cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
STRUKTUR HARMONI PADA KARYA MUSIK “SING ISN’T LIPSYNC” IRFAN ISMAIL, NUR
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sing Isn’t Lipsync adalah karya musik yang menceritakan ketidak setujuan komposer terhadap adanya Lipsync yang saat ini lebih ditonjolkan seorang penyanyi. Karya ini dimainkan dengan komposisi kuartet vokal dengan susunan pemain 4 penyanyi tenor. Berawal dari menyaksikan teman-teman paduan suara menyanyikan lagu-lagu klasik dan membandingkan dengan para boyband dan girlband yang hampir setiap penampilan melakukan Lipsync.Pada karya “Sing Isn’t Lipsync” menggunakan format quartet vokal, yaitu Tenor 1, Tenor 2, Tenor 3, dan Tenor 4 berdurasi 8 menit 40 detik. Harmoni menjadi pilihan komposer dalam meninjau karya musik ini, karena harmoni merupakan unsur yang sangat berpengaruh terhadap musik. Adapun struktur harmoni dalam karya musik Sing Isn’t Lipsync yang akan dikaji adalah progres akord, modulasi, dan kadens.Judul Sing Isn’t Lipsync dipilih karena komposer merasa bahwa teknik Lipsync merupakan suatu teknik yang hanya mengandalkan kebutuhan pasar. Namun tidak menjamin sebuah kualitas yang bagus dari penyanyi itu sendiri.Kata kunci    : Harmoni, Lipsync, karya musik
KARYA MUSIK “JAZZ PHOBIA DALAM TINJAUAN MUSIK JAZZ WAHYU F, NIKEN
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik “Jazz Phobia” merupakan karya musik yang bertemakan tentang ketakutan akan  musik jazz. Tema tersebut muncul karena pengalaman komposer yang awalnya mempunyai rasa takut terhadap musik  jazz yang identik dengan variasi akord, syncop, tehnik dan irama. Rasa takut akan hilang jika karena muncul rasa senang itulah keinginan si komposer dan pada akhirnya muncul ide menciptakan karya musik “Jazz Phobia”.    Karya musik “Jazz Phobia” menggunakan kajian teori diantaranya irama-irama. Irama-irama yang terkandung dalam karya ini seperti jazz fussion, bebbob, latin dan soul jazz di sertai dengan pendukung elemen dan unsur  jazz meliputi, blue note, improvisasi, poliritmik, sinkop dan swung note.metode penciptaan karya ini dimulai dengan adanya inspirasi terhadap band jazz luar negeri seperti halnya, Quasimode, snarky puppy, hiromi dan sebagainya. Format penyajian karya music “Jazz Phobia” adalah orchestra dengan susunan instrument strings section, combo section brass dan wood wind section yang memakai tata formasi panggung seperti layaknya formasi orchestra dengan penempatan solo gitar didepan.Analisis dan pembahasan tinjauan musik jazz pada karya musik “Jazz Phobia” menujukan bahwa terdapat beberapa pembagian kalimat yang dimana setiap bagian kalimat memiliki irama jazz yang berbeda dengan variasi rhythm yang berda serta memiliki variasi progres akord dan pengembangan kalimat utama. Pengembangan irama merupakan kunci utama dalam pembahasan karya musik “Jazz Phobia” Dengan terciptanya karya musik “Jazz Phobia”  ini, semoga bisa menjadi refrensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar mengetahui irama dan pola rhythm musik jazz.Kata kunci: Jazz Phobia, tinjauan musik jazz, irama musik jazz
VISUALISASI CINTA TERLARANG DALAM BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI RISTA INDRA PERDANA, PARRISCA
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena cinta terlarang saat ini sering terdengar dikalangan masyarakat yang disebabkan perbedaan ras, agama, suku, gender, restu orang tua, strata sosial dan masih banyak lagi. Koreografer menjadikan cinta terlarang sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan cinta terlarang dalam bentuk karya tari Rista dan mendiskripsikan bentuk penyajian visualisasi cinta terlarang karya tari Rista.Teori – teori yang digunakan dalam penulisan ini diantaranya teori metode konstruksi dari Jacquiline Smith dan teori bentuk dari Sal Murgiyanto, M.A. Karya terdahulu yang menjadi acuan dalam penggarapan dan orisinalitas kekaryaan yaitu karya tari Panji Reni dan Forbiden.Metode penciptaan karya dimulai dari menentukan rangsang awal yaitu rangsang idesional, dengan tipe tari dramatik, yang menggunakan mode penyajian simbolis representatif dengan desain dramatik kerucut tunggal.Bentuk penyajian karya tari Rista