cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 34 Documents clear
KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK DAN PANTAI KUKUP KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Nugroho, Waskito; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.456 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan. Adapun Pantai Sundak dan Pantai Kukup merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan karang mati pada kedua pantai tersebut merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular. Pada kedua lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada kedua pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) di perairan Pantai Sundak dan Pantai Kukup, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data persentase penutupan karang menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter, sedangkan pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) menggunakan metode kuadran transek berukuran 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Sundak sebesar 92.06 %. Sedangkan nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Kukup sebesar 86.20 %. Pada daerah Pantai Sundak didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 755 individu/ 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Pantai Kukup sebanyak 366 individu/ 150 meter2. Pada  kedua lokasi didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma riseii, Ophiocoma scolopendrina, dan Ophiocoma erinaceus. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Pantai Sundak dan Pantai Kukup adalah jenis Ophiocoma scolopendrina.  Berdasarkan hasil Uji “T” test dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis bintang mengular yang paling tinggi adalah pada Pantai Sundak sehingga terdapat perbedaan kelimpahan bintang mengular antara Pantai Sundak dan Pantai Kukup.  Brittle star (Ophiuroidea) is a part of Echinoderm which is available in the territorial waters around the world. Ophiuroidea actually has a pivotal role for water ecosystem. Sundak Beach and Kukup Beach, the coastal areas situated in the south of the Java Island that become the tourist destinations, has a site called dead reef as an inhabitant of brittle stars. At both locations are being estimated, there is an abundance of brittle stars. It is also supposed that the human activity in those two beaches has affected the difference of brittle stars affluence. This research is aimed to study these differences exactly located in Gunugkidul, Yogyakarta, while the observation itself done in April 2014. The method to take the data percentage for the closure of coral uses line transect method in 50 meters length. For the sampling of Ophiuroidea abundance, it utilizes quadrant transect in 1 square meters. As the results, the percentage data shows the closure of dead reef is 92, 06% for Sundak Beach and 86, 20% for Kukup Beach. In term of individual affluence, Sundak Beach has 775 individuals / 150 sqm., while Kukup Beach has 366 individuals / 150 sqm. In these locations, there are three species of brittle star; Ophiocoma riseii, Ophicoma scolopendrina, and Ophiocoma erinaceus. The high rate abundance is Ophiocoma scolopendrina which is mostly found in Sundak Beach waters. Based on the “T” test, that such differences happen in Sundak Beach and Kukup Beach.
KARAKTERISTIK HIDRO-OSEANOGRAFI DAN TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENANGULANGI KERUSAKAN PANTAI DI DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK Putri, Merlia Purnama; Supriharyono, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.346 KB)

Abstract

Desa Bedono merupakan salah satu desa pesisir di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak yang mengalami kerusakan pantai akibat perubahan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: karakteristik hidro-oseanografi; bentuk kerusakan pantai yang terjadi, tingkat pengetahuan masyarakat tentang kerusakan pantai, tingkat partisipasi masyarakat dalam menangulangani kerusakan pantai dan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kerusakan pantai dan tingkat partisipasi masyarakat dalam menanggulangi kerusakan pantai di desa Bedono. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2014 dengan menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan observarsi yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi perubahan garis pantai baik panjang maupun luasan pantai, dimana tahun 1999 panjang pantai 6,75 km, tahun 2003 bertambah menjadi 6,88 km dan 2009 panjang pantai 7,09 km. Luasan daerah pantai pada tahun 1999-2003 sebesar 73,29 Ha, tahun 2003-2009 bertambah menjadi 79,7 Ha dan tahun 1999-2003 luasan area pantai Bedono sebesar 133 Ha. Karaktristik hidro-oseanografi yaitu gelombang, arus, dan pasang surut mengikuti musim yang sedang terjadi. Kerusakan desa Bedono yang terjadi akibat kerusakan yaitu berupa erosi. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang kerusakan pantai adalah 10,42% rendah, 38.54% sedang, dan 51.04 tinggi. Tingkat partisipasi masyarakat yaitu 4.17% berpartisipasi rendah, 56.25% berpartisipasi sedang, dan 39.58 berpartisipasi tinggi. Hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat partisipasi menunjukan hubungan yang positif meskipun rendah. Bedono is one of coastal villages in sub district Sayung, district Demak. There is destruction caused by change of coastal line along the beach of Bedono village. This research is aimed to find out: hydro-oceanographic characteristics; destruction’s form; degree of local communities’ knowledge; degree of local communities’ participation in coastal destruction mitigation and to find out the relation between the knowledge degree and the participation in Bedono village. This research was conducted in Mei 2014 using case study method with observation approach and the data will analyzed descriptive . The result of this research show that there is a change of coastal lines, neither length nor wide of beach, where in 1999 6,75 km long beach, in 2003 increased to 6.88 km and in 2009 7.09 km, increased 73,29 hectares in 2003-2009 and in 1999-2003 the area of coastal in Bedono village is 133 hectares. Hydro-oceanographic characteristics is that waves, current and tides follow the season which exists. Bedono village destruction was caused by coastal destruction is erosion, The degree of local communities’ knowledge about coastal destruction 10,42% is low, 38,54% is medium and 51,04% is high. The degree of local communities’ participation  4,17% have participated lowly, 56,25% have participated medium, and 39,58% have participated highly. The relation between the knowledge degree and the participation degree is low positive.
INDEKS TROFIK-SAPROBIK SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS AIR DI BENDUNG KEMBANG KEMPIS WEDUNG, KABUPATEN DEMAK Indrayani, Noviana; Anggoro, Sutrisno; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.71 KB)

