cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
URUPING KARYO Ratriana Sari, Alifatul
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Uruping Karyo merupakan sebuah karya tari yang ber-genre langen carita.Karya tari ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang bekerja di Sawah. Dari inspirasi yang sederhana itu, kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya tari yang bercerita dan bertema semangat bekerja. Karya tari  bercerita ini yang dimaksud sebagai genre langen carita. Ciri-ciri dari genre tersebut, yaitu suatu karya tari yang diceritakan melalui gerak-gerakan tari, sedikit dialog, dan terdapat unsur tetembangan. Unsur tetembangan tersebut yang memiliki arti penggambaran suatu cerita. Pada Karya tari Uruping Karyo ini menceritakan tentang anak-anak petani yang semangat bekerja dan divisualisasikan ke dalam genre langen carita. Kata Kunci: genre, langen carita, bekerja keras, dan Uruping Karyo
VISUALISASI KESUCIAN DEWI KILISUCI DALAM BENTUK KOREOGRAFI LINGKUNGAN MELALUI KARYA TARI SELA SOCA nur imama, yulela
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewi Kilisuci merupakan putri dari Raja Airlangga yaitu raja yang pernah memerintah Kerajaan Kadiri. Dewi Kilisuci terkenal dengan cerita kesuciannya dalam melakukan pertapaan. Dalam pertapaan tersebut Dewi Kilisuci memilih Goa Selomangleng untuk melakukan empat lelaku suci menuju kedewataan, sehingga Goa Selomangleng di Kediri hingga sekarang terkenal sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci. Karya Tari Sela Soca merupakan ide penyajian sebuah karya dalam konteks kesucian Dewi Kilisuci melalui Koreografi Lingkungan yang digagas oleh penata. Karya ini memiliki tujuan komunikatif yaitu menyampaikan dan menunjukkan bahwa Goa Selomangleng memiliki potensi yang besar sebagai media berkarya seni khususnya tari.Karya Tari Sela Soca merupakan gambaran kesucian dari Dewi Kilisuci melalui media ungkap gerak yang didukung oleh pola penataan, iringan, properti, tata rias dan busana serta tata teknik pementasan. Karya Sela Soca menggunakan lingkungan alam Goa Selomangleng sebagai tempat pertunjukan karena dinilai memiliki bentuk alam yang eksotis serta menarik. Gerak sebagai media ungkap dalam karya ini mengadopsi gaya mataraman karena disesuaikan dengan masa dari isi karya tersebut diangkat, pemilihan gerak juga didasarkan pada kondisi alam sebagai respon terhadap lingkungan. Busana yang digunakan penari merupakan inspirasi dari filosofi motif yang terefleksikan ke dalam isi, serta penyesuaian dengan teknik gerak berdasarkan kondisi alam. Penyajian karya ini menggabungkan ritual sebagai keterkaitan lingkungan budaya Goa Selomangleng melalui garapan baru.Kata kunci: Koreografi Lingkungan, Karya Tari Sela Soca, visualisasi kesucian
WAKUL PINCUK Juniantik, Elly
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Wakul Pincuk merupakan sebuah karya yang berangkat dari fenomena pedagang pecel Pincuk keliling yang berjuang menjajakan dagangannya ditengah maraknya warung makan rumahan. Karya ini memilih fokus untuk memvisualisasikan sebuah karakter pedagang Pincuk yang bekerja keras tidak mengenal lelah. Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah ide atau gagasan dalam membuat sebuah karya tari dapat diambil dari sebuah pengamatan sehari-hari yang mana terdapat kesenjangan yang dapat dijadikan sebuah fenomena untuk membuat suatu karya tari, yang di dalam pertunjukannya menghasilkan sebuah makna yang terkandung dalam tarinya melalui gerak yang bersifat simbolik. Proses eksplorasi gerak berangkat dari gerak tradisi yang dipadukan dengan gerak tari Dongkrek yang kreasikan. Sebuah kesenjangan tentunya dapat dijadikan pijakan alasan mengapa karya tersebut dibuat, yaitu untuk mengungkapkan kesenjangan tersebut dalam sebuah karya. Tujuan karya tari ini adalah untuk memperkenalkan makanan khas Madiun yaitu pecel Pincuk melalui seni tari. Kata Kunci: Bekerja Keras, Wakul, Pincuk
KARYA TARI FATRUK AQUARIESA, DHESTAVIA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini muncul dari fenomena Petruk yang merupakan tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Petruk merupakan tokoh yang nakal dan cerdas, serta bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan juga sangat lucu.  Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Prinsip “laku” hidup Petruk adalah kebenaran, kejujuran dan kepolosan dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan fenomena tersebut mengangkat Petruk sebagai objek material dalam karya ini, karna sifat-sifat yang ada di petruk sesuai untuk mengaplikasikan  metode pembelajaran pendidikan dalam karya seni tari, dengan menghubungkan sifat petruk yang nantinya akan di tuangkan dalam kegiatan belajar.  Tujuan karya ini adalah untuk memperkenalkan sifat petruk sebagai media pembelajaran karakter melalui seni tari.  Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith, Alma M. Hawkins, dan Soedarsono mulai dari penemuan ide, konsep, proses, penyampaian karya, hasil dan elemen-elemen dalam komposisi tari.Kata Kunci: bentuk penyajian,  tari, fatruk.