meliputi struktur yang dibagi menjadi lima bagian yaitu intro menceritakan kemarahan, adegan I penggambaran sosok laki – laki dan perempuan, adegan II tentang percintaan antara dua tokoh, adegan III tentang gejolak dan konflik batin sebagai klimaks, adegan IV kepasrahan akan pilihan yang masih menggantung. Elemen utama yaitu gerak dengan pijakan jawa timuran yang dikembangkan dan elemen pendukung yaitu iringan, rias busana mengacu pada gaya jawa timuran, pola lantai, pemanggungan dengan panggung proceniumi beserta setting dan lightingnya.Karya tari Rista  ini berdurasi 14 menit, merupakan ungkapan pengalaman pribadi tentang cinta terlarang. Pada proses penataan, penata menemukan gaya atau style dari penata sendiri yaitu gerak – gerak dengan gaya romantis, temuan yang lain adalah bahwa ketika melakukan sebuah proses diawali dari membangun rasa penari dengan melakukan sharing  bersama tentang pengalaman cinta yang dialami penari, sehingga muncullah emosi serta pendalaman  dalam menarikannya. Karya tari Rista ini  menggunakan  3 penari laki – laki dan 3 penari wanita sebagai perwakilan dua sosok manusia antara wanita dan pria, yang merupakan  cerminan dari penata tari yang mengalami konflik cinta terlarang ini. Bentuk penyajian karya tari Rista ini terdiri dari lima bagian struktur, satu elemen utama dan lima elemen pendukung dengan desain dramatik kerucut tunggal. Bagian akhir karya tari mengungkapkan kebimbangan dan kecenderungan besar  penata, memiliki harapan untuk bersatu dengan kekasihnya.Kata kunci : Karya tari, cinta terlarang, bentuk penyajian
TEKNIK PENCIPTAAN MAKE UP DAN KOSTUM PADA NASKAH KISAH PERTUALANGAN ASTERIX EPISODE “ASTERIX MENYEBERANGI SAMUDERA” KARYA GOSCINNY DAN UDERZO ADAPTASI PUTHUT BUKHORI SUTRADARA LILIK SUMARNI TRAMIAJI J, SANDI
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah Pertualangan Asterix  Episode “Asterix Menyeberangi Samudera” merupakan  komik karya Goscinny dan Uderzo  yang didalamya berisi pertulangan Asterix dan Obelix mengarungi samudra untuk mencari ikan sebagai bahan ramuan ajaib untuk pasukan Galia agar lebih kuat. Didalam perjalanan mereka mereka bertemu berbgai tokoh yang berbeda ras.Dalam proses pengarapan  pementasan,  penulis bertugassebagai penata make up dan kostum. Penulismelihat  perteateran di Jawa Timur kurang disertai  dengan perkembangan make up dan kostum yang layak. Oleh karena itu penulis melakukan pengarapan make up dan kostum Kisah Pertualangan Asterix “Asterix Menyeberangi Samudera”, dengan  teknik yang dipaparkanTodd Debrcenni yaitu teknik 3 dimensi dengan media lateks yang telah dicetak. Henrry Field menjelaskanan  anatomi wajah berbagai  bangsa yang nantinya dijadikan dasar untuk membuat cetakan lateks.Kostum mengunakan teknik digunting dan dijahit  dan  pendekatan bentuk kostum  komik. Tujuan pendekatan bentuk bedasarkan komik adalah agar ikon tokoh-tokoh  pada Kisah Pertualangan Asterix  Episode “Asterix Menyeberangi Samudera” bisa diterima oleh penonton. Pendetailan kostum berasal dari data visual bedasarkan latar cerita bedasarkan analisis naskah bersama sutradara. Tujuan teknik dan pendekatan makeup dan kostum tersebut agar  lebih realis sesuai dengan konsep garapan sutradara, dan nantinya menjadi tontonan yang menarik tanpa menghilangkan unsur-unsur dalam komik dan latar yang dihadirkan dalam naskah.Kata kunci: Make up, Kostum, Asterix
BENTUK PERTUNJUKAN DAN PENYUTRADARAAN PADA PEMENTASAN PANTOMIME NASKAH “BEAUTY AND THE BEAST” KARYA LINDA WOLVERTON CINDYA FRANCISCA, SHERLLY
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beauty and the Beast   memiliki arti cantik dan buruk rupa. Kata cantik dan buruk rupa dalam cerita Beauty and the Beast menceritakan kisah setangkai bunga mawar yang dipetik seorang ayah tanpa meminta izin, menyebabkan anaknya yang baik hati dan cantik bernama Belle harus tinggal bersama Beast, laki laki buruk rupa yang memiliki sikap emosional dan ambisius dalam bertindak. Ketertarikan penulis membawa cerita Beauty And The Beast karena merupakan cerita dongeng dari Eropa dan memiliki tingkat apresiasi yang tinggi. Cerita Beauty And The Beast awalnya di tulis oleh Gabrielle Suzanne Barbot de Villeneuve di tahun 1740 pada novel La Bell La Bette, kemudian  novel tersebut adaptasi linda wolverton dalam naskah drama.Dalam kajian karya pantomime ini, penulis merupakan sutradara yang berperan sebagai pemberi gagasan-gagasan, mengatur semua laku, gerak pantomime dan perangkat pementasan di atas panggung. Sutradara menggunakan naskah yang diadaptasi menjadi script mime.  