cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
TINJAUAN ESTETIKA PADA KARYA MUSIK “I-C-U” WAYAN M. DHAMMA NARAYANASANDHY, I
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “SEPARATIS OVERTURE” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI UMAM, CHOIRUL
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “TRES PIEZAS PARA ROSETTE GUITAR QUARTET” DALAM TINJAUAN BENTUK MUSIK SANDY TYAS, DANANG
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring perkembangan zaman gitar berperan sebagai pengiring tarian seperti contoh di negara argentina dan spanyol tari diiringi oleh gitar menggunakan gaya irama tarian seperti flamenco, tarantella, waltz dan tango sehingga orang berpendapat bahwa irama di musik banyak yang mengadopsi dari tarian. Seperti irama waltz, tarantella, tango, flamenco dulunya sebagai iringan tarian namun sekarang menjadi sebuah komposisi musik ataupun karya untuk instrument gitar solo. Berdasarkan perkembangan musik dan gitar di atas, maka muncul ide menciptakan karya seni musik “Tres piezas para rosette guitar quartet” yang artinya 3 karya musik untuk rosette gitar kwartet. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik pada karya “Tres piezas para rosette guitar quartet”. Objek penelitian difokuskan pada bentuk musiknya. “Tres piezas para rosette guitar quartet” merupakan judul karya musik yang artinya tiga karya musik untuk Rosette gitar kwartet. karya musik beriisi tentang 3 karya atau 3 bagian komposisi yang berbeda iringan dalam 1 rangkaian karya yang disajikan dengan format 4 gitar (quartet). Bagian tersebut terdiri dari fantasia tarantella, fantasia tango dan fantasia waltz. Data yang disajikan untuk kemudian dilakukan pengkajian. Proses pengkajian yang dilakukan peneliti adalah dengan penyesuaian proses analisis IBAM yang sudah dikembangkan oleh Prier (2011) yaitu Langkah pertama menetukan bagian musik dari karya tersebut, bahwa dari karya musik terdiri dari 3 bagian, dari bagian-bagian tersebut terdapat periode, dari periode menyimpulkan tema, dari tema terdapat frase dan dari frase terdapat motif dari bagian-bagian tersebut. Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang bentuk musik. Fantasia tarantella, fantasia tango dan fantasia waltz di analisis bentuk dan strukturnya setiap bagiannya, Fantasia Tarantella terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 126 birama menggunakan tangga nada G dan sukat 4/4 dengan awalan tempo Allegro. Fantasia Tango terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 100 birama menggunakan tangga nada C dan sukat 4/4 dengan awalan tempo allegro. Fantasia Waltz terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 133 birama menggunakan tangga nada A dan sukat 4/4 dengan awalan tempo rubato kemudian Allegretto setelah masuk tema. Karya musik ini merupakan sebuah musik fantasia yaitu gaya atau aliran yang meninggalkan serangkaian aturan untuk membebaskan imajinasi para komponis. Karya musik dimainkan dengan format gitar kwartet dan menggabungkan gaya iringan tarian tarantella, tango, waltz dalam bentuk musik fantasia yang bersifat instrumental.     Kata kunci : Musik Tarian, Bentuk Musik 3 bagianAs the times the guitar plays as a dance as an example in the country of Argentina and Spanish dance accompanied by guitars using rhythm styles such as flamenco dance, tarantella, waltz and tango so that people found the rhythm in the music that adopts many of the dances. Such as waltz, tarantella, tango, flamenco dance once as an accompaniment but is now becoming a musical composition or work for guitar solo instrument. Based on the development of music and the guitar above, it appears the idea of creating works of musical art "Tres piezas the rosette guitar quartet" which means 3 rosette of music for guitar quartet. This research aims to describe the form of music in the work "Tres piezas the rosette guitar quartet". The object of research is focused on the form of his music. "Tres piezas the rosette guitar quartet" is the title of a piece of music which means three of music for guitar quartets Rosette. beriisi musical work about 3 works or 3 different compositions accompaniment in the first series of papers presented by four guitar format (quartet). The section consists of a tarantella fantasia, fantasia fantasia tango and waltz.Data presented to then do the assessment. Assessment process conducted by researchers is adjusted analysis process Ibam that has been developed by prier (2011) is a first step in determining the musical part of the work, that of a musical work consists of three parts, of the parts there is a period, from the period of concluding theme , on the theme of the phrases are phrases and motifs are from these parts.In this paper discuss more about this form of music. Fantasia tarantella, fantasia fantasia tango and waltz in the analysis of the form and structure of each part, Fantasia Tarantella consists of three parts: A, B, C consists of 126 bars using G scales and measures of 4/4 with prefix tempo Allegro. Fantasia Tango consists of three parts: A, B, C consists of 100 bars using scales C and measures of 4/4 with prefix tempo allegro. Fantasia Waltz consists of three parts: A, B, C consists of 133 bars using scales A and measures of 4/4 with prefix tempo Allegretto Rubato then after entrance theme.This musical work is a musical fantasia that is the style or stream leaving a series of rules to liberate the imagination of the composer. Piece of music played by the guitar quartet format and combine style accompaniment tarantella dance, tango, waltz fantasia in the form of music that is instrumentalKeywords: Dance Music, Musical Forms 3 parts