Abstract

Plankton berperan penting dalam ekosistem perairan. Plankton dapat dijadikan indikator kesuburan dan pencemaran, karena sifat plankton yang sebagian berperan sebagai produsen primer dan sebagian ada yang menyenangi bahan pencemar. Fitoplankton dapat melakukan fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat dan oksigen serta merupakan awal dari rantai makanan. Berdasarkan sifat plankton inilah yang digunakan untuk menentukan tingkat saprobitas dengan melihat SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks). Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat kesuburan dan pencemaran air di Bendung Kembang Kempis Wedung berdasarkan nilai saprobitasnya (SI dan TSI), menganalisis hubungan (keterkaitan) tingkat saprobitas perairan dengan variabel kualitas air di Bendung Kembang Kempis Wedung dan kontribusi variabel kualitas air dalam menentukan tingkat trofik saprobik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sistematik sampling. Penelitian ini dilakukan pada 5 stasiun dan setiap stasiun terdiri dari 2 substasiun. Pengambilan sampel plankton dilakukan secara aktif menggunakan plankton net dengan mesh size 60 µm diameter 25 cm untuk fitoplankton dan mesh size 200 µm diameter 20 cm untuk zooplankton. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kesuburan dan pencemaran air di Bendung Kembang Kempis Wedung adalah α-Mesosaprobik (pencemaran sedang sampai berat dengan kesuburan sulit dimanfaatkan untuk produktivitas plankton) dan β-Mesosaprobik (pencemaran ringan sampai sedang dengan kesuburan dapat dimanfaatkan untuk produktivitas plankton). Hubungan tingkat saprobitas perairan dengan kualitas air di Bendung Kembang Kempis Wedung memiliki hubungan yang lemah. Kontribusi pengaruh kualitas air terhadap saprobitas perairan sebesar 15-25% (DO), 12-34% (BOD), 9-11% (Nitrat) dan 21-59% (Fosfat). Plankton has an important role in the water ecosystem because it can be indicator of fertility and pollution as it can be a primary producer and pollutant neutralizer. Phytoplankton can perform photosynthesis which produces carbohydrates and oxygen as well as functions as the base of the food chain. Based on the nature of plankton were used to determine level of saprobity to see the SI (saprobic index) and TSI (Troppic-saprobic index). The objective of the study were to determine the fertility and pollution degree based on saprobity index (SI and TSI), analyzing the correlation of water saprobity degree to the variables of water quality in Kembang Kempis Dam Wedung and contribution of water quality variables in determining the trophic saprobic level. The method used was observation and the sample was taken based on systematic sampling. The study was done in 5 stations and each station consists of 2 substations. Plankton sample was collected by active using plankton net with a mesh size 60 µm diameter 25 cm for phytoplankton and 200 µm diameter 20 cm for zooplankton. Based on the result of the study, fertility and water pollution in Kembang Kempis dam Wedung is α-Mesosaprobik (moderate to severe contamination with difficult fertility used for plankton productivity) and β-Mesosaprobik (mild to moderate contamination with fertility can be used for plankton productivity). Saprobity level relationship with water quality in Kembang Kempis dam Wedung have a weak relationship. Contributions influence the water quality of the saprobity by 15-25% (DO), 12-34% (BOD), 9-11% (nitrate) and 21-59% (Phosphate).
DISTRIBUSI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN CADMIUM (Cd) DI SEDIMEN, AIR DAN BIVALVIA DI LINGKUNGAN MUARA SUNGAI WISO JEPARA Partogi, Martin Arianto; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.869 KB)

