cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol 50 no 3 (2016)" : 7 Documents clear
REMBESAN MIGAS DI DAERAH TIMOR BARAT (The Oil and Gas Seepages in West Timor ) Jonathan S. Hadimuljono; Desi Yensusnimar; Ario B Wicaksono; Suliantara Suliantara
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.2

Abstract

Di daerah Timor Barat banyak dijumpai rembesan migas (hidrokarbon) yang pada umumnya berasosiasi dengan semburan lumpur atau mud volcano. Rembesan gas hidrokarbon dijumpai di setiap lokasi mud volcano, sedangkan rembesan minyak hanya pada lokasi mud volcano di bagian selatan Pulau Timor. Di beberapa tempat, kadang kadang rembesan minyak dan gas juga dijumpai pada sumur yang digali oleh penduduk untuk mencari air. Kandungan gas hidrokarbon dominan terdiri dari metana (CH4) dengan sedikit etana (C2H6) dan kandungan nitrogen (N2) yang cukup tinggi yang menunjukkan karakter rembesan. Analisis Gas Chromatography (GC) pada rembesan minyak dalam lumpur menunjukkan kemungkinan minyak berasal dari batuan sedimen yang diendapkan pada lingkungan lacustrine atau transisi-laut.There are many oil and gas (hydrocarbons) seepages have been found in West Timor area, and generally they are associated with mud volcanoes or mud flow. The gas seepages occurred in every mud volcano location in West Timor, while the seepage of oil only found at mud volcanoes in Southern part of West Timor area. In some places, sometimes the seepage also exists in well that drilled by local people for water. The gas seepage dominantly composes of methane (CH4) and minor ethane (C2H6) with high nitrogen (N2) content which indicates seepage characteristic. Gas Chromatography (GC) analysis of oil seepages revealed that the oil probably originated from lacustrine or marine-transition sedimentary environments.
KONSTRUKSI DAN EKSPRESI REKOMBINAN TUNGGAL PEPTIDA SURFAKTAN (SINGLE SUPEL CONSTRUCTION) UNTUK APLIKASI EOR (Construction and Expression of Single Recombinant Peptide Surfactant for Eor Application) Cut Nanda Sari; Usman Pasarai; Riesa K. W Rohmat; Leni Herlina; Ken Sawitri Suliandari; Onie Kristiawan; Dwiyantari Dwiyantari; Tati Kristianti; Sony Suhandono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.3

Abstract

Surfaktan yang digunakan pada aplikasi peningkatan perolehan minyak tahap lanjut pada umumnya merupakan hasil sintesis kimia. Hasil sintesis ini bersifat cepat dan efektif namun secara kuantitas sangat kecil, sehingga bila dibutuhkan dalam jumlah banyak akan membutuhkan banyak biaya untuk memproduksinya. Alternatif lain yang bisa digunakan untuk menghasilkan surfaktan adalah dengan rekayasa genetika melalui produksi rekombinan dalam mikroorganisme seperti bakteri untuk menghasilkan surfaktan berbasis peptida. Teknologi ini relatif murah dan simpel untuk dilakukan yaitu dengan manipulasi ekspresi sel inang agar menghasilkan peptida surfaktan yang dikonstruk kedalam vektor ekspresi berbasis bakteri. Pada penelitian ini dilakukan konstruksi peptida surfaktan dengan menggunakan metode overlaped reaksi berantai polimerase untuk menghasilkan surfaktan peptida sebagai peptida tunggal. Hasil analisis SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis) menunjukkan konstruksi peptida surfaktan tunggal dapat diekspresikan dengan cara diinduksi IPTG 1 mM dan dilakukan pemecahan sel untuk mendapatkan protein yang diproduksi diperiplasma. Penelitian ini membuktikan bahwa kedua konstruk berhasil diekspresikan dengan menghasilkan peptida pada ukuran yang sesuai.  Surfactant that is used in enhanced oil recovery applications is generally synthetic chemical result. This synthetic result is quick and effective but very small in quantity, so if the demand in great amount, the more expensive cost needed. The other possible alternative to produce surfactant is by genetic engineering through recombinant production in micro organism such as bacteria to produce peptide based surfactant. This technology is relatively cheap and simple to be implemented, that is by manipulating bacterial based main cell expression. In this research, construction of peptide surfactant using overlapped polymerase chain reaction method to generate surfactant peptide as single peptide. Analysis result of SDS poly acrilamid gel electrophoresis shows that single surfactant peptide construction can be expressed by induction of IPTG 1 mM and also cell cracking to obtain protein which is produced by diperiplasma. This research proves that both two constructions have been successfully expressed by producing peptide in suitable size.
PENANGKAPAN CO2 DENGAN MENGGUNAKAN PELARUT KALIUM KARBONAT BERPROMOTOR ASAM BORAT (CO2 Capture Using Potassium Carbonate solvent with Boric Acid Promoter) Dewi Istiyanie; Ali Altway
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.4

