cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
PEREBUTAN KEDUDUKAN “DALAM KARYA TARI DREDAH” DWI AGUSTIN MEGASARI, LUTHFIYAH; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada koreografi dengan berjudul Dredah penulis yang juga sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena dari perebutan kekuasaan. Koreografer mengangkat tema ini berdasarkan dari cerita Ronggolawe dan Patih Nambi yang merebutkan kekuasaan (Tahta). Didalam kehidupan harta, tahta, wanita sangatlah rentan perpecahan. Melalui karya tari Dredah merupakan ide penyajian sebuah karya Tari Dramatari yaitu sebuah pertunjukan tari yang memiliki kecenderungan untuk menggambarkan emosi serta kejadian dalam hubungannya dengan kehidupan. Dari pengertian ini berarti penggambaran karakter dan alur cerita dari sebuah peristiwa sangat menjadi sangat menonjol. Karya tari ini menggunakan aspek dari bentuk pengembangan tradisi gaya jawa timuran.Karya tari Dredah ini merupakan gambaran dari cerita Ronggolawe dan Patih Nambi yang merebutkan kekuasaan melalui media ungkap gerak yang didukung oleh jumlah penari dan kemampuan penari sehingga dapat mengisi dan mengeksplorasi ruang panggung prosenium. Selain itu, keberadaan penari didukung oleh pola penataan sehingga membentuk pola-pola yang dapat mengisi ruang dan membangun suasana. Media pendukung yang lain adalah iringan, properti, tatarias, dan busana serta tata teknik pementsan. Kata Kunci : Karya Tari, Dredah, Perebutan Kedudukan
PROSES KREATIVITAS JANGGRUNG ARENA MENJADI PERTUNJUKAN PROSENIUM MELALUI KARYA TARI “TANDHAK JANGGRUNG” FRANLAILI SEDYO UTAMI, RISZKA; SUGITO, BAMBANG
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Janggrung berawal dari Kesenian Tayub yang mengalami pergeseran.Pada Karya Tari Tandhak Janggrung penulis yang sekaligus sebagai koreografer terinspirasi dengan keberadaan Janggrung yang semakin punah. Proses kreativitas nantinya akan melahirkan sebuah bentuk penyajian baru yang dikemas dalam Karya Tari Tandhak Janggrung .Karya Tari Tandhak Janggrung memiliki tujuan komunikatif yakni meyampaikan cerita hidup Pupon dan sebagai upaya mempertahankan Janggrung dari kepunahan. Koreografer berupaya menampilkan wujud baru kepada penonton, Janggrung yang disajikan menjadi sebuah pertunjukan dengan mengusung konsep panggung prosenium. Proses kreatif yang dilakukan oleh koreografer adalah sebuah perwujudan bentuk tari baru dengan objek Janggrung arena menjadi sebuah pertunjukan yang disajikan melalui konsep prosenium. Proses kreativitas Janggrung menjadi sebuah Karya Tari Tandhak Janggrung merupakan sebuah wujud perubahan Janggrung dari pentas arena menjadi pertunjukan prosenium.Proses kreativitas dilakukan melalui rangsang awal, eksplorasi, improvisasi, evaluasi, komposisi (pembentukan). Proses kreativitas yang dilakukan pada Karya Tari Tandhak Janggrung menimbulkan perubahan bentuk penyajian meliputi gerak, iringan, tata cahaya, tata busana, dan tata panggung.Bentangan jarak antara panggung dan penonton pada prosenium dapat menciptakan bayangan arstistik mampu menghadirkan kesan yang diolah koregrafer untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung prosenium. Karya tari berjudul Tandhak Janggrung yang berdurasi kurang lebih -14 menit merupakan proses kreativitas koreografer dalam merepresentasikan suka dan duka Pupon sebagai Tandhak Janggrung di Desa Kapas Kecamatan Kunjang Kabupaten Kediri. Media ungkap yang digunakan karya tari Tandhak Janggrung yakni mengusung gaya Jawa Timuran. Elemen pendukung karya tari Tandhak Janggrung antaralain tata rias dan busana yang menunjang mengenai penampilan seorang tandhak, tata teknik pentas, properti yang digunakan baik dingklik, trap dan siluet. Kata Kunci: Kreativitas, Karya Tari Tandhak Janggrung , Janggrung arena, prosenium