Abstract

Masuknya Logam berat Pb dan Cd di dalam perairan sungai Wiso yang berlokasi di Jepara Jawa Tengah bersumber dari pembuangan limbah domestik dan industri. Logam berat yang terlarut dalam badan air (bentuk ion) maupun yang mengendap di dasar perairan (sedimentasi), masuk ke dalam tubuh hewan air, baik melalui insang, bahan makanan, ataupun melalui difusi yang kemudian akan terakumulasi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan distribusi logam berat di sekitar lingkungan muara sungai Wiso pada air dan bivalvia, perpindahan logam berat pada badan air ke dalam sedimen, serta perpindahan logam berat pada sedimen ke dalam bivalvia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga April 2014. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data primer menggunakan metode observasi dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.  Kemudian analisis kandungan logam berat dalam sampel menggunakan instrument Atomic Absorbtion Spectrophotometer (ASS) sesuai dengan SNI. Berdasarkan hasil laboratorium menunjukkan bahwa perairan muara Sungai Wiso telah tercemar logam berat Pb dan Cd berdasarkan baku mutu air laut menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2014 dan baku mutu sedimen Reseau National d’Observation (RNO) Tahun 1981. Tetapi pada daging bivalvia masih berada di bawah Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan SNI No. 7387 Tahun 2009. Berdasarkan hasil uji regresi didapatkan nilai Significance F sebesar 0,9302 dan 0,7062 yang menunjukkan bahwa logam berat Pb dan Cd pada sedimen tidak berhubungan erat dengan yang terdapat pada badan air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar logam berat dalam badan air di perairan Sungai Wiso lebih rendah dibandingkan dalam sedimen yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen.  The entry of heavy metals Pb and Cd in the river waters Wiso located in Jepara, Central Java sourced from domestic and industrial waste disposal. Heavy metals dissolved in the water body (form ions) or settles in the bottom waters (sedimentation), entered into the animal's body, either through the gills, food, or through diffusion which will then accumulate in the body. This study aims to determine the spread and distribution of heavy metals in the environment around river estuary Wiso on water and bivalves, the movement of heavy metals in water bodies into the sediment, and the transfer of heavy metals in sediments in the bivalves. The research was conducted in February 2014 until April 2014. The method used in this research is descriptive method, with the collection of primary data using the method of observation and sampling conducted with a purposive sampling method. Then the analysis of heavy metal content in the samples using Atomic Absorption Spectrophotometer instrument (ASS) according with SNI. Based on laboratory results indicate that the waters Wiso estuary has been polluted heavy metals Pb and Cd based on the sea water quality standards according to the Decree of the Minister of Environment in 2014 and sediment quality standardsReseau National d'Observation (RNO) 1981. But the flesh bivalves still under the Limit for Heavy Metal Contamination in Food SNI No.7387 in 2009.Based on test results obtained regression Significance F value of 0.9302 and 0.7062 which indicates that heavy metals Pb and Cd in sediments are not closely related to those of the water body so that it can be concluded that the levels of heavy metals in water bodies in the waters of the River Wiso more lower than in the sediments indicate the presence of heavy metal accumulation in the sediments.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN IKAN SAPU-SAPU (Hypostomus plecostomus) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS AIR LIMBAH PENGOLAHAN IKAN (Berdasarkan Nilai BOD, COD, TOM) Nugroho, Arif Aji; Rudiyanti, Siti; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.647 KB)