Mengaktualisasikan  script mime  dalam bentuk  gerak laku pantomimer dengan mengunakan teknik pantomime Marcel Marceau. Marcel Marceau membahas teknik penciptaan, teknik awal, bertindak, tubuh pantomime, tubuh berekspresi, pengembangan bertindak, tindakan wajah mime, ungkapan tubuh, menghasilkan tindakan. Tahapan-tahapan tersebut mempermudah sutradara dalam pencapaian target latihan, penggarapan pantomime yang terperinci dan terkonsep. Kata kunci : Penyutradaraan, Pantomime
KARYA MUSIK “OVERTURE METAFORA” DALAM TINJAUAN ARANSEMEN FATHIN KOESHADI, AFIF
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem politik di Indonesia yang dikuasai oleh para politikus dari berbagai macam partai politik layaknya badut yang bermain dalam sebuah pertunjukan sirkus. Badut-badut politik tersebut memainkan perannya dalam sebuah panggung opera politik di Indonesia. Mereka merasa tak perlu malu-malu untuk memperlihatkan kreasinya dalam menjalankan taktik menuju imperium. Penggunaan kata badut dalam politik dimaknai secara denotatif sesuai dengan majas metafora. Berpijak dari fenomena tersebut, maka lahirlah karya musik dengan judul “Overture Metafora”. Karya ini menggunakan bentuk musik overture dengan format ansambel campuran. Penulisan karya musik “Overture Metafora” difokuskan pada tinjauan aransemen.Karya musik “Overture Metafora” ditinjau dari segi aransemen musik berdasarkan ilmu aransemen pada bagian yang sudah disusun oleh komposer, antara lain; (1) melodic variation; (2) filler; (3) obbligato; dan (4) counter melody yang disusun dari segi komposisi, yaitu; (1) introduction; (2) transition; (3) retransition; (4) codeta; (5) interlude; (6) episode; (7) disolution; (8) coda; dan (9) postlude.Karya musik “Overture Metafora” mempunyai unsur-unsur aransemen dalam keilmuan aransemen yang disusun melalui bentuk komposisinya. Bagian introduksi, intrumen bell lyre berperan sebagai melodi pokok pengantar, vibraphone sebagai pembentuk akor dalam tangga nada Bm. Modulasi dan pergantian sukat  dikupas pada bagian transisi. Variasi melodi yang digunakan ada tiga macam, yaitu melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, dan composite melodic variation and fake. Pada retransisi, interlude, dan koda juga terdapat obbligato dan filler. Kodeta dalam kekaryaan ini berfungsi untuk mengkonfirmasi kadens. Karya ini mempunyai interlude yang terdapat pada kalimat e dan sebuah episode yang berdiri sendiri, bersifat meninggalkan tema birama 148-156. Terdapat dua disolusi untuk mengantarkan transisi dan retransisi menuju bagian baru. Sebagai penutup, terdapat postlude yang berfungsi memberikan kesimpulan.Melalui karya musik “Overture Metafora”, diharapkan  mahasiswa dan masyarakat umum dapat menjadi referensi, wacana, dan inspirasi dalam mengungkapkan isi hati melalui media musik serta mengetahui tentang keunikan musik badut dalam politik.Kata kunci: Overture Metafora, ansamble, brass, aransemenThe political system in Indonesia which is dominated by politicians from various political parties are playing like a clown in a circus. The political clowns play his role in a political opera stage in Indonesia. They no need to feel shy to show his creations in tactics towards the empire. The use of clown word in politics interpreted as denotative in accordance with the metaphorical figure of speech. Based on the phenomenon, Then was born the musical works by title “Overture Metafora”. This work use a form of musical overture with ensemble format mixture. The writing of musical works "Overture Metafora" is focused on a review arrangements.Musical works "Overture Metafora" in terms of musical arrangements by the science of arrangements that already drafted by the composer, such as; (1) melodic variation; (2) filler; (3) Obbligato; and (4) a counter melody which composed in terms of composition, that