cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
ANALISIS PENGGARAPAN TATA ARTISTIK TERHADAP LAKON SWEENEY TODD KARYA CRISTHOPER BOND TERJEMAHAN BAKDI SUMANTO SUTRADARA ANDRE CATUR WICAKSONO FAHMI HIDAYAT, ACHMAD
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai seorang art director  atau penata artistik memiliki tanggung jawab penuh terhadap seluruh elemen-elemen penting yang ada di atas panggung pertunjukkan termasuk dengan para aktor dan crew. Ia harus mengetahui dan menguasai seluk-beluk ke seluruhan pertunjukkan itu dan memiliki semua layout, plot, teknik pengerjaan  dan lembaran desain sejak ia mulai bekerja. Penata artistik adalah orang yang tidak pernah dipedulikan pada pertunjukan. Jarang seorang penata artistik tersorot lampu pementasan. Mereka hanya sembunyi dibalik karya-karyanya diatas panggung. Tanpa ada orang yang mengenal dan mencari keberadaan mereka, padahal seni panggung atau seni rupa panggung telah berdiri sendiri. Hal inilah yang menjadi kan penulis memilih pentaan artistik sebagai bahan untuk pertaruhan dalam karya akhir ini. Selain itu juga penulis ingin mengenalkan kepada orang-orang bahwa penata artistik adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah pementasan. Berdasarkan beberapa fenomena yang terjadi diatas, penulis disini akan memfokuskan karya “Sweeney Todd” Karya Christopher Bond Komposisi Musik Stephen Sondheim dan Libreto Hugh Wheeler Sutradara Andre Catur Wicaksono dibagian setting panggung, make-up dan kostum. Metode penciptaan di sini penulis ingin menggunakan gaya representasi yaitu merupakan keinginan seniman untuk menciptakan suatu formula dan unsur-unsur yang secara kesejahteraan telah hadir.Hasil dari analisis penggarapan artistik ini adalah pentingnya tata artistik bagi suatu pertunjukkan. Karena artistik mementingkan audio dan visual yang ditampilkan dalam sebuah perrtunjukkan sehingga artistik sangatlah penting. Penataan artistik tidak hanya memperhatikan keindahan dan kemegahan setting, make-up dan kostumnya. Akan tetapi juga mempehatikan keamanan dan kenyamanan seorang aktor dalam berakting. Berangkat dari persoalan yang ada diatas, penulis ingin mewujudkan atau menyampaikan pesan-pesan yang nantinya dapat dipahami oleh penonton. Kata Kunci: Sweeney Todd , Tata Artistik, Art Director
BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI OPLOSAN WAHYU FEBRUWATI, CRISTY
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Oplosan adalah karya tari yang berangkat dari fenomena sosial yang sedang terjadi di kalangan masyarakat saat ini yaitu fenomena minuman oplosan. Karya tari ini memfokuskan pada dampak yang ditimbulkan oleh minuman beralkohol, dampak yang ditimbulkan sangat bermacam-macam mulai dari cacat fisik, cacat mental, hingga kematian yang merenggut nyawa.Kajian teori dalam karya tari Oplosan, merujuk pada teori-teori koreografi dan bentuk penyajian. Metode penciptaan berawal dari rangsang ide atau gagasan kemudian dijabarkan melalui konsep penciptaan dan melalui proses penciptaan yaitu eksplorasi, kerja studio, metode analisa-evaluasi, dan metode penyampaian karya.Karya tari Oplosan disajikan dalam berbagai elemen, di antaranya elemen utama dan elemen pendukung,  yang meliputi desain gerak, tata rias dan busana, tata dan teknik pentas (tata panggung dan tata lampu), dan unsur-unsur pendukung lainnya seperti iringan tari, dan properti. Karya tari ini dapat menawarkan pesan-pesan yang bersifat multi interpretatif sehingga, karya tari ini mampu menyajikan isi pesan-pesan moral positif yang disampaikan dalam bentuk gerak dan alur dramatik, yang mengandung arti bahwa gagasan yang dikomunikasikan sangat kuat dan penuh pikat, dinamis dan banyak ketegangan, dan mungkin melibatkan konflik antar orang, orang dalam dirinya atau dengan orang lain sehingga dapat diterima dan mudah diinterpretasi oleh masyarakat yang menonton. Penyajian karya tari ini secara proses terdiri dari beberapa tahapan yaitu mengamati dan merasakan gejala, proses perenungan dan pengolahan melalui belajar berpikir, mencari jawaban, dan bertanya kepada orang