cover
Contact Name
M. Zidny Nafi' Hasbi
Contact Email
mzidnynafihasbi@gmail.com
Phone
+6283838421909
Journal Mail Official
journal.alamwal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah
ISSN : 23031573     EISSN : 25273876     DOI : 10.70095
Core Subject :
Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah is a peer-reviewed journal published by the Department of Islamic Banking Syariah Faculty of Islamic Economics and Business (FEBI) of UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. The journal publishes papers in the accounting and finance field that contribute significantly to the development of the economic and sharia banking profession in Indonesia. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah is published twice a year; the first edition is published in June and the second edition is published in December. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah receives academic and academic research results from both internal and external.
Arjuna Subject : -
Articles 257 Documents
Pembangunan Pariwisata Di Kabupaten Pangandaran Pasca Pemekaran Pahrul Fauzi; Syaeful Bakhri; Abdul Aziz Ahmad
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i1.4250

Abstract

Pariwisata menjadi salah satu sektor andalan pada pembangunan ekonomi Indonesia, hal tersebut dapat diketahui dari munculnya pariwisata sebagai salah satu sektor dari lima besar komoditas penyumbang devisa terbesar nasional. Wisata Pangandaran menjadi semakin berkembang seiring pemekaran wilayah pada tahun 2012. Dengan adanya pemekaran tersebut Kabupaten Pangandaran menjadi lebih fokus mengembangkan pariwisata. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan dan penurunan kinerja pada sektor pariwisata di Kabupaten Pangandaran setelah pemekaran, hal tersebut dapat diketahui dari naik turunnya jumlah pengunjung. Namun disisi lain, setelah pemekaran terdapat beberapa pengoptimalan potensi wisata yang dikembangkan. Sedangkan berdasarkan hasil analisis SWOT, diketahui bahwa sektor pariwisata di Kabupaten Pangandaran berada pada posisi kuadran pertumbuhan dengan strategi pertumbuhan yang bersifat stabil. Banyaknya objek wisata potensial dan disahkan menjadi daerah otonom menjadi faktor utama pada sisi kekuatan, sedangkan faktor sarana dan prasarana serta manajemen pengelolaan menjadi titik lemahnya. Adapun pada sisi peluang, Kabupaten Pangandaran dinilai mempunyai peluang yang tinggi karena semakin berkembangnya sektor pariwisata di Indonesia maupun dunia, sedangkan dari sisi ancaman yang perlu diwaspadai adalah kondisi kelestarian alam yang perlu dijaga seiring pembangunan sektor pariwisata. Berdasarkan analisis hierarki proses, pada level pertama ditemukan bahwa sarana dan prasarana menjadi faktor dengan prioritas pertama dengan nilai 32,68 sedangkan pada posisi kedua yaitu faktor kelembagaan dengan nilai 29,99. Hal tersebut menandakan bahwa faktor sarana dan prasaran serta kelembagaan menjadi faktor yang perlu diprioritaskan pada pembangunan sektor pariwisata Kabupaten Pangandaran pasca pemekaran. Sedangkan pada level kedua diketahui bahwa lima faktor tertinggi diantaranya peraturan daerah menjadi prioritas pertama disusul oleh kualitas jalan, pengelolaan DTW, Koordinasi dengan masyarakat, dan fasilitas kesehatan.
Analisis Perkembangan Dan Resistansi Sukuk Korporasi Dalam Produk Pasar Modal Muhammad Anwar Rifa'i; Rois Ibnu Sina
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i1.4406

Abstract

The financial crisis that has occurred so far according to experts is a result of the interest system that occurs in capital market and banking products. Therefore it is necessary to bring up systems and instruments that avoid the form of interest in which the interest in Islam is called usury, and the law is haraam. One instrument that carries a non-interest system is sukuk, the sukuk discussed in this study is corporate sukuk issued by well-known companies in Indonesia.This study aims to analyze how the Development and Resistance of Corporate Sukuk in Capital Market Products with qualitative descriptive methods. The analysis used is analysis of opportunities, threats, strengths and weaknesses or SWOT. The results of the study found that the strategy of implementing corporate sukuk in Indonesia still had a considerable opportunity even though in 2019 it was predicted to be sloping. The parties are expected to be able to work together and have good commitment in minimizing weaknesses and threats.Key words: Corporate Sukuk, Islamic Economy, Capital Market, SWOT Analysis. 
Kebijakan Pemerintah Terhadap Belt And Road Initiative (BRI) Dalam Paradigma Ekonomi Syariah Hendra Yulia Rahman
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.4537

Abstract

AbstractionBilateral relations between Indonesia and China have been established since the past, and have experienced ups and downs. After the reform period, bilateral relations were re-woven, beginning with the recognition of the religion of Konghucu as the official religion in Indonesia by President Abdurrahman Wahid, and imlek becoming a holiday and national holiday. Bilateral relations intensified in the government of President Jokowidodo, with the cooperation policy of Belt and Road Initiative (BRI). The policy raises hopes and concerns at the same time. The author will discuss related to the theme including: first, what is meant by the Belt and Road Initiative (BRI). Second, discussing Islamic economics, thirdly, how government policy is against the Belt and Road Initiative (BRI), and fourth, government policy on the Belt and Road Initiative (BRI) in the Islamic economic paradigm. The analysis uses the concept of maslahah in maqashid sharia.Keywords: policies, Belt and Road Initiative, welfare (falah) maslahah, shariaAbstraksiHubungan bilateral Indonesia dan China sudah terjalin sejak masa lampau, serta mengalami pasang surut. Setelah masa reformasi, hubungan bilateral kembali dirajut, diawali dengan pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia oleh Presiden Abdurrahman Wahid, dan imlek menjadi hari raya dan libur nasional. Hubungan bilateral semakin meningkat dipemerintahan Presiden Jokowidodo, dengan kebijakan kerjasama Belt and Road Initiative (BRI). Kebijakan tersebut menimbulkan harapan dan sekaligus kekhawatiran. Artikel ini akan membahas berkaitan dengan tema tersebut diantaranya: pertama apakah yang di maksud dengan Belt and Road Initiative (BRI). Kedua, membahas ekonomi syariah, ketiga, bagaimana Kebijakan pemerintah Terhadap Belt and Road Initiative (BRI), dan keempat, Kebijakan pemerintah Terhadap Belt and Road Initiative (BRI) dalam Paradigma ekonomi syariah. Analisis menggunakan konsep maslahah dalam maqashid syariah.Kata kunci: kebijakan, Belt and Road Initiative, kesejahteraan (falah) maslahah, syariah
Analisis Kelayakan Usaha Penangkapan Ikan dengan Payang di Desa Bandengan Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Dirja Dirja; Rincih Runikawati
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i1.4544

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari cara pengoperasian alat tangkap payang dan menganalisis kelayakan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan payang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pengambilan sampel kegiatan usaha unit penangkapan payang. Metode pengumpulan data, yaitu data primer melalui observasi dan wawancara serta data sekunder melalui studi pustaka dan laporan.Penelitian dilakukan pada 13 pemilik kapal (juragan) payang dan diambil semuanya sebagai responden. Analisis data yang dilakukan menghitung analisis pendapatan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C), analisis titik impas dan analisis kelayakan investasi yang terdiri dari Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) serta Pay Back Period.            Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan utama payang antara lain ikan Teri (Stolephorus sp.), Tanjan (Sardinella sp.), Kembung (Rastrelliger sp.) dan Pirik (Slipmouths) dengan rata-rata jumlah tangkapan 194,15 kilogram pada musim sedang dan pada musim puncak mencapai 365,31 kilogram per trip. Dengan rata-rata terdapat 87 trip operasi penangkapan ikan dalam satu tahun.Hasil analisis finansial diketahui bahwa investasi yang diperlukan dalam usaha perikanan payang di Desa Bandengan mencapai Rp.39.500.000,- biaya tetap Rp. 7.200.000,- biaya tidak tetap Rp. 106.676.000,-  sehingga total biaya  Rp.113.876.000,- dalam setahun, dan penerimaan Rp. 174.000.000. Maka keuntungan usaha diperoleh sebesar Rp. 60.124.000,- R/C sebesar 1,53, (BEP) nilai produksi sebesar Rp. 18.608.520,- dan volume produksi sebesar 2.794,91 kilogram.Hasil analisis kelayakan usaha diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 297.922.176, IRR mencapai 17,38%. Net B/C ratio adalah 8,54 dan paybaack period 1,33. Analisis tersebut mempunyai nilai NPV positif, IRR > discount rate, Net B/C ratio > 1 dan payback period < 3. Hal ini menunjukkan usaha perikanan payang di Desa Bandengan masih layak untuk dilanjutkan. Kata kunci: Analisis kelayakan usaha, penangkapan ikan, payang Abstract               The purpose of this study was to study the operation of payang fishing gear and analyze the feasibility of fishing business using payang. The method used in this study is the survey method by sampling the business activities of the Payang fishing unit. Methods of data collection, namely primary data through observation and interviews and secondary data through literature studies and reports.               The study was conducted on 13 ship owners (skipper) and all of them were taken as respondents. Data analysis was performed calculating business income analysis, analysis of revenue and cost balances (R / C), break-even analysis and investment feasibility analysis consisting of Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio ( Net B / C) and Pay Back Period.               The results showed that the main catches of Payang included Teri (Stolephorus sp.), Tanjan (Sardinella sp.), Bloated (Rastrelliger sp.) And Pirik (Slipmouths) with an average catch of 194.15 kilograms in the medium season and in the peak season it reached 365.31 kilograms per trip. With an average of 87 trips for fishing operations in one year.               The results of the financial analysis revealed that the investment needed in the Payang fishery business in Bandengan Village reached Rp.39,500,000, - a fixed fee of Rp. 7,200,000 - non-fixed costs Rp. 106,676,000, - so that the total cost of Rp. 113,876,000, - in a year, and the receipt of Rp. 174,000,000. Then the business profit is Rp. 60,124,000, - R / C of 1.53, (BEP) production value of Rp. 18,608,520, - and the production volume is 2,794.91 kilograms.               The results of the business feasibility analysis obtained an NPV value of Rp. 297,922,176, IRR reached 17.38%. Net B / C ratio is 8.54 and paybaack period is 1.33. The analysis has a positive NPV value, IRR> discount rate, Net B / C ratio> 1 and payback period <3. This shows that the umbrella fisheries business in Bandengan Village is still feasible to continue. Keywords: Analysis of business feasibility, fishing, breeding 
Mekanisme Green Bond Di Indonesia Abdul Syukur At-Tibasiy; Fadly Mane; Indah Yuliana
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.4698

Abstract

                   Dunia perindustrian dimuka bumi semakin menggeliat tiap tahunnya, dimanapun negara itu berada,apapun negaranya, Indonesia khususnya, tidak mau ketinggalan dalam segi perekonomian, untuk itu mereka mempercepat pergerakan perekonomiannya dengan cara memperbanyak  perindustrian di NegaraNya. Tidak heran,banyak lahan-lahan menjadi lahan perindustrian,dari sebab itulah limbah-limbah yang dikeluarkan dari hasil olahan dia semakin tidak terkontrol. Untuk mengantisipasi lahan berjangka panjang dan merawat lingkungan dengan merehabilitasi peristiwa tersebut, lahirlah suatu obligasi yang berwawasan lingkungan yang disebut green bond,Dimana perusahaan yang mampu mengeluarkan lisensi pertama di Indonesia ditahun 2018 yaitu PT. SMI (sarana multi infrastruktur),padahal dinegara-negara maju sudah mulai berkembang 10 tahun terakhir.Dari kasus inilah yang membuat penulis menarik untuk meneliti dan melihat sejauh mana mekanisme green bond dalam merehabilitasi kasus tersebut.                   Tujuan dari penelitian ini adalah penulis ingin mengetahui dan melihat sejauh mana program pemerintah dalam mengatasi kerusakan lingkungan akibat dari banyaknya perindustrian maupun lainnya,juga bagaimana mekanisme yang dikerjakan dari program  green bond kelahiran PT.SMI tahun 2018 kemarin, yang merupakan perusahaan pertama penerbit obligasi berwawasan lingkungan.                   Data ini penulis kumpulkan dari data yang benar-benar validitasnya sangat akurat karena penulis langsung ambil dari situs perusahaan-perusahaan yang terkait dalam penelitian diatas khusunya situs PT. SMI atau  yang sering disebut data sekunder Juga ditunjang dari beberapa sumber lainnya baik media sosial sos ataupun berita seperti CNBC dan lain-lain. Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif yang mana menjelaskan suatu objek dari sudut mekanisme dan kinerja suatu obyek yang diteliti.                   Dari hasil penelitan tersebut, penulis menemukan hasil temuan tematik yang termasuk juga poin penting penelitian ini untuk diketahui, seperti membahas kota Jakarta termasuk kota yang didukung udaranya berlevel tertinggi se-Asia Tenggara, pemerintah yang bergerak maju di wilayah yang berbeda, kutip berbahaya untuk didiamkan, dan juga hasil obligasi hijau ini sangat membantu dalam rehabilitasi lingkungan juga membantu keuangan Negara.                   Dengan hasil penelitian ini, penulis berkeyakinan dapat membantu pemerintah dalam meminta persetujuan (obligasi hijau) ini, sehingga dapat menarik investor untuk menginstalasi modalnya dan meningkatkan perusahaan-perusahaan yang akan terbantu. Dengan demikian akan semakin maksimal dalam mencapai target rehabilitasi lingkungan di negaraNya, juga mampu menunjang keuangan negara dari hasil penjualan sebelumnya.Kata kunci: ikatan hijau, tujuan, Manfaat penelitian, hasil penelitian
Comparative Analysis Of Employee Engagement In Employees Generation X, Y, And Z Muhammad Qoes Atieq
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.4873

Abstract

A good organization is an organization that is able to increase employee engagement, in various innovative ways so that employees feel valued and appreciated. Employee engagement in this study refers to an explanation from Schaufeli (2002), which is a motivational condition of employees related to work, which is shown by vigor, dedication, and absorption. Every employee has a different level of engagement, including every employee of various generations. The purpose of this study is to find out and explain the comparison of employee engagement in employees of generation X, Y, and Z. This type of research is a comparative descriptive study with a quantitative approach. Retrieving data using questionnaires distributed online. The sample used by 170 people from various generations of respondents was obtained, namely generation X as much as 32, generation Y as many as 98, and while generation Z as many as 40. While in the data analysis using descriptive analysis, inferential analysis, and one way ANOVA to compare. The results showed that there was a significant difference in the level of employee engagement for employees of generation X, Y, and Z. Employee engagement between generations X and Y were not significantly different, while generation Z was significantly different from generation X and Y.Keywords : employee engagement, generation X, generation Y, dan generation Z.
Sikap Boros: Dari Normatif Teks ke Praktik Keluarga Muslim Murtadho Ridwan; Irsad Andriyanto
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.4927

Abstract

AbstractThis study aims to describe wasteful behaviour in terms of normative texts, Islamic economics, and practices in Muslim families. The approach used is a descriptive approach by describing the wastefulbehaviour of the Qur'an and Hadith arguments and mentioning the opinion of Islamic economists. This study is complemented by a survey of 25 Muslim families to find wasteful out their level of consumption in the month of Ramadan. The results of the study show that is explained in the Qur'an and hadith with two terms, those are israf and tabdzir. Islam prohibits wasteful in consumption, but wasteful limitations in Islamic economics are relative (subjective). While the survey results concluded that the majority of Muslim family consumption in the month of Ramadan increased. The increasing aims to meet the needs of four healthy five perfect. The food provided by Muslim families in the month of Ramadan is in accordance with the needs so that nothing is wasted. For those who have leftovers, they use of it for pets so it does not include wasteful. There was only one respondent who claimed to throw away leftovers in vain so that the wasteful behaviour was prohibited by Islam.Keywords:Wasteful, Consumption Ethics, Islamic Economy AbstrakKajian ini bertujuan untuk mendiskripsikan sikap boros dari segi normative teks, ekonomi Islam, dan praktik di keluarga Muslim. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan mendiskripksian sikap boros dari dalil Alquran dan Hadis serta menyebutkan pendapat ahli ekonomi Islam. Kajian ini dilengkapi dengan hasil survey kepada 25 keluarga Muslim untuk mengetahui tingkat konsumsi harian mereka di bulan Ramadhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sikap boros dijelaskan dalam Alquran dan hadis dengan dua istilah, yaitu israf dan tabdzir. Islam melarang sikap boros dalam berkonsumsi, namun batasan boros dalam ekonomi Islam bersifat nisbi (subyektif). Sedangkan hasil survey menyimpulkan bahwa mayoritas konsumsi harian keluarga Muslim di bulan Ramadhan mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan empat sehat lima sempurna. Makanan yang disediakan keluarga Muslim di bulan Ramadhan sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Bagi yang memiliki sisa makanan, mereka memanfaatkan untuk hewan peliharaan sehingga tidak termasuk sikap boros. Hanya ada satu responden yang mengaku membuang sisa makanan dengan sia-sia sehingga perilaku itu termasuk boros yang dilarang Islam.Kata kunci: Boros, Etika Konsumsi, Ekonomi Islam 
Analisis Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Syariah Berbasis PSAK Syariah, AAOIFI, Dan IFRS Rifqi Muhammad; Aldhika Yusnar Fahmie
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.4940

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penggunaan standar keuangan syariah  PSAK Syariah, AAOIFI dan IFRS, terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan Non Performing Financing (NPF) pada suatu lembaga bank syariah. Analisis dilakukan dengan menggunakan data tahunan Bank Syariah yang berada di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi,Bahrain, Sri Lanka, Qatar, dan Kuwait periode 2013 hingga 2017. Analisis ini menggunakan sampel sebanyak 12 bank syariah. Sumber data dalam penelitian ini diambil dari website.
Triple Helix Sebagai Model Bagi Inovasi Pendidikan Tinggi: Analisis Logika Kelembagaan Dalam Pengembangan Kewirausahaan Dan Ekonomi Aan Jaelani
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i1.4980

Abstract

AbstrakArtikel ini akan memaparkan tentang transformasi pendidikan tinggi yang mengalami perluasanm isi untuk memasukkan pembangunan ekonomi dan sosial serta kompetensi, reproduksi budaya dan penelitian dan pergeseran dari individu ke fokus organisasi. Dalam hal ini, model triple helix menegaskan hubungan antara universitas, industri, dan pemerintah sebagai strategi pengembangan untuk memenuhi modal sosialdankesenjanganteknologi, sehingga model iniinidapatmemberikankondisi yang optimal untukinovasiperguruantinggi. Dengananalisisteoriinstitusional yang memilikiempattahappengembangandalam proses pelembagaan model tersebut, makadapatdipahamibahwapolapraktik material yang dibangunsecarasosial, historis, asumsi, nilai-nilai, kepercayaan, danaturan-aturan yang dengannyaindividumenghasilkandanmereproduksisubsistensi material mereka, mengaturwaktudanruang, danmemberikanmaknapadarealitassosialmereka.Artikelinimenyimpulkanbahwalogikakelembagaan yang diharapkandapatbekerjameliputikepercayaandalaminovasisainsdanteknologisebagaikunciuntukpertumbuhankesejahteraanekonomi, orientasipasardalamkelulusanakademiktanpameninggalkanbudayalokal, peningkatandanperlindunganhakkekayaanintelektualdalamindustri, dankemampuanlembagadalampersainganpasar. Kata Kunci: pendidikantinggi, triple helix, logikakelembagaan, kewirausahaan  THE TRIPLE HELIX AS A MODEL FOR INNOVATION OF HIGHER EDUCATION:Analysis of Institutional Logic in Entrepreneurship and Economic Development AbstractThis article will describe the transformation of higher education which is undergoing an expanded mission to include economic and social development as well as competence, cultural reproduction, and research and the shift from the individual to the organizational focus. In this case, the triple helix model emphasizes the relationship between universities, industry, and government as a development strategy to meet social capital and technological gaps, so that this model can provide optimal conditions for university innovation. By analyzing the institutional theory that has four stages of development in the process of institutionalizing the model, it can be understood that the pattern of material practices that are built socially, historically, assumptions, values, beliefs and rules by which individuals produce and reproduce their material subsistence, managing time and space, and giving meaning to their social reality. This article concludes that the institutional logic that is expected to work includes trust in scientific and technological innovation as a key to growing economic prosperity, market orientation in academic graduation without leaving local culture, enhancing and protecting intellectual property rights in the industry, and the ability of institutions in market competition. Keywords: higher education, triple helix, institutional logic, entrepreneurship
Studi Inovasi dan Praktik Akad Ganda Sistem Keuangan Islam Tradisional Berbasis Fatwa Ulama Lokal Muhammad Djakfar; Umrotul Khasanah; Meldona Meldona
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol. 11 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v11i2.5188

Abstract

Food production financing is expensive because facility inputs controlled by Trans-National Corporation (TNC), and output is conducted by traders using the bonded system. This condition leaves farmers in a dilemma position so that farmers make innovations and practice multiple contracts in the traditional Islamic financial system based on the fatwa of local ulama. The purpose of this study is to uncover the views of farmers, disclose opinions or views of ulama, and reveal the model of financing applications based on traditional Islamic financial systems and the application of dual contracts that apply in the farming community. This research puts forward a descriptive qualitative research method with case studies on farmers in Probolinggo Regency and Malang Regency, East Java. This research model uses qualitative methods that are concerned with the meaning, context and emic perspective. Data analysis through a phased approach, namely: analyzing important statements, formulating, describing, reducing data to the findings, propositions and conclusions. Data collection and analysis carried out simultaneously; prioritize observations and interviews and the researcher himself as the main instrument. The research findings show that farmers in Probolinggo Regency and Malang Regency, East Java Province have innovated and practised a dual agreement in the traditional Islamic financial system based on the fatwa of local ulama. The motive of the farmers to do the work is to avoid the practice of usury which is prohibited. The results showed that there were four traditional Islamic financial models practiced by farmers, namely: (1) the leasing model, (2) the buying and selling model "binding" with the usual profit sharing, (3) the buying and selling model "binding" with the profit-sharing half and (4) buying and selling model "binding" with profit-sharing.Keywords: Dual Agreement, Financing, Islamic Financial Model, views of ulama, farmers