KARYA MUSIK “ADÂNTĒ’ IN G MINOR” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI MALIK AMRULLAH, ABD
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TEKNIK KEAKTORAN PANTOMIM CLAUDE KIPNIS PADA NASKAH BEAUTY AND THE BEAST  KARYA LINDA WOLVERTON SUTRADARA SHERLY CINDYA FRANSICA BAEHAQI ALMAS, KUN
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantomim adalah sebuah seni yang mengandalkan gerak tubuh dan ekspresi pada wajah secara maksimal, ciri-ciri dasarnya lahir dari aktivitas manusia karena gerak menirukan yang tidak mendasarkan pada rhytm secara dominan. Sebagai calon aktor perlu sebuah pelatihan dasar Pantomim agar menunjang sebuah kebutuhan akting yang baik, selain itu aktor dengan bebas mengekspresikan apapun yang ada disekitarnya meliputi objek hidup atau mati. Eksplorasi adalah tahapan yang paling penting dalam pantomim, beberapa hal yang harus dilakukan sebelum menuju tahap eksplorasi adalah pemanasan, peregangan, dan pelemasan agar tubuh siap dalam menerima tahap selanjutnya. Teknik yang digunakan penulis sebagai pedoman dalam pembentukan aktor pantomim pada naskah  Beauty and The Beast adalah teknik pelatihan aktor Claude Kipnis, yang, beberapa tahapan yang dilakukan diantaranya: isolasi tubuh, ilusi, penciptaan dunia. Isolasi tubuh mempunyai peranan penting dalam mengolah dasar gerak yang diantaranya melatih serta membentuk semua bagian tubuh mulai dari bagian kepala, sampai pada bagian kaki dan yang terakhir masuk pada tahapan olah mimik, kemudian masuk pada tahapan ilusi. Tahap eksplorasi pada bagian ilusi adalah melatih beberapa bagian tubuh agar menimbulkan efek yang menunjukkan kedetailan objek dan ekpresi, pada tahapan ini dibutuhkan intesitas latihan yang rutin agar mendapatkan hasil yang maksimal. Penciptaan dunia adalah tahapan terakhir pada teknik keaktoran pantomim Claude Kipnis.Teknik keaktoran pantomim Claude Kipnis menggunakan imajinasinya untuk menyampaikan sebuah pesan dengan pola gerak tubuh, ekspresi serta penguasaan ide atau gagasan dalam cerita agar penonton dapat menikmati pertunjukan mempunyai ciri khas yang sesuai dengan Claude Kipnis.Kata Kunci : Keaktoran, Pantomim, Claude Kipnis, Beauty and The Beast
KARYA MUSIK “O..LORD” DALAM TINJAUAN HARMONI RIGEL AURIGAETAMA, NIKOLAS
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“O..LORD” adalah judul yang diadopsi dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “Ya Tuhan” adalah sebagai bentuk doa dan pengagungan untuk Tuhan. Karya ini berbentuk tiga bagian, bagian pertama didominasi oleh paduan suara yang menyanyikan sebuah doa dan diiringi oleh orkestra, bagian dua adalah permainan instrumental yang didominasi oleh divisi string menggambarkan tentang suara alam dan suara Tuhan sendiri, bagian ketiga didominasi paduan suara yang menyanyikan pujian-pujian dan diiringi oleh orkestra, menggambarkan suasana suka cita berkat pertolongan-Nya.Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang tinjauan harmoni. langkah yang dilakukan untuk meninjau harmoni diantaranya memahami susunan akord dan kadens pada setiap kalimat lagu. Karya musik ”O..LORD” terdapat 124 birama dengan durasi 7 menit 44 detik. Dalam karya musik ini dimainkan dengan tempo Adagio, Moderat, dan  Andante secara bergantian dan berurutan. Adapun tangga nada yang dimainkan meliputi tangga nada D minor, C mayor, D mayor, dan A mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 dan 5/4. Dengan terciptanya karya musik “O..LORD” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik memiliki animo yang kecil di indonesia.Kata kunci : orkestra, paduan suara, akord, kadens."O..LORD" is the title adopted from the English language, which literally means "Lord" is a form of prayer and adoration to God. This work is in the form of three parts, the first part is dominated by the choir who sang a prayer and accompanied by the orchestra, the second part is a instrumental played dominated by string divisions describing the natural sounds and the voice of God himself, the third part dominated by choir singing praise and accompanied by the orchestra, describes the atmosphere of joy thanks for help to Him. In this paper discusses more about the review of harmony. steps taken to review the harmony of them understand the structure of chords and kadens on each sentence. Musical work "O..LORD" there are 124 bars with a duration of 7 minutes and 44 seconds. In a piece of music is played with tempo Adagio, Moderate, and Andante alternately and sequentially. The scales are played include scales D minor, C major, D major and A major. As well as using 4/4 and 5/4 time signatures. With the creation of musical works "O..LORD" this may be a reference for the students and the general public to love and attention of music, particularly classical music because music has little interest in Indonesian.Key words : orchestra, choir, chord, kadens.