TINJAUAN BENTUK MUSIK PADA KARYA MUSIK “SINFONIA IN A MINOR” MARIFATUS SHOLIKAH, WHENI; SARJOKO, MOH
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

? Sinfonia In A minor? merupakan judul komposisi musik yang memiliki arti bentuk musik Sinfonia yang dimainkan dalam tangga nada A minor. Sesuai dalam buku sejarah musik jilid 2, Sinfonia ini dimainkan dalam Ensembel String yang terdiri dari violin 1, violin 2, viola, violoncello, contrabass yang digunakan untuk meneliti kajian bentuk musik. Kajian pustaka dilandasi dengan bantuan buku Prier sejarah musik jilid 2 dan juga ilmu analisa bentuk musik(IABM) sebagai landasan utama dalam pembuatan komposisi musik ?Sinfonia in A minor? dengan ditambahi buku kajian yang berhubungan dengan musik Absolut. Proses penciptaan berawal dari ekplorasi dan kerja studio, dengan membuat motif kemudian dikembangkan menjadi Frase dan terbentuk sebuah kalimat serta diakiri dengan sebuah Kadens. kemudian metode analisis dan evaluasi, dengan pendekatan ilmu bentuk analisis musik dengan mengevaluasi pembentukan harmoni, kontrapung dan dinamika, serta metode penyampaian materi kekaryaan dilakukan dengan metode deskripstif kualitatif. Bentuk musik ?Sinfonia in A minor? ialah Movement I Allegro dengan bentuk Sonata, Movement II lento dengan bentuk 3 bagian dan movement III vivace bentuk Rondo Prancis. Dianalisis bentuk dan struktur di setiap bagianya. Allegreto merupakan bentuk sonata yang terdiri dari eksposisi, development dan rekapitulasi yang terdiri dari 96 birama. Movement II terdiri dari 3 bagian yaitu A-B-A? yang terdiri dari 30 birama. Movement III merupakan bentuk musik Rondo prancis dengan bentuk A-A-B-B-A-A-C-C-A terdiri dari 74 birama. Kata Kunci : Bentuk musik, Sinfonia, Ansamble
KARYA TARI “PANGGIHING LAMBANGASIH” AULIA AGAMI, NIMAS; SUGITO, BAMBANG
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini mengangkat cerita Panji Semirang yaitu kisah cinta segitiga Dewi Galuh Ajeng, Dewi Candra Kirana dan Inu Kertapati. Karya tari ini disajiakan dalam bentuk dramatari dan mengambil tema tentang kisah cinta segitiga. Karya tari ini mengambil judul Panggihing Lambangasih. Kata Panggihing memiliki arti bertemu, sedangkan Lambangasih memiliki arti belahan jiwa. Dewi Candra Kirana yang menjalin asmara dengan Inu Kertapati membuat Dewi Galuh marah dan memberikan ilmu hitam agar Inu Kertapati bersama Dewi Galuh Ajeng. Tetapi dengan ketulusan cinta Inu Kertapatri terhadap Dewi Candra Kirana mantra dari Dewi Galuh tidak berhasil. Koreografer mempunyai gagasan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan ketidakadilan atau kejahatan akan tetap kalah dengan sebuah ketulusan. Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith, Alma M. Hawkins, dan Soedarsono mulai dari penemuan ide, konsep, proses, penyampaian karya, hasil dan elemen-elemen dalam komposisi tari. Elemen-elemen pendukung terwujudnya suatu karya seni tari meliputi: gerak, pola lantai, musik/ iringan, tata busana, tata rias, tempat pertunjukan, perlengkapan atau property.Kata Kunci: bentuk penyajian, tari, Panggihing Lambangasih.
