cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 2 (2023)" : 6 Documents clear
DARI PETUGAS PERTANAHAN MENJADI KEPALA PEMERINTAHAN: KONTROLIR DI HINDIA BELANDA ABAD XIX Juwono, Harto
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.65699

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengungkapkan bagaimana proses keberadaan dan perkembangan suatu jabatan dalam struktur birokrasi kolonial yaitu kontrolir. Periode yang diambil adalah selama abad XIX karena pada masa ini dinamika yang menarik terjadi pada jabatan ini, baik secara fungsional maupun structural. Keunikan yang dialami oleh kontrolir adalah sebagai satu-satunya pejabat yang mengalami pergeseran dari jabatan fungsional pada bidang kegiatan tertentu menjadi terintegrasi dalam struktur birokrasi dan akhirnya menjadi pemegang peran utama dalam menentukan pilar kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Metode yang digunakan untuk merekontruksi tulisan ini adalah metode sejarah yang diawali dari penelusuran data hingga penyusunan laporan akhir. Data yang dijadikan sebagai sumber informasi bagi tulusan ini adalah sumber primer, khususnya terdiri atas laporan langsung dari pejabat yang berwenang dan peraturasn-peraturan resmi yang relevan bagi jabatan kontrolir, sementara referensi lain diambil dari para penulis yang terkait atau pengamat di bidangnya. Dengan memahami posisi kontrolir ini, diharapkan pemahaman pada konteks sejarah politik dan pemerintahan khususnya yang menyangkut era kolonial bisa lebih dipermudah, terutama menyangkutn flunktuasi peristiwa politik yang berlangsung selama itu.Keywords: Kontrolir, kolonial, pemerintahan, perubahan fungsi kontrolir. 
NASIONALISME INDONESIA DALAM PERUBAHAN MASA REFORMASI DAN TANTANGAN GLOBALISASI Widiyanta, Danar; Miftahuddin, Miftahuddin
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.65836

Abstract

Nasionalisme Indonesia masa kini sedang mengalami degradasi dengan meningkatnya konflik-konflik antar etnik, antaragama, dan fenomena disintegrasi bangsa lainnya. Ketahanan integrasi bangsa sedang diuji kehandalannya karena kelalaian sejarah. Masa orde lama, orde baru telah keliru merasionalkan persatuan secara empiris. Pemerintah tidak memberi kesempatan masing-masing kelompok  etnik untuk mengekspresikan keleluasaannya dalam persatuan bangsa. Metode Penelitian yang digunakan adalah Metode sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Kesimpulan yang didapat bahwa nasionalisme Indonesia yang berkembang sejak masa kolonial sampai sekarang telah mengalami beberapa tahap perubahan. Dari nasionalisme anti penjajahan pada masa kolonial, menjadi nasionalisme yang nation oriented pada masa orde lama, berubah pada nasionalisme dengan  state oriented di masa orde baru. Di masa reformasi dan Era Global beberapa nilai Barat yang hendak dikembangkan ternyata tidak mendapat dukungan yang kokoh dari struktur sosial, ekonomi maupun politik.  Di sisi lain banyak hal contoh dan kasus yang menunjukkan situasi ekonomi, sosial, dan politik tidak dapat disimpulkan sepenuhnya bersandar pada nilai asli domistik yang ada.Kata Kunci : Nasionalisme, Indonesia, reformasi, globalisasi
PENGALIHAN TANAH PUSAKO TINGGI SELAMA PEMBANGUNAN REL KERETA DI NAGARI TALUAK IV SUKU ABAD KE-19 Pratama, Fikri Surya
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.67678

Abstract

Tanah pusako tinggi adalah harta asal yang dimiliki dan dikelola oleh kaum di Minangkabau. Tanah ini tidak boleh diperjualbelikan dan hanya boleh digadaikan dengan alasan yang disepakati ninik mamak kaum. Pada masa pemerintahan kolonial, perubahan mulai terjadi dengan banyaknya tanah pusako tinggi yang dibeli oleh pemerintahan kolonial untuk keperluan pembangunan rel kereta api, seperti yang terjadi pada tanah pusako tinggi masyarakat Nagari Taluak IV Suku. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan strategi pengalihan tanah pusako tinggi oleh kolonialis Hindia Belanda di Nagari Taluak IV Suku dalam pembangunan rel kereta api Sumatera Tengah – Pantai Barat Sumatera, serta dampaknya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode penelitian sejarah, dengan langkahnya: 1) heuristik, berupa sumber pustaka yakni laporan kolonial, arsip kolonial, foto, koran-koran lama, buku dan artikel jurnal yang membahas tema pengalihan kepemilikan tanah pusako tinggi; 2) kemudian kritik sumber; 3) interpretasi atau analisis data menggunakan metode interaktif, dimana proses selektif dan analisis data sudah dilakukan sejak pengumpulan sumber data penelitian; 4) terakhir historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalihan tanah pusako tinggi oleh kolonialis Hindia Belanda dilakukan dengan jual beli dan ganti rugi. Ganti rugi terhadap tanah pusako tinggi di Nagari Taluak IV Suku ini merupakan ganti rugi dengan biaya terbesar kedua pada pembangunan proyek rel kereta api tersebut. Pengalihan tanah pusako tinggi menjadi rel kereta api membawa perubahan besar dengan masuknya ide-ide modernisasi pada masyarakat Minangkabau, mulai dari pakaian, tempat tinggal, transportasi, keragaman demografi, dan lain sebagainya. Di sisi lain, kekuatan adat masyarakat tradisional dalam kepemilikan pusako tinggi mulai melemah.Kata kunci: Strategi, Hindia Belanda, Kereta Api, Pusako Tinggi, Pantai Barat Sumatera.
POTRET SIMBOL EKOLOGI KOTA MANGKUNEGARAN 1870-1939 Susanto, Susanto; Dadtun, Yusana Sasanti; Sutirta, Tundjung W.; Supariadi, Supariadi
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.63687

