cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 29 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015" : 29 Documents clear
STATUS PENCEMARAN SUNGAI PLUMBON DITINJAU DARI ASPEK TOTAL PADATAN TERSUSPENSI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS Khaeksi, Indraswari Putri; Haeruddin, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.583 KB)

Abstract

Sungai Plumbon merupakan salah satu sungai di kota Semarang, yang terletak di Mangunharjo, Mangkang, Semarang. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui konsentrasi Total Padatan Tersuspensi, struktur komunitas makrozoobentos, hubungan antara TSS dan makrozoobentos dan mengetahui status pencemaran sungai Plumbon Semarang. Metode sampling yang digunakan yaitu metode sistematic sampling. Zat Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat atau partikel-partikel seperti pasir, lumpur dan tanah liat yang tersuspensi didalam air dan dapat berupa komponen hidup. Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) yang diperoleh pada 3 kali sampling adalah pada sampling I diperoleh rata - rata sebesar 257,78 mg/l ±136,84, pada sampling II diperoleh rata - rata sebesar 200 mg/l ± 118,51 dan pada sampling III diperoleh rata - rata sebesar 400 mg/l ±146,67. Ditinjau dari kurva ABC maka sungai Plumbon masuk ke dalam kategori sungai yang tercemar sedang hingga berat. Uji korelasi yang dilakukan antara TSS dengan Kelimpahan Individu menghasilkan korelasi negatif kuat, begitu pula pada uji korelasi TSS dengan keanekaragaman makrozoobentos yang menghasilkan korelasi negatif kuat. Plumbon river is located in Mangunharjo, Mangkang, Semarang. This research was conducted to study the concentration of Total Suspended Solid, macrozoobenthos community structure, the relationship between TSS and macrozoobenthos and the status of Plumbon river pollution. Sampling method used is systematic sampling method. Total Suspended Solid is all solids or other particles like sand, mud, and clay that are suspended in the water and can be biotic components. Average of Total Suspended Solid (TSS) concentration obtained from every station with 3 times sampling are: station I is 257,78 mg/l ±136,84, station II is 200 mg/l ± 118,51, and station III is 400 mg/l ±146,67. Based on ABC curve, Plumbon river is categorized as moderately to heavily polluted river. Correlation test conducted between TSS and individual abundance shows a strong and negative correlation, similarly with the correlation test between TSS and macrozoobenthos diversity that shows a strong and negative correlation.           
VALUASI EKONOMI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KARANG KELOP KABUPATEN KENDAL Maharmingnastiti, Wiedha; Saputra, Suradi Wijaya; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.201 KB)

