cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sapala
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
VARIASI DIALEKTAL DI KABUPATEN JEMBER DAN BANYUWANGI BAGIAN SELATAN HASBULLAH, IZUR
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK VARIASI DIALEKTAL DI KABUPATEN JEMBER DAN BANYUWANGI BAGIAN SELATAN Nama : Izur Hasbullah NIM : 15020144018 Prodi/Jurusan : S1 Sastra Indonesia Fakultas : Bahasa dan Seni Institusi : Universitas Negeri Surabaya Dosen Pembimbing : Dr. Agusniar Dian Savitri, M.Pd. Tahun : 2019 Kata kunci: dialektologi, dialektal, variasi leksikal Penelitian ini mengkaji variasi dialektal di Kabupaten Jember dan Banyuwangi bagian selatan. Hal tersebut di latarbelakangi oleh keadaan demografi di daerah setempat, seperti DP 1 yang berada di Kecamatan Kencong terdapat masyarakat asli Madura, DP 2 yang berada di Kecamatan Wuluhan terdapat Masyarakat Using dan Madura, DP 3 yang berada di Kecamatan Pesanggaran dan DP 4 yang berada di Kecamatan Tegal Dlimo merupakan masyarakat mayoritas Jawa. Kondisi demikian akan menimbulkan variasi dialektal ketika suku Jawa dan Madura bertemu hingga berkomunikasi. Begitu pula suku Jawa dengan Using ketika berkomunikasi. Tujuan penelitian ini adalah; a) Mendeskripsikan status kebahasaan di Kabupaten Jember dan Banyuwangi bagian selatan; b) Mendeskripsikan variasi leksikal di Kabupaten Jember dan Banyuwangi bagian selatan; c) Mendeskripiskan distribusi variasi leksikal di Kabupaten Jember dan Banyuwangi bagian selatan. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penelitian ini menggunakan metode cakap dan metode simak secara bersamaan sebagai metode pengumpulan data. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pemancingan atau elisitasi, teknik cakap semuka, teknik catat, dan teknik rekam. Instrumen pengungmpulan data berupa 400 daftar tanyaan dan human instrument. Metode analisis data penelitian ini menggunakan metode padan, metode berkas isoglos dan metode dialektometri. Serta digunakan peta peraga sebagai instrumen analisis data. Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian ini adalah; a) terdapat tiga dialek, yaitu dialek Jawa Timuran yang berada di Kencong, dialek Using yang berada di Wuluhan, dan dialek Jawa Tengahan yang berada di Pesanggaran-Tegal Dlimo, serta dua subdialek yakni subdialek Pesanggaran dan subdialek Tegal Dlimo; b) terdapat empat jenis variasi leksikal yang terdapat di Kabupaten Jember dan Banyuwangi bagian selatan yakni, variasi dengan ^, variasi dengan Bahasa Madura, variasi dengan Bahasa Indonesia, variasi dengan Dialek Using; c) Berdasarkan akumulasi dari torehan berkas isoglos dari semua leksikal yang berjumlah 124, diperoleh hasil daerah-daerah yang memiliki penebalan garis isoglos, hal itu terjadi pada DP 1, dan 2. Hal ini mendukung perhitungan dialektometri yang menyatakan bahwasannya DP 1 merupakan dialek yang berbeda dengan DP 2, dan DP 3&4, juga DP 2 merupakan dialek yang berbeda dengan DP 3&4. ABSTRACT DIALECTAL VARIATIONS IN JEMBER AND BANYUWANGI DISTRICT, SOUTH PART Name : Izur Hasbullah NIM : 15020144018 Departemen : S1 Indonesian Litterature Faculty : Language and Art Advisor : Dr. Agusniar Dian Savitri, M.Pd Year : 2019 Keywords: dialectology, dialectal, lexical variation This study examines dialectal variation in the southern part of Jember and Banyuwangi districts. This is in the background of the demographic conditions in the local area, such as DP 1 in Kencong Subdistrict, there are indigenous Madurese, DP 2 which is in Wuluhan District, there are Communities of Using and Madura, DP 3 which are in Pesanggaran Subdistrict and DP 4 in Tegal Dlimo District is a Javanese majority community. Such conditions will lead to dialectal variation when the Javanese and Madurese meet until they communicate. Similarly, the Javanese tribe with Using when communicating. The purpose of this study is; a) Describe linguistic status in the southern part of Jember and Banyuwangi Regencies; b) Describe lexical variations in the southern part of Jember and Banyuwangi districts; c) Describe the distribution of lexical variation in the southern part of Jember and Banyuwangi. To achieve the objectives of the study, this study uses competent methods and methods of referencing simultaneously as a method of data collection. While the data collection techniques in this study were fishing or elicitation techniques, proficient techniques, note-taking techniques, and recording techniques. Instruments for collecting data in the form of 400 questionnaires and human instruments. The method of data analysis in this study uses the method of matching, isogloss file method and dialectometry