cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 734 Documents
HUBUNGAN DIETARY ACID LOAD DENGAN KEJADIAN SARKOPENIA DAN HIPERTENSI PADA ORANG DEWASA DI SEMARANG Elsa Pavita; Himmatunnisak Mahmudah; Anindya Nurul Kusuma Dewi
Journal of Nutrition College Vol 15, No 3 (2026): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i3.55333

Abstract

ABSTRACTBackground: Sarcopenia, the progressive loss of muscle mass and strength, and hypertension, characterized by elevated blood pressure, are prevalent health concerns globally. Both conditions are influenced by various factors, including nutritional status. This study aims to analyze the risk factors for sarcopenia and hypertension, focusing on dietary acid load.Objectives: An observational analytic study with a cross-sectional approach was conducted at health centers in Semarang City from February to March 2024. A purposive sampling technique selected 152 participants aged 40-80 years.Methods: Data were collected through interviews, medical records, and physical measurements, including dietary intake, muscle mass, and blood pressure.Results: The results revealed a significant relationship between dietary acid load and sarcopenia (p = 0.036, OR = 1.988), indicating that a high acid load doubles the risk of sarcopenia. However, no significant association was found between dietary acid load and hypertension (p = 0.353, OR = 1.357).Conclusion: These findings suggest that while dietary acid load significantly impacts muscle health, its effect on blood pressure may involve more complex mechanisms. Effective dietary interventions could potentially mitigate the risk of sarcopenia and improve muscle health outcomes. Further research is needed to explore the detailed mechanisms linking dietary acid load and hypertension.Keywords : Sarcopenia; hypertension; dietary acid load, elderly population ABSTRAKLatar belakang: Sarkopenia, hilangnya massa dan kekuatan otot secara progresif, dan hipertensi, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di seluruh dunia. Kedua kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk status gizi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sarkopenia dan hipertensi, dengan fokus pada beban asam makanan.Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di puskesmas di Kota Semarang dari bulan Februari sampai Maret 2024. Teknik purposive sampling memilih 152 partisipan berusia 40–80 tahun.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara beban asam makanan dan sarkopenia (p = 0,036, OR = 1,988), yang menunjukkan bahwa beban asam yang tinggi menggandakan risiko sarkopenia. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara beban asam makanan dan hipertensi (p = 0,353, OR = 1,357).Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun asupan asam dari makanan berdampak signifikan pada kesehatan otot, efeknya pada tekanan darah mungkin melibatkan mekanisme yang lebih kompleks. Intervensi diet yang efektif berpotensi mengurangi risiko sarkopenia dan meningkatkan hasil kesehatan otot. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi mekanisme terperinci yang menghubungkan asupan asam dari makanan dan hipertensi.Kata Kunci: Sarkopenia; hipertensi; beban asam pada makanan; populasi lansia
PROFIL ANTROPOMETRI OBESITAS ANTARA MAHASISWA DENGAN METABOLIC HEALTHY OBESE (MHO) DAN METABOLIC UNHEALTHY OBESE (MUO) Fillah Fithra Dieny; Puji Rahayu; Ani Margawati; Hartanti Sandi Wijayanti; A. Fahmy Arif Tsani
Journal of Nutrition College Vol 15, No 1 (2026): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i1.47629

