cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016" : 36 Documents clear
SEBARAN SPASIAL DAN KELIMPAHAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Ferdiansyah, Ferdiansyah; Hartoko, Agus; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.03 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan muara sungai Wulan merupakan wilayah perairan yang sangat penting fungsinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, karena wilayah perairan tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai tempat penangkapan biota perairan seperti udang. Aktifitas tersebut dapat berpengaruh terhadap siklus hidup udang, kelimpahan maupun sebarannya. Oleh karena itu, informasi tentang sebaran spasial dan kelimpahan juvenil udang dapat digunakan sebagai dasar dalam usaha pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di perairan muara sungai Wulan, Demak yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis juvenil udang, sebaran spasial kelimpahan juvenil udang dan hubungan faktor fisika-kimia perairan terhadap kelimpahan juvenil udang. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan total kelimpahan juvenil udang berjumlah 584 ind/105m3 terdiri dari 4 genera yang teridentifikasi yaitu Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, dan Cloridopsis. Jenis juvenil yang paling melimpah adalah genus Metapenaeus dengan hasil tangkapan sebanyak 286 ind/105m3. Sebaran kelimpahan juvenil udang yang tertinggi terdapat pada daerah kawasan mangrove yang memiliki kecepatan arus perairan yang lambat dan kedalaman perairan yang tinggi. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kecepatan arus dan kedalaman perairan berkorelasi dengan kelimpahan juvenil udang. Kata kunci: Muara Sungai, Juvenil Udang, Kelimpahan, Sebaran Spasial ABSTRACT Wulan estuarine is the territorial waters which highly important function in fulfilling the needs of society, because that have been aquatic biota catchment area such as shrimp. Activity can influence the life cycle, the abundance and spreading of shrimp. Therefore, knowing the spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile may provide such information that can be used as a basis for sustainable fisheries resource management efforts. The study is conducted in May to June 2016 in the waters of the Wulan River estuary, Demak aiming to determine the types, spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile. The method used in this study is purposive sampling method. The results show the total of shrimp juvenile abundance amounted to 584 ind/105m3 consists of 4 genera are identified i.e. Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, and Cloridopsis. The most abundant of juvenile type is Metapenaeus genus with catches up to 286 ind/105m3. The spatial distribution shows the highest abundance of shrimp juvenile is in mangroves area. Based on the regression test results shows the flow speed and depth of the waters with the abundance of juvenile shrimp are correlated. Keywords: Estuary, Shrimp Juvenile, Abundance, Spatial Distribution
ANALISIS HABITAT DAN PERUBAHAN LUASAN TERUMBU KARANG DI PULAU MENJANGAN BESAR, KEPULAUAN KARIMUNJAWA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT Januardi, Rio; Hartoko, Agus; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut karang tertinggi, diperkirakan luas ekosistem terumbu karang Indonesia mencapai 50.000 km2 yaitu 25 persen dari luas terumbu karang dunia. Penggunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mendeteksi terumbu karang bagi negara yang mempunyai wilayah yang sangat luas dan memerlukan waktu yang relatif singkat serta biaya murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kondisi, perubahan luasan dan tingkat akurasi monitoring terumbu karang di Pulau Menjangan Besar menggunakan citra satelit Landsat 8. Penelitian dilaksanakan pada November 2015-Januari 2016 di Pulau Menjangan Besar dan di Laboratorium Marine Geometric Center, Jurusan Perikanan UNDIP. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksploratif untuk mengetahui jenis dan kondisi terumbu karang menggunakan metode Line Intersept Transect dan metode koreksi kolom air atau Lyzenga. Hasil penelitian  menemukan kondisi terumbu karang di Pulau Menjangan Besar masih dalam kondisi baik dengan persentase penutupan karang sebesar 51,6 persen. Jenis terumbu karang yang terdapat di Pulau Menjangan Besar yaitu Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp dan Favites sp dengan nilai keaneragaman sebesar 1.28 tergolong sedang/moderat dan nilai dominasi sebesar 0.58. Terumbu karang mengalami penurunan luasan sebesar 7,92 Ha dari tahun 2013-2015. Tingkat akurasi penggunaan citra satelit Landsat 8 yaitu 81,25 persen. Kata kunci :Persentase penutupan karang; Luasan habitat; Menjangan Besar; Penginderaan jauh ABSTRACTThe ocean of Indonesia has the highest biodiversity of Coral Reef, the extent of Indonesian’s coral reefs widely predicted 50.000 km2 which is about 25% of the world’s. The use of remote sensing technology is one the alternatives that is appropriate for the detection of coral reefs for a country that has a very wide area and requires a relatively short time and reasonable cost. This study aimed to determine the type; condition; changes in the area; and the level of monitoring coral reefs accuracy in Menjangan Besar Island used Landsat 8 satellite. The study was conducted on November 2015 until January 2016 in Menjangan Besar Island and the Marine Geometric Center, Fisheries Department at Diponegoro University. This research uses an explorative method to determine the type and condition of coral reefs using line intercept transect method and correction on water column method or Lyzenga. The result of this research is the condition of coral reefs in Menjangan Besar in the good condition with the cover percentage of coral at 51.6%. The species of Coral reefs in Menjangan Besar are identified as Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp and Favites sp with the value of diversity about 1.28 classified as moderate and the value of dominance of 0.58. The coral reef area decreased by 7.92 ha of the year 2013 to 2015. The accuracy level used Landsat 8 imagery satellite is 81.25%. This level of accuracy using Landsat 8 satellite imagery is 81.25%. Keywords :Percentages of coral reef cover; Extents habitat; Menjangan Besar; Remote sensing.
PENGARUH KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT TERHADAP KELIMPAHAN DIATOM DI MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Permatasari, Renny Diah; Djuwito, Djuwito; Irwani, Irwani
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.035 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Wulan merupakan salah satu kawasan bermangrove yang masih tersisa di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah. Perputaran nutrien yang ada di perairan ekosistem mangrove menjadikan ekosistem ini kaya akan unsur hara. Konsentrasi unsur hara berpengaruh terhadap kelimpahan biota yang ada di dalamnya termasuk diatom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan diatom. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik stratified random sampling. Stasiun penelitian dibagi dalam 3 stasiun berdasarkan sebaran salinitas, kemudian setiap stasiun ditentukan 2 titik sampling. Pengambilan sampel diatom menggunakan plankton net dengan mesh size 25 µm. Pengukuran parameter fisika kimia perairan dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel diatom. Hasil analisis parameter fisika kimia air selama penelitian diperoleh temperatur air (30-32oC), kecerahan (20-32,5 cm), kedalaman (50-120 cm), kecepatan arus (0,03-0,125 m/s), pH 6, oksigen terlarut (5,00 – 7,48 mg/l), salinitas (10-25 ppt), nitrat (0,80 – 2,00 mg/l), fosfat (0,18-0,86 mg/l). Diatom yang teridentifikasi terdiri dari 15 genera. Kelimpahan diatom tiap stasiun berkisar antara 3800-5287 ind/l, keanekaragaman (1,771-2,294), keseragaman (0,719-0,894) dan dominansi (0,117-0,228).  Hasil uji regresi linier berganda dan korelasi parsial menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat lebih berpengaruh terhadap kelimpahan diatom dengan nilai 0,729 dibandingkan dengan konsentrasi fosfat dengan nilai -0,461.                       Kata Kunci : Nitrat; Fosfat; Kelimpahan Diatom; Muara Sungai Wulan ABSTRACT Wulan estuary is one of the mangrove areas in North Coast of Central Java. Nutrients cycle in aquatic mangrove ecosystem makes this ecosystem rich of nutrients.  