method. As well as display maps as an instrument of data analysis. Based on the formulation of the problem, the results of this study are; a) there are three dialects, namely the East Javanese dialect in Kencong, the Using dialect in Wuluhan, and the Middle Javanese dialect that is in Pesanggaran-Tegal Dlimo, and two sub-dialects namely the Pesanggaran subdialek and the Tegal Dlimo sub-dialect; b) there are four types of lexical variations found in Jember and southern Banyuwangi, namely, variations with ^, variations with Madura, variations with Indonesian, variations with Dialect Using; c) Based on the accumulation of isogloss beam incisions from all lexicals totaling 124, the results of regions that have thickening of the isogloss line, it occurs in DPs 1, and 2. This supports dialectometric calculations which state that DP 1 is a different dialect with DP 2 and DP 3 & 4, also DP 2 is a different dialect than DP 3 & 4.
IDENTITAS HOMOSEKSUAL DALAM NOVEL TIBA SEBELUM BERANGKAT KARYA FAISAL ODDANG (KAJIAN TRORI QUEER JUDITH BUTLER) AYU WULANDARI, RETNO
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakNovel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang memiliki kisah dengan topik sensitif karena menceritakan pembantaian bissu oleh tentara islam dengan tokoh-tokoh homoseksual. Penelitian ini berpusat pada tokoh gay yang mengalami perubahan identitas karena dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan identitas yang tidak tetap tersebut dibahas dalam teori queer Butler yang menyatakan setiap identitas bersifat inkoheren dan dapat berubah karena konstruksi sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas homoseksual yang mengalami perubahan, dan perubahan identitas tersebut dapat diketahi melalui sebuah tindakan atau performa. Sesuai apa yang dijelaskan dalam teori Butler, performativitas yang dapat diteliti yaitu performativitas penampilan dan fisik, performativitas perbincangan homoseksual, dan performatifitas aktivitas seksual tokoh gay. Dalam terori tersebut terdapat konsep performa atau tindakan yang menghasilkan identitas yang asli. Performa mencangkup tindakan, peran, perilaku, kata, dan hasrat yang merupakan bentuk dari tompangan sosial yang terealisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, pada performatifitas penampilan dan fisik menampakkan jika seorang gay tidak harus berperilaku dan berpakaian feminim. Kedua, performativitas perbincangan gay yang sadar dan mengaku akan identitasnya kepada orang lain. Pengakuan tersebut dikatakan pada orang yang mereka percaya dan bisa menerima keberadaan mereka, termasuk pasangan gay mereka. Ketiga, performativitas aktivitas seksual pasangan gay terjadi dan terealisasikan, ataupun hanya hasrat yang menjadi angan-angan. Dari hasil analisis performativitas identitas tersebut, tindakan atau performa dipengaruhi oleh lingkungan, terjadi secara berkala dan terulaang terus menerus, yang kemudian membentuk identitas gender pada masing-masing tokoh.Kata Kunci: Identitas, homoseksual, performativitas. Abstract Novel Tiba Sebelum Berangkat by Faisal Oddang has a story on a sensitive topic because of the story of the bissu massacre by Islamic soldiers with democratic figures. This research focuses on gay leaders who change their identity because they use the environment. Butler who declared every identity as incoherent and could change because of his social construction. This study aims to determine the identity associated with change, and identity changes that can be known through an action or performance. In accordance with what is discussed in Butlers theory, performativity that can be discussed is the appearance and physical performance, homosexual conversation performativity, and the performance activities of the gay characters section. In this theory needed the concept of performance or action that produces a genuine identity. Performance includes actions, roles, behaviors, words, and desires which are forms of realized social strikes. The results of the study show the fact, on the appearance of physical appearance and reveal if a gay person does not have to behave and dress feminine. Second, performativity of gay conversation that is conscious and claims to be identified with others. This confession is approved by people they trust and can accept, including their gay partners. Third, the gay couples sexy activities take place and are realized, or just desires are wishful thinking. The analysis shows that the identity, actions or performance carried out by the environment occur regularly and continuously, which then creates a gender identity in each character. Keywords: Identity, Homoseks, Performative.
DEKONSTRUKSI SIMBOLIK PADA WACANA HUMOR WAKTU INDONESIA BERCANDA (KAJIAN PRAGMASEMANTIK) SYAUQI ARAFAT, AGEL
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) pemaknaan simbolik dari suatu simbol pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv, (2) bentuk dekonstruksi simbolik pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv, dan (3) representasi imaji dari suatu simbol pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif. Hal tersebut disebabkan dalam penelitian ini mendeskripsikan serta menjelaskan data yang mengandung unsur dekonstruksi pada suatu simbol baik berupa kata, frasa maupun kalimat yang terdapat dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan dan bersifat pragmatik karena alat penentu yang digunakan dalam penelitian ini adalah mitra wicara atau mitra tutur. Metode padan pragmatik adalah metode analisis yang dapat mengganti dan membandingkan antara objek penelitian dengan objek lain dengan ketentuan bahwa alat pembanding tersebut di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian Bahasa yang bersangkutan yakni di luar objek data penelitian wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diperoleh simpulan bahwa Pemaknaan struktural, bentuk tuturan ambiguitas, pelesapan fonem, bentuk dekonstuksi simbolik, dan bentuk representasi imaji merupakan komponen yang saling terkait dalam Waktu Indonesia Bercanda sehingga keberadaan komponen-komponen tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam memaknai makna simbol yang diujarkan penutur. Suatu tuturan dapat dianggap lucu ketika dalam tuturan tersebut terdapat unsur humor atau unsur ambigu yang mampu membuat pendengar maupun penontonnya tertawa saat memahami maksud sebenarnya dari tuturan tersebut. Bentuk ambiguitas tidak semerta-merta muncul tanpa adanya suatu alasan yang mendasarinya baik dari segi penggunaan dan penyebutannya maupun lainnya yang mampu membuat kegandaan makna dari simbol yang diujarkan penutur. Setiap tuturan yang memiliki unsur humor ataupun juga unsur ambigu akan menciptakan kelucuan ketika baik makna, maksud, maupun imaji dari simbol tersebut telah dirombak oleh penutur sehingga dapat mengakibatkan keberhasilan penutur dalam mengecoh para penutur dengan ambiguitas tersebut. Kata Kunci : Pemaknaan Simbolik, Tuturan Ambiguitas, Bentuk Dekonstruksi Simbolik, Representasi Imaji.
DEKONSTRUKSI SIMBOLIK PADA WACANA HUMOR WAKTU INDONESIA BERCANDA (KAJIAN PRAGMASEMANTIK) SYAUQI ARAFAT, AGEL
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) pemaknaan simbolik dari suatu simbol pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv, (2) bentuk dekonstruksi simbolik pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv, dan (3) representasi imaji dari suatu simbol pada wacana humor Cak Lontong dalam acara komedi Waktu Indonesia Bercanda Net Tv. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif. Hal tersebut disebabkan dalam penelitian ini mendeskripsikan serta menjelaskan data yang mengandung unsur dekonstruksi pada suatu simbol baik berupa kata, frasa maupun kalimat yang terdapat dalam wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan dan bersifat pragmatik karena alat penentu yang digunakan dalam penelitian ini adalah mitra wicara atau mitra tutur. Metode padan pragmatik adalah metode analisis yang dapat mengganti dan membandingkan antara objek penelitian dengan objek lain dengan ketentuan bahwa alat pembanding tersebut di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian Bahasa yang bersangkutan yakni di luar objek data penelitian wacana humor Waktu Indonesia Bercanda. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diperoleh simpulan bahwa Pemaknaan struktural, bentuk tuturan ambiguitas, pelesapan fonem, bentuk dekonstuksi simbolik, dan bentuk representasi imaji merupakan komponen yang saling terkait dalam Waktu Indonesia Bercanda sehingga keberadaan komponen-komponen tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam memaknai makna simbol yang diujarkan penutur. Suatu tuturan dapat dianggap lucu ketika dalam tuturan tersebut terdapat unsur humor atau unsur ambigu yang mampu membuat pendengar maupun penontonnya tertawa saat memahami maksud sebenarnya dari tuturan tersebut. Bentuk ambiguitas tidak semerta-merta muncul tanpa adanya suatu alasan yang mendasarinya baik dari segi penggunaan dan penyebutannya maupun lainnya yang mampu membuat kegandaan makna dari simbol yang diujarkan penutur. Setiap tuturan yang memiliki unsur humor ataupun juga unsur ambigu akan menciptakan kelucuan ketika baik makna, maksud, maupun imaji dari simbol tersebut telah dirombak oleh penutur sehingga dapat mengakibatkan keberhasilan penutur dalam mengecoh para penutur dengan ambiguitas tersebut. Kata Kunci : Pemaknaan Simbolik, Tuturan Ambiguitas, Bentuk Dekonstruksi Simbolik, Representasi Imaji.
KEBUTUHAN NEUROTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL-BAYQUNIE MISS RIDHO, NANDA
Jurnal Sapala Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 edisi Yudisium
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie merupakan novel yang menceritakan perjalanan pemimpin bissu yang bernama Saidi. Keberadaan Saidi dimasa kecilnya, ditentang oleh ayahnya karena ia seorang calabai. Berbagai hinaan dan penderitaan dilaluimya, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi merantau dan meninggalkan kedua orang tuanya. Pertemuannya dengan laki-laki bersurban putih di dalam mimpi merupakan langkahnya untuk pergi ke Segeri untuk menemukan jati dirinya menjadi bissu. Penelitian ini bertujuan untuk membahas serta mengetahui bagaimana jenis kebutuhan neurotik tokoh utama dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie dan memaparkan bagaimana kebutuhan neurotik tersebut mempengaruhi sikap Saidi yang disebut dengan kecenderungan neurotik. Penelitian ini menggunakan teori psikoanalisis sosial Karen Horney yang mengungkapkan teori ini dibentuk berdasarkan asumsi bahwa kondisi sosial dan kultural terutama masa kanak-kanak sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian seseorang. Penelitian ini menggunakan teknik dokumentatif untuk mengumpulkan data dengan melakukan data reduction atau data selection, sedangkan metode analisis datanya menggunakan metode analisis dekriptif. Langkah-langkah analisis yang digunakan adalah baca, catat, menggarisbawahi serta pengelompokan data ke dalam tabel data. Hasil dari penganalisisan dalam penelitian ini menyatakan rincian jenis kebutuhan neurotik yang digunakan dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie adalah: (1) kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan diri berjumlah 8 data, kebutuhan neurotik akan rekan yang kuat berjumlah 6 data, kebutuhan neurotik untuk membatasi hidupnya dalam lingkup yang sempit berjumlah 3 data, kebutuhan neurotik akan kekuasaan berjumlah 2 data, kebutuhan neurotik akan penghargaan sosial atau gengsi berjumlah 7 data, kebutuhan neurotik akan ambisi dan pencapaian pribadi berjumlah 4 data dan kebutuhan neurotik akan kemandirian dan kebebasan berjumlah 3 data. (2) Proses perubahan sikap yang disebut dengan kecenderungan neurotik pada tokoh utama dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie menyatakan rinciannya sebagai berikut: mendekati orang lain berjumlah 3 data, dan menjaui orang berjumlah 2 data. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data yang menunjukkan bahwa kebutuhan neurotik tokoh utama dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie sudah terpenuhi dengan cukup baik. Kata Kunci : Calabai, kebutuhan neurotik, kecenderungan neurotik.
DIASPORA DALAM NOVEL TANAH SEBERANG KARYA KURNIA GUSTI SAWIJI: PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA SUKMA MEGA MARTHA, IVAN
Jurnal Sapala Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, 1) bentuk diaspora dalam novel Tanah Seberang karya Kurnia Gusti Sawiji, 2) faktor penyebab seseorang menjadi diaspora dalam novel Tanah Seberang karya Kurnia Gusti Sawiji, dan 3) peranan diaspora selama di luar negeri dalam novel Tanah Seberang karya Kurnia Gusti Sawiji. Teori yang digunakan ialah teori diaspora James Clifford dengan perspektif kajian budaya. Teori tersebut membagi diaspora dalam beberapa bagian yakni bentuk, penyebab, dan peran. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan data yang berhubungan dengan unit-unit rumusan masalah, sedangkan pendekatannya adalah objektif. Sumber data menggunakan novel Tanah Seberang karya Kurnia Gusti Sawiji dengan data yakni unit-unit teks yang berhubungan degan rumusan masalah. Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentatif, dan analisis data menggunakan cara kerja hermeneutik. Untuk keabsahan data penelitian menggunakan cara validitas beberapa tahap. Hasil penelitian menunjukkan 3 pokok yakni, 1) bentuk diaspora dalam novel Tanah Seberang karya Kurnia Gusti Sawiji berupa perilaku hasil perpaduan dua budaya yakni budaya negara asal dan negara kedua mereka. Perilaku tersebut berupa pandangan hidup, gaya hidup, kenangan masa lalu, alienasi, harapan-harapan, kewarganegaraan, penderitaan, dan keinginan untuk kembali ke tanah air. 2) faktor penyebab menjadi diaspora ialah dilandasi alasan ekonomi atau pekerjaan, hubungan cinta, serta faktor pendidikan, dan 3) peranan diaspora ketika berada di luar negeri ialah mencangkup bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi baik membantu sesama diaspora atau berbakti pada negeri.
NILAI FILOSOFIS PADA PENAMAAN MOTIF BATIK SURABAYA DALAM KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI NUR FARIDA, DEVI
Jurnal Sapala Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Batik Surabaya merupakan kebudayaan yang belum dikenal oleh kebanyakan orang. Kebudayaan merupakan bagian dari bahasa yang dalam ini berwujud penamaan sebagai pembeda batik yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk lingual, makna referensial, dan nilai filosofis pada penamaan motif batik Surabaya dalam kajian Linguistik Antropologi. Bentuk lingual yang digunakan berupa afiksasi, reduplikasi, dan akronimisasi. Bentuk berdasarkan asal-usulnya berupa nama tempat, tokoh, anggota tubuh, aktivitas, tumbuhan, dan hewan. Makna referensial yang digunakan yaitu berdasarkan segitiga makna Ogden dan Richards yang memiliki kategori budaya, sosial, sejarah, alam, religi, dan ekonomi. Nilai filosofis yang digunakan yaitu nilai filosofis moral, adat/tradisi, pendidikan sejarah, dan kerohanian. Sumber data penelitian ini yaitu primer dan sekunder. Data penelitian yang digunakan yaitu daftar nama motif batik Surabaya yang diperoleh dari rumah batik Te`ye`ng (Benowo), rumah batik Bayu Sumilir (Ketintang Madya III), dan rumah batik Seru Mangrove (Sidoarjo). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu simak dan cakap dengan teknik catat, rekam, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode padan intralingual dan ekstralingual. Dalam penelitian ini ditemukan bentuk lingual berupa afiksasi, reduplikasi, frasa preposisi, klausa, dan akronimisasi. Makna referensial yang diperoleh yaitu makna referensial budaya, sosial, sejarah, ekonomi, religi, dan alam. Nilai filosofis yang diperoleh yaitu nilai filosofis moral, adat/tradisi, pendidikan sejarah, dan kerohanian. Dalam penelitian ini, frasa preposisi, klausa, dan akronimisasi menjadi bentuk baru dalam dunia penamaan perbatikan. Makna referensial yang mendominasi batik Surabaya adalah makna referensial alam, dan di dalamnya terkandung nilai filosofis moral. Kata Kunci: penamaan, motif batik, linguistik antropologi Abstract Batik Surabaya is a culture that is not yet known by most people. Culture is part of the language which is in the form of naming as a differentiator of batik from one another. Therefore, this study aims to explain the lingual form, referential meaning, and philosophical value in naming Surabaya batik motifs in Anthropology Linguistic studies. The lingual form used is affixation, reduplication, and accronization. Form based on its origin in the form of place names, figures, limbs, activities, plants, and animals. The data sources of this research are primary and secondary. The research data used were a list of Surabaya batik motifs obtained from the Teye`ng (Benowo) batik house, the Bayu Sumilir (Ketintang Madya III) batik house, and the Seru Mangrove batik house (Sidoarjo). Data collection methods used are listening and competent with note taking, recording, and documentation techniques. Data analysis techniques using intralingual and extralingual equivalent methods. In this study lingual forms were found in the form of affixation, reduplication, prepositional phrases, clauses, and accronization. The referential meaning that is obtained is the referential meaning of culture, social, history, economy, religion, and nature. Philosophical values ??obtained are moral philosophical values, customs / traditions, historical education, and spirituality. The phrase preposition, clause, and acronymization become a new form in the world of batik naming. Keywords: naming, batik motifs, anthropological linguistics
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM NOVEL AROMA KARSA KARYA DEE LESTARI KAJIAN SEMIOLOGI ROLAND BARTHES MARIFAH, NADIATUL
Jurnal Sapala Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul Representasi Perempuan dalam Novel Aroma Karsa karya Dee Lestari Kajian: Semiologi Roland Barthes ini bertujuan untuk mengetahui representasi perempuan modern melalui beberapa tokoh perempuan pada novel dengan menggunakan analisis semiologi Roland Barthes dengan dua tahap yaitu tahapan denotasi dan konotasi di dalamnya. Dari beberapa data kutipan novel tersebut ditemukan 34 kutipan yang peneliti anggap lebih kuat menggambarkan karakter perempuan modern dalam Novel Aroma Karsa melalui beberapa tokoh perempuan. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan analisis semiologi Roland Barthes dengan signifikasi dua tahap, yaitu secara tataran denotasi dan secara tataran konotasi. Melalui analisis tersebut dapat diketahui hasil representasi perempuan adalah cerdas, pemberani, pekerja keras dan kuat. Kata Kunci : Representasi, Perempuan, Semiologi Abstract The research entitled Representation of Women in the Novel Aroma Karsa by Dee Lestari Study: Semiology of Roland Barthes aims to determine the representation of modern women through several female figures in the novel by using Roland Barthess semiological analysis with two stages: denotation and connotation stages in it. From some of the novels excerpt data found 34 quotations which researchers consider more strongly describe the character of modern women in the Novel Aroma Karsa through several female figures. The research method used is a qualitative method with Roland Barthess semiological analysis with the significance of two stages, namely at the level of denotation and at the level of connotation. Through this analysis, it can be seen that women are intelligent, brave, hardworking and strong. Keywords:Representation,Women,Semiology
SIMBOLISASI DALAM NASKAH KITAB SEJATINE MENUNGSO: KAJIAN SEMIOSIS UMBERTO ECO AYUNINGTYAS, DEWI
Jurnal Sapala Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Naskah lama merupakan bukti peradaban Nusantara terdahulu, di dalamnya memuat ajaran adiluhung yang masih relevan bagi masa sekarang. Kehadiran naskah lama yang lebih awal dari karya sastra modern menyimpan berbagai ilmu pengetahuan dan ajaran-ajaran yang saat ini sulit ditemukan. Dengan demikian, diperlukan upaya pelestarian naskah lama nusantara. Salah satu upaya pelestarian naskah lama yakni melalui penelitian ilmiah. Naskah yang digunakan sebagai objek penelitian, yaitu naskah Kitab Sejatine Menungso. Penelitian terhadap naskah Kitab Sejatine Menungso sangat penting dilakukan untuk mengungkapkan makna ajaran dalam simbol-simbol. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk menelaah (a) bagaimanakah kode dalam naskah Kitab Sejatine Menungso? (b) bagaimanakah signifikasi dan atau komunikasi yang dihasilkan dari kode dalam naskah Kitab Sejatine Menungso? (c) bagaimanakah makna ajaran yang terkandung dalam naskah Kitab Sejatine Menungso? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kode, signifikasi dan atau komunikasi, makna ajaran yang terkandung dalam naskah Kitab Sejatine Menungso. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan sumber data penelitian yaitu naskah Kitab Sejatine Menungso. Data penelitian ini adalah simbol, kata, frasa, klausa, dan kalimat yang merupakan kode, signifikasi dan atau komunikasi, dan makna ajaran naskah Kitab Sejatine Menungso. Teknik pengumpulan data dengan studi lapangan dan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik hermenutika. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, pertama kode dalam Naskah Kitab Sejatine Menungso sepuluh (10) kode. Kedua, signifikasi dan atau komunikasi dalam naskah Kitab Sejatine Menungso, yakni:(1)hubungan erat Allah, Muhammad, dan Adam; (2) wahyu Allah kepada Nabi Muhammad yakni perintah salat; (3) manusia memiliki badan sempurna dari makhluk lainnya dan berisi ruh atas kehendakNya; (4) tingkatan ilmu dalam Islam, yaitu syari?at, tarekat, hakikat, ma?rifat; (5) Allah menciptakan makhlukNya di daratan, lautan, langit; (6) bangunan dan kubah masjid sebagai tempat ibadah umat Islam bentuk kebesaran Allah, (7) tiga lingkaran terdapat lafal Allah sebagai bukti Allah adalah akar (awal segalanya), Muhammad adalah utusanNya, dan Adam (manusia) adalah makhluk yang kecil; (8) empat bagian martabat tujuh; (9) Lailahaillallah sebagai pondasi umat Islam; (10) Allah menciptakan suatu hal (badan manusia) yang utuh. Ketiga, ajaran yang dalam naskah Kitab Sejatine Menungso, yaitu: (1) Ke-Esaan Allah (Ajaran Tauhid Lailahaillallah), (2) Dua Puluh Sifat Allah, (3) Salat Lima Waktu (4) Ajaran Dzikir. (5) Ajaran Tasawuf (Syari?at, Tarekat, Hakikat, Ma?rifat). Kata Kunci: naskah, kode, signifikasi dan atau komunikasi, makna ajaran Abstract Old manuscripts are evidence of the earlier Archipelago civilization, in which contained valuable teachings that are still relevant for the present. The presence of an old manuscript which is earlier than modern literary works holds various sciences and teachings which are currently difficult to find. Thus, efforts are needed to preserve the old archipelago script. One of the efforts to preserve old texts is through scientific research. The manuscript used as the object of research is the manuscript of Kitab Sejatine Menungso. Research on the manuscript of Kitab Sejatine Menungso is very important to be done to reveal the meaning of teachings in symbols. Based on this background, researchers are interested in analyzing (a) what is the code in the manuscript of Kitab Sejatine Menungso? (b) how is the significance and or communication resulting from the code in manuscript of the Kitab Sejatine Menungso? (c) what is the meaning of the teachings contained in the text of Kitab Sejatine Menungso? The purpose of this study is to describe the code, significance and or communication, the meaning of the teachings contained in the manuscript of Kitab Sejatine Menungso.Data collection techniques with field studies and literature studies. The data analysis technique used is the hermeneutic technique. The results obtained from this study are, first , the code in Manuscript of Kitab Sejatine Menungso ten (10) codes. Second , the significance and or communication in the manuscript of Kitab Sejatine Menungso , namely: (1) a close relationship between Allah, Muhammad and Adam; (2) Allah revelation to the Prophet Muhammad, namely the command to pray; (3) humans have the perfect body of other creatures and contain the spirit of his will; (4) the level of knowledge in Islam, namely Syariat, Tarekat, Hakikat, Marifat; (5) Allah created His creatures on land, sea, sky; (6) the building and the dome of the mosque as a place of worship of Muslims form of the greatness of Allah, (7) there are three circles of Allah pronunciation as proof that Allah is the root (the beginning of everything), Muhammad is His messenger, and Adam (human) is a small creature; (8) four parts of dignity seven; (9) Lailahaillallah as the foundation of Muslims; (10) Allah created a whole thing (human body). Third, meaning of teaching the manuscript Kitab Sejatine Menungso , namely: (1) To the Oneness of Allah (Tauhid Lailahaillallah), (2) Twenty name of Allah, (3) salat five time?s (4) Dzikir. (5) The teachings of Sufism (Syariat, Tarekat, Hakikat, Ma?rifat). Keywords: Manuscript, Code, Signification and or Communication, the meaning of the teachings.
TEROR NARATIF DALAM NOVELA DEKAT DAN NYARING KARYA SABDA ARMANDIO: KAJIAN NARATOLOGI GERARD GENETTE ALFIARIZKY, KEVIN
Jurnal Sapala Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Sapala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; (1) struktur tata urutan cerita, (2) frekuensi naratif, dan (3) muatan teror naratif pada novela Dekat dan Nyaring karya Sabda Armandio. Melalui pengamatan studi struktur narasi dan frekuensi naratif Gerard Genette. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa novela Dekat dan Nyaring memiliki bentuk struktur tata urutan cerita akroni dengan alur penceritaan maju dan beberapa lamunan narasi imajiner tokoh, kemudian berfrekuensi naratif representasi pengulangan (repeating representation) dengan dua peristiwa identik yakni narasi ledakan dan penceritaan narasi imajiner dongeng Pak Koksi, terakhir terdapat adanya dua bentuk muatan teror naratif dalam novela. Yaitu state terrorism dan international organize crime. Dua bentuk teror naratif tersebut merupakan inti penceritaan yang menunjukkan narasi implisit kecemasan dan teror dalam novela. Kata kunci: teror naratif, struktur urutan narasi, frekuensi, naratologi Abstract This study aims to describe; (1) story order structure, (2) narrative frequency, and (3) narrative terror content in Dekat dan Nyaring novels by Sabda Armandio. Through observational studies of the narrative structure and narrative frequency of Gerard Genette. The research method used is descriptive qualitative with a content analysis approach. The results of this study indicate that Dekat and Nyaring novels have an acronyical story order structure with forward storyline narrative and some imaginary narrative reverie of characters, then frequency narrative repeating representation with two identical events namely explosion narrative and narrative imaginary narrative Pak Koksi, there are two forms of narrative terror content in novels. Namely state terrorism and organize international crime. Keywords: naratology, story sequence structure, frequency, narrative terror