cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2020)" : 20 Documents clear
ANALISIS PENGARUH VARIASI WAKTU DAN TEMPERATUR PELAPISAN NIKEL - KROM DEKORATIF TERHADAP KETEBALAN DAN KETANGGUHAN BAJA ASTM A36 ERLAMBANG, BRAM; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan bermula adanya kasus di sebuah UKM di Ngingas Sidoarjo, pada hasil pelapisan terdapat keretakan dan kurang merata. Oleh sebab itu Peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh temperatur, waktu pelapisan nikel dan krom dekoratif terhadap hasil ketebalan dan ketangguhan lapisan permukaan baja ASTM A36. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi UKM yang bergerak pada bidang pelapisan, serta dapat menambah referensi ilmu di dunia pendidikan. Elektroplating merupakan suatu proses elektrolisis, dimana terjadi pengendapan logam pada permukaan logam yang akan dilapisi. Logam yang dilapisi adalah ASTM A36 yang merupakan bahan untuk pembuatan stang motor. Pelapisan ini menggunakan larutan nikel sebagai dasar lapisan, dilanjutkan dengan pelapisan krom dekoratif untuk menambah nilai dekoratifnya. Spesimen pada penelitian ini berukuran 55x10x10 (mm) dan 55x30 (mm). Pelapisan nikel memiliki variasi waktu lama pencelupan 18, 20, 22 (menit) dan variasi temperatur larutan 55, 57 (°C). Pelapisan Krom menggunakan waktu pencelupan 2 menit dan variasi temperatur 55, 57 (°C). Hasil Elektroplating ini diuji ketebalan lapisan yang dihasilkan dan seberapa ketangguhan lapisan untuk melindungi material dari faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukan semakin besar nilai waktu lama pencelupan dan temperatur, maka semakin besar pulal ketebalan dan nilai impak yang dibutuhkan untuk merusak baja ASTM A36. Pada waktu 18 menit dengan temperatur 55? pada kedua larutan, nilai ketebalannya adalah 20,50 µm dan nilai impaknya 338,64 J. Sedangkan, pada waktu 22 menit dengan temperatur 57? pada kedua larutan, nilai ketebalannya adalah 40,90 µm, dan nilai impaknya 499,84 J. Kata Kunci : Elektroplating, ASTM A36, waktu, temperatur, nikel, krom.
UJI EKSPERIMEN MODEL TURBIN ANGIN SWIRLING SAVONIUS DENGAN DEFLEKTOR BERGERAK TERHADAP KINERJA DI TEROWONGAN ANGIN RIZAL ADI IRAWAN, MOCH.; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan Penelitian ini untuk meningkatkan daya dan Coefficient Power turbin dengan menambahkan deflektor dan memodifikasi bilah turbin dengan memberi overlap pada bilah. Turbin angin dengan penambahan overlap pada bilah ini disebut turbin angin Swirling Savonius. Penelitian ini lebih memfokuskan pada variasi deflektor dengan sudut sebesar 45 dari datangnya arah angin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data yang diperoleh dari eksperimen dimasukan ke dalam tabel dan ditampilkan dalam bentuk grafik lalu dianalisis dan ditarik kesimpulan. penelitian menunjukan bahwa daya terbaik diperoleh pada penambahan deflektor bergerak 16 buah dengan daya sebesar 2.2852 watt dengan beban 4200 gram. CP terbaik diperoleh dengan penambahan deflektor bergerak 16 buah dengan CP sebesar 11.9365 % dengan beban 4200 gram. Untuk karakteristik jumlah total cp terbaik antara sisi advancing blade dengan returning blade didapatkan pada variasi deflektor 16 sebesar 9.78 dengan total advancing blade 45.98 dan total returning blade -36.21. Variasi tanpa deflektor didapatkan total cp sebesar 5.90 dengan jumlah total advancing blade 11.81 dan total returning blade -5.91. Variasi