cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sapala
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
REPRESENTASI PEREMPUAN DAN ALAM DALAM FILM MOANA KARYA SUTRADARA RON CLIMENT DAN JOHN MUSKER ( KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES) BINTARIANA, DHIAN
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film Moana merupakah film animasi yang disutradarai oleh Sutradara Ron Clements dan John Musker pada tahun 2016 yang bercerita tentang seorang peran perempuan menyelamatkan bumi. Pada setiap adegan yang diperankon oleh tokoh dalam cerita mengandung kode atau tanda yang secara simbolik bermakna tentang hubungan perempuan dan alam. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan makna denotasi dalam tanda yang merepresentasikan perempuan dan alam dalam film Moana karya Sutradara Ron Climent dan John Musker 2) mendeskripsikan makna konotasi dalam tanda yang merepresentasikan perempuan dan alam dalam film Moana Sutradara Ron Climent dan John Musker 3) mendeskripsikan mitos yang merepresentasi perempuan dan alam dalam film Moana Sutradara Ron Climent dan John Musker. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotik Roland Barthes. Pada teori semiotik Barthes terdapat tiga tahap pemaknaan pada sebuah tanda yakni tahap denotasi, konotasi dan mitos. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif yang berfokus pada karya sastra. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Film Moana karya Sutradara Ron Climents dan John Musker. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan catat.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan yakni pertama makna denotasi dalam film Moana karya Sutradara Roy Climents dan John Musker, kedua makna konotasi dalam film Moana karya Sutradara Roy Climens dan Joy Musker, ketiga mitos dalam film Moana karya Sutradara Roy Climents dan Joy Musker. Kata Kunci: Representasi, Perempuan dan alam, Semiotik Roland Barthes.
MOTIF DAN EKSISTENSI MISTISISME DALAM NOVEL MISTERI PERAWAN KUBUR, DENDAM IBLIS CANTIK, DAN DOSA TURUNAN KARYA ABDULLAH HARAHAP NISA, AZIZUN
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur cerita dalam novel serta motif, dan eksistensi yang ditinjau dari konsep perjalanan dan tujuan mistisisme dalam novel Misteri Perawan Kubur, Dendam Iblis Cantik, dan Dosa Turunan karya Abdullah Harahap dengan menggunakan kajian mistisisme Niels Mulder. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan objektif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dan simak catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dan metode hermeneutika terhadap data dengan melakukan beberapa langkah, yaitu (1) mencermati, (2) membaca heuristik dan hermenuitik, (3) menafsirkan, dan (4) menyajikan laporan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menemukan (1) struktur cerita yang dibagi menjadi fakta cerita terdiri dari alur, penokohan, dan latar. Sarana cerita terdiri dari judul, tema, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. (2) adanya motif berupa motif egoistis dan motif positif, motif egoistis ditunjukkan pada saat antartokoh melakukan tapa atau samadi yang bertujuan untuk mendapatkan keinginan yang bersifat pribadi, sedangkan motif positif untuk membantu memecahkan masalah orang lain dan menghancurkan sarana magis yang buruk, (3) eksistensi mistisisme pada saat para tokoh melakukan tapa atau meditasi dengan khusuk agar mencapai inti batin. Dengan demikian dapat diketahui bahwa novel Misteri Perawan Kubur, Dendam Iblis Cantik, dan Dosa Turunan karya Abdullah Harahap merupakan cerminan kepercayaan para tokoh pada hal-hal yang bersifat mistisisme. Kata Kunci : Mistisisme, Motif, Eksistensi, Novel Abstract This research aims to describe the structure of the story from each novel, motive, and existence from the scope of journey concept and mysticism?s aim in a novel Misteri Perawan Kubur, Dendam Iblis Cantik, and Dosa Turunan by Abdullah Harahap using Niels Mulder?s mysticism concept. This research used qualitative methodology with objective approach. Data collection techniques for this study