Abstract

Penangkapan CO2 dengan menggunakan pelarut kalium karbonat sampai saat ini masih terdapat kelemahan, yaitu laju reaksi yang lambat. Pada penelitian ini untuk mengatasinya maka digunakan promotor asam borat karena lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Uji coba skala laboratorium dilakukan dengan sistem kontinu, yaitu dengan cara mengalirkan gas CO2 (20%) ke dalam pelarut K2CO3 (30%) berpromotor H3BO3 (3%) di dalam absorber pada suhu 50-70oC. Pelarut yang sudah mengandung CO2 akan dialirkan ke dalam desorber. Desorber dipanaskan hingga 70-90oC agar CO2 yang terabsorp di dalam pelarut dapat dilepaskan kembali. Pelarut K2CO3 akan masuk kembali ke dalam Tangki Pelarut untuk digunakan kembali dalam proses absorpsi CO2, dan seterusnya. Pada percobaan diukur konsentrasi gas CO2 yang masuk ke dalam absorber, yang keluar dari absorber, dan yang tidak terserap oleh absorber dengan menggunakan CO2 Analyzer. Sedangkan laju alir gas CO2 yang masuk ke dalam absorber dan yang keluar dari absorber diukur dengan menggunakan Flowmeter Digital. Konsentrasi pelarut juga diukur pada titik-titik yang sama dengan menggunakan metode titrasi. Laju alir pelarut yang masuk ke dalam absorber pada percobaan ini adalah konstan, sedangkan laju alir gas CO2 yang masuk ke dalam absorber divariasikan pada laju alir gas CO2 sebesar 1,25 liter/menit, 1,5 liter/menit, dan 2 liter/menit. Hasil terbaik dicapai pada laju alir gas CO2 sebesar 1,5 liter/menit dan diperoleh efisiensi penangkapan gas CO2 sebesar 87,63%. CO2 capture using potassium carbonate solvent until now there are still weaknesses, namely the slow reaction rate. In this research, to overcome this weakness, boric acid promoter was used due to more economical and environmental friendly. Laboratory scale trial run was conducted with a continuous system, namely by bubbling CO2 (20%) into K2CO3 solution (30%) promoted by H3BO3 (3%) in the absorber at a temperature of 50-70oC. Solvent already containing CO2 would be transported into a desorber. The desorber was operated at temperature of 70-90oC causing the absorbed CO2 in the solvent can be released again. K2CO3 solvent will go back into the solvent tank for reuse in the process of absorption of CO2, and so on. In the experiment the concentration of CO2 that goes into absorber, which came out of the absorber, and that is not absorbed by the absorber were measured using a CO2 Analyzer. While the flow rate of CO2 gas that goes into and out of the absorber were measured using Digital Flowmeter. The concentration of the solvent is also measured at the same points using titration method. The flow rate of solvent into the absorber in the experiment are constant, while the flow rate of CO2 gas into the absorber was varied at a flow rate of 1.25 liters / min, 1.5 liters / minute, and 2 liters / minute , Best results are achieved in CO2 gas flow rate of 1.5 liters / minute and acquired CO2 capture efficiency of 87.63%.
PEMANFAATAN BAHAN BAKAR DME DENGAN DUAL FUEL SYSTEM PADA MESIN DIESEL KENDARAAN (The Utilization of DME Fuel With Dual Fuel System in Diesel Engine Vehicles) Dimitri Rulianto; Maymuchar Maymuchar; Cahyo Setyo Wibowo
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.5