deflektor 4 didapat total cp sebesar 1.82 dengan jumlah total advancing blade 11.76 dan total returning blade -9.94. Variasi deflektor 8 didapat total cp sebesar 3.41 dengan jumlah total advancing blade 20.30 dan total returning blade -16.89. Variasi deflektor 12 total cp didapat sebesar 5.85 dengan jumlah total advancing blade 11.76 dan total returning blade -9.94. Kata kunci: Turbin Angin Swirling Savonius, Deflektor Abstract The purpose of this research is to increase the power and Coefficient Power of the turbine by adding a deflector and modifying the turbine blades by overlapping the blades. This wind turbine with the addition of overlap to this blade is called the Savonius Swirling wind turbine. This research focuses more on the variation of the deflector with an angle of 45 ° from the coming wind direction. This research uses a descriptive method. Data obtained from experiments are entered into tables and displayed in graphical form and then analyzed and drawn conclusions. research shows that the best power is obtained by adding 16 mobile deflectors with 2,2852 watts of power with a load of 4200 grams. The best CP is obtained by adding 16 mobile deflectors with CP of 11.9365% with a load of 4200 grams. For the characteristics of the best total cp number between the advancing blade and returning blade side, the deflector 16 variation is 9.78 with a total advancing blade 45.98 and the total returning blade is -36.21. Variations without deflectors obtained a total cp of 5.90 with a total number of advancing blades of 11.81 and a total of returning blades of -5.91. Variation of deflector 4 obtained total cp of 1.82 with total advancing blade of 11.76 and total returning blade of -9.94. Variation of deflector 8 obtained a total cp of 3.41 with a total number of advancing blades of 20.30 and a total returning blade of -16.89. The 12 total cp deflector variations were 5.85 with the total advancing blade 11.76 and total returning blade -9.94. Keywords: Savonius Swirling Wind Turbine, Deflector
PENGARUH PENAMBAHAN KEMIRINGAN SUDUT SUDU BERPENAMPANG PLAT DATAR TERHADAP KINERJA TURBIN ALIRAN VORTEX ARI PRADANA, RIZKI; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa penelitian telah dilakukan pada kemiringan sudut sudu turbin reaksi aliran vortex, namun masih belum ditemukan sudut sudu yang paling optimal Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan variasi sudut sudu terhadap daya dan efisiensi turbin reaksi aliran vortex berpenampang plat datar. Metode penelitian adalah eksperimen dengan cara membuat turbin aliran vortex dengan variasi kemiringan sudut sudu sebesar 25°; 30°; dan 35° dengan kapasitas (Q) pengujian aliran air sebesar 8,069 L/s; 9,413 L/s; 10,803 L/s; dan 12,341 L/s. Hasil dari penelitian variasi kemiringan sudut sudu turbin yang optimal adalah kemiringan sudut sudu 25° dengan efisiensi sebesar 61,30% pada kapasitas 9,413 L/s dan daya yang dihasilkan sebesar 37,93 Watt pada kapasitas 9,413 L/s. Variasi penambahan kemiringan sudut sudu memiliki pengaruh terhadap daya dan efisiensi turbin reaksi aliran vortex. Namun semakin besar kemiringan sudut sudu semakin menurun daya dan efisiensinya dikarenakan arah aliran air yang tidak mendekati sudut tegak lurus, sehingga putaran turbin tidak berbeda signifikan dan cepat terhenti akibat pembebanan juga Kata Kunci : Turbin, Turbin Reaksi, Sudu Berpenampang Plat Datar, Kemiringan Sudut Sudu.
