cover
Contact Name
M. RIYAN HIDAYAT
Contact Email
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Phone
+6282245839804
Journal Mail Official
m.riyanhidayat@uqi.ac.id
Editorial Address
Jln. Lintas Timur Km. 36 Indaralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
At Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 27747425     DOI : https://doi.org/10.53649/at-tahfidz
Core Subject :
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science Quran Translation Study of Quranic Tafsir Research on the Quran Living Quran
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Implementasi Qaulan Sadidan dan Kontribusinya terhadap Kecerdasan Interpersonal: Studi Empiris Perspektif Tafsir Al-Mishbah Anggriyani; Anisyah; Abdul Ghoni
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2236

Abstract

Kecerdasan interpersonal berperan penting dalam membangun hubungan sosial yang efektif, di mana salah satu faktor penentunya adalah penggunaan perkataan yang baik, benar, dan mendidik demi menciptakan komunikasi positif. Hal ini sejalan dengan pandangan Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab, namun penelitian empiris yang menguji pengaruh tersebut secara spesifik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana perkataan baik berpengaruh terhadap kecerdasan interpersonal seseorang. Metode yang diterapkan adalah mixed methods, mengombinasikan pendekatan kualitatif untuk pendalaman perspektif responden dan pendekatan kuantitatif menggunakan perangkat lunak SPSS melalui instrumen kuesioner yang valid serta reliabel dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,657. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) perkataan baik berpengaruh signifikan terhadap kecerdasan interpersonal dengan korelasi positif bernilai 0,470 dan memberikan kontribusi sebesar 22,1%. 2) Analisis demografi mengungkapkan bahwa faktor usia dan penghasilan tidak berpengaruh signifikan, meskipun individu berusia di bawah 17 tahun serta kelompok perempuan tercatat memiliki kecerdasan interpersonal yang cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkataan baik memegang peran krusial dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal seseorang. Kebaruan penelitian ini memberikan pembuktian empiris berbasis data kuantitatif yang mendukung konsep teologis komunikasi positif dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, penggunaan komunikasi yang mendidik dan positif perlu terus ditingkatkan secara luas guna mendukung optimalisasi perkembangan keterampilan interpersonal individu dalam lingkungan sosial.
Dari Mīthāq ke Nomos: Rekonstruksi Etika Deontologis Kosmopolitan Al-Qur'an melalui Kriteria "Persetujuan Kontrafaktual" Jürgen Habermas. Imaduddin Fadhlurrahman
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2237

Abstract

Artikel ini merekonstruksi etika deontologis kosmopolitan Al-Qur’an dengan mendialogkan konsep Mīthāq (perjanjian primordial) dalam QS. al-A‘rāf [7]:172 dan kriteria persetujuan kontrafaktual Jürgen Habermas. Studi ini mengisi celah ganda: pembacaan dominan yang membatasi Mīthāq pada teologi dan spiritualitas, serta keterbatasan etika Habermas yang pasca-metafisik sehingga tidak menyediakan fondasi transendental bagi norma moral. Menggunakan analisis konseptual kualitatif dan hermeneutika filosofis-kritis yang merujuk pada tafsir klasik (al-Ṭabarī, al-Rāzī, al-Qurṭubī) dan kontemporer serta teori tindak tutur Searle, artikel ini menganalisis struktur komunikatif Mīthāq sebagai tindak tutur ilahi yang dialogis, universal, dan bebas distorsi kekuasaan. Respons kolektif balā (ya, kami bersaksi) kemudian diposisikan sebagai realisasi aktual situasi tutur ideal yang oleh Habermas hanya dipostulatkan sebagai pengandaian niscaya. Dari pertemuan itu direkonstruksi tiga prinsip etika deontologis kosmopolitan: penghormatan tanpa syarat terhadap martabat manusia, tanggung jawab global asimetris, dan keadilan diskursif. Temuan menunjukkan bahwa Mīthāq memberikan landasan teologis-transendental yang mengatasi defisit fondasional etika prosedural, sekaligus menawarkan kosmopolitanisme teosentris yang mengikat secara universal dan berakar dalam teks Al-Qur’an, serta relevan bagi perdebatan etika global kontemporer yang terus berkembang. Dengan demikian, narasi perjanjian primordial bukan semata peristiwa keselamatan, melainkan basis onto-etis bagi etika global yang mampu menjawab krisis normatif masyarakat yang sangat plural dan terfragmentasi.
Interpretasi QS Al-Maidah [5]: 90-91 tentang Larangan dan Penanggulangan Judi Online di Indonesia Kabiril Akbar; Pawas Jaya Balit; Agus Rifki Ridwan; Sefti Darmita; ⁠⁠Pina Sari
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2239