lain, studi lapangan yang berkaitan dengan menentukan tema, media, bentuk gaya, genre, nilai budaya estetika, kebutuhan masyarakat (daya apresiasi), kemudian masuk pada studi literatur tentang bentuk tari, metode kostruksi/komposisi tari, nilai budaya, estetika dan dilanjut dengan proses pendalaman ide seperti improvisasi pada tema, gerak, gaya beserta hasil evaluasi, lalu masuk pada visualisasi ide menjadi bentuk tari (komposisi) yang memperhitungkan estetika (isi gerak, bentuk, penyajian), manfaat (pengalaman estetis/religius, komersialisasi,dst), fungsi (ekspresi personal/ terapi/ pemecahan masalah, dsb). Sampai pada proses yang terakhir yaitu mengkomunikasikan ide kepada publik dalam bentuk perfom karya tari yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi tata pentas, dan biaya.
ALAT MUSIK KOLINTANG PRODUKSI “IRAMA NUSANTARA” DI DESA PESAPEN KECAMATAN WIYUNG SURABAYA (KAJIAN ORGANOLOGI) MASRUROH, DIAN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolintang adalah alat musik keluarga marimbaphone tradisional Sulawesi Utara yang telah dimodifikasi dalam berbagai bentuk penampilan dengan melodi kromatik (Banoe, 2003:223). Salah satu tempat produksi alat musik Kolintang di Surabaya adalah Irama Nusantara yang terletak di Desa Pesapen Kelurahan Sumur Welut Kecamatan Wiyung Kota Surabaya, yang dipimpin Abi Jasid Arif. Daya tarik yang dimiliki rumah produksi Irama Nusantara adalah keberadaan tempat produksi yang strategis yakni berada di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Selain itu untuk memberi tanda nada yang naik setengah(misal c=1 menjadi cis=1#) pada bilahan alat musik Kolintang menggunakan tanda kres diatas angka dan angka tersebut dilingkari, berbeda dengan alat musik Kolintang lain yang angkanya dicoret. Peneliti tertarik satu hal pada alat musik Kolintang produksi Irama Nusantara yaitu sisi organologinya, karena meski terdapat beberapa pengrajin alat musik Kolintang di Jawa Timur tetapi tiap rumah produksi memiliki ciri dan perbedaan masing-masing, seperti ukuran, bentuk dan tampilan.Organologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek instrumen, terutama aspek fisik (dengan pendekatan tekstual) tentang sebuah alat, dalam hal ini alat atau instrumen musik. Bila di dalam studi itu juga menyangkut hal-hal yang kontekstual seperti misalnya sejarah, mitologi, simbol dan lain sebagainya hanyalah merupakan kelengkapan dari apa yang dinamakan studi organologi.(Hendarto, 2011:64)Kolintang adalah alat musik ansambel yang terdiri dari Kolintang Melodi, Kolintang Pengiring dan Kolintang Bass, yang cara memainkannya dengan dipukul menggunakan stik dari kayu. Bahan Kayu untuk bilahan dan pemukul adalah Kayu Waru Gunung, kayu papan Triplek untuk kotak resonator dan Kayu Kamper untuk kaki alat Musik Kolintang. Proses pembuatan bilahan, kaki, dan kotak resonator tiap instrumen alat musik Kolintang Irama Nusantara pada umumnya adalah sama, hanya berbeda pada ukuran tiap instrumen. Proses tuning bilahan alat musik Kolintang dengan menggunakan alat bantu tuner digital untuk Piano dengan frekuensi nada A adalah 440 Hz. Wilayah nada tiap instrumen alat musik Kolintang produksi Irama Nusantara salah satunya mengacu pada beberapa alat musik seperti Gitar, Bass Elektrik dan Celo. Kendala yang dihadapi adalah tenaga ahli, ketersediaan bahan dasar kayu dan ketahanan bilah.Secara organologi kualitas alat musik Kolintang produksi Irama Nusantara dapat dilihat dari kualitas bahan yang digunakan, yakni dari bahan kayu lokal pilihan yaitu kayu Waru Gunung. Konstruksinya kuat tidak mudah rusak dimakan usia dan mempunyai sustain bunyi yang bagus, karena ukuran bilahan dan tabung resonansi mempunyai ukuran yang seimbang. Bentuk yang rapi dan minimalis, kualitas barangnya yang kokoh dan kuat, terlebih mempunyai kualitas suara nyaring. Seorang tokoh musik Surabaya yakni M. Isfanhari menuturkan bahwa alat musik Kolintang produksi Irama Nusantara juga mempunyai bunyi yang seimbang antara nada rendah, tengah dan tinggi. Kata kunci: Alat musik Kolintang, Irama Nusantara, Organologi.