Abstract

Menjamurnya industri-industri baik skala rumah tangga atau skala nasional meningkatkan pencemaran yang ditimbulkan dari proses produksi industri tersebut. Meningkatnya pencemaran lingkungan mendorong beberapa penelitian yang membahas mengenai penanganan pencemaran lingkungan. Salah satu nya adalah upaya mengurangi pencemaran dengan menggunakan biota air. Penelitian ini menggunakan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) untuk mereduksi bahan pencemar organik. Parameter penelitian ini mengacu pada nilai Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Organic Matter (TOM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ikan sapu-sapu (H. plecostomus) mereduksi bahan pencemar organik limbah cair industri pengolahan ikan (Konsentrasi BOD5, COD,dan TOM). Selain itu juga untuk mengetahui apakah perbedaan ukuran ikan sapu-sapu (H. plecostomus) mempengaruhi besarnya penurunan bahan pencemar organik yang direduksi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perikanan dan Lingkungan Universitas Diponegoro pada bulan Maret-April 2014. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris, rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancang Acak Lengkap). Perlakuan yang diuji pada penelitian ini adalah memberikan ikan dengan ukuran kecil, sedang, dan besar. Hasil yang dilihat dari penelitian ini adalah membandingkan konsentrasi BOD, COD dan TOM pada awal penelitian dan akhir penelitian. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu (H. plecostomus) dapat menurunkan konsentrasi ketiga parameter dan meningkatkan kualitas air limbah tersebut. Konsentrasi BOD turun rata-rata 30,13%, nilai COD turun rata-rata 35,06% dan TOM turun rata-rata 29,09%. Hasil ANOVA one-way hasil menunjukkan bahwa perbedaan ukuran tidak berpengaruh nyata terhadap besarnya nilai penurunan dari ketiga parameter. Ikan sapu-sapu (H. plecostomus) dapat menurunkan konsentrasi BOD, COD dan TOM meskipun efektivitasnya kecil.  The widespread of Industry, whether the household scale or national scale, the effect is very well economically, so as to increase the national income. Not only that the effects of industrial development, the increase in industrial means increases the level of pollution caused by the industrial production process. The increases of environmental pollution has prompted some research that discuss about handling of environmental pollution. One of them is an effort to reduce pollution by using water biota. This research uses Sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) to reduce organic pollutants. Parameters of this study refers to the value of Biological Oxigen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Organic Matter (TOM). This study aims to knowing the capability of Sapu-sapu (H. plecostomus) in reducing organic pollutants of liquid waste by industrial fish processing (The concentration of BOD5, COD, and TOM). In addition, to determine whether differences in sapu-sapu’s size (H. plecostomus) affects the magnitude of decrease in organic pollutants reduced. This research was conducted in the Laboratory of Fisheries and Environmental Resource Management, University of Diponegoro in March-April 2014. This research is a laboratory experimental research, experimental design used was CRD (Completely Randomized Design). The treatments tested in this research is by using a fish with small, medium, and large. The results which seen from this study was to compare the concentrations of BOD, COD, and TOM at baseline and end of study. The results of this study indicate that Sapu-sapu (H. plecostomus) can reduce the value of these three parameters and increase the quality of the waste water. BOD concentration down an average of 30.13%, COD values down an average of 35.06%, and the average TOM down 29.09%. Having analyzed using one-way ANOVA analysis, the results indicate that the difference in size does not significantly affect the magnitude of the decrease in the value of the three parameters. Sapu-sapu (H. plecostomus) can decrease the concentration of BOD, COD, and TOM although a small effectiveness.
TINGKAT PRODUKTIVITAS PRIMER DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON BERDASARKAN WAKTU YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Yulianto, Dwi; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.694 KB)

