cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
TINJAUAN BENTUK MUSIK PADA VARIATIONEN (ÜBER EIN ANATOLISCHES VOLKSLIED) KARYA CARLO DOMENICONI GALIH W, ILHAM
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bentuk musik variasi merupakan bentuk tertua dan paling dasar yang ditemukan dalam musik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi. Dalam penelitian ini menggunakan kajian teori berupa analisis, ilmu bentuk musik, struktur musik, bentuk musik variasi dan 22 prosedur variasi dalam buku structure and style karya Leon Stein sebagai teori utama. Objek penelitian difokuskan pada bentuk musik Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan ialah reduksi data penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi merupakan repertoar solo gitar klasik bentuk musik variasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa karya ini terdiri 7 bagian (tema, variasi 1, variasi 2, variasi 3, variasi 4, variasi 5 dan finale). Variasi 1 memiliki prosedur variasi hiasan melodi, penggunaan figur melodi dari tema, perubahan tanda birama, gerak bertentangan dan perubahan warna. Variasi 2 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi dan penggunaan struktur pola dari tema. Variasi 3 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi, perubahan tanda biama. Variasi 4 memiliki prosedur variasi gerak bertentangan. Variasi 5 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi, diminusi dan penggunaan struktur pola dari tema. Bagian finale terdiri dari 6 sub bagian (rekapitulasi). Karya ini merupakan representasi salah satu bentuk musik variasi modern.Kata Kunci : Bentuk Musik, Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied), Carlo Domeniconi.Variation musical form constitute the most old musical form and foundation in the music. This study aimed to described the form of music Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) Carlo Domeniconi creation. In this research use theory focus that is analysis, knowledge of music form, music structure, variation music form and 22 variation procedure include the book of structure and style Leon Stein creation as important theory.  Object of research is focused on musical form Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) Carlo Domeniconi creation. This research uses descriptive method qualitative research data obtained by observation, interviews, documentation and literature study. Data analysis technique used is data reduction, data display, and conclusion. The results of this study show that Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) creation Carlo Domeniconi constitute repertoar for classical guitar solo’s variation music form. This reseach study shown theat this piece composed formed 7 movement (thema, variation 1, variation 2, variation 3, variation 4, variation 5 and finale). Variation 1 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking and variation procedure decorated melody, employing melody figure as a theme, change of key signature, contrary motion and change of colour. Variation 2 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking kwart interval domination and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody and employing structure as a theme. Variation 3 have a conspicuousness aspect that the horisontaly compactness not and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody, change of key signature. Variation 4 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking domination and variation procedure contrary motion. Variation 5 have a conspicuousness aspect that the horisontaly compactness not and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody, and employing stucture as a theme. Finale movement build by 6 sub movement (recapitulation). This pieces is  representation form several modern variation musical form.Keywords: Musical Form, Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied), Carlo Domeniconi.
KARYA MUSIK ORACION A DIOS DALAM TINJAUAN ESTETIKA MUSIK ALFA DION S, RHEMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENERAPAN METODE CONDUCTING PADA PENCIPTAAN KARYA MUSIK “FAJAR PERTIWI”  KOMPOSER LILIS HIDAYATI RUCHMANA HIDAYATI RUCHMANA, LILIS