arelibrary research and note taking. The analysis methods for this study are descriptive and hermeneutic method towards the data by doing some steps, such as (1) Analyze, (2) Heuristic and hermeneutic reading, (3) interpret, and (4) showing results. The results of this study found (1) the structure of the story divided into the facts of the story consisting of plot, character and background. (2) the form of mysticism?s journey of achievement between character is only at lowest stage which is Sarengat stage where between characters are incline with soul, ancestor, hero, and mythology thing as a power source that need to be respected and believed that can granted any wish (3) the existence of mysticism when the leaders do meditation or meditate solemnly to reach the inner core. Thus it can be seen that the novel Misteri Perawan Kubur, Dendam Iblis Cantik, and Dosa Turunan of Abdullah Harahaps work are a reflection of the beliefs of the characters on mysticism. Keywords: mysticism, motive, existence, novel
PERJUANGAN PEREMPUAN PAPUA DALAM NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALIS SIMONE DE BEAUVOIR NURMAYANTI, EVA
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara tentang perempuan seolah tidak ada habisnya dibahas di kalangan masyarakat dunia. Terutama masalah pemosisian kaum perempuan yang tidak cukup mendapatkan perhatian di masyarakat. Pemosisian kaum perempuan juga berada di bawah kaum laki-laki yang diekploitasi olehnya. Dalam dunia sastra pun tokoh perempuan sering dimunculkan oleh pengarang. Pemosisian perempuan sering dibahas dalam karya sastra yang diambil dari fakta kejadian di masyarakat. Salah satunya dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf yang membahas tentang perempuan. Penelitian ini akan menggunakan kajian Feminisme Eksistensialis Simone de Beauvoir. Kajian ini membahas tentang kedudukan kaum perempuan meliputi takdir perempuan, sejarah perempuan, dan mitos perempuan yang juga terdapat sikap perempuan untuk menunjukkan eksistensinya. Pendekatan penelitian ini merupakan pendekatan objektif yang memusatkan perhatian pada karya sastra. Penelitian ini dirancang secara deskriptif kualitatif, sebab mendeskripsikan data-data terkait rumusan masalah yang sumber datanya berupa kata-kata, kalimat, atau wacana. Sumber data yang digunakan yaitu novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu teknik baca catat dan teknik studi pustaka. Teknik baca catat adalah teknik untuk memberi tanda dan catatan dengan cara membaca keseluruhan teks. Sedangkan, teknik studi pustaka adalah teknik yang berusaha mencari dan menelaah dari berbagai buku sebagai bahan pustaka sebagai sumber data tertulis. Penelitian ini menghasilkan simpulan mengenai: 1) Takdir perempuan merupakan sebuah hal yang disengaja oleh alam (tidak bisa dirubah). Namun, masyarakat juga menciptakan takdir perempuan berdasarkan aktivitas masyarakat melalui kesadaran individual. Perempuan dapat merubah takdir yang diciptakan oleh masyarakat melalui kemauannya untuk berusaha. 2) Sepanjang sejarah laki-laki menciptakan sebuah aturan untuk perempuan yang membelenggu kehidupannya. Kehidupan perempuan diciptakan oleh laki-laki untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Sehingga tak jarang perempuan mengalami trauma terhadap masa lalunya. Perempuan harus bangkit dari keterpurukan masa lalunya agar tidak berada di bawah laki-laki yang membelenggunya. 3) Mitos pada perempuan diciptakan oleh masyarakat berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta. Lalu muncul sebuah gagasan yang dipercaya oleh kebanyakan perempuan. Mitos merupakan suatu hal yang dilekatkan pada perempuan untuk mengurangi kebebasannya. Perempuan tidak harus menerima begitu saja hal yang dilekatkan pada dirinya melainkan perlu dijelaskan sesuai penalaran. Kata Kunci: novel tanah tabu, feminisme eksistensialis, kedudukan perempuan, perempuan Abstract Talking about women seems endless discussed in the world community. Especially the problem of positioning women who do not get enough attention in the community. Positioning of women is also