Nutrients concentration affect the abundance of organisms, including diatom. The research aimed to determine influence of nitrate and phosphate on the diatom abundance. The research was conducted in April 2016. The method research used descriptive method with stratified random sampling technique. The station was divided into 3 stations based on salinity distribution, then the station are determined 2 sampling points. Diatom sampling used plankton net mesh size 25 µm. Measurement of physical-chemical parameters and diatom sampling were conducted in same time. Analysis of physical-chemical parameters showed that water temperature during the study range 30 to 32oC, turbidity 20-32,5 cm, depth 50-120 cm, current speed 0,03-0,125 m/s, pH 6, dissolved oxygen 5,00 – 7,48 mg/l, salinity 10 to 25 ppt, nitrate 0,80 to 2,00 mg/l, phosphate 0,18 to 0,86 mg/l. Diatoms were identified consists of 15 genera. Diatom abundance ranged from 3800-5287 ind/l, diversity 1,771 to 2,294, uniformity 0,719 to 0,894 and dominance 0,117 to 0,228. The results of multiple linear regression and partial correlation showed that nitrate concentration has more influence on the abundance of diatoms with a value 0,729 compared with  concentration of phosphate with a value -0.461. Key Words: Nitrate; Phosphate; Diatom Abundance; The Estuary of Wulan
ANALISIS KESESUAIAN WISATA DI PANTAI NYALO [KAWASAN MANDEH] KABUPATEN PESISIR SELATAN, SUMATERA BARAT Mukhtar, Putri Dellia; Rudiyanti, Siti; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.416 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan Mandeh merupakan kawasan yang terletak di Kecamatan Koto IX Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, kawasan ini telah dijadikan destinasi utama sektor pariwisata bahari Provinsi Sumatera Barat. Salah satu pantai di kawasan tersebut yang akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata adalah Pantai Nyalo. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi wisata yang dapat dikembangkan di Pantai Nyalo, persepsi responden terhadap daya tarik wisata di Pantai Nyalo dan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Nyalo.Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) dan metode deskriptif dengan menyebar kuisioner kepada 30 responden masyarakat menggunakan teknik sampling purposive sampling dan 30 responden wisatawan menggunakan accidental sampling. Potensi wisata Pantai Nyalo terdapat pada kondisi fisik pantai yang indah, serta jenis kegiatan atau daya tarik wisatanya yaitu berenang, olahraga pantai, dan panorama Puncak Paku.Secara umum daya tarik wisata di Pantai Nyalo dipersepsikan positif oleh responden.IKW Pantai Nyalo di stasiun I adalah 96%, sedangkan stasiun II dan III adalah 92%.Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Pantai Nyalo tergolong dalam kategori S1 atau sangat sesuai untuk kegiatan wisata pantai. Kata Kunci: Kesesuaian Wisata; Pantai Nyalo; Kabupaten Pesisir Selatan  ABSTRACT Mandeh Region is an area located in the Koto IX Tarusan of Pesisir Selatan Regency, this area has been used as the main marine tourism destinations in the province of West Sumatra. One of beach in the area that will be developed into a tourist destination is the Nyalo Beach. The purpose of this study are to know tourism potential that can be developed in the Nyalo Beach, perception of respondents to tourism attractions in the Nyalo Beach and to determine Tourism Suitability Index (IKW) in Nyalo Beach. The study was conducted from May to June 2016. The methods used in this research are quantitative research method using Tourism Suitability Index (IKW) and descriptive method by spreading questionnaire to 30 local communities respondents using purposive sampling and 30 visitors respondents using accidental sampling. The Nyalo Beach tourism potential is in the physical condition of beautiful beaches as well as the type of tourism activities or attractions, i.e swimming, beach sports, and panoramic from the Puncak Paku. In general, the perception of tourism attractions in the Nyalo Beach is positively perceived by respondents. IKW of the Nyalo Beach in station I is 96% while station II and III are 92%. This shows that the Nyalo Beach areas belongs to category S1 or very suitable for beach tourism activities. Keywords: Tourism Suitability; Nyalo Beach; Pesisir Selatan Regency