TEKNIK GERAK BODY CONTACT PADA KARYA TARI GREGET NYALAMI YUGA P, FAHMIDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salaman merupakan sebuah bentuk interaksi sosial yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Interaksinya membudaya sangat menarik untuk diungkapkan menjadi sebuah karya koreografi baru. Penulis mencoba mengungkapkan susunan koreografi dengan fokus karya makna salaman dan teknik gerak body contact berdasarkan jumlah penari.Kajian teori koreografi dari berbagai ahli dijadikan sebagai pijakan dalam penciptaan karya tari ini meliputi, teori koreografi sebagai teknik oleh Sumandiyo Hadi, metode konstruksi I oleh Jacqueline Smith, Elemen Dasar Komposisi Tari oleh La Meri, Konsep Salaman, dan Konsep Body Contact, dan teori makna oleh Marcel Danesi. Hasil penciptaan karya tari yang relevan juga turut menjadi sumber atau referensi mengenai konsep, teknik, dan penggunaan jumlah penari untuk memperlihatkan perbedaan orisinalitas masing-masing karya tari.Metode penciptaan meliputi pendekatan metode konstruksi I Jacqueline Smith, penyusunan konsep terdiri dari: tema, judul dan sinopsis, teknik, gaya; seni pendukung terdiri: dari iringan musik, tata lampu, tata rias busana, tata panggung, penari, dan proses yang dimulai dari rangsang, kerja studio sampai terbentuknya karya tari dengan judul Greget Nyalami.Visualisasi simbol makna salaman dengan penerapan teknik gerak body contact berdasarkan jumlah penari, koreografer mengatur berbagai motivasi jumlah penari tersebut secara bervariasi. Pengaturan variasi jumlah penari untuk menyimbolkan berbagai makna salaman bertujuan untuk menjadikan karya tari Greget Nyalami sebagai karya tari multi interpretatif. Kata Kunci: Greget Nyalami, Salaman, body contact
BENTUK PENYAJIAN  KARYA MUSIK “IBU INSPIRASIKU” AFAN AFIFUDIN, WIDYANTONO
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karyamusik“Ibu Inspirasiku” diciptakan oleh composer Widyantono Afan Afifudin  dengan mengusung tema “Ibu”. Karya musik yang diciptakan composer memfokuskan pada perjuangan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang tidak pernah lelah memperujuangkan anaknya untuk  mendapatkan kebahagian, pendidikan, agama, kesehatan, materi  dan mengajari arti hidup di dunia ini. Sosok ibu tidak pernah tergantikan oleh siapapun dan  surga berada di telapak kaki ibu dan kasih sayang ibu sepanjang masa menurut “At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir I/996.” Perjuangan dari seorang ibu tersebut menjadikan dasar komposer menentukan tempo dan dinamika dalam karya musik baru yang akan diciptakanKarya musik “Ibu Inspirasiku” terdiri dari 4 bagian kompleks yaitu dibuka dengan introduction kemudian masuk pada bagian A kompleks (Ak), B kompleks (Bk), C kompleks (Ck), dan D kompleks (Dk) yang mana masing-masing bagian terdiri dari beberapa kalimat musik, diantara sebagai berikut: komposer mencoba menyampaikan sebuah pesan perjuangan dan kasih sayang ibutulus kepada anaknya dan kasih sayang ibu sepanjang massa dengan komposisi musik orkestra dengan gitar elektrik, bass drum ,keyboard dan mencoba menggabungkan orchestra dan band  dengan komposisi baru, dalam penciptaan karya ini  solo gitar  elektrik yang akan lebih  dominan memberi warna dari alur cerita dari pencptaan karya tersebut, Komposer akan memfokuskan karya ini pada bentuk penyajian karya musik “ibu inspirasiku” agar tema, suasana serta tujuan dari karya ini bisa tersampaikan kepada penonton.Kata kunci : Bentuk Penyajian “Ibu Inspirasiku” The work of music “My mother, my inspiration” created by composer widyantono afaf afifudin with “mother” theme. The work of music that created by the composer focus on struggle and affection of a mother to their child that never tired to fight for their child’s happiness, education, religion, health, wealth and teach the maening of this life.The figure of mother can not be replace by anyone. Heaven is under the palm of mother’s  feet and the effection of the mother is long lasting, according to “At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as