Abstract

ABSTRACTBackground: The prevalence of obesity in Indonesia continues to increase in adolescents. The increase in obesity in adolescents increases the risk of developing metabolic syndrome at a young age. However, not all obese individuals have poor metabolism. Metabolism in obesity is categorized into Metabolically Healthy Obesity (MHO) and Metabolically Unhealthy Obesity (MUO). Anthropometric measurements can differentiate between MHO and MUO individuals.Purpose: This study intends to analyze the differences in anthropometric profiles, including Waist Circumference (WC), Waist-to-Hip Ratio (WHR), Waist-to-Height Ratio (WHtR), and thigh circumference, between students who are Metabolically Healthy Obese (MHO) and Metabolically Unhealthy Obese (MUO).Methode: An analytical observational study with cross-sectional design in Diponegoro University Semarang college students, 37 women with healthy obesity and 37 women with unhealthy obesity selected by purposive sampling. The collected anthropometric measurement data included WC, WHR, WHtR, and TC. The biochemical and clinical that was collected were blood pressure, triglycerides, fasting blood sugar, and High-Density Lipoprotein (HDL) in Cito Banyumanik Laboratory.Result: All samples had pre-metabolic syndrome with at least 1 sign, which is central obesity. However, the median results of measurements of waist circumference, WHR, WHtR, and thigh circumference in the MUO group were greater than the MHO group. There was a significant difference in the results of measuring waist circumference (p<0.001), WHR (p=0.012), and WHtR (p<0.001), but there was no significant difference in thigh circumference (p=0.456)Conclusion: There were significant differences in waist circumference, waist-hip ratio, and waist-to-height ratio in the MHO and MUO groups. There was no significant difference in thigh circumference between the MUO and MHO groups.Keywords: Waist Circumference, WHR, WHtR, Thigh Circumference, Metabolic Phenotype ABSTRAKLatar belakang : Angka obesitas di Indonesia terus meningkat pada remaja. Peningkatan obesitas pada remaja meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik pada usia muda. Namun, tidak semua individu obesitas memiliki metabolisme yang buruk. Metabolisme pada obesitas dikategorikan  menjadi  Metabolically Healthy Obesity (MHO) dan Metabolically Unhealthy Obesity (MUO). Pengukuran antropometri dapat membedakan antara individu MHO dan MUO.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan Profil antropometri antara lain Lingkar Pinggang (LP), Rasio Lingkar Pinggang-Panggul (RLPP), Rasio Lingkar Pinggang-Tinggi Badan (RLPTB) dan lingkar paha antara mahasiswa dengan Metabolic Healthy Obese (MHO) dan Metabolic Unhealthy Obese (MUO)Metode : Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada mahasiswi UNDIP Semarang sebanyak 37 mahasiswi dengan obesitas dengan MUO dan 37 mahasiswi dengan obesitas dengan MHO dipilih secara purposive sampling. Data antropometri yang dikumpulkan berupa LP, RLPP, RLPTB, dan Lingkar Paha. Data biokimia dan klinis yang dikumpulkan yaitu Tekanan Darah (TD), Trigliserida, Gula Darah Puasa (GDP), dan High Density Lipoprotein (HDL) di laboratorium Cito Banyumanik. Analisis data menggunakan uji Mann Whitney.Hasil : Semua subjek mengalami pre sindrom metabolik dengan minimal 1 tanda yaitu obesitas sentral. Median hasil pengukuran lingkar pinggang, RLPP, RLPTB, dan lingkar paha pada kelompok MUO lebih besar dari kelompok MHO. Terdapat perbedaan signifikan pada hasil pengukuran lingkar pinggang (p<0,001), RLPP (p=0,012), dan RLPTB (p<0,001), akan tetapi tidak ada perbedaan signifikan pada lingkar paha (p=0,456).Simpulan : Terdapat perbedaan yang signifikan pada lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang-panggul, dan rasio lingkar pinggang-tinggi badan pada kelompok MHO dan MUO. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada lingkar paha antar kelompok MUO dan MHOKata Kunci : Lingkar Pinggang, RLPP, RLPTB, Lingkar Paha, Tipe Metabolik
DETERMINAN KADAR GULA DARAH PUASA PADA PENYANDANG DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDU, TEMANGGUNG Bela Prasasti; Aryanti Setyaningsih
Journal of Nutrition College Vol 15, No 1 (2026): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i1.49895