is; (1) introduction; (2) transition; (3) retransition; (4) codeta; (5) interlude; (6) episode; (7) disolution; (8) coda; and (9) postlude.Musical work "Overture Metafora" has elements of arrangements in the scientific arrangements are arranged through the form of compositions. Introduction part, bell lyre instrument role as an introductory basic melody, vibraphone as a shaper of the scales Bm chord. Modulation and replacement of measures peeled on the transition. melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, and composite melodic variation and fake. On the re-transition interlude, and there is also a coda obbligato and filler. Codeta in this work serve to confirm the kadens. This work has interlude contained in the sentence e and a stand-alone episode, is leaving the theme barline 148-156. There are two dissolution to deliver transition and re-transition toward new section. As cover, there is a postlude which serves to provide a conclusion.Through the musical works "Overture Metafora", the students and general public is expected could be a reference, a discourse, and an inspiration to reveal the heart's content through the media of music and to find out about the uniqueness of music clown in politics.Keyword: Overture Metafora, ensamble, brass, arrangements
KARYA MUSIK “SCHERZO CON BRILLANTE” DALAM TINJAUAN PENERAPAN KOMPOSISI SAIFUDDIN,
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ide awal mula seorang seniman dalam membuat sebuah karya musik salah satunya adalah hal yang dialaminya atau hal yang pernah dilihat. Ide tersebut muncul ketika seniman mengalami fenomena yang menarik dan pantas untuk dijadikan sebagai tema sebuah karya musiknya. Penulis terinspirasi akan hal yang pernah dilalui dan dilihat dalam perjalanan hidupnya ketika penulis merasakan halusinasi musik saat sedang berkendara yang kemudian diungkapkan dengan pengkomposisian karya musik. Pada penulisan ini akan membahas lebih lanjut  tentang tinjauan komposisi, karena komposer ingin memahami dan mendalami disiplin ilmu komposisi musik dalam penerapan format musik String Quartet.Istilah komposisi diartikan sebagai susunan atau “rangkaian” dari medium dan membentuk bagian-bagian komposisi, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh (Sukerta, 2011:2). menurut Preston Ware Orem dalam bukunya yang berjudul “Theory and Composition” (1924:3) menyatakan bahwa di dalam komposisi terdapat Melody, Harmony, Accompaniments, tonal relations dan modulation. Dapat ditarik kesimpulan bahwa komposisi adalah menyusun atau merangkai karangan dari medium hingga membentuk satu kesatuan yang utuh.Karya musik “Scherzo Con Brillante” ini terdiri atas 195 birama dengan durasi waktu 9 menit 9 detik. Tempo yang digunakan adalah Moderato dan Andante. Tangga nada yang dimainkan adalah G mayor dan Bb/G minor dengan sukat 4/4. Instrumen yang digunakan pada karya ini adalah instrumen gesek violin 1, violin 2, viola,dan violoncello. Pemilihan instrumen ini dengan alasan komposer memahami dan mendalami instrumen gesek dalam perkuliahan. Metode analisa yang digunakan adalah pertama mendengarkan referensi musik yaitu lagu-lagu klasik. Dari referensi musik tersebut komposer tertarik untuk membuat melodi utama, kemudian mencari proges acord dan ritmis yang cocok sesuai dengan keinginan komposer. Terlebih dahulu komposer menulis notasi balok  lagu yang sudah ada dengan menggunakan software Sibelius 7.5.Berdasarkan hasil penciptaan dan pembahasan simpulan yang didapat mengenai karya musik “Scherzo Con Brillante” dalam tinjauan komposisi, yaitu karya musik “Scherzo Con Brillante” merupakan karya musik yang berbentuk satu bagian dengan pengembangan motif variasi yang disajikan dengan format String Quartet yang sudah terbagi-bagi porsi masing-masing instrumen dengan teknik penerapan ilmu komposisi. Kata kunci :Scherzo, Brillante, Komposisi
TRADISI RITUAL AGENTONG TAMONI EBUNGKANA KOSAMBI BEN ACCEM YANG DIUNGKAP MELALUI KOREOGRAFI LINGKUNGAN DALAM KARYA TARI SOMPA BUJUK TAMONI MUZDHALIVA, SILVIA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “KINDESALTER DUO IN G-DUR” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI EKO YULIANTO, NYOMAN
