cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
KAJIAN KUALITAS CROSSWALK PADA JALUR PEJALAN KAKI BERDASARKAN PEDESTRIAN ENVIROMENTAL QUALITY INDEX (PEQI) (STUDI KASUS : JALAN PAHLAWAN KOTA SEMARANG) Pattisinai, Amanda Ristriana
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui kualitas croswalk Jalan Pahlawan sebagai bagian penting dari jalur pejalan kaki. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui kualitas croswalk pada jalur pejalan kaki dengan mempertimbangkan beberapa kriteria PEQI (Pedestrian Environmental Quality Index) untuk dapat memberikan penilaian terhadap kualitas jalur pejalan kaki terhadap pilihan yang lebih luas terhadap pengguna dan aktivitas yang beragam bagi pejalan kaki di Jalan Pahlawan. Analisis yang dilakukan adalah analisis kualitas croswalk berdasarkan penggal jalur pejalan kaki dengan perhitungan PEQI. Fenomena yang terjadi di Indonesia, berdasarkan angket yang dilakukan oleh urban mobility for Indonesia, jumlah pejalan kaki di Indonesia yang pada tahun 2010 mencapai angka 12% dari keseluruhan penggunaan moda transportasi untuk berpergian. Sebagai salah satu jalur pejalan kaki yang terbaik di Kota Semarang saat ini, Jalan Pahlawan telah menjadi tempat beraktivitas bagi masyarakat. Namun demikian jalur pejalan kaki belum memberikan kualitas keamanan yang memadai bagi pejalan kaki. Tercatat 68% pejalan kaki meninggal karena ditabrak oleh kendaraan ketika mereka berada di tengah jalan dan oleh 72,6%  pejalan kaki mengalami cedera ketika sedang menyeberang jalan. Hal ini menyebabkan pentingnya penelitian terkait kualitras crosswalk bagi pejalan kaki pada Jalan Pahlawan Kota Semarang. Kata Kunci : Croswalk, Jalur pejalan kaki, PEQI.
PENGARUH DIAMETER PEMOTONGAN PROFIL (D) TERHADAP KEKUATAN LENTUR CASTELLATED BEAM BUKAAN LINGKARAN (CIRCULAR) UNTUK STRUKTUR BALOK RATNA SARI, NITA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian castellated beam hampir semuanya terfokus pada castellated beam dengan bentuk hexagonal. Bentuk lubang dengan sisi tidak bersudut seperti lingkaran pada diameter pemotongan profil (D) diharapkan dapat menghindarkan lendutan yang besar. Semakin besar diameter pemotongan profil (D) maka akan meningkatkan performa dari tegangan lentur castellated beam. Begitu pula sebaliknya, hal ini dikarenakan semakin besar diameter pemotongan profil (D), maka momen inersia yang dihasilkan semakin besar. Hal itu mengakibatkan kekakuan dari castellated beam semakin meningkat, sehingga deformasi yang dihasilkan semakin kecil maka dapat menambah kekuatan dari castellated beam. Pada penelitian ini adalah penelitian laboraturium, penelitian ini penulis menerapkan model castellated beam bukaan lingkaran dengan benda uji profil WF 150.75.5.7. Metode penelitian untuk mengetahui pengaruh castellated beam bila beban diletakkan di tengah bentang pada penampang tidak berlubang dan diameter pemotongan profil (D) yang berbeda-beda yaitu D= 125mm, D= 145mm, D= 150mm, D= 155mm, D=160mm, D= 170 mm, D= 180mm untuk struktur balok. Pada pemotongan profil castellated beam bukaan lingkaran, menggunakan tipe pemotongan Beam ends left ragged, U= T dan Beam ends finished with infill plates, U>T sehingga menghasilkan pemotongan yang baik (rapi) serta menhemat material (tidak banyak bahan yang berlubang).  