cover
Contact Name
M. RIYAN HIDAYAT
Contact Email
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Phone
+6282245839804
Journal Mail Official
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Editorial Address
Jln. Lintas Timur Km. 36 Indaralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
At Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 27747425     DOI : https://doi.org/10.53649/at-tahfidz
Core Subject :
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science Quran Translation Study of Quranic Tafsir Research on the Quran Living Quran
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Lokalitas Tafsir Rahmat Karya H. Oemar Bakry Ahmad Daiyan
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 01 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i01.406

Abstract

Interpretation studies in Indonesia have their own local wisdom. In an effort to understand the Qur'an and convey the messages contained in it to the public, of course the use of locality elements can make it easier for the community to understand the contents and explanations of the verses of the Koran. The purpose of this research is to reveal locality aspects in H. Oemar Bakry's Tafsir Rahmat. This article discusses the locality of Rahmat's interpretation, which is one example of interpretation in Indonesia. In fact, there are many other works of interpretation that have developed in Indonesia, including Turjuman al-Mustafid, which was written by a well-known scholar named Shaykh Abd al-Rauf as-Sinkili, who came from Aceh. Tafsir Faidl al-Rahman written by Syekh Soleh Darat, Semarang, and Tafsir Marah Labid or better known as Tafsir Munir by Syekh Nawawi al-Bantani from Banten. In the following era, insight into the interpretation of the Koran in Indonesia was enriched by the presence of al-Ibriz by KH Bisri Musthofa, father of the charismatic figure KH Musthofa Bisri from Rembang, Central Java, as well as Tafsir Al-Azhar by Haji Abdul Malik Karim Amrullah or known as Buya Hamka. He is an influential figure as well as the first Chairman of the Indonesian Ulema Council (MUI) from Agam Regency, West Sumatra, and there are many other examples of interpretations that have developed in Indonesia. This research category is qualitative research with library research. The method that the writer uses in collecting data and the data analysis method that the writer uses is descriptive-analytical.
Kaidah-Kaidah Ilmu Tafsir Yang Berisi Penisbatan Perspektif Khalid Utsman As-Sabt (Kitab Qowaid At-Tafsir) Ilma Amalia; Junaida; Ican Mandala
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 01 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i01.408

Abstract

Ilmu Tafsir merupakan ilmu yang menjadi jembatan dalam memahami isi Al-Qur???an. Meskipun tidak semua maksud dari Al-Qur???an dapat difahami secara keseluruhan, tetapi sebagai seorang muslim kaidah-kaidah tafsir terutama yang berhubungan dengan fikih praktis haruslah kita fahami untuk memutuskan suatu perkara dalam amaliah praktis keislaman kita. Tulisan ini membahas lima kaidah tafsir yang berhubungan dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari yaitu kaidah terhadap ayat-ayat yang dinisbatkan terhadap Allah SWT, kaidah penetapan terhadap suatu hukum, kaidah kejelasan hukum dalam suatu perkara yang telah Allah SWT tetapkan, kaidah pengambilan lafadz dan kaidah yang menjelaskan bahwa tidak semua larangan menunjukkan pada keharaman. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang memfokuskan pembahasan pada lima kaidah yang terdapat dalma kitab Qowaid fi Tafsir juz 2 karya Kholid ???Utsman As-Sabt. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengungkap makna dalam lafadz-lafadz al-Qur???an melalui kaidah-kaidah tafsir. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah adanya ayat-ayat yang serumpun dan bisa dikaidahkan dalam 1 kaidah sehingga lebih mudah untuk melakukan penafsiran dengan ayat tersebut dengan metode ini.
Kajian Hipersemiotika Terhaap Liwah dan Rayah Sebagai Identitas Organisasi HTI Noufal P. Tumewu; Alfan Shidqon; Zakiyan Rifqa
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 02 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i02.409