BENTUK PENYAJIAN KARYA MUSIK “ATARAXIA" INTAN CANDRA BUMI, PUTRI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya hidup masyarakat selalu berubah mengikuti situasi yang ada di sekitarnya, seperti trendsetter, situasi politik, ekonomi dan sosial. Sistem sosial yang terbentuk memperkenalkan manusia pada budaya hedonisme dalam aliran Aristippus yang cenderung memikirkan kesenangan badaniah seperti freesex dan alcoholic saat ini tengah merajalela di masyarakat. Mengacu pada keadaan tersebut, komposer melawan hedonisme Aristippus dengan hedonisme Epikuros karena menurut komposer ada tujuan utama dari kehidupan manusia yang lebih penting daripada sekedar kesenangan badaniah yaitu ketenangan jiwa (Ataraxia). Komposer merefleksikan fenomena tersebut dalam karya musik berjudul “Ataraxia” dengan fokus kekaryaan yaitu bentuk penyajian.Menyesuaikan dengan fenomena tersebut, komposer menggunakan teori bentuk penyajian musik dan teori tangga dramatik Freytag. Metode penciptaan pada karya musik “Ataraxia” dilakukan melalui pengamatan dan visual untuk mengetahui fenomena yang terjadi ditengah masyarakat, yaitu merebaknya isu hedonisme. Secara visual, hedonisme sudah menjadi hal yang lumrah dan dianggap biasa.Karya musik “Ataraxia” merupakan sebuah penyajian musik dalamalur tangga dramatik Freytag yang membagi musik pada karya ini ke dalam lima bagian yaitu eksposisi, komplikasi, klimaks, reversal(falling action), dan denoument. Pada karya ini terdapat 226 birama dengan durasi komposisi selama 8 menit. Musik yang ditampilkan pada karya ini dimainkan dalam berbagai variasi tempo yaitu moderato, rubatto, allegro dan grave. Pada karya ini digunakan empat macam sukat, yaitu sukat 2/4, ¾,4/4, dan 6/4. Tangga nada yang digunakan berturut-turut ialah b minor, A mayor, C mayor, G#mayor, a minor, F mayor kemudian ke C mayor lagi hingga bagian akhir.Simpulan bentuk penyajian pada karya musik “Ataraxia” meliputi: (1) format penyajian, (2) formasi alat musik, dan (3) formasi bentuk musik. Selanjutnya, pada karya musik “Ataraxia” terdapat seni pendukung meliputi: properti dan dua aktor. Properti ini merupakan sarana dari keberadaan dua aktor pendukung dalam gerak yang dilakukan di area panggung. Sarana pendukung ini diperlukan sebagai kekuatan dalam menampilkan fenomena hedonisme melalui simbol tertentu disamping bentuk komposisi musiknya, yaitu solois yang ikut bermain peran bersama aktor pendukung.Kata Kunci : Ataraxia, Hedonisme, Bentuk Penyajian Musik
MENGUNGKAP NILAI PERJUANGAN MELALUI KETERBATASAN RUANG GERAK DALAM KARYA  STRUGGLE FALAHANDINI, INTAN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari “ Struggle “ merupakan sebuah karya tari yang diciptakan sebagai bentuk penghargaan kepada sosok ibu yang hidup penuh dengan perjuangan. Penata tari sebagai seorang anak, dan pelaku seni ingin mengekspresikan kekagumannya terhadap perjuangan seorang ibu sebagai ide gagasan dalam penciptaan karya tari. Dalam penggarapan isi dari karya tari ini penata ingin mengungkapkan perjuangan ibu dalam menjalani hidupnya dengan keterbatasan dan keterikatannya terhadap keluarga, sehingga hal tersebut memunculkan sebuah ide untuk mengaitkan antara kehidupan seorang ibu yang terbatasi  yang kemudian di visualisasikan dalam bentuk keterbatasan ruang