cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016" : 9 Documents clear
ANALISIS SEBARAN SPASIAL KUALITAS PERAIRAN TELUK JAKARTA de Prima, Carleone; Hartoko, Agus; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.889 KB)

Abstract

Air begitu umum sehingga diabaikan sedangkan betapa pentingnya air itu untuk mahluk hidup. Kualitas Air adalah suatu indikasi apakah perairan tersebut baik atau tidak. Teluk adalah tempat yang luas, banyak sekali sisa sisa aktivitas mahluk hidup yang dijadikan sebagai tempat pembuangan. Teluk Jakarta merupakan kawasan strategis nasional banyak aktivitas industri. Rumah tangga dan lain-lain yang berpotensi melakukan pencemaran sehingga kondisi perairan tercemar dan kotor. Analisis spasial merupakan analisis yang menampilkan gambar kondisi suatu tempat dalam suatu layer. Tujuan dari penelitian ini adalah, mengetahui distribusi spasial kualitas perairan di Teluk Jakarta. Mengetahui distribusi spasial Logam berat (Pb) di Perairan Teluk Jakarta.  Analisis  data  yang digunakan menggunakan analisa deskriptif serta Geostatistik menggunakan Sistem Informasi Geografis dengan metode Kriging. Dengan kata lain, metode ini untuk mengestimasi besarnya nilai karakteristik Z pada titik tidak tersampel berdasarkan karakteristik titik titik sampel z yang berada disekitarnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa Nilai distribusi spasial parameter fisika, kimia, dan biologi perairan antara lain, suhu berada pada kisaran 29.08oC - 31.53oC, kecepatan arus berada pada 0.11m/s - 0.26 m/s, DO berada pada kisaran 4.41 - 5.78 mg/l, Salinitas berada pada kisaran 30.001 ppt – 34.99 ppt, COD berada pada kisaran 181 mg/l - 257 mg/l, BOD berada pada kisaran 11 mg/l - 23 mg/l dan Fitoplankton berkisar pada kelimpahan 10 ind/l – 451 ind/l. Nilai distribusi spasial logam berat Pb berkisar pada 0.00013 ppm – 0.009 ppm. The water is so common that it is ignored while the importance of water for living creatures. Air quality is a good indication of whether or not those waters. Gulf is a big place, a lot of the rest of the rest of the activity of living organisms that serve as a dumping ground. Jakarta Bay is an area of many national strategic industry activities. Household and other potentially polluting so polluted and dirty water conditions. Spatial analysis is an analysis showing the picture condition somewhere in a layer. The purpose of this study is, to know the spatial distribution of water quality in the Bay of Jakarta. Knowing the spatial distribution of heavy metals (Pb) in the waters of Jakarta Bay. Data analysis used descriptive analysis and Geostatistical using Geographical Information Systems with Kriging method. In other words, the method for estimating the characteristic value Z at the point tersampel not based on the characteristics of the points z samples that are nearby. The results showed that the spatial distribution of the value parameter of physics, chemistry, and biology among other waters, the temperature is in the range 29.08oC - 31.53oC, current speed is at 0.11m / s - 0:26 m / s, DO in the range of 4:41 - 5.78 mg / l, salinity in the range of 30,001 ppt - 34.99 ppt, COD in the range of 181 mg / l - 257 mg / l, BOD in the range of 11 mg / l - 23 mg / l and Phytoplankton revolves around the abundance of 10 ind / l - 451 ind / l. The value of the spatial distribution of heavy metals Pb 0.00013 ppm range in - 0.009 ppm.
KOMPOSISI TANGKAPAN CANTRANG DAN ASPEK BIOLOGI IKAN BELOSO (Saurida tumbill) DI PPP BAJOMULYO, JUWANA Dewi, Afina Nursa; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.983 KB)