Abstract

Dimethylether (DME) merupakan sumber energy alternative yang memiliki karakteristik fisikakimia setara dengan LPG, dengan rumus kimia yang sederhana (CH3-O-CH3). DME dapat dihasilkan dari beragam jenis bahan baku, seperti gas alam, batubara, heavy oil, dan biomassa. Aplikasi DME dapat digunakan di beberapa sektor, antara lain: sektor transportasi, domestik/rumahtangga, power generation, namun apabila digunakan sebagai bahan bakar yang akan mensubstitusikan bahan bakar solar, maka diperlukan modifikasi pada sistim saluran bahan bakarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kinerja optimal dalam rangka pemanfaatan DME sebagai bahan bakar substitusi minyak solar dengan mengaplikasikan dual fuel system pada mesin diesel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan bahan bakar DME pada jenis mesin diesel kendaraan dengan dual fuel system dapat digunakan secara langsung jika dilakukan modifikasi pada sistem saluran bahan bakarnya. Perbandingan optimum minyak solar dan bahan bakar DME rata-rata 80%-20% mampu menghasilkan torsi dan daya setara dengan mesin diesel yang menggunakan minyak solar 100%. Pemanfaatan DME sebagai bahan bakar mesin diesel dapat mengurangi emisi opasitas rata-rata sebesar 10%-20%, sehingga meningkatkan kebersihan lingkungan. Dimethylether (DME) is an alternative energy source that has the physicochemical characteristics similar to LPG, with a simple chemical formula (CH3-O-CH3). DME can be produced from a variety of raw materials, such as natural gas, coal, heavy oil, and biomass. DME application can be used in several sectors, such as transport, domestic / household, power generation, but when used as a fuel that will substitute for diesel fuel, would require modifications to the fuel line system.The purpose of this study is to obtain optimum performance on the utilization of DME as a fuel substitution for diesel oil by applying dual fuel system in a diesel engine. This study shows that the use of DME fuel on the type of diesel engine vehicles with dual fuel system directly applicable since the fuel line system has been modified properly. The system which has average optimum comparison between diesel oil and DME up to approximately 80%-20% are capable to generate power and torque which equivalent to a diesel engine using diesel oil 100%. The use of DME as a fuel for diesel engines can reduce emissions of opacity to approx. 10%-20%, as a result the quality of environmental increases.
OPTIMASI KINERJA SISTEM PERALATAN KONVERSI LGV MIX DME PADA KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT ( The Performance Optimization of DME Fuel with Dual Fuel System in Diesel Engine Vehicles) Reza Sukaraharja; Cahyo Setyo Wibowo; Riesta Anggarani; Lies Aisyah
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.6

Abstract

Kegiatan penelitian pemanfaatan DME (Dimethyl Ether) sebagai bahan bakar kendaraan merupakan kegiatan lanjutan dari tahun sebelumnya yang dicampurkan (mix) dengan bahan bakar LGV. Penggunaan peralatan konversi LGV yang digunakan sebagai alat konversi dan umum dipergunakan sebagai alat konversi bahan bakar gas untuk kendaraan masih menghasilkan unjuk kerja yang belum optimal khususnya apabila digunakan sebagai alat konversi untuk bahan bakar DME. Perancangan peralatan konversi DME mix LGV yang sesuai dengan kebutuhan jenis dan tipe mesin tentu akan menghasilkan unjuk kerja yang optimum seperti yang telah dilakukan pada kegiatan 2014. Demikian juga dengan penempatan peralatan konversi DME yang compact akan memberikan kinerja yang sebaik menggunakan bahan bakar bensin serta kenyaman bagi pengemudi. Pengujian melalui serangkaian setting peralatan konversi diharapkan mendapatkan hasil kinerja yang optimum hingga setara dengan menggunakan bahan bakar bensin serta menghasilkan emisi gas buang yang lebih bersih. Activity research of DME (Dimethyl Ether) utilization as vehicle fuel is a continuation activity from previous year. LGV conversion equipment is generally used as a gas fuel conversion equipment for vehicles, but still produces a less optimal performance when used as a conversion tool for DME fuels. DME mix LGV conversion equipment design that suits your needs and types of machines certainly, is expected to produce optimum performance as it has done on the 2014 activities. Likewise, the placement of a compact DME conversion apparatus will provide the best performance like using gasoline fuel and comfort for the driver. Testing through a set of conversion equipment settings is expected to achieve optimum performance results up to the equivalent of using gasoline and producing cleaner exhaust emissions.
PERANCANGAN PROGRAM PERAWATAN YANG EFEKTIF UNTUK MENURUNKAN DOWNTIME MESIN PADA LUBE OIL BLENDING PLANT (LOBP) (Analyze the Design of an Effective Maintenance Schedule to Decrease Engine Downtime on the Lube Oil Blending Plant) Rona Malam Karina
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.7

