Jurnal EMPATI
Jurnal EMPATI is a scientific publication media that will be published six times a year in February, April, June, August, October, and December. Jurnal EMPATI is a scientific publication that accommodates scientific articles and empirical studies in Clinical Psychology, Developmental Psychology, Industrial & Organizational Psychology, Educational Psychology, Social Psychology, Psychometry, Experimental Psychology, and Applied Psychology.
Articles
1,376 Documents
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN INTENSITAS MENGAKSES SITUS PORNOGRAFI PADA SISWA KELAS XI SMA HASYIM ASY’ARI PEKALONGAN
Aprilia Puspitasari;
Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (596.756 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2018.23431
Usia remaja adalah fase yang penting dalam rentang perkembangan manusia. Pada fase tersebut seseorang mengalami dorongan seksual yang semakin meningkat. Seseorang dapat dengan mudah mencari dan memenuhi dorongan seksualnya melalui situs-situs pornografi yang beredar di internet. Pengetahuan kagamaan yang baik dapat mengurangi dampak negatif kecanduan akan situs pornografi yang beredar secara bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris hubungan antara religiusitas dengan intensitas mengakses situs pornografi pada remaja. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan negatif antara religiusitas dengan intensitas mengakses situs pornografi pada remaja. Subjek penelitian ini adalah 97 siswa yang berusia remaja yang bersekolah di SMA Hasyim Asy’ari Kota Pekalongan. Sampel diambil menggunakan teknik cluster random sampling yaitu dengan menggunakan teknik acak terhadap kelompok karena populasi yang berbentuk kelas-kelas. Pengumpulan data menggunakan dua skala likert yaitu Skala Religiusitas (36 aitem α = 0,901) dan Skala Intensitas Mengakses Situs Pornografi (15 aitem α = 0,897). Hasil analisis data dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana memungkinkan adanya hubungan negatif antara religiusitas dengan intensitas mengakses situs pornografi pada remaja ( r = -0,585, p = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas yang dimiliki individu berusia remaja maka semakin rendah intensitas dalam mengakses situs pornografi, dan sebaliknya, semakin rendah tingkat religiusitas individu berusia remaja maka semakin tinggi pula intensitas dalam mengakses situs pornografi. Religiusitas memberikan sumbangan sebesar 34,2% terhadap intensitas mengakses situs pornografi pada siswa kelas XI SMA Hasyim Asy’ari Pekalongan.
PENGALAMAN BERIDEOLOGI AKTIVIS GERAKAN MASSA: STUDI KUALITATIF DENGAN INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS
Rini Nurafiah;
Yohanis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (52.281 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.13668
Penelitian ini menggambarkan pengalaman aktivis gerakan massa dalammemilih ideologi, menginternalisasi nilai-nilai ideologis, serta memperjuangkan ideologi yang diyakininya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitan ini adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Metode ini dipilih dengan pertimbangan bahwa IPA merupakan metode sistematis yang berfokus pada pengalaman, peristiwa khusus, dan keadaan yang dialami subjek. Perjalanan berideologi merupakan serangkaian pengalaman yang terdiri dari berbagai fase sebagai berikut: (1) Memilih Ideologi; (2) Internalisasi nilai-nilai ideologis; (3) Komitmen menegakan ideologi. Penelitian ini menemukan bahwa akar perjalanan berideologi berawal dari pertanyaan mendasar mengenai kehidupan dan sistem sosial. Adanya kecocokan dengan konsep yang diusung oleh ideologi tertentu mendorong aktivis untuk mengikatkan diri pada ideologi tersebut. Adanya internalisasi nilai-nilai ideologis membuat subjek berkomitmen memperjuangkan dan mempertahankan ideologinya.