EKSPERIMENTAL PENGARUH TIPE SUDU BERPENAMPANG L DENGAN VARIASI KEMIRINGAN SUDUT SUDU DENGAN LUBANG TERHADAP KINERJA TURBIN REAKSI ALIRAN VORTEX FITRIANA, MAHMUDA; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan listrik dengan menggunakan energi terbarukan maupun yang tidak terbarukan semakin banyak. Tenaga air merupakan jenis energi terbarukan yang memiliki potensi terbesar dibandingkan dengan sumber?sumber energi terbarukan lainnya. Potensi tenaga air di Indonesia mencapai 75,861 MW. Microhydro atau sering dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mycrohydro (PLTMH), pembangkit ini menghasilkan energi listrik dibawah 100 KW. Hal ini menjadi referensi untuk memanfaat aliran sungai dengan mengubahnya menjadi aliran vortex. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari variasi sudut sudu pada sudu berpenampang L pada turbin reaksi aliran vortex. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan analisis data kualitatif deskriptif dengan memvariasikan kemiringan sudut sudu dengan lubang berpenampang L sebesar 10°, 20°, 30°, dan sudut lurus 0°, dimensi sudu L yaitu panjang sudu 150 mm, tebal sudu 2 mm, lebar sudu 90 mm dengan pembebanan 5 kg, 10 kg, 15 kg, 20 kg, 25 kg, 30 kg, 35 kg, 40 kg, 45kg, dan 50 kg sampai berhenti debit aliran yang digunakan yaitu 8,069 L/s, 9,413 L/s, 10,803 L/s, dan 12,341 L/suntuk mendapatkan daya dan efisiensi. Hasil penelitian didapatkan kemiringan sudut sudu turbin paling optimal sebesar 10° pada kapasitas 10,803 L/s menghasilkan daya sebesar 34,172 Watt pada pembebanan 30 kg. Efisiensi tertinggi didapatkan pada kemiringan sudut sudu 10° dengan kapasitas 10,803 L/s menghasilkan efisiensi sebesar 45,41% pada pembebanan 25 kg. Variasi kemiringan sudut sudu dengan lubang antara sudu dan poros turbin berpengaruh terhadap kenaikan daya pada turbin reaksi vortex. Hal ini disebabkan karena arah jatuh aliran yang mengenai sudut sudu mendekati sudut tegak lurus sehingga rpm dan torsi yang dihasilkan lebih tinggi dari pada turbin dengan kemiringan sudut sudu lainnya.Kata kunci: Turbin Vortex, Sudu berpenampang L, Kemiringan Sudut Sudu
UJI EKSPERIMENTAL PENGEMBANGAN SUDUT BASIN CONE TERHADAP KINERJA TURBIN REAKSI ALIRAN VORTEX INDAH WAHYU NINGTYAS, NUR; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi sangat berpengaruh pada kehidupan dewasa saat ini, mengakibatkan penggunaan energi fosil berlebih pada semua bidang, maka perlu diadakannya penelitian tentang sumber energi alternatif, salah satunya adalah air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sudut basin cone terhadap kinerja turbin reaksi aliran vortex. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan memvariasikan 3 variabel, yaitu sudut basin cone, yaitu basin cone sudut 67°, basin cone sudut 58°, basin cone sudut 50°. Hasil dari penelitian adalah variasi sudut basin cone memiliki pengaruh terhadap daya dan efisiensi turbin reaksi aliran vortex, dimana basin cone optimal adalah basin cone sudut 58° dengan daya turbin sebesar 36,6096 Watt pada kapasitas 12,3410 L/s dan efisiensi sebesar 40,8866 % pada kapasitas 12,3410 L/s, diikuti oleh basin cone sudut 50° dan kemudian basin cone sudut 67°, hal ini disebabkan sudut basin cone dapat berpengaruh pada cone sehingga dapat memutar turbin secara maksimal dan mendapatkan torsi dan rpm yang tinggi, efisiensi berhubungan dengan daya turbin dan daya air. Kata kunci: Turbin Vortex, Sudut Basin Cone, Daya dan Efisiensi.
PENGARUH KADAR NACL SEBAGAI MEDIA PENDINGIN PROSES QUENCHING TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPACT PADA PADUAN AL6061 XAVERIUS, BOBBY; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang penelitian berawal dari masalah yang dialami oleh sebuah bengkel UKM di daerah Klampis Ngasem Surabaya yang bergerak di bidang usaha pengecoran alumunium, dimana pada proses pengecoran maupun melting aluminium diberi campuran NaCl, yang ternyata berpengaruh pada nilai kekerasan serta memberikan warna yang lebih kilap pada hasil pengecoran. Dari hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh NaCl pada paduan Al6061 sebagai media pedingin perlakuan quenching terhadap nilai kekerasan dan nilai impact.Metode penelitian kekerasan menggunakan standar DIN 50103 dengan alat Rockwell Hardness Tester skala HRB serta metode pengujian impact dengan standar ASTM