cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 714 Documents
KORELASI KUALITAS DIET DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PENYINTAS COVID-19 DI KABUPATEN BANYUMAS Kinasih, Baiti; Margawati, Ani; Ediati, Annastasia
Journal of Nutrition College Vol 15, No 2 (2026): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i2.50902

Abstract

ABSTRACTBackground: The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the global population and various aspects of life. Although the infection can be cured, COVID-19 may cause long-term effects on the health of patients who have been declared virus-free. The quality of life of COVID-19 survivors has been reported to remain relatively low. Nutritional factors could play a role in the recovery process.Objectives: evaluating the correlation between diet quality and quality of life in COVID-19 survivors.Methods: a cross-sectional study involving 96 COVID-19 survivors aged over 18 years was conducted in Banyumas Regency, Central Java. Data collection took place two years following the post-infection phase. Quality of life was assessed using the Indonesian version of the WHOQOL-BREF. Diet quality was measured using the Diet Quality Index-International (DQI-I). We evaluated dietary intake using SQ-FFQ and analyzed it with NutriSurvey software. Pearson and Spearman correlation tests were applied to analyze the data, using IBM Statistic SPSS version 23.Results The physical and psychological domains of quality of life among COVID-19 survivors had lower median scores compared to the social and environmental domains. Most of survivors (83.3%) had poor diet quality. Intake of vegetables, fiber, and calcium was below daily recommendations, while fat intake was excessive, resulting in an imbalance in macronutrient and micronutrient ratios. There was a positive correlation between overall diet quality scores, including dietary diversity, nutrient adequacy (particularly fruit and fiber intake), and nutrient balance. Conversely, intake of total fat, saturated fat, cholesterol, and empty calorie foods showed a negative correlation with quality of life.Conclusion: Nutrient intake plays a contributory role in the rehabilitation process of COVID-19 survivors. Greater attention should be given to the dietary patterns and types of foods consumed by this population.Keywords : diet quality; nutrition; quality of life; COVID-19 survivor. ABSTRAKLatar belakang: pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap populasi dunia dan berbagai aspek kehidupan. Meskipun bisa disembuhkan, infeksi COVID-19 dapat menimbulkan efek jangka panjang pada kesehatan pasien yang dinyatakan terbebas dari virus. Kualitas hidup penyintas COVID-19 dilaporkan masih tergolong rendah. Faktor gizi mungkin berperan dalam proses penyembuhan penyakit. Tujuan: mengevaluasi korelasi kualitas diet dengan kualitas hidup pada penyintas COVID-19.Metode: studi potong lintang yang melibatkan 96 partisipan berusia >18 tahun. Penelitian dilakukan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada penyintas COVID-19 pascainfeksi 2 tahun. Kualitas hidup dinilai dengan WHOQOL-BREF versi Indonesia. Kualitas diet diukur dengan Diet Quality Index International (DQI-I). Asupan makanan dihitung dengan instrumen SQ-FFQ dengan bantuan software nutrisurvey. Uji korelasi pearson dan spearman digunakan untuk analisis data, dengan bantuan software IBM Statistic SPSS 23.Hasil: kualitas hidup penyintas COVID-19 pada domain fisik dan psikis memiliki median yang lebih rendah dari domain sosial dan lingkungan. Kualitas diet penyintas COVID-19 sebagian besar (83,3%) tergolong rendah. Asupan sayur, serat, dan kalsium kurang dari rekomendasi harian. Asupan lemak responden tinggi, sehingga rasio asupan makronutrien dan mikronutrien tidak seimbang. Terdapat korelasi positif antara skor total kualitas diet, keragaman pangan, kecukupan asupan zat gizi yang berasal dari asupan buah dan serat, dan keseimbangan zat gizi, dengan kualitas hidup penyintas COVID-19. Sebaliknya, asupan lemak total, lemak jenuh, kolesterol, dan makanan rendah gizi, berkorelasi negatif dengan kualitas hidup.Simpulan: asupan zat gizi terbukti berkontribusi terhadap proses rehabilitasi penyintas COVID-19. Perlu adanya perhatian lebih pada pola makan dan jenis asupan yang dikonsumsi penyintas COVID-19.Kata Kunci : Kualitas diet; gizi; kualitas hidup; penyintas COVID-19
DINAMIKA DAN DISPARITAS AKSES PANGAN PADA REMAJA DALAM KONTEKS LINGKUNGAN OBESOGENIK: TINJAUAN NARATIF TENTANG DETERMINAN SOSIO-EKONOMI DAN STRUKTURAL Widyastuti, Paula Agung; Noer, Etika Ratna; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 15, No 2 (2026): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i2.53292

