan kawasan permukiman terencana yang dilakukan oleh pihak swasta/developer hanya berorientasi pada keuntungan  tanpa memperhatikan kesesuaian lahan sehingga menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun khususnya permukiman. Hal ini berdampak pada perkembangan kawasan permukiman terencana yang tidak merata karena mengikuti ketersediaan lahan tidak terbangun. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perkembangan kawasan permukiman terencana dan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Kajian perkembangan kawasan permukiman terencana dilakukan secara time series yaitu pada tahun 1990, 2000, dan 2010. Faktor – faktor yang dikaji dalam penelitian terdiri dari 5 faktor, yaitu Lahan Tidak Terbangun, Jarak dari Jaringan Jalan arteri dan Kolektor, Kondisi Fisik Alam, Faktor Eksternal berupa jarak dari kampus Universitas Indonesia (UI) dan Jaringan Jalan Tol, serta harga lahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah skoring, deskriptif kuantitatif, dan regresi spasial OLS (Ordinary Least Square). Hasil analisis yang telah dilakukan menghasilkan bahwa perkembangan kawasan permukiman terencana lebih cenderung mengarah ke luar pusat kota menuju ke wilayah – wilayah pinggiran Kota Depok. Ada 2 faktor yang memiliki perbandingan lurus terhadap perkembangan kawasan permukiman terencana. yaitu lahan tidak terbangun dengan nilai koefisien +0.010 dan jarak dari kampus Universitas Indonesia (UI) serta  Jaringan Jalan Tol dengan nilai koefisien +3.604. Sedangkan 3 faktor lainnya memiliki perbandingan terbalik terhadap perkembangan kawasan permukiman terencana yaitu Jaringan Jalan Arteri dan Kolektordengan nilai koefisien -0.104, Kondisi Fisik Alamdengan nilai koefisien -0.344, dan Harga Lahandengan nilai koefisien -0.003.Permukiman Terencana, Peri-urban, Ordinary Least Square (OLS)
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKEFEKTIFAN IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG KOTA DI KELURAHAN GEDAWANG KOTA SEMARANG Bayu Arief Triyanto; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.71 KB)

Abstract

Kasus pelanggaran pemanfaatan ruang yang terjadi ditingkat permasalahan paling bawah, seperti aktifitas pembangunan di kawasan konservasi di Kelurahan Gedawang merupakan contoh kasus tidak efektifnya implementasi rencana tata ruang Kota Semarang. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji faktor apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang yang menyebabkan rencana tata ruang Kota Semarang tidak efektif dalam implementasinya. Variabel penelitian yang digunakan terkait dengan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang berdasarkan kajian literatur terpilih 5 variabel utama yaitu Institusi/kelembagaan pengendalian pemanfaatan ruang, instrumen pengendalian pemanfaatan ruang, kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang, sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengawasan dan pelaporan. Metode penelitian yang akan digunakan ialah metode kuantitatif. Kemudian teknik analisis yang digunakan ialah analisis faktor dengan jenis Rfactor analysis. Teknik sampling dalam penelitian menggunakan simple random sampling. Teknik pengumpulan data primer menggunakan teknik kuisioner dan wawancara, sedangkan perolehan data sekunder melalui telaah dokumen. Penilaian data analisis dilakukan dengan menggunakan skala likert. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel bebas yaitu variabel-variabel pernyataan yang terkait dengan variabel utama hasilnya signifikan berkontribusi terhadap variabel terikat yaitu pelanggaran pemanfaatan ruang. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dari segi instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yaitu pertanyaan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rencana tata ruang dan peraturan peruntukkan lahan atau peraturan zonasi merupakan faktor yang berkontribusi paling besar terhadap terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang. 
KETERGANTUNGAN TERHADAP KENDARAAN PRIBADI DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Pratiwi Ramelia; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.838 KB)