E23-07a. Material yang digunakan adalah Al6061, proses pengecoran dilakukan dengan meleburkan Al6061 dan aluminium komersil terlebih dahulu, kemudian ditambahkan NaCl dengan variasi massa 18gr, 21gr, dan 24gr. Kemudian diberi perlakuan panas dengan temperatur 500?C dengan waktu tahan selama 30 menit dan didinginkan secara cepat (quenching) dengan media pendingin larutan NaCl dengan kadar 16%; 20%; dan 24% dengan waktu lama pencelupan selama 15 menit.Hasil penelitian menunjukkan nilai kekerasan rockwell tertinggi diperoleh pada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan variasi media pendingin sebesar 24% dengan nilai 108,86HRb dan nilai terendah diperolehpada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin sebesar 96,86 HRb. Hal ini terjadi karena semakin tinggi kadar NaCl dalam media pendingin, maka tingkat kekerasan yang dicapai juga semakin tinggi. Larutan NaCl mempunyai laju pendinginan yang cepat dan menghasilkan nilai kekerasan semakin tinggi. Nilai impact tertinggi terjadi pada spesimen dengan penambahan NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin NaCl 16% dengan nilai 0.0099J/mm². Nilai terendah didapatkan pada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan kadar NaCl sebagai media pendingin 24% dengan nilai 0,0063J/mm².Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kadar NaCl, maka semakin besar nilai kekerasan. Nilai kekerasan rockwell tertinggi didapatkan dari spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl 24% dalam 1 liter air dengan nilai kekerasan sebesar 108,86HRb. Nilai impact tertinggi didapatkan pada sepesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl sebesar 16% dalam 1 liter air dengan nilai 0,0099J/mm². Nilai impact tertinggi didapatkan pada sepesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl sebesar 16% dalam 1 liter air dengan nilai 0,0099J/mm². Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar memberikan variasi media pendingin yang berbeda agar mendapat nilai kekerasan dan impact yang optimal.Kata Kunci: Al6061, Al komersil, quenching, media pendingin, kekerasan, impact. Abstract Background research started from the problems experienced in the workshop Klampis Ngasem Surabaya who runs in the casting aluminium business, where the process of casting and melting aluminium were given a mixture of NaCl, which is influential in the toughness as well as providing a color that is casting gloss on the outcome. It does so for the study is done in an alloy know influence NaCl Al6061 cooling quenching treatment as a medium for the toughness and the impact.The methodology of toughness use standard DIN 50103 with a Rockwell hardness tester Hrb scale as well as a method of testing impact with a standard ASTM E23-07a. Materials used are Al6061, the process of casting is done with blurring Al6061 and aluminium first, commercial then added NaCl with variations of a mass 18gr, 21gr, and 24gr. Then were given heat treatment with the temperature 500?C with time 30 hold for minutes and cooled quickly (quenching) with the cooling solution NaCl with levels of 16%; 20%; and 24% with a long time dyeing for 15 minutes.Results shows the toughness Rockwell highest specimens to get on with the addition of levels of NaCl with variations of 24gr cooling media as much as 24% with 108,86HRb value and the lowest score specimens levels acquired in by the addition of 18gr NaCl with variations of the media as much as 96,86 HRb, cooling this happened because the high levels of NaCl cooling in the media and achieve a level of toughness is getting higher because a solution of NaCl have a rapid rate of cooling that produces the value of the higher. Toughness the value of impact is highest in the specimen with the addition of NaCl with variations of 18gr cooling media NaCl 16% with value 0.0099j/mm². The lowest score on a specimen was obtained by the addition of 24gr levels of NaCl with levels of NaCl as a medium cooling 24% with value 0,0063j/mm².NaCl with variations of the media cooling solution NaCl 24 % in 1 liter of water with the value of violence as much as 108,86hrb. The highest value to get on with the addition of specimen levels as much as 18gr NaCl with variations of the media cooling solution NaCl as much as 16 % in 1 liter of water with the value of 0,0099j/mm². The highest value to get on with the addition of specimens levels as much as 18gr NaCl with variations of the media cooling solution NaCl as much as 16 % in 1 liter of water with the value of 0,0099j/mm². A suggestion for further research is to give a variety of fridge is a different media to get the value of violence and impact that optimal.ssKeywords: Al6061, Al commercial, quenching, cooling media, toughness, impact