Abstract

ABSTRACTBackground:. Adolescent obesity has risen significantly in developing countries alongside socio-economic changes, urbanization, and nutrition transition. Inequities in food access, both in availability and quality, contribute to dietary shifts among adolescents toward high-energy, nutrient-poor foods.Objective: To identify the dynamics and disparities in food access among adolescents in obesogenic environments by examining the role of socio-economic and structural determinants influencing dietary behaviors.Methods: This narrative review involved literature searches in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, covering publications from 2015 to 2025. Keywords were applied in both English and Indonesian, focusing on adolescent food access, obesogenic environments, and socio-economic determinants.Results: Household income, educational level, and social norms influence food affordability and preferences, whereas food outlet distribution, school policies, and food prices determine the availability of healthy options. These determinants interact to reinforce obesogenic cycles, particularly among low-income groups facing both economic and environmental barriers.Conclusion: Preventing adolescent obesity demands coordinated policies that enhance food access and nutrition education. This review highlights the role of structural inequities in shaping adolescent diets and the need for systemic responses.Keywords: Adolescent obesity; eating behavior; food access; obesogenic environment; socio economic ABSTRAKLatar Belakang: Obesitas remaja meningkat secara signifikan di negara berkembang seiring perubahan sosial ekonomi, urbanisasi, dan transisi gizi. Ketimpangan akses pangan dari segi ketersediaan, maupun kualitas berkontribusi pada pergeseran pola makan remaja menuju konsumsi makanan tinggi energi dan rendah gizi.Tujuan: Mengidentifikasi dinamika dan ketimpangan akses pangan pada remaja di lingkungan obesogenik dengan menelaah peran determinan sosial-ekonomi dan struktural yang memengaruhi perilaku konsumsi pangan.Metode: Tinjauan naratif dilakukan melalui pencarian literatur pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar, mencakup publikasi tahun 2015–2025. Kata kunci digunakan dalam bahasa Inggris dan Indonesia terkait akses pangan remaja, lingkungan obesogenik, dan determinan sosial ekonomi.Hasil: Pendapatan keluarga, pendidikan, dan norma sosial memengaruhi keterjangkauan serta preferensi pangan sedangkan variasi outlet, kebijakan sekolah, dan harga pangan menentukan ketersediaan pilihan sehat. Kedua faktor ini berinteraksi menciptakan siklus obesogenik, terutama pada kelompok sosial ekonomi rendah yang menghadapi hambatan ekonomi dan lingkungan.Kesimpulan: Pencegahan obesitas remaja membutuhkan pendekatan multi-level melalui kebijakan distribusi pangan, intervensi komunitas, regulasi pemasaran, dan edukasi gizi untuk memastikan akses pangan yang merata dan berkelanjutan. Kajian ini memberikan kontribusi memahami ketidaksetaraan struktural membentuk pola makan remaja dan menyoroti perlunya kebijakan yang bersifat sistemik.Kata kunci: Akses pangan; lingkungan obesogenik; obesitas remaja; perilaku makan; sosial ekonomi
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISA DI RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN Munthe, Rahmi Yulia; Ramadhani, Ira Dewi; Indah Fajar Ningsih, Windi; Septa Prautami, Erike
Journal of Nutrition College Vol 15, No 2 (2026): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i2.53185

Abstract

ABSTRACTBackground: Chronic Kidney Disease (CKD) is a non-communicable disease with increasing prevalence in Indonesia and globally. Hemodialysis therapy for end-stage CKD can prolong life expectancy, but it impacts patients' quality of life. Nutritional status is known to influence the quality of life of hemodialysis patients, but previous research has shown discrepancies.Objectives: This study aims to analyze the relationship between nutritional status and quality of life of CKD patients undergoing hemodialysis at Mohammad Hoesin Central General Hospital.Methods: This study used a cross-sectional design with 49 respondents selected through purposive sampling. Data were collected through body mass index (BMI) measurements and the KDQOL-SF 1.3 questionnaire. Nutritional status was categorized as good and malnourished, while quality of life was classified as good and poor. Bivariate analysis used Chi-Square test.Results: The majority of respondents were female, unemployed, had undergone hemodialysis for >1 year, were on hemodialysis twice a week for more than >4 hours, had a good nutritional status (71,4%), and a good quality of life (73,5%). There was a significant relationship between nutritional status and quality of life (p = 0,004), with a PR value of 2,000 (95% CI: 1,076–3,717), indicating that patients with good nutritional status were twice as likely to have a good quality of life compared to malnourished patients.Conclusion: Nutritional status is significantly associated with the quality of life of patients with Chronic Kidney Disease (CKD) on hemodialysis. Optimal nutritional management is a crucial aspect in improving the quality of life of hemodialysis patients.Keywords: Chronic kidney disease; hemodialysis; quality of life; nutritional status ABSTRAKLatar belakang: Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya meningkat di Indonesia dan dunia. Terapi hemodialisa sebagai penanganan GGK stadium akhir dapat memperpanjang harapan hidup, namun berdampak pada kualitas hidup pasien. Status gizi diketahui berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa, tetapi hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan kesenjangan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan kualitas hidup pasien GGK dengan hemodialisa di RSUP Dr. Mohammad Hoesin.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 49 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan kuesioner KDQOL-SF 1.3. Status gizi dikategorikan menjadi normal dan malnutrisi, sedangkan kualitas hidup dikategorikan menjadi baik dan buruk. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, tidak bekerja, sudah melakukan hemodialisa >1 tahun, melakukan hemodialisa 2 kali seminggu dengan durasi >4 jam, memiliki status gizi normal (71,4%) dan kualitas hidup baik (73,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kualitas hidup (p = 0,004), dengan nilai PR = 2,000 (CI 95%: 1,076–3,717), menunjukkan bahwa pasien dengan status gizi normal berpeluang dua kali lebih besar untuk memiliki kualitas hidup yang baik dibandingkan pasien malnutrisi.Simpulan: Status gizi berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Manajemen gizi yang optimal menjadi aspek penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisa.Kata Kunci : Gagal ginjal kronis; hemodialisa; kualitas hidup; status gizi
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN POLA KONSUMSI ASAM LEMAK OMEGA-3 TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA PEGAWAI DI YOGYAKARTA Nur'aini, Alfi; Fayasari, Adhila
Journal of Nutrition College Vol 15, No 2 (2026): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i2.52951

Abstract

ABSTRACTBackground: Office workers with a sedentary lifestyle are at risk of elevated total cholesterol levels. Excess Body Mass Index (BMI) and low omega-3 intake have the potential to affect lipid balance in the blood. Omega-3 intake plays an important role in maintaining normal lipid profiles and reducing the risk of cardiovascular diseases. Objectives: This study aimed to determine the relationship between Body Mass Index (BMI) and omega-3 fatty acid intake patterns with total cholesterol levels among employees in Yogyakarta. Methods: This research employed a cross-sectional design with a total of 158 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), height and weight measurements, and cholesterol level examination using a cholesterol meter. Statistical analyses used were the Spearman rank test and Chi-square test. Results: The majority of respondents had high total cholesterol levels (63.9%), excessive BMI (70.3%), and low omega-3 intake (78.5%). There was no significant relationship between BMI and total cholesterol levels (p=0.560). However, there was a significant relationship between omega-3 intake and total cholesterol levels (p=0.024; OR=2.25), indicating that respondents with low omega-3 intake had a 2.25 times higher risk of having high cholesterol levels. Conclusion: There was no significant relationship between BMI and total cholesterol levels among employees in Yogyakarta. However, there was a significant relationship between omega-3 intake and total cholesterol levels. These findings highlight the importance of increasing omega-3 intake as a preventive measure against dyslipidemia in office workers.Keywords : BMI; omega-3; office workers; total cholesterol ABSTRAKLatar belakang: Pegawai perkantoran dengan gaya hidup sedentari berisiko mengalami peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berlebih dan pola konsumsi omega-3 yang rendah berpotensi dapat mempengaruhi keseimbangan kadar lipid dalam darah. Asupan omega-3 berperan penting dalam menjaga profil lipid tetap normal dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pola konsumsi asam lemak omega-3 terhadap kadar kolesterol total pada pegawai di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah responden 158 orang yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta pemeriksaan kolesterol dengan alat cholesterol meter. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji spearman-rank dan chi-square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki kadar kolesterol total tinggi (63,9%), IMT berlebih (70,3%), dan pola konsumsi omega-3 rendah (78.5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan kadar kolesterol total (p=0,560). Terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi omega-3  dan kadar kolesterol total (p=0,024; OR=2,25), menunjukkan bahwa responden dengan asupan omega-3 yang kurang memiliki risiko 2,25 kali lebih besar memiliki kolesterol tinggi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara IMT dan kadar kolesterol total pada pegawai di Yogyakarta. Terdapat hubungan antara pola konsumsi omega-3 dan kadar kolesterol total pada pegawai di Yogyakarta. Hasil ini menunjukkan pentingnya peningkatan konsumsi omega-3 sebagai upaya pencegahan terhadap dislipidemia pada pegawai kantoran.Kata Kunci : IMT; kolesterol total; omega-3; pegawai kantoran