gerak. Karya  tari Struggle merupakan sebuah sajian pertunjukan yang menawarkan pengolahan kontrol gerak dalam sebuah ruang sempit secara sadar di atas panggung prosenium. Penata tari meletakan sebuah setting kerangka balok yang menjadi media eksplorasi gerak penari. Adapun desain visual, ruang sempit akan membentuk gerak dengan pengontrolan ruang tenaga dan waktu. Tipe tari yang di gunakan oleh penata tari ialah tipe tari dramatik dan studi. Mode penyajian karya tari Struggle  ini menggunakan mode simbolis dan representative. Proses penciptaan karya tari ini melalui beberapa tahap, yaitu eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi. Kata Kunci: Perjuangan, Keterbatasan ruang gerak, Struggle
MUSIK GEDOGAN DI DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI (TINJAUAN SEJARAH DAN PERKEMBANGAN) RATNASARI, PUTRI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyuwangi mulanya berasal dari salah satu dongeng, yaitu cerita legenda Sri Tanjung – Sidopekso. Yang menceritakan tentang Sri tanjung yang di tuduh selingkuh oleh Prabu Sulakrama sehingga membuat Raden Sidopekso marah dan ingin membunuh Sri Tanjung. Sri Tanjung dibawa Sidopekso ke pinggir sungai. sedangkan menurut sejarah yang ada masyarakat desa kemiren berasal dari orang – orang yang mengasingkan diri dari kerajaan majapahit , setelah kerajaan ini mulai runtuh sekitar tahun 1478M. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu – Budha seperti halnya Majapahit. Kemudian masyarakat blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ketangan kerajaan mataram islam pada tahun 1743M (wawancara dengan pak sirat). Banyuwangi adalah salah satu daerah dengan kekayaan seni-budaya dan alam yang tinggi. Terdapat berbagai tempat pariwisata yang tersebar di kota Osing ini. Desa Kemiren terletak di Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Secara geneologis sosiologis masih memperlihatkan tata kehidupan sosio kultural yang mempunyai kekuatan nilai tradisional Osing sehingga desa kemiren ditetapkan menjadi kawasan wisata desa adat Osing. Keunikan lainnya di desa kemiren yaitu terdapat pada tradisi masyarakat yang mengkramatkan situs Buyut Cili tiap malam senin dan malam jum’at warga yang akan membuat hajatan dan akan menyelenggarakan pertujukan musik Gedogan selalu melakukan doa dengan membawa pecel pitik atau  yang biasa dikenal sebutan urap – urap ayam bakar.Beberapa masalah yaang dapat dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut; (1)Bagaimana sejarah musik Gedogan di desa kemiren. (2) Bagaimana perkembangan musik Gedogan di desa Kemiren kabupaten Banyuwangi.?. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu di dalam penelitian menggunakan metode observasi, wawancara dan pendokumentasian dengan teknik analisis isi dan domain. Metode tersebut merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendeskripsikan sejarah musik Gedogan bentuk yang menjadi masalah dalam penelitian ini. Hasil analisis dalam penelitian yang dapat dideskripsikan mengenai sejarah musik Gedogan di desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi dan perkembangan musik GedoganKata Kunci : Banyuwangi, Desa Kemiren, Gedogan
TEKNIK KEAKTORAN TOKOH BESUT DALAM LAKON “BESUT WANI ” KARYA DAN SUTRADARA YUSUP EKO NUGROHO SAMSUDIN YAHYA, MOH.