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di laut yang mempunyai banyak manfaat. Ekosistem ini memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan di dalamnya, juga bagi kebutuhan manusia. Oleh karena itu sudah selayaknya jika nilai ekonomi ekosistem terumbu karang dievaluasi. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – April 2015 di Perairan Karang Kelop, Kabupaten Kendal. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di Pidodo Kulon dan nilai ekonomi total manfaat ekonomi terumbu karang di perairan Karang Kelop. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi masyarakat tentang keberadaan ekosistem terumbu karang yang memiliki nilai ekonomi tinggi, memahami pentingnya valuasi ekonomi sumberdaya terumbu karang di perairan Karang Kelop dan sebagai bahan pengambilan kebijakan pemerintah dalam mengelola ekosistem terumbu karang di perairan Karang Kelop. Metode penelitian yang digunakan adalah metode cluster sampling berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan.  Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 38 orang, yaitu 26 orang nelayan, 10 orang masyarakat sekitar kawasan dan 2 orang pihak LSM Barakuda. Untuk mengetahui total nilai ekonomi terumbu karang, data dianalisis dengan menjumlahkan nilai manfaat langsung, nilai manfaat tak langsung dan nilai manfaat pilihan. Nilai ekonomi total (Total Economic Value) manfaat ekosistem terumbu karang di perairan Karang Kelop seluas 4 ha adalah sebesar Rp. 1.235.942.701 per tahun dengan rincian manfaat langsung Rp.657.883.000 (53,25%), manfaat tidak langsung Rp. 576.733.500 (46,65%), dan manfaat pilihan Rp. 1.326.201 (0,10%). Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh para pengambil keputusan di Kabupaten Kendal, khususnya di Desa Pidodo Kulon untuk perencanaan pengelolaan. Coral reef ecosystem is one of the marine ecosystem that has many benefits. This ecosystem functions to support marine flora and fauna and has great value to fullfil human needs. Therefore, the economic value of coral reef ecosystem should be evaluated. This study had been conducted on February to April 2015 in Karang Kelop marine in Kendal Regency. The  aims of study is to find the type and use of coral reef ecosystem in Pidodo Kulon and total economic value of coral reef ecosystem in Karang Kelop marine. The benefit of this research is that people can get information about the existence of coral reef ecosystems that have a high economic value, and can get to understand the importance of economic valuation of coral reef resources in Karang Kelop waters. The research methods used is a cluster sampling method by type of fishing gear used.  The number of respondents in this study are 38 people, that is 26 fishermen, 10 local communities and  2 officers of the NGO Barakuda. In order to know the total economic value of the coral reefs, the data are analyzed by calculating the total benefit direct value, indirect benefit and optional benefit. The total economic value of coral reef ecosystem in 4 ha of the park is amount Rp. 1.235.942.701 per year compose of direct use benefits Rp. .657.883.000 (53,25%), indirect use benefits Rp. 576.733.500 (46,65%), and optional use benefit Rp. 1.326.201 (0,10%).This result could be used by all stakeholders in Kendal Regency and Pidodo Kulon Village to set up management plan.
KELIMPAHAN EPIFAUNA DI SUBSTRAT DASAR DAN DAUN LAMUN DENGAN KERAPATAN YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG PROVINSI LAMPUNG Prakoso, Kukuh; Supriharyono, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.864 KB)

Abstract

Pulau Pahawang merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di kawasan Teluk Lampung yang memiliki ekosistem lamun. Lamun di Pulau Pahawang merupakan salah satu habitat yang mendukung kehidupan biota akuatik salah satunya epifauna. Epifauna yang hidup di lamun tersebut memanfaatkan lamun sebagai habitat dan juga memanfaatkan nutrisi dari serasah lamun sebagai makanannya, dimana parameter lingkungan dan predasi mempengaruhi distribusi lamun dan kehidupan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis lamun dengan kerapatan yang berbeda, mengetahui kelimpahan epifauna di substrat dasar daun lamun, dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan lamun yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2015 dengan menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu dua jenis lamun, tujuh jenis epifauna di daun lamun dan enambelas jenis epifauna di substrat dasar. Lamun jenis Enhalus sp mendominasi nilai terbesar didapatkan di kerapatan padat 8615 ind/25m2, epifauna di daun lamun yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp 22 ind/15m2 dan Rhinoclavis sp 20 ind/15m2 pada kerapatan padat, sedangkan epifauna di substrat dasar yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp sebesar 91 ind/15m2 dan Cronia sp sebesar 26 ind/15m2 pada kerapatan padat. Berdasarkan hasil regresi terdapat hubungan antara kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan yang berbeda dimana kenaikan kerapatan lamun akan menyebabkan kenaikan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun. Pahawang Island is a small island located in the Gulf region which grows seagrass Lampung. Seagrass Pahawang Island is one of the habitats that support aquatic biota one epifauna. Epifauna uses seagrass as habitat and also uses the nutrition from the litter seagrass as food, where the environmental parameters and predation affect seagrass distribution and epifauna life. The purpose of this study was to find the species of seagrass with different densities, knowing the abundance of epifauna in seagrass leaves the base substrate, and to analyze the relationship in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves with different seagrass density. This study was conducted in March-April 2015 by using descriptive method. Measurment includes of sampling, identification, data analysis and evaluation of data. The study resulted that there are two species of seagrass, seven types of epifauna in seagrass leaf and sixteen types of epifauna in the base substrate. Seagrass tspecies Enhalus sp dominates in the solid density 8615 ind / 25m2, epifauna on seagrass leaves most commonly found are the species Cerithium sp 22 ind / 15m2 and Rhinoclavis sp 20 ind / 15m2 at solid density, while the base substrate epifauna at most found that many species of Cerithium sp was 91 ind / 15m2 and Cronia sp by 26 ind / 15m2 on a solid density. Based on the results of regression there is a relationship between the abundance of epifauna in the base substrate and seagrass leaves with different densities of sea grass where the increase in density will lead to a rise in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves.
HUBUNGAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR DENGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK, NO2 DAN NH3 PADA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI DESA KEBURUHAN PURWOREJO Wulandari, Tjatur; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.235 KB)

