cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
PENGEMBANGAN DISTIBUSI AIR BERSIH SUMBER DLUNDUNG DESA TRAWAS KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO ZAINAL ABIDIN, MOCHAMMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

STUDI EKSPERIMENTAL BUKAAN GANDA TERHADAP KAPASITAS LENTUR BALOK BETON BERTULANG MESRANTO, MOHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lubang pada penampang lateral balok beton digunakan untuk melewatkan jaringan utilitas pada bangunan bertingkat tinggi. Semakin banyak jaringan utilitas yang akan dilewatkan, akan semakin besar dimensi bukaan yang dibutuhkan. Balok beton bukaan ganda digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan bukaan yang terlampau besar, sehingga bukaan ganda pada badan balok akan mengubah perilaku mekanik balok, mengakibatkan berkurangnya kekuatan dan kemampu layanan balok. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbandingan balok bukaan ganda terhadap balok utuh terhadap kuat lentur balok beton.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Studi eksperimental  tentang pengaruh bukaan ganda terhadap kapasitas lentur dibuat dua balok beton bertulang yang dibuat dari beton mutu normal dengan f’c = 35 MPa menggunkan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI- 2843), sedangkan baja tulangan menggunkan D13 untuk tulangan lentur dan ?8 untuk tulangan geser. Balok beton berukuran 200x 300x 3300 mm sedangkan lubang berukuran 80 mm arah vertikal dan 400 mm arah horizontal. Benda uji balok beton bertulang berjumlah 2 buah meliputi balok utuh (BUL) dan balok berlubang (BBL). Penempatan dua beban titik berada di seperempat bentang dengan bentang bersih sepanjang 2700 mm sedangkan dua lubang ganda ditempatkan 100 mm dari beban yang mengarah ketengah bentang. Rasio pembebanan  a/d = 2,53 menurut Chu-Kia Wang adalah daearah lentur geser, akan tetapi direncanakan retak lentur saja, sehingga di daerah bentang  geser diperkuat dengan tulangan geser (sengkang) dengan jarak 80 cm menjadikan   yang menunjukkan balok kuat terhadap geser agar retak yang terjadi membentuk retak lentur. Hasil pengujian beton diperoleh f’c= 35,52 MPa untuk campuran balok utuh dan  f’c = 35,67 MPa untuk balok Berlubang, sedangkan mutu baja tulangan D13 adalah fy = 385,73 MPa dan mutu baja tulangan ?8 adalah fy = 450 MPa.  Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan adannya  dua lubang besar didaerah momen maksimal dengan rasio a/d=2,53 berpengaruh terhadap kuat lentur beton yang mengakibatkan  lendutan balok uji BBL yaitu 26,35 mm lebih besar dibandingkan BUL yaitu 11,60 mm pada saat beban sama-sama 60 kN, sehingga kuat lentur beton BBL mengalami penurunan dibandingkan BUL, akan tetapi lendutan balok uji BBL dibawah lubang lebih kecil dibandingkan dengan ditengah bentang, hal tersebut dikarenakan balok uji BBL didaerah lubang di beri perkuatan tulangan lentur, hal tersebut didukung dengan pola retak balok yang membentuk retak vertikal (retak lentur)  yang dominan ditengah bentang dibandingkan dibawah lubang, sehingga dengan adanya perkuatan tulangan lentur dibawah lubang membantu meminimalisir lendutan dan pola retak dibawah lubang. Kata Kunci: Beton bertulang, Balok berlubang, Kuat lentur.  The opening in the lateral cross section of concrete beam is used to skip the utility networks on high-rise buildings. The more utility that will be missed, the greater the required dimensions of the openings. Multiple openings concrete beams are used to accommodate the needs of the too large openings, so that multiple openings on the body of the beam will change the mechanical behavior of the beam, resulting in reduced strength and beam ability-service. The study aimed to determine the effect of the double openings toward concrete beam flexural strength. Experimental study on the effect of double openings toward flexible capacity was made of two reinforced concrete beams which were made from normal strength concrete with fc= 35 Mpa by using the Indonesian National Standard reference (SNI- 2843), while the reinforcing steel used the D13 to flexible