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa kita adalah bangsa yang kaya raya. Kekayaan alam merupakan kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Saat ini rakyat Indonesia belum menyadari bahwa mereka bekerja di bawah kekuasaan asing dalam penguasaan hasil alam di negara ini. Dalam kondisi yang kian memprihatinkan, di tangan generasi mudalah harapan terbesar bangsa berada untuk membangkitkan kembali semangat dan keberanian dalam mengelola segala kekayaan Ibu Pertiwi. Fenomena tersebut menjadikan komposer tergerak untuk berkarya musik dengan judul “Fajar Pertiwi”. Seperti dalam suatau negara, musik juga membutuhkan pemimpin untuk memaksimalkan pertunjukan. Maka dibutuhkan peran seoarang conductor dalam penyajian karya musik. Tugas conductor tidak hanya memimpin saat pertunjukan tetapi menyusun program, memimpin latihan dan mengintrepretasikan lagu. Karya musik “Fajar Pertiwi” merupakan musik instrumental dan progamatik dengan gaya dan teknik klasik yang memiliki 174 birama dengan durasi 7 menit. Karya musik ini mengangkat tema tentang semangat generasi muda untuk merebut kembali kekayaan alam indonesia. Karya musik ini memiliki tiga bagian kompleks. Karya musik “Fajar Pertiwi” dimainkan dengan tempo Adagio, Allegretto, Moderato dan Maestos. Adapun tangga nada yang dimainkan adalah C mayor dan A minor. Metode conducting yang digunakan oleh conductor dalam karya musik “Fajar Pertiwi“ mengalami beberapa tahapan diantaranya yaitu studi partitur, pelaksanaan metode conducting saat latihan, evaluasi tahap I, evaluasi tahap II, penyusunan formasi pemain, metode conducting dengan baton dan terakhir adalah penerapan metode conducting saat performance yang memeiliki tahapan lagi diantaranya yaitu isyarat matra lagu, isyarat persiapan (attack), isyarat mengakhiri lagu (release) dan ekspresi wajah.  Kata Kunci : Metode Conducting, Fajar Pertiwi, Conductor.This nation so wealth. Nature richness is the true nation wealth. Until nowadays Indonesian people has not realize that they worked under foreign party power which more controlling nature result in this country. In this further pitiful condition, the hand of youth generation is the biggest nation hope in this time to resurrect the spirit and bravery to develop all mother nation wealth. Those phenomenon become the composer’s inspiration who inspired to make musical work entitled “fajar pertiwi”. Like a nation, music also required a leader to optimize its show. Therefore, it will need a composer’s role in musical work presentation. Conductor’s role not only lead during show but also arranged program, lead rehearsal and interpreted song. “Fajar pertiwi” musical work is an instrumental and programmatic music with classic style abd technique which has 174 bar with 7 minutes duration. This musical work bring theme concerning youth spirit to regain Indonesian wealth. This musical work has three big parts namely Ak (a complex), Bk (b complex), and Ck (c complex). “Fajar pertiwi” musical work played with adagio, allegretto, moderato, and maestos tempos. The scale played was C major and A minor. Conducting method which applied by conductor in “Fajar pertiwi” musical work experienced several staged such as partite study, the application of conducting method during rehearsal, evaluation stage I, evaluation stage II, the player formation arrangement, conducting method with baton and the last were the application of conducting method during performance which gas several stages like song bar cues, preparation cue (attack), end song cue (release) and mimic. Keywords: conducting method, fajar pertiwi, conductor
KARYA MUSIK “NOISY TRAINS” DALAM TINJAUAN MUSIK BLUES ARDIANSYAH, LUTHFI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menciptakan karya musik yang segar dan kreatif bisa didapatkan melalui kepekaan seorang komposer terhadap lingkungan. Pengamatan yang dalam, tentu akan melahirkan rasa empati dan perenungan. Pada tahap ini kualitas pencipta musik diuji, seberapa jauh pencipta musik dapat menangkap fenomena-fenomena di lingkungan sekitar menjadi ide-ide segar. Kemudian merangkai satu persatu membentuk menjadi tema. Karya musik ”Noisy Trains” merupakan hasil penuangan ide yang muncul dari proses mendengar dan berimajinasi. Dalam waktu bertahun-tahun komposer  berinteraksi dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang kebetulan berdekatan dengan setasiun kereta api. Selain itu kehidupan sehari-hari dikelilingi dengan aktifitas bermusik, musik yang sering didengarkan adalah musik berkarakter blues, dari latar belakang inilah yang mendasari munculnya konsep musik bertema instrumentasi aktifitas kereta api yang kemudian ditranformasikan kedalam musik bergenre blues. Kekuatan dalam karya musik “Noisy Trains” terletak pada konsep musikal dan dasar teori musik blues, teori yang digunakan sangat mendasar mulai dari sejarah musik dan karakteristik musik blues, diantaranya seperti karakteristik vokal blues, the blue note, akord dan progres dasar blues 12 birama, bass riff, walking bass, double stop lick, dan teknik permainan instrumen.Secara sudut pandang musikal karya musik “Noisy Trains” menganut teori bentuk musik 3 bagian, jumlah keseluruhan biramanya adalah 191 birama dan  berdurasi  7 menit lebih 45 detik.   