Shaghiin I/996”. That struggle of a mother create a basic for composer to chose tempo and dynamic in the latest work of music that will be created.The work of music “My mother, my inspiration” consists of 4 complex part, they are opening, begin with introduction then come to A complex part (Ak), B complex (Bk), C complex (Ck) and D complex (Dk) that every part consist of some music sentences, They are:Composer try to deliver a message of struggle and affection to their child and their love is forever by created orchestra music composition with electric guitar, drum bass, keyboard and try to combine orchestra and band with new composition. in this work creation, solo guitar that will be more dominantly give color from story plot. The composer will focus on the presentation form from the work of music “My mother, my inspiration” so that the theme, situation and purpose of this work will be delivered to the audience.Keyword : Form of presentation “My mother, my inspiration
TEKNIK KEAKTORAN  TOKOH NYI CINDHE TERHADAP LAKON “NYI CINDHE AMOH” KARYA EDI KARYA SUTRADARA AHMAD FATONI LAILIYAH, ICHTITATU
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktor dan sutradara memiliki hubungan yang saling bersinergi karena aktor yang akan mentransfomasi apa yang diinginkan oleh sutradara. Sutradara yang bertugas mengarahkan sebuah peran yang akan dimainkan atau diperankan oleh aktor dan aktor berusaha mencari dan mempelajari kata-kata yang jadi porsi pemeranannya. Lakon yang berjudul “Nyi Cindhe Amoh” karya Edi Karya, merupakan naskah lakon teater tradisi.Metode yang dilakukan aktor untuk mewujudkan tokoh Nyi Cindhe harus memiliki motivasi peran. Oleh karena itu bagaimana teknik keaktoran tokoh Nyi Cindhe terhadap Lakon “NyiCindheAmoh” karya Edi Karya sutradara Ahmad Fatoni? Adapun tujuan dari teknik keaktoran ini adalah untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh tugas akhir di Jurusan Sendratasik FBS UNESA, serta untuk menganalisa teknik keaktoran tokoh Nyi Cindhe terhadap lakon “Nyi Cindhe Amoh” melalui tinjauan realis.Proses  penciptaan keaktoran tokoh Nyi Cindhe menggunakan beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi latihan-latihan, yaitu keterbacaan naskah, eksplorasi peran, eksplorasi hand property, eksplorasi moving dan bloking, running cut to cut, pemantapan, pragladi kotor, gladi kotor, dan gladi bersih.Kata kunci: Teknik, Keaktoran, Lakon “NyiCindheAmoh”
ANALISIS TEKNIK KEAKTORAN TOKOH SOEDARSO DALAM NASKAH “HANYA SATU KALI ”KARYA HOLWORTHY HALL DAN ROBERT MIDDLEMASS SADURAN SITOR SITUMORANG SUTRADRA ILHAM AULIA ARJANGGI, ENGGIT
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hanya Satu Kali merupakan naskah saduran yang menggambarkan politik pada era orde lama sehingga dalam mementaskannya butuh pencarian dan riset yang mendukung pada tahun yang dimaksudkan naskah. Disini penulis menitik beratkan pada tokoh Soedarso, bukan hal mudah memerankan seorang yang menjalani hukuman dibalik jeruji besi dan akan dihukum gantung. Tantangan yang diterima penulis dalam memerankan tokoh Soedaso yaitu menjadi seorang terpidana yang bersikap dingin,tenang dan misterius. Selain itu, aktor dituntut juga menghidupkan karakter di atas panggung karena sejatinya aktor bukanlah robot yang digerakan oleh sutradara.Teknik yang digunkan dalam memerankan tokoh Soedarso penulis menggunakan teknik milik W.S  Rendra. Tahapan tahapan dalam teknik milik Rendra yaitu, a). Permainan yang hidup, b). Mendengar dan menangapi, c). Kejelasan ucapan, d). Membina klimaks e). Bergerak dengan alasan, f). Proyeksi, g). Memahami takaran, h). Cara muncul, i). Timing, j). Tempo permainan, k). Improvisasi. Naskah Hanya Satu Kali berbentuk realis yang berarti dalam proses penciptaan membutuhkan detail dan observasi. Hal ini sangat dibutuhkan agar aktor dapat menjadi apa yang diinginkan naskah karena tugas seorang aktor sejatinya menghidupkan permainan di diatas panggung.Kata kunci : teknik, aktor, Hanya Satu Kali.

Page 5 of 24 | Total Record : 234