Abstract

Kegiatan budidaya udang Vannamei di desa Keburuhan, Purworejo dilakukan di kawasan gumuk pasir. Air yang digunakan untuk media budidaya berasal dari sumur pengeboran. Semakin meningkatnya masa pemeliharaan udang diikuti oleh meningkatnya bahan organik yang berpotensi terdekomposisi menjadi senyawa toksik yaitu nitrit (NO2) dan amonia (NH3). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar bahan organik, NO2, NH3 dan untuk mengetahui hubungan pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan, Purworejo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan. Lokasi pengambilan sampel air dilakukan pada tiga taraf umur pemeliharaan yaitu Tambak dengan periode umur pemeliharaan 0-20 hari, Tambak dengan periode umur 21-50 hari dan Tambak dengan periode umur 51-70 hari. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi dengan taraf nyata (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan umur berhubungan dengan peningkatan bahan organik, NO2 dan NH3. Hasil penghitungan persamaan regresi menunjukkan apabila kadar bahan organik 17,73 mg/l dapat menghasilkan amonia 0,1 mg/l (batas maksimum), sedangkan apabila bahan organik sebesar 88,4 mg/l dapat menghasilkan nitrit 0,06 mg/l (batas maksimum). Amonia dan nitrit mencapai batas maksimum sebelum masa panen yaitu umur 20 hari dan umur 55 hari. Kandungan bahan organik, nitrit (NO2) dan amonia (NH3) mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur udang. Adanya hubungan antara pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 menunjukkan pengelolaan kualitas air pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan Purworejo kurang efektif dilakukan. Vannamei shrimp aquaculture activities in Keburuhan Village, Purworejo are done in sand dunes areas. Besides, well water utilized as aquaculture media. Increasingly, the keeping periods of shrimp followed by the increase of organic matter in which potentially decompose into toxic compounds, namely nitrite (NO2) and ammonia (NH3).  The aim of this study is to determine the level changes in organic matter, NO2, and NH3 as well as correlation of the water quality management with the contents of organic matter, NO2, and NH3 in Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan Village, Purworejo. The research method used in this study is field survey. The locations of water sampling conducted at the age of three of the level maintenance, among others the Pond at the age of 0-20 days, the Pond  at the age of 21-50 days and the Pond at the age of 51-70 days. Regression test used for the data analysis with significance level (α) 0,05. The research result shows that the age significantly effects the enhancement of organic matter, NO2 and NH3. The calculation results of regression equation indicate if the organic matter level is 17,73 mg/l may produce 0,1 mg/l ammonia (maximum limit),whereas 88,4 mg/l organic matter may produce 0,06 mg/l nitrite (maximum limit). Ammonia and nitrite reach the maximum limit before their harvest periods which are at the age of 20 days and 55 days. The contents of organic matter, nitrite (NO2) and ammonia (NH3) have increased as the shrimp grows older. The correlations between water quality management with organic matter, NO2 and NH3 indicate that water quality management of Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan village Purworejo is carried out less effectively.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DALAM KAITANNYA UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN DI PPP SADENG KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA Anggraeni, Rosa; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.887 KB)