Abstract

Kota Pontianak merupakan Ibu Kota Provinsi di Kalimantan Barat dengan keberadaan angkutan umum yang sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan sistem transportasi di Kota Pontianak. Dari penelitian ini, diketahui bahwa tujuan pergerakan tertinggi yaitu Kecamatan Pontianak Selatan, Kecamatan Pontianak Kota dan Kecamatan Pontianak Tenggara yang sudah terlayani trayek oplet, namun kurang terlayani oleh bus kota. Tingkat ketergantungan di Kota Pontianak yaitu pada tingkat sedang dengan skor grade point sebesar 2,375. Kecamatan dengan tingkat ketergantungan yang tinggi yaitu Kecamatan Pontianak Timur, Kecamatan Pontianak Utara, dan Kecamatan Pontianak Barat. Kemudian untuk Kecamatan Pontianak Kota dan Kecamatan Pontianak Selatan memiliki tingkat ketergantungan sedang. Kecamatan Pontianak Tenggara memiliki tingkat ketergantungan yang rendah. Kecamatan Pontianak Kota, Kecamatan Pontianak Selatan, dan Kecamatan Pontianak Tenggara merupakan lokasi pusat kota dengan kegiatan ekonomi, perkantoran, perdagangan, dan lainnya terpusat pada kecamatan ini. Untuk sistem jaringan, kualitas jaringan infrastruktur jalan maupun jembatan pada jalan-jalan utama di Kota Pontianak termasuk dalam kategori baik dan sudah merupakan perkerasan aspal. Hal ini mendorong kualitas aksesibilitas yang lebih baik bagi pengguna kendaraan pribadi. Penyediaan moda angkutan umum masih dikelola oleh pihak swasta dan pokja masyarakat, hal ini menyebabkan tarif angkutan umum yang tinggi dan tergantung harga bahan bakar minyak yang berlaku, selain itu kualitas dan jumlah moda yang minim serta pelayanan angkutan umum yang buruk menyebabkan masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi.
KAJIAN AKTIVITAS KOMERSIAL TERKAIT DENGAN HARGA LAHAN DI KORIDOR JALAN PAHLAWAN REVOLUSI JAKARTA TIMUR Abdul Baari; Ragil Haryanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.6 KB)

Abstract

Lahan merupakan suatu daerah di permukaan bumi yang ciri -cirinya mencakup semua pengenal yang bersifat cukup mantab dan dapat diduga berdasarkan daur dari biosfer, tanah, air, populasi manusia pada masa lampau dan masa kini sepanjang berpengaruh atas penggunaan lahan pada masa kini dan masa yang akan datan. Oleh karena lahan tidak dapat di perbaharui itu menjadikan harga lahan meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu aktifitas manusia yang berpengaruh terhadap penggunaan dan harga lahan yaitu  adanya kegiatan yang dapat menghasilkan finansial (bisnis)bagi manusia itu sendiri atau yang biasa disebut dengan komersial. Dari tahun ke tahun perkembangan aktivitas komersial sangat pesat, ditandai dengan maraknya pembangunan ruko maupun rukan di pinggir jalan utama dimana banyaknya  penduduk yang memanfaatkan jalan utama untuk melakukan aktifitasnya yang memicu kehadiran kegiatan komersial di sekitar jalan utama tersebut. Adanya aktivitas komersial itu pula menyebabkan penyimpangan peruntukan penggunaan lahan sehingga berimplikasi pada naiknya harga lahan yang tinggi. Berdasarkan justifikasi tersebut, muncul pertanyaan penelitian, “Bagaimana dampak aktivitas komersial terhadap penawaran harga pasar dan penetapan njop lahan di koridor Jalan Pahlawan Revolusi?” Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, maka alur penelitian perlu difokuskan pada fenomena perkembangan harga lahan yang terjadi seiring dengan perkembangan aktivitas komersial, baik dilihat dari nilai NJOP lahan maupun dari kesepakatan agen properti untuk penetapan harga lahan di koridor Jalan Pahlawan Revolusi. Pergerakan perkembangan perkotaan jakarta yang menggurita dari pusat ke timur menyebabkan perkembangan lahan di wilayah timur menjadi berubah semakin cepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengaruh aktivitas komersial terhadap penawaran harga pasar dan penetapan nilai jual objek pajak (NJOP) lahan di koridor jalan pahlawan revolusi,  pondok bambu, Jakarta Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif keluaran dari analisis meliputi karakteristik lahan pada wilayah studi, kegunaan terbaik dan tertinggi lahan dan kajian keterkaitan penawaran harga pasar dan penetapan njop terhadap aktivitas komersial di koridor Jalan Pahlawan Revolusi. Selain itu diharapkan hasil analisis dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi terkait dengan hasil penelitian.
POLA PERKEMBANGAN DAN FAKTOR PENENTU GUNA LAHAN DI KECAMATAN BEJI, KOTA DEPOK Retno Setyaningsih; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.226 KB)