Abstract

Perairan Kabupaten Pati memiliki potensi perikanan. Salah satu jenis ikan yang tertangkap pada alat tangkap cantrang di perairan ini dan bernilai ekonomis tinggi adalah ikan Beloso (Saurida tumbill). Dalam mengelola sumberdaya ikan Beloso yaitu mengetahui kondisi atau status sumberdaya ikan Beloso dibutuhkan data aspek biologi, karena itu diperlukan suatu kajian yang meliputi komposisi hasil tangkapan, struktur ukuran, hubungan panjang berat, panjang pertama kali tertangkap, tingkat kematangan gonad (TKG), ukuran pertama kali matang gonad, indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas dan CPUE Ikan Beloso yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bajomulyo selama penelitian. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2015 dan Januari 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey, metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan metode pengumpulan data yaitu  dengan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pola pertumbuhan Ikan Beloso bersifat allometrik negatif dengan persamaan W=0,0022L2,006. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap Ikan Beloso (L50%) adalah 330 mm. Nilai L∞ sebesar 693 mm dan 1/2 L∞ sebesar 346 mm. Persentase terbesar tingkat kematangan gonad Ikan Beloso jantan terdapat pada TKG II yaitu 35,59 % sedangkan Ikan Beloso betina persentase terbesar terdapat pada TKG IV yaitu 61,90 %. IKG  untuk jantan berkisar antara 0,071% sampai 2,558% dan betina berkisar 0,42% sampai 6,31%. Nilai r = 0,971 untuk hubungan panjang dengan fekunditas, nilai r = 0,982 untuk hubungan berat dengan fekunditas. Nilai Catch per Unit Effort (CPUE) tertinggi pada tanggal 21 Desember 2015 yaitu 967 kg/kapal dan terendah pada tanggal 22 Desember 2015 yaitu 187 kg/kapal dan cenderung mengalami fluktuasi. Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan agar ketersediaan ikan Beloso tetap terjaga yaitu mengawasi penggunaan jaring cantrang dengan ukuran (mesh size) yang sesuai dengan Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 02 Tahun 2011 bahwa ukuran mata jaring cantrang yang diperbolehkan yaitu yang berukuran lebih dari 2 inchi. Pati waters have the potential fishery. One of the high-value fish species found in these waters are Beloso fish (Surida tumbill). Belosos were caught in cantrang fishing gear and had a high economic value. Data of biological aspect is needed in order to determine the condition or status of Beloso fish resources, Therefore we need a study was to determine the long-weight relationship, condition factor, the size of the first captured, the size of the first ripe gonads, gonad maturity level (GML), gonad maturation index, fecundity and daily catch per unit effort of Beloso. The study was conducted in December 2015 and January 2016. The research collected with survey method, sample random sampling, primary and secondary data. The results obtained that Beloso fish growth pattern in negative allometric equation W = 0,0022L2,006. The average of first caught size of Beloso fish (L50%) was 330 mm. L∞ obtained by 693 mm and ½ L∞ value of 346 mm. The largest percentage of male Beloso fish level gonad maturity contained in the GML II that is 35.59 % while the percentage of female Beloso fish are most at GML IV is 61.90 %. IKG small for males ranged from 0,071% to 2,558% and females ranging from 0.42% to 1.86%. The value r = 0.947 for a long relationship with fecundity, r = 0.982 to severe ties with fecundity. The highest value of Catch per Unit Effort (CPUE) was on December 21, 2015 i.e 967 kg/vessel and the lowest was on December 22, 2015 i.e 187 kg/vessel and prone to fluctuation. Management efforts to can doing the availability of fish Beloso maintained that oversees the use of nets cantrang with size (mesh size) in accordance with Ministry of Marine and Fisheries No. 02 of 2011 that the mesh sizes permitted cantrang is larger than 2 inches.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN EKOWISATA DI DESA BEDONO KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Rohman, Fajrur; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.97 KB)