Abstract

Wilayah pantai merupakan wilayah yang kompleks dimana di dalamnya terjadi interaksi dari beberapa ekosistem. Dalam hal ini terdapat komponen ekosistem biotik dan abiotik. Salah satu komponen biotik yang sangat berperan dalam ekosistem adalah fitoplankton. Selain sebagai produsen primer, fitoplankton juga dijadikan sebagai bioindikator kualitas air yang memiliki sifat kosmopolit yakni dapat hidup di beragam jenis perairan atau dengan kata lain pola penyebarannya sangat luas, yang berarti penyebaran plankton bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena kualitas airnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas primer, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominasi fitoplankton pada waktu yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013 di perairan Pulau Panjang, Jepara. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada dua ekosistem yang berbeda. Stasiun Pertama didominasi oleh biota karang, sedangkan pada stasiun B didominasi oleh biota Lamun. Metode yang digunakan untuk menentukan Produktivitas perairan adalah dengan menggunakan metode botol gelap terang Winkler, sedangkan untuk kelimpahan digunakan sampling pasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat produktivitas primer di perairan Pulau Panjang berkisar antara 25 – 75 mgC/m3/jam, dengan nilai produktivitas tertinggi sebesar 75 mgC/m3/jam yang didapatkan pada pukul 10.00 WIB. Nilai Produktivitas terendah didapat pada pukul 06.00 WIB sebesar 25 mgC/m3/jam. Kelimpahan Fitoplankton terendah sebanyak 13053 ind/l didapatkan pada pukul 06.00 WIB, sedangkan kelimpahan tertinggi didapatkan sebanyak 23040 ind/l pada pukul 10.00 WIB. Nilai indeks keanekaragaman pada penelitian yaitu berkisar antara 1,53 – 1.84. Nilai indeks keseragaman yaitu berkisar antara 0,48  – 0,55 dan nilai indeks dominansi 0 < D < 0,5. Maka dapat disimpulkan perairan tersebut memiliki nilai indeks keanekaragaman yang rendah, tingkat keseragaman sedang dan tidak terjadi dominansi spesies.  Coastal region is a complex zone where there are interactions occur between some ecosystems, between biotic and abiotic ecosystems component. One of the most important component that take role in those ecosytems is Phytoplankton. Phytoplankton, not only as a primary producer, it also has different use as bioindicator for water quality that have cosmopolite characteristic. It means that phytoplankton distribute with many different variations based on the water quality in each area. The main purpose of this research was to know primary productivity, index of diversity, index of similarity, and  index of phytoplankton domination at different time. This research was held in June, 2013 in Panjang Island, Jepara. Descriptive methodology was used during the sampling of this research. For collecting sample did on two different station. First station was dominated by coral and second station was dominated by seagrass. The method that used for primary productivity measurement was Winkler method, while for phytoplankton diversity use passive sampling measurement. The results show that primary productivity in Panjang Island was about 25 – 75 mgC/m3/hour, with 75 mgC/m3/hour as the highest productivity value, and the peak time was at 10.00. The lowest productivity value was 25 mgC/m3/ at 06.00. The lowest Phytoplankton diversity was 23.040 ind/l at 10.00. Diversity index value approximately 1,53 - 1,84. Similarity index value approximately 0,48 - 0,55 and domination index value is 0 < D < 0,5. Based on those data, it is concluded that Panjang Island has low diversity index value, average similarity index value and no species was dominating this area.
EVALUASI KUALITAS AIR SEBELUM DAN SESUDAH MEMASUKI WADUK JATIGEDE, SUMEDANG Subarma, Urni Nurani; Purnomo, Pujiono Wahyu; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.115 KB)