TINGKAT EKSPLOITASI IKAN TUNA SIRIP BIRU SELATAN (Thunnus maccoyii) DI SAMUDERA HINDIA BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, BALI Kurniawan, Damar Nusawicaksono; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya; Setyadji, Bram
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.297 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengkajian dan pendugaan status sumberdaya perikanan di suatu wilayah perairan dapat dilakukan dengan mengetahui laju eksploitasinya. Data frekuensi panjang merupakan salah satu data yang dapat digunakan untuk melakukan pendugaan tingkat eksploitasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai mortalitas, laju pertumbuhan, ukuran pertama kali tertangkap dan tingkat eksploitasi. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2016 di Loka Penelitian Perikanan Tuna Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sementara data panjang ikan tuna sirip biru selatan tahun 2013-2014 kemudian diolah dengan perangkat lunak FISAT II. Hasil penelitian menunjukkan struktur ukuran ikan tuna sirip biru selatan 145 - 210 cmFL dengan modus di ukuran 170-174 cmFL, ukuran pertama kali tertangkap (Lc) 171 cmFL, hubungan panjang berat mendapat nilai W= 0,00006*FL2,792, faktor kondisi berada pada angka 1,86-2,00, laju pertumbuhan yang didapat yaitu Lt=220,50(1 - e 0,2(t+0,488)), dimana nilai dari L∞ yaitu 220,50 cmFL dan nilai t0 -0,49, laju mortalitas total (Z) sebesar 1,14/tahun, laju mortalitas alami (M) sebesar 0,36/tahun, dan laju mortalitas akibat penangkapan (F) sebesar 0,78/tahun, dan tingkat eksploitasi (E) 0,68/tahun, Hal ini menunjukan penangkapan  ikan tuna sirip biru selatan oleh kapal rawai tuna di Samudera Hindia dalam keadaan berlebih (overfishing) karena nilai tingkat eksploitasi yang didapat melebihi tingkat pemanfaatan optimum atau Eopt = 0,5/tahun (0,68 > 0,5). Kata Kunci : Ikan Tuna Sirip Biru Selatan, Tingkat Eksploitasi, Mortalitas, Pertumbuhan  ABSTRACT Stock assessment and prediction status of fisheries resources in the waters can be made by knowing the rate of exploitation. Length-frequency data is one can be used to suspect rate of exploitation . The aimed of this research was to suspect value of mortality, the growth rate, size at first capture and the level of exploitation. This research was conducted on April-May 2016 at the Loka Fishery Tuna's Research Benoa Port, Denpasar, Bali. This research used survey method.While data length of the southern bluefin tuna 2013-2014 was processed with FISAT II. The results showed size structure of southern bluefin tuna 145-210 cmFL with mode in sizes 170-174 cmFL, size at first capture (Lc) 171 cmFL, value of lenght and weight relationship W = 0,00006 *,792 FL2, condition factors 1,86-2.00, the growth rate Lt = 220,50 (1-e of 0.2 (t + 0,488)), where the value of L ∞ was 220.50 cmFL and value t0 -0.49 total mortality rate (Z) of 1.14/year, rate of natural mortality (M) of 0.36/year, and  rate of mortality due to the arrest of (F) amounted to 0.78/year, and the rate of exploitation (E) 0,68/year, it shows the fishing of southern bluefin tuna by the longline in the Indian Ocean was overfishing because level of exploitation value was over the optimum effort or Eopt = 0,5/year (0.68 > 0.5). Keyword: Southern Bluefin Tuna, exploitation rate, Mortality, growth,
HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN TOTAL BAKTERI DI SEDIMEN MUARA SUNGAI WISO, JEPARA Mufaidah, Zulistiana; Supriharyono, Supriharyono; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.008 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara merupakan salah satu ekosistem yang berada di pesisir, yang merupakan tempat terjadinya siklus dekomposisi unsur – unsur hara.Ketersediaan unsur hara didalam suatu perairan dapat menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur hara yang dilihat adalah bahan organik sedimen yang terendap di  perairan dasar Muara Sungai Wiso, Jepara. Zat hara tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme didalamnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2016 dengan tujuan untuk mengetahui total bakteri, kandungan bahan organik dan hubungan antara total bakteri dan kandungan bahan organik total di sedimen Muara Sungai Wiso, Jepara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif eksplanatif.Pengambilan sampel pada Muara Sungai Wiso dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun I merupakan bagian hulu aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun II merupakan bagian tengah aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun III merupakan bagian aliran air Muara Sungai Wiso yang berbatasan langsung dengan pantai.Total bakteri di sedimen dasar Muara Sungai Wiso, Jepara berkisar antara 3,3 x 105 cfu/ml hingga 1,2 x 107 cfu/ml. Kandungan bahan organik di sedimen dasar muara Sungai Wiso, jepara berkisar antara 7,12 % hingga 16,57 %. Bahan organik dengan total bakteri yang terdapat di sedimen dasar Muara Sungai Wiso Jepara tidak memiliki hubungan yang nyata (P > 0,05). Kata Kunci: Muara Sungai Wiso; Total Bakteri; Bahan Organik; Sedimen ABSTRACT Estuary is one of the important ecosystem located on the coast. Where of the decomposition cycle nutrient. The available of nutrients in the waters can be an indicator of water fertility. In this case, the element nutrient which is visible content of organic matter in sediment Wiso Estuary, Jepara. The nutrients are crucial to the survival of organism. The reseach was conducted on March – April 2016 in order to determine the total bacteria, the amount organic matter and relations between total bacteria and organic matter in the sediment Wiso estuary, Jepara. The method used in this research is descriptive explanation. Sampling was conducted at Wiso estuary at three observation stations. Station I is the  upstream of Wiso estuarine stream. Station II is a center part of Wiso estuarine stream. Station III is the final part of Wiso estuarine stream which is directly adjacent to the beach. Total bacteria in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 3,3 x 105 cfu/ml up to 1,2 x 107 cfu/ml. Content of Organic Matter in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 7,12 %  up to 16,57 %. Organic matter was not correlation with total bacteria (P > 0,05)  in bottom sediment Wiso estuarine Jepara. Keywords:Wiso estuary; Total bacteria; Organic Matter; Sediment
EFEK DARI PEWARNA BATIK BERBAHAN DASAR SAMPAHMANGROVE (Rhizophora sp.): UJI TOKSISITAS TERHADAP IKAN GUPPY(Poecilia reticulata) DAN Chlorella pyrenoidosa Fentika Rahma Mentari; Boedi Hendrarto; Haeruddin Haeruddin
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.329 KB) | DOI: 10.14710/marj.v5i4.14407

Abstract

ABSTRAK Sampah mangrove (Rhizophora sp.)telah dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk batik. Pemanfaatan ini diduga akan menghasilkan limbah cair yang dibuang langsung ke lingkungan perairan yang dapat menyebabkan pencemaran perairan dan meracuni biota air. Oleh karena itu diadakan penelitian untuk mengetahui efek pembuangan sisa pewarnaan batik dari limbah mangrove (Rhizhophora sp.) terhadap ikan dan alga. Metode penelitian yang digunakanadalah eksperimental skala laboratoris dengan menggunakan ikan guppy (P. reticulata) dan alga C. pyrenoidosa menyertakan uji toksisitas. Analisis data menggunakan analisis probit dengan persamaan regresi untuk mendapatkan nilai (LC50) 96 jam dan (IC50) 96 jam. Pertumbuhan ikan guppy dianalisa menggunakan analisis ANOVA dua faktor rancangan blok random lengkap dan data pertumbuhan alga dianalisa menggunakanANOVA petak terpisah. Data pertumbuhan ikan dan alga dianalisa dengan uji lanjut Dunnet untuk mengetahui nilai LOEC (Lowest-Observed Effect Concentration).Hasil yang diperoleh adalah nilai konsentrasi (LC50) 96 jam pada limbah pewarna batik mangrove adalah 29% dan diketahui mampu memberikan pengaruh nyata dalam menghambat laju pertumbuhan berat pada hewan uji ikan guppy (P < 0,05) dan mampu menghambat laju pertumbuhan Chlorella sp. dengan nilai konsentrasi penghambatan media (IC50) 96 jam adalah61,70%. Uji anova split plot in time pada konsentrasi 1,5625% memberikan pengaruh nyata (P < 0,05) pada jam ke-48 dalam pertumbuhan C. pyrenoidosa dengan nilai konsentrasi LOEC adalah 1,5625%.  Kata kunci: Toksisitas;Rhizopora sp.; Ikan Guppy;Chlorella sp.  