cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
PERENCANAAN DINDING GESER BERDASARKAN TATA CARA SNI 03-2847-2002 PADA GEDUNG FMIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA TRIASOMA, MANDRA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring berkembangnya pembangunan gedung tinggi yang sering terjadi di kota-kota besar di Indonesia, maka mendesain bangunan gedung bertingkat sangat penting memperhatikan elemen struktur yang menopang keseluruhan bangunan. Indonesia juga termasuk ke dalam wilayah yang memiliki intensitas gempa tektonik yang sangat tinggi. Pada saat terjadi gempa bumi bangunan mengalami gerakan vertikal dan gerakan horizontal. Salah satu metode yang digunakan dalam perencanaan struktur tahan gempa adalah dengan menambahkan dinding geser (Shear wall). Tujuan penelitian ini adalah membandingkan perilaku struktur bangunan tanpa dinding geser dan dengan dinding geser (shear wall) gedung laboratorium terpadu Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya terhadap batas layan dan batas ultimate berdasarkan Tata Cara SNI 03-2847-2002. Pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Software ETABS 2015 v15.0.0.1221. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah pada bangunan dengan adanya dinding geser sangat meminimalisir pergerakan geser bangunan yang di akibatkan oleh gaya gempa, sedangkan pada bangunan tanpa adanya dinding geser sangat tinggi pergerakan bangunan akibat gaya gempa (horizontal) sehingga rawan terhadap kerusakan structural. Kata Kunci : Dinding Geser, Batas Layan, Batas Ultimate. Along with the development of the construction of tall buildings that often occurs in big cities in Indonesia, then design a multi-story building are very important pay attention to elements of the structure that support the entire building. Indonesia is also included in the area that has a tectonic earthquake intensity is very high. In the event of an earthquake the building experienced a vertical movement and horizontal movement. One of the methods used in the planning of earthquake resistant structures is by adding Shear wall. The purpose of this research is to compare the behavior of building structures without shear wall and  with shear wall on  integrated laboratory building of Mathematics and Natural Sciences Faculty of the State University of Surabaya against the span length limit and ultimate limit based on procedures for SNI 03-2847-2002. In this research done by using ETABS Software 2015 v15.0.0.1221. The results obtained from this research is on the building with the shear walls very minimize sliding movement of buildings caused by the force of the earthquake, while in the building without shear wall building has very high buildings movement due to seismic forces (horizontal) so vulnerable to structural damage. Key Word : Shear Wall, Span Length Limit, Ultimate Limit.
STUDI PENGARUH VARIASI BENTANG KOLOM TERHADAP STRONG COLUMN WEAK BEAM PADA SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM) PERENCANAAN ULANG STRUKTUR GEDUNG LABORATORIUM TERPADU F-MIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA EVENDI SIMANJUNTAK, SANTO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perencanaan struktur tahan gempa, struktur direncanakan agar memiliki pola keruntuhan yang aman, diharapka balok mengalami keruntuhan terlebih dahulu sebelum kolom. Oleh sebab itu kolom direncanakan lebih kuat daripada balok yang dikenal dengan konsep strong column weak beam. Pembangunan gedung laboratorium terpadu F-MIPA Universitas Negeri Surabaya terdiri dari 4 lantai direncanakan ulang menjadi 8 lantai. Dalam studi ini dibuat sebuah model struktur 2D dengan desain variasi bentang kolom 5m, 6m, 5m; 6m, 4m, 6m; 4m, 8m, 4m dengan ketinggian 32 m. Hasil studi menunjukkan bahwa ketiga bangunan memenuhi persyaratan batas layan dimana portal 5m, 6m, 5m memiliki simpangan terkecil dari ketentuan yang disyaratkan senilai 77%. Dimensi penulangan balok induk pada portal 6m, 4m, 6m, dan 4m, 8m, 4m lebih besar daripada portal 5m, 6m, 5m, jumlah tulangan longitudinal lebih banyak, serta jarak sengkang pada balok tepi lebih rapat. Faktor variasi bentang kolom mempengaruhi nilai momen dalam perencanaan beton bertulang. Perhitungan nilai momen didapat dari hasil kali jarak dengan  gaya maka jika jarak bentang kolom semakin pendek akan didapatkan nilai momen yang semakin kecil juga. Portal 4m, 8m, 4m berbahaya bagi kemananan gedung karena tidak memenuhi konsep strong column weak beam. Portal 5m, 6m, 5m memiliki perbandingan rasio SCWB terbesar senilai 13,6 % memenuhi konsep SCWB dan batas layan sehingga paling efisien dan aman bagi keamaan gedung dan pengguna gedung. Kata Kunci: SRPMM, Strong Column Weak Beam, SNI 2847:2013, Sni1726:2012.   In the planning of earthquake-resistant structures, structures are designed to have a secure pattern collapse, expected in beam collapse before the column. Therefore the planned field is stronger than the beam, known as the concept of strong column weak beam. Construction of the F-MIPA State University of Surabaya integrated laboratory building consists of 4 floors rearranged into 8 floors. In this study created a model of a 2D structure with design variations of span column 5m, 6m, 5m; 6m, 4m, 6m; 4m, 8m, 4m with a height of 32 m. The study shows that a third of the building meets the requirements of serviceability limit where the portal 5m, 6m, 5m has the smallest deviation from the requirements amounting to 77%. Dimensional reinforcement beam on the portal 6m, 4m, 6m and 4m, 8m, 4m more than a portal 5m, 6m, 5m, the amount of longitudinal reinforcement more, as well as the distance of stirrups at the edge of the beam more tightly. The variations moments of span column  factors affecting the  torque value for reinforced concrete design. Torque value calculation results obtained from the distance and force, therefore if the distance span column  is getting shorter  it will get the smaller torque value. Portal 4m, 8m, 4m risk for the security of the building because it did not fit the concept of strong column weak beam. Portal 5m, 6m, 5m has a ratio of 13.6% amounting biggest SCWB conform SCWB concept and serviceability limit so that the most efficient and safe for safety buildings and building users. Keywords:SRPMM, Strong Column Weak Beam, SNI 2847:2013, Sni1726:2012.
PEMANFAATAN SERAT KULIT JAGUNG SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN PLAFON ETERNIT ANGGA PRASETYO, DIAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh hasil kekuatan fisis dan mekanis plafon yang menggunakan serat kulit jagung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode uji laboratorium dan metode literatur kepustakaan. Data  dikumpulkan dengan cara  uji  laboratorium yaitu  uji kemampuan fisis meliputi tepi poting, permuaan, dan bidang potong, kemampuan digergaji, pengukuran panjang dan lebar, pengukuran tebal. Dan pengujian mekanis yang meliputi uji bobot isi, peenyerapan air, kerapatan air dan kuat lentur. Hasil penelitaan meenunjukkan bahwa untuk uji kemampuan fisis komposisi yang tidak sesuai dengan Sandart Industri Indonesia adalah komposisi 1 % SKJ, dan 1,4 % SKJ, dan 1,6 SKJ terjadi pecah di pojok plafon ketika dilakukan uji paku dan untuk benda uji yang lain sudah memenuhi Standart Industri Indonesia. Utuk uji kempuan mekanik plafon didapatkan untuk uji lentur komposisi kontrol (0%) sebesar 10,84 kg/cm² dan untuk benda uji yang menggunnakann komposisi penambahan serat kulit jagung paling stabil dan sesuai dengan Standart Industri Indonesia adalah 1,8 % SKJ dengan kekuatan lentur 100,187 kg/cm² dan 2 % SKJ dengan kekuatan lentur 110,862 kg/cm². Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa serat kulit jagung dapat digunakan sebagai  campuran pembuatan plafon eternit. Kata Kunci : Plafon Eternit, Jagung, Serat Kulit Jagung, Serat The purpose of this study was to obtain the results of physical and mechanical strength ceiling using corn husk fibers. The method used was a laboratory test method and the method library literature . Data collected by a laboratory test that is testing the physical capabilities include cutting edges , surfaces , and field pieces , sawed capabilities , measurements of length and width , thickness measurement . And mechanical testing that includes testing bulk density , water absorption , water density and bending strength . The results showed that in order to test the ability of physical composition that is not in accordance with Indonesia Industrial Standard is a composition of 1 %  SKJ, and 1,4 % SKJ, and 1,6 % of SKJ rupture in the corner of the ceiling when tested nail and for objects another test has met the Indonesian Industrial Standard . To test the ability of mechanical ceiling obtained for bending test control composition of 10,84 kg / cm² and for specimens using corn husk fiber composition of the addition of the most stable and according to the Standard Industrial Indonesia is 1,8 % SKJ with a flexural strength of 100,187 kg / cm² and 2 % of corn fiber skin with a flexural strength of 110,862 kg / cm² . therefore it can be concluded that the corn husk fiber can be used as an ingredient for the plasterboard ceiling . Keywords : Plasterboard Celling, Corn, Corn Hush Fiber, Fiber
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT KULIT BAMBU PADA PLAFON GIPSUM DENGAN PEREKAT POLISTER EKO SUKOKO, TIANG
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian mengenai penambahan serat kulit bambu pada bahan baku pembuatan plafon gipsum adalah untuk memperkuat kekuatan plafon gipsum dari sebelumnya. Bambu dengan mudah ditemui di lingkungan sekitar sehingga bambu cukup pantas untuk dimanfaatkan sebagai penambahan serat untuk plafon gipsum. Metode yang digunakan pada penelitian tentang plafon gipsum kali ini adalah metode uji laboratorium dan pengumpulan literatur dari beberapa sumber. Dua metode yang sudah disebutkan tersebut diharapkan bisa memberikan data yang akurat dan teliti pada hasil penelitian yang dilakukan. Penelitian mengenai plafon gipsum dengan penambahan serat kulit bambu berresin polister dengan lima komposisi yang berbeda ini memberikan hasil yang hampir sama. Berikut hasil dari penelitian yang dilakukan : serat kulit bambu ori memiliki daya serap sebesar 33,33 %, bobot isi nyata sebesar 1,5 gr/cm³, bobot isi kering oven 1 gr/cm³, dan bobot isi kering permukaan sebesar 1,3 gr/cm³. Uji kuat lentur tertinggi dihasilkan oleh plagfon gipsum dengan serat bambu sebesar 60 gram dengan kemampuan sebesar 113,62 kg/cm² bobot isi sebesar 0,599 gr/cm³ penyerapan air sebesar 77,46 %, berikutnya kontrol dengan kemampuan lentur sebesar 102,75 kg/cm² bobot isi sebesar 0,596 gr/cm³ penyerapan air sebesar 77,54 %, yang ketiga komposisi 80 gram dengan kemampuan lentur sebesar 81,46 kg/cm² bobot isi sebesar 0,556 gr/cm³ penyerapan air sebesar 98,93 %, urutan keempat komposisi 40 gram dengan kemampuan lentur sebesar 81,19 kg/cm² bobot isi sebesar 0,565 gr/cm³ penyerapan air sebesar 84,45%, yang terakhir adalah komposisi 100 gram dengan kemampuan sebesar 77,09 kg/cm² bobot isi sebesar 0,608 gr/cm³ penyerapan air sebesar 85,47% Kata kunci : Serat kulit bambu, gipsum, kuatlentur The purpose for this observation about adding bamboo’s fiber in ingridient of gypsum ceiling with adding resin polyster is add the strength to be better than before. Bamboo was easily to found in every field so bamboo was good enough to be added in gipsum ceiling. There are two methods that used for this observation about adding bamboo’s fiber in ingridient of gypsum ceiling with adding resin polyster the first laboratory test and the second literation test from some book or observation journal. That methods had been explaining  could give accurated and detail data for the observation. Observation about adding bamboo’s fiber in ingridient of gypsum ceiling with adding resin polyster with the different five compotitions had give almost same. This is the data of the observation : bamboo’s fiber has 33,33% about absorbtion of water, real density 1,5 gr/cm³, dry density 1 gr/cm³, and surface dry density 1,3 gr/cm³. Higest flexure strength is gipsum ceiling with 60 gram fiber of bamboo with 113,62 kg/cm² with volume weight 0,599 gr/cm³ water absorbtion 77,46%, second is control with flexure strength about 102,75 kg/cm2 volume weight 0,596 gr/cm3 and water absorbtion 77,54%, the third is 80 gram compotition with flexure strength is 81,46 kg/cm2 volume weight 0,566 gr/cm3 water absorbtion 98,93 %, the fourth 40 gram compotition the flexure strength is 81,19 kg/cm2 volume weight 0,565 gr/cm3 water absorbtion 84,45%, and the last is 100 grams compotition with flexure strength 77,09 kg/cm2 volume weight 0,608 gr/cm3 and water absorbtion is 85,47 %. Keywords : bamboo’s fiber, flexure strength, gypsum
