cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
STUDI DETAIL PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA DENGAN MENGGUNAKAN OPENFRAME TANPA RIGID FLOOR DIAFRAGMA DAN OPENFRAME DENGAN RIGID FLOOR DIAFRAGMA BERDASARKAN SNI 1726:2012 DAN SNI 2847:2013 ANDRIYANI, LINA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kriteria dalam merencanakan struktur bangunan bertingkat adalah kekuatan serta perilaku bangunan tinggi. Ketahanan terhadap gempa juga harus diperhatikan dalam merancang struktur bangunan. Dalam peraturan SNI 1726:2012 wilayah gempa Indonesia memakai konsep sesuai dengan gerakan tanah seismik dan koefisien resiko dari gempa maksimum yang di pertimbangkan (Maximum Considered Earhquake, MCE). Peraturan SNI beton dalam merancang struktur gedung sangat diperlukan. Dalam hal ini, peraturan beton yang akan dibahas mengacu pada peraturan SNI 2847:2013. Dalam skripsi ini akan dibahas tentang perbedaan struktur bangunan menggunakan openframe tanpa rigid floor diafragma dan openframe dengan rigid floor diafragma di kota Surabaya diatas tanah lunak. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah merencanakan struktur gedung secara detail dan membedakan gaya dalam dan respon struktur dari hasil kedua pemodelan berdasarkan SNI 1726:2012 dan SNI 2847:2013. Pemodelan struktur gedung 20 lantai dalam  3D dan menggunakn sofeware ETABS vol.9.6. Dari hasil analisis struktur didapatkan rasio simpangan antar lantai pada masing- masing model struktur masih dalam batas izin, dengan perpindahan (displacement) dan gaya dalam openframe tanpa rigid floor diafragma lebih besar dibandingkan dengan openframe dengan rigid floor diafragma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model struktur menggunakan openframe dengan rigid floor diafragma merupakan model struktur yang efektif, karena displacement dan gaya dalam elemen struktur yang lebih kecil dibandingkan model struktur openframe tanpa rigid floor diafragma. Kata Kunci : gedung, beton bertulang, rigid floor diafraghm, respon struktur. Criteria in planning and design of multistory buildings are streght and stability. Earthquake resistance building must be considered in designing the structure within the building. According to SNI 1726:2012, seismic zone in Indonesia is using the concept of relevant seismic ground motion and seismic coefficient of maximum risk in considering (Maximum Concidered Earthquake, MCE).  SNI for concrete considered indesigning the building structure is needed. In this case, concrete stand are will be examined based on the SNI 2847:2013. This study shows the different response structures using open frame with and without rigid floor diaphragm in Surabaya on soft soil condition . The purpose of this paper is to prepare the structure of the high-rise building in detail and differentiate the mode shape, response and reaction. Response of structure is the second product modeling based on SNI 1726:2012 and SNI 2847:2013. Study case of 20-storey building structure modeling in 3D using ETABS ver.9.6. The result obtained deviation ratio between floors on each model structure is still within the limitsof the regulation with displacement and mode shape in open frame without rigid floor diaphragmis greater than the open frame with rigid floor diaphragm. The results showed that the model using open frame with rigid floor diaphragm is an affective model, because displacement and reaction in the structure element are smaller than the model without rigid floor diaphragm. Keywords: high-rise building, rigid floor diafraghm, structure response, displacemen, story drift.
STUDI PENGGUNAAN CATALYST, MONOMER, DAN FLY ASH SEBAGAI MATERIAL PENYUSUN BETON RINGAN SELULAR SETYO UTOMO, GATOT
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Material foam concrete pada beton ringan selular (cellular lighweight concrete) adalah salah satu material konstruksi yang banyak dikembangkan akhir - akhir ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan komposisi optimum dan pengaruh penggunaan catalyst, monomer, dan fly ash sebagai material penyusun beton ringan selular. Komposisi semen dan pasir yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 pasir dan 1 semen. Persentase penggunaan fly ash sebagai subtitusi semen adalah 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Penggunaan monomer adalah 0,5% dari berat semen sedangkan penggunaan catalyst adalah 1% dari berat semen. Benda uji di cetak dalam molding ukuran 5x5x5 cm3. Hasil penelitian yang telah lakukan menunjukan kuat tekan tertinggi benda uji dengan penggunaan monomer pada waktu pengeringan 56 hari terdapat pada perentase fly ash 15% dengan kuat tekan 5.21 MPa, berat jenis 1.21 g/cm3  dan penyerapan air 17.73% . Pada benda uji tanpa monomer kuat tekan tertinggi terdapat pada persentase fly ash 5% dengan kuat tekan 5.03 MPa, berat jenis 1.19 g/cm3 dan penyerapan air 22.37%. Penggunaan monomer dan fly ash menjadikan kuat tekan benda uji semakin tinggi dan penyerapan air semakin rendah.  Hasil kuat tekan dan penyerapan air benda uji telah memenuhi syarat dari SNI 03-0349-1989 dan ASTM C 869 sehingga dapat dikatakan bahwa beton ringan selular yang dihasilkan dari penelitian ini dapat di aplikasikan untuk material pembuatan bata ringan CLC (cellular lightweiht concrete) Kata Kunci : Beton Ringan Selular , Kuat Tekan, Berat Jenis, Penyerapan Air, Monomer, Catalyst, Fly ash Material using foam concrete in cellular lightweight concerete (CLC) is one of material construction that were develped recently. This research was aimed to find optimum composition throught the use of catalyst, monomer and fly ash as a constituent material cellular lightweight concerete (CLC). The ratio of cement and sand that was used during this research were two sand and one cement. The percentages of using fly ash as the subtitution of cement are 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%. Moreover, the use of monomer was 0,5% of cement weight, while the use catalyst was 1% of cement weight. The specimen was molded in small cube molding, and the size 5x5x5 cm3. The result in 56 curing day the specimen with monomer has highest compressing strenght, dry density, and water absorption abaout 5.21 MPa, 1.21 g/cm3, 17.73%, respectively. These specimens contain on percentage of fly ash 15%. Furthemore, the result without monomer are compresisive strenght, dry density, water absorption about 5.03 MPa, 1,91 g/cm3, 22.37%, respectively. The addition of monomer and fy ash made the compressive strenght higher and water absorption lower than non monomer. The result of compressive strenght and water absorption were followed SNI 03–0349-1989 and ASTM C 869  so that it can be said that cellular lightweiht concrete was prodused during this research can be applied for the manufacture of lihgtweight brick material CLC (cellular lightweiht concrete) Key words: Cellular Lightweight Concrete, Compressing Strenght, Dry density,  Absorption,  Monomer, Catalyst, Fly ash
STUDI POLA OPERASI WADUK WONOREJO UNTUK PLTA CHRISTANTY SUHARTO, PANDRA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk wonorejo merupakan salah satu Waduk serbaguna  yang  dibangun pada ketinggian El. +140,00 m dan terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Waduk Wonorejo merupakan waduk tahunan yang menampung air di saat musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau. Selain untuk menampung air, Waduk Wonorejo juga dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6,30 MW dengan menggunakan 1 unit turbin tipe Horis dan tanpa genarator. Seiring  dengan pertambahan penduduk dan aktivitas manusia, terjadi perubahan tata guna lahan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Bodeng dan Sungai Wangi. Dampak yang terjadi pada Waduk Wonorejo akibat dari perubahan tata guna lahan tersebut, yaitu terjadinya perbedaan besar debit inflow saat musim kemarau atau musim penghujan sehingga debit outflow untuk pengendali banjir dan PLTA juga berubah-ubah. Oleh karena itu perlu adanya suatu studi mengenai pola operasi Waduk Wonorejo khususnya besarnya debit untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air dan debit sungai yang menyuplai tampungan waduk. Di dalam studi ini, analisa yang mucul adalah Debit outflow yang keluar menuju intake yang muncul setelah dilakukan analisis untuk keperluan PLTA adalah antara 3,174 m3/dt sampai 11,128 m3/dt. Dimana debit andalannya adalah 3,942. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang berbeda sehingga debit yang keluar menyesuaikan dengan curah hujan yang ada. Debit yang masuk dari sungai setelah dilakukan perhitungan dengan metode FJ. Mock adalah antara 0,94 m3/dt sampai 16,99 m3/dt. Dimana debit andalannya adalah 1,833 m3/dt. Setelah dilakukan rekaya untuk menyesuaikan debit yang masuk dan yang keluar, debit outflow perlu dikurangi sampai memenuhi rentan 3,942 m3/dt – 5,00 m3/dt, yang kemudian sisanya dapat disimpan dan dialokasikan ke bulan lain yang kekurangan. Kata Kunci: outflow, inflow, FJ. Mock Abstract Wonorejo Reservoir is one of the multipurpose reservoirs are built at an altitude El. +140.00 M and the located in the village of Wonorejo, District Pagerwojo, Tulungagung, East Java province, Indonesia. Reservoir Wonorejo an annual reservoirs that hold water in the rainy season and use it during the dry season. In addition to accommodate the water reservoir Wonorejo also used for hydroelectric power generation (hydropower) amounted to 6.30 MW turbine unit by using one type of Horis and without Genarator. Along with the growth of population and human activities, changes in land use around watersheds (DAS) Bodeng and  Wangi River. The impact that occurs in Reservoir Wonorejo result of changes in land use, namely the huge differences inflow debit during the dry season or the rainy season, so that the outflow discharge for hydropower is also changing. Hence the need for a study on the operation pattern Wonorejo reservoir for hydroelectric power plants. In this study, the analysis is Debit outflows appear out towards the intake that emerged after the analysis for the purposes of hydropower is between 3.174 m3 / sec up to 11.128 m3 / sec. Where the discharge flagship is 3,942. This is caused by the different rainfall that discharge out to adjust the existing rainfall. Debit entry of the river after the calculation method of the FJ. Mock is between 0.94 m3 / s to 16.99 m3 / s. Where flagship discharge is 1,833 m3 / sec. After discharge rekaya to adjust incoming and outgoing, outflow discharge vulnerable need to be reduced to meet the 3,942 m3 / sec - 5.00 m3 / s, then the rest can be stored and allocated to another month deficient. Key Word: outflow, inflow, FJ. Mock
PERENCANAAN BALOK KOMPOSIT NON-PRISMATIS JEMBATAN UNDERPASS KERETA API PADA PROYEK PEMBANGUNAN TOL SURABAYA-MOJOKERTO JAWA TIMUR JUNAIDI, FEBRI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya merupakan kota metropolitan yang sangat menjanjikan untuk memperoleh pendapatan yang tinggi. Dengan adanya hal tersebut maka alternatif yang dibutuhkan adalah menambah ruas jalan untuk akses keluar masuk kota Surabaya. Salah satu struktur jalan adalah jembatan. Kualitas suatu jembatan dapat dilihat dari segi kekuatan, arsitektur, dan biaya yang ekonomis. Jembatan harus mampu menahan beban mati dan beban lalu lintas diatasnya, memiliki bentuk konstruksi yang tidak biasa seperti halnya penggabungan antara komposit (baja-beton) dengan penampang profil yang memiliki ukuran berbeda-beda (non-prismatik). Reduksi berat sekitar 20-30% dapat diperoleh dengan memanfaatkan perilaku sistem komposit penuh. Berkurangnya tinggi profil baja yang dipakai akan mengakibatkan berkurangnya tinggi bangunan secara keseluruhan, sehingga dapat menghemat material bangunan. Anggapan ini harus dibuktikan secara ilmiah dalam perhitungan perencanaan konstruksi jembatan sesuai peraturan-peraturan yang berlaku dalam Standar Nasional Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk konstruksi jembatan komposit dengan bentang 42 m dan lebar total 19,25 m, dapat didesain memiliki 5 jalur kendaraan tanpa median. Profil baja WF 912.302.18.34 dapat digunakan, dengan syarat utama momen maksimal kurang dari momen nominal gelagar yang terjadi. Kata Kunci: jembatan komposit, non-prismatis. Surabaya city is a metropolitan city, that is very promising for high revenues. With this it, the alternative is needed to increase the road to access in and out of Surabaya. One of the structure of the street is a bridge.  The quality of bridge could be seen by it’s strength, architecture, and economical cost. Bridge should be able to restrain both dead load and traffic load on it, has an unusual construction such as combining between composite (steel-concrete) with some different sections of profile (non-prismatic). The weight could be reduced about 20-30% by making full composite system. Reduced high of steel profile will effected to reducing overall construction heigh, so it’s able to saving the materials. This opinion should be proven scientifically in the calculations of the bridge consruction design according to obtain regulations in Indonesia National Standart. The result of this research showed that composite bridge with length 42 m and total width 19,25 m, could be designed has 5 vehicle traffic lanes with no median. Steel profile WF 912.302.18.34 able to use by condition of girder moment strength is less than nominal moment of girder that occurred. Keywords: composite bridge, non-prismatic.
ANALISA DAN STUDI EKSPERIMENTAL BUKAAN TUNGGAL DI ATAS GARIS TENGAH PENAMPANG TERHADAP KEKUATAN LENTUR BALOK BETON BERTULANG TRIWIBOWO, SIGIT
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balok beton bertulang merupakan salah satu struktur utama bangunan gedung yang berfungsi sebagai penyalur beban menuju ke kolom. Kegunaan balok beton bertulang selain untuk struktur utama juga digunakan sebagai tempat untuk mengaitkan atau menempelkan instalasi air dan instalasi listik serta ducting Air Conditoner (AC) yang ditempatkan di bawah balok. Instalasi tersebut biasanya ditutup dengan menggunakan plafond sehingga akan mengurangi tinggi efektif dari ruangan. Dengan pembuatan lubang pada balok sebagai jaringan instalasi merupakan salah satu solusi yang tidak akan mengurangi tinggi efektif ruangan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pembuatan lubang di tengah bentang di atas garis tengah penampang terhadap kuat lentur balok. Dengan penempatan lubang berada di daerah momen maksimal dari dua titik pembebanan monotik atau 1/3 bentang. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif dengan eksperimen dari dua benda uji balok dengan lebar 200 mm , tinggi 300 mm dan panjang 2700 mm, terdiri dari balok tanpa bukaan (BLN) dan balok dengan bukaan (BLB) berdimensi lebar 200 mm, tinggi 80 mm dan panjang 400 mm. Data eksperimen atau data aktual dicatat dan kemudian dibandingkan dengan data perhitungan teoritis. Hasil penelitian dengan perhitungan teoritis benda uji BLN mempunyai momen maksimal 43,76 kN.m dengan dua beban terpusat sebesar 47,17 kN, momen retak awal 12,75 kN dengan beban 12,71 kN. Dari hasil pengujian didapatkan beban retak awal sebesar 19,86 kN dengan momen retak 17,87 kN.m, sedangkan beban maksimal pengujian meningkat 4,94% senilai 49,50 kN dengan momen maksimal 44,55 kN.m. Perhitungan teoritis benda uji BLB didapatkan momen penampang 43,79 kN dengan beban 47,20 kN, momen retak awal teoritis 12,85 kN dengan beban 12,81 kN. Hasil  pengujian balok BLB mengalami retak awal pada beban 20,94 kN dengan momen retak 18,85 kN, sedangkan beban maksimal pengujian meningkat 12,64% menjadi 53,16 kN  dengan momen maksimal sebesar 47,84 kN.m. Berdasarkan hasil penelitian dengan pembuatan lubang pada balok di tengah bentang di atas garis tengah penampang tidak mempengaruhi kekuatan lentur pada balok. Kata Kunci:  Kuat Lentur, balok, bukaan Reinforced concrete beam is one of the main structures of building which functioned to be a load distributor through the column. The fuction of reinforced concrete beam is not only for the main structure but also as the place to hang or stick the water installation and electricity installation and also ducting Air Conditioner (AC) which placed under the concrete beam. Those installations are usually covered by the plafond in order to decrease the high effectiveness in the room. The cavity making on beam as installation network is one of solution that will not decrease the high effectiveness of room. The purpose of the study is to understand about cavity making in middle of disquisition above the neutral line toward flexural beam. The cavity is located in maximum moment area from two spots of load monotic or 1/3 from the disquisition. The methodology used in this study is descriptive qualitative by used the experiment from two objects experiment beam with 200 mm height, 300 mm volume and 2700 mm weight, consist of non-opener concrete beam (BLN) and opener concrete beam (BLB) with dimension 200 mm height, 80 mm volume and 400 mm weight. Experiament data or actual data is written then compared to the teoritical data calculating. This study finds out that by teoritical calculating of two experiment objects of BLN has maximum moment approximately 43,76 Kn.m with two loads centered about 47,17 Kn, the first cracked moment is on 12,75 kN by having the load at 12,71 Kn. The result of experimental is found the first cracked load at 19,86 Kn with cracked moment 17,87 kN.m, meanwhile the maximum load of the experiment increased for 4,94% in amount of 49,50 Kn with maximum moment at 44,55 kN.m. Theoritical calculating of experimental object of BLB is found that sectional moment at 43,79 kN with having load about 47,20 kN, theoretical of the first cracked moment at 12,85 kN with the load about 12,81 Kn. The experiment result of BLB beam is found that the first cracked on 20,94 Kn of load with cracked moment at 18,85 Kn, meanwhile the maximum load of experiment increased from 12,64% into 53,16 Kn with maximum moment about 47,84 kN.m. According to the result of this study by cavity making on the beam in middle of disquisition above the neutral line was not influencing the flexural strenght of the beam. Key Words : Flexural Strength, beam, Opening.
ANALISIS PENAMBAHAN FLY ASH TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DEWI AINUL MALA, PUSPA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah memiliki pengaruh sangat besar terhadap struktur konstruksi bangunan di atasnya, baik itu konstruksi bangunan maupun konstruksi jalan. Stabilisasi tanah ekspansif sampai saat ini selalu diupayakan baik menyangkut bahan stabilisator maupun teknologi perbaikan tanah tersebut. Perbaikan tanah dengan menggunakan bahan tambahan sering digunakan guna memperbaiki sifat tanah tersebut. Karakteristik tanah yang kurang baik harus diperbaiki sehingga karakteristik tanah tersebut menjadi baik dari sebelumnya. Salah satu bahan tambahan yang digunakan yaitu Limbah Batubara (Fly Ash), karena Fly Ash dapat mempercepat pembentukan kekuatan tanah yang kurang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan Fly Ash pada tanah lempung terhadap nilai kuat tekan bebas (qu). Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di laboratorium dengan cara membuat benda uji yang ditambah dengan Fly Ash. Variasi campuran benda uji tersebut adalah 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Dalam penelitian ini dilakukan berbagai macam test antara lain adalah test Atterberg, yaitu test Batas Cair dan test Batas Plastis untuk mengetahui nilai Indeks Plastisitas, test tes Spesific Gravity (GS) untuk mencari berat jenis tanah,  kemudian dilakukan tes Standart Proctor dan tes Unconfined Compression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar penambahan Fly Ash pada tanah lempung maka nilai daya dukung pondasi dangkalnya mengalami kenaikan. Pada tanah asli nilai daya dukung pondasi dangkal yang didapat sebesar 66,253 t/m², selanjutnya pencampuran 5% fly ash didapat nilai daya dukung pondasi dangkal sebesar 80,948 t/m² ,kemudian penambahan berikutnya 10% fly ash nilai daya dukung pondasi dangkal sebesar 102,038 t/m², penambahan 15% fly ash didapat nilai daya dukung pondasi dangkal  sebesar 114,178 t/m², sedangkan dengan penambahan 20% fly ash didapat nilai daya dukung pondasi dangkal sebesar 124,892 t/m². Dapat disimpulkan bahwa, semakin banyak penambahan fly ash pada tanah lempung ekspansif, maka semakin baik pula daya dukung tanah yang dihasilkan. Kata Kunci : Tanah lempung ekspansif, Fly Ash., Daya Dukung Pondasi Dangkal. Land has a very big influence on the structure of the building constructed on it; i.e building or road construction. The attempt of expansive soil stabilization is always related to the stabilizing materials and technologies of soil improvement. Additional substances are commonly used for improving the properties of soil. Unfavorable soil characteristics should be treated so that the characteristics of soil will get better. One of the additional material used is Coal Waste ( Fly Ash ); it is used because it can accelerate the formation of strength of less stable soil. This research aimed at determining to what extent the addition of fly ash on clay affected the unconfined compression strength. This research is an experimental research conducted in laboratories by making specimens that Fly Ash was added in. Variations of the specimen mixtures were 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, and 20 %. In this research, a variety of tests was conducted,  such as Atterberg test; it is a test of liquid and plastic limit used for determining the value of plasticity index , Specific Gravity ( SG) test used for identifying heavy soil types, Standard Proctor and Unconfined Compression tests. The results showed that the higher the addition of fly ash on clay is, the higher the value of shallow foundation bearing capacity will become. In the native land, carrying capacity of shallow foundation was 66.253 t/m², the blending 5% of fly ash resulted in a value of the bearing capacity of shallow foundation of 80.948 t / m², the addition of 10 % of fly ash resulted in a value of carrying capacity of shallow foundation of 102.038 t/m², the addition of 15% of fly ash resulted in a value of the bearing capacity of shallow foundation of 114.178 t/m², the addition of 20% of fly ash resulted in a value of the bearing capacity of foundation shallow amounted to 124.892 t / m² . It can