Abstract

As an organization that seeks a caliphate government, Hizbut Tahrir has a number of symbols that characterize it. One symbol that is strongly attached to Hizbut Tahrir's identity is the liwa and rayah flag. This flag is often an integral part of various activities and demonstrations carried out by this organization, so that it creates an understanding among the public that the flag with the shahada written in it is the official identity of Hizbut Tahrir. in order to examine the understanding of the community related to the liwa and rayah flags, this research uses a leatherative method with a hypersemiotic approach as proposed by Umberto Eco. Through this approach, this paper aims to understand how hypersemiotic forms are formed in people's thinking related to the symbolism of this flag. although the Hizbut Tahrir group explicitly considers that the liwa and rayah are Islamic flags, the practices of their activities always involve these flags which have created an understanding among the public that the flag is a symbol of Hizbut Tahrir. This phenomenon gives rise to various forms of hypersemiotics, including the recyle sign that reflects the rejection of Hizbut Tahrir in several countries, with the liwa and rayah flags in it. In addition, there is also an extreme sign (superlative sign) that shows how this organization is considered dangerous while the liwa and rayah flags remain a strong symbol of identity for them. Thus, people's understanding and interpretation of the liwa and rayah flags produce various forms of hypersemiotics that reflect the complexity of identity and perceptions of Hizbut Tahrir.
Konsep Ham Dan Keadilan dalam Bingkai Al-Qur???an (Studi Kasus Zaman Kenabian) Recha Tamara Putri
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i1.423

Abstract

Penelitian ini fokus pada kajian tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan keadilan ditinjau lebih dalam dan kritis pada zaman kenabian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskripstif-analitik. Peninjauannya dengan cara mendiskusikannya dari berbagai perspektif yang kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa HAM serta keadilan secara teoritis dalam Islam, tak dapat diceraikan dari pada kebenaran secara ontologis. Secara konseptual, kebenaran dan keadilan berikut dengan hak dan kewajiban memiliki hubungan konseptual yang terikat satu sama lain yang secara simultan saling berpengaruh terhadap cara berpikir dan bertindak seorang yang meyakini kebenran ajaran agama Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini dipertegaskan oleh fakta-fakta sejarah yang telah berlangsung sepanjang sejarah awal peradaban Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad.
Dimensi Maqashidi dalam Kitab Min Hadi Al-Qur'an Fi Ramadhan Karya Amin Al-Khuli Ahmad Ahnaf Rafif
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.424

Abstract

Tulisan ini mencoba menggali unsur-unsur maqashidi yang terkandung dalam Kitab Tafsir Min Hadi al-Qur'an fi Ramadhan karangan Amin Al-Khuli. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis, disimpulkan bahwa penjelasan Al-Khuli terhadap ayat-ayat yang mengandung kata puasa, memiliki maqashid al-syariah. Dalam dunia maqashid, penafsiran Al-Khuli ini sesuai dengan teori umum Ibnu Asyur tentang maqashid al-syariah yang berorientasi pada tiga hal, yaitu ishlah al-fardi, ishlah al-jama'i, dan ishlah al-umrani. Penafsiran Al-Khuli menggambarkan ketiga teori tersebut, yaitu: puasa sebagai riyadhah bagi muslim (ishlah al-fardi); keterkaitan antara puasa dan perbaikan sosial (ishlah al-jamai); dan penjelasan konteks peradaban pada masanya (ishlah al-umrani). Tulisan ini sekaligus memberikan pandangan baru bahwa karya al-Khuli ini termasuk ke dalam kitab tafsir.
Konsep Pendidikan dalam Perspektif Al Qur'an Almujahid
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.425

Abstract

Islam sebagai pandangan hidup yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah, baik yang termuat dalam Al-Quran maupun Sunnah Rasul diyakini mengandung kebenaran mutlak yang bersifat transedental, universal dan abadi, sehingga akidah diyakini oleh pemeluknya akan selalu sesuai dengan fitrah manusia, artinya memenuhi kebutuhan manusia kapan dan dimanapun (likulli zamanin wa makanin). Dengan demikian, karena pendidikan Islam adalah upaya normatif yang berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, maka harus didasarkan pada nilai-nilai tersebut di atas baik dalam menyusun teori maupun praktik pendidikan.
Youth Revitalization Of Ushuluddin: Peran Pemuda Ushuluddin dalam Kontruksi Moderasi Islam Dini Astriani
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.426