SISTEM KONTROL MESIN EGG GRADER BERBASIS BERAT MENGGUNAKAN KONTROLER ARDUINO MEGA 2560 PRIJO BUDIJONO, AGUNG; DIMA DISTYA, YOSHA
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia SNI No. 3926:2008, Berat telur dibagi menjadi 3 ukuran yaitu kecil dengan berat 50g, sedang dengan berat 50gram hingga 60gram dan ukuran besar berat diatas 60gram. Hingga saat ini cara sortir dilakukan secara konvensional hal tersebut menyebabkan hasil sortasi telur tidak konsisten dan lama karena tergantung pada subjek yang melakukan sortasi. Adanya mesin Egg Grader ini akan menjadi solusi akan permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain dan membuat suatu sistem kontrol otomatis yang dapat mensortasikan berat telur sesuai dengan standart yang telah ditentukan menggunakan kontroler Arduino mega 2560 dengan kelengkapan mekanik mesin Egg Grader telah tersedia. Dalam perancangan ini menggunakan jenis penelitian (R&D) Research and Development atau penelitian pengembangan berbasis eksperimen. Pada kasus ini peneliti melakukan rancang bangun sistem kontrol pada mesin egg grader otomatis. Proses perancang diawali dengan melakukan desain sistem kontrol, kemudian dibuat algoritme berdasarkan desain yang telah di buat. Algoritme digunakan sebagai pemandu saat membuat listing program kemudian tahap akhir adalah uji peforma. pengambilan data peforma sistem kontrol dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, pengujian sensor infrared, pengujian sensor berat, pengujian perangkat lunak arduino, pengujian akurasi klasifikasi, pengujian respon time. Hasil penelitian ini adalah mesin sortasi dapat menyortir dengan akurasi 87,93 % dengan kapasitas kurang lebih 15 butir/menit. Respon time dari sensor infrared jenis optocoupler membutuhkan waktu 0,114062 detik. Respon time dari sensor berat dengan driver H711 membutuhkan waktu 0,442057 detik. Mesin Egg Grader menggunakan kontroler Arduino 2560 sebagi prosesor, sensor infrared digunakan sebagai sensor kedatangan, sensor berat loadcell dengan driver HX711 untuk menimbang telur dan menggunakan 4 servo sebagai penggerak gerbang dan lengan klasifikasi dapat berjalan dan berfungsi baik dengan waktu yang dibutuhkan dalam satu kali siklus sortiran membutuhkan waktu 3,806871 detik. Algoritma pekerjaan yang dilakukan dalam memilah kelas telur ayam pada mesin Egg Grader melalui 3 tahap yaitu antrian, menimbang dan memilah. Pada proses antrian sensor infrared dapat mendeteksi keberadaan telur. Kemudian pada tahap menimbang telur ditimbang kemudian telur diklasifikasi beratnya dan sudah terklasifikasi menurut kelas beratnya.
PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PENCELUPAN PROSES HOT DIP GALVANIZING BAJA ST 41 BENTUK PLAT DAN SILINDER TERHADAP UJI KETEBALAN DAN KEKILAPAN PERMUKAAN ROHMAN FAIZOL, ABDUL; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 merupakan baja karbon rendah yang banyak dipakai dalam bidang industri mufaktur dan kontruksi akan tetapi tidak ditunjang dengan sifat mekaniknya yaitu mudah aus dan korosif serta unsur estetika yang kurang memadai. Hal ini diperlukan perlindungan dengan cara melapisi menggunakan metode pelapisan hot dip galvanizing. Proses hot dip galvanizing adalah memanaskan logam pelapis hingga mencair kemudian celupkan baja St 41 sesuai temperatur dan waktu pencelupan yang diinginkan hingga terlapisi dengan sempurna. Proses pencelupan ini dilakukan dengan melapisi baja St 41 dengan seng (zinc) sebagai perlindungannya. Untuk mengetahui pengaruh terhadap hasil ketebalan lapisan dengan standar ISO 1461 : 2009 dan kekilapan sesuai DIN EN ISO 2813 perlu adanya variasi temperatur dan waktu pencelupan pada proses hot dip galvanizing, variasi temperatur yang digunakan adalah 420 °C dan 450 °C serta waktu pencelupan selama 15, 30, dan 45 detik. Pada hasil pengujian ketebalan lapisan nilai tertinggi untuk spesimen plat sebesar 64,2 µm dan untuk spesimen bentuk silinder lapisan tertinggi memiliki ketebalan 