reinforcement  and ?8 for flexural and moved reinforcement. Concrete beams measured 200x 300x 3300 mm while the openings was 80 mm vertically and 400 mm in the horizontal direction. The tested reinforced concrete beams amounted to 2 pieces including the whole beam (BUL) and the hollow beam (BBL). Placement of two load points were located on a quarter-span by clean span throughout 2700 mm while the two double holes were placed 100 mm from the load leading into the middle span. Loading ratio a/d = 2.53 according to Chu-Kia Wang is a moved flexible spot, however it was planned to be flexible cracked only, so that the moved span area was strengthened (stirrups) wioth the distance of 80cm, resulting ∅Vn > Vu showing the beam was strong against movement in order making the shear occurrence forms to be flexible shears only. The concrete test result obtained fc = 35.52 MPa for mixed of whole beam and fc = 35.67 MPa for hollow beam, while for the quality of D13 reinforcement steel was fy= 385.73 MPa and the quality of reinforcement steel ?8 was fy= 450 MPa. The result of the study showed that with two large holes in maximum moment area with ratio a/d = 2.53 affected to the flexibility strength of concrete, resulting the dent of BBL tested beam which was 26.35 mm larger than BUL 11.60 mm during the same load of 60 kN, so that the flexible strength of BBL concrete decreased compared to BUL, but the dent of tested BBL concrete under the openings was smaller than in the middle of span. it was because the tested BBL concrete in the openings area was strengthened by giving flexible reinforcement, it was supported by the concrete crack pattern which formed a vertical crack (flexible shear) which was dominant in the middle span than under the hole, so that with the strengthening of flexible reinforcement below the hole helped to minimize the dent and crack pattern under the hole. Keywords: Reinforced concrete, beam openings, Flexibility strength.
ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN RANGKA BAJA TIPE CAMEL BACK TRUSS DEWI SUGIYONO, RIA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan merupakan suatu struktur bangunan yang berfungsi untuk menghubungkan dua alur transportasi yang terputus karena adanya rintangan. Dalam penyusunan penelitian ini direncanakan struktur atas jembatan rangka tipe camel back truss dengan bentang 80 meter. Dipilih jembatan tipe ini untuk mendapatkan hasil jembatan yang ekonomis, layak dan aman serta mempunyai nilai arsitektur yang tinggi.Peraturan pembebanan yang digunakan dalam perencanaan jembatan ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) T-02-2005, T-03-2005, T-12-2004, dan Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 10/SE/M/2015. Perhitungan dimulai dari lantai kendaraan, gelagar memanjang, gelagar melintang, perhitungan ikatan angin atas dan bawah serta rangka, dengan menghitung beban-beban yang bekerja, dan kemudian dilakukan analisa dengan menggunakan program SAP2000. Selanjutnya dilakukan perhitungan sambungan dan dimensi bantalan elastomer. Kata kunci: Jembatan rangka, Baja, Gelagar Bridge is a structure of the building that serves to connect two furrows transportation disconnected because the obstacles. In the preparation of research is planning the substructure of camel back truss bridge with landscapes of 80 meters. Chosen type of bridge to get economically, safe, decent and high architecture bridge.The Imposition regulation used in bridge planning is based on Standar Nasional Indonesia (SNI) T-02-2005, T-03-2005, T-03-2005, T-12-2004, dan Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 10/SE/M/2015. Calculation started from the floor vehicle, stringer, floor beam, top dan bottom bracing and chord/truss, by counting worked load, and then analysis with sap2000 program. The next calculation is connection and dimension of bearing elastomers. Keywords: Truss, Steel, Girder