Abstract

Desa Bedono terletak di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Desa Bedono memiliki tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat yaitu Pantai Morosari, wisata religi Dusun Tambaksari dan wisata mangrove Dusun Senik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat tentang ekowisata, persepsi dan partisipasi masyarakat, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dan mengetahui hubungan antara pemahaman ekowisata, persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekowisata di Desa Bedono. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2015. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan di lapangan dan kuisioner kemudian akan diberi skor. Uji Rank Spearman digunakan untuk menganalisis data yang didapatkan. Total Responden yang digunakan adalah 50 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman tentang ekowisata 53,3% masyarakat memiliki pemahaman rendah, 65% mempunyai persepsi rendah dan 70% masyarakat mempunyai partisipasi rendah dalam menunjang kegiatan ekowisata. Faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat di Desa Bedono yaitu tingkat pendidikan, mata pencaharian dan kurangnya informasi. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan wisata bahari  di Desa Bedono yaitu tidak terjalinnya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat sekitar sehingga pengembangan wisata bahari di Desa Bedono tidak berjalan dengan maksimal. Dari hasil analisis pada masyarakat lokal terdapat korelasi positif yang nyata antara pemahaman ekowisata dengan persepsi (F= 0,043), tidak terdapat korelasi positif yang nyata antara pemahaman ekowisata dengan partisipasi (F= 0,236) dan tidak  terdapat korelasi positif yang nyata antara persepsi dan partisipasi (F= 0,543). The Bedono village is located in the Sayung Subdistrict, Demak Regency,  has tourist spot visited by community, that are Morosari Beach, religious tourism in Tambaksari Subvillage and mangrove tourism in Senik Subvillage. This research aims to know the public understanding of ecotourism, perception and public participation, factors that affect community participation and relationship between understanding of ecotourism, perception and public participation in the development of ecotourism in the Bedono Village. This research uses descriptive qualitative and quantitative methods. The research was conducted from August to September 2015. Data collection is carried out by observations in the field and a detailed questionnaire will then be given a score. Test of Rank Spearman are used to analyse the data obtained. Total Respondents used was 50 respondents. The results of this research show that the level of understanding of ecotourism 53.3% of the communities have low knowledge, 65% have a perception of low and 70% of the community have low participation in support of ecotourism. Factors that affect the level of community participation in the Bedono Village are level of education, livelihoods and  lack of information. The main barriers faced in the development of marine tourism in the Bedono Village is lack of good cooperation between the Government and local communities so that development of marine tourism in the Bedono Village does not maximum run well. From the analysis results on the local community, there is a positive correlation between the real understanding of ecotourism with perception (F=0.043), there is no positive correlation between the real understanding of ecotourism with participation (F=0.236) and there is no positive correlation between perception and participation (F=0.543).
HUBUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DENGAN KLOROFIL-A DI MUARA SUNGAI WULAN KABUPATEN DEMAK Prihatin, Meina Siska; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.981 KB)

Abstract

Muara Sungai Wulan merupakan aliran sungai yang banyak dimanfaatkan untuk aktivitas manusia seperti tempat pemukiman penduduk, budidaya perikanan, hutan mangrove, serta jalur transportasi kapal nelayan sehingga mempengaruhi kesuburan perairan, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kandungan Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan  Nitrat, Fosfat, dan Klorofil-a dan  hubungan Nitrat dan Fosfat dengan Klorofil-a. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2015 di Muara Sungai Wulan Demak, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang berbeda. Parameter utama dalam penelitian ini adalah Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Parameter pendukung dalam penelitian ini adalah kelimpahan fitoplankton, pengukuran kecepatan arus, pH, temperatur, DO, salinitas, kedalaman, dan kecerahan. Hasil penelitian kandungan nitrat pada keempat stasiun berkisar antara 1,53 – 1,70 mg/l, kandungan Fosfat berkisar antara 0,15 - 0,32 mg/l, dan kandungan Klorofil-a berkisar antara 0,039 - 0,058 µg/l.  Hubungan antara Nitrat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,904, hubungan antara Fosfat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,760 menunjukkan bahwa hubungan variabel tersebut sama-sama kuat. Estuary is a river that is widely used for human activities such as a place of settlement, aquaculture, mangrove forests, as well as fishing boat transportation thus affecting the fertility of the waters, directly or indirectly will influence the content of nitrates, phosphates and chlorophyll-a. The purpose of this research is to know the content of nitrates, phosphates, and chlorophyll-a and Nitrate and Phosphate with Chlorophyll-a. This research was carried out in September 2015 at Estuary Wulan Demak, Central Java. Sampling was conducted at four different stations. The main parameter in this research are Nitrates, Phosphates and Chlorophyll-a. Supporting parameters in this study is the abundance of phytoplankton, the measurement of the speed of the flow, pH, temperature, salinity, depth, D.O, and brightness. The research content of nitrates in the four stations ranged from 1.53 – 1.70 mg/l Phosphate content, ranging between 0.15-0.32 mg/l, and chlorophyll-a range between 0.039-0.058 µ g/l. Relationship between Nitrate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.904, the relationship between Phosphate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.760 shows that the relationship of these variables are equally strong.
HUBUNGAN SALINITAS TERHADAP PERKEMBANGAN TELUR CEPHALOPODA YANG DIDAPAT PADA PERAIRAN PANTAI BONDO KABUPATEN JEPARA Samudra, Noky Rizky; Hartoko, Agus; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.974 KB)

Abstract

Cephalopoda merupakan sumberdaya perikanan yang bernilai ekonomis penting. Sebagian besar produksi Cephalopoda di Indonesia berasal dari tangkapan di alam. Kegiatan penangkapan sudah saatnya disertai dengan upaya pengaturan penangkapan dan kegiatan budidaya yang meliputi upaya pemijahan (hatchery) dan pelepasan benih ke alam (restocking). Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh dan hubungan parameter oseanografi salinitas untuk pertumbuhan dan perkembangan, kecepatan penetasan, waktu penetasan kapsul telur dan embrio Cephalopoda serta perkembangannya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan pertama (A) dengan salinitas 20 ppt, perlakuan kedua (B) dengan salinitas 25 ppt, perlakuan ketiga (C) dengan salinitas 30 ppt. Penelitian ini juga melakukan 1 pengukuran pada habitat alami untuk dijadikan perbandingannya. Variabel yang di ukur adalah panjang lebar kapsul telur, panjang lebar telur kemudian di hitung nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR). Variabel yang diamati dan dicatat adalah lama inkubasi, periode penetasan, dan perkembangan embrio. Data hasil penelitian diuji kenormalan datanya dan diolah  menggunakan analisis sidik ragam, sedangkan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan di uji menggunakan uji-F dengan bantuan SPSS dan untuk mengetahui pola hubungannya dilakukan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukan perlakuan salinitas dan suhu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap  pertumbuhan panjang dan lebar kapsul serta panjang dan lebar telur Sepioteuthis lessoniana dan Sepia officinalis dibuktikan dengan hasil perhitungan melalui uji anova untuk nilai F-hitung>F-tabel. Lama inkubasi pada Sepioteuthis lessoniana tercepat yaitu 18 hari dengan waktu penetasan selama 3 hari pada salinitas 30 ppt dengan suhu 29-30 oC dan 31 ppt dengan suhu 28-30,5o C, sedangkan untuk Sepia officinalis lama inkubasi tercepat adalah 15 hari dengan waktu penetasan 2 hari pada salinitas 30 ppt dengan suhu 29-30o C dan 31 ppt dengan suhu 28-30,5o C. Semakin tingi salinitas maka semakin cepat perkembangan dan pertumbuhaan, lama inkubasi dan periode penetasan kapsul telur dan telur selama masa inkubasi. The fishery resource is cephalopoda value economically important. Most of the production of cephalopoda in Indonesia originating from catches in nature. Activities catching it time accompanied by the effort of setting arrest of aquaculture activities and covering the efforts of spawning (hatchery) and release the seed to nature (restocking). This research aims to know us salinity that are appropriate for the developmental growth, speed hatching, egg capsules and hatching period of embryonic development and cephalopoda. Research methods used are experimental laboratories.The research methods used are experimental laboratories by using a complete Randomized Design (RAL), which consists of 3 treatment with three replicates. The first treatment (A) with a salinity of 20 ppt, the second (B) treatment with a salinity of 25 ppt, a third treatments (C) with a salinity of 30 ppt. The study also do 1 measurement on the natural habitat for the comparison. The research variable are the length of the egg capsule, the length of egg and calculate the value of the specific growth rate (SGR). The observed variables period of incubation, hatching time, and the period of embryonic development. Data research results was normally of test and analysis using fingerprints, are to know the differences between the treatments tested using test-F using SPSS and to know the pattern of relationship done regression analysis. The research results show the temperature and salinity treatment give very significant influence toward growth capsule length and width as well as length and width egg Sepioteuthis lesoniana and Sepia officinalis, This is proved by the result of the anova calculation for the value of the F-count > F-table. Sepioteuthis lessoniana long incubation on fastest 18 days with a period of hatching for 3 days at a salinity of 30 ppt with a temperature of 29-30° C and 31 ppt with a temperature of 28 -30, 5o C, sepia officinalis medium for long ikubasi the fastest is 15 days with a period of 2 days of hatching on the salinity of 30 ppt with a temperature of 29-30° C and 31 ppt with a temperature of 28 -30,5o C. Higher salinity support faster development and growth, lenght incubation period hatching eggs and egg capsules during the incubation period.
KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN LARVA DAN JUVENIL IKAN DI SEKITAR MUARA SUNGAI TULUNG DEMAK Revika, -; Purnomo, Pujiono Wahyu; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.842 KB)

Abstract

Fluktuasi kondisi lingkungan hidup yang cukup tinggi di daerah estuari menyebabkan beberapa spesies yang mampu bertahan. Salah satu karakteristik daerah estuari adalah sebagai tempat berkumpulnya bahan organik sehingga daerah ini banyak ditempati oleh mikroorganisme. Komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kandungan klorofil-α di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kandungan klorofil-α di sekitar muara sungai dengan komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 – Januari 2015 di muara Sungai Tulung, Demak. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik survey lapangan. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan di sekitar muara sungai. Lokasi penelitian dibagi dalam 3 stasiun, stasiun 1 terletak di daerah terluar sungai ke arah laut bagian utara dan selatan, stasiun 2 terletak di dekat pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Tulung dan Sungai Sier, stasiun 3 terletak dekat dengan daratan dan permukiman warga. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Regresi dan Korelasi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa komposisi larva dan juvenil ikan sebanyak 7 famili dengan kelimpahan individu sebesar 266 ind/100 m3, antara lain Gobiidae (64,42%), Ambassidae (28,99%), Cynoglossidae (0,65%), Siluridae (4,57%), Eleotridae (0,40%), Labridae (0,34%) dan Engraulidae (0,65%). Kelimpahan larva dan juvenil ikan didominasi oleh famili Gobiidae. Nilai klorofil-α di stasiun 1, 2 dan 3 adalah 0,124 mg/m3; 0,233 mg/m3 dan 0,237 mg/m3 tergolong kategori rendah. Terdapat hubungan yang cukup erat antara kelimpahan larva dan juvenil ikan dengan klorofil-α. High fluctuation of environment condition in estuary cause the some species can hold out. One of characteristic  from estuary is place of association organic materials, it cause this area many placed by microorganism. Composition and abundance fish of larvae and juvenile affected by some factors, which one is content of chlorophyll-α in the water. The aim of this research is to know relationship between content of chlorophyll-α in around estuary with compositon and abundance fish of larvae and juvenile. This research was conducted in November 2014 – January 2015 at estuary of Tulung River, Demak. The  method used in this research is descriptive with field survey technique. This method was used to describe compositon and abundance fish of larvae and juvenile in estuary. Location of study were divided into three stations, station 1st is located in the outer area of the river toward the sea to the north and south, station 2nd is located near the confluence of two streams, Tulung River dan Sier River, station 3rd is located close to the mainland and residency. Analysis of the data used in this research is Regretion and Correlation Test. Based on the result of research showed that composition of larvae and juvenile are 7 families with abundance of individual amounted to 266 ind/100 m3, included from Gobiidae (64,42%), Ambassidae (28,99%), Cynoglossidae (0,65%), Siluridae (4,57%), Eleotridae (0,40%), Labridae (0,34%) and Engraulidae (0,65%). Abundance fish of larvae and juvenile dominated by the family Gobiidae. Value chlorophyll-α at station 1st, 2nd and 3rd is 0,124 mg/m3; 0,233 mg/m3 and 0,237 mg/m3 relatively low category.There is fairly close relationship between abundance fish of larvae and juvenile with content of chlorophyll-α.
ANALISA KERENTANAN PANTAI DAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN PENDEKATAN SIG DI PANTAI KABUPATEN PURWOREJO Biantara, Bagus; Hartoko, Agus; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.703 KB)

Abstract

Pantai di Kabupaten Purworejo memiliki potensi sumberdaya perikanan cukup besar, seperti udang Vanamei dan ikan Sidat. Pantai – pantai ini berkarakteristik berpasir hitam dan bergelombang tinggi. Hal tersebut menjadikan pantai Kabupaten Purworejo memiliki kerentanan yang tinggi terhadap hidrodinamika laut selatan Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai indeks kerentanan pantai, dan kerentana sumberdaya perikanan berupa nilai ekonomis dan keanekaragaman jenis sumberdaya perikanan (ikan Sidat dan udang Vannamei) di pantai Kabupaten Purworejo. Penelitian ini dilakukan pada 2 Februari hingga 28 Oktober 2015 mengggunakan metode analisa kerentanan CVI (CoastalVulnerability Indeks) dan dimodifikasi sesuai dengan lokasi dan objek penelitian. Metode pengambilan data dilakukan pada lokasi pengamatan berjumlah 10 buah titik. Variabel kerentanan pantai yang diamati yaitu geomorfologi, akresi/abrasi, kemiringan pantai, tinggi pasang maksimal, dan tinggi gelombang maksimal. Data yang diperoleh selanjutnya dikaitkan dengan informasi tentang ikan Sidat dan udang Vannamei. Sistem Informasi Geografi digunakan dalam penelitian ini untuk mengobservasi, menganalisa dan mengolah citra untuk mengetahui terjadi abrasi atau akresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pantai Kabupaten Purworejo memiliki nilai CVI dalam kategori tinggi dengan nilai tertinggi 4,7 dan terendah 4,3, dimana variabel dengan bobot yang berpengaruh terbesar adalah variabel tinggi gelombang maksimal. Kerentanan sumberdaya perikanan akibat kerusakan pantai dan muara dapat menyebabkan hilangnya ikan Sidat Anguilla bicolor dengan nilai estimasi produksi elver grade B mencapai Rp. 35.000.000/tahun dan budidaya udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan estimasi nilai ekonomi Rp. 315.000.000 /panen/tambak. The Purworejo coastal district has a high potential of fisheries resources, such as Vannamei shrimp culture and Eel. The coastal area characterized by black sand and high sea-waves, that makes it vulnerable as hydrodynamics of the southern Indonesia coast. The study aims to determine the value of coastal vulnerability index and to know the economic value and species diversity of fishery resources at the Purworejo district coastal area. The research was conducted on 2nd February until 28thOctober 2015 using the CVI (Coastal Vulnerability Index) methods that be modified in accordance to the location and research objects. Data were collected at the observation’s sites amounts to 10 spots. The variables of coastal vulnerability are geomorphology, accretion / abrasion, slope of the beach, maximum high tide, and maximum wave height. Data obtained then analyzed with the information of Eel and Vannamei shrimp. Geographic Information System used in the research to observe, analyze and to process the image from the satellite in order to determine the abrasion or accretion. The research shows that the Purworejo district coast has CVI value in high category with the highest value of 4.7 and the lowest value of 4.3; in wich the most influenced variable with the highest wight from other variables is maximum high wave variable. Vulnerability of fisheries resources because of coastal and estuary distruction could vanishing the eel of Anguilla bicolor with estimated production value of Elver in B grade is 35.000.000 IDR/ year and cultivated shrimp of Litopenaeus vannamei with estimated economic value of 315.000.000/harvest / pond.
KARAKTERISTIK ABRASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT DI PESISIR SEMARANG BARAT Fajrin, Fadhilah Maharani; Muskananfola, Max Rudolf; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.384 KB)

Abstract

Masalah abrasi pantai yang terjadi di beberapa wilayah di pesisir utara Pulau Jawa, penanggulangan yang tepat sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi akibat abrasi pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik abrasi dan pengaruh terhadap masyarakat di pesisir  Semarang Barat. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara kepada masyarakat Mangkang Wetan. Data hidrooseanografi  yaitu gelombang, arus dan pasang surut Badan Meteorologi Klimatologi (BMKG) Kota Semarang. Perubahan garis pantai menggunakan metode RGB (Red Green Blue) dan menggunakan Citra Landsat TM tahun 2013, 2014 dan 2015 menggunakan aplikasi er mapper. Masyarakat Mangkang Wetan bekerja berbagai macam profesi seperti nelayan, petambak, buruh pabrik dan lain sebagainya. Karakteristik abrasi yang terjadi di pesisir menghasilkan perubahan luas area, serta perubahan pada beberapa ekosistem yang ada disekitarnya. masyarakat juga menerima dampak abrasi tersebut yaitu pendapatan menurun, tempat tinggal tergenang oleh air laut dan mempengaruhi kondisi sosial yang ada disekitar. Analisa menggunakan citra Landsat dan er mapper menunjukkan hasil perubahan garis pantai. Nilai dari beberapa hidrooseanografi seperti gelombang, arus dan pasang surut pun berbeda tiap tahunnya karena selalu mengikuti peralihan musim barat dan musim timur. Tingkat pengetahuan masyarakat sangat mempengaruhi seberapa besar partisipasi masyarakat dalam menanggulangi masalah abrasi pantai yang terjadi. Abration occurs in some Java North coastal, appropriate countermeasures are needed by communities to overcome environmental problems caused by coastal abration. This study was aimed to investigate the characteristics of abrasion and the impact to coastal communities in West Semarang. Data were collected through interviews to the community in Mangkang Wetan. Data collected were hydrooceanography such as waves, currents and tides from Agency for Meteorology Station (BMKG) Semarang. Shoreline change was measured using RGB (Red Green Blue) and using of Landsat TM 2013, 2014 and 2015 er mapper application. MangkangWetan community work in a variety of professions such as fishermen, farmers, factory workers and others. Abration in coastal made a change of shoreline, areas, and some ecosystems of the environmental. People also accepted the abration impact. The impact to people was low income, to residential was submerged by sea water, and influence social condition. Analysis using Landsat imagery and er mapper showed the results of shoreline change. Values of some hydrooceanography such as waves, currents and tides were different. The level of public knowledge influenced the public participation in preventing coastal abration.
STRUKTUR KOMUNITAS DIATOM DI PERAIRAN TANDON AIR UNTUK TAMBAK GARAM DI DESA KEDUNG MUTIH KECAMATAN WEDUNG, DEMAK Fitriyah, Yaya; Sulardiono, Bambang; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.903 KB)

Abstract

Tambak garam merupakan perairan payau yang rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Diatom merupakan fitoplankton yang termasuk dalam kelas Bacilariophyceae. Keberadaan diatom dapat dijadikan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas diatom dan perbedaan salinitas air pada saat pasang dan surut di Tambak Garam Desa Kedung Mutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Teknik pengambilan diatom dalam penelitian ini menggunakan purposive. Pengambilan sampel diatom dilaksanakan dengan menggunakan metode sampling pasif dengan plankton net. Sampel diatom diambil dari lokasi penelitian dengan cara menyaring air menggunakan plankton net. Jenis diatom (Bacillariophyceae) yang ditemukan pada areal perairan tambak garam Kedung Mutih Wedung Demak selama pengamatan adalah 9 genera yaitu Thallassiosira, Bacteriastrum, Nitzschia, Chaetoceros, Rhizosolenia, Gyrosigma, Skeletonema, Asterionella dan Pleurosigma. Dari  nilai indeks  keanekaragaman,  keseragaman dan dominansi  secara umum bahwa areal perairan tambak garam Kedung Mutih Wedung Demak dapat dikatagorikan perairan yang stabil moderat. Jenis diatom yang paling sering muncul di areal perairan tambak garam Kedung Mutih Wedung Demak adalah genus Nitzschia. Salinitas pada areal perairan tambak garam Kedung Mutih Wedung Demak berkisar 30 – 45  0/00. Brackish waters of the salt ponds are susceptible to changing environmental conditions. Diatoms are phytoplankton which belongs to a class Bacilariophyceae. The existence of diatoms can be used as an indicator of water quality because of the nature of his relatively sedentary, a relatively long lifespan and have a specific tolerance in the environment. The purpose of this study are to determine the structure of the diatom communities and the differences in salinity water at high tide and low tide in saltwater Kedung Mutih, Wedung, Demak. Sampling method of diatom conducted using purposive sampling in which diatom were taken from the study site by filtering the water using a plankton net in a passive way. Types of diatoms (Bacillariophyceae) were found in the area of the salt pond waters Kedung Mutih Wedung Demak during observation is 9 genera that Thallassiosira sp, Bacteriastrum sp, Nitzschia sp, Chaetoceros sp, Rhizosolenia sp, Gyrosigma sp, Skeletonema sp, Asterionella sp, and Pleurosigma sp. The value of diversity index, uniformity and dominance in general that the area of the salt pond waters Kedung Mutih Wedung Demak can be categorized waters stable moderate. Types of diatoms that appears most frequently in the area of the salt pond waters Kedung Mutih Wedung Demak is the genus Nitzschia sp. Salinity in the area of the salt pond waters Kedung Mutih Wedung Demak range 30-45 0/00.

Page 1 of 1 | Total Record : 9