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan simbol ekologi yang ada di wilayah Kota Mangkunegaran Surakarta Jawa Tengah pada periode 1870-1939. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah sebagaimana yang ditulis oleh Gilbert J. Garraghan. Metode ini meliputi empat langkah yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Pada langkah heuristik digunakan beberapa sumber tertulis seperti naskah Jawa dan lembaran kerajaan atau Rijksblad van Mangkoenagaran koleksi Perpustakaan Reksopustoko serta arsip kolonial baik algemeene verslag maupun memorie van overgave dalam Bundel Solo koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Mangkunegaran sebagai wilayah milik istana Mangkunegaran yang berada di Surakarta mempunyai simbol ekologi yang sangat berbeda dengan wilayah istana Kesunanan Surakarta. Jika wilayah Kesunanan sangat didominasi simbol tradisi Jawa, sebaliknya Kota Mangkunegaran sangat didominasi oleh pengaruh budaya Eropa. Pengaruh budaya ini telah berlangsung cukup lama beberapa tahun setelah Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757. Secara simbolis pengaruh Eropa di Kota Mangkunegaran dapat dilihat pada eksistensi Legiun Mangkoenagaran yang didirikan oleh Daendels pada 1808, penggunaan pakaian Eropa, bentuk Arsitektur Istana, taman, pemukiman Eropa di Villapark, gaya hidup, serta nama kampung seperti Kestalan, Setabelan dan Jageran. Penentu segala simbol ekologi Kota Mangkunegaran adalah figur penguasa istana yang bergelar Pangeran Adipati Aryo Mangunegara.Kata Kunci: Kota Mangkunegaran, Simbol Ekologi, Surakarta.
KEHIDUPAN SOSIAL BABOE DI BATAVIA TAHUN 1900-1942 krismuti, clara aprillita; Darini, Ririn; Dewi, Ita Mutiara
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.70722

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kehidupan sosial baboe di Batavia pada tahun 1900-1942 yang merupakan abad terakhir kekuasaan Belanda atas Hindia Belanda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mengetahui kemunculan profesi baboe di Batavia pada tahun 1900-1942, (2) Memberikan kajian lebih mengenai baboe sebagai bagian dari kaum marjinal di Batavia tahun 1900-1942, dan (3) Mengetahui relasi sosial babu dan majikannya di Batavia pada tahun 1900-1942. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Baboe memang bukan sebuah profesi baru, namun baboe muncul karena adanya kebutuhan sebagai seorang ibu dan mbak ditengah keluarga Eropa di Batavia, (2) Baboe sebagai bagian dari kaum marjinal menerima banyak pembatasan yang muncul karena adanya buku-buku pedoman sebagai acuan tugas dan batas-batas terhadap gerak baboe, (3) Keberadaan baboe memberikan dampak relasi sosial dan ingatan kolektif yang mampu memberikan sudut pandang lain dalam membaca keberadaan baboe dalam kajian sejarah sosial dan sejarah perempuan.Kata kunci: Baboe, Kehidupan sosial, Batavia, kolonial.
PENDIRIAN TECHNISCHE HOOGESCHOOL TE BANDOENG: SEKOLAH TINGGI TEKNIK UNTUK HINDIA BELANDA Fadlurrahman, Muhammad Gibran Humam
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.64737

Abstract

Artikel ini membahas sejarah Technische Hoogeshool te Bandoeng (THB) yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai sekolah tinggi teknik pertama yang didirikan dalam kepentingan Politik Etis sekaligus pembangunan pada masa kolonial Hindia Belanda. THB menjadi awal sekolah tinggi yang didirikan dalam cita-cita pendirian universitas di masa Hindia Belanda yang telah diimpikan sejak 1910-an dalam semangat Politik Etis. Selain sebagai sekolah tinggi teknik pertama di Hindia Belanda, THB juga dikenal akan pendidikannya yang mencetak para insinyur dengan penyesuaian sistem kurikulum dari Technische Hoogeschool te Delft, dan salah satu alumni terkenalnya adalah Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah pendirian Technische Hoogeshool te Bandoeng (THB) sebagai sekolah tinggi teknik pertama untuk Hindia Belanda berserta menelusuri awal tahun pendidikannya dan Presiden Sukarno sebagai mahasiswa THB. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi, sehingga dapat menjelaskan proses sejarah pendirian THB dalam kepentingan Politik Etis dan kolonialisme Hindia Belanda hingga tahun pertama pendidikannya dan pengalaman Presiden Sukarno sebagai mahasiwa THB.Kata kunci: Technische Hoogeshool te Bandoeng; Sekolah Tinggi Teknik; Pendidikan Kolonial; Hindia Belanda.

Page 1 of 1 | Total Record : 6