HUBUNGAN ANTARA IKLIMORGANISASI DENGAN PERILAKU INOVATIF PADA KARYAWAN PT. PLN PERSERO DISTRIBUSI JAWA BARAT APJ BOGOR
Muhammad El Manurwan;
Dian Ratna Sawitri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 (Juli 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.941 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2017.19765
Inovasi tiada henti diperlukan untuk mengarahkan perusahaan ke arah yang lebih baik terutama dalam bidang pemanfaatan energi dan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara iklim organisasi dengan perilaku inovatif pada karyawan PT. PLN Persero Distribusi Jawa Barat APJ Bogor. Perilaku inovatif adalah perilaku anggota organisasi untuk menciptakan, mengolah, dan mengimplementasikan ide-ide baru, termasuk di dalamnya adalah produk, teknologi, prosedur, dan proses kerja yang bertujuan untuk meningkatkan keefektifitasan kinerja anggota organisasi dan memberikan keuntungan bagi organisasi.Sampel pada penelitian ini adalah 56 karyawan PT. PLN Persero Distribusi Jawa Barat APJ Bogor. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik non- probability convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Iklim Organisasi (36 aitem, α = .93) dan Skala Perilaku Inovatif (32 aitem, α = .926). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara iklim organisasi dan perilaku inovatif (rxy= .58; p < .001), artinya semakin positif iklim organisasi pada perusahaan maka semakin tinggi perilaku inovatif yang diperlihatkan karyawan. Iklim organisasi memberikan sumbangan efektif sebesar 33.6% terhadap perilaku inovatif.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA GAY UNTUK MENIKAH DENGAN LAWAN JENIS
Rani Karina Sakanti;
Achmad Mujab Masykur
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 (Januari 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.635 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2014.7491
Pernikahan adalah impian setiap manusia normal. Selain merupakan tugas perkembangan yang harus dilalui pada masa dewasa awal, pernikahan juga untuk status sosial di masyarakat. Gay yang tidak menikah secara biologis tidak akan mempunyai anak dan akan mempengaruhi kehidupan nya sedangkan Gay yang memutuskan untuk menikah membutuhan berbagai macam persiapan mental maupun psikologisnya. Pengambilan keputusan adalah proses mempertimbangkan beberapa kemungkinan dan prioritas yang menghasilkan dari satu pilihan atas beberapa pilihan yang lain. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui makna pernikahan pada gay dan mengetahui dinamika psikologis pada gay untuk menikah atau tidak menikah.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Subjek berjumlah tiga orang gay yang memasuki usia dewasa awal yang sudah menikah dan belum menikah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan metode eksplikasi data.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa subjek memaknai pernikahan dengan cara berbeda-beda, seperti pernikahan merupakan ajang pembohongan publik, pernikahan merupakan salah satu cara untuk membangun masa depan, pernikahan adalah suatu cara untuk menutupi statusnya seorang gay.
PENGALAMAN PROSES MENUJU RESILIENSI PADA TERPIDANA KASUS NARKOTIKA
Endari Lugina Utami;
Achmad Mujab Masykur
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 (Oktober 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (182.246 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2019.26524
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman proses menuju resiliensi pada terpidana kasus narkotika. Karakteristik partisipan dalam penelitian ini adalah tiga orang warga binaan yang menjadi terpidana kasus narkotika. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dalam pengambilan data. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Prosedur IPA bertitik fokus pada pengalaman partisipan melalui kehidupan pribadinya. Eksplorasi yang dilakukan partisipan menghasilkan makna dalam peristiwa yang dirasa unik. Hasil penelitian ini menggambarkan kemampuan ketiga partisipan untuk resilien dalam menghadapi stressor proses pemenjaraan yang dihadapinya. Adanya dorongan dari keluarga, dari dalam diri, dan dukungan lingkungannya memberikan pengaruh positif bagi partisipan untuk memunculkan resiliensi. Faktor internal dan eksternal yang membantu partisipan untuk resilien sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan tekanan yang dihadapinya, serta tetap berharap dan berusaha tidak putus asa meski harus merasakan hukuman kurungan penjara.