Abstract

Kecamatan Beji adalah salah satu wilayah peri-urban yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta. Sebagai daerah pinggiran kota, Kecamatan Beji mengalami perkembangan penggunaan lahan yang intensif sejak tahun 90-an, hal disebabkan oleh adanya ekspansi aktivitas perkotaan ke daerah pinggiran, seperti pembangunan perumnas, relokasi Universitas Indonesia (UI), dan peningkatan kawasan pemukiman akibat tingginya urbanisasi. Fenomena ini menjadi pemicu bergesernya karakterisitk Kecamatan Beji sebagai wilayah peri-urban yang memiliki sifat peralihan desa-kota menjadi dominan sifat kekotaan (urban fringe). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor dan pola perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa analisis, yaitu analisis pola perkembangan penggunaan lahan melalui analisis perbandingan citra tahun 1990,1999, dan 2011, analisis deskriptif, dan analisis faktor menggunakan aplikasi SPSS. Pola perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji sejak tahun 1990-2011 mengalami pembentukan dalam tempo yang berbeda (cepat, sedang, dan lambat), hal ini terkait pada faktor pemicu perkembangan penggunaan lahan yang berbeda-beda pengaruhnya di setiap daerah di Kecamatan Beji. Faktor dominan yang menjadi penentu perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji secara umum adalah faktor letak Kecamatan Beji yang berbatasan dengan Kota Jakarta dan faktor migrasi yang datang ke Kecamatan Beji, namun dalam penilaian faktor perkembangan penggunaan lahan setiap wilayah, masing-masing memiliki faktor dominan yang berbeda.
KAJIAN PERKEMBANGAN DAN KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN EKSISTING DI KECAMATAN INDRAMAYU Hilmi Hilmansyah; Iwan Rudiarto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.514 KB)

Abstract

Perkembangan kota di Kecamatan Indramayu menimbulkan kecendrungan tumbuhnya permukiman baru dan menyebar secara sporadis menempati kawasan yang bukan pada peruntukannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, muncul pertanyaan penelitian yaitu “BAGAIMANA PERKEMBANGAN DAN KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN EKSISTING DI KECAMATAN INDRAMAYU?”. Kajian ini menggunakan pendekatan spatial (teknologi GIS) dan pendekatan kuantitatif (skoring).Perkembangan Pemukiman atau Perubahan luas lahan permukiman dari tahun 2001 ke tahun 2013 sebesar 248.88 ha. Distribusi permukiman terbetuk memusat pada Perkotaan Indramayu dan menyebar ke kawasan perdesaan mengikuti jaringan jalan. Daya tampung penduduk sebesar 427,900 jiwa. Evaluasi kesesuaian lahan permukiman dengan RDTR Perkotaan Indramayu tahun 2013-2033 menunjukan pelanggaran pada zona SBWP 5 menempati kawasan peruntukan pertanian dan SBWP 11 menempati peruntukan sempadan sungai. Kesesuaian lahan permukiman berdasarkan kondisi fisik lahan (skoring) menunjukan kelas II (642.06 ha) total skor 34 dan Kelas III (3,391.01 ha) total skor 30. Kawasan lindung setempat berupa kawasan sempadan sungai (178,88 ha) dan sempadan pantai (89.33 ha). Luas kawasan pertanian subur sebesar 1,856, 16 ha. Terjadi pelanggaran sebesar 110.46 ha dan sesuai sebesar 3,922 ha. Hasil 20 (dua puluh) titik validasi menunjukan angka 0.90 atau mendekati 1, maka output kesesuaian lahan permukiman dapat diterima. Kesimpulan yang didapatkan bahwa perkembangan permukiman di Kecamatan Indramayu semakin padat pada perkotaan dan melebar ke perdesaan sedangkan kesesuaian lahan permukiman yang terbatas.
KAJIAN KARAKTERISTIK PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN GAYAMSARI KOTA SEMARANG Ranella Deliana; Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1828.356 KB)