59,8 µm, keduanya berada di kombinsi temperatur 420°C dan waktu celup 45 detik. Pengujian kekilapan tertinggi berada dikombinasi temperatur 450°C dan waktu celup 45 detik, untuk spesimen plat sebesar 24,3 GU dan untuk spesimen silinder sebesar 20,4 GU. Hasil penelitian yang sudah memenuhi batas rata-rata minimum standar ISO 1461 : 1999 dan kekilapan sesuai DIN EN ISO 2813 adalah semua spesimen dengan kombinasi temperatur 420 dan 450°C serta waktu celup 30 dan 45 detik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama waktu pencelupan semakin tinggi nilai ketebalan dan kekilipannya. Kata kunci : hot dip galvanizing, Baja St 41, temperatur pencelupan, waktu pencelupan, uji ketebalan, uji kekilapan. Abstract ST 41 Steel is low carbon steel that commonly used in manufacture industry and construction yet it is not supported mechanically because it gets easily worn out and corrosive also the aesthetic element is not recommended. This lead into some protection by coating with the Hot Dip Galvanizing process. Hot Dip Galvanizing process is to heat up the coating element till it melted and then dip the ST 41 steel into it within the desire temperature and amount of time until the whole part is fully coated. This immersion process is executed by coating the ST 41 steel with zinc as the coat. To find out the impact of the surface thickness with the ISO standard 1461 : 2009 and the glisten in accordance with DIN EN ISO 2813 variations of temperature and timing immersion is needed during the Hot Dip Galvanizing process, the variations temperature used on this research are 420 °C and 450 °C and the variations amount of time are 15, 30, 45 seconds. The result of examination showed that the highest point of thickness on plate specimen reach 64,2 µm and for the cylinder specimen reach 59,8 µm, both were in combination of temperature 420°C and immersion timing of 45 seconds. The result of examination also showed that the highest point of glisten was reached by the combination of 450°C and immersion timing of 45 seconds, for the plate specimen is 24,3 GU and for the cylinder specimen is 20,4 GU. The result of this research has fulfil the minimum standard requirement ISO 1461 : 1999 and the glisten level is suitable with DIN EN ISO 2813 all the specimen with the combination temperature of 420 and 450°C and also timing immersion of 30 and 45 seconds. To sum up the whole result of this research is the longer the timing immersion is the better for the thickness and glisten. Keywords: hot dip galvanizing, St 41 steel, dying temperature, dipping time, thickness test, glisten test.
ANALISIS KOROSIFITAS EROSI LOGAM PADUAN AL6061 DENGAN VARIASI KADAR AIR GARAM SEBAGAI MEDIA QUENCHING PADA PROPELLER YUSUF ABDI, ALVIAN; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakNelayan sering mengalami kendala di propeller kapal miliknya dimana cepat mengalami korosi. Nelayanseringkali membawa cadangan propeller untuk mengganti propeller lamanya yang telah habis tergeruskorosi hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Hampir sebagian besar nelayan mempunyai masalah yangserupa sehingga berspekulasi bahwa material propeller kurang bagus akibat kurangnya pengetahuanbengkel UKM yang bergerak dibidang pengecoran aluminium akan kekuatan dan struktur bahan. Maka dariitu melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat khususnya para nelayan, penulis ingin meningkatkankualitas bahan propeller dengan proses quenching menggunakan media air garam dan membandingkannyadengan produk yang ada di pasaran. Metode penelitian ini menggunakan jenis deskriptif kuantitatif dankualitatif. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah paduan Al6061 yang telah melalui prosesquenching. Pengujian ini menggunakan Uji Mikrostruktur untuk melihat struktur mikro material. Hasilpenelitian nilai laju korosi terendah didapatkan dari quenching dengan penambahan kadar NaCl sebesar24% sebesar 1,1288mmpy menggunakan kecepatan putar 1250 rpm dan lama perendaman 168 jam yangmana pada propeller pasaran laju korosi memiliki besar 1.6777mmpy dengan lama perendaman dankecepatan putar yang sama. Sehingga spesimen hasil perlakuan memiliki tingkat laju korosi 32,71% lebihrendah dari produk pasaran. Laju korosi yang terjadi setelah perlakuan mengalami penurunan akibat prosesAging yang membuat butir