VISUALISASI ADEGAN KALONGKING DALAM PERTUNJUKAN SANDUR TUBAN PADA KARYA TARI “KERTA PANCER” PRATIWI, YOHANA; YANUARTUTI, SETYO
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sandur merupakan kesenian tradisional yang berangkat dari sebuah seni teater tradisional dan tari. Pertunjukkan Sandur yang bersifat sporadif/ musiman sehingga kesenian ini dapat dikategorikan kesenian yang langka karena sudah jarang untuk dijumpai, khususnya Sandur di Kabupaten Tuban. Pada zaman yang sudah semakin canggih dan maju seperti sekarang ini tak luput kesenian daerah sebagai sarana hiburan sudah mulai mengalami penurunan peminat untuk menikmatinya. Namun disamping itu pertunjukkan Sandur masih memiliki hati tersendiri bagi para penikmatnya, sebab dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa Sandur memiliki sifat magis dan sakral. Adapun pertunjukkan Sandur digelar di tengah-tengah masyarakat untuk upacara ritual sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Dalam pertunjukkan Sandur terdapat adegan-adegan yang memiliki simbol-simbol tersendiri. Seperti adegan Kalongking yang terdapat pada akhir pertunjukan yang merupakan titik klimaks. Pada adegan inilah yang sangat menarik karena terdapat adegan akrobatik yang bersifat magis. Berdasarkan hasil penciptaan dalam karya ini adalah karya Semi Kontemporer karena pertunjukkan ini berasal dari desa sehingga perpaduan antara tari tradisi dan kontemporer perlu dibangun. Ide kreatif dari Sandur menjadikan rangsang awal terciptanya sebuah karya tari ?Kerta Pancer? yang memvisualisasikan dengan gerak tentang makna dibalik pertunjukan Kalongking yakni merupakan adegan puncak dari pertunjukan Sandur. Kata ?Kerta? yang diartikan dalam bahasa Jawa Kawi sebagai menuju dan ?Pancer? yang berarti pusat. Makna dari kedua kalimat tersebut yakni manusia sebagai pusat dan semua tujuan yang akan dicapai selalu mengingat kepada Yang Maha Esa. Tujuan koreografer membuat karya tari yang disajikan dalam panggung prosenium agar semua kalangan bisa menikmati sajian pertunjukan tari yang dikemas secara berbedaKata Kunci : Kesenian Tradisional, Sandur, Adegan Kalongking, Kerta Pancer
TINJAUAN HARMONI PADA KARYA MUSIK “TRUE LOVE OF FAMILY” REZZADITA LAILIA, DIANY; DHARMAWANPUTRA, BUDI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik yang berjudul ?True Love of Family? adalah suatu ungkapan rasa syukur penulis yang dituangkan dalam bentuk komposisi musik. Karya ini dilatarbelakangi oleh rasa cinta yang begitu besar yang dirasakan penulis kepada keluarganya dan merupakan gambaran dari pengalaman-pengalaman kehidupan dalam keluarga yang dilalui penulis. Metode yang dipakai dalam mengkaji adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan ilmu bentuk analisis musik.Dari hasil pengkajian maka dapat disimpulkan bahwa karya musik ini memiliki bentuk lagu tiga bagian kompleks atau tiga bagian besar yaitu Ak (A kompleks), Bk (B kompleks), Ck (C kompleks). Durasi karya ?True Love of Family? adalah 7 menit 4 detik dengan total birama 133 birama. Pada bagian pertama lagu dimainkan dengan tangga nada D mayor, sukat 4/4 dan dimainkan dengan tempo maestoso, kemudian terdapat perubahan tangga nada menjadi E mayor, sukat menjadi ¾ dan tempo menjadi allegro, andante, dan lento. Pada setiap bagiannya memiliki struktur dan terdapat kalimat-kalimat melodi dari Kalimat A sampai dengan Kalimat F. Sedangkan tinjauan harmoni pada karya musik ini ditinjau dari empat komponen yaitu, progress akord, harmoni terbuka, harmoni tertutup, kadens, dan modulasi. Harmonisasi terlihat pada komponen akord yang dijelaskan pada setiap biramanya.Dari hasil pengkajian ini dapat diketahui bahwa pada karya musik ini, progress akord didominasi oleh akord primer dan sekunder. Bentuk harmoni didominasi oleh harmoni terbuka. Karya musik ini menggunakan tiga jenis kadens yaitu kadens sempurna, kadens sisipan, dan kadens pintas, sedangkan modulasi pada karya ini dibuat sesederhana mungkin agar tidak menimbulkan kesan yang rumit.Kata Kunci : Tinjauan Harmoni, Komposisi Musik
