cover
Contact Name
Theo Pilus Candra
Contact Email
sttgi.info@gmail.com
Phone
+62817437669
Journal Mail Official
sttgi.info@gmail.com
Editorial Address
Wukisari RT 006/RW 003, Baleharjo, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. gunungkidul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Therapeuo
ISSN : -     EISSN : 31241409     DOI : 10.66429
Core Subject :
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen is an open-access, peer-reviewed journal focused on the intersection of theological studies and Christian education. We publish original research findings on biblical exegesis, systematic theology, practical theology, Christian pedagogy, pastoral care, and the holistic development of church leadership and congregations.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Kristen Permisif Terhadap Kesehatan Mental  Anak Generasi Alpha Widhi Arief Nugroho
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2026): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66429/5d7bqf20

Abstract

Pola asuh permisif dalam keluarga Kristen modern sering kali menyalahartikan konsep kasih karunia (grace) sebagai kebebasan tanpa batas, yang berisiko memicu krisis kesehatan mental bagi Generasi Alpha selaku digital native. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mengeksplorasi motivasi teologis orang tua Kristen di balik penerapan pola asuh permisif serta menganalisis manifestasi dampaknya terhadap kesehatan mental anak Generasi Alpha. Melalui teknik purposive sampling, data dihimpun dari 15 keluarga Kristen urban yang memiliki anak usia sekolah (8–15 tahun) menggunakan metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menerapkan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang diuji keabsahannya melalui triangulasi. Hasil penelitian mengungkap adanya distorsi teologis akut, di mana orang tua memisahkan aspek kasih dari pendisiplinan alkitabiah, serta menggunakan gawai sebagai penenang elektronik (gadget as a pacifier) untuk menghindari konflik. Dampaknya pada kesehatan mental anak menunjukkan ketiadaan kapasitas regulasi emosi, tingginya egosentrisme, dan rendahnya ketahanan mental (resilience). Anak-anak menjadi rentan mengalami gangguan kecemasan dan frustrasi ekstrem saat menghadapi tekanan di luar rumah karena tidak terbiasa dengan penundaan kepuasan (delayed gratification). Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya reformasi pola asuh Kristen menuju model otoritatif yang mengintegrasikan secara seimbang antara grace (kasih karunia) dan truth (kebenaran) demi memulihkan kesehatan mental generasi digital.
Implementasi Model Phenomenon-Based Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa terhadap Isu Sosial Danny Yonathan
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2026): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66429/tg29pd54

Abstract

Perkembangan masyarakat digital menghadirkan berbagai isu sosial, seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, intoleransi, kerusakan lingkungan, dan krisis moral yang menuntut peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai etis. Namun, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) masih sering berorientasi pada penyampaian materi secara kognitif sehingga belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam merespons persoalan kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi Phenomenon-Based Learning (PhBL) dalam pembelajaran PAK serta menganalisis kontribusinya terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghadapi isu-isu sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari artikel ilmiah bereputasi yang terindeks Scopus, SINTA, dan Google Scholar, serta buku-buku akademik yang relevan, dengan prioritas publikasi periode 2018–2026 yang memiliki Digital Object Identifier (DOI). Analisis data dilakukan melalui teknik content analysis yang meliputi identifikasi, reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis temuan dari berbagai sumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa Phenomenon-Based Learning mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik melalui pemanfaatan fenomena sosial sebagai sumber belajar. Implementasi model ini dalam PAK mendorong siswa menghubungkan prinsip-prinsip Alkitab dengan realitas kehidupan, mengembangkan kemampuan menganalisis masalah, mengevaluasi informasi secara kritis, menyusun argumentasi berdasarkan bukti dan nilai-nilai biblika, serta merumuskan solusi yang bertanggung jawab. Dengan demikian, Phenomenon-Based Learning merupakan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat pembentukan karakter Kristiani sehingga layak diimplementasikan sebagai pendekatan inovatif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pada era digital.
Relevansi Pengakuan Kristologis Rasul Thomas dalam Yohanes 20:28 terhadap Penguatan Iman Jemaat Gereja Aliran Kharismatik di Era Digital Suryadi
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2026): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66429/rmbwqm74