ABSTRACT Mangrove litters (Rhizophora sp.) has been used as a natural dye for batik. This utilization is expected to produce liquid waste which is dumped directly into the aquatic environments which may cause water pollution and poisoning aquatic organism. Therefore it was necessary to do the research to determine the effect of  batik dye from mangrove (Rhizophora sp.) against fish and algae. The methods used in this research was experimental laboratory scale using guppies (P. reticulata) and algae C. pyrenoidosa including toxicity test. The analysis of data used probit analysis with regression equations to get the value of (LC50) 96 hours and (IC50) 96 hours. Guppy fish growth data were analyzed using a complete random block design two way ANOVA and data of alga growth were analyzed with split plot analysis of variance. Fish and algae growth data were analyzed by a further test to determine the value of LOEC (Lowest-Observed Effect Concentration). Results obtained concentration values (LC50) 96 hours on mangrove batik dye waste was 29% and it was known to give significant effect in inhibiting the growth rate of the weight in  the guppies animals test (P < 0,05), and also was able to inhibit the growth rate of C. pyrenoidosa with a medium inhibitory concentration values (IC50) 96 hours are61,70%. The test of split plot in time anova on the concentration of  1,5625% was giving significant effect (P < 0,05) at the 48th hour in the growth of C. pyrenoidosa with the concentration of LOEC was 1,5625%.  Keywords: Toxicity;Rhizoporasp.; Poecilia reticulata; Chlorella sp.
ASPEK BIOLOGI IKAN TIGAWAJA (Johnius sp.) YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL Anggraeni, Syiva Nur; Solichin, Anhar; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.168 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah yang berada di pesisir utara Laut Jawa. TPI Tawang merupakan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Kabupaten Kendal. Salah satu jenis ikan demersal yang tertangkap di TPI Tawang adalah ikan Tigawaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi Ikan Tigawaja yang didaratkan di TPI Tawang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Metode dalam penelitian ini adalah metode survey. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive  sampling. Hasil penelitian yang dilakukan pada Ikan Ikan Tigawaja sebanyak 390 ekor. Ukuran panjang Ikan Tigawaja dengan kisaran 10,5 cm – 20,9 cm. Pertumbuhan bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,8559. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 0,94 yang tergolong dalam ikan pipih. ukuran pertama kali tertangkap (L50%) adalah 16,4 cm. Tingkat kematangan gonad Ikan Tigawaja jantan didominasi oleh TKG II, sedangkan Tingkat Kematangan gonad Ikan Tigawaja betina didominasi oleh TKG III. Indeks kematangan gonad terendah pada Ikan Tigawaja jantan 0,154% dan tertinggi 0,465%, sedangkan nilai IKG terendah pada Ikan Tigawaja betina 0,56% dan tertinggi 8,82%. Ikan Tigawaja jantan dan betina pertama kali matang gonad (Lm) berukuran masing-masing sebesar 18 cm  dan 17,5 cm, artinya Ikan Tigawaja betina lebih cepat matang dari Ikan Tigawaja jantan. Fekunditasnya berkisar antara 15.500 – 44.148 butir dan sebaran nilai diameter telur berkisar dari 0,05 mm – 0,45 mm. Kata Kunci ; Ikan Tigawaja (Johnius sp), Aspek biologi, Perairan Kendal. ABSTRACT Kendal is one area which is on the north coast of Java Sea. The biggest fish auction place in Kendal Regency is Tawang Fish Auction (TPI Tawang). One of kind of demersal fish that caught in TPI Tawang is Croackers Fish. Biological aspect is needed to manage the resources of Croackers Fish. The porpose of this study is to found out the biological aspects of Croackers Fish Landed in Tawang Fish Auction Market. The research did in Juny 2016. The method used in this research is survey method. The sampling was taken by using Purposive sampling. From the research on 390 fish. the length size of Croackers Fish range from 10,5 cm – 20,9 cm. The growth of served was negative allometric with value of b 2,8859. The condition factor of 0,94 are flat fish. size of the first captured fish (L50%) was 16,4 cm. The Gonad Maturity Level of male Croackers Fish was dominated by TKG II, while for female of Croackers was dominate by TKG III. The lowest Gonad Maturity Index  for male of Croackers Fish was 0,154% dan the hightest was 0,456, while foe female fish the lowest Gonad Maturity Index was 0,56% and the highest was 8,82%. For both  male and female fish, first mature gonad was obtained 18 cm and 17,5 cm, it means that the female of Croackers Fish was mature faster than the male. The fecundity ranged from 15.500-44.148 item and variance of diameter value range from 0,05 mm – 0,45 mm.  Key Word; Croackers (Johnius sp), Biological Aspects, Kendal Waters.  
HUBUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM (Cd) TERLARUT DENGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI SILANDAK SEMARANG Ardi, Helmi; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.119 KB)

Abstract

 ABSTRAK  Sungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sungai ini menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri plastik yang dialirkan ke perairan, dan juga menerima aliran limbah rumah tangga serta terdapat banyak sarana transportasi air di bagian muara sungai.Limbah yang berasal dari industri tersebut mengandung logam berat timbal dan kadmium.Penelitian dilakukan pada bulan April 2016 – Mei 2016 di Sungai Silandak yang bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kadmium dan timbal, mengetahui kelimpahan danstruktur komunitas fitoplankton, dan mengetahui hubungan kadmium dan timbal dengan kelimpahan fitoplankton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik samplingpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kadmium di lokasi penelitian berkisar antara 0,0007 - 0,001 mg/l, sedangkan konsentrasi timbalberkisar antara 0,002 - 0,007 mg/l. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1826 - 6730 ind/l, indeks keanekaragaman (H’) dengan angka 1.747 – 2.828, Indeks dominasi (d) diperoleh hasil dengan angka 0.077 – 0.284, dan indeks keseragaman (e) dengan angka 0.645 – 0.890. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kadmium dengan kelimpahan fitoplankton dengan angka koefisien korelasi (r) sebesar 0.179 menunjukkan korelasi lemah.Tidak ada hubungan yang signifikan antara logam berat timbal dengan kelimpahan fitoplankton, diperoleh angka koefisien korelasi (r) sebesar 0.261 menunjukkan korelasi lemah.PCA (Principle Component Analysis) digunakan untuk mengetahui hubungan kadmium dan timbal dengan kelimpahan genera fitoplankton. Terdapat hubungan signifikan logam berat timbal dengan kelimpahan genus Dyctyocha sp dan Bacteriastrum sp di level 0.05 dari rentang kepercayaan  95 %, korelasi kuat negatif dengan koefisien korelasi -0.68. Kata Kunci  :Kadmium; Cd; Timbal; Pb; Kelimpahan Fitoplankton;Logam Berat; SungaiSilandak. ABSTRACT Silandak river is located in Semarang, Central Java. This river is suspect to receiving waste came from plastic industry activity which is streamed to the water, and also receiving household waste stream and there are plenty of water transportation in the section of the estuary. Waste from the industry is suspected contain heavy metals cadmium and lead.The study was conducted in April 2016 - May 2016 in the River of Silandak which aimed to determine the concentration of cadmium and lead, to determine the abundance and  the phytoplankton community structure, and to determine the correlation of cadmium and lead with the abundance of phytoplankton. The study used survey method with purposive sampling technique. The results showed the concentration of cadmium in the study locations was within the range of 0.0007 to 0.001 mg/l, while the concentration of lead was within the range of 0.002 to 0.007 mg/l. The abundance of phytoplankton ranged between 1826 - 6730 ind/l, the rate of diversity index (H’) was within the range of1.747 - 2.828, the dominance index (d) obtained results within the rate of 0.077 - 0.284, and evenness index (e) within the rate of 0.645 - 0.890. There was no significant correlation between cadmium with the abundance of phytoplankton with a correlation coefficient (r) of 0.179 which means weak correlations. There was no significant correlation between the heavy metals lead with the abundance of phytoplankton, the rate of the correlation coefficient (r) of 0.261 which means weak correlations. PCA (Principle Component Analysis) is used to determine the correlation cadmium and lead with the abundance of phytoplankton genus. There was a significant correlations of heavy metals lead with the abundance Dyctyocha sp and Bacteriastrum sp genus at 0.05 levels the range of 95%, a strong negative correlation with a correlation coefficient of -0.68. Keywords: Cadmium; Cd; Lead; Pb;Phytoplankton Abundance; Heavy Metal;Silandak River.
PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH MANGROVE BERDASARKAN TINGKAT KERAPATANNYA DI DELTA SUNGAI WULAN, DEMAK, JAWA TENGAH Widhitama, Sena; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.243 KB)

Abstract

ABSTRAK Salah satu proses pada ekosistem mangrove yang memberikan kontribusi  besar terhadap kesuburan perairan adalah proses dekomposisi atau penghancuran serasah mangrove. Penghancuran serasah merupakan bagian dari tahap proses dekomposisi, yang dapat menghasilkan nutrient  penting dalam rantai makanan, melalui produktivitas perairan disekitarnya, sebagaimana yang terjadi di Delta Sungai Wulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi serasah mangrove dan laju dekomposisinya berdasarkan tingkat kerapatan mangrove.Metode yang digunakan adalah metode survai hal ini dilakukan dalam tiga titik sampling, yang dikelompokkan pada tiga kategori kerapatan mangrove yaitu rendah, sedang dan tinggi.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari sampai maret 2016. Hasil penelitian  menemukan  tiga spesies mangrove yaitu Rhizopora mocrunata, Rhizopora apiculata, dan Avicennia marina. Jumlah serasah yang diperoleh pada kerapatan mangrove rendah adalah 701.51 gram, mangrove kerapatan sedang berjumlah 837.94 gram dan mangrove kerapatan tinggi berjumlah 1276.85 gram. Laju dekomposisi dalam 30 hari pengamatan dengan laju tertinggi berada pada mangrove kerapatan tinggi dengan persentase 29 – 30 %, sedangkan kerapatan mangrove rendah dan kerapatan mangrove sedang dengan persentase 28%. Kata kunci : Delta Sungai Wulan;Produksi Serasah;Laju Dekomposisi ABSTRACTOne of the processes at mangrove ecosystem which contributes greatly to the fertility waters is the process of decomposition or destruction of mangrove manure. Destruction of Manure is a part of the decomposition process, can produce an important nutrient in the food chain, by means of  productivity of the surroundings waters, as happened in Delta Wulan. The purpose of this study was to find out the mangrove manure production and the rate of decomposition is based on the density of mangrove. The method used is a survey method  to divide the three point sampling, which grouped in three categories mangrove density, low, medium and high. This research was conducted in January to March 2016. The result of research to found  three species of mangrove that Rhizopora mocrunata, Rhizophora apiculata and Avicennia marina. The amount of manure that is obtained at a low density is 701.51 grams, medium density amounted to 837.94 grams and high density mangrove amounted to 1276.85 grams. The rate of decomposition in the 30 days of observation by the highest rates are in the high density mangrove with a percentage of 29% - 30%, meanwhile low density mangrove and mangrove medium density with a percentage of 28%. Keywords : Delta Wulan River;Manure production;Decomposition rate

Page 3 of 4 | Total Record : 36