MAKNA KLIWONAN BAGI TOKOH MASYARAKAT DI BATANG: (Studi Kualitatif Dengan Interpretative Phenomenological Analysis)
Achmad Furqon;
Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.066 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15218
Penelitian ini bermaksud untuk melihat pengalaman subjek dalam menjalankan tradisi Kliwonan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memahami makna tradisi Kliwonan menurut para tokoh masyarakat di Batang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Metode tersebut berfokus pada pengalaman yang diperoleh subjek melalui kehidupan pribadi dan sosialnya. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yakni tokoh masyarakat di Batang yang terdiri dari kepala Disbudpar, sesepuh adat dan ketua takmir Masjid Agung. Subjek dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam pengalamannya mengikuti tradisi Kliwonan terdapat tiga hal pokok yaitu: perjalanan melakukan tradisi Kliwonan, pemahaman nilai tradisi, dan konsekuensi positif pasca melakukan tradisi Kliwonan. Keputusan melakukan ritual didorong oleh keinginan dari dalam dirinya dan dukungan dari keluarga. Ritual ini bertujuan untuk tolak balak, mempercepat jodoh dan mendapatkan keberkahan. Subjek melihat adanya perubahan tata cara yang terjadi pada proses ritual antara dahulu dengan yang sekarang, dahulu orang datang selalu melakukan ritual namun sekarang orang yang datang hanya sekedar belanja di pasar malam karena Alun-alun sebagai tempat ritual telah betransformasi menjadi pasar malam. Ritual ini bagi subjek bermakna sebagai penghormatan kepada leluhur dan pengingat supaya lebih mendekatkan diri kepada Yang Kuasa, oleh karenanya subjek tetap berupaya untuk melestarikan tradisi-tradisi yang telah diwariskan di tengah segala perubahan yang terjadi. Hal positif yang didapatkan subjek dari tradisi Kliwonan ini adalah menjadi lebih aktif membantu orang lain. Subjek merasa bersyukur serta muncul rasa senang dan tentram dalam dirinya saat mampu menolong orang lain di sekitarnya.
PENGALAMAN WANITA MENIKAH DINI YANG BERAKHIR DENGAN PERCERAIAN
Siti Nurjannah;
Yohannis Franz La Kahija
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 (April 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (307.216 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2018.21676
Pernikahan merupakan salah satu tugas perkembangan yang lumrah dilakukan oleh individu pada usia dewasa. Namun, beberapa individu ada yang melakukan pernikahan pada usia yang belum memasuki dewasa, atau yang dapat dikatakan sebagai pernikahan dini, dan wanita memiliki kecenderungan menikah dini lebih besar daripada pria. Banyak studi yang telah mengungkap bahwa pernikahan dini memiliki korelasi dengan perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman wanita yang menjalani pernikahan dini dan berakhir dengan perceraian. Dilakukan dengan metode kualitiatif, menggunakan analisis Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Subjek dalam penelitian ini diambil berdasarkan teknik pengambilan sampel purposive sampling, yang memiliki kriteria wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun dan telah bercerai dari suami pertamanya. Didapat tiga orang subjek yang berdomisili di Bojonegoro, Jawa Timur. Data didapatkan melalui wawancara secara langsung dengan masing-masing subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan menikah dini pada ketiga subjek dilatarbelakangi oleh keadaan yang berbeda-beda, yaitu atas inisiatif pribadi, hamil sebelum menikah, dan dorongan dari orang tua. Penyesuaian yang terjadi selama menikah dan adanya konflik yang terjadi karena ketegangan emosi mempengaruhi ketiga subjek untuk memutuskan bercerai. Pengambilan keputusan kurang matang karena dipengaruhi oleh emosi yang merupakan ciri-ciri remaja membuat ketiga subjek cenderung berpikir sesaat dalam mengambil keputusan untuk menikah hingga bercerai dari mantan suami.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-MONITORING WITH ACADEMIC PROCRASTINATION OF STUDENTS WHO ARE WORKING ON THESIS AT FACULTY OF PSYCHOLOGY IN UNIVERSITY OF DIPONEGORO
Nur Amelia Sari;
Endah Kumala Dewi;
Ika Febrian Kristiana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 (Oktober 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (341.272 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2012.8128
This research was conducted to determine the relationship between self-monitoring with academic procrastination in students who are working on thesis at the Faculty of Psychology, University of Diponegoro. The population is 123 students with a sample of 60 students. Determination of the samples was done by using simple random sampling. Data collection tool in the study of academic procrastination is a scale consisting of 38 aitem (α = .940) and self-monitoring scale consists of 25 aitem (α = 0.924), which has been tested.The data obtained showed a correlation coefficient of -0.454 with p = 0.000 (p <0.05), meaning that there is a significant negative relationship between self-monitoring with academic procrastination in students who are working on thesis at the Faculty of Psychology, University of Diponegoro. The higher self-monitoring, the lower the academic procrastination in students who are working on the thesis. Conversely, the lower the self-monitoring, the higher the academic procrastination in students who are working on the thesis. Self-monitoring variables contribute effectively to academic procrastination by 20.6%, while 79.4% came from other factors that are not revealed in this study.