under men who are exploited by them. In the world of literature too, female leaders are often raised by authors. Positioning women is often discussed in literary works taken from the facts of events in society. One of them was in the novel Tanah Tabu by Anindita S. Thayf which discussed women. This study will use the study of Existentialist Feminism Simone de Beauvoir. This study discusses the position of women including womens destiny, womens history, and womens myths which also have womens attitudes to show their existence This research approach is an objective approach that focuses on literature. This study was designed in a qualitative descriptive manner, because it describes the data related to the formulation of the problem in which the data source is in the form of words, sentences, or discourses. The data source used is the Tanah Tabu novel by Anindita S. Thayf. This study uses two data collection techniques, namely the technique of reading notes and the technique of library research. The reading technique is a technique for giving signs and notes by reading the entire text. Meanwhile, the technique of library study is a technique that seeks and examines various books as library material as a source of written data. This study resulted in conclusions regarding: 1) Womens destiny is an intentional thing by nature (irreversible). However, the community also creates womens destiny based on community activities through individual awareness. Women can change the destiny created by society through their willingness to try. 2) Throughout history men created a rule for women who bound their lives. Womens lives are created by men for personal and group interests. So that women are not infrequently traumatized by their past. Women must rise from the deterioration of their past so as not to be under the man who shook it. 3) Myths in women are created by society based on experience and facts. Then came the idea that was believed by most women. Myth is something that is attached to women to reduce their freedom. Women do not have to accept things that are attached to them but need to be explained according to reasoning.Keywords: novel tanah tabu, existensialist feminism, position of women, women.
NARASI REALISME MAGIS DALAM NOVEL PUYA KE PUYA KARYA FAISAL ODDANG: KONSEP KARAKTERISTIK REALISME MAGIS WENDY B. FARIS AMBAR SARI, RENNY
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji narasi realisme magis yang ada dalam novel Puya ke Puya. Realisme magis merupakan sebuah aliran karya sastra yang merepresentasikan kembali magis berdasarkan kepercayaan tradisional dalam dunia modern. Sebuah karya sastra yang memiliki karakteristik tersebut dapat dikatakan sebagai karya realisme magis. Novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang memuat lokalitas Tana Toraja dan memiliki kecenderungan sebagai karya sastra beraliran realisme magis. Dalam hal ini, digunakan teori realisme magis yang dikemukakan oleh Wendy B. Faris, yang terdiri atas the ireeducible element, phenomenal world, unsettling doubts, merging realism, dan disruption of time, space an identity. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kelima unsur realisme magis tersebut dalam novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang, serta bagaimana narasi realisme magis yang dibentuk berdasarkan kelima unsur tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif-mimetik, yakni pendekatan yang mengutamakan penelitian berdasarkan teks sastra itu sendiri dan menggunakan teks-teks pendukung untuk menunjang data utama. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca catat, sementara teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskripsi analisis yakni yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disertai dengan analisis data yang ada. Hasil analisis karakteristik realisme magis pada tiap elemen menunjukkan bahwa novel ini memenuhi kriteria sebagai karya realisme magis sebab kelima karakteristik tersebut dapat ditemukan dalam novel. Novel Puya ke Puya memiliki kadar realisme magis yang cukup kuat yang ditunjukkan melalui struktur naratif dari tokoh riil dan tokoh magis serta peristiwa riil dan peristiwa magis dalam novel yang berimbang. Selain itu, realisme magis yang ternarasikan dalam novel juga menunjukkan perlawanan terhadap sifat-sifat negatif yang dibawa oleh modernisme. Kata Kunci: realisme magis, Puya ke Puya, tradisional, modern