Hasil penelitian menunjukan bahwa pada benda uji castellated beam mengalami rusak buckling. Sehingga harus diambil optimalnya, agar tidak terjadi kerusakan buckling yang lebih besar. Menghindari kerusakan buckling yang lebih besar maka disarankan menggunakan diameter pemotongan profil (D) tidak melebihi diameter optimal (D=155mm). Hal ini didasarkan atas analisis pada pembahasan momen, tegangan, dan kontrol geser. Berdasarkan hasil analisis SAP 2000 menunjukan bahwa pada benda uji utuh tidak dibentuk castellated beam merupakan kombinasi elemen tekan dan elemen tarik. Namun, pada benda uji D=155mm balok mengalami tekan. Kata Kunci: buckling, castellated beam, diameter, lingkaran, momen inersia In this research castellated beam almost entirely focused on castellated beams with hexagonal shape. Shape hole with no angled sides such as cutting diameter circle on the profile (D) is expected to avoid large deflections. The larger the diameter of the cutting profile (D) it will improve the performance of the bending stress castellated beam. On the other way, this is because the larger diameter of the cutting profile (D), the moment of inertia generated even greater. It resulted from the castellated beam stiffness has increased, so that the resulting of deformation is getting smaller, it can add to the strength of the castellated beam.  This research is the research laboratory. In here, the authors apply the model castellated beam with circular openings specimen WF 150.75.5.7 profile. The research method is to determine the effect castellated beam when the load is placed at mid-span on a cross-section no holes and the diameter of the cutting profile (D) Different is D=125mm, D=145mm, D=150mm, D=155mm, D=160mm, D=170mm, D=180mm for beam structure. In the castellated beam profile cutting circular with openings, it use of cutting-type Beam ends finished, U = T and Beam ends left ragged with infill plates, U> T so it can be as the produce a good cut (neat) and economize material (not a lot of material with holes).  The results showed that the test specimen damaged castellated beam buckling. So, it should be taken optimally, in order to avoid greater damage to buckling. To avoid the buckling larger damage it is advisable to use profile cutting diameter (D) does not exceed the optimal diameter (D = 155mm). It is based on the analysis on the discussion of the moment, stress, and a sliding control. Based on the analysis of SAP in 2000 indicates that the specimen was not formed castellated beams intact is a combination of elements tap and drag elements. However, the test object D = 155mm beams in compression. Keywords: buckling, castellated beam, diameter, circle, momen inertia
PENGARUH TINGGI PEMOTONGAN PROFIL (H) TERHADAP KEKUATAN LENTUR CASTELLATED BEAM BUKAAN BELAH KETUPAT (RHOMB) UNTUK STRUKTUR BALOK PUTRI RAHAYU, ASTRI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profil baja WF 150.75.5.7 dibuat menjadi castellated beam dengan lubang bukaan belah ketupat. Penelitian ini dibuat benda uji dengan ukuran panjang masing – masing benda uji 1,5 meter dengan lubang yang berbeda – beda, untuk melihat kecenderungannya. Ukuran yang dibuat berbeda pada masing – masing benda uji adalah tinggi pemotongan profil (H) yaitu, h1=45mm, h2=55mm, h3=65mm, h4=75mm, h5=85mm, h6=95mm dengan lebar pemotongan 10 mm. Tinggi pemotongan profil (H) yaitu, h1=55mm, h2=65mm, h3=75mm, h4=85mm dengan lebar pemotongan 50 mm. Seluruh benda uji akan diuji kelenturannya untuk mengetahui tinggi pemotongan profil yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tinggi pemotongan profil (H) 45 mm dengan lebar pemotongan (e) 10 mm, memiliki momen lentur terbesar yaitu 450.45 kN.m dan tegangan lentur terbesar yaitu 356.17 N/mm2. Sedangkan, tinggi pemotongan profil (H) 65 mm dengan lebar pemotongan (e) 50 mm memiliki momen lentur terbesar yaitu 450.45 kN.m dan tegangan lentur terbesar yaitu 391.05 N/mm2. Kata kunci: Castellated beam, tinggi pemotongan profil (H), uji kuat lentur WF steel profile 150.75.5.7 made into a castellated beam with openings rhombus. This study was made of the specimen test with a length of each 1.5 meter. The specimen test with different holes, to see the trends. Sizes are made different on each specimen is a height cutting profile  (H), is, h1 = 45 mm, h2 = 55 mm, h3 = 65 mm, h4 = 75 mm, h5 = 75 mm, h6 = 95 mm with a cutting width of 10 mm. Height cutting profile (H), is, h1 = 55 mm, h2 = 65 mm, h3 = 75 mm , h4 = 85 mm with a cutting width of 50 mm. The entire specimen will be tested flexibility to determine the optimum of height cutting  profile. The results showed that, cutting height profile (H) 45 mm with cutting width (e) 10 mm, has the largest bending moment is 450.45 kN.m and largest bending stress is 356.17 N / mm2. Meanwhile, cutting height profile (H) 65 mm with cutting width (e) 50 mm has the biggest bending moment is 450.45 kN.m and largest bending stress is 391.05 N / mm2 Key words: Castellated beam, Height cutting profile, bending strength test
PENGARUH JARAK BAUT SAMBUNGAN BATANG TARIK TERHADAP KUAT TARIK DAN KUAT GESER KUDA-KUDA DOUBLE PROFIL BAJA RINGAN HUDAN MANGGALA, MOH.
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan double profil baja ringan khususnya yang diterapkan menjadi kuda-kuda belum banyak yang meneliti, ditambah bagaimana kuat tarik dan gesernya jika jarak tiap baut dibuat berbeda, inilah yang menjadi dasar penelitian. Penelitian ini akan menganalisa dan menguji kekuatan efisiensi jarak baut pada sambungan double profil tipe C75´35´0,75 yang menggunakan  baut (Self Drilling Screw) 10-16´16 CII. Jarak Self Drilling Screw (SDS) yang digunakan pada sambungan dalam penelitian ini adalah 4 df, 4.5 df, 5 df, 5.5 df, 6 df, 6.5 df, dan 7 df, dan jarak SDS ke tepi adalah 3 df, di mana df adalah diameter SDS. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan pada benda uji. Tujuan penelitian ini mengetahui kuat tarik dan kuat geser maksimal sambungan, dan mengetahui bagaimana keruntuhan yang terjadi pada masing-masing jarak SDS sambungan batang tarik kuda-kuda double profil baja ringan. Benda uji memiliki kuat tarik yang berbeda-beda, semakin besar jarak antar baut semakin besar pula kuat tarik sambungan baja ringan. Keruntuhan yang terjadi pada saat pengujian adalah tilting dan hole bearing. Tilting terjadi pada benda uji dengan jarak antar baut 5,5 df hingga 7 df, dan keruntuhan hole bearing terjadi hanya pada benda uji dengan jarak antar baut 7 df. Berdasarkan pengujian dan hasil yang diperoleh, maka jarak aman antar baut untuk sambungan baja ringan adalah 4 df, 4.5 df, dan 5 df. Kata Kunci: baja ringan, screw, sambungan, double profil The use of double cold formed steel roof profiles specially applied to become the trusses that have not been much researched, and how powerful  the tensile strenght and shear stenght if a space of each screw is made differently, this is the basis of the study. This research will analyze and test the strength of spacing screw efficiency on the connection of double profile type C75´35´0,75 that use bolt (Self Drilling Screw) 10-16´16 CII. The space of Self Drilling Screw (SDS) which is used on the connection in this research are 4 df, 4.5 df, 5 df, 5.5 df, 6 df, 6.5 df, and 7 df, and the space of SDS to the edge is 3 df, where df is the diameter of the SDS. Testing conducted with the put pressure on test objects. The purpose of this research is to know the maximun connection of tensile strenght and shear strenght, and find out how the collapse happened on each spacing SDS of tension connection of double cold formed steel roof trusses profiles. The test objects have a tensile strenght in different, the greater the space between the screws, the greater the tensile strenght of connection cold formed steel. The collapse happened at the time of testing is the tilting and hole bearing. Tilting occurred on the test object with space between bolts 5,5 df up to 7 df, and bearing hole collapse occurs only at the test object with space between bolts 7 df. Based on testing and the results obtained, the safe space between the bolts for the connection cold formed steel is 4 df, 4.5 df, dan 5 df. Key Word: cold formed steel, screw, connection, double profiles
ANALISA KAPASITAS TAMPUNGAN PADA SUNGAI PUCANG KABUPATEN SIDOARJO DALAM MENAMPUNG DEBIT BANJIR RAHMAWATI, EVI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Sidoarjo memiliki 5 buah sungai yang salah satunya adalah sungai Pucang. Penampang sungai Pucang mengalami perubahan dimensi akibat dari debit banjir maksimal sehingga menimbulkan terjadinya kerusakan pada tanggul. Kerusakan tanggul tersebut menimbulkan longsor dan sedimen. Hal tersebut mengakibatkan kapasitas tampung sungai Pucang menjadi lebih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh hasil perhitungan dari data-data dan hasil simulasi aliran seperti (1) besar debit banjir eksisting dengan kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, dan 50 tahun pada sungai Pucang, (2) kapasitas tamping sungai Pucang saat menampung debit banjir maksimal kala ulang 10 tahun (saluran primer), (3) Faktor-faktor penyebab banjir pada sungai Pucang dan (4) solusi penanggulangan dari permasalahan banjir yang terjadi pada sungai Pucang. Hasil penelitian ini diperoleh dari perhitungan debit banjir maksimal kala ulang 10 tahun dengan menggunakan persamaan Manning yaitu sebesar Q10= 110.42 m3/detik. Kapasitas tampung debit banjir yang dapat ditampung oleh sungai Pucang  sebesar Qsal= 68.23 m3/detik yang artinya bahwa                Q10= 110.42 m3/detik > Qsal= 68.23 m3/detik. Adapun penyebab meluapnya sungai Pucang dikarenakan oleh endapan sedimen dan besarnya debit banjir yang ditampung sungai Pucang. Upaya penaggulangan yang dapat diambil yaitu normalisasi sungai, perencanaan pembangunan rumah pompa pada daerah hilir tepatnya pada desa Bluru Kidul dan atau pengerukan sedimen secara berkala. Kata Kunci: Debit, kapasitas tampungan sungai, banjir. Sidoarjo regency has five rivers, one of which is the river Pucang. The cross-section of the river Pucang undergo dimensional changes resulting from the maximum flood discharge causing damage to the embankment. The levee damage caused landslides and sediment. This resulted in the carrying capacity of the river Pucang be higher. The purpose of this study was to obtain the results of the calculation of the data and the results of flow simulation such as (1) a large flood discharge existing with a return period of 2 years, 5 years, 10 years, 25 years, and 50 years on the river Pucang, (2) capacity tamping river flood discharge Pucang time accommodating the maximum return period of 10 years (primary channel), (3) factors that cause flooding on the river Pucang and (4) the solution prevention of flooding problems that occur in the river Pucang. Results of this study was obtained from the calculation of flood discharge maximum return period of 10 years by using Manning equation is equal Q10 = 110.42 m3 / sec. The capacity of flood discharge capacity that can be accommodated by the river Pucang of Qsal = 68.23 m3 / sec, which means that       Q10 = 110.42 m3 / sec > Qsal = 68.23 m3 / sec. The cause of the overflow of the river Pucang caused by sediment deposition and the magnitude of the flood discharge river Pucang accommodated. Prevention efforts that can be taken is a river normalization, development planning in areas downstream pump house precisely on Bluru Kidul village and dredging sediment periodically. Keywords: Discharge, storage capacity of  river, flood.
ANALISA PENERAPAN ISO 9001:2008 PADA PROYEK APARTEMEN VENETIAN GRAND SUNGKONO LAGOON DI SURABAYA OLEH  PT. PEMBANGUNAN PERUMAHAN (PERSERO) TBK NOVITASARI, RATNA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK CANGKANG KERANG TERHADAP POROSITAS DAN PERMEABILITAS BETON GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN NAOH 10 MOLAR OKTAFIANTI, LINDA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan di dunia konstruksi menyebabkan kebutuhan beton semakin meningkat yang menyebabkan kebutuhan semen akan meningkat pula. Adanya proses produksi semen menghasilkan gas CO2 dalam jumlah banyak, untuk menyederhanakan 1 ton semen dapat menghasilkan 1 ton CO2 (Davidovits, 1994). Pembuatan beton geopolymer berbahan dasar fly ash dan serbuk cangkang kerang biaasanya menggunakan pemaparan suhu tinggi. Penelitian ini bertujan untuk mengurangi pemaparan suhu tinggi pada beton geopolymer dengan penambahan CaO dan bagaimana pengaruhnya terhadap porositas dan permeabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penambahan 10% serbuk cangkang kerang merupakan campuran yang optimum karena memperoleh nilai porositas dan nilai permeabilitas paling optimum. Kata kunci : geopolymer, abu terbang, kulit kerang, porositas, permeabilitas The increasing of concrete material has led to the increasing needs of cement . However, the production of cement releases CO2 in large quantities in the proportion of 1 ton of cement produces 1 ton of CO2 (Davidovits, 1994). Fly ash geopolymer concrete usually produced at high temperature. The purpose of this research is to eliminate the heat curing requirement of geopolymer concrete by using CaO addition. The porosity and permeability tests were carried out to evaluate the performance of geopolymer concrete. The results showed that optimum mixture was achieved by the addition 10% of oyster shell due on the low value of porosity and permeability. Keywords: geopolymer, fly ash, oyster shell, porosity, permeability
ANALISIS PENAMBAHAN SERBUK BATU GAMPING GRESIK TERHADAP NILAI DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF SARI, SAGITA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah Driyorejo merupakan tanah ekspansif. Sehingga perlu dilakukan suatu upaya perbaikan tanah/stabilisasi. Penelitian ini menggunakan stabilisasi dengan penambahan serbuk batu gamping, dengan tujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh penambahan serbuk batu gamping terhadap daya dukung tanah untuk pondasi dangkal pada tanah ekspansif. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen di laboratorium Universitas Negeri Surabaya dengan variasi penambahan serbuk batu gamping : 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Metodologi yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan tes sifat-sifat fisik tanah, tes proctor standart dan tes kuat tekan bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar penambahan serbuk batu gamping nilai kuat tekan bebas (qu) semakin besar dan nilai daya dukung pondasi dangkal semakin besar juga. Didapat nilai daya dukung pondasi dangkal (qult) 39,845 t/m2, 57,547 t/m2, 67,194 t/m2, 76,190 t/m2, 81,084 t/m2. Sehingga pemanfaatan penambahan serbuk batu gamping pada tanah lempung di daerah Randegan Sari Kecamatan Driyorejo – Gresik  yang untuk meningkatkan kekuatan tanah pada daya dukung pondasi dangkal sampai dengan campuran 20%. Kata kunci : Tanah ekspansif, kuat tekan bebas, daya dukung pondasi dangkal The soil in Driyorejo Sub-District is classified as expansive soil that needs stabilizing. This research carried out the stabilization process by adding up limestone powder to see the extent to which the addition of limestone powder affects shallow foundation bearing capacity of expansive soil.This is an experimental research conducted in the Laboratory of State University of Surabaya. It utilized various contents of limestone powder; i.e. 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%. The researcher made use of research methodology that covers soil physical property testing, standard proctor test, and free compressive strength test. The results show that the more limestone powder which was added up, the greater the values of free compressive strength (qu) and shallow foundation bearing capacity. The values of shallow foundation bearing capacity (qult) are 39.845 t/m2, 57.547 t/m2, 67.194 t/m2, 76.190 t/m2, and 81.084 t/m2. Therefore, the addition of limestone powder to clay soil of Randegan Sari Area of Driyorejo Sub-District of Gresik intended to increase soil strength of shallow foundation bearing capacity reaches the extent of 20%.Key words: Expansive Soil, Free Compressive Strength, shallow foundation bearing capacity.