VISUALISASI KEGIGIHAN DEWI SEKARDADU DALAM KARYA TARI DEWI SEKARDADU PUJI RAHAYU, MURTI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini menggambarkan karakter dari Putri Ayu Dewi Sekardadu. Hidupnya yang selalu dilanda musibah, mulai dari penyakit sampai kehilangan anaknya. Putri Ayu Dewi Sekardadu selalu akan mempertahankan sesuatu yang baik demi anaknya dan dirinya. Kisah demi kisah dewi sekardadu membuktikan bahwa dirinya adalah wanita yang gigih dalam mempertahankan apapun demi kebaikan. Tipe dari karya tari ini adalah dramatik. Dramatik memberikan kesan kuat dan tegas. Pada karya tari ini tidak memusatkan cerita di dalam sesuatu kejadian atau suasana, melainkan menekankan pada kekuatan-kekuatan gerak untuk memvisualisasikan kegigihan Dewi Sekardadu.Kata Kunci: Kegigihan, perjuangan, dan Dewi Sekardadu
PROSES KREATIF PENCIPTAAN TARI SPARKLING SURABAYA STUDI KASUS TENTANG TAHAPAN PROSES KREATIF PENCIPTAAN KOREOGRAFI TARI KARYA DIASTIARNI AZHAR ABT, WEKA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini sudah banyak seniman yang sudah terungkap melalui tulisan tentang kiprahnya dalam menggeluti dunia seni. Salah satunya adalah penelitian ini, yang mengungkap sebuah proses kreatif seorang seniman Surabaya. Diaztiarni Azhar, seorang seniman Tari sekaligus seorang guru asal Surabaya dengan berbagai macam karya-karyanya salah satunya adalah Tari Sparkling Surabaya. Tarian tersebut diciptakan pada tahun 2006, Sparkling berarti berkilau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap proses-proses yang dilakukan oleh Diaztiarni Azhar dalam pembuatan sebuah karya tari. Hasilnya menunjukkan bahwa Daztiarni menciptakan karya menggunakan pedoman dari beberapa buku yang kemudian dituangkan melalui sebuah proses kreatif penciptaan karya tari. Proses kreatif penciptaan Tari karya Diaztiarni Azhar melalui ide dan konsep yang begitu sederhana. Dengan melihat dan mengamati fenomena yang ada disekitar terciptalah karya Tari Sparkling Surabaya yang kemudian menjadi icon tari di Kota Surabaya. Melalui eksplorasi, improvisasi, evaluasi dan komposisi Diaztiarni menciptakan karya berkolaborasi dengan beberapa seniman musik di Surabaya. Aris Setiawan merupakan komposer dalam karya Tari Sparkling Surabaya. Melalui banyak proses yang dilalui dan keterlibatan beberapa pihak dalam pembuatan karya tari ini, akhirnya pada tahun 2006 tari Sparkling Surabaya mulai dikenal oleh masyarakat.Kata Kunci : Proses Kreatif, Tari Sparkling Surabaya, Penciptaan
MAHA PUJA KARTIKA,
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Maha Puja merupakan karya tari yang mengambarakan keagungan Dewi Saraswati sebagai seorang yang cantik dengan kulit halus dan bersih merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Karya tari ini memiliki tipe dramatik,  Karya ini memilih fokus untuk memvisualisasikan sebuah karakter yang ada dibalik keagungan Dewi Saraswati. Metode penciptaan dalam karya tari Maha Puja menggunakan eksplorasi atau kerja studio, metode anilsa dan evaluasi, dan menggunakan metode penyampian materi kekaryaan. Dalam proses penggarapan ini banyak diterapkan kepada penari berterdiri dari 6 penari. Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah ide atau gagasan dalam membuat sebuah karya tari dapat diambil dari penokohan karakter yang akan ditata melalui beberapa bagian di dalam pertunjukannya untuk menghasilkan sebuah makna yang terkandung dalam tarinya melalui gerak yang bersifat simbolik. Kata Kunci: Karakter, Tokoh, dan Saraswati
NYANDHANG TARESNA RADIN P, FEBRIAN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Nyandhang Taresna  merupakan sebuah karya tari yang ber-genre langen carita. Karya ini terinspirasi dari sebuah cerita rakyat Madura tepatnya di Pulau Mandangin Sampang. Melalui rangsang visual ketika melihat perlombaan mendongeng berbahasa Madura, membuat koreografer terinspirasi untuk dikembangkan menjadi sebuah karya tari yang  bertema ketabahan. Ciri-ciri karya tari yang be-genre langen carita,  yaitu suatu karya tari diungkapkan  melalui   tiga aspek, yaitu gerak tari, sedikit dialog, dan tetembangan. Tetembangan berisikan tentang penggambaran dalam sebuah cerita. Cerita yang digunakan dalam karya tari ini berasal dari cerita rakyat yang berjudul Bangsacara dan Ragapatmi. Karya tari Nyandhang Taresna ini menceritakan ketabahan seorang ratu dalam menghadapi cobaan berupang kali, mulai dari munculnya penyakit kulit yang dideritanya hingga akhirnya terbuang dari istana kerajaan yang divisualisasikan dalam bentuk karya tari koreografi pendidikan ber-genre langen carita. Pada proses penciptaan ini teori yang menjadi pijakan koreografer untuk mempermudah dalam proses kreatif, yaitu teori pembentukan proses kreatif menurut Alma M. Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance, yang terdiri dari, eksplorasi (exploration), improvisasi (improvisation), dan pembentukan (forming).Kata Kunci: genre, langen carita, ketabahan, dan Nyandhang Taresna
KARYA TARI JARIS NUGRAINI M P, ELVIA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam  pertunjukkannya karya tari Jaris. Kata Jaris kepanjangan dari jaran yang bebaris, yang dimana penata mempunyai gagasan terhadap pandangan tentang pasukan kuda yang berbaris dengan membawa kuda. Fenomena karya tari ini diambil dari salah satu  pertunjukkan kesenian tradisional Reog Ponorogo.  Karya tari ini menggambarkan pasukan berkuda yang dapat berbaris dengan menunjukan gerak mereka yang cepat, dinamis, dan juga rampak. Gaya serta teknik yang digunakan dalam karya tari ini diperoleh dari hasil latihan intensif sehingga membentuk gerak serta dengan dikembangkan sesuai kreativitas koreografer sehingga gaya ini tetap berkaitan dengan latar belakang budaya, perkembangan zaman, geografis dan kedaerahan. Karya tari Jaris menggunakan teori Jacqueline Smith karena proses kekaryaan berawal dari rangsal awal, kemudian dapat melakukan eksplorasi, melakukan improvisasi, dan yang terakhir adalah evaluasi sehingga karya yang akan diciptakan nantinya siap untuk ditampilkan. Tipe tari simbolik yang dipilih dalam penggarapan karya tari ini, memilki makna yang akan diungkapkan koreografer dalam karya tersebut dengan simbol yang diciptakan. Karya tari ini memfokuskan pada pasukan perempuan berkuda yang gagah dan kuat.Kata Kunci:  Bentuk, Gaya, Tipe, Fenomena
KARYA TARI ADDICT WULANDARI, APRILIA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Addict” merupakan sebuah judul karya tari non tradisi kontemporer yang terinspirasi dari kejadian dalam kehidupan koreografer. Dalam penyajian karya tari tersebut yang ditonjolkan adalah bagaimana penari dapat bereksplorasi dengan media kain spandek estetis yang digunakan untuk bereksplorasi antara penari satu dengan yang lainnya. Hal tersebut untuk menunjang konsep yang dibawakan koreografer, bagaimana seorang makhluk sosial bergantung pada makhluk sosial yang lainnya. Karya ini menceritakan tentang rentetan peristiwa yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang sering dirasakan leh manusia secara umum. Diawali dengan sifat manusia secara individual hingga bertemu orang lain sampai akhirnya dengan intensitas waktu yang lama akan mempengaruhi makhluk individual tersebut menjadikan makhluk sosial lain sebagai bahagia dari hidupnya, yang akhirnya kurang ketika makhluk sosial lannya tersebut tidak ada. Dalam kondisi kecanduan seeorang, makhluk sosial akan mulai menggambarkan sikap sebagai akibat dari kecanduan tersebut. Seperti menjadi sosok yang keras, tidak fokus, depresi, tidak tahu arah dan mencari-cari sikap yang harus dia lakukan. Hingga akhirnya mengalami luka serta kesedihan yang mendalam saat merindukan serta menginginkan sesuatu yang ingin dia dapatkan kembali. Penyajian karya tari tersebut di panggung prosenium serta memiliki lebih dari satu titik dalam fokus pertunjukannya. Dalam proses penciptaannya koreografer menggunakan teori yang disampaikan oleh Jacqueline Smith yaitu tentang proses perwujudan suatu karya yang diawali dari rangsang awal seorang koreografer hingga memberikan bentuk pada sebuah karyanya. Sedemikian pula karya “Addict”, karya ini dimulai dari rangsang awal berupa visual serta idesional oleh koreografer. Selain itu, karya ini juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup para koreografer, sehingga tercetus suatu gagasan baru yang menghasilkan suatu karya melalui media gerak.Kata Kunci:  Bentuk, Gaya, Tipe, Fenomena 

Page 10 of 24 | Total Record : 234