Bagian ke 1 adalah bagian Ak (Birama 1-47) ,bagian ke 2 adalah bagian Bk (Birama 48-81) , dan bagian ke 3 adalah bagian Ck (Birama 82-191) Karya musik “Noisy Train” menggunakan sukat 4/4 dengan tempo andante, moderato, maestoso dan allegreto.Kata kunci : Tinjauan Blues , Noisy TrainsCreating fresh and creative musical frequently obtained from composer’s sensitivity to surrounding environment, through deep observation, certainly will utter empathy and contemplation. In this stage composer’s quality is tested, how far composer can grasp phenomenon on surrounding environment to become fresh ideas. Then arranged one by one to form certain theme. “Noisy trains” musical work was an idea pouring result which born from hearing and imagination process. For years composer interact with environment around his home which accidentally closed with train station. Beside, its daily activities that surrounded by musical activities, music which frequently heard was blues, this was the background of musical concept with train activity instrumentation theme which later transformed to blues music. The power in “Noisy trains” musical work lies on musical concept and blues basic theory, theory which applied very elementary from the blues music history and its characteristic, such as blues vocal characteristic, blue note, cord, and 12 bar blues basic progress, bass riff, walking bass, double stop lick, and instrument playing technique. Perceptively, “Noisy trains” musical work followed 3 parts musical form theory, the bar total were 191 bars with duration 7 minutes 45 seconds. The first part was ak (bar 1-47), second part was bk (bar 48-81), and the third part was ck (bar 82-91). “Noisy trains” musical work applied measure unit 4/4 with andante, moderato, maestoso and allegretto tempos. Keywords: blues review, noisy trains
ANALISIS BENTUK MUSIK PADA KARYA “GUITARRA Y CELLO” DARA CITATA, ROMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “SALVATORE” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI KURNIA NOVANDHI, NANDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Salvatore” berasal dari Bahasa Latin yang berarti penyelamat, kata tersebut diangkat menjadi judul pada kaya ini karena sangat mendukung fenomena yang diangkat. Perilaku manusia yang semakin buruk menjadi persoalan yang menarik untuk diangkat, ditandai dengan banyaknya kasus-kasus kriminal yang melibatkan manusia. Jika dilihat dari sudut pandang Agama Kristen-Katholik, mereka lupa akan keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus. Dari fenomena tersebut, composer memiliki ide untuk menciptakan karya musik “Salvatore”. Kajian teori yang digunakan pada komposisi ini diambil dari beberapa buku yang membahas tentang musik, vokal, bentuk musik, orkestrasi, orkestra, unsur musik, serta hasil penciptaan yang relevan terhadap karya ini seperti karya dari J S Bach dan Wolfgang Amadeus MozartDalam langkah-langkah penciptaan karya ini dilandasi dengan ilmu analisis bentuk musik sebagai acuan untuk membangun karya ini. Karya ini bergaya klasik. Dengan instrumen dan pemain yang dipilih secara seksama, serta penataan panggung untuk mendukung karya musik ini. Proses penciptaan berawal dari eksplorasi dan kerja studio, kemudian metode analisa dan evaluasi, kemudian metode penyampaian materi kekaryaan.Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang analisis orkestrasi. Analisis yang dilakukan diantaranya analisis orkestrasi bagian 1, analisis orkestrasi bagian 2, analisis orkestrasi bagian 3, analisis orkestrasi bagian 4.Karya musik yang berjudul ”Salvatore” ini termasuk bentuk campuran, karena di dalam komposisi musik ini terdapat 4 (empat) bagian yang dimana masing-masing bagian memiliki bentuk musik yang berbeda.Kata kunci : Penyelamat, Bentuk Musik, Orkestrasi"Salvatore" from Latin Language, which means savior. The word is used as the title to this work because, supporting the phenomenon. The phenomenon is bad human behavior. In the viewpoint of Christian-Catholic, they forget the salvation provided by Jesus Christ. From this phenomenon, the composer had the idea to create a piece of music "Salvatore".Study of theories used in this paper to support the compositions made taken from several books about music, vocal, musical forms, orchestration, orchestra, musical elements, there are also the result of the creation that are relevant to the work of this music, like the works of JS Bach and Wolfgang Amadeus Mozart.In the steps of creating the work is based on the analysis of forms of music as a reference to develop this work. This work is a classic style, with the instruments and players were selected carefully, and structuring stage to support the work of this music. The creation process begins with the exploration and studio work, then the method of analysis and evaluation , and delivery methods workmanship .In this paper discusses the orchestration. Analysis is conducted orchestration analysis part 1, orchestration analysis part 2, orchestration analysis part 3, and orchestration analysis part 4.Musical work entitled "Salvatore" is included into the free form, because in this composition there are four sections, where each section has a different form of music.Keywords: Savior, Forms of Music, Orchestration.