Abstract

Dewasa ini, pemuda menjadi tonggak peradaban bangsa. Pemuda menjadi pusat revolusi pergerakan, karena di tangan pemuda juga masa depan dipertaruhkan. Pemuda harus menjadi agent of change, kalangan pemuda yang fokus dalam kajian keagamaan Islam (Ushuluddin) memiliki peran untuk menjadi influencer di tengah-tengah masyarakat. Pemuda merupakan simbol dari puncak perkembangan manusia. Saat ini, banyak ditemuiShifting the Authority (pergeseran otoritas) terkait narasi yang berkembang di masyarakat, sukarnya ditemui narasi moderasi islam, karena semua orang seakan-akan memiliki otoritas yang sama dengan para ulama. Pemuda Ushuluddin memiliki andil besar sebagai aktor counter narasi di tengah perang narasi radikal-tekstual khususnya di media sosial.Pemuda memiliki potensi dalam membangun wacana moderasi islam yang berfungsi sebagai lokus titik temu di masyarakat. Tujuan dari tulisan ini, bahwa pemuda Ushuluddin sebagai agent of the future memiliki potensi untuk mereduksi narasi radikalisme dan mereka memiliki peran mewacanakan narasi moderasi islam. Peneliti menggunakan metode deksriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana hasil penelitian mengungkapkan fakta bahwamasih kurangnya konstribusi pemuda Ushuluddin dalam wacana moderasi Islam. Untuk itu, perlunya narasi intelektual dari pemuda Ushuluddin untuk menguatkan narasi perdamaian Islam. Dualisme pemuda Ushuluddin, disatu sisi sebagai pembelajar dan disisi yang lain sebagai grassroot societyperlu dimanfaatkan dengan baik untuk menguatkan masyarakat. Sehingga pemuda Ushuluddin mampu menjadi corong perdamaian dalam menguatkan narasi moderasi islam yang tengah tereduksi di masyarakat. Untuk itu, pemuda Ushuluddin idealnya perlu direvitalisasi (revitalization) untuk bisa menjadi penggerak perdamaian global. Diperlukan pemuda Ushuluddin yang fokus dalam kajian Filsafat, tafsir, politik Islam dan kajian agama lainnya.
Tiktok dalam Perspektif Al-Qur'an Niswatul Malihah
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.427

Abstract

TikTok merupakan aplikasi hiburan untuk semua kalangan, tidak ada batasan dalam penggunaannya. Dengan hadirnya aplikasi TikTok ini menjadi bumerang bagi yang menggunakannya, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai kebutuhan dan bahan permainan biasa, walaupun demikian banyak faktor diperbolehkan atau dilarangnya penggunaan aplikasi ini. Menyikapi hal ini, maka agama Islam mempunyai hukum-hukum atau peraturan-peraturan serta perundang-undangan yang berhubungan dengan perbuatan orang (mukallaf), yang mengandung isyarat tanda tentang adanya suatu hukum, maka dalam menyikapi fenomena TikTok, peneliti menjelaskannya dalam sudut pandang al-Quran sebagai sumber utama dalam kehidupan bersosial dengan menggunakan metode penelitian library research dan menggunakan jenis data kualitatif. TikTok adalah media hiburan yang dampak negatifnya lebih banyak, maka seharusnya bagi seorang Muslim yang mukallaf untuk mentaati rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam al-Quran, salah satunya dengan menghindari TikTok ke ruang publik, karena barang siapa yang tetap menggunakannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam al-Quran, maka baginya mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat. Hukuman di dunia berupa kehinaan dan dihilangkannya rasa malu serta mendapat hukuman berupa dosa jariyah (dosa yang mengalir), sedangkan di akhirat akan mendapatkan siksaan yang pedih dari Allah swt. Dengan demikian, penggunaan aplikasi TikTok sebaiknya dihindari demi kebaikan diri sendiri.
Sikap Al Khozin Terhadap Israiliyyat dalam Tafsir Al Qur'an Relly Suryani
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.428