NALURI KEMATIAN DALAM KUMPULAN PUISI GHIRAH GATHA KARYA LAN FANG: KAJIAN PUITIKA ROMAN JAKOBSON ARUM NING PALUPI, NINDY
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan judul ?Naluri Kematian dalam Kumpulan Puisi Ghiah Ghata karya Lan Fang: Kajian Puitika Roman Jacobson? ini bertujuan untuk menemukan puitika teks khususnya dalam kaitannya dengan konsep naluri kematian. Puitika naluri kematian yang dimaksud diperoleh dengan mengungkap struktur puisi khususnya bunyi , struktur kalimat, dan makna. Penelitian ini memanfaatkan teori puitika yang diuraikan oleh Roman Jakobson. Dalam terori tersebut terdapat konsep struktur keseimbangan yanng memuat penguraian puisi melalui tiga aspek yaitu tataran fonologi, tataran sintaksis, dan tataran semantik. Masing-masing konsep mengarahkan pada pengungkapan makna bunyi, struktur dan metafor teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, pada Tataran Fonologi memunculkan energi spiritual dan kesakralan dalam puisi. Kedua, tataran Sintaksis kemunculan subjek lirik berupa subjek Aku membuat narasi puisi lebih jelas dan predikat yang mengandung makna gelap dengan imaji yang menakutkan sekaligus sakral. Ketiga, pada tataran Semantik kemunculan metafor dibagi dalam lima metonimi yaitu kerinduan, kematian, keputusasaan, ketuhanan dan hasrat kematian. Dari hasil analisis metafor yang mengandung metonimi Ketuhanan muncul paling banyak disusul kengerian, kerinduan, hasrat kematian dan keputusasaan. Kemunculan metafor ketuhanan yang mendominasi puisi membuat puisi memiliki imaji yang sakral. Kata Kunci: naluri, kematian, puitika.
VARIASI LEKSIKAL ISOLEK USING KABUPATEN JEMBER DENGAN KABUPATEN BANYUWANGI MAJID, ABDUL
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji variasi leksikal isolek Using Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi pada penutur dewasa dan anak. Kajian yang digunakan adalah dialektologi yag meliputi dialek geogafis dan dialek sosial. Persebaran bahasa Using di Jember terdapat di beberapa daerah, salah satunya di Kecamatan Wuluhan dan Kecamatan Arjasa. Di Kabupaten Jember bahasa Using merupakan bahasa yang minoritas disamping bahasa Jawa dan Madura yang dipakai masyarakat Jember. Hal inilah yang ingin diteliti peneliti, tentang bagaimana variasi isolek yang terjadi di Jember dan Banyuwangi karena memiliki kondisi masyarakat yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis status kebahasaan isolek Using di Banyuwangi dan Jember, mendeskripsikan dan menganalisis variasi leksikal isolek Using penutur dewasa dan anak di Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Mendeskripiskan dan menganalisis leksikal pinjaman khusunya bahasa Indonesia yang terdapat pada isolek Using penutur dewasa dan anak di Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pancing, cakap semuka, rekam, dan catat dengan menggunakan intrumen 400 kosakata dasar. Sementara teknik analisis data yang digunakan adalah dialektometri. Hasil penelitian ini adalah status kebahasaan isolek Using di Banyuwangi dan Jember terdapat dua dialek yakni dialek Kemiren dan dialek Wuluhan Arjasa. Pada variasi leksikal isolek Using penutur dewasa dan anak di Kabupaten Jember dan Banyuwangi, penutur anak memiliki berian zero yang lebih banyak dibandingkan berian zero penutur dewasa. Hal ini merepresentasikan bahwa pada masing-masing DP mengalami penurunan penguasaan kosakata pada generasi muda. Selain itu leksikal pinjaman khususnya bahasa Indonesia lebih banyak pada penutur anak pada masing-masing DP. Sehingga dapat disimpulkan pemertahanan bahasa pada generasi ke generasi mengalami penurunan. Kata Kunci : dialektologi, isolek, dewasa, anak
MAKNA LIRIK LAGU DALAM ALBUM RUANG TUNGGU KARYA PAYUNG TEDUH: KAJIAN MICHEL RIFFATERRE SAADAH, KHOIRUS