PENGARUH PENGOPTIMAISASI PEMASANGAN LETAK BAUT DENGAN JARAK TEPI PADA SAMBUNGAN PELAT TARIK MONIKA FEMBRIANTO, DONNA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kontruksi baja sambungan berperan sangat penting, salah satunya adalah sambungan pelat tarik. Oleh karena itu, masalah pengoptimalisasi pemasangan baut dengan jarak tepi pada sambungan pelat tarik perlu adanya berbagai percobaan dan perhitungan agar tidak terjadi kegagalan sambungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kerusakan sambungan tarik dengan mengoptimalisasi pemasangan letak baut dengan jarak tepi, dan analisa kekuatan sambungan tarik setelah dioptimalisasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa dengan adanya pengoptimalisasian pemasangan letak baut dengan jarak tepi perilaku kegagalan sambungan yang terjadi bermula dari ujung sambungan melengkung hingga pelat mengalami robek dan putus. Tingkat kekuatan kuat tarik pada sambungan menjadi turun seiring dengan adanya pengoptimalisasian pemasangan baut dengan jarak tepi, sehingga tegangan yang ditimbulkan jarak baut dengan tepi selalu lebih besar dari pada jarak antar baut. Akan tetapi, kuat tarik yang tertinggi tercapai pada saat pengoptimalisasian jarak baut dengan tepi sebesar 40 mm yaitu sebesar 422 kN.  Kata Kunci: baut, sambungan pelat, optimalisasi jarak tepi, kuat tarik. In contruction, steel connection is very important role, one of them is attraction plate connection. Beside that, the problem of optimized mounting bolt with distance of edges on the connection plates need to pull their various experiments and calculations in order to avoid failure of the connection. This study aims to determine the behavior of the drop connection breakdown by optimizing the layout mounting bolt with distance of edges and analysis of tensile strength after optimized connection. The results obtained from studies conducted to prove that their layout optimizing mounting bolt with distance of edges connection failure behavior stems from curved end of the connection until the plate has torn and broken. The power level of tensile strength in the connection being dropped along with optimizing the mounting bolts with the distance of edges, so that the voltage generated within the screw with an edge is always greater than the distance between the bolts. However, the highest tensile strength achieved when optimizing the bell bolt with the distance of edges of 40 mm about 422 kN . Keywords: bolt, plate connection, optimizing distance of edges, power of  tension
STUDI EKSPERIMENTAL BUKAAN GANDA DENGAN LETAK DI ATAS   GARIS NETRAL  TERHADAP  KAPASITAS GESER BALOK BETON BERTULANG SISWO,
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk membandingkan balok utuh dan bukaan guna mengetahui  pengaruh bukaan dengan letak di atas garis netral  terhadap kuat geser balok . Dasar penelitian ini adalah Tanijaya (1996) tentang kajian lubang pada badan balok akan mengubah perilaku mekanik balok serta pemusatan kekuatan tegangan pada sudut-sudut bukaan yang mengakibatkan berkurangnya kekuatan dan kemampuan layan balok. Ade Lisantono dan Wigroho (2008) tentang kajian variasi dimensi lubang  diperoleh hasil kapasitas lentur dan geser balok bukaan terbesar tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan balok tanpa bukaan.  Metode Penelitian ini adalah deskiptif kuantitatif. Data diperoleh dari penelitian eksperimen balok ukuran 200x300x2700 mm dengan uji pembebanan monotonik (load test). Benda uji berjumlah 2 buah, Balok Utuh (BU) dan Balok Berlubang (BBG). Dimensi bukaan berukuran 400x80 mm yang terletak di daerah geser tinggi dengan bentang geser (a/d) 2,24. Hasilnya kemudian dicocokkan dengan analisa teoritis. Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  Bukaan ganda dengan letak di atas garis netral berpengaruh terhadap kuat geser balok. Kuat geser Balok Berlubang (BBG) menurun sebesar 9,12%, hal ini disebabkan letak lubang  berada di daerah geser tinggi dengan bentang geser (a/d) 2,24 menyebabkan tegangan berlebih di bagian bawah lubang terbukti konsentrasi retak terpusat di bawah lubang sebesar 9 mm. Selain  itu kuat cadangan Balok Berlubang (BBG) menurun 13,25% dari Balok Utuh (BU) sehingga akan terjadi gagal geser di daerah lubang. Hasil  eksperimen  dibandingkan dengan teoritis dan SAP 2000 diperoleh  kecenderungan keluaran  yang sama ditinjau dari tegangan geser daerah lubang. Kata Kunci: Bukaan Balok, Kuat Geser, Balok Berlubang, beton. This  study  is aim to compare the whole beam and openings in order to determine effect openings on the neutral line of the shear strength of the beam. Basic research is Tanijaya also (1996) about the study of the web opening beam will change the beam mechanical behavior as well as the centralization stress on the corners of the openings which cause  reduced strength and the ability of beams. According Ade Lisantono and Wigroho (2008) about the openings dimension variations result of bending and shear capacity of the largest opening beam did not show any significant differences with beams without openings.This research method is quantitative deskriptive. Data obtained from experimental research 200x300x2700 mm beam size with monotonic loading test (load test). The experiment object was 2, Whole Beams (BU) and Opening Beams (BBG). The   Dimensions opening was 400x80 mm, which laid on the high shear area with a shear extend (a/d)  2,24. Then The result was  matched with the theoretical analysis. The results showed a double opening on the neutral line effect the shear strength of the beam. Opening  Beam Shear Strength (BBG) decreased 9.12%, this is due to the location was on  area of high shear with a shear extend (a / d) of 2,24 causes over stress on the bottom opening proved to be the concentration of cracks centered bottom opening for 9 mm. Besides strong reserve Opening Beams (BBG) decreased 13.25% from Whole Beams (BU) that will occur shear failure in the pit area. The experimental results are compared with theoretical and SAP 2000 acquired predisposition same output in terms of shear stress. Keywords: Opening Beams, shear strength,  Reinforced Beam Concrete.
ANALISIS KEHILANGAN TINGGI TEKAN PADA JARINGAN PIPA DISTRIBUSI AIR BERSIH PDAM KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK KARTIKA PERMATASARI, AMILINA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemakaian sistem gravitasi adalah sistem yang digunakan untuk pendistribusian air bersih kepada konsumen perumahan kota baru Driyorejo Gresik. Jaringan pada pendistribusian air bersih untuk konsumen cukup komplek, kuranganya pemerataan air yang terjadi di beberapa wilayah perumahan kota baru Driyorejo  sehingga diperlukan suatu analisa untuk mengoptimalkan air yang akan didistribusikan kepada konsumen. Sistem jaringan pipa distribusi air bersih cukup komplek maka penelitian ini dilakukan bertujuan untuk memperoleh Head Loss Mayor dan Head Loss Minor pada sistim distribusi air perumahan kota baru Driyorejo. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah deskriptif  kuantitatif  yang  bertujuan untuk mengetahui Head Loss Mayor pada jaringan pipa distribusi. Analisa hidrolika yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan perhitungan dengan persamaan Darcy Weisbach dan Hazen Williams serta metode Hardy Cross dan simulasi dengan menggunakan program aplikasi Epanet 2.0. Hasil penelitian ini diperoleh Head Loss Mayor untuk satu loop jaringan pipa pada jl. Biduri Pandan, jl. Batu Mulia dan jl. Granit Kumala dari persamaan Darcy Weisbach menggunakan Epanet 2.0. mendapatkan total sebesar 0,4601 m. Nilai Head Loss Minor dari valve sebesar 1,121x10-5, untuk belokan sebesar 1,1536x10-3, untuk pembesaran tampang sebesar 1,562 dan untuk pengecilan tampang sebesar 1,26 x 10-4. Adapun kesimpulan yang dapat diambil, semakin panjang pipa semakin besar nilai Head Loss yang dihasilkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nilai dari Head Loss adalah perlu dilakukan survei dari kebocoran pipa atau pergantian meter air dan pergantian untuk pipa yang sudah rusak. Kata Kunci: Hardy Cross, Head Loss, Jaringan Perpipaan, Volume. The use of the word gravity system is the system used to distribute clean water to perumahan kota baru Driyorejo Gresik consumers. Networking on the distribution of clean water to consumers is quite complex, the lack of equal distribution