PENERAPAN SAMBUNGAN MEKANIS (METODE PEMBAUTAN) PADA BALOK DENGAN PERLETAKAN SAMBUNGAN ½ PANJANG BALOK DITINJAU DARI KUAT LENTUR BALOK SUHENDI, HEHEN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja tulangan hasil pabrikasi sering tidak memenuhi kebutuhan panjang yang diharapkan dilapangan, untuk memenuhi kebutuhan struktur maka harus baja dilakukan penyambungan. Struktur beton pracetak yang paling dalam mentranfer gaya dan prilaku beton terletak pada baja tulangan. Kesalahan penyambungan tulangan maka kekuatan beton yang dihasilkan akan berpengaruh. Standar nasional Indonesia (SNI) 03-2847-2013 menjelaskan untuk sambungan baja tidak lebih dari 48 kali diameter baja (db) atau sambungan lewatan tidak kurang dari 300 mm. Karya tulis ini bertujuan untuk mendapatkan kekuatan sambungan mekanik pada baja tulangan beton ulir berdiameter 10 mm. Sambungan mekanik berbentuk klam sepasang pelat baja tebal 1,5 mm lebar 15 mm panjang 50 mm berbaut 4 biji. Metode penelitian dilakukan dengan pengujian fisik baja tulangan beton ulir diameter 10 mm yaitu tes fisik diameter, berat, dan tes tarik, serta tes tarik pelat bahan sambungan. Pembuatan sambungan mekanik di workshop. Pengujian tarik baja tulangan ulir diameter 10 mm dengan sambungan mekanik dilakukan pada mesin uji tarik. Selanjutnya, diikuti dengan pembuatan 1 balok beton kualitas K 250 berukuran 170 cm x 20 cm x 11 cm sebagai kontrol (baja tulangan utuh) dan 2 balok yang bertulangan disambung dengan sambungan mekanik. Hasil pengujian menunjukkan pengembangan uji kuat tarik baja paling besar pada bengkokan 450, pengembangan tulangan (fy) sebesar 1,547, Penerapan tulangan baja yang disambung pada balok menunjukan hasil yang berbeda, Momen nominal yang diterima balok (clamp) masih dibawah kekuatan prediksi, Momen normal prediksi 2255,74 kg, dan balok yang memakai sambungan 1834,99 kg. Kata kunci: Baja tulangan, Bengkokan, Kuat lentur, Sambungan mekanik Reinforcing steel fabrication results often do not meet the needs of the expected length of the field, to meet the needs of the structural steel should do the connecting. Precast concrete structures the ultimate in style and behavior transferring lies in the concrete reinforcing steel. Error connecting reinforcing the strength of concrete produced will be influential. Indonesian National Standard (SNI) 03-2847-2013 explain to steel connections no more than 48 times the diameter of the steel (db) or connection throughput is not less than 300 mm. This paper aims to obtain a clamp strength on concrete reinforcing steel screw diameter of 10 mm. Clamp klam shaped pair of 1.5 mm thick steel plate width 15 mm length 50 mm berbaut 4 seeds. The research method is the physical testing of concrete reinforcing steel screw diameter of 10 mm which physical tests diameter, weight, and tensile test, and tensile test plate clamp. Manufacture of clamp in the workshop. Tensile testing of reinforcing steel screw diameter of 10 mm with clamp made on a tensile testing machine. And next, followed by the manufacture of 1 concrete beams quality K 250 dimensionless 170 cm x 20 cm x 11 cm as a control (unclamp) and 2 concrete beam reinforcement connected with the clamp. The test results show the development of tensile strength steel to be greatest on bends 450, development of reinforcement (fy) amounted to 1,547, Application of steel reinforcement which is connected to the beams show different results, Moment nominal received beam (clamp) is still under the power of prediction, Moment normal prediction 2255.74 kg, and beams that use the clamp 1834.99 kg. Keywords:Rreinforcing steel, Bend, Tensile Strength, Clamp
STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL RENCANA PELEBARAN JALAN TOL WARU-SIDOARJO B. THEODORUS TAMPANG ALLO, REYNALDO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa Alternatif dapat dilakukan untuk mencegah permasalahan yang dapat terjadi pada tol Waru-Sidorajo. Mengingat ketersediaan lahan yang sudah di miliki pemerintah. Salah satu alternatif yang paling efisien diterapkan yaitu pembangunan pelebaran jalan tol baik ruas Ambon maupun Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  kinerja lalu lintas pada kondisi eksisisting dan kinerja lalu lintas pada kondisi rencana pembangunan pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo,  mengetahui jumlah biaya penghematan nilai waktu dan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) sebelum dan sesudah adanya pembangunan pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo, mengetahui kelayakan pembangunan pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo bila di tinjau dari segi ekonomi dan finansial, dan mengetahui batas kelayakan finansial (Analisa Sensitivitas) proyek tersebut terhadap perubahan nilai parameter. Berdasarkan hasil bahwa kinerja lalu lintas ruas Ambon dan Bandung pada kondisi eksisting dengan nilai derajat kejenuhan (DS)=0,79, kecepatan rata-rata kendaraan adalah 58 km/jam, dan waktu tempuh rata-rata kendaraan 0,24 jam atau 15 menit. Sedangkan pada kondisi rencana tingkat derajat kejenuhan (DS)=0,76, kecepatan rata-rata kendaraan adalah 78 km/jam, dan Waktu tempuh rata-rata kendaraan 0,19 jam atau 11,4 menit. Total penghematan biaya (saving cost) biaya operasional kendaraan (BOK) pada kondisi eksisting  dan kondisi rencana pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo pada tahun 2016-2026 adalah Rp.2.739.874.612.050,-, dan total penghematan biaya (saving cost) nilai waktu pada kondisi eksisting  dan kondisi rencana pada tahun 2016-2026 adalah Rp.4.732.882.812.933,-. Proyek rencana pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo layak secara ekonomi dan finansial. Hal ini ditunjukkan pada segi ekonomi memperoleh nilai NPV (Net Present Value) sebesar Rp. 16,281,034,118,129,- dan BCR (Benefit Cost Ratio) sebesar 3. Dan pada segi finansial, nilai NPV (Net Present Value) sebesar Rp. Rp. 2,275,677,800,694,-, BCR (Benefit Cost Ratio) sebesar 1,3. Payback Periode selama 4 tahun 4 bulan dan nilai IRR sebesar 15,12%. Dengan asumsi i suku bunga bank (BI Rate) = 6,75%. Titik impas (Break Event Point) jika penentuan jumlah keseluruhan tarif tol untuk golongan I-V pada harga Rp.21.030,-. Dan investasi pada proyek rencana pelebaran jalan tol Waru-Sidoarjo beresiko (sensitiv)    terhadap perubahan nilai pendapatan. Dengan syarat arus kas masuk (pendapatan) mengalami penurunan hingga minimal 21%. Kata Kunci: Jalan Tol, Kinerja Lalu Lintas, Kelayakan Ekonomi,  Kelayakan Finansial, Sensitivitas.  Several alternatives can be done to prevent the problems that can occur on a toll-Waru Sidoarjo. Given the availability of land already owned by the government. One of the most efficient alternative is applied, namely the construction of the toll road widening both segments Ambon and Bandung. The purpose of this study is to determine the performance of the traffic conditions and performance eksisisting traffic conditions toll road widening construction plan Waru-Sidoarjo, knowing the amount of cost savings and the time value of Vehicle Operating Costs before and after the construction of the toll road widening Waru Sidoarjo, determine the feasibility of the construction of the toll road widening Waru Sidoarjo if on review of the economic and financial terms, and know the limits of financial feasibility (Sensitivity Analysis) project to change the parameter value. Based on the results that the traffic performance segment Ambon and Bandung on existing conditions with the degree of saturation (DS) = 0.79, the average speed of vehicles is 58 km / h, and the average travel time of vehicles 0.24 hour or 15 minutes , and conditions of the plan level (DS) = 0.76, the average speed of vehicles is 78 km / h, and the average travel time of 0.19 hours vehicles or 11.4 minutes. Total cost savings vehicle operating costs on the existing condition and the condition of the toll road expansion plans Waru-Sidoarjo in 2016-2026 was Rp.2.739.874.612.050, -, and total cost savings value when the existing condition and the condition of the plan in the year 2016-2026 is Rp.4.732.882.812.933, -. Toll road widening project plans Waru-Sidoarjo economically and financially feasible. This is shown in terms of economic gain value NPV (Net Present Value) of Rp. 16,281,034,118,129, - and BCR (Benefit Cost Ratio) of 3. And in financial terms, the NPV (Net Present Value) of Rp. Rp. 2,275,677,800,694, -, BCR (Benefit Cost Ratio) of 1.3. Payback period for 4 years and 4 months and IRR of 15.12%. Assuming i bank interest rate = 6.75%. Break Event Point when determining the total toll rates for class I-V on price Rp.21.030, -. And investment in toll road widening project plans Waru Sidoarjo risk to changes in income. With the proviso cash inflows have declined by at least 21%. Keywords: Toll Roads, Traffic Performance, Economic Feasibility, Financial Feasibility, Sensitivity
PENGARUH SUBTITUSI FLY ASH DAN PENAMBAHAN SERBUK CANGKANG KERANG DARAH PADA KUALITAS GENTENG BETON ARI PERMADI, MOHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan bagi para industri genteng beton adalah kualitasnya yang kurang baik dari segi sifat fisik, beban lentur, rembesan dan daya serap air. Penelitian ini akan memanfaatkan fly ash tipe F sebesar 10% sebagai subtitusi semen dan serbuk cangkang kerang ditambahkan sebesar 0%,1%,2%,3% sebagai bahan campuran pembuatan genteng beton. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas genteng beton menurut SNI 03-0096-2007. Hasil penelitian berat genteng maksimum pada fly ash 10% dan serbuk cangkang kerang (SCK) 3% = 4,19 kg. Untuk berat minimum pada fly ash 10% dan SCK 0% = 3.55 kg. Semua komposisi genteng beton menghasilkan genteng beton yang tidak ada tetesan air dari permukaan bawah genteng dalam waktu 20 jam ± 5 menit selama pengujian rembesan air. Genteng beton mencapai beban lentur maksimum pada fly ash 10% dan SCK 3% = 2569 N dan mencapai beban lentur minimum pada fly ash 10% dan SCK 0% = 1106 N. Genteng beton mencapai daya serap maksimum pada fly ash 10% dan SCK 0% = 14,85% dan mencapai daya serap minimum pada fly ash 10% dan SCK 1% = 5,96%. Kata kunci : fly ash, genteng beton, serbuk cangkang kerang, beban lentur, daya serap Problems for concrete roof tile industry is the quality which is not good in terms of physical properties, bending loads, seepage and water absorption. This study will utilize the type F fly ash by 10% as a substitute for cement and scallop shell powder was added at 0%, 1%, 2%, 3% as a mixture of concrete roof tile manufacture. The purpose of this study to determine the quality of the concrete roof tile according to SNI 03-0096-2007. Results of research on the maximum concrete roof tile weight of 10% fly ash and scallop shell powder (SCK) 3% = 4,19 kg. For the minimum weight at 10% fly ash and SCK 0% = 3.55 kg. All compositions  concrete roof tiles produce concrete roof tiles that no water droplets on the bottom surface of the tile within 20 hours ± 5 minutes during the test water seepage. Concrete roof tile achieve maximum bending load at 10% fly ash and SCK 3% = 2569 N and reached the minimum bending load at 10% fly ash  and SCK 0% = 1106 N. Concrete roof tile achieve maximum absorption at 10% fly ash and SCK 0 % = 14,85% and achieve a minimum absorption at 10% fly ash  and SCK 1% = 5.96%. Keywords: fly ash, concrete tile, scallop shell powder, bending loads, absorption
PENGARUH PENYIRAMAN TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS PAVING STONE GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG EKO KURNIAWAN, RADITYA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari berbagai jenis material bangunan yang dapat mencemari lingkungan, salah satu yang paling sering digunakan adalah semen. Seperti yang kita ketahui, semen adalah material pokok yang selalu digunakan pada setiap kegiatan pembangunan, sehingga kebutuhan akan semen akan selalu meningkat. Dengan meningkatnya kebutuhan semen, berakibat meninggkatnya pula produksi semen dimana dalam produksi semen menghasilkan karbondioksida yang berdampak mencemari lingkungan (Manuahe R, 2014) Untuk mengurangi penggunaan semen sebagai material bangunan, dewasa ini telah di terapkan sebuah inovasi baru yang ramah lingkungan, yaitu bangunan yang bersifat geopolymer. Dikatakan geopolymer, karena tidak menggunakan semen akan tetapi menggunakan material alternatif yang banyak mengandung unsur silika dan alumia. Salah satu limbah yang berpotensi tersebut adalah fly ash/ abu terbang. Pada penelitian ini akan dibuat paving stone geopolymer dengan pasir sebagai bahan dasarnya, abu terbang dan kapur akan berfungsi sebagai subtitusi semen, dan ditambahkan sodium silika (Na2SiO3) dan sodium hidroksida (NaOH) 10Molar. Tiga metode proses curing yang diterapkan, yaitu penyiraman satu kali sehari, dua kali sehari, dan melakukan perendaman penuh. Komposisi optimum didapatkan oleh perbandingan 0,7 abu terbang: 0,3 kapur: 3 pasir, dengan nilai kuat tekan 20,32 MPa, nilai permeabilitas 9,00 %, dan nilai ketahanan aus 0,1 mm/menit, sehingga paving stone  memenuhi syarat mutu kelas B sesuai pada SNI 03-0691-1996. Kata kunci : abu terbang, kapur, geopolymer, paving, penyiraman Abstract Through various types of construction materials that can pollute the environment,  one of the most frequently used is cement. As we know, cement is the basic material that always used in any development activities, so the demand of cement will increase. With the increasing cement demand,  consequently increasing cement production where in the production of cement produces carbon dioxide that can polluting the environment. To reduce the use of cement as a building material, it has currently implemented a new innovation-friendly environment, which is a building with geopolymer property. It said geopolymer, because not using cement but using alternative materials that contain many elements of silica and alumia. One of the potential waste is fly ash. In this study will be made of paving stone geopolymer with sand as basic materials, fly ash and lime will serve as a cement substitute, then added sodium silica (Na2SiO3) and sodium hydroxide (NaOH) 10Molar. Three methods of curing applied, that is watering once a day, twice a day, and do a full submersion. The optimum composition obtained by ratio of 0.7 fly ash: 0,3 lime: 3 sand, with a value of compressive strength 20.32 MPa, permeability value of 9.00%, and the wear resistance value of 0.1 mm / min, so paving stone meet quality requirements grade B according to the SNI 03-0691-1996. Keywords : fly ash, lime, geopolymer, paving, watering.
PENGARUH PENAMBAHAN SLAG SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI AGREGAT HALUS TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL DAN PERMEABILITAS PADA CAMPURAN PANAS (HOT MIX) ASPAL PORUS ARIF LAKSONO, RIFKY; Mahardi, Purwo
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspal porus merupakan lapisan yang dapat ditembus oleh air (permeable) yang berfungsi mengurangi beban drainase pada permukaan perkerasan jalan. Kelemahan aspal porus ialah lapisan yang bersifat porus maka gradasi memiliki rongga yang besar, serta mengakibatkan nilai stabilitas yang sangat kecil sehingga tidak dapat menahan beban kendaraan yang besar. Penggunaan steel slag sebagai campuran aspal porus sudah mulai diteliti di Indonesia karena limbah yang dihasilkan dari proses produksi baja ini menghasilkan 800 ribu ton/tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik marshall dan permeabilitas dari tiga macam kondisi campuran aspal porus. Variasi kadar slag dengan agregat halus yang digunakan dalam campuran ialah 25%/75%, 50%/50%, 75%/25%, dan 100%/0%, penentuan kadar steel slag optimum dilakukan dengan cara grading pada setiap variasi kadar. Kadar variasi additive yang digunakan pada kondisi ketiga 0,2%, 0,25%, dan 0,3% dari berat aspal yang digunakan. Kadar 25%/75% merupakan kadar optimum penggunaan steel slag yang sesuai dengan gradasi AAPA 2004. campuran lapis perkerasan aspal porus pada kondisi ke-3 memiliki karakteristik marshall dan sifat permeabilitas lebih baik dibanding campuran lapis perkerasan aspal porus pada kondisi ke-1 serta kondisi ke-2, sehingga campuran lapis perkerasan akan lebih tahan terhadap deformasi seperti gelombang, alur (rutting), serta bleeding sehingga memiliki keawetan (Durability) yang jauh lebih baik Kata kunci: aspal porus, steel slag, additive Asphalt porous is layers that can be penetrated by water (permeable) that serves reduce the burden of drainage on the surface of pavement the way. Weakness asphalt porous is layers that is porous so gradations having a cavity a great, and resulted in value stability very small so they could not hold burden vehicles large. The use of steel of slag as mixed asphalt porous have started to study in Indonesia because the waste resulting from the process of steel production it produces 800.000 tons/year. The purpose of this research is to know characteristic Marshall and permeability of three kinds of mixed asphalt porous conditions. Variations of slag aggregate content with fine used in mixed is 25%/75%, 50%/50%, 75%/25%, and 100%/0%, the determination of steel steady levels of slag done by means of grading on any variation levels. The variation additive used on the condition of those three 0.2 %, 0.25 %, and 0.3 % of a heavy asphalt used. Levels of 25%/75% is steady the use of steel levels of slag appropriate with gradations AAPA 2004. A mixture of layers pavement asphalt porous on condition 3rd having the characteristics of Marshall and of the nature of permeability better than a mixture of layers pavement asphalt porous on condition first and the 2nd, so that a mixture of layers pavement will is more resistant to deformation like a wave, rutting, and bleeding so as to have durability of a far better. Keyword: asphalt porous, steel slag, additive
ANALISA PEMANFAATAN LIMBAH STYROFOAM SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI KE DALAM ASPAL PENETRASI 60/70 TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL PORUS GERRI NORIS, TAUFAN; Mahardi, Purwo
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspal porus adalah campuran beraspal dengan presentase agregat halus yang rendah, sehingga menghasilkan rongga yang besar. Aspal porus terdiri atas komposisi agregat kasar yang lebih banyak agar memiliki daya serap air. Dalam pembuatannya, aspal porus memerlukan aspal dengan mutu tinggi. Penelitian ini menggunakan Styrofoam sebagai bahan substitusi ke dalam aspal penetrasi 60/70. Gradasi yang digunakan adalah gradasi terbuka dengan kadar aspal 4,0%; 4,5%; 5,0%; 5,5%; dan 6,0% tanpa variasi penggunaan Styrofoam. Kemudian dibuat benda uji pada KAO dengan variasi Styrofoam 11%; 13%; dan 15%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh KAO sebesar 4,75% dan kadar Styrofoam terbaik pada 11%. Seluruh parameter telah memenuhi spesifikasi kecuali nilai VIM yang belum memenuhi spesifikasi Australian Asphalt Pavement Association 2004, yaitu 18%-25%. Nilai stabilitas yang didapatkan pada substitusi Styrofoam terbaik sebesar 569 kg dan nilai flow 2,7 mm, Nilai MQ dan permeabilitas 210,74 kg/mm dan 0,394 cm/detik, sedangkan nilai VIM mendapatkan 5,645%. Kata kunci: Aspal Porus, Styrofoam, Australian Asphalt Pavement Association 2004 Porous asphalt is asphalt mixture with a low percentage of fine aggregate, which is resulting in a large cavity. Porous asphalt composition consists of coarse aggregate that is more in order to have water absorption. Its manufacture requires porous asphalt with high quality of bitumen. The researcher used Styrofoam as a substitute material into the asphalt 60/70 penetration. Gradation used is open gradation with asphalt rate of 4.0%; 4.5%; 5.0%; 5.5%; and 6.0% without variations in the use of Styrofoam. Then, the researcher made the specimen on KAO with Styrofoam variation of 11%; 13%; and 15%. Based on the research results, gained KAO at 4.75% and the best Styrofoam levels at 11%. The entire parameter has met specifications except VIM values which didn?t meet the specifications of Australian Asphalt Pavement Association 2004, that was 18% -25%. Value stability obtained in Styrofoam best substitution of 569 kg and a flow value of 2.7 mm. Value MQ and permeability 210.74 kg/mm and 0.394 cm/sec, while the value of VIM got 5.645%. Keywords: Porous Asphalt, Styrofoam, Australian Asphalt Pavement Association 2004

Page 10 of 38 | Total Record : 380