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Kindesalter duo in G-dur” adalah judul yang diadopsi dari bahasa jerman yang secara harfiah “kindesalter” berarti masa kanak-kanak “duo” adalah penegasan materi dalam karya musik ini. Yaitu duo solo pada violin viola yang diiringi chamber orkestra dan menggunakan tangga nada pokok “G-dur” atau G mayor. adalah fenomena pribadi yang dialami komposer, yaitu melalui perenungan teringat salah satu sahabat kecil komposer yang sekarang sudah tiada lagi. Interaksi antara violin solo dan viola solo menyiratkan seperti dua anak manusia yang sedang bermain dan berinteraksi. Sehingga komposer ingin mengingat kembali masa kanak-kanaknya dan menuangkannya melalui karya musik ini. Bentuk musik ”Kindesalter duo in G-dur” termasuk bentuk musik tiga bagian besar /kompleks, karena di dalam komposisi musik ini terdapat tiga bagian utama dengan kalimat-kalimat dalam setiap bagian tersebut. Dalam analisis bentuk musik ”Kindesalter duo in G-dur” digunakan simbol–simbol agar memudahkan pembaca untuk menganalisis bentuk karya musik ini yaitu Bagian Ak,Bk, dan Ck dimana didalam setiap bagian-bagian tersebut terdapat kalimat yang membuat bagian tersebut menjadi kompleks. Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang tinjauan orkestrasi. langkah yang dilakukan untuk mengorkestrasi diantaranya memahami materi orkestrasi yang akan diacu sebagai bahan, memahami bentuk score yang akan dipindahkan, memahami formasi baru sebagai lokasi penerapan, menjaga keutuhan melodi pokok, menjaga originalitas harmoni, penerapan dinamika berdasarkan instrumentasinya. Karya musik ”Kindesalter duo in G-dur” terdapat 169 birama dengan durasi 8 menit 15 detik. Dalam karya musik ini dimainkan dengan tempo Allegretto, Maestosso, dan  allegretto secara bergantian dan berurutan. Adapun tangga nada yang dimainkan meliputi tangga nada G mayor, Bb mayor, D mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 dan 3/4.Dengan terciptanya karya musik “Kindesalter duo in G-dur” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik memiliki animo yang kecil di indonesia. Kata Kunci : Duo violin & viola , Bentuk musik, Tinjauan Orkestrasi.“Kindesalter duo in G-Dur” is a title which adopted from Germany which literally “Kindesalter” mean children and “duo” is matter conformation in this musical work. Namely duo solo on violin viola that accompanied by chamber orchestra and using main scale “G-dur” or G major. Is a personal phenomenon which experienced by composer, namely through contemplation its remembrance of one of child best friend’s composer who has passed away. Interaction between violin solo and viola solo expressed two human children who play and interaction. So that composer want to remembrance its childhood age and pour it in this musical work. The music form of “Kindesalter duo in G-Dur” belong to complex or three big part music form, since within this music composition has three main part with sentences in each part. In the analysis of “Kindesalter duo in G-Dur” music form, it was applied symbols to facilitate reader in analyzing this musical work namely Ak, Bk, and Ck, whereas in every part consisted sentence which make those part become complex. In this writing will discuss further concerning orchestration examination. Steps that performed by researcher to orchestrate was to understanding orchestration matter as a reference, to understanding score form that will transform, understanding new formation as an application location, keep the main melody wholeness, its harmony originality, the application of dynamic based on its instrumentation. “Kindesalter duo in G-Dur” musical work has 169 bars with duration 8 minutes 15 second. In this musical work played with allegretto, maestoso, and allegretto tempo respectively and orderly. While for the scale that played covered G major, Bb major, and D major. As well as using bar 4/4 and ¾. By the creation of “Kindesalter duo in G-Dur” work musical, its expected can be a reference for student and lay people to be more attention and love music, especially classic music since it has minor animo in IndonesiaKeywords: Duo violin and viola, musical form, reviews orchestration.
BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI MBANGUN KAYANGAN SHINTA K, ANDINI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kelebihan dari cerita pewayangan adalah  masih relevan  dalam konteks kekinian. Lakon “Semar Mbangun Kayangan” bisa saja dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan bagaimana seharusnya pemimpin menjalankan pemerintahannya. Cerita ini syarat dengan makna yang bersifat konstruktif. Mungkin para pemimpin perlu sesekali mendengar, belajar dan meneladani cerita ini. Membangun kayangan dapat dimaknai sebagai membangun negara yang aman, damai, makmur dan sejahtera diawali dari membangun kepribadian pemimpinannya. Untuk itu diperlukan pribadi pemimpin yang berpegang teguh pada ajaran agama, undang-undang, dan peraturan yang berlaku.Pada proses kekaryaan dan penulisan karya tari Mbangun Kayangan , koreografer menggunakan buku teori Sal Murgiyanto (Koreografi) sebagai literatur . Ide garap karya ini, koreografer dapatkan dari rangsang gagasan (idesional). Gagasan didapatkan berdasarkan pengamatan koreografer terhadap kehidupan nyata, yaitu masih adanya pemerintah yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Tema pokok karya tari ini adalah perjuangan rakyat dalam membangun negara. Proses penciptaan karya tari ini mengalami beberapa tahap pencarian gerak, yang pertama eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi.Konsep penggarapan tari dengan fokus karya terletak pada salah satu adegan dimana penari melakukan gerak dan vokal berisi pesan yang disampaikan secara simbolik. Tujuan penulisan ini yaitu untuk mengetahui dan mendiskripsikan bentuk penyajian karya tari Mbangun Kayangan yang koreografer ciptakan pada saat mata kuliah Koreografi Murni semester 7 tahun 2015.Kata Kunci: Bentuk Penyajian, Mbangun KayanganOne of the advantages of puppet story is he still relevant even in the present context. The play "Semar Mbangun Kayangan" could be used as a means to remind how should a leader to run his administration. This story terms with meanings which is constructive. Perhaps leaders should occasionally hear, learn and imitate this story because it builds the heaven can be interpreted as build a state that is safe, peaceful, and prosperous beginning of building the personality of its leaders. It is necessary for private leaders who cling to religious teachings, laws, and regulations in the country.In the process of the workmanship and the writing of this dance work Mbangun Kayangan, choreographer uses theory book Sal Murgiyanto (Choreography) as literature choreography. The idea of working on this work, the choreographer get an idea of excitatory (idesional). The idea is based on observations obtained choreographed to real life, which is still the prevailing government arbitrarily against people. The main theme of this dance work is the struggle of the people in developing countries. The process of creation of dance works through several stages of motion search, the first exploration, improvisation, foarming, and evaluation.The concept of cultivating dance with the work focus lies in one of the scenes in which dancers perform movements and vocal contains the message conveyed symbolically. The purpose of this paper is to identify and describe the form of presentation of dance works choreographed Mbangun Kayangan were created during the course Choreography Pure 7th semester 2015.Keywords: Form of presentation, Mbangun Kayangan

Page 3 of 24 | Total Record : 234