of water that occurs in some areas of the new city housing Driyorejo so required an analysis to optimize the water that will be distributed to consumers. The pipeline system of water distribution is quite complex so this research aims to acquire Head Loss of Major and Minor Head Loss in distribution system water perumahan kota baru Driyorejo. The method used for this research is descriptive quantitative and aims to determine Head Loss Major distribution pipeline. Hydraulics analysis used in this study is the use of calculations with equations Darcy Weisbach and Hazen Williams and Hardy Cross method and simulation using application program Epanet 2.0. The results of this study obtained values Major Head Loss for the loop pipeline on jl. Biduri Pandan, jl. BATU MULIA and jl. Granite Kumala from Darcy Weisbach equation using Epanet 2.0. get a total of 0.4601 m. Minor Head Loss Value of valve for 1,121x10-5, to the turn of 1,1536x10-3, to look at 1,562 magnification and look for the downsizing of 1.26 x 10-4. The conclusions that can be drawn, the greater the longer pipes Head Loss value is generated. Efforts should be made to reduce the value of Head Loss is necessary to do a survey of leaking pipes or replacement of water meters and turn to the broken pipe. Keywords : Hardy Cross , Head Loss , Network Pipelines, Volume.
ANALISIS DESAIN JEMBATAN KOMPOSIT GELAGAR BAJA MENGGUNAKAN STRUKTUR NON-PRISMATIK JAYANTI ANGGRAINI, ANNEKE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan transportasi di Indonesia yang sangat pesat meuntut adanya peningkatan sarana prasarana perhubungan, salah satunya adalah konstruksi jembatan. Kualitas suatu jembatan dapat dilihat dari segi kekuatan, arsitektur, dan biaya yang ekonomis. Jembatan harus mampu menahan beban mati dan beban lalu lintas diatasnya, memiliki bentuk konstruksi yang tidak biasa seperti halnya penggabungan antara komposit (baja-beton) dengan penampang profil yang memiliki ukuran berbeda-beda (non-prismatik). Reduksi berat sekitar 20-30% dapat diperoleh dengan memanfaatkan perilaku sistem komposit penuh. Berkurangnya tinggi profil baja yang dipakai akan mengakibatkan berkurangnya tinggi bangunan secara keseluruhan, sehingga dapat menghemat material bangunan. Anggapan ini harus dibuktikan secara ilmiah dalam perhitungan perencanaan konstruksi jembatan sesuai peraturan-peraturan yang berlaku dalam Standar Nasional Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk konstruksi jembatan komposit dengan bentang 60 m dan lebar total 9 m, dapat didesain memiliki 2 jalur kendaraan tanpa median. Profil baja WF 912.302.18.34 dapat digunakan, dengan syarat kuat geser gelagar kurang dari momen geser yang terjadi. Gaya geser antara pelat beton dan profil baja harus dipikul oleh sejumlah penghubung geser agar tidak terjadi slip. Kata Kunci: jembatan komposit, non-prismatik. Indonesian transportation development is now rapidly demand increase in the infrastructure, that is bridge construction. The quality of bridge could be seen by it’s strength, architecture, and economical cost. Bridge should be able to restrain both dead load and traffic load on it, has an unusual construction such as combining between composite (steel-concrete) with some different sections of profile (non-prismatic). The weight could be reduced about 20-30% by making full composite system. Reduced high of steel profile will effected to reducing overall construction heigh, so it’s able to saving the materials. This opinion should be proven scientifically in the calculations of the bridge consruction design according to obtain regulations in Indonesia National Standart. The result of this research showed that composite bridge with length 60 m and total width 9 m, could be designed has 2 vehicle traffic lanes with no median. Steel profile WF 912.302.18.34 able to use by condition of girder shear strength is less than shear moment that occurred. Shear force between concrete plate and steel profile should be endured by amount of shear connector in order to keep the slip. Keywords: composite bridge, non-prismatic.