Abstract

Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah sebagai akibat dari urbanisasi. Munculnya permukiman kumuh di bantaran sungai ini disebabkan karena kurangnya lahan untuk bermukim dan mahalnya harga lahan di perkotaan. Dampak dari adanya permukiman kumuh di kawasan bantaran sungai adalah merusak keindahan kota dan disfungsi sungai. Seperti pada kawasan bantaran sungai Banjir Kanal Timur Kota Semarang dan sungai-sungai lainnya yang melewati Kecamatan Gayamsari sudah terbentuk menjadi kawasan permukiman yang seharusnya tidak diperuntukkan sebagai kawasan permukiman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik permukiman  kumuh di Kecamatan Gayamsari Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif, spasial dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permukiman kumuh di Kecamatan Gayamsari Kota Semarang memperlihatkan kualitas bangunan yang rendah dilihat dari banyaknya jenis bangunan semi permanen dan non permanen. Dilihat dari prasarananya kondisi air bersih baik, kondisi drainase, sanitasi dan persampahan buruk, kondisi jalan buruk pada kawasan bantaran namun pada kawasan non bantaran kondisi jalan baik. Tingkat pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan rendah, sebagian besar mata pencaharian sebagai buruh dan pedagang. Pada kawasan bantaran sungai rumah belum bersertifikat dan  merupakan lahan irigasi. Dari hasil analisis tersebut, maka rekomendasi yang dapat diberikan yaitu memberikan peringatan dengan kebijakan yang ada bagi rumah yang terdapat di kawasan bantaran sungai yang menggunakan lahan irigasi dan belum bersertifikat, merevitalisasi dan mengoptimalkan prasarana yang kurang memadai.
KINERJA PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PURWOREJO SEBAGAI RUANG PUBLIK Septi Rachma Sari; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.383 KB)

Abstract

Kinerja pelayanan suatu ruang publik dapat dikatakan baik apabila memiliki aspek responsibilitas, demokratis, dan bermakna yang seimbang. Kenyataannya banyak ruang publik yang terlalu bersifat demokratis disebabkan oleh kemudahan pengunjung bergerak bebas dalam melakukan aktivitasnya di sekitar kawasan tersebut. Keadaan tersebut menarik untuk diteliti, dengan pertanyaan penelitian: Apakah Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik sudah sesuai dengan tingkat kinerja yang seharusnya? Hal ini penting dalam menjaga kualitas ruang publik yang mampu memenuhi kebutuhan aktivitas pengunjungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pelayanan Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dan data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner dengan informan yang dipilih melalui teknik pemilihan sampel nonprobability sampling dengan jenis sampling insidental untuk pengunjung alun-alun. Hasil akhir dari penelitian ini bahwa faktor demokratis di Alun-alun Kota Purworejo sangat tinggi sehingga untuk menyeimbangkan kinerja pelayanan di alun-alun tersebut dengan cara meningkatkan kualitas faktor image di kawasan sekitarnya.
KAJIAN PERKEMBANGAN KECAMATAN MIJEN SEBAGAI DAMPAK PEMBANGUNAN BUKIT SEMARANG BARU (BSB CITY) Ratri Septi Adiana; Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.785 KB)

Abstract

isu urbanisasi Kota Semarang terkait tingginya pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,7% pada tahun 2010 yang berdampak pada masalah keruangan. Jumlah penduduk yang tinggi menuntut ketersediaan tempat tinggal dengan segala sarana dan prasarana penunjangnya sebagai pusat aktivitas penduduk di kawasan tersebut. Dewasa ini peran kawasan pinggiran kota makin penting karena salah satu kecenderungan perkotaan adalah perpindahan penduduk dari inti kota ke pinggiran. Perkembangan kawasan pinggiran ini dapat dilihat dari pembangunan perumahan Kota Satelit yaitu Bukit Semarang Baru (BSB City,  sehingga fenomena ini berdampak pada perkembangan di Kecamatan Mijen itu sendiri. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa karakteristik Kecamatan Mijen pada tahun 1999 memiliki struktur ruang berupa lahan yang masih pedesaan karena didominasi oleh lahan pertanian. Ketika pembangunan BSB City dimulai, lahan pertanian tersebut mengalami perubahan menjadi fungsi lahan perkotaan dengan  pola jalan bersiku banyak ditemukan di area ini menunjukkan terdapat area permukiman terencana dengan pola perkembangan kota terpencar/tidak berpola. Pergeseran hirarki kota terjadi pada Kelurahan Jatisari, Kedungpane, Jatibarang, dan Mijen. Pada tahun 1999 lahan hutan sebesar 66% dari total luas Kecamatan Mijen yang kemudian menjadi 30% pada tahun 2011. Sedangkan peningkatan fungsi lahan permukiman dari 22% menjadi 59%, dan secara sosial ekonomi terjadi peningkatan tingkat pendapatan masyarakat yang disebakan oleh pergeseran mata pencaharian dari petani  menjadi  buruh. Selain itu juga angka migrasi netto tertinggi pada Kelurahan Jatisari.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue