cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
KARYA MUSIK “TIWUL” DALAM TINJAUAN HARMONI MUSIK WICAKSONO, ADI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik “Tiwul” ini bercerita tentang sejarah komunitas alat musik tiup di universitas negri surabaya, yang digarap dalam jenis musik baru dalam idiom musik barat.  dengan gaya klasik barat dan menggunakan metode tinjauan Harmoni Musik. Berangkat dari fenomena munculnya komunitas baru yang mengusung instrument musik tiup sebagai dominasi karya musik ini, muncul ketertarikan dan mendorong komposer untuk mewujudkan sebuah konsep tentang fenomena tersebut ke dalam sebuah karya musik.Dalam mengerjakan karya musik ini, banyak ilmu harmoni yang dapat digunakan, namun dalam karya musik “Tiwul”, komposer menggunakan beberapa ilmu harmoni, seperti jenis akord triad,  dan extended chord dalam penggarapan harmoni musik karya tersebut.Karya musik berjudul Tiwul ini merupakan karya musik dengan formasi ensemble campuran. karya musik orisinil ini berdurasi selama 10 menit, dengan jumlah total birama 163. Karya ini diawali dengan solo alto saxophone selama 16 birama mengguknakan sukat 4/4, tempo adagio rubato, dan tanda mula dua mol (Bbmajor/gminor), Karya musik “Tiwul” ini memiliki empat bagian utama dengan pembuka dan penutup, bagian tersebut terdiri dari introduction, bagian 1, 2, 3, dan 4 sekaligus outroduction.Melalui karya musik “Tiwul” diharapkan mampu menjdai karya musik inspiratif  bagi mahasiswa dan  tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luas, karena bermusik dapat digunakan sebagai media komunikasi dengan cara yang berbeda sekaligus menyenangkan, selain itu diharapkan dapat menumbuhkan rasa apresiasi tinggi terhadap suatu karya seni khususnya dalam seni musik.Kata Kunci : tiwul, harmoni music,
NUNCA ANDES SOLO (TINJAUAN HARMONI MUSIK DALAM KARYA KOMPOSISI MUSIK) VARIANTONO, NOVEL
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ini berjudul “Nunca Andes Solo” dalam bahasa Indonesia yang berarti “tidak akan pernah berjalan sendiri”. Judul ini dimaksudkan untuk menceritakan pengalaman komposer dalam masa-masa kuliah yang mempunyai teman angkatan 2013 yang selalu setia membantu ketika komposer mengalami kesulitan dari segala hal yang ada di perkuliahan. Semua saling membantu dan mengingatkan jikalau ada informasi atau hal terbaru dalam perkuliahan. Karya musik “Nunca Andes Solo” merupakan karya komposisi yang memiliki format orkestra dalam penyusunannya, karya ini memiliki bentuk musik 3 bagian yaitu bagian A,B dan C. Bagian A memiliki kalimat a, a’, a1, dan a2. Bagian B memiliki kalimat b, b’, b2, b2’, b3 introdusi, b3, b3’. Bagian C memiliki kalimat c introduksi, c, c1, c1’, c2, c2’. Awal mula tempo yang dimainkan yaitu tempo Adagio yang dimana tempo ini memliki arti pelan dengan angka 60 atau 1 detik setiap ketukannya, kemudian berpindah ke tempo sedang yaitu moderato dimana dalam tempo ini di setiap ketukannya memiliki kecepatan 90kemudian tempo yang terakhir yaitu presto atau dengan tempo cepat. Tempo ini dimainkan dengan kecepatan 175 dalam setiap ketukannya.Dalam komposisi ini memiliki 120 birama yang dimana total keseluruhannya berdurasi kurang lebih 05.15 menit. Jika ditinjau dari segi fokus masalah penulisan, karya ini berfokus pada tinjauan harmoni dalam progres akhor. Karya musik “Nunca Andes Solo” menggunakan beberapa hamoni dalam progres akhor di dalamnya yaitu, harmoni tiga suara, harmoni 4 suara dan harmoni 5 suara dalam progres akhor. Penulis akan menjabarkan masing masing harmoni dalam progres akhor tersebut yang terdapat di setiap bagian bagian karya musik ”Nunca Andes Solo”. Dalam karya “Nunca Andes Solo” ini memiliki 2 sukat dimana sukat pertama terdiri dari sukat 4/4 dengan tempo adagio dan moderato yang total biramanya terdiri dari 56 birama dari mulai birama 1 sampai dengan birama 56 kemudian sukat yang kedua terdiri dari sukat 3/4 dengan tempo presto yang total biramanya terdiri dari 119 birama dari mulai birama 57 sampai dengan birama 175. Bagian awal dalam karya  “Nunca Andes Solo” ini menggunakan tangga nada G Mayor kemudian pada bagian tengah-tengah terjadi modulasi menjadi A Mayor dan pada akhir lagu kembali lagi ke Tangga nada G mayor.Proses penciptaan karya musik“Nunca Andes Solo”  ini menggunakan beberapa metode yang sudah dipelajari oleh komposer. Melalui banyak inspirasi yang diperoleh dari mendengarkan berbagai jenis musik yang biasa diputarkan di dvd dan juga beberapa dari musik orcestra yang sering didengarkanKata Kunci: progres akhor, Nunca Andes Solo
PEWUJUDAN FENOMENA CINTA SEGI TIGA KEN DEDES DALAM KARYA TARI SANG NARESWARI REDHA SATRIYA, ACHMAD
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah berdirinya Kerajaan Singasari tidak jauh terlepas dari tokoh wanita yang melegenda dengan berbagai kelebihan, kekurangan serta kontroversinya, yaitu Ken Dedes. Sosok Ken Dedes digambarkan sebagai sosok gadis cantik jelita, serta memiliki takdir akan menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Kecantikan Ken Dedes menjadi alasan utama cinta segi tiga yang melibatkan dirinya. Adapun fokus kekaryaan tari ini akan menekankan pada fenomena cinta segi tiga Ken Dedes. Fokus tersebut dipilih karena ketertarikan koreografer akan sosok wanita yang memiliki berbagai kelebihan serta terlibat dalam kontroversi “besarnya”. Sosok wanita tersebut memiliki berbagai julukan, diantaranya: Ardha Nareswari, Garwa Kinasih, Nareswari, dan Prajnaparamita. Oleh karena itu maka judul karya tari ini juga diangkat dari salah satu julukan yang melekat pada diri Ken Dedes, yaitu: Sang Nareswari. Melalui karya tari yang berjudul Sang Nareswari, koreografer berusaha mengungkapkan gagasan isi garap mengenai cinta segi tiga Ken Dedes dalam bentuk garap bedhaya. Pemilihan bentuk garap ini dikarenakan bahwa koreografer ingin menyampaikan gagasan isi dalam bentuk simbolik serta menonjolkan penguatan suasana tanpa menggelar cerita yang menjadi kekuatan tersendiri dari koreografer dalam menciptakan sebuah karya tari.Dalam melakukan proses penciptaan karya tari Sang Nareswari ini koreografer terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap berbagai karya tari yang telah dicipta oleh koreografer terdahulu. Kajian teori dalam karya tari Sang Nareswari, merujuk pada teori-teori koreografi/ komposisi tari, bedhaya dan kisah cinta segi tiga Ken Dedes. Metode penciptaan melalui beberapa tahap kegiatan yaitu: pendekatan penciptaan, metode menemukan fokus karya, konsep penciptaan, serta proses penciptaan. Karya tari ini membawakan cerita cinta segi tiga Ken Dedes dalam mode penyajian simbolik dengan tipe karya liris-dramatik. Dimana isi garap tidak digelar secara bercerita namun diwakilkan oleh tembangan tokoh serta pengaturan alur dan penggambaran secara simbolik melalui gerakan tari. Karya tari ini berhasil mewujudkan fenomena cinta segi tiga Ken Dedes dalam genre bedhaya. Dari segi bentuk visual (tata rias dan busana) pendekatan desain terhadap arca Prajnaparamita terlihat sangat jelas tertuang dengan baik dalam tata rias dan busana yang dikenakan penari. Alur penggarapan Sang Nareswari mengikuti alur garap bedhaya, dimana dapat dilihat dari pembagian per adegan dimulai dari Maju Beksan, Sembahan, Beksan Pokok Awal, Beksan Pokok Rakit Gelar, Beksan Pokok Akhir, dan Mundur Beksan.Kata Kunci: Sang Nareswari,  Ken Dedes, karya tari, koreografi, komposisi tari, bedhaya, koreografer .
PENYAJIAN VISUAL KOREOGRAFI PENDIDIKAN “MBLEKOK NULOG” RAMELIAH, SHEOCIANA
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah keindahan yang terlihat dari peristiwa alam yang tidak bisa dipastikan kapan akan menyajikan yang melibatkan hewan-hewan (burung) di sekitar kita. Adapun fokus kekaryaan tari ini akan menekankan pada fenomena keindahan burung blekok sawah. Fokus tersebut dipilih karena ketertarikan koreografer akan sosok burung yang memiliki berbagai kelebihan serta terlibat menarik. Pemilihan bentuk garap ini dikarenakan bahwa koreografer ingin menyampaikan gagasan isi dalam bentuk simbolik serta menonjolkan suasana yang menjadi kekuatan tersendiri dari koreografer dalam menciptakan sebuah karya tari. Dalam melakukan proses penciptaan karya tari Mblekok Nulog ini koreografer terlebih dahulu mencari reverensi visual terhadap berbagai karya tari yang telah dicipta oleh koreografer terdahulu. Kajian teori dalam karya tari Mblekok Nulog, merujuk pada teori-teori koreografi/ komposisi tari, metode penciptaan melalui beberapa tahap kegiatan yaitu: pendekatan penciptaan, metode menemukan fokus karya, konsep penciptaan, serta proses penciptaan. Karya tari ini menggunakan mode penyajian simbolik dengan tipe karya dramatik. Dimana isi garap tidak digelar secara bercerita namun diwakilkan oleh penggambaran secara simbolik melalui gerakan tari. Karya tari ini berhasil mewujudkan fenomena keindahan burung blekok. Dari segi bentuk visual (tata rias dan busana) pendekatan desain sangat jelas tertuang dengan baik dalam tata rias dan busana yang dikenakan penari.Kata Kunci: Mblekok Nulog,  Keindahan, koreografi
SEMEBRUNG WANGINE SRITANJUNG (VISUALISASI CERITA CINTA DEWI SRITANJUNG DAN SIDOPEKSO BANYUWANGI DALAM KARYA TARI) HALIMATUSYADYAH, NUR
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Timur. Menurut kepercayaan masyarakat yang bersumber dari cerita daerah Banyuwangi memiliki arti yaitu Banyu “air” dan wangi “Harum”. Cerita tersebut didapat dari sebuah lagenda pengorbanan kisah cinta dari Dewi kna Banyu yang. Karya tari Semebrung Wangine Sritanjung merupakan sebuah karya representatif yang berangkat dari fenomena cerita rakyat Banyuwangi yang memiliki kehidupan kisah cinta Dewi Sritanjung dan Sidopekso. Kisah cinta tersebut merupakan sebuah cerita lagenda yang dipercayai oleh masyarakat Banyuwangi. Karya ini memilih fokus untuk menggambarkan kesetiaan cinta dari Dewi Sritanjung dengan tipe tari dramatari. Karya tari ini digarap sebagai media ungkapan ekspresi, sebagai sosial untuk mengulas cerita lagenda dari mulut ke mulut masyarakat Banyuwangi, memperkaya hasanah atau wawasan budaya.  Dalam melakukan proses penciptaan karya tari ini koreografer terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap berbagai karya tari yang telah dicipta oleh koreografer terdahulu. Kajian teori dalam karya tari Semebrung Wangine Sritanjung, merujuk pada teori-teori koreografi atau komposisi tari. Metode penciptaan melalui beberapa tahap kegiatan yaitu: pendekatan penciptaan, metode menemukan fokus karya, konsep penciptaan, serta proses penciptaan. Karya tari ini membawakan cerita cinta kesetiaan Dewi Sritanjung kepada suaminya Sidopekso dalam mode penyajian simbolik dengan tipe karya liris-dramatik. Pemilihan bentuk garap ini dikarenakan bahwa koreografer ingin menyampaikan gagasan isi dalam bentuk simbolik serta menonjolkan penguatan suasana tanpa menggelar cerita yang menjadi kekuatan tersendiri dari koreografer dalam menciptakan sebuah karya tari.Dimana isi garap tidak digelar secara bercerita namun diwakilkan oleh gedhing serta pengaturan alur dan penggambaran secara simbolik melalui gerakan tari. Kata Kunci: Semebrung Dewi Sritanjung, karya tari, koreografi.
TRANSFORMASI CERITA PANJI LARAS DALAM KARYA TARI“ CINDHE LARAS” DI SDN WARUNGDOWO KABUPATEN PASURUAN DWI NASTITI, SEPTIKA
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koreografi pendidikan adalah sebuah pencatatan tari yang mengandung nilai-nilai moral, etika, estetika yang sasaranya pada sekolah formal. Koreografi pendidikan dapat dijadikan salah satu alternatif untuk melatih pembentukkan siswa yang berkerakter. Siswa yang berkarakter adalah mampu menerapkan nilai-nilai moral dan etika tata krama di masyarakat dengan baik. Selain itu koreografi pendidikan dapat melatih kepekaan terhadap lingkungan, disiplin,  keberanian dalam bergerak serta percaya diri yang tinggi.Tema Langen Ceritera dalam koreografi pendidikan yaitu perjuangan, yang berangkat dari ceritera Panji Cindhe Laras. Cindhe Laras merupakan salah satu ceritera yang berkembang dari ceritera panji yang menjadi lokal geniusnya wilayah Jawa Timur. Maksud dari tema yaitu perjuangan seorang anak yang bernama Cindhe Laras bertempat tinggal dihutan mencari ayahnya dengan cara mengikuti adu-adu jago di kerajaan Jenggala. Konsep penggarapan Langen Ceritera memfokuskan pada tarung adu jago dengan menimbulkan suasana adu jago di kerajaan, serta tidak meninggalkan karekter keceriaan anak-anak. Untuk mempertegas karakter lakon pada ceritera, perlu didukung adanya tata rias dan busana, setting pangung, property, dan musik.Kata kunci : Koreografi pendidikan, Langen Cerita, Cindelaras
KARYA MUSIK “TRANSPOSE” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI DAN TEKNIK PERMAINAN CELLO PERMADI, ADIMAS
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni merupakan salah satu unsur dari kebudayaan yang merupakan hasil olah rasa yang dapat dinikmati oleh panca indra dan akan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Perubahan ini didasari oleh pandangan manusia yang dinamis dalam konsep, proses dan hasil karya berkesenian. Karya ini dilatar belakangi oleh kisah perjalanan hidup komposer dalam mencapai cita – citanya. Karya musik ini berjudul “ Transpose ’’ yang artinya perpindahan. Dan karya ini difokuskan pada tinjauan variasi melodi dan teknik permainan cello.Seni adalah kebutuhan manusia,walaupun bukan kebutuhan pokok. Bukan saja dalam bentuk hal-hal yang indah,tetapi susah rasanya kita membayangkan bagaimana kalau di dunia ini tidak ada seni (Soedarso,2006:4). Pertumbuhan seni sebagai bentuk aktivitas manusia dalam berolah  rasa melalui kurun waktu yang panjang. Mulai dari bentuk yang sederhana hingga mencapai bentuk yang kompleks. Dengan demikian maka seni akan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi budaya daerah sekitarnya.Dalam proses penciptaan, Composer menggunakan metode – metode untuk pembuatan karya musik. Rangsang Visual, Komposer peroleh dari melihat video dari youtube,salah satu situs kumpulan-kumpulan video. Video salah satu  karya Addie MS yang menjadikan inspirasi bagi composer. Ransang auditif, composer mulai membuat suatu kerangka bentuk dengan mengawali membuat melodi pokok dan menyusun frase-frase sehingga membentuk motif. Komposer juga menggunakan beberapa media alat musik orkestra untuk mencari melodi inti. Pada karya musik ini membahas tentang variasi melodi seperti, Ornament Appogiatura dan Trill, Rythmic Variation and Fake, Melodic Variation and Fake, Composite Melodic Variation and Fake, Counter Melodi, Dead Spot Filler, juga menggunakan teknik – teknik dasar pada setiap instrument, seperti teknik legato, tremolo, vibrato dan lain sebagainya. Karya ini dikemas dengan format Chamber Orchestra, Terdiri dari 3 bagian kompleks, dimainkan dalam instrument violin, viola, cello, contrabass, flute, clarinet, trumpet, trombone, tenor sax, triangle, snare, bassdrum, cymbal. Karya ini memiliki total 181 birama dengan durasi 7 menit 35 detik. Karya musik “ Transpose ’’, dimainkan dengan beberapa tempo yaitu Adagio, andante, moderato dan vivace. Didalamnya menggunakan 2 modulasi dalam tangga nada natural, 1 mol dan 1#. Menggunakan sukat 4/4. Komposer memfokuskan untuk meninjau Variasi melodi pada karya tersebut. Kata kunci : melodi, perpindahan, Karya musik “ Transpose ”.
KARYA MUSIK “FINDING THE DAMAGE” DALAM TINJAUAN RITMIS DAN MELODI PRIMANATA, YUERDHA
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peperangan pada hakikatnya terkait dengan siapa yang ingin menguasai negara yang dijajah serta kemampuan untuk merusak perdamaian dunia. Dalam memaknai musik, memang bukanlah hanya memandangnya sekedar bagian dari kebudayaan Indonesia yang harus terus dilestarikan, tetapi musik sudah harus dimaknai dan dimanfaatkan sebagai alat perjuangan bangsa, terutama dalam menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa. Fenomena yang paling mudah dilihat ketika membicarakan musik dan perang adalah berkembangnya seorang komposer dalam menciptakan karya musik dengan tema peperangan, misalnya Hans Zimmer pada sebuah film yang berjudul The Pacific. Komposer mengambil judul dalam kekaryaan ini yaitu “Finding The Damage”. Judul tersebut diangkat karena sesuai dengan fenomena yang diangkat yaitu tentang peperangan. Pemilihan judul “Finding The Damage” dalam komposisi ini nantinya bisa menjadi musik orkestra pada sebuah soudtrack film sehingga penonton terbawa dengan suasana yang terdapat dalam komposisi karya musik “Finding The Damage”.Instrumen yang digunakan dalam fullscore komposisi musik “Finding The Damage” terdiri dari: (1) horn in F; (2) 1st trumpet in Bb; (3) 2nd trumpet in Bb; (4) trombone;  (5) triangle; (6) cymbals; (7) snare drum; (8) bass drum; (9) violin I; (10) violin II; (11) viola; (12) violincello; (13) bass guitar. Karya musik “Finding The Damage” disusun dari segi komposisi, yaitu; introduction, transition, coda.Karya musik “Finding The Damage” merupakan suatu komposisi yang dikembangkan dengan menggunakan tinjauan ritmis dan melodi. Komposisi ini disusun sesuai dengan keilmuan dan kaidah-kaidah musik sehingga menghasilkan komposisi yang mempunyai unsur-unsur bentuk musik konvensional. Pada introduksi dimainkan oleh instrumen bass guitar dan cello. Cello berfungsi sebagai pembentuk ritmis ditambah dengan bass guitar akan menjadi sebuah harmoni. Counter Melody pada introduksi terletak pada birama 26-40. Instrumen brass (horn, trumpet, trombone) sebagai melodi, instrumen guitar bass berperan sebagai counter line, dan instrumen string quartet  menjadi ritme dengan notasi 1⁄16. Karya musik “Finding The Damage” terdapat beberapa transisi. Transisi tersebut berupa perpindahan pola ritmis. Fungsinya untuk menghubungkan bagian satu ke bagian yang lain seperti perpindahan sukat. Transisi terdapat pada birama 11-12. Instrumen yang berperan penting adalah instrumen string quartet dan bass guitar. Instrumen string quartet yang berperan sebagai melodi penghubung perpindahan pola ritmis sedangkan bass guitar sebagai akor pendukung dari tangga nada Dm ke tangga nada D dan penghubung birama 4/4 menjadi 2/4 kembali lagi menjadi 4/4.Kata kunci:  Finding The Damage,orkestra,komposisi
KARYA MUSIK ”TEGEH”  DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI SUHARTONO, REDI
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulis terinspirasi akan hal yang pernah dilalui dalam perjalanan cintanya. Ketika penulis merasakan putus cinta dan rasa sakit hati serta Ide awal mula penulis membuat karya musik ini  salah satunya kekecewaan. Tegeh berasal dari bahasa Madura,  kata tegeh mempunyai makna arti yang sangat sedih sekali dan popularitas bahasa Madura tegeh ini sangat sering diucapkan dan sering kali didengar di kalangan daerah Madura. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata tegeh ialah tega. Dasar-dasar teori yang digunakan komposer sebagai acuan fokus penciptaan di dalamnya yaitu ada bentuk musik, melodi, harmoni, ritme, dinamika, hasil penciptaan yang relevan dan kerangka berpikir. Metode yang digunakan karya musik ini adalah menggunakan metode analisis bentuk musik. Karya musik ini merupakan karya musik programatik.Variasi melodi yang digunakan ada beberapa macam, yaitu Melodic variation and fake, Counter melody, Cliché, dead spot filler, Filler like Obbligato dan Rhythmic variation and fake. Karya musik ini menggunakan sukat 4/4 dan menggunakan tangga nada B minor dan E minor serta menggunakan variasi tempo yaitu pada birama pertama sampai dengan birama 41 menggunakan tempo Adagio, birama 42 menggunakan tempo Maestoso, birama 75 menggunakan tempo Allegretto, birama 90 kembali tempo Adagio dan pada birama 95 menggunakan tempo Grave. Karya ini menggunakan format orkestra terdiri dari instrumen woodwind, brass, gesek dan perkusi. Karya ini memiliki total 108 birama dengan durasi 7 menit 32 detik.karya musik ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian 1, 2 dan 3. Pada bagian A terdapat beberapa jenis variasi melodi di dalamnya yaitu melodic variation and fake, rhythmic variation and fake, dead spot filler dan counter melodi. Pada bagian B terdapat jenis variasi melodi yaitu filler like obbligato, cliche counter melodi, dead spot filler, dan melodic variation and fake.Pada bagian C terdapat beberapa jenis variasi melodi didalamnya yaitu counter melodi, dead spot filler, filler like obbligato dan melodic variation and fake.Kata Kunci: Tegeh, Variasi Melodi
TINJAUAN HARMONI PADA KARYA MUSIK FORZA TREDICI Masanti, Ratnamani
Solah Vol 7, No 2 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pemahaman sehari-hari, musik seringkali dikaitkan dengan perasaan seseorang. Musik dianggap sebagai sarana yang tepat untuk mengungkapkan perasaan. Musik dapat dibuat berdasarkan apa yang disaksikan sehari-hari. Salah satunya sebuah cerita tentang persahabatan yang terjadi pada angkatan 2013 Pendidikan Sendratasik. Berdasarkan cerita tentang persahabatan composer terinspirasi untuk membuat karya musik yang berjudul “forza, tredici!”. Berbagai perasaan suka duka dapat dimunculkan melalui sebuah harmoni.Teori yang digunakan untuk mengupas unsur musik yang berkaitan dengan karya musik “Forza, Tredici!” adalah teori tentang harmoni abad 21 yang meliputi akord, modulasi dan kadens. Harmoni abad 21 dipilih karena composer menggunakan akord yang berkembang seperti mayor 7, add9, suspended dan minor 7. Modulasi yang digunakan adalah modulasi circle five yang dimana perpindahan tangga nada menggunakan jembatan akord ke V dari tangga nada yang dituju.Karya musik “Forza, Tredici!” merupakan musik instrumental dan programatik yang memiliki 133 bar dengan durasi 6 menit. Karya musik ini memiliki tiga bagian besar yaitu Ak, Bk dan Ck dengan tempo Adagio, Allegro, Andante, dan Rubato. Karya musik ini menggunakan format chamber orchestra dengan instrumen violin, viola, cello, bass elektrik, drumset, trombone, trumpet, flute, dan piano. Menggunakan tiga nada dasar yaitu, Bb, Eb dan C mayor dengan sukat 4/4. Hasil dari penjabaran harmoni dari karya musik ini adalah penataan akord yang banyak menggunakan akord Mayor7 dan dominant7. Akord Mayor7 digunakan untuk mempermanis karya musik ini. Sedangkan akord dominant7 digunakan sebagai akord jembatan untuk menuju akord ke empat. Pada kesimpulannya, pembentukan harmoni diawali dengan melodi sederhana namun menggunakan akord yang sudah berkembang untuk menciptakan nuansa yang manis. Penggunaan akord tersebut tidak lepas dari penjabaran teori harmoni serta teori penghubungnya.    Kata Kunci : harmoni, forza tredici.