Abstract

Sungai Cimanuk sebagai sungai utama bagi Waduk Jatigede perlu di monitor dan dievaluasi. Monitoring dan evaluasi tersebut merupakan faktor penting dalam pengelolaan kualitas air. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis fitoplankton, kandungan nitrat, fosfat, klorofil-a sebelum dan sesudah memasuki Waduk Jatigede. Lokasi pengamatan pertama terdiri dari 3 stasiun di Sungai Cimanuk sebelum memasuki waduk, lokasi pengamatan kedua terdiri dari 3 stasiun di dalam area rencana penggenangan. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode survey sedangkan metode dalam pengambilan sample yaitu metode purposive sampling. Fitoplankton yang ditemukan  sebanyak 23 genus. Genus yang mendominasi adalah Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema dan Nitzschia. Kandungan nitrat sebelum memasuki waduk yaitu 2,23 - 4,19 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik) dan sesudah memasuki area rencana genangan waduk berkisar 1,46 - 2,78 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik). Kandungan fosfat sebelum memasuki waduk yaitu 1,305 - 4,94 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,665 - 1,535 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik). Kandungan klorofil-a sebelum memasuki Waduk Jatigede adalah 0,845 - 3,127 µg/L tergolong kategori sedang (meso-oligotrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,462 - 1,151 µg/L tergolong kategori rendah (oligotrofik).Cimanuk River is a major river that flows into the area of Jatigede reservoir, that need to be monitored and evaluated. Monitoring and evaluation is an important factor in the management of water quality. The purpose of research is determine the composition of phytoplankton, the concentration of nitrate, phosphate, chlorophyll-a before and after entering the Jatigede Reservoir. The first location is in river stream before it enters the reservoir area which consists of 3 observation stations .The second is in after entering the reservoir inundation area plan  which consists of 3 location observation. The method used in the research is a survey method and the method of sampling is purposive sampling. Phytoplanktons are found as many as 23 genera. Genera which dominate are Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema and Nitzschia. Concentration of nitrate before entering the reservoir is 2,23 – 4,19 µg/L were classified as mesotrofik  and after entering the reservoir inundation area plan ranged from 0,46 - 2,78 µg/L were classified as mesotrofik. Concentration of phosphate before entering the reservoir ranged from 1.305 – 4,94 µg/L were classified as eutrofik, after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,665 – 1,535 µg/ L were classified as eutrofik. Concentration of chlorophyll-a before entering Jatigede Reservoir ranged from 0,845 – 3,125 µg/L were classified as meso-oligotrofik , after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,462 -1,528 µg/L were classified as oligotrofik.
HUBUNGAN ANTARA SEDIMEN ORGANIK TERHADAP PERUBAHAN KOMUNITAS PERIFITON DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Haekal, Mohamad; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.369 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan pulau kecil yang terletak 3,2 km sebelah barat pantai kota Jepara. Hampir seluruh perairan di sekitar pulau ditumbuhi terumbu karang. Ekosistem yang terdapat di Pulau Panjang diduga tidak hanya suatu habitat yang mandiri, tidak berhubungan dengan ekosistem lainnya, tetapi sesungguhnya terdapat keterkaitan satu ekosistem dengan yang lainnya. Keterkaitan tiga ekosistem khas wilayah pantai antara Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang telah dibuktikan dengan terdapatnya ketergantungan antar ekosistem dalam membesarkan biota laut dalam siklus hidupnya. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas perifiton yang ada di perairan sekitar Pulau Panjang; berdasarkan kelimpahan, dominansi, keanekaragaman dan keseragamannya menurut sedimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2013 di perairan Pulau Panjang, Jepara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sedimen yang tertangkap pada sedimen trap dan perifiton yang menempel di porselin. Materi tersebut secara periodik diambil sebagai basis data untuk menjawab tujuan yang hendak dicapai. Lokasi sampling ditentukan berdasarkan tipe ekosistem yang ada di Pulau Panjang. Berdasarkan hasil pengamatan, jenis perifiton yang paling banyak ditemukan pada ketiga stasiun di bagian selatan, utara dan timur adalah kelas diatom (Bacillariophyceae). Jika dilihat dari karakteristik biologi Bacillariophyceae merupakan komponen yang paling penting sebagai sumber makanan bagi zooplankton. Hasil regresi antara bahan organik dengan kelimpahan perifiton di stasiun 1 (SPP) memperoleh nilai koefisien determinasi 0,913, di stasiun 2 (UPP) memperoleh nilai koefisien determinasi 0,941 dan di stasiun TPP memperoleh nilai koefisien determinasi 0,968. Nilai ini menunjukkan hubungan yang erat antara kelimpahan perifiton dengan bahan organik di sedimen. Pulau Panjang is a small island which located 3,2 km west of the coastal town of Jepara. Almost all the waters around the island was overgrown by coral reefs. Utilization of Pulau Panjang coastal areas were potentially changing the balance of island ecosystem. Ecosystems in the Pulau Panjang thought to be only a self-contained habitats, not related to other ecosystem, but surely there was an interconnectedness of the three typical coastal ecosystems between mangrove, seagrass and coral reefs have been demonstrated with there was a dependency between the ecosystems in raising sea life in the cycle of life. The purpose of this research is to know the community structure of periphyton in the waters around Pulau Panjang; based on abundance, dominance, diversity and density according to sediment. This research was carried out in June to October 2013 in Pulau Panjang waters, Jepara. The material used in this research was the sediment which deposited in sediment trap and periphyton which attached in porcelain. The material periodically taken as database to answer the purpose to achieved. The sampling location was determined based on the type of ecosystem in Pulau Panjang. In Based on the observations, the most periphyton type found on the three stasions were diatoms (Bacillariophyceae) class. Based on biological characteristics of Bacillariophyceae was the most important component as a food source of zooplankton. The result of regerssion between organic matters with abundance of periphyton at the station 1 (SPP) obtained the value of the coefficient of determination 0.913, in station 2 (UPP) obtained the value of the coefficient of determination 0.941 and station 3 (TPP) station obtained the value of the coefficient of determination 0.968. These values indicate a close relations between abundance of periphyton with organic matter in the sediment. 
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN EPIFAUNA DASAR DENGAN TINGKATAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Setyawati, Yolanda; Subiyanto, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.846 KB)