PENERAPAN STRUKTUR BENTUK LAGU TIGA BAGIAN KOMPLEKS PADA KARYA PADUAN SUARA MEPE KASUR DWIRIKO YANUAR ANDRIAN, OTNIEL; DHARMAWANPUTRA, BUDI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mepe Kasur adalah sebuah tradisi di Desa Kemiren, Banyuwangi, yang mana kegiatan menjemur kasur ini dilakukan serentak oleh seluruh warga desa dan dilakukan tiap satu tahun sekali dalam rangkaian acara bersih desa. Suasana damai dan juga semangat warga Kemiren dalam menyambut tradisi inilah yang menjadi inspirasi dalam pembuatan karya Mepe KasurKarya Mepe Kasur ini akan dikaji bentuk dan strukturnya oleh komposer. Metode yang dipakai dalam mengkaji adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan ilmu bentuk musik.Dari hasil pengkajian maka dapat disimpulkan bahwa karya Mepe Kasur memiliki bentuk lagu tiga bagian kompleks yaitu terdiri dari bagian A kompleks (Ak), B kompleks (Bk), dan C kompleks (Ck). Bagian A kompleks terdiri dari pengantar, kalimat A, kalimat A?, bridge 1, dan kalimat B. Kalimat B kompleks terdiri dari kalimat C, bridge 2, kalimat D, dan kalimat E. Kalimat C kompleks terdiri dari bridge 3, kalimat F, bridge 4, kalimat B?, bridge 5, kalimat F?, dan Ending. Durasi komposisi Mepe Kasur adalah 5 menit 2 detik dengan total birama 154 birama. Bagian A kompleks (Ak) dimainkan dengan tangga nada C minor, sukat 3/4 menggunakan tempo Andante (MM=78) dan Allegro (MM=136). Bagian B kompleks (Bk) dimainkan dengan tangga nada A minor, sukat 4/4 menggunakan tempo Adagio (MM=64) dan Allegretto (MM=110). Terakhir bagian C kompleks (Ck) dimainkan dengan tangga nada A minor, sukat 2/4 dan ¾ menggunakan tempo Allegro (MM=136).Kata Kunci: Bentuk lagu, a cappella, Mepe kasur.
PENGUNGKAPAN MAKNA BENTUK SIKAP TANGAN ‘EMPRIT MUNGUP’ MELALUI TIPE TARI STUDI DAN DRAMATIK PADA KARYA TARI “VITARKA” NURIANA, ERVIN; PUSPITO, PENI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Vitarka merupakan salah satu karya inspiratif yang berangkat dari sebuah fenomena bentuk sikap tangan pada tari Jawa Timur yaitu Sikap tangan Emprit Mungup dimana pemaknaan tersebut di tafsirkan oleh koreografer pada kehidupan manusia yaitu menyadarkan akan sosok manusia dimana dia berasal disitu dia kembali, manusia yang sebelumnya tidak akan akan menjadi tiada lagi maka dalam kehidupan haruslah manusia mengendalikan diri dari sifat ? sifat buruk dan menghargai hidup sebagai kodrat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Karya ini memilih salah satu fokus pada pengungkapan isi makna melalui bentuk pertunjukan tipe tari studi ? dramatik, dimana berngkat dari sebuah objek sederhana dan di ungkapkan melalui penggambaran suasana dalam sebuah pertunjukan tari.Penulisan pada karya tari Vitarka menggunakan beberapa teori diantaranya Ichonography mengenai ilmu mudra, sebagai acuan dalam pemaknaan bentuk sikap tangan tersebut. Teori koreografi, repetisi, urutan (Sequence), transisi, dan staccato membantu dalam perwujudan mengenai konsep yang telah diangkat menjadi sebuah pertunjukan tari. Penafsiran koreografer pada sebuah bentuk sikap tangan yang kemudian dilanjutkan pada tahap proses kreatif yang diantranya adalah eksplorasi, improvisasi, komposisi, analisisi, evaluasi dan fiishing.Karya tari vitarka menawarkan bentuk sajian tari eksplorasi sebuah objek terpilih yakni bentuk sikap tangan emprit mungup atau vitarka pada ilmu mudra, melalui tari studi ? dramatik. Pada hal tersebut koreografer berharap untuk semua penikmat agar dapat belajar dari sebuah obyek sederhana, dari hal kecil menjadi besar, dari yang susah menjadi mudah, dan mengambangkan pemikiran serta penafsiran sesuatu yang berdasar pada ide gagasan yang menimbulkan sebuah kreatifitas.Kata Kunci : Emprit Mungup, Mudra, Tari Studi, Tari dramatik, dan Vitarka