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna lirik lagu dalam album Ruang Tunggu karya Payung Teduh dengan kajian semiotika Michel Riffaterre. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan mimetik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi kepustakaan dan simak catat. Pertama, menentukan makna lirik lagu menggunakan strata norma secara struktural, kemudian menentukan makna keseluruhan dengan perspektif semiotika Michel Riffaterre. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini secara keseluruhan adalah makna lirik lagu pada album Ruang Tunggu karya Payung teduh yang menggunakan bunyibunyi berat bersuara yang menggambarkan suasana kesedihan, kegundahan, kegelisahan dan tidak menyenangkan. Lirik lagu tersebut dihubungan dengan artikel pada media online untuk mempermudah menemukan makna keseluruhan. Lirik lagu dalam penelitian ini adalah album Ruang Tunggu yang merupakan album keempat karya Payung Teduh yang dirilis pada 19 Desember 2017. Album ini berisi sembilan lagu, yaitu Akad (sebagai lagu utama), Di Atas Meja, Selalu Muda, Mari Bercerita (feat Ichamalia), Muram, Puan Bermain Hujan, Sisa Kebahagiaan (feat Ichamalia), Kita Hanya Sebentar, dan Kerinduan. Lirik-lirik lagu pada album ini tidak secara langsung mengungkapkan lirik dengan bahasa yang lugas, tetapi menggantinya dengan bahasa yang penuh dengan simbol. Hubungan media online dan Semiotika Michel Riffaterre dalam bentuk Hipogram, Matriks, Model, dan Varian. Wujud yang disampaikan melalui lirik lagu pada album Ruang Tunggu karya Payung Teduh melalui lirik lagu secara keseluruhan menceritakan tentang kisah cinta yang terjadi pada pasangan dengan segala kesedihan, kegundahan, kegelisahan dan tidak menyenangkan dan kerinduan. Hal tersebut dimunculkan dalam lirik lagu yang ada pada album Ruang Tunggu karya Payung Teduh dengan memunculkan pertanyaan bagaimana makna lirik lagu pada album Ruang Tunggu karya Payung Teduh dan bagaimana makna keseluruhan dalam album Ruang Tunggu karya Payung Teduh menggunkan kajian Semiotika Michel Riffaterre. Kata Kunci: Makna, Lirik lagu, Riffaterre, Semiotika.AbstractThis research aims to describe the meaning of song lyrics in Ruang Tunggu by Payung Teduh?s album with semiotics study of Michel Riffaterre. This research?s type is qualitative descriptive with a mimetic approach. The data collection technique used in this research is library research techniques and note taking. First, determining the meaning of song lyrics using structural strata structurally, then determining the overall meaning with the semiotic study of Michel Riffaterre. The results found in this research as a whole are the meanings of the song lyrics on Ruang Tunggu by Payung Teduh that uses heavy voices that describe an atmosphere of sadness, anxiety, anxiety and unpleasantness. The lyrics of the song are related to articles on online media to make it easier to find the whole meaning. The song lyrics in this research, Ruang Tunggu album is the fourth album by Payung Teduh which was released on December 19, 2017. The album contains nine songs, namely Akad (as the main song), Di Atas Meja, Selalu Muda, Mari Bercerita (feat Ichamalia), Muram, Puan Bermain Hujan, Sisa Kebahagiaan (feat Ichamalia), Kita Hanya Sebentar, and Kerinduan. The song lyrics on this album do not directly reveal the lyrics in straightforward language, but replace them with a language full of symbols. Online media relations and Michel Riffaterre Semiotics in the form of hipograms, matrixes, models and variants. The form conveyed through the song lyrics on the album Ruang Tunggu by Payung Teduh through the song lyrics as a whole tells about the love story that happened to the couple with all sadness, anxiety, other anxiety, and unpleasant and longing. This was raised in the song lyrics on Ruang Tunggu by Payung Teduh by raising questions about the meaning of song lyrics on the Ruang Tunggu album by Payung Teduh and how the overall meaning in Ruang Tunggu by Payung Teduhs album uses the Michel Riffaterre semiotics study. Keywords: Meanings, song lyrics, Riffaterre, semiotic.
REPRESENTASI KEPERCAYAAN MASYARAKAT JAWA DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL (KAJIAN INTERPRETATIF SIMBOLIK CLIFFORD GEERTZ) DINDHA PERTIWI, AZISKA
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi adanya kebudayaan yang serta kepercayaan yang tumbuh pada masyarakat Jawa dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Kepercayaan serta kebudayaan berpengaruh dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat. Setiap upacara-upacara adat aupun sebagai simbol yang memiliki makna bagi kehidupan masyarakat Jawa. Penelitian ini mengkaji tentang Interpretatif simbolik Clifford Geertz berupa rencana-rencana, resep-resep, aturan-aturan, dan intruksi-intruksi yang terdapat di masyarakat Jawa dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Rencana-rencana yang ada di masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral yaitu, Rencana Perjodohan, Menjadi Imam Masjid Gedhe Kauman, dan Pendidikan Agama Sejak Dini. Resep-resep yang ada di masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral yaitu Slametan Yasinan, Mendoakan Arwah Orang Meninggal, Melayat. Aturan-aturan yang ada di masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral yaitu Upacara Ruwatan, Upacara Nyadran, Padusan, Upacara Sekaten, Upacara perkawinan, Sultan Sebagai Pemimpin Masyarakat, dan Panggonan dalam Masjid Gedhe Kauman. Intruksi-intruksi yang ada di masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral yaitu Memberikan sesaji, Kemenyan Sebagai Pelengkap Ibadah, Ramalan Jayabaya Pedoman Kehidupan Kata Kunci : Sang Pencerah, kebudayaan Jawa, dan interpretatif Simbolik Clifford Geertz Abstract This research is motivated by the existence of culture and the growing trust in Javanese society in the Sang Pencerah novel by Akmal Nasery Basral. Trust and culture have an effect on the life that is lived by the community. Every traditional ceremony is also a symbol that has meaning for the life of the Javanese people. This study examines the symbolic interpretation of Clifford Geertz in the form of plans, recipes, rules, and instructions contained in Javanese society in the novel Sang Pencerah by Akmal Nasery Basral. Plans that exist in Javanese society in Sang Pencerahs novel Akmal Nasery Basrals work, namely the Arrangement Plan, Becoming the Imam of the Gedhe Kauman Mosque, and Early Religious Education. Recipes that are in Javanese society in Sang Pencerahs novel Akmal Nasery Basrals work, Slametan Yasinan, Praying the Soul of the Dead, Melayat. The rules that exist in Javanese society in Sang Pencerah Novel Akmal Nasery Basrals work are Ruwatan Ceremony, Nyadran Ceremony, Padusan, Sekaten Ceremony, Marriage Ceremony, Sultan As Community Leader, and Panggonan in Gedhe Kauman Mosque. Instructions that exist in Javanese society in the Enlightening Novel of Akmal Nasery Basrals Work which is Giving offerings, Kemenyan As a Complementary Worship, Jayabaya Prediction Life Guidelines Keywords: Sang Pencerah Novel, Javanese culture, and the Symbolic interpretative of Clifford Geertz
NOVEL AROMA KARSA KARYA DEE LESTARI (KAJIAN EKOKRITIK GREG GARRARD) ARIFIYANI, FIKMA
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Novel Aroma Karsa menceritakan kisah tokoh Jati Wesi yang memiliki kemampuan istimewa pada penciuamannya. Kemampuan tersebut membawanya pada pengalaman yang berbeda dari berbagai jenis lingkungan. Selama proses mencari Puspa Karsa, Jati melalui berbagai jenis lingkungan dan menemui berbagai jenis tokoh serta hubungan mereka dengan lingkungan. Baik hubungan yang merugikan maupun yang menguntungkan. Hubungan baik yang dibangun manusia dengan alam, menghasilkan nilai-nilai yang sesuai dengan kearifan ekologis. Berdasarkan fenomena yang terdapat dalam novel Aroma Karsa, diambil beberapa persoalan yakni mengenai (1) bagaimana peran yang dimainkan oleh latar fisik (lingkungan) dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari, (2) bagaimana hubungan antara manusia dengan latar fisik dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari, dan (3) bagaimana nilai-nilai yang konsisten dengan kearifan ekologis dalam dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Persoalan-persoalan tersebut membahas mengenai lingkungan, hubungan antara manusia dengan lingkungan, serta nilai-nilai yang sesuai dengan kearifan ekologis di lingkungan mereka. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Ekokritik oleh Greg Garrard. Ekokritik adalah studi tentang lingkungan, tepatnya pada hubungan antara sastra dan lingkungan. Yaitu latar fisik yang berpengaruh besar terhadap kritik lingkungan dalam suatu karya sastra. Selain latar fisik atau lingkungan, ecocriticism oleh Garrard menitikberatkan pada nilai-nilai kebudayaan yang konsisten dengan kearifan ekologis. Dengan demikian, tujuan utama teori ini adalah untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Simpulan pada penelitian terhadap novel Aroma Karsa karya Dee Lestari ini adalah, (1) Latar fisik (lingkungan) dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari memainkan peran dengan membangun suasana dalam narasi, berperan sebagai tempat hidup, tempat mencari makan, obat, senjata dan/atau penunjang kebutuhan sehari-hari bagi tokoh dalam novel, (2) hubungan antara manusia dengan latar fisik dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari ditunjukkan pada hasil tindakan manusia yang kemudian berpengaruh terhadap lingkungan, baik pengaruh buruk maupun baik, dan (3) nilai-nilai yang konsisten dengan kearifan ekologis dalam dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari ditunjukkan pada kehidupan penduduk Desa Dwarapala yang sepenuhnya memanfaatkan alam untuk menunjang kehidupan mereka. Kata Kunci: Ekokritik, Peran, Hubungan, Kearifan Ekologis Abstract Aroma Karsa?s novel tells the story of the character Jati Wesi who has special abilities in his enlightenment. This ability brings him to different experiences from various types of environments. During the process of searching for Puspa Karsa, Jati goes through various types of environments and meets various types of figures and their relationships with the environment. Both harmful or beneficial relationship. Good relations built by humans and nature, produce values that are in accordance with ecological wisdom. Based on the phenomenon contained in the novel Aroma Karsa, several issues were taken, namely (1) how the role played by the physical setting (environment) in Dee Lestari?s Aroma Karsa novel, (2) how the relationships between humans and physical settings in the Dee Lestari?s Aroma Karsa novel, and (3) how consintent with the ecological wisdom in the novel Aroma Karsa by Dee Lestari. These issues discuss the environment, the relationship between humans and the environment, and values that are in accordance with ecological wisdom in their environment. The theory used in this study is Ekokritik by Greg Garrard. Ekokritik is the study of the environment, precisely on the relationship between literature and the environment. That is a physical setting that has a major influence on environmental criticism in a literary work. In addition to physical or environmental settings, Garrards ecocriticism focuses on cultural values ??that are consistent with ecological wisdom. Thus, the main aim of this theory is to increase environmental awareness and improve human relations with nature. The conclusions of the research on Dee Lestaris Aroma Karsa novel are: (1) The physical (environmental) setting in Dee Lestaris Aroma Karsa novel plays a role by building the atmosphere in the narrative, acting as a place to live, food, medicine, weapons and / or supporting the daily needs of the characters in the novel, (2) the relationship between humans and the physical setting in Dee Lestaris Aroma Karsa novel is shown in the results of human actions which then affect the environment, both bad and good influences, and (3) values values ??that are consistent with the ecological wisdom in the novel Aroma Karsa by Dee Lestari are shown in the lives of the residents of Dwarapala Village who fully utilize nature to support their lives. Keywords: Ecocritical, Role, Relationsip, Ecological Wisdom
VARIASI LEKSIKAL ISOLEK MADURA DI KABUPATEN PROBOLINGGO DAN SUMENEP MERY ASTUTI, DIANA
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa Madura di Kabupaten Probolinggo terus menerus berinovasi dan terpengaruh oleh keadaan geografis sekitarnya. Dengan begitu perlu diketahui berapa banyak variasi leksikal yang terjadi pada isolek Madura di Kabupaten Probolinggo dengan bahasa Madura asli yang terletak di Kabupaten Sumenep sebagai daerah relik. Penelitian ini menggunakan metode cakap dan pupuan lapangan dengan tujuan menghasilkan variasi leksikal serta pemetaan, status variasi, dan kosakata bahasa Indonesia yang dipinjam oleh penutur isolek Madura di Kabupaten Probolinggo dan Sumenep. Terdapat 3 daerah pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Desa Aeng Merah (DP1), Desa Tiris (DP2), dan Desa Kedungsari (DP3). Metode analisis yang digunakan yaitu metode padan, dialektometri, dan berkas isoglos, yang kemudian menunjukkan adanya variasi leksikal sebanyak 116 glos, variasi fonologis 144 glos, serta tanpa beda 140 glos. Menurut penghitungan dialektometri, status variasi pada DP 1:2 sebesar 72,4% yang dianggap sebagai perbedaan dialek. Pada DP 1:3 sebesar 76,7% yang juga dianggap sebagai perbedaan dialek. Sedangkan status variasi pada DP 2:3 sebesar 29,3% yang dianggap sebagai perbedaan wicara. Selanjutnya ditemukan sebanyak 12 glos zero atau glos yang tidak ada berian, serta 12 glos kosakata bahasa Indonesia yang dipinjam dan dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh penutur isolek Madura di Kabupaten Probolinggo dan Sumenep. Kata kunci: variasi leksikal, pemetaan, isolek Madura. Madura?s language in Probolinggo Regency continues to innovate and affected by the surrounding geographical conditions. Therefore, need to know how many lexical variations that happened to Madura isolect in Probolinggo Regency with original Madura?s language which is located in Sumenep Regency as a relic locations. This thesis uses data source based on daily conversation and study research in particular location with purpose of create a good description of lexical variation with mapping, status variation, and Indonesian vocabulary which borrowed by speaker of Madura?s isolect in Probolinggo and Sumenep Regency. There are 3 observation areas used in this study, namely is Aeng Merah village (DP1), Tiris village (DP2), and Kedungsari village (DP3). Research method used is equality, dialectometry, and isogloss system, then showed that there were 116 gloss lexical variations, 144 phonological variations, and 140 gloss without difference. Then 116 gloss of these lexical variations mapped and shows the thickening of isogloss in DP 1, meaning that there is a difference between DP 1:2 and DP 1:3. According to dialectometric calculations, status variation at DP 1:2 amounting 72,4%, which is considered a dialect difference. In DP 1:3 amounting 76,7% which is also considered a dialect difference. While the status variation at DP 2:3 amounting 29,3% which is considered a parler difference. Then found 12 zero gloss or gloss which doesn?t exist and 12 gloss of Indonesian vocabulary that borrowed and used as everyday language by speakers of Madura?s isolect in Probolinggo and Sumenep Regency.Keywords: lexical variation, mapping, Madura?s isolect.