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besutan merupakan kesenian yang berasal dari Jombang dan cikal bakal dari Ludruk. Besutan dari kata Besut, berarti nama panggilan suatu tokoh dalam Besutan. Secara akronim berasal dari dua kata yaitu Mbekta maksud (Membawa maksud atau tujuan). Besutan adalah bentuk pertunjukannya sedangkan Besut adalah tokoh. Lakon “Besut Wani“ karya Yusuf Eko Nugroho menceritakan tentang kehidupan Tokoh Besut yang berlatar di Desa Pandanwangi Jombang tahun 1928 pada masa penjajahan Belanda. Lakon ini bercerita tentang penindasan Lurah Sumo Gambar terhadap warganya kemudian dikalahkan oleh Besut dengan siasatnya yang berujung ditangkapnya Lurah Sumo Gambar oleh Belanda. Besut pada Lakon “Besut Wani“ merupakan sosok pemuda berumur 25 tahun dan bekerja serabutan. Besut memiliki karakter yang Berani, Lugu, peduli sesama dan cerdik. Teknik keaktoran yang digunakan untuk memerankan tokoh Besut adalah Teknik keaktoran WS Rendra, antara lain ; Permainan yang hidup ; Mendengar dan menanggapi ; Kejelasan ucapan ; Tekanan ucapan ; Kerasnya ucapan ; Membina klimaks ; Bergerak dengan alasan ; Proyeksi ; Memahami takaran ; Cara muncul dan keluar ; Timing ; Tempo permainan. Lakon “Besut Wani“ ditampilkan menggunakan konsep Drama Modern, namun tidak meninggalkan unsur-unsur Pakem  Besutan seperti tata rias busana Besut, Ritual, Kidungan, serta Dialek Jombangan. Menyampakan isi cerita merupakan tugas seorang aktor, namun menjadi aktor tidaklah mudah apalagi aktor teater tradisi yang penuh dengan syarat dan pakem. Kata Kunci : teknik, aktor, Besut
TRANSFORMASI TARI BUJANG GANONG MELALUI BENTUK DRAMATIK PADA KOREOGRAFI GANONG ÉWAH Ahmad Dwi Saputra, Rizza
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada koreografi dengan judul Ganong Éwah, penulis yang sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena  dari tari Bujang Ganong yang merupakan salah satu tokoh yang terdapat pada serangkaian pertunjukan kesenian Reyog Ponorogo yaitu dari sisi karakter dan pola geraknya yang menggambarkan kesaktian, semangat serta tanggung jawab dari penokohan tari Bujang Ganong, yang nantinya akan ditransformasikan menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk tari dramatik. Melalui beberapa teori koreografi Ganong Éwah ini diciptakan dalam proses kreatifnya antara lain teori transformasi budaya, desain, bahkan arsitektur dimasukan untuk mematangkan konsep serta tahapan yang digunakan. Tidak lepas dari teori komposisi tari, koreografi ini tidak akan menjadi sesuatu yang baik apabila tidak dibekali dengan ilmu- ilmu komposisi dan koreografi.Penguatan interpretasi yang kemudian dikemas menjadi susunan rancangan melalui penerapan- penerapan ide gagasan ataupun konsep dalam bentuk tema, judul, sinopsis, iringan, serta unsur- unsur pendukung lainnya yang mempermudah koreografer untuk memvisualisasikan kedalam bentuk pertunjukan tari. Koreografer menjadikan tari Bujang Ganong menjadi bentuk sajian yang baru melalui tari dramatik dengan lebih menguatkan emosi serta daya tarik kepada penonton dengan penambahan, pengurangan bahkan perubahan pada suasana serta dinamika yang dibangun pada koreografi Ganong Éwah ini.Kata Kunci: Transformasi, Bujang Ganong, Dramatik, Ganong Ewah.