PENGARUH PANJANG LEWATAN (LD) DENGAN SAMBUNGAN MEKANIS PERSEGI ENAM TERHADAP KUAT TARIK BAJA TULANGAN ANDIKA SURYA PUTRA, SANDI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sambungan merupakan bagian struktur beton bertulang yang sangat penting. Fungsinya adalah mentransfer gaya dan berperilaku sebagai penghubung disipasi energi antara komponen-komponen yang disambung. Penempatan dan kekuatan sambungan perlu direncanakan dengan baik sehingga tidak menyebabkan keruntuhan prematur pada struktur. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi panjang lewatan optimum jika dikombinasikan dengan sambungan mekanis persegi enam terhadap kuat tarik (fu) baja tulangan. Selain itu, untuk mengetahui pengaruh sambungan lewatan dengan sambungan mekanis persegi enam terhadap kuat tarik baja tulangan. Program penelitian dilakukan terhadap konfigurasi sambungan dengan variabel panjang lewatan. Variabel dalam penelitian ini yaitu panjang lewatan (ld), dengan 2 sambungan mekanis persegi enam dan panjang lewatan (ld) 26 db,  2 sambungan mekanis persegi enam dan panjang lewatan (ld) 21 db, 2 sambungan mekanis persegi enam dan panjang lewatan (ld) 16 db, 2 sambungan mekanis persegi enam dan panjang lewatan (ld) 11 db. Penerapan sambungan dilakukan melalui 3 buah benda uji pada tiap-tiap perlakuan dengan diameter tulangan (db) 10 mm. Masing-masing benda uji dilakukan uji tarik berdasarkan SNI 07-2529-1991 dan SNI 07-2052-2002 dengan diberikan beban vertikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja tulangan tanpa sambungan mekanis persegi enam memiliki tegangan leleh (fy) 487,27 MPa, tegangan tarik maksimum (fu) 649,20 MPa, beban maksimum 44,1 kN, dan perpanjangan (elongation) 18,214%. Selain itu diperoleh hasil panjang lewatan optimum sebesar 11db dengan tegangan leleh (fy) sebesar 357,73 MPa, tegangan tarik maksimum (fu) sebesar 499,05 MPa, dan beban maksimum sebesar 33,90 kN. Varisi sambungan lewatan yang dikombinasikan dengan sambungan mekanis persegi enam paling optimum dalam memikul tegangan tarik (fu) baja tulangan sebesar 11db. Kata Kunci: Sambungan lewatan, sambungan mekanis persegi enam, kuat tarik  Connection  is the most important part of reinforced concrete structures. Its function is to transfer force and act as a liaison between the energy dissipation of the components to be joined. Placement and connection strength need to be planned, so that its does not cause premature collapse of the structure. This study aimed was to get information the optimum tensile strength of combination lap splice connection with a hexagon mechanical connection. Furthemore, it is also to find out the effect of combination lap splice connection with hexagon mechanical connection. Research program is conducted by reviewing the configuration of lap splice lenght. Variable in this study is a combination between lap splice connection 26db and hexagon mechanical connection, lap splice connection 21db and hexagon mechanical connection, lap splice connection 16db and hexagon mechanical connection, lap splice connection 11db and hexagon mechanical connection. Application of the connection is made throught 3 specimens in each treatment with diameter of reinforced bar (db) 10 mm. Each specimen tensile test is conducted by SNI 07-2529-1991 and SNI 07-2052-2002 with a given vertical load. The result showed the reinforcing bar without hexagon mechanical connection have a yield strenght (fy) 487,27 MPa, ultimate tensile strenght (fu) 649,20 MPa, maximum load 44,1 kN, and elongation 18,214%. In addition the results obtains optimum lap splice lenght is 11db with yield strenght (fy) 357,73 MPa, ultimate tensile strenght (fu) 499,05 MPa, and maximum load 33,9 kN. Variation of combination lap splice connection with hexagon mechanical connection is most powerfull restraining tensile strenght by 11db. Keywords: Lap splice, haxagon mechanical connections, tensile strength