Abstract

Maintenance seringkali dihubungkan sebagai akar dari suatu kehandalan (reliability), oleh karena itu, perlu adanya strategi maintenance yang baik untuk meningkatkan reliability dari suatu sistem produksi. Lube Oil Blending Plant (LOBP) Lemigas merupakan instalasi pabrikasi minyak lumas terdiri dari storage tank, premix tank, blending tank, filling machine dengan desain proses manufacturing batch line flow yang belum memiliki jadwal perawatan yang baik. Perancangan penjadwalan maintenance diperlukan untuk mengurangi downtime pada mesin produksi, sehingga tidak mengganggu jadwal produksi. Penjadwalan yang diusulkan adalah preventive maintenance dengan metode age replacement untuk mengidentifikasi pola kerusakan sebagai langkah perbaikan untuk mendapatkan interval preventive maintenance. Penentuan interval waktu penggantian pencegahan dengan menggunakan metode age replacement dapat menghasilkan nilai penurunan downtime sebesar 4.4%, sehingga terjadi penghematan biaya perawatan mesin sebesar 35%. Maintenance is often attributed as the root of a reliability, therefore, the need for a good maintenance strategies to improve the reliability of a production system. Lemigas Lube Oil Blending Plant is a fabrication lubricant installation is composed of storage tanks, premix tanks, blending tanks, filling machine with batch manufacturing process line design flow that does not yet have a good maintenance schedule. The design of maintenance sched­uling is required to reduce the downtime on the production machine, so as not to interfere with the production schedule. The proposed scheduling is preventive maintenance with age replacement method to identify patterns of damage as improvement to get preventive maintenance intervals. The determination of preventive replacement time interval by using the method of age replacement can generate value decrease downtime amounting 4.4%, so engine maintenance cost savings 35 %.
PENGARUH KONDISI PENYIMPANAN TERHADAP STABILITAS OKSIDASI BAHAN BAKAR JENIS BIODIESEL (B-100), BIOSOLAR (B-20) DAN MINYAK SOLAR MURNI (B-0) ( Effect of Storage Conditions on Oxidation Stability of Biodiesel (B-100), Biosolar (B-20) and Diesel Fuel (B-0) ) Cahyo Setyo Wibowo; Riesta Anggarani; Nanang Hermawan; Lies Aisyah
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.8

Abstract

Penggunaan campuran biodiesel dalam minyak solar sebesar minimal 20% (B-20) di sektor transportasi telah ditetapkan menjadi kebijakan mandatori atau wajib oleh Pemerintah. Untuk menjamin kepuasan masyarakat terhadap kualitas B-20, maka kualitas biodiesel (B-100) yang digunakan harus memenuhi standar yang ditetapkan. Pada pelaksanaan di lapangan, distribusi biodiesel dari produsen biodiesel sampai titik pencampuran dengan minyak solar menjadi salah satu titik penting dalam menjamin kualitas biodiesel. Selain itu, setelah dicampurkan menjadi B-20, kualitasnya juga harus diperhatikan. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap kualitas B-100 dan B-20 selama penyimpanan adalah: waktu penyimpanan dan kondisi penyimpanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi penyimpanan terhadap parameter kritikal yang terkait dengan aspek kestabilan B-100, B-20 dan B-0 selama periode penyimpanan tertentu (3 bulan).Kondisi penyimpanan yang disimulasikan dalam penelitian ini adalah penyimpanan dalam tangki berbahan stainless steel seperti yang umum digunakan pada tangki penyimpanan bahan bakar. Variasi kondisi penyimpanan adalah: (1) penyimpanan luar ruangan pada temperatur lingkungan (ambien), (2) tangki timbun, (3) penyimpanan dalam ruangan pada temperatur lingkungan (ambien), (4) dalam ruangan pada temperatur 43oC dan (5) dalam ruangan pada temperatur 10oC. Parameter kritikal yang diamati adalah angka asam, viskositas kinematik dan stabilitas oksidasi metode Rancimat yang diukur setiap 1 minggu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam periode 3 bulan diperoleh stabilitas oksidasi yang stabil untuk sampel B-0 dan B-20, sedangkan sampel B-100 mengalami penurunan stabilitas oksidasi terutama pada penyimpanan temperatur tinggi. Hasil angka asam dan viskositas kinematik menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu terjadi kenaikan dimana kenaikan terbesar disebabkan kondisi penyimpanan temperatur tinggi. Start in January 2016, the Government of Indonesia implemented the mandatory policy of the blending biodiesel in diesel fuel for transportation sector with minimum percentage of 20% (B-20). On ensuring the people satisfaction of B-20 quality, it is necessary to guarantee the quality of biodiesel (B-100) on fulfilling the quality standard. In practice term, biodiesel distribution from the manufacturer to blending facilities becomes important point on keeping the quality of biodiesel. Another point is keeping the quality of the blended fuel B-20. Between other things, these are 2 things most affect biodiesel quality; storage period and storage condition. This research aimed to identify the effect of storage condition on critical parameters related to stability aspects of B-100, B-20 and B-0 in 3 months storage period. The tank being used for all conditions were made from stainless steel. The simulation done in the research were: (1) Outdoor storage on ambient temperature, (2) piled tank, (3) indoor storage on ambient temperature, (4) indoor storage on temperature 43oC, and (5) indoor storage on temperature 10oC. Critical parameters being observed were oxidation stability with Rancimat method, acid value, and kinematic viscosity which all checked once per week. The results shows that in 3 months storage period the samples of B-0 and B-20 are stable, while for B-100 suffered the decreasing of oxidation stability, especially in high temperature storage. The similar effects observed for both acid value and kinematic viscosity, where these 2 parameters increased during 3 months period with the highest caused by high temperature storage.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue