cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
KONSTRUKSI PERTUNJUKAN REYOG SEBUAH KOREOGRAFI LINGKUNGAN REYOG ENDHUT Miftahul Aji, Ridzwan
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seniman Reyog dan Petani adalah profesi yang memerlukan usaha keras, terlebih beliau yang hidup sebagai anggota masyarakat dalam satu ikatan keluarga akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Artinya pekerjaan mereka membutuhkan perjuangan, ulet, tekun, dan tekad yang kuat. Kegigihan keduanya menjadikan bentuk tematik yang ingin disampaikan penulis secara ekspresif melalui karya Reyog Endhut. Metode penciptaan yang dipilih penulis adalah metode konstruksi dengan tipe tari dramatik, karena pada karya tersebut penulis ingin menciptakan moment – moment untuk memberikan kesan menarik pada garap dinamika pertunjukan. Lingkungan sawah yang kaya akan elemen bumi seperti lumpur, air, serta api berasal dari jerami dibakar, membuat karya ini memiliki keunikan pandangan estetika dalam tujuan. Konstruksi kegigihan seniman Reyog dan petani akan menjadi titik fokus sebuah koreografi lingkungan Reyog Endhut. Koreografi lingkungan merupakan revitalisasi metode penciptaan tari tradisional yang diperbarui dengan pemikiran yang berdasarkan kehidupan kekinian. Menguatkan kembali kearifan lokal yang pernah dilakukan oleh para seniman alam terdahulu yang akrab dengan alam dan lingkungannya serta memahami aspek-aspek kehidupan yang dapat memperkaya konsepsi seninya. Koreografi Lingkungan difokuskan pada cara pandang atau pendekatan baru secara kreatif dan keilmuan terhadap sebuah fenomena sosial. Mode penyajian yang digunakan pada penggarapan karya ini adalah simbolik representatif karena karya ini disajikan dalam gerak menggunakan simbol simbol petani dan gerak sesuai dengan penggarapan penulis juga sesuai dengan keadaan nyata yang terlukis pada gerak penari. Metode penyampaian materi kepada penari pun berbeda dengan penggunaan panggung pada umumnya, dalam karya ini penulis banyak menemukan materi gerak melalui eksplorasi langsung bersama penari, karena bentuk – bentuk yang dihasilkan lebih dekat dan sesuai dengan tubuh penari.Reyog Endhut merupakan karya pertunjukan reyog yang menggunakan lingkungan sawah berlumpur (endhut) sebagai tempat pertunjukan. Lingkungan sawah yang kaya akan elemen bumi seperti tanah, air dan api yang dihasilkan dari jerami dibakar menjadi bahan eksplorasi improvisasi menarik untuk disajikan. Ide ini digagas oleh penulis sebagai gubahan bentuk pertunjukan reyog yang baru, karena melihat kekayaan alam ponorogo begitu luar biasa berupa lingkungan sawah. Lewat ide yang sederhana ini penulis mencoba menyajikan karya yang benar – benar dekat dengan lingkungan. Dengan berbekal observasi pada narasumber serta merasakan langsung menjadi seorang petani, melakukan aktivitas sawah seperti ngusungi damen, mencangkul, mengairi sawah, dilakukan penulis untuk kepentingan research tentang keadaan faktual di lapangan. Karya ini diharapkan dapat dijadikan study pendidikan karakter tentang proses kreatif mulai dari gagasan idesional, proses, hingga management pertunjukan. Sehingga diharapkan seniman ponorogo ikut tergerakkan membuat karya - karya yang dekat dengan lingkungan. Penulis yakin bahwa multi kecerdasan penulis muda akan terlatih dalam segi kecerdasan spiritual, kinestetik, emosional, dan idesional. Berkarya tentunya tidak lepas dari fungsi untuk sosial masyarakat. Keberagaman masyarakat dari berbagai lapisan harus memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari lingkaran budaya Indonesia, sehingga peranan masyarakat secara aktif ikut membantu mengapresiasi setiap karya anak bangsa dapat mendorong semangat pergerakan budaya indonesia ke arah internasional.Kata Kunci: Konstruksi, Pertunjukan Reyog, Koreografi Lingkungan, Reyog Endhut
BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI “DUSTA” DWI ALVIANI, PUNKCY
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini muncul dari fenomena berhijab pada masa kini. Berdasarkan fenomena tersebut koreografer ingin membuat sebuah karya tari dengan fokus karya yaitu remaja muslimah yang menyalahartikan makna berhijab karena pengaruh pergaulan. Tujuan karya ini supaya penari dan penonton mengetahui bahwa keadaan seperti itu yang salah. Melalui teori psikologi remaja dan busana hijab, koreografer mengintepretasikan kenakalan remaja dan penggunaan busana maupun model hijab untuk diubah menjadi karya tari yang dapat dinikmati lewat gerak dan bentuk penyajiannya. Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith dan Alma M. Hawkins mulai dari penemuan ide, konsep, proses, penyampaian karya, hasil.Karya tari ini merupakan hasil proses kreatif yang sudah terjadwal. Bentuk penyajian yang dipilih adalah prosenium, sedangkan menyalahartikan makna hijab yang dipilih sebagai muatan untuk diterapkan kepada penari dimunculkan dengan skenario, desain dramatik, pencahayaan, tata rias dan busana, gerak, set panggung, musik, pola lantai. Fenomena ini kerap sekali ditemukan disaat berkendara, berkuliah, bersekolah, lingkungan sekitar lain nya. Kata Kunci: bentuk, tari, hijab.