OPTIMALISASI BATANG TEKAN DAN BATANG TARIK PADA RANGKA BATANG BAJA RINGAN FAZA RIWIDYANTO, AHMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batang tarik dan batang tekan adalah elemen struktur baja yang hanya memikul atau mentransfer gaya aksial tarik antara dua titik pada struktur. Kekuatan batang tarik ditentukan oleh seberapa luas suatu penampang secara efektif ikut serta memikul gaya aksial tarik tersebut. Sedangkan, kekuatan batang tekan tidak hanya dipengaruhi kekuatan bahannya akan tetapi turut dipengaruhi bentuk geometris atau jari-jari girasi penampang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan batang tekan dan batang tarik yang optimal dan mengetahui perilaku keruntuhan pada rangka batang baja ringan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium dengan memberikan beban pada masing-masing benda uji rangka batang baja ringan sampai mencapai beban maksimum. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja ringan dengan profil C 80.0,6 , C 80.0,7 , C 80.0,75 , dan C 80.1,00 untuk batang tarik. Sedangkan, untuk batang tekan digunakan profil C 80.0,75. Berdasarkan hasil pengujian, perbandingan luas penampang BU-I adalah 1:0,8 lalu BU-II adalah 1:0,9 pada BU-III adalah 1:1 dan BU-IV adalah 1:1,3. Benda uji yang dapat menerima P paling besar yaitu benda uji IV dengan perbandingan luas penampang profil 1:1,3 dapat menerima beban sampai 29,73 kN. Tegangan tekan yang paling besar terdapat pada benda uji IV yaitu 256,56 MPa, sedangkan pada tegangan tarik, tegangan yang paling mendekati fy adalah benda uji I karena pada benda uji I hanya memakai batang tarik dengan ketebalan 0,6mm. Pada benda uji I, II, dan III, dengan perbandingan luas penampang 1:0,8, 1:0,9 dan 1:1  tegangan pada batang tekan dan batang tarik tidak ada yang melebihi fy dari masing  masing batang. Sedangkan pada benda uji IV mengalami rusak pada batang tekan karena tegangan yang terjadi di batang tekan melebihi dari 2/3 fy (tegangan ijin) batang tekan. Kata kunci: rangka batang, baja ringan, perbandingan luas, tegangan tarik, tegangan tekan Tension and compression members are elements of a steel structure that only distribute or transfer the axial tension of two joints on the structure. Tension members strength is determined by how wide a section effectively participate distribute the axial tension. Meanwhile, the strength of compression members is not only influenced by the strength of the material but also influenced by the geometric shape or radius of gyration of the section. The aim of research is to determine the optimal strength of the tension and compression members and the collapse of cold formed steel framework. This research was conducted in the laboratory by providing the existing load of each test object of cold formed steel framework until it reaches the maximum load. The materials used in this research were steel profiles C80.0,6; C80.0,7; C80.0,75; and C80.1,00 to tension members. As for the compression members used profiles C80.0,75. Based on test results, sectional area ratio of the test object is  BU I 1:0,8 and BU II 1:0,9 and BU III 1:1 then BU IV 1:1,3. The test object which can receive most major P is the test object IV with sectional area ratio profile 1:1,3 can receive the load until 29,73 kN. The heaviest compression stress is the test object IV with 256,56 MPa, and the tension stress, tension closest fy is the first test object for the test object I use a tension members with a thickness 0,6 mm. On the test object I II III with a sectional area ratio 1:0,8; 1:0,9; and 1:1 the stress of  the tension and compression members none surpasses fy. While the test object IV was severely damaged in  the compression members because the stress more than 2/3 of fy (stress permission). Key words: trusses, cold formed steel, area ratio, tension stress, compression stress
PENGARUH PENAMBAHAN ABU AMPAS TEBU (BAGASSE ASH) TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR PADA STRUKTUR BALOK PENDEK WULANDARI, MEITY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-86 Periode 2 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 6 of 38 | Total Record : 380