Abstract

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan ekonomis penting di WPP 571, 572 dan 573. Produksi ikan Cakalang lebih besar dibanding dengan Tuna. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai Januari 2015 di PPP Sadeng untuk mengetahui beberapa aspek biologinya sehingga dapat digunakan dalam upaya pengelolaan perikanan. Sampel ikan Cakalang didapatkan dari perahu motor tempel (PMT), kapal motor (KM) 5 – 23 GT dan KM 30 – 50 GT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Cakalang bersifat allometrik positif dengan nilai faktor kondisi sebesar 1,20. Ikan yang paling sering tertangkap yaitu pada kisaran 30 – 34 cm. Ukuran pertama kali ikan matang gonad untuk jantan 41,5 cm dan betina 40,1 cm. Ukuran ikan yang tertangkap sebagian besar belum layak untuk ditangkap karena 1/2 L∞ > L50% < Lm. Nilai IKG jantan berkisar 0,08 – 3,58 dan betina 0,13 – 4,35. KM 30 – 50 GT memiliki nilai CPUE tertinggi yaitu sebesar 2.702,17 kg/trip. Usaha penangkapan PMT lebih menguntungkan karena pendapatan harian nelayan PMT lebih besar dibandingkan dengan nelayan KM. Rencana Pengelolaan yang disarankan yaitu pengaturan ukuran ikan layak tangkap, pengaturan  mata jaring mini purse seine (> 6 cm),  gill net (>10 cm) dan ukuran mata pancing (<5), pengendalian dan pemantauan jumlah armada penangkapan dan alat tangkap yang beroperasi, serta pengaturan musim dan daerah penangkapan. Commodities of Tunas, Tonggol and Skipjack Tuna (TTC) is an economically important fish in WPP 571, 572 and 573. Production Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) is larger than the Tuna and Tonggol. This study was conducted from December 2014 to January 2015 in PPP Sadeng to know some biological aspects so that it can be used in fisheries management efforts. Samples of skipjack tuna obtained from the outboard, motor boat 5-23 GT and motor boat 30-50 GT. The results showed that skipjack tuna is positive allometric, condition factor value of 1,20. The most frequently caught fish that is in the range of 30-34 cm. The size of the first fish mature male gonads to 41,5 cm and 40,1 cm in females. The size of the fish caught mostly not worthy to be arrested because 1/2 L∞> L50% <Lm. IKG value males ranged from 0,08 to 3,58 and female 0,13 to 4,35. Motor boat 30-50 GT has the highest CPUE value that is equal to 2702,17 kg/trip. Outboard fishing effort is more profitable for fishermen because  outboard daily income is greater than fishermen motor boat. The recommended management plan is setting a decent size fish catch, setting mesh size mini purse seine (> 2 inches) and hook size (<5), control and monitoring the amount of fishing fleet and fishing gear that are in operation, along with regulating the fishing  season and fishing area
STUDI EKOLOGI DAN ASPEK BIOLOGI IKAN BELANAK (Mugil sp.) DI PERAIRAN MUARA SUNGAI BANGER, KOTA PEKALONGAN Okfan, Andri; Muskananfola, Max Rudolf; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.274 KB)