Abstract

ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia that can be caused by several factors such as sociodemographic factors, lack of knowledge related to DM, lack of family support, and lack of dietary compliance.Objectives: This study aims to identify determinants that affect blood sugar levels in people with DM in the work area of the Kedu Health Center, Temanggung.Methods: This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 106 people with DM selected using a purposive sampling technique. The inclusion criteria in this study were respondents with DM and were residents in the Kedu Health Center work area, willing to participate as research subjects, and aged 46 to 75 years. Data were collected through a sociodemographic questionnaire to determine gender, age, education level, occupation, and family income. Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) to determine the level of knowledge related to DM. Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS) to determine family support. Perceived Dietary Adherence Questionnaire (PDAQ) to determine dietary compliance. In addition, fasting blood sugar measurements were also carried out using a glucometer. Data analysis was carried out with SPSS using univariate analysis, bivariate with chi-square and spearman tests, and multivariate analysis with binary logistic regression.Results: The results showed that 56.6% of respondents had abnormal blood sugar. Bivariate results showed a relationship between sociodemographic factors (age, education level, occupation, and income), level of knowledge about DM, family support, and dietary compliance with blood sugar levels in people with DM (p <0.05). Multivariate analysis showed that the level of knowledge related to DM was the dominant factor affecting blood sugar levels (p = 0.000) and had a risk of 11.975 times experiencing abnormal blood sugar in people who did not comply with the diet.Conclusion: Factors affecting blood sugar levels in people with diabetes mellitus in the Kedu Health Center work area were sociodemographic factors (age, education level, occupation, family income), knowledge related to DM, family support, and dietary compliance. The most dominant factor was knowledge related to DM. Therefore, good DM management is needed to achieve normal blood sugar levels.Keywords : Diabetes mellitus; blood sugar; knowledge; family support; dietary compliance  ABSTRAKLatar belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor sosiodemografi, kurangnya pengetahuan terkait DM, kurangnya dukungan keluarga, dan kurangnya kepatuhan diet. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan yang memengaruhi kadar gula darah pada penyandang DM di wilayah kerja Puskesmas Kedu, Temanggung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 106 penyandang DM dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu responden dengan DM dan merupakan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kedu, bersedia berpartisipasi sebagai subjek penelitian, dan berusia 46 hingga 75 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner sosiodemografi untuk mengetahui jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga. Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) untuk mengetahui tingkat pengetahun terkait DM. Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS) untuk mengetahui dukungan keluarga. Perceived Dietary Adherence Questionnaire (PDAQ) untuk mengetahui kepatuhan diet. Selain itu juga dilakukan pengukuran gula darah puasa menggunakan glucometer. Analisis data dilakukan dengan SPSS menggunakan analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square dan spearman, serta analisis multivariat dengan regresi logistik biner.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan jika sebanyak 56,6% responden memiliki gula darah abnormal. Terdapat hubungan antara faktor sosiodemografi (usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan), tingkat pengetahuan tentang DM, dukungan keluarga, dan kepatuhan diet dengan kadar gula darah penyandang DM (p<0,05). Tingkat pengetahuan terkait DM merupakan faktor dominan yang memengaruhi kadar gula darah (p=0,000) dan berisiko 11,96 kali mengalami gula darah abnormal pada responden di wilayah kerja Puskesmas Kedu. Simpulan: Determinan yang mempengaruhi kadar gula darah pada penyandang diabetes melitis di wilayah kerja Puskesmas Kedu yaitu factor sosiodemografi (usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga), pengetahuan terkait penyakit DM, dukungan keluarga, dan kepatuhan diet. Faktor yang paling mendominasi yaitu pengetahuan terkait penyakit DM. Oleh karena itu diperlukan tata kelola DM yang baik untuk meningkatkan pengetahuan terkait DM guna menjaga kadar gula darah normal.  Kata Kunci : Diabetes melitus; gula darah; pengetahuan; dukungan keluarga; kepatuhan diet.
DAYA TERIMA COOKIES KALENYONG (TEPUNG KACANG MERAH, TEPUNG IKAN LELE DAN TEPUNG GANYONG) SEBAGAI SELINGAN TINGGI FE UNTUK REMAJA PUTRI ANEMIA Cherina Cherina; Yuli Hartati; Nurul Salasa Nilawati
Journal of Nutrition College Vol 15, No 3 (2026): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v15i3.53725

Abstract

ABSTRACTBackground: Iron deficiency anemia is a prevalent nutritional problem in Indonesia, including in Muara Enim Regency (5.72%). This condition affects immunity, activity, and learning performance of adolescent girls. The Government's iron supplementation program (Iron tablets) has been sub-optimal due to low compliance. Therefore, an alternative in the form of highly acceptable iron-rich snacks is needed. Cookies made from red bean flour (Fe 5.2 mg/100g), catfish flour (Fe 5.3 g/100g), and canna flour (Fe 3.3 mg/100g) were developed as an innovative solution.Objectives: : To determine the best formulation of Kalenyong cookies, analyzing the differences in the acceptability of 3 biscuit formulas including color, aroma, texture and taste), as well as testing the proximate content and iron content of the best selected formula.Methods: This pure experimental research used completely randomized design (CRD) conducted from January to May 2025. Data were analyzed using Kruskal- Wallis test and Mann-Whitney post hoc test.Results : The selected formula (F3) with composition of red bean flour 100 g, catfish flour 90 g, and canna flour 60 g showed highest organoleptic scores (color 3.90; taste 3.90; aroma 4.10; texture 3.97; aftertaste 3.87). Nutritional content per 100 g: energy 499.17 kcal, protein 20.12 g, fat 14.17 g, carbohydrate 80.53 g, water content 6.43%, ash 1.39%, and iron 8.49 mg.Conclusion:  There were significant differences (p<0.05) in Cookies acceptability regarding color, aroma, texture, taste, and aftertaste. Kalenyong Cookies have potential as high-Fe snack for anemic adolescent girls.Keywords : Cookiefs; catfish flour; canna flour;red bean flour;anemia ABSTRAKLatar belakang: Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang prevalensinya tinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Muara Enim (5,72%). Kondisi ini berdampak pada penurunan imunitas, aktivitas, dan prestasi belajar remaja putri. Pemberian tablet tambah darah (TTD) sebagai intervensi pemerintah belum optimal akibat rendahnya kepatuhan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif berupa makanan selingan tinggi zat besi yang lebih diterima. Cookies berbahan tepung kacang merah (Fe 5,2 mg/100 g), tepung ikan lele (Fe 5,3 mg/100 g), dan tepung ganyong (Fe 3,3 mg/100 g) dikembangkan sebagai solusi inovatif.Tujuan: Menentukan formulasi terbaik Cookies Kalenyong, menganalisis perbedaan daya terima 3 formula biskuit yang meliputi warna, aroma, tekstur dan rasa), serta menguji kandungan proksimat dan kadar zat besinya dari formula terbaik yang terpilih.Metode: Penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap (RAL) dilakukan pada Januari–Mei 2025. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney dari 3 formula.Hasil: Formula terpilih (F3) dengan komposisi tepung kacang merah 100 g, tepung ikan lele 90 g, dan tepung ganyong 60 g memiliki skor organoleptik tertinggi (warna 3,90; rasa 3,90; aroma 4,10; tekstur 3,97; aftertaste 3,87). Kandungan per 100 g: energi 499,17 kkal, protein 20,12 g, lemak 14,17 g, karbohidrat 80,53 g, kadar air 6,43%, abu 1,39%, dan zat besi 8,49 mg.Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) pada daya terima Cookies dari segi warna, aroma, tekstur, rasa, dan aftertaste. Cookies Kalenyong berpotensi sebagai selingan tinggi Fe untuk remaja putri anemia.Kata Kunci: Cookies; tepung kacang merah; tepung ikan lele; tepung ganyong; anemia

Filter by Year

2012 2026