Abstract

Maraknya judi online di Indonesia telah menimbulkan krisis sosial dengan perputaran uang lebih dari Rp327 triliun dan dampak destruktif terhadap relasi keluarga, kriminalitas, serta degradasi spiritual. Pendekatan represif melalui pemblokiran situs terbukti belum memadai karena tidak menyentuh akar ideologis. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan QS Al-Maidah [5]: 90–91 guna membangun kerangka penanggulangan judi online berbasis wahyu. Metode yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan dengan pendekatan tafsir maudhu‘i. Sumber primer meliputi kitab tafsir klasik dan kontemporer seperti tafsir Al-Ṭabarī, Ibn Kathīr, Al-Qurṭubī, Al-Zuḥaylī, dan Shihab, sementara data sekunder berupa laporan PPATK serta studi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maysir dalam ayat tersebut secara substantif mencakup judi online karena mengandung taruhan harta, spekulasi, dan ilusi keuntungan instan. Perintah fajtanibūhu menuntut penjauhan total yang bersifat sistemik. ‘Illat pengharaman yang menimbulkan permusuhan, kebencian, dan menghalangi dari mengingat Allah serta shalat yang terbukti relevan dengan fakta adiksi judi online yang merusak tatanan sosial dan spiritual. Temuan ini menghasilkan kerangka penanggulangan tiga dimensi: preventif melalui edukasi makna rijs, represif melalui pemutusan akses, dan rehabilitatif melalui pengembalian pada dzikir dan shalat. Disimpulkan bahwa QS Al-Maidah [5]: 90–91 merupakan landasan teologis yang kokoh bagi kebijakan integratif pemberantasan judi online di Indonesia
Universalitas Khiṭāb Yā-Ayyuhā An-Nās dalam Al-Qur’an: Analisis Tematik atas Ayat-Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah Ridhoul Wahidi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.2243

Abstract

Frasa Yā Ayyuhā an-Nās merupakan salah satu bentuk khitab Al-Qur’an yang memiliki signifikansi universal dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah kepada manusia. Kemunculannya sebanyak 19 kali dalam Al-Qur’an menunjukkan urgensi frasa ini sebagai medium penyampaian perintah, larangan, dan nilai-nilai fundamental ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sasaran khitab Yā Ayyuhā an-Nās serta mengungkap corak penafsirannya dalam ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir tematik (maudhu‘i), melalui tahapan analisis yang sistematis sebagaimana dirumuskan dalam kajian tematik Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khitab Yā Ayyuhā an-Nās pada surah-surah Makkiyah ditujukan kepada masyarakat Makkah secara umum, baik Arab maupun non-Arab, dengan penekanan pada penguatan tauhid, kritik terhadap kemusyrikan, penolakan terhadap hari kebangkitan, serta pembinaan moral. Sementara itu, pada surah-surah Madaniyah, khitab ini mencakup masyarakat Madinah, termasuk Muslim, Yahudi, dan komunitas lain, dengan fokus pada aspek ibadah, hukum, ketakwaan, relasi sosial, dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Temuan ini menegaskan bahwa frasa Yā Ayyuhā an-Nās merepresentasikan universalitas pesan Al-Qur’an lintas ruang, waktu, dan komunitas.
Fasād dan Overdevelopment: Tafsir Ekologis QS. Ar-Rūm: 41 atas Krisis Peradaban Kontemporer Julita; Komarudin Sassi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2252

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi QS. Ar-Rūm ayat 41 terhadap fenomena overdevelopment dan krisis peradaban modern kontemporer melalui pendekatan tafsir ekologis. Ayat tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat langsung dari perbuatan manusia yang melampaui batas, sehingga relevan dijadikan pijakan teologis dalam membaca krisis lingkungan saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data primer digali dari Al-Qur’an dan literatur tafsir klasik serta kontemporer, terutama Tafsir Ibnu Katsir, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Al-Qurthubi, dan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur multidisipliner yang membahas ekologi Islam, modernitas, dan krisis lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep fasād dalam QS. Ar-Rūm ayat 41 memiliki cakupan makna yang multidimensi. Kerusakan tersebut tidak terbatas pada realitas fisik seperti degradasi ekosistem dan pencemaran, tetapi juga merambah pada dimensi sosial, moral, dan spiritual. Dalam konteks ini, fenomena overdevelopment yang ditandai oleh eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali, industrialisasi yang tercerabut dari kerangka etis, serta dominasi paradigma materialistik dan konsumerisme, merupakan manifestasi modern dari fasād yang diisyaratkan ayat tersebut. Penelitian ini menegaskan perlunya integrasi nilai-nilai transendental, etika lingkungan yang kokoh, serta revitalisasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi guna merumuskan paradigma pembangunan alternatif yang bersifat holistik, berkelanjutan, dan berkeadaban.
Tafsir Ayat-Ayat Filantropi Islam dan Relevansinya Terhadap Pengembangan Wakaf Produktif Ridhoul Wahidi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.2299

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran ayat-ayat filantropi Islam dalam Al-Qur'an serta relevansinya terhadap pengembangan wakaf produktif di Pondok Pesantren Hayatul Qur'an Indragiri. Kajian ini berangkat dari kenyataan bahwa wakaf produktif merupakan salah satu instrumen filantropi Islam yang memiliki potensi besar dalam mendukung kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren. Namun demikian, pengelolaan wakaf produktif sering kali lebih banyak dikaji dari perspektif ekonomi syariah dan manajemen, sementara kajian berbasis tafsir Al-Qur'an masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir maudhu'i (tematik) dan studi kasus. Data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer serta dokumentasi mengenai pengelolaan wakaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat filantropi dalam Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Baqarah [2]: 261, QS. Al-Baqarah [2]: 267, QS. Ali 'Imran [3]: 92, QS. Al-Hasyr [59]: 7, dan QS. Al-Hadid [57]: 18 mengandung prinsip produktivitas harta, keberlanjutan manfaat, pemerataan ekonomi, dan kemaslahatan sosial. Prinsip-prinsip tersebut relevan dengan konsep wakaf produktif yang dikembangkan di Pondok Pesantren Hayatul Qur'an Indragiri melalui pengelolaan aset wakaf sebagai sumber pembiayaan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa tafsir ayat-ayat filantropi tidak hanya memiliki dimensi normatif, tetapi juga memberikan landasan teologis bagi pengembangan model wakaf produktif yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Page 11 of 11 | Total Record : 106