kristal pada spesimen mengecil dan jarak antar butir kristal menjadi lebih rapatdisertai proses pendinginan cepat sehingga ketahanan aus pada spesimen yang diberikan perlakuanmengalami kenaikan.Kata kunci: al6061, korosi, quenching, garam (NaCl), struktur mikro.AbstractFishermen often experience problems in their boat propellers which quickly corrode. Fishermen often carrypropeller reserves to replace old propellers that have been eroded by corrosion in just a few weeks. Mostof the fishermen have similar problems so they speculate that the propeller material is not good due to thelack of knowledge of workshops engaged in aluminum casting for the strength and structure of the material.Therefore, seeing the problems that occur in the community, especially the fishermen, the writer wants toimprove the quality of propeller materials by quenching using salt water media and comparing them withproducts on the market. This research method uses quantitative and qualitative descriptive types. Thematerial used in this study is Al6061 alloy which has been through a quenching process. This test uses aMicrostructure Test to see the microstructure of the material. The results of the lowest corrosion rate valuesobtained from quenching with the addition of NaCl levels of 24% by 1.1288mmpy using a rotational speedof 1250 rpm and an immersion time of 168 hours which on the market propeller corrosion rate has a large1.6777mmpy with the same immersion time and rotational speed. So the treated specimens have a corrosionrate of 32.71% lower than the market products. Corrosion rate that occurs after treatment has decreased dueto the Aging process which makes the crystals in the specimen shrink and the distance between the crystalsbecome more closely accompanied by a rapid cooling process so that the wear resistance of the specimensgiven treatment has increased.Keywords: al6061, corrosion, quenching, salt (NaCl), microstructure
EKSPERIMEN PENGARUH VARIASI RASIO PANJANG LEADING EDGE TERHADAP KARAKTERISTIK AERODINAMIKA PADA MOBIL PICK UP RIANTO, ACHMAD; GRUMMY WAILANDUW, A.
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kendaraan pick up memiliki jarak tempuh yang lebih jauh dan membawa beban yang lebih berat dari pada mobil kecil, sehingga penelitian tentang karakteristik aerodinamika pada kendaraan pick up sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan keamanan waktu berkendara. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model uji dengan variasi rasio panjang leading edge: standart 0,03(1/30), 0,067(1/15), dan 0,1(1/10) pada Reh = 3,09x104, 5,20x104, 7,15x104. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah distribusi tekanan (CP) pada upper dan lower surface, koefisien drag pressure (CDP), koefisien lift pressure (CLP), profil kecepatan dibelakang kendaraan (VP) dan titik separasi pada kendaraan pick up. Untuk variabel kontrol, model leading edge bodi kendaraan diletakkan 200 mm dari leading edge plat datar. Pengukuran VP dibelakang model uji kendaraan dilakukan pada rasio X/L 0,34; X/L 0,41; X/L 0,49; X/L 0,57 dari leading edge plat datar. Berdasarkan penelitian, didapatkan hasil sebagai berikut: dengan menambah variasi rasio panjang leading edge dapat membuat peningkatan koefisien tekanan(CP) dengan perlahan dan mengurangi kenaikan CP yang tiba ? tiba. Penurunan koefisien drag pressure (CDP) tertinggi terjadi pada variasi rasio panjang leading edge 0,1(1/10) dengan Reh = 3,09 x 104 yaitu 0,57 atau turun 20,53% dari model standart 0,03 (1/30) sehingga dapat dikatakan bahwa dengan melakukan variasi rasio panjang leading edge, dapat membuat efisiensi bahan bakar meningkat. Penurunan nilai CLP paling signifikan pada variasi rasio panjang leading edge 0,1 (1/10) pada Reh 7,15 x 104 yakni 0,28 atau turun sebanyak 41,09% dari model kendaraan standart 0,03 (1/30). Pada pengukuran velocity profile (VP) di belakang model uji didapatkan penurunan defisit momentum aliran pada semua variasi Reh dan rasio X/L. Pada semua variasi Reh titik separasi terjadi pada titik x/l=+0,438 pada model standart 0,03(1/30), x/l=+0,471 pada model dengan variasi rasio panjang leading edge 0,067(1/15), x/l=+0,505 pada model dengan variasi rasio panjang leading edge 0,1(1/10). Kata Kunci: Leading Edge, Karakteristik Aerodinamika, dan Kendaraan Pick Up.

Page 1 of 2 | Total Record : 20