Abstract

Yang menjadi pegangan bagi umat Islam adalah al-Quran dan hadi. Permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin banyak setelah kepergian baginda Muhammad saw. Sehingga para ulama harus sekuat tenaga mencari solusi dari permasalahan yang muncul. Dengan adanya ahli kitab yang masuk Islam menimbulkan dilema atas peran mereka dalam menjelaskan al Qur'an yang mereka ketahui sebelum muallaf dan dapat menimbulkan kontra terutama hal-hal yang terkait dengan ayat-ayat yang mengandung unsur Israiliyyat. Permasalahan yang diangkat dalam  penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Israiliyyat  menurut pandangan al Khazin, 2) Bagaimana sikap al Khazin terhadap Israiliyyat. Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui Israiliyyat menurut pandangan al Khazin, 2) Mengetahui bagaimana sikap al Khazin terhadap Israiliyyat.  Jenis penelitian yang digunakan adalah library research dengan metode kualitatif melalui pendekatan tafsir maudhui (tematik). Sumber data utama penelitian ini yaitu al Qur'an al Karim, kitab tafsir al Khazin. Tehnik mengelolah data menggunakan metode deskriptif analisis. Adapun langkah-langkahnya adalah: 1) menetukan tema atau judul. 2) Menghimpun sejumlah ayat al Qur'an yang dijadikan objek studi, 3) Melacak berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut, 3)  menjabarkan pendapat-pendapat  untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan identitas dan pola berfikir mufassir. Sedangkan untuk menarik kesimpulan menggunakan metode deduksi. Penemuan penelitian ini secara garis besar yaitu: 1). Menurut al Khazin, Israiliyyat adalah suatu cerita yang berasal dari cerita orang-orang Yahudi yang masuk Islam. Ia menegaskan lagi bahwa cerita-cerita ini berasal dari orang-orang yang bukan asli beragama Islam yang diselundupkan dalam kitab-kitab tafsir dan hadi dengan tujuan menggoyahkan iman dan merusak aqidah umat Islam. 2). Sikap al Khazin dalam menafsirkan cerita Israiliyyat adalah: a). Al Khazin bersikap tidak selektif dalam menukil riwayat. Hal ini dapat dilihat dari halaman dalam kitabnya yang membahas tentang cerita-cerita Israiliyyat. b). Al Khazin meriwayatkan banyak riwayat Israiliyyat tanpa penjelasan yang membenarkan atau melemahkan riwayat tersebut. c). Riwayat Israiliyyat yang dikemukakan al Khazin sangat panjang membuat pembaca terkesan dan terhanyut layaknya dongeng-dongeng.
Kabilah Arab dan Dialeknya: Studi Dialek Dalam Al-Qur'an Tapaul Habdin
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 01 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v1i01.429

Abstract

Al-Qur'an telah menjelaskan hikmah adanya suatu bangsa dan lahirnya kabilah-kabilah yaitu untuk saling mengenal satu sama lain. Bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat memperhatikan dan menjaga nasab, itu sebabnya mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan nama ayah dan kakek-kakek mereka, seperti Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan dan seterusnya. Dari tradisi Bangsa Arab dalam menjaga nasab, di sini peneliti melihat diperlukannya pemahaman tentang kabilah Arab dan dialeknya, khususnya yang terdapat dalam al-Qur'an, karena dengan mempelajari dialek kabilah-kabilah Arab dapat mengetahui taraf kehidupan kabilah-kabilah Arab, di mana faktor kehidupan mempengaruhi dialek suatu kaum. Oleh karena itu peneliti akan mengkajinya dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan dan metode penelitian kualitatif. Hubungan dialek dan bahasa adalah hubungan khas (khusus) dan `aam (umum). Setiap dialek adalah bahasa, tapi tidak sebaliknya, di mana kabilah-kabilah di jazirah Arab secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, kabilah baaidah (yang sudah punah) dan baaqiah (yang masih ada) begitu juga dialek dikelompokkan menjadi dua, yaitu al-`arabiyah al-baaidah (bahasa Arab yang telah punah) dan al-`arabiyah al-baaqiyah (bahasa Arab yang masih lestari), sedangkan dalam jumlah dialek dalam al-Qur`an terdapat perbedaan, ada yang mengatakan lebih dari tujuh, ada juga yang mengatakan sampai empat puluh dan sab`atu ahruf diartikan dengan lahjah yang banyak.

Page 5 of 11 | Total Record : 106