PENGUNGKAPAN MAKNA TANDA KOMA (,) MELALUI TARI STUDI PADA KARYA TARI “PAUSE” ARFIANTI, MIRNA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Pause merupakan sebuah karya inspiratif yang berangkat dari fenomena tanda baca koma. Menurut koreografer koma dapat diartikan sebagai jeda sesaat pada kegiatan istirahat. Karya ini memilih fokus untuk menafsirkan makna tanda koma melalui bentuk pertunjukan tipe tari studi. Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah tanda baca koma dapat dikaitkan dengan salah satu peristiwa penting dalam kegiatan sehari-hari yaitu istirahat. Selain itu tanda koma yang jauh dari perkiraan untuk dapat ditarikan, namun dalam penciptaan karya ini sebuah tanda koma dapat divisualisasikan melalui pertunjukan tari.Kata Kunci: Tanda Koma, Tari Studi, dan Pause
KARYA TARI APOY DHANGKA SEBAGAI  WUJUD UNGKAP SEMANGAT DALAM LEGENDA API TAK KUNJUNG PADAM Agustin, Triana
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Api Tak Kunjung Padam merupakan wisata alam yang berada di Kabupaten Pamekasan, dan memiliki latar belakang kisah dari suatu legenda “Ki Moko”. Koreografer menjadikan makna Api dalam Api Tak Kunjung Padam tersebut sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan semangat orang Madura yang tidak pernah padam dalam bentuk karya tari dan mendiskripsikan bentuk penyajian karya tari Apoy Dhangka. Metode penciptaan karya dimulai dari menentukan rangsang awal yaitu rangsang visual dan idesional, dengan tipe tari dramatik, yang menggunakan mode penyajian simbolis representatif kemudian tahap selanjutnya eksplorasi, improvisasi, dan evaluasi.Bentuk penyajian karya tari Apoy Dhangka meliputi struktur yang dibagi menjadi empat bagian yaitu intro menceritakan romantis dan keharmonisan antara Ki Moko dengan Putri Palembang, gerak yang dihadirkan pada adegan ini gerak-gerak saling interaksi antar dua tokoh. Serta penggunaan setting bertujuan untuk memberikan kesan dan menunjukkan tempat Dhangka, adegan I Kehidupan masyarakat Madura adegan ini dimulai dari   perkenalan masyarakat dengan penari di atas trap dengan gerak pelan, kemudian tempo yang diciptakan semakin cepat bermaksud menambah karakter orang Madura yang selalu bersemangat, adegan II Kegalauan dan kekacauan hati Ki Moko pada adegan ini tokoh Ki Moko dan putri bergerak berbeda dengan penari yang lainnya, penari yang lainnya hanya memperkuat tokoh. Tata lampu yang digunakan pada adegan ini yaitu efek blits atau lampu yang bergerak cepat dan bergantian, ini bertujuan untuk memperkuat susana kekacauan, adegan III Doa dan kemunculan Api Tak Kunjung Padam pada adegan berdoa Ki Moko menggunakan pakaian yang berbeda agar menonjolkan tokoh seorang Ki Moko, dengan para penari yang bergerak dengan level rendah juga memperkuat karakter tokoh Ki Moko. Pada adegan kemunculan api, para penari menari dengan menggunakan properti gunungan berbentuk api dan penari wanita juga bergerak menggunakan sampur sebagai penguat kemunculan api. Penggunaan smoke juga bertujuan untuk memperkuat suasana ke magisan. Elemen utama yaitu gerak dengan pijakan gerak dan karakteristik Madura yang dikembangkan dan elemen pendukung yaitu iringan, rias busana mengacu pada gaya jawa timuran, pola lantai, pemanggungan dengan panggung procenium beserta setting dan lightingnya.Melalui media ungkap gerak, pola lantai, tata rias dan busana, tata teknik pentas, tata cahaya, semangat Ki Moko dalam Legenda Api Tak Kunjung Padam menjadi karya yang dinamis dengan penekanan-penekanan konflik sehingga membentuk bangunan tari dramatik. Kata kunci: Karya Tari, Legenda Api Tak Kunjung Padam, Bentuk Penyajian

Page 8 of 24 | Total Record : 234