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA SISWA KELAS X SMA ISLAM SULTAN AGUNG I SEMARANG
Casmitaning Nimas;
Endang Sri Indrawati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (164.838 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15366
Siswa memasuki tahun baru dan lingkungan sekolah baru dari Sekolah Menengah Pertama ke Sekolah Menegah ke Atas. Lingkungan baru kadangkala membawa siswa untuk membuka dirinya kepada dunia sekitar dan siswa diharapkan mampu berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekitar. Konsep diri membantu siswa untuk mengembangkan kompetensi interpersonalnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan konsep diri dengan kompetensi interpersonal pada siswa kelas X SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling dan diperoleh sampel penelitian berjumlah 100 siswa. Metode penggalian data dengan menggunakan dua skala psikologi. Skala kompetensi interpersonal mempunyai 30 aitem valid (α= 0,918) dan skala konsep diri mempunyai 22 aitem valid (α = 0,889). Analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0,514 dengan p = 0,000 (p < 0,01) yang artinya ada hubungan positif dan signifikan antara konsep diri dengan kompetensi interpersonal, semakin positif konsep diri maka semakin tinggi kompetensi interpersonal. Sebaliknya semakin negatif konsep diri maka semakin rendah kompetensi interpersonal pada siswa kelas X SMA Islam Sultan Agung I Semarang.Sumbangan efektif konsep diri terhadap siswa kelas X SMA Sultan Agung 1 Semarang sebesar 26,4% dan sisanya sebesar 73,6% dijelaskan oleh faktor-faktor lain.
PENGARUH PELATIHAN KETERAMPILAN REGULASI EMOSI PADA PENINGKATAN OPTIMISME MASA DEPAN
Devana Agripinata;
Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 (Agustus 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (200.816 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2013.7357
Narapidana remaja adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan khusus anak. Remaja yang hidup di lingkungan lapas akan mengalami tekanan dan mengembangkan emosi-emosi negatif. Hal tersebut menyebabkan mereka membangun pandangan-pandangan negatif sehingga menjadi remaja yang pesimis. Strategi regulasi emosi yang tepat diharapkan dapat membantu narapidana remaja dalam membangun emosi-emosi dan pandangan yang lebih positif. Selanjutnya juga dengan menerapkan ketrampilan regulasi emosi yang tepat, narapidana dapat menjadi lebih optimis dalam memandang masa depannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelatihan ketrampilan regulasi emosi pada peningkatan optimisme masa depan narapidana remaja di Lapas Anak Klas IIA Kutoarjo.Penelitian ini dilakukan dengan jenis rancangan eksperimen kuasi atau semu. Subjek penelitian berjumlah 16 orang yang terdiri atas 8 orang sebagai kelompok eksperimen dan 8 orang sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan skala Optimisme Masa Depan yang terdiri dari 20 aitem (α=0, 862).Uji hipotesis menggunakan metode Wilcoxon menunjukkan bahwa p= 0,360 (p>0,05). Hipotesis penelitian ini ditolak, yaitu tidak ada pengaruh yang signifikan antara pelatihan ketrampilan regulasi emosi dengan peningkatan optimisme masa depan pada narapidana remaja di Lapas Anak Klas IIA Kutoarjo. Scheier dan Carver menyatakan bahwa pembentukan optimisme menyinggung berbagai peristiwa dalam kehidupan individu. Pelatihan Ketrampilan Regulasi Emosi yang hanya mengambil aspek-aspek dari emosi kurang berpengaruh pada optimisme masa depan. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya tentang optimisme hendaknya lebih memperhatikan aspek-aspek yang lebih tepat digunakan dalam pelatihan untuk dapat meningkatkan optimisme masa depan.