KARYA MUSIK “KUARTBONE” DALAM TINJAUAN HARMONI TRY W, WIHARNO; MURBIYANTORO, HERI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik ?KuarTbone? merupakan singkatan dari kuartet trombone. Karya musik ini terinspirasi dari sebuah komunitas yang terdapat di Jurusan Sendratasik yaitu KKM Tiwul. Seiiring dengan berjalannya proses latihan yang dialami oleh KKM Tiwul terdapat permasalahan yang salah satu diantaranya adalah permasalahan mengatur emosi (akurasi pitch), karena banyaknya anggota Tiwul dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda pula. Dalam bermain musik format besar yang dialami KKM Tiwul selama proses latihan tidak dapat menampakkan kemampuan bermain atau skill individu secara menyeluruh maka dari itu komposer mempunyai ide untuk mengungkapkan fenomena tersebut kedalam karya musik ?KuarTbone?, dengan harapan komposer ingin memaksimalkan kemampuan bermain secara individu, bisa menciptakan militansi dalam bermain musik, dan dapat menjadi salah satu cara atau pilihan dalam menananggulangi permasalahan yang ada pada KKM Tiwul. Karya musik ?KuarTbone? memiliki 209 birama dengan durasi waktu 8.30 menit. Karya musik ini dikemas dengan format musik kuartet. Karya musik ini memiliki bentuk musik tiga bagian yaitu A, B dan C. Bagian A berisi kalimat a introduksi, a, a?, a1, a1?, a?, a2, a3, a4, a5, a5? yang diaminkan pada tangga nada C dengan sukat 4/4. Bagian B berisi kalimat b, b?, b1, b2, b2?, b3 yang dimainkan pada tangga nada F dengan sukat 3/4. Bagian C berisi kalimat c introduksi, c, c1, c2, c3, c4, c5, c6, c7, dan coda yang kembali dimainkan pada tangga nada C dengan sukat 3/4 dan 6/8.Ditinjau dari segi fokus masalah penulisan, karya ini berfokus pada tinjauan harmoni dalam progress akord. Karya musik ?KuarTbone? menggunakan harmoni 3 suara dan 4 suara dalam progres akord. Komposer akan menjabarkan masing-masing harmoni dalam progres akord tersebut yang terdapat di setiap kalimat karya musik ?KuarTbone?.Kata Kunci : KuarTbone. Harmoni.
VISUALISASI SEMANGAT JUANG TOKOH ANANTA WIKRAMA PADA KARYA TARI “RAGANANTA” JANUARISCA BELLANANDA, CHINDY; , TRISAKTI
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berawal dari kisah perjuangan Mpu Sindok pendiri prasati yang ada di wilayah Kabupaten Nganjuk, beliau mempunyai seorang cucu putri yang bernama Ananta Wikrama. Ananta Wikrama juga merupakan istri dari Raja Airlangga yang kekuasaanya pada jaman dahulu terkenal hingga ke seluruh nusantara. Ananta Wikrama adalah putri kerajaan yang bijaksana dan juga punya gejolak semangat yang luar biasa untuk memperjuangkan sesuatu. Sosoknya yang cantik, anggun, cerdas dan cerdik serta tegas dalam mengambil sebuah keputusan adalah karakter dari seorang Ananta. Tidak mudah menyerah mempertahankan kehormatan, egois untuk kebenaran dan juga berjuang untuk yang patut diperjuangkan. Selain itu ia juga berperan besar atas berdiri kokohnya sebuah Prasasti Anjuk Ladang di Kabupaten Nganjuk.Pada penggarapan ini memfokuskan pada suasana yang mencoba dibangun melalui isi cerita penggambaran sosok seorang putri Ananta Wikrama yang jelita tetapi tegas kemudian penggambaran bara semangat dalam dirinya dan juga yang terakhir bagaimana dia membentengi dirinya itu. Gaya yang digunakan yaitu gerakan tradisi yang dikembangkan (sedikit dikolaborasi dengan perkembangan gerak kontemporer). Kata ?raga? yang diartikan dalam bahasa indonesia sebagai jiwa, gejolakdan ?nanta? adalah sosok penggambaran cerita yang mencoba divisualisasikan. Makna dari kedua kalimat tersebut yakni terinspirasi dengan sosoknya, yaitu seorang putri kerajaan yang membara semangatnya hingga timbul kecantikan yang luar biasa dalam dirinya. Tujuan penciptaan karya tari ini Memvisualisasikan dengan gerak tentang sosok Ananta Wikrama yang menjadi Inspirasi beberapa wanita zaman dahulu untuk selalu senantiasa berjuang dan semangat menghadapi apapun dan lewat kelembutannya dia mampu menjadi seorang putri yang pemberani dan menginspirasi.Kata Kunci : Ananta Wikrama, Semangat, Ragananta