Abstract

Kota pekalongan merupakan salah satu kota di Jawa Tengah dengan sektor perikanan yang baik. Ikan – ikan ekonomis penting banyak dihasilkan dari usaha penangkapan maupun budidaya. Ikan Belanak merupakan salah satu ikan ekonomis yang berpotensi untuk dikembangkan dilihat dari tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi, namun informasi mengenai ikan Belanak di perairan Pekalongan belum banyak didapatkan. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui hubungan studi ekologi dan aspek biologi ikan Belanak (Mugil sp.) dengan konsep pengelolaan sumberdaya ikan Belanak di perairan muara sungai Banger, Kota Pekalongan. Penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk mendapatkan data hasil penelitian seperti struktur ukuran menggunakan data panjang dan berat ikan, panjang infinity menggunakan rumus L∞ = Lmax/0,95, ukuran pertama tertangkap dengan cara memplotkan frekuensi kumulatif dengan setiap panjang ikan, sehingga akan diperoleh kurva logistik baku dan titik potong antara kurva dengan 50% ikan tertangkap, hubungan panjang berat menggunakan rumus W = aLb, faktor kondisi menggunakan rumus Kn = W/L3, rasio kelamin didapatkan dari hasil pembagian jumlah ikan jenis kelamin tertentu dengan jumlah total ikan dikali 100%, TKG menggunakan indikator dari Effendie (2002), IKG didapatkan dari hasil pembagian berat gonad dengan berat tubuh dikali 100%, fekunditas menggunakan rumus F=(G.V.X)/Q, dan parameter fisik lingkungan didapatkan dari hasil pengamatan di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukan struktur ukuran berkisar 89 – 291 mm dan berat 9,5 – 259,72 gram, ukuran pertama tertangkap 142 mm, hubungan panjang berat W = 2,168L2,855 nilai b<3 menunjukan pertumbuhan ikan allometrik negatif, faktor kondisi 1,34 menunjukan kondisi ikan kurang pipih, rasio kelamin didominasi ikan jantan 2,69:1, dan fekunditas ikan Belanak berkisar 47.813 - 569.261 butir. Konsep pengelolaannya dengan pengaturan ukuran mata jaring dan musim penangkapan. Pekalongan city is one of the cities in Central Java with good fisheries sector, many economic fish resulting from fishing effort and aquaculture. Mullet is a fish that has the potential to be developed views of the high level of public consumption, but the relevant information has not been obtained Mullet. The purpose of the research was to determine the relationship of ecological studies and biological aspects of Mullet (Mugil sp.) with the concept of management of fish resources from Banger estuary water, Pekalongan. This study uses several methods to obtain research data such as the size of the structure using the data length and weight of fish, long infinity using the formula L∞ = Lmax / 0.95, the first measure caught by way of plotting the cumulative frequency with each length of the fish, so that would be obtained raw logistic curve and the point of intersection between the curve with 50% of the fish caught, length weight relationshi  using the formula W = aLb, condition factor using the formula Kn = W / L3, sex ratio obtained from the division of gender specific amount of fish to the total number of fish multiplied by 100%, TKG use indicators of Effendie (2002), IKG obtained from the division of gonad weight to body weight multiplied by 100%, fecundity using the formula F = (GVX) / Q, and the physical parameters of the environment obtained from observations in space research. The result shows that structure size ranged from 89 mm to 291 mm, the first measure caught 142 mm, the relationship between total length and body weight were W = 2,168L2,855 the value of b <3 indicates negative allometric growth of fish, the value of the condition factor 1.34 indicates the condition of the fish is less flat, sex ratio is dominated by the male fish 2,69: 1, and fecundity of Mugil sp. ranged from 47.813 to 569.261 eggs. The concept of management is to control mesh sizes and fishing season.
ANALISIS KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON, NITRAT DAN FOSFAT DI SUNGAI JALI DAN SUNGAI LERENG DESA KEBURUHAN, PURWOREJO Iswanto, Claudya Yolanda; Hutabarat, Sahala; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.392 KB)

Abstract

Perubahan terhadap kualitas perairan erat kaitannya dengan potensi perairan ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesuburan perairan berdasarkan kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton dan zooplankton yang berada di Sungai Jali dan Sungai Lereng Purworejo dan mengetahui hubungan kadar nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton di perairan Sungai Jali dan Sungai Lereng Purworejo. Metode sampling yang digunakan yaitu metode acak. Penelitian ini dilaksanakan pada lima stasiun yang berbeda selama tiga kali waktu sampling dimana stasiun 1 merupakan hulu sungai, stasiun 2 merupakan representasi pengaruh hulu dan pasang surut, stasiun 3 merupakan muara sungai, stasiun 4 di dekat lokasi pertambakan, dan stasiun 5 di dekat aktivitas nelayan. Kelimpahan fitoplankton di sungai Jali dan sungai Lereng berkisar 3.503 – 12.165 ind/l berdasarkan kelimpahan fitoplankton menunjukkan bahwa perairan sungai Jali dan sungai Lereng tergolong tingkat kesuburannya sedang atau mesotrofik. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada sungai Jali dan sungai Lereng Purworejo selama pengamatan terdiri dari 3 kelas yaitu kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae dan Cyanophycae serta terdiri dari 20 genera. Jenis zooplankton terdiri dari 2 filum yaitu filum Protozoa dan filum Crustacea, serta terdiri dari 8 genera. Kandungan nitrat berkisar 0,3 – 1,6 mg/l dan kandungan fosfat berkisar 0,04 – 0,7 mg/l. Nitrat memiliki korelasi sebesar 0,619 terhadap kelimpahan fitoplankton, hal tersebut berarti nitrat memiliki hubungan positif kuat dan fosfat memiliki korelasi sebesar 0,596 terhadap kelimpahan fitoplankton, hal tersebut berarti fosfat memiliki hubungan positif sedang. Water quality alteration has tight relationship with water potency, refers to phytoplankton abundance and composition. Phytoplankton is one of biology paramater that can be an indicator to evaluate water quality and fertility. This study aims to recognize water fertility based on the abundance and composition of phytoplankton and zooplankton in Jali River and Lereng River Purworejo and the relation between nitrate phosphate and phytoplankton abundance in Jali River and Lereng River Purworejo. Random sampling method are used in this observation. There are 5 different stations in 3 sampling periods. Station 1 is the upper course of river, station 2 is the representation of upper course and tide, station 3 is river mouth, station 4 is near to local fish pond and station 5 is near to fishing activity. Abundance of phytoplankton in Jali River and Lereng River value 3.503 – 12.165 ind/l based on phytoplankton abundancy it is showing that water quality of Jali River and Lereng River categorized in moderated fertility levels or mesotrofik. There are 3 classes of phytoplankton that found in study site. They are Bacillariophyceae, Chlorophyceae and Cyanophyceae. Then, consisting of 20 genera. 2 kinds of zooplankton are Protozoa filum and Crustacea filum, consisting 8 genera. Nitrate value is 0,3 – 1,6 mg/l and phosphate value is 0,04 – 0,7 mg/l. Nitrates have a correlation of 0,619 against the abundance of phytoplankton, it means that the nitrate has a strong positive connection and phosphate had a correlation of 0,596 against the abundance of phytoplankton, it means that phosphate has a moderate positive connection.
PENGARUH DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart) Solms, 1824) TERHADAP NITRAT (NO3) DAN TOTAL BAKTERI PADA SKALA LABORATORIUM Maulida, Dwi Tasha; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.324 KB)

Abstract

Eceng gondok (E. crassipes) menjadi salah satu permasalahan yang serius pada kondisi perairan di Rawa Pening. Bahan organik dalam perairan memerlukan proses perombakan melalui dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dekomposisi bahan organik eceng gondok (E. crassipes) terhadap NO3 dan total bakteri. Penelitian dekomposisi bahan organik eceng gondok ini mengacu pada penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap perlakuan kadar 80%, 60%, dan 40%. Data dikoleksi dengan 3 pengulangan selama 5 kali dengan periode satu minggu. Data yang diukur meliputi kandungan bahan organik, nitrat (NO3), total bakteri, suhu, pH air, dan DO pada setiap wadah percobaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan FPIK UNDIP Tembalang, Semarang. Hasil penelitian adalah dekomposisi eceng gondok memberikan pengaruh yang berbeda terhadap bahan organik air, total bakteri, dan NO3. Pengaruh bahan organik pada kadar 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Pengaruh terhadap total bakteri pada kadar bahan organik 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Dekomposisi eceng gondok pada kadar bahan organik 80% menghasilkan kelebihan NO3, sedangkan dekomposisi eceng gondok dengan kadar bahan organik 60% dan 40% hasil NO3 cenderung menurun. Water hyacinth (E. crassipes) became one of the serious problems to the water conditions in the Pening Swamp. Organic matter in the water needs recast process through decomposition. This study aimed to determine the effect of organic matter decomposition hyacinth (E. crassipes) to NO3 and total bacteria. This research on decomposition of organic matter hyacinths refers to experimental studies with completely randomized design (CRD) of the treatment levels 80%, 60%, and 40%. Data collected by 3 repeated for 5 times with a period of one week. Measured Data includes organic matter content, nitrate (NO3), total bacteria, temperature, water pH, and DO in each of container experimental research. This study was conducted in January 2015 in the Laboratory of Fisheries Resources Management and Environment FPIK Tembalang Diponegoro, Semarang. The results showed that the decomposition of water hyacinths give a different effect in water organic matter, total bacteria, and NO3. Effect of organic material at the rate of 80% more than 60%, more than 40%. Effect of total bacterial content on organic matter level of  80% more than 60%, more than 40%. Decomposition of water hyacinth on organic matter level of 80% has excess NO3, while the decomposition of water hyacinths with organic matter levels of 60% and 40% of the NO3 tended to decline.
PRODUKTIVITAS PRIMER DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA AREA YANG BERBEDA DI SUNGAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Setiawan, Nur Eko; Suryanti, -; 'Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.945 KB)

Abstract

Sungai Betahwalang banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat yang tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan. Kesuburan peraiaran perlu diketahui untuk melihat daya dukung perairan dalam menopang kehidupan organisme. Salah satu cara untuk mengetahui nilai kesuburan perairan adalah dengan menghitung produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton serta variabel fisika-kimia perairan. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–Maret 2015 di sungai Betahwalang Demak, yang bertujuan untuk mengetahui nilai produktivitas primer; mengetahui kelimpahan fitoplankton, mengetahui perbedaan nilai produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton pada area yang berbeda dan mengetahui hubungan kedua variabel tersebut di sungai Betahwalang. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif Lokasi sampling ditentukan berdasarkan tiga stasiun dengan aktivitas yang berbeda dimana Stasiun I merupakan dermaga kapal dan pertanian; Stasiun II merupakan kawasan domestik; Stasiun III merupakan area mangrove. Nilai rata-rata produktivitas primer perairan sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 667,2-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun II 500,4-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun III 667,2-1375,2 mgC/m3/hari. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik - Eutrofik. Kelimpahan fitoplankton sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 2.739-4.140 ind/l; Stasiun II 1.656-3.185 ind/l; Stasiun III 1.274-3.822 ind/l. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik Berdasarkan uji chi-kuadrat, terdapat perbedaan pada masing-masing stasiun dan pengulangan dimana, nilai X2hitung pada produktivitas primer (X2hitung=396,27) dan kelimpahan fitoplankton (X2hitung=14310,24)  lebih besar dari X2tabel (13,28). Hubungan antara produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton menunjukan tidak ada hubungan kuat dimana dibuktikan hasil uji korelasi (r) sebesar -0,00841. Betahwalang River used for human activities which influnced fertility waters. Fertility waters need to know the carrying capacity of the water to sustain the organism. The value and characterize of the fertility waters can determine by calculate the primary productivity, phytoplankton abundance and also physics-chemical variable of water. This research was conducted in February-March 2015 in the Betahwalang River, Demak, which aims to determine the value of primary productivity; the value of phytoplankton abundan, the different that variable based on different areas and determine the relationship between the primary productivity of phytoplankton abundance in the Betahwalang River, Demak. The method used is Descriptive method with the determination of the sampling point, that is purposive sampling. Sampling locations are determined by three stations with different activities in which the First Station is a dock and agriculture; Second Station is a domestic area; and Third Station is a mangrove area. The average value of primary productivity of three stations in the waters of the Betahwalang River are: Station I 667,2-999,6 mgC/m3/day; Station II 500,4-999,6 mgC /m3/day; Station III 667,2-1375,2 mgC/m3/day. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic-Eutrofic. Phytoplankton abundance in Betahwalang river at three stations are: Station I 2.739-4.140 ind/l; Station II 1.656-3.185 ind/l; Station III 1.274-3.822 ind/l. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic.  Based on the chi-square test, there are differences in each station and repetition where in, the calculated value of primary productivity (X2count = 396,27) and abundance of phytoplankton (X2count = 14310,24) is greater than X2table (13,28). The relationship between primary productivity and phytoplankton abundance showed no significant relationship as evidenced in the results of the linear regression where the value (r) with the primary productivity of phytoplankton abundance of -0,00841.
KAJIAN KESUBURAN PERAIRAN DI WADUK IR. H. DJUANDA PURWAKARTA BERDASARKAN KANDUNGAN NUTRIEN DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON Sari, Herda Mustika; Sulardiono, Bambang; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.427 KB)

Abstract

Waduk Ir. H. Djuanda terletak di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat dengan ketinggian 111 m dpl dan luas 8.300 ha. Waduk tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air bersih, tempat pariwisata, tempat kegiatan perikanan tangkap maupun keramba jaring apung (KJA). Pemanfaatan waduk untuk berbagai kepentingan dimungkinkan menjadi salah satu sumber masukan nutrien dan berdampak bagi struktur komunitas plankton di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrient  (nitrat dan ortofosfat), struktur komunitas fitoplankton dan tingkat saprobitas indeks pada perairan waduk Ir. H. Djuanda, Purwakarta. Penelitian ini dilaksanakan bulan November-Desember 2014. Pengambilan sampel air dilakukan selama 2 kali dengan interval waktu pengambilan sampel air 1 bulan di 5 titik stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrat yang diperoleh termasuk ke dalam oligotrofik, dengan kisaran nilai antara 0,212-0,867 mg/l. Nilai ortofosfat berkisar antara 0,061-0,359 mg/l termasuk kedalam perairan eutrofikasi-super eutrofik. Kelimpahan fitoplankton dengan rata-rata keseluruhan 568.406 Ind/l. Jenis fitoplankton tertinggi selama penelitian adalah Oscilatoria sp dan jenis Peridinium sp. Nilai H’ berkisar antara 1,41-1,81 keanekaragaman rendah, nilai e berkisar 0,46-0,68 keseragaman sedang sedangkan indeks dominasi berkisar 0,24-0,43 yang berarti tidak terdapat jenis biota yang mendominasi. Berdasarkan nilai TSI yang diperoleh sebesar 0,6-1,5 termasuk pada perairan β-Mesosaprobik. Kesuburan perairan ini masih dapat dimanfaatkan oleh organisme di perairan. Ir. H. Djuanda Reservoir is located in Purwakarta, West Java with an altitude of 111 m above sea level and 8.300 ha wide. The reservoir is used by local people as a source of clean water, tourism and fisheries activities areas as well as floating net cages (KJA). Utilization of reservoirs for various purposes, is possible to be one source of nutrient input and impacts on the community structure of plankton in the waters. This research was aimed to determine of nutrient content (nitrate and orthophosphate), community structure of phytoplankton and the level of water saprobitas in Ir. H. Juanda Reservoir. The research was conducted in November-December 2014. Water sampling was conducted twice with water sampling interval of 1 month in 5 point stations. The results showed that nitrate belongs to the oligothrofic, with a range of values between 0,212 to 0,867 mg/l. Value of orthophosphate ranged from 0,061 to 0,359 mg/l is included into eutrophic-super eutrophic waters. The highest phytoplankton abundance in the research are Oscilatoria sp and Peridinium sp with a values 568.406 Ind/l. Value of H' ranged from 1,41 to 1,81 low diversity, values of e ranged from 0,46 to 0,68 medium uniformity while dominance index ranged from 0,24 to 0,43 which means there is not kind of life that dominates. Based on the value of TSI 0,6 to 1,5 is included into β-Mesosaprobic waters. Waters productivity still can be utilized by organisms in the waters.

Page 2 of 3 | Total Record : 29