PENERAPAN TEORI TADEUSZ KANTOOR DALAM TEATER BONEKA DI PERTUNJUKAN NYAROKA WAHYUNINGSIH, EKA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tiang penyangga kuatnya tradisi Madura tidak lepas dari prinsip“ Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata “ Berarti  lebih baik mati dari pada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri sebagai suku Madura. Hal inilah yang  biasanya menimbulkan perselisihan yang tidak lepas dari persoalan lingkungan dan wanita. Perselisihan tersebut disebut dengan “Carok”. Carok merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah.Bentuk penyajian karya teater yang berjudul “Nyaroka“ mengangkat tentang tradisi Carok dengan menggunakanteori Tadeusz Kantoor. Hal yang sering dilakukan oleh masyarakat Madura untuk menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan wanita secara jantan yaitu dengan menggunakan clurit. Beberapa eksplorasi dan observasi telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam pertunjukan dengan  menghadirkan macam-macam bentuk boneka mulai dari boneka kayu, barbie, kain, plastik dan lain-lain.Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah 1.)Menginformasikan kepada penonton tentang teori Tadeusz Kantoor dalam teater boneka dengan menggunakan boneka sebagai media dan aktor menjadi boneka. 2.) Menambah wawasan tentang kehidupan masyarakat Madura. 3.) Proses pengenalan aktor terhadap bentuk tubuh.Kata Kunci :Carok, Madura, teaterboneka.
WATAK-WATEK Yuni Triani, Feni
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Watak-watek merupakan sebuah karya yang berangkat dari fenomena anak kembar yang memiliki sisi perbedaan karakter yang banyak namun tetap hidup berdampingan.  dapat hidup berdampingan.Karya ini memilih fokus untuk memvisualisasikan sebuah karakter yang memiliki kekuatan pada massing-masing anak dengan tipe tari simbolik.Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah ide atau gagasan dalam membuat sebuah karya tari dapat diambil dari sebuah karakter manusia yang akan ditata melalui beberapa bagian di dalam pertunjukannya untuk menghasilkan sebuah makna yang terkandung dalam tarinya melalui gerak yang bersifat simbolik. Sebuah karakter dikaitkan dengan sifat atau perilaku manusia, yang pastinya memiliki banyak perbedaan. Kata Kunci: Karakter, Anak Kembar, dan Watak-Watek
TRAVESTI (VISUALISASI PERJUANGAN HIDUP TANDAK LUDRUK DALAM KARYA TARI) Wulan, Puspitaning
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Travesti merupakan sebuah karya representatif yang berangkat dari fenomena kehidupan perjuangan seorang tandak ludruk. Menurut koreografer seorang Travesti bukanlah merupakan seorang transgender, mereka hanyalah memiliki peran ganda dalam hal penampilan di atas panggung.. Karya ini memilih fokus untuk menggambarkan kehidupan tandak ludruk dengan tipe tari simbolik. Karya tari ini ditujukan Mengkritisi kehidupan tandak ludruk pada saat ini. Karya ini dibuat sebagai media ungkapan ekspresi, sebagai media social untuk mengulas kehidupan sosial tandak ludruk. Memperkaya hasanah atau wawasan budaya. Memberikan tambahan sumber eksplorasi bagi penata tari selanjutnya.Kata Kunci: Travesti, simbolik, tandak ludruk
SEKARTAJI ISNAINI, ARSYAH
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari  Sekartaji  merupakan sebuah karya tari yang berangkat dari fenomena legenda daerah lokal yang berasal dari Nganjuk. Di Nganjuk terdapat wisata alam berupa pemandian air merambat Roro Kuning. Karya ini memilih fokus untuk memvisualisasikan sebuah karakter yang ada dibalik cerita rakyat daerah Nganjuk tersebut. Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah ide atau gagasan dalam membuat sebuah karya tari dapat diambil dari penokohan karakter manusia yang akan ditata melalui beberapa bagian di dalam pertunjukannya untuk menghasilkan sebuah makna yang terkandung dalam tarinya melalui gerak yang bersifat simbolik. Sebuah karakter dikaitkan dengan sifat atau perilaku manusia, yang pastinya memiliki banyak perbedaan. Kata Kunci: Karakter, Tokoh, dan Sekartaji
WUJUD UNGKAP PENEMUAN JATI DIRI DALAM KARYA TARI SEKAR GENDHUK Septina Suari, Bella
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan zaman  saat ini, pengetahuan dan ilmu teknologi sangat mempengaruhi kepada para remaja khususnya para gadis-gadis nya dalam menemukan jati diri. Koreografer menjadikan makna penemuan jati diri tersebut sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan problematika kehidupan dalam bentuk karya tari dan mendiskripsikan bentuk penyajian karya tari Sekar Gendhuk. Metode penciptaan karya dimulai dari menentukan rangsang awal yaitu rangsang visual dan idesional, yang menggunakan mode penyajian simbolis representatif kemudian tahap selanjutnya eksplorasi, improvisasi, dan evaluasi.Bentuk penyajian karya tari Sekar Gendhuk  meliputi gerak-gerak yang distilisasi dari problematika kehidupan para remaja saat ini. Ceria, riang gembira, manja,dan kadang seringkali meminta bahkan mencari perhatian. Elemen utama yaitu gerak dengan pijakan gerak dan karakteristik Pandhalungan  yaitu perpaduan antara Jawa dan Madura yang dikembangkan dan elemen pendukung yaitu iringan, rias busana, pola lantai, pemanggungan dengan panggung procenium beserta setting dan lightingnya. Kata kunci: Karya Tari, Sekar Gendhuk, Bentuk Penyajian
IMPLEMENTASI FUNGSI KEMOCENG SEBAGAI ALAT KEBERSIHAN DALAM KARYA TARI MOCENG Anita Firmansyah, Dwi
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Moceng merupakan suatu penggambaran dari alat kebersihan. Kebersihan yang dimaksudkan berupa kegiatan yang dilakukan oleh seseorang baik membersihkan benda ataupun segala hal yang tidak benar di sekitar mereka. Dari hal tersebut koreografer bermaksud mengungkapkan karya tari dengan fokus yakni kebersihan yang dilakukan oleh petugas penertipan (SATPOL PP). Tujuan karya tari ini ialah untuk mengimplementasikan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki arti yang berbeda-beda. Dengan tema kebersihan yang digambarkan melalui properti tari kemoceng, koreografer memilih jenis tari komikal, yang memiliki karakter gerak lucu. Dalam penyajiannya koreografer menggunakan metode konstruksi milik Jacqueline Smith dan Alma M. Hawkins dari mulai penemuan ide, pembuatan konsep, proses kekaryaan, hingga penyampaian karya.Bentuk penyajian yang dipilih adalah prosenium, dengan gerak-gerak yang ditarikan dalam 4 adegan, pertunjukan karya tari ini dilengkapi dengan rias wajah dan juga busana untuk mendukung kemunculan karakter yang diinginkan oleh koreografer. Judul karya itu sendiri diambil dari kata kemoceng, sehingga menjadi Moceng yang kemudian diangkat menjadi judul karya. Dengan ide sederhana tersebut karya tari ini kemudian terwujud.Kata kunci: tari, kemoceng, kebersihan.
PROSES KREATIF PENCIPTAAN KARYA TARI PEANCE KARTIKA NINGTYAS S., NURUN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari “ Peance “ merupakan sebuah karya tari yang diciptakan sebagai bentuk suatu kebebasan yaitu bebas untuk memilih dan melakukan hal sebagai media pengungkapan rasa dan ekspresi yang dirasakan. Permainan musik yang biasanya hanya dipertunjukan dengan bermain alat saja tanpa diiringi sebuah gerak tari kini akan dipertunjukan dan dipadukan dengan sebuah tari modern yang berkembang saat ini dengan  maksud agar fokus karya dapat sampai pada karya tari. Penggarapan isi dari karya tari ini penata lebih memfokuskan pada ketarmpilan  mengolah ritme yang ditimbulkan  dari alat-alat pukul.  Dalam proses penciptaan karya, koreografer tak hanya semata-mata menggunakan alat musik perkusi drum sebagai alat utama dalam karya tari, namun juga dipadukan dengan musik kreatif dari alat kentongan dan jimbe. Penata juga menambahkan bunyian ritme dari sepatu yang digunakan oleh penari agar suara dan bunyi yang ditimbulkan dapat bervariasi. Dimana capaiannya ialah penari  diharapakan dapat  terampil dalam mengolah ritme-ritme yang ditimbulkan dari properti alat-alat musik. Serta dapat memanfaatkan sepatu juga vokal dari penari sebagai iringan dalam karya tari . Konsep dari karya tari Peance menggambarkan  tentang kebebasan sekelompok anak remaja yang ingin merasakan hal-hal menyenangkan dalam hidupnya. Dari alat-alat pukul yang digunakan dapat melatih keterampilan dalam mengolah ritme bunyi yang ditimbulkan oleh alat-alat tersebut. Penata tari menggunakan berbagai instrumen alat pukul sebagai media dalam penyaluran gerak dan makna karya tari. Adapun desain visual, desain ruang yang bebas akan membentuk gerak dengan tidak adanya batasan dalam ruang tenaga dan waktu. Tipe tari yang di gunakan oleh penata tari ialah tipe tari dramatik. Mode penyajian karya tari Peance menggunakan mode penyajian simbolis yang menyajikan kembali sebagaimana dalam kehidupan nyata dengan penggambaran simbolis melalui simbol-simbol tertentu yang digunakan dan jika berhasil maka simbol-simbol tersebut bisa bermakana bagi penonton. Proses penciptaan karya tari ini melalui beberapa tahap, yaitu eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi.  Kata Kunci: Kebebasan, Alat pukul, Bunyi, Peance
PENERAPAN TEORI JERZY GROTOWSKI DAN EUGINIO BARBA DALAM PERTUNJUKAN BOY AND GIRL SAFITRI, WARDANI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada zaman modern banyak kaum laki-laki maupun perempuan bergaya dan bersikap seperti halnya lawan jenis, yang disebut penyimpangan perilaku seksual. Faktor yang mempengaruhi adalah faktor biologis, yaitu lebih dominannya hormon seksual lawan jenis yang dapat mempengaruhi sikap dan sifat asli nya. Psikogenik menjadi faktor kedua, seseorang menjadi banci atau sebaliknya juga disebabkan oleh faktor psikologis. Iklim keluarga yang tidak harmonis sangat mempengaruhi perkembangan psikologis anak. Seperti keinginan orang tua memiliki anak perempuan, namun kenyataannya adalah seorang laki-laki dan sebaliknya. Faktor ketiga adalah sosiogenik. Lingkungan sosial yang kurang kondusif juga dapat mendorong adanya penyimpangan perilaku seksual. Persoalan tersebut sangat menarik untuk diangkat sebagai karya seni.Fokus karya terdiri dari fokus isi dan bentuk. Pementasan yang berjudul “Boy and Girl“ akan mengungkap bahwa  faktor-faktor  yang mempengaruhi seorang wanita bertingkah tomboy, pria bertingkah banci yang  pada akhirnya mereka harus menyadari kodratnya masing-masing. Wanita adalah wanita, pria adalah pria. Hal ini yang mendorong penulis melakukan eksplorasi terhadap tubuh dan benda sekitar. Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah 1) Membebaskan tubuh untuk memperkaya gerak tanpa ada patokan naskah. 2) Memberikan kekayaan gerak tersendiri  bagi tubuh aktor. 3) Sebagai proses pembelajaran bagi aktor. 4) Mampu memberikan makna dan arti dari setiap gerak.Kata Kunci : Boy and Girl, Jerzy Grotowski, Euginio Barba.

Page 9 of 24 | Total Record : 234