Abstract

Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi epifauna yang hidup didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan epifauna dasardi kawasan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret 2014 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang dan padat. Pengambilan sampel epifauna dilakukan dengan pengambilan substrat dasar pada setiap tingkat kerapatan lamun pada 9 titik yang masing-masing 1m x 1m, selanjutnya sampel disaring dengan saringan ukuran mesh size 1mm x 1mm lalu disimpan dalam botol sampel dan diberi formalin 4% selanjutnya sampel epifauna dibawa ke laboraturium untuk diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp. dan 4 jenis di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. Kelimpahan epifauna dikerapatan lamun padat, sedang dan jarang 176, 193 dan 241 individu/m2 berturut-turut di Pulau Panjang. Sedangkan kelimpahan epifauna di Teluk Awur sebanyak 162, 177 dan 213 individu/m2 di Kerapatan jarang, sedang dan padat berturut-turut. Hasil analisa statistik menunjukkan hubungan positif antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dengan r = 0,969 di Pulau Panjang dan 0,976 di Teluk Awur. Teluk Awur and Panjang Island which is located in Jepara, has a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both locations will affect the level of density epifauna who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass in Panjang Island and Teluk Awur, Jepara. The reseach has been done in March 2014. The method used was case study and the data will analyzed descriptive based on 3 different densities level  i.e : sparse, medium and dense. Epifauna was collected by taking substrate from 9 point from kuadrant transek 1mx1m at every level density of seagrass. The sample collected then was filtered with 1x1mm a filter mesh size and stored in 4 % formalin. Epifauna collected were brought to the laboratory to be identified. The results showed that there were 5 types of sea grass found on Panjang Island and 4 type in Teluk Awur were Thalassia sp., Cymodocea sp., Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp, while in Teluk Awur were Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. The abundance of epifauna in dense, medium, and sparse were 241, 193, and 176 ind/m2 respectively in Pulau Panjang. while the abundance of epifauna in Teluk Awur was 162, 177 and 213 individual/m2 were collected from sparse, medium and dense density, respectively. The statistical analysis showed that there were positive correlation between level densities of seagrass and the abundance of epifauna the higher, the density the more epifauna were obtained with r = 0.969 at Panjang Island and 0.976 at Teluk Awur. 
KAJIAN INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA TERHADAP KONSENTRASI KLOROFIL-a PADA PERTUMBUHAN MIKROALGA Spirulina platensis DALAM SKALA LABORATORIUM Indrastuti, Chrysalina; Sulardiono, Bambang; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.672 KB)

Abstract

Salah satu mikroalga yang telah banyak dimanfaatkan adalah Spirulina platensis. Pigmen klorofil-a pada S. platensis merupakan pigmen fotosintesis. Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat  berpengaruh  dalam budidaya mikroalga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan intensitas cahaya terhadap kepadatan dan kandungan klorofil-a S. platensis, mengetahui intensitas cahaya terbaik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (16 watt, 23 watt, 45 watt), tiga kali ulangan. Analisis dan pengolahan data menggunakan program SPSS 20. Hasil uji ANOVA menunjukan bahwa cahaya tidak berpengaruh nyata pada Kandungan Klorofil-a S. platensis. dan Intensitas cahaya terbaik pada kandungan Klorofil-a dari lampu 23 watt. One of the species of microalgae that has been widely utilized is Spirulina platensis. Pigments of  Chlorophyll-a  in S. platensis  are photosynthesis pigments. Light is one of the environmental factor  that is very influential in cultivating microalgae. This study was aimed to know the effects of different light intensities on the density and chlorophyll-a content of  S. platensis, to know  the best light intensities. The methods used in this research is a method of laboratory experiments. This study was using random sampling methods  with three treatment of three different light intensities (16 watt, 23 watt and 45 watt), and three repetition. Analysis  and  data  processing was using SPSS 20 program. The result of ANOVA test showed that light not effect on the chlorophyll-a content of S. platensis, and the best light Intensites for the chlorophyll-a Content on the 23 lamp.

Page 3 of 4 | Total Record : 34