LEGENDA MENAK SOPAL DALAM DRAMATARI GAJAH SETO MUHAMMAD W, ALBERT
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap daerah selalu mempunyai tradisi cerita-cerita lisan.. Dalam penciptaan karya tari, penulis tertarik mengambil fokus dari sejarah tradisi cerita lisan Kabupaten Trenggalek yakni dari kejadian dimana  Menak Sopal mencari akal merangkul rakyat Trenggalek untuk dapat memeluk agama Islam dengan membangun bendungan yang harus mengorbankan gajah milik Mbok Randha Krandon.Koreografer menyampaikan karya tari dalam bentuk dramatari. Karya dramatari “Gajah Seto”, koreografer menghadirkan proses perkembangan tari tradisi Jawatimuran gaya Mataraman yang dikembangkan dengan eksplorasi kain. Dalam unsur dramatari koreografer menghadirkan pula vocal tembangan, vocal monolog dialog, dipadukan dengan garap musik tradisi jawatimuran.Kajian pustaka dan kajian teori yang digunakan dalam penyusunan karya diantaranya mengunakan teori dramatari dari Peni Puspito, Jaquelin Smith, dan Sal Murgianto. Metode penciptaan yang dipakai dalam karya tari Gajah Seto adalah metode konstruksi. Metode ini menggunakan pendekatan penciptaan, konsep pencptaan, dan juga proses.Struktur penyajian karya tari Gajah Seto terdiri dari lima bagian. Elemen utama tari yaitu gerak dengan eksplorasi kain sedangkan elemen pendukungnya yaitu dialog dan monolog, tata rias busana, pola lantai, musik pengiring, dan tata teknis pentas. Karya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan moral melalui tema yang di hadirkan yaitu tentang kepahlawan Menak Sopal, dimana nilai-nilai terkandung didalamnya dapat digunakan sebagai suri tauladan. Kesimpulan dalam penulisan Legenda Menak Sopal Dalam Dramatari Gajah Seto adalah membuat bentuk baru dalam sebuah karya tari cerita yang diangkat. Teknik gerak serta teknik penggunaan kain menjadi hal yang  perlu diperhatikan di dalam karya tari ini. Kedua hal tersebut sangatlah berkaitan dan menjadi motivasi untuk penyampaian isi karya tari. Adapun dengan adanya karya tari Gajah Seto dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk mengemas suatu dramatari yang lebih menarik. Karena hakekat dramatari lebih mengedepankan gerak tari daripada dialog atau monolog para penarinya.  Kata Kunci : Gajah Seto, Menak Sopal, DramatariEach region has always had a tradition of oral stories .. In creating a dance piece, the authors are interested in taking the focus from the historical tradition of oral story Trenggalek ie from an incident where Menak Sopal find a way to embrace the people Terri can embrace Islam by building dams to sacrifice elephant Mbok belongs Randha Krandon.Choreographer delivered in the form of a dance piece dramatari. The work dramatari "Gajah Seto", choreographed dance tradition of presenting the development process Jawatimuran Mataraman style developed with exploration fabric. In dramatari choreographed elements towards bringing tembangan vocal, vocal monologue dialogue, combined with work on traditional music jawatimuran.Literature review and study of theory used in the preparation of such works using the theory of Peni Puspito dramatari, Jaquelin Smith, and Sal Murgianto. Methods used in the creation of a dance piece Elephant Seto is the method of construction. This method uses the approach to creation, concept pencptaan, and also the process.Structure display Gajah Seto dance work consists of five parts. The main elements of dance is movement with the exploration of fabric while supporting elements, namely dialogue and monologue, cosmetology fashion, floor patterns, mood music, and performing technical procedures. This work is expected to convey moral messages through themes which at present is about kepahlawan Menak Sopal, where the values contained therein can be used as a role model.Conclusions in writing legend Menak Sopal In Dramatari Gajah Seto is create a new form in a work of dance story raised. Mechanical motion and technique using fabric into things to note in this dance work. Both of these are very related and the motivation for content delivery dance work. As with any dance work Gajah Seto will be an inspiration and motivation to pack a dramatari more interesting. Due to the nature of dramatari more forward motion rather than dialogue or monologue dance the dancers.        Keywords: Gajah Seto, Menak Sopal, Dance Teather
KAMUFLASE DIBALIK TOPENG DALAM SAJIAN KARYA TARI FACES PERMATASARI, NORMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena yang dijadikan pijakan dalam penciptaan karya tari pada tulisan  ini merupakan salah satu dari sifat antagonis manusia, yaitu adanya pembudayaan sifat buruk manusia. Pembudayaan sifat buruk yang dimaksud yaitu mencari muka di masyarakat. Mencari muka merupakan upaya yang dilakukan demi melancarkan segala hal yang diinginkan, yaitu dengan menjadi apa dan siapa saja sesuai dengan situasi dan kondisi yang bisa menguntungkanya. Terdapat dua fokus di dalam tulisan karya ini yaitu isi dan bentuk. Isi dalam karya tari Faces ini adalah tentang persoalan kamuflase (penyamaran/pengelabuhan) dan topeng sebagai bentuknya. Topeng merupakan sebuah benda yang digunakan untuk menutup atau menyembunyikan identitas untuk membentuk wujud lain. Tujuan penulisan dalam kekaryaan ini yaitu untuk menambah literatur tentang bentuk penyajian tari dramatik dengan menghadirkan topeng sebagai media eksplorasi.Pada penulisan karya tari Faces ini, menggunakan beberapa teori penataankoreografi. Teori yang digunakan antara lain tulisan Sal Murgiyanto yang berjudul Koreografi Pengetahuan Dasar Komposisi Tari dan tulisan Retnayu Prasetyaniyang berjudul Koreografi dan Teknik Gerak Pemakaian  Topeng sebagai literatur koreografi.Ide garap karya koreografer dapatkan dari rangsang visual dan gagasan (idesional). Dari melihat kejadian di masyarakat dan kemudian melalui perenungan koreografer menemukan sebuah ide. Proses penciptaan karya tari ini melalui beberapa tahap, yaitu eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi. Karya tari Faces menggunakan properti topeng dengan berbagai bentuk yaitu topeng yang hanya menutup mata, topeng yang menutup separuh wajah dan juga topeng yang full menutup wajah. Alasan koreografer menggunakan berbagai macam bentuk topeng yaitu karena pada dasarnya “mencari muka” merupakan upaya menjadi apa saja dan siapa saja yang diinginkan.Karya tari Faces merupakan sebuah karya inspiratif yaitu dalam menambah penawaran bentuk pertunjukan karya tari dengan  mengeksplor lebih dari satu topeng dengan bentuk yang berbeda dalam sebuah sajian karya. Selain itu, dengan adanya karya ini dapat dijadikan renungan dan tidak lagi adanya pembudayaan sifat mencari muka di masyarakat.Kata Kunci: Mencari Muka, Kamuflase, TopengThe phenomenon that is used as a foothold in the creation of this dance work is one of the antagonists of human, namely the civilizing nature of partiality in the community.Partiality is an effort made for the sake of waging all things to be desired, namely by being anything and anyone in accordance with the circumstances. There are two focus in this work is content and form. Fill in this Faces dance work is about the problem of camouflage (disguise / pengelabuhan) and mask as shape. The mask is an object that is used to cover or conceal the identity to form another being. Interest in the workmanship of writing this is to add to the literature on the form of dramatic presentation by presenting a maskdance as a medium for exploration.Faces dance work on writing this, there are several books choreography theory. The theory used include Sal Murgiyanto (Composition Dance Choreography Basic Knowledge) and Retnayu Prasetyani (Choreography and Techniques of Motion Use of Masks) as literature choreography. The idea of working on this work choreographed get from visual stimuli (see) and ideas (idesional). From looking at events in the community and then through contemplation choreographer find an idea. The process of creation of this dance work through several stages of exploration, improvisation, foarming, andevaluation.Faces dance piece using masks with different forms of property that is a mask that just closed my eyes, a mask that covered half of his face and also masks that cover the full face. The reason choreographed using various forms of masks are basically the "partiality" is an effort into anything and anyone you want.Faces dance work is an inspirational work that is in the form of the show deals add dance work by exploring more than one mask with different shapes in a dish work. In addition, the presence of this work can be used as an afterthought and not to mention the civilizing nature of partiality in the community.Keywords :Finding Face, Camouflage, Mask
PENERAPAN DIREKSI DALAM PENYAJIAN KARYA MUSIK BROTHER KOMPOSER ADI PRASETYA PRASETYA, ADI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Brother” (kata dalam bahasa inggris yang berarti Adik   laki-laki).  Kata tersebut dipilih oleh komposer karena merupakan sebuah pengalaman hidup komposer yang kehilangan orang terdekat  yaitu adik laki–lakinya. Karya musik “Brother” ini dikemas dalam bentuk chamber orchestra, dan akan dipimpin oleh seorang konduktor. Seorang konduktor memerlukan ilmu yang banyak dan memadai. Selain itu, seorang konduktor juga harus memiliki sifat leadership, ketrampilan berkomunikasi yang baik dan cerdas, baik berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Bentuk musik karya Brother adalah bentuk variasi. Jenis variasi berpangkal dari tiga unsur pokok musik yaitu melodi, irama, harmoni/aransemen. Karya musik “Brother” terdiri atas 160 birama. Tempo yang digunakan adalah tempo Adegio, Allegro, dan Moderato Tangga nada yang dimainkan adalah tangga nada G mayor, A mayor, D mayor, B mayor, F mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 , 2/4, dan 3/4. Dinamika yang mendukung penciptaan suasana yang diinginkan, seperti piano, pianisisimo, forte, mezzoforte, fortesisimo, cressendo, dan decressendo. Sedangkan untuk penulisan tentang direksi, komposer terinspirasi dari melihat konduktor dalam negeri dan luar negeri yang pada saat mengabah suatu kelompok musik dapat dengan baik memimpin pertunjukan tersebut. Dalam mendireksi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, langkah-langkah mendireksi dimulai dari mengetahui alur matra yang digunakan, gesture saat mengabah, gerakan attack gerakan release dan mimik atau ekspresi. Dengan terciptanya karya musik “Brother” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik klasik memiliki animo yang kecil di indonesia.Kata kunci : Brother, direksi, bentuk musik, chamber orchestra"Brother" (the word in English which means brother). The word chosen by the composer as a composer who lost their life experience that is the closest younger brother. Musical work "Brother" is packaged in a chamber orchestra, and will be led by a conductor. A conductor requires a lot of knowledge and adequate. In addition, a conductor must also have the nature of leadership, good communication skills and a smart, well communicate verbally and non-verbally. Brother works of musical form is a form of variation. Variations stem from three main elements of music are melody, rhythm, harmony / arranger. Musical work "Brother" consists of 160 bars. Tempo is used Adegio tempo, Allegro and Moderato Stairs tones played are scales of G major, A major, D major, B major, F major. As well as using the time signature 4/4, 2/4, and 3/4. Dynamics that support the creation of the desired atmosphere, like piano, pianisisimo, forte, mezzoforte, fortesisimo, Cressendo, and decressendo. As for the writing of the directors, composers inspired from seeing the conductor within the country and abroad at the time mengabah a musical group could well lead the show. In mendireksi there are a few things to note, steps mendireksi starts from knowing the groove dimensions are used, when mengabah gesture, movement and expression attack release movement or expression. With the creation of musical works "Brother" this may be a reference for the students and the general public to more love and attention of music, particularly classical music because music Classic have little interest in Indonesia.Keywords: Brother, directors, form of music, chamber orchestra
KARYA MUSIK “MOIRA” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI DAN TEKNIK PERMAINAN SOLO VIOLA YUDHIANI P, FARIDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Moira” merupakan kata yang diadopsi dari bahasa Irlandia yang memiliki arti “perempuan hebat”. Jika ditinjau dari segi fungsinya, karya musik ini tergolong dalam musik programatik sebab menceritakan tentang kisah hidup seorang ibu single parent yang dituangkan melalui jenis musik instrumental, tanpa vokal. Format dari karya musik ini disajikan dalam bentuk orkestra dengan jumlah 28 orang pemain. Durasi musiknya 8 menit 32 detik dalam jumlah 135 birama. Karya musik “Moira” ditinjau dari segi variasi melodi dan teknik permainan solo viola. Variasi melodi yang digunakan terdiri dari ornament appoggiatura dan trill, melodic variation and fake, rhythmic variation and fake, composite melodic variation and fake, ornament, auxiliary notes, dead spot filler, dan counter melodi. Sedangkan teknik permainan solo viola yang digunakan terdiri dari teknik legato, teknik accent, teknik detache, dan teknik bowing. Bentuk musik dari karya musik ini merupakan bentuk musik 3 bagian kompleks yang terdiri dari Bagian 1 Ak meliputi (A, A1, B, C, D, C1), bagian 2 Bk meliputi (E, E1, E2, F, F1, G), dan bagian III Ck meliputi (H, H1, I, J, B1, K, A2). Secara umum melodi pokok dari karya musik “Moira” dimainkan oleh violin 1 dan solo viola pada tema bagian 1, dan bagian 3. Namun pada bagian tertentu melodi utama terdengar pada flute dan bergantian dengan clarinet. Violin 2, tutti viola dan cello lebih sering berperan sebagai iringan dan counter melodi dari melodi utama yang sedang dimainkan. Begitu juga dengan electric bass dan brass section. Melalui karya musik “Moira” ini diharapkan masyarakat dapat lebih menyayangi orang tua mereka khususnya pada orang tua yang telah berperan sebagai single parent, karena sebenarnya mereka membutuhkan kasih sayang lebih dan dukungan dari kita untuk menjalani hidupnya tanpa seorang pasangan hidup.Kata Kunci: Moira, Variasi Melodi, Teknik Permainan Solo Viola    “Moira” is a word which adopted from Irlandia language which is mean of the “great woman”. If it reviewed from the function, it include to programmatic music, because it tells about the story life of single mother which is shared in a instrumental music without vocal. This musical work formatted in orchestra. The duration of this musical work is 8 minutes 32 seconds on 134 bars. Musical works “Moira” is reviewed in melodic variation and technique of solo viola. The melodic variation that used are melodic variation and fake, rhythmic variation and fake, composite melodic variation and fake, ornament appoggiatura and trill, auxiliary notes, dead spot filler, and counter melodic. And the solo viola technique are legato, accent, detache, and the technique of bowing.“Moira” music form is a three complex period music form. It contains Ak (A, A1, B, C, D, C1) Bk (E, E1, E2, F, F1, G), and Ck (H, H1, I, J, B1, K, A2). In general, the main of melodic from this musical work is played with instrument violin 1 and solo viola on the first and third period theme. But on special period theme, the main melodic can listened on instrument flute and clarinet. Violin 2, tutti viola dan cello are more often play as an accompaniment and as a counter melodi of the main melodic which is played. Same with bass elektric and brass section. With this “Moira” musical works, hoped that everybody can love their parents, especially the one of parent who was be a single parent. Because actually they need our love and our support to can way his/ her life without the married couple. Keywords: Moira, Melodic Variation, Technique Of Solo Viola.

Page 4 of 24 | Total Record : 234