Abstract

Narasi mengenai Rasul Thomas dalam Yohanes 20:24-29 sering kali direduksi secara peyoratif sebagai manifestasi dari skeptisisme yang lemah iman. Padahal, pengakuannya merupakan klimaks Kristologis tertinggi dalam seluruh struktur sastra Injil Yohanes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi teologis Thomas dari keraguan menuju pengakuan radikal, signifikansi sosio-politik teks tersebut dalam konteks Kultus Kekaisaran Domitianus pada akhir abad pertama, serta bagaimana teks ini memiliki relevansi langsung terhadap penguatan iman jemaat Gereja aliran Kharismatik di era digital. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi biblika kritis dan analisis naratif (narrative criticism), penelitian ini menemukan bahwa skeptisisme Thomas bukanlah penolakan iman, melainkan krisis epistemologis untuk memverifikasi kontinuitas fisik antara Yesus yang disalibkan dengan Kristus yang bangkit. Secara sosio-politik, frasa Ho Kyrios mou kai ho Theos mou berfungsi sebagai subversi politik yang mendesakralisasi klaim ketuhanan Kaisar Domitianus (Dominus et Deus). Secara kontekstual, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengakuan Thomas memiliki relevansi krusial bagi Gereja aliran Kharismatik di era digital melalui formulasi Thomasine Christological Faith-Fortification Model. Model konseptual ini menawarkan tiga pilar (Inkarnasional, Kritis, dan Subversif) sebagai paradigma teologis yang objektif untuk menguatkan iman jemaat dari ancaman disembodiment (virtualisasi iman), jebakan fideisme naif di era post-truth, serta hegemoni tekno-kapitalisme ruang siber.
Makna Autarkēs dalam Filipi 4:11–12: Sebuah Kajian Eksegetis tentang Kecukupan dan Kesederhanaan Pelayan Tuhan Yudha Mahendra; Eko Sugiharto
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2026): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66429/1gm4td41

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna istilah autarkēs (αὐτάρκης) dalam Filipi 4:11–12 melalui pendekatan eksegetis dan teologis, serta mengidentifikasi implikasinya bagi kehidupan dan pelayanan para pelayan Tuhan pada masa kini. Istilah autarkēs sering dikaitkan dengan konsep kemandirian diri dalam filsafat Stoik, namun penggunaan istilah tersebut oleh Paulus menunjukkan transformasi makna yang signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis eksegetis terhadap teks Filipi 4:11–13 berdasarkan kajian leksikal, historis, dan teologis. Sumber data diperoleh dari teks Alkitab, literatur akademik, komentar Perjanjian Baru, serta artikel jurnal yang membahas konsep autarkeia dalam konteks dunia Yunani-Romawi dan teologi Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa autarkēs menurut Paulus bukanlah kemandirian yang berpusat pada kemampuan manusia sebagaimana diajarkan dalam Stoisisme, melainkan kecukupan yang lahir dari ketergantungan kepada Kristus. Kecukupan tersebut merupakan hasil pembelajaran spiritual yang berlangsung melalui pengalaman hidup, penderitaan, krisis, dan relasi persekutuan dengan komunitas iman. Selain itu, konsep autarkēs berfungsi sebagai kritik teologis terhadap materialisme dan konsumerisme yang dapat memengaruhi pelayanan gerejawi. Paulus menegaskan bahwa identitas, keamanan, dan keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh kekayaan materi atau pencapaian manusia, melainkan oleh relasi yang hidup dengan Kristus yang memberikan kekuatan dalam segala keadaan. Oleh karena itu, autarkēs dalam Filipi 4:11–12 memberikan landasan teologis bagi pengembangan spiritualitas kesederhanaan, ketergantungan kepada Kristus, dan integritas pelayanan Kristen.
Integrasi Triadik Teologi Etika dan Diakonia dalam Redefinisi Pedagogi Pendidikan Agama Kristen Era Society 5.0 Theo Pilus Candra
Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2026): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66429/0kw4t646

Abstract

Perkembangan pesat era Society 5.0 dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) membawa perubahan mendasar dalam lanskap Pendidikan Agama Kristen (PAK), yang kini diperhadapkan pada krisis etika digital, bias algoritma, dan distraksi siber. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan reorientasi pedagogi PAK melalui integrasi triadic yang komprehensif: teologi, etika digital, dan praksis diakonia. Menggunakan metode kualitatif berbasis kajian literatur kritis (critical literature review), studi ini menganalisis dialektika antara perkembangan teknologi digital dan pembentukan spiritualitas peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) secara teologis, pemaknaan ulang Imago Dei menegaskan kembali agensi moral dan martabat humanis peserta didik yang tak tergantikan oleh sistem algoritmik; (2) secara etis, PAK harus membekali peserta didik dengan literasi etis-kritis untuk mengidentifikasi hamartiologi digital seperti disinformasi, bias algoritma, dan konsumerisme siber; serta (3) secara praksis, diakonia era Society 5.0 mentransformasi pedagogi PAK dari sekadar transfer pengetahuan menjadi aksi pelayanan nyata yang berorientasi pada keadilan sosial dan kepedulian digital. Implikasi dari penelitian ini menawarkan kerangka kurikulum dan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang memadukan asketisme digital dengan keterlibatan sosial-kontekstual guna membentuk warga digital yang beriman, etis, dan transformatif.

Page 2 of 2 | Total Record : 15