STUDI PENGGUNAAN CATALYST, MONOMER, DAN KAPUR SEBAGAI MATERIAL PENYUSUN BETON RINGAN SELULER FADHLURRAHMAN HAZIM, MUHAMMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan pembangunan di Indonesia semakin pesat. Bahan bangunan dituntut harus mempunyai kualitas yang baik dan mudah diaplikasikan. Hal ini dapat kita temui pada bahan bangunan beton ringan Cellular Lighweight Concrete (CLC) yang dapat diaplikasikan menjadi bata ringan. Bata ringan dituntut untuk dapat menjadi pengganti batu bata merah konvensional karena beratnya yang ringan. Tujuan penelitian ini adalah membuat campuran beton ringan seluler yang dapat digunakan untuk berbagai macam komponen bangunan selain bata ringan juga seperti dinding, panel, dan pelat. Dalam penelitian skripsi ini, dilakukan penambahan kapur sebagai pengganti semen yang bertujuan menambah kekuatan dan menambah gradasi warna putih agar dapat bersaing dengan bata ringan Autoclaved Aerated Concrete (AAC). Penambahan kapur bervariasi yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% diambil dari berat semen yang kemudian dicari kadar optimum dilihat dari berat jenis, kuat tekan, dan penyerapan air. Perbandingan pasir dan semen menggunakan 2:1. Bahan tambah lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah foam agent, catalyst dengan persentase 1% dari berat semen dan monomer dengan persentase 0.5% dari berat semen. Namun pada penelitian ini menggunakan dua macam benda uji yaitu dengan penambahan monomer dan tanpa penambahan monomer. Hal ini bertujuan untuk mengetahui efek dari penambahan monomer. Hasil dari penelitian ini adalah semua berat jenis benda uji berada pada kisaran 1 – 1,28 gr/cm3. Kadar optimum penambahan kapur adalah 10% yang menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 5,3 MPa dan penyerapan air sebesar 15,86%. Sehingga hasil penelitian ini dapat diaplikasikan untuk bata ringan yang digunakan pada dinding dengan mutu III sesuai SNI Bata Beton SNI 03-0349-1989. Kata Kunci : bata ringan, CLC, foam concrete, kapur, beton ringan. The development of construction in Indonesia was more rapid. Building materials should have a good quality and should be easy to be applied. It can be found in Cellular Lighweight Concrete (CLC) and can be applied for lightweight brick. Lightweight brick is required to be able to substitute the conventional brick because its weight is lighter. The purpose of this research is to make a mixture of Cellular Lighweight Concrete (CLC) which can be used for many kinds of building components such as; walls, panels, and slab. In this research, the addition of lime powder as a substitute of cement which aims to strength and white gradation was done in order to be able to compete with Autoclaved Aerated Concrete (AAC) lightweight brick. The addition of lime powder was varied; those are 0%, 5%, 10%, 15%, and 20% taken from the weight of cement which then the optimum level was sought through density, compressive strength, and water absorption. The ratio of sand and cement used 2:1. Other additional materials that were used within this research are foam agent, catalyst which the percentage is 1% out of the weight of cement, and also monomer which the percentage is 0.5% out of the weight of cement. However, this research used two specimens those are with and without monomer addition. It aims to find out the effect of monomer addition. The result from this research is that all specimens density are in the range of 1–1.28 gr/cm3. The optimum level of lime addition is 10%, which produces compressive strength and water absorption of 5.3 MPa and 15.86%, respectively. Therefore, the result can be applied for lightweight brick that is used as the wall with quality III based on SNI Bata Beton SNI 03-0349-1989.   Keywords: lightweight brick, CLC, foam concrete, lime powder, lightweight concrete.
STUDI DETAIL PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN OPENFRAME TANPA RIGID FLOOR DIAFRAGMA DAN OPENFRAME DENGAN RIGID FLOOR DIAFRAGMA BERDASARKAN SNI 1726:2002 DAN SNI 2847:2013 ARSYANA, DEVI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan konstruksi bangunan harus mengutamakan struktur yang stabil dan kuat, dimana faktor ini sangat terkait dengan keamanan dan ketahanan bangunan dalam menahan dan menampung beban yang bekerja pada struktur. Dalam peraturan SNI gempa yang masih berlaku saat ini yaitu SNI 1726:2002 memakai konsep wilayah gempa (seismic zone) yaitu 6 zona gempa yang masing-masing memiliki kriteria gempa yaitu ringan, sedang, dan khusus. Peraturan SNI beton dalam merancang struktur gedung sangat diperlukan. Dalam hal ini, peraturan beton yang akan dibahas mengacu pada peraturan SNI 2847:2013. Dalam skripsi ini akan dibahas tentang perbedaan struktur bangunan menggunakan openframe tanpa rigid floor diafragma dan openframe dengan rigid floor diafragma dengan megunakan zona wilayah gempa 2 diatas tanah lunak di kota Surabaya. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah merencanakan struktur gedung secara detail dan membedakan gaya dalam dan respon struktur dari hasil pemodelan dengan menggunakan openframe tanpa rigid floor diafragma dan openframe dengan rigid floor diafragma berdasarkan SNI 1726:2002 dan SNI 2847:2013. Proses analisis menggunakan gedung 20 lantai untuk analisis gempa dinamis menggunakn sofeware ETABS vol.9.6. Hasil analisis diperoleh respon struktur untuk openframe tanpa rigid floor diafragma lebih besar dibandingkan dengan openframe dengan rigid floor diafragma. Untuk openframe tanpa rigid floor diafragma didapatkan momen yang lebih besar dari dengan openframe dengan rigid floor diafragma sehingga jumlah tulangan yang dibutuhkan openframe tanpa rigid floor diafragma lebih banyak. Kata Kunci : openframe, rigid floor diafragma, respon struktur, gaya dalam Building construction plan should give priority to strength and stability, which this factor is related to safety and purpose of building in preserve and supported the loads that work in structure in Indonesia National Standard (SNI) specific for earthquake standard that still valid until today is SNI 1726:2002 using seismic zone concept that divide into six seismic zone with light, medium, and high risk criteria. SNI for concrete is necessary to design building structure. In this case, concrete regulation which will discuss is referred to SNI 2847:2013. This paper shows about the difference between building structure using open frame with and without rigid floor diapraghm in seismic zone 2 and builds on soft soil in Surabaya. The purpose of this paper is planning to build structure in detail and difference local force and structure response from the modelling result using open frame with and without rigid floor diapraghm based on SNI 1726:2002 and SNI 2847:2013. Structure calculation using 20 storied building for earthquake dynamic analytics using ETABS. The result obtained for open frame without rigid floor diapraghm is greater than the structure response for open frame with rigid floor diapraghm such as displacement, story drift,and element reaction. Shear and moment result obtained are greater than the rigid floor diapraghm also caused the number of reinforcement bar that needed by open fame without rigid floor diapraghm is larger. Keywords: open frame, rigid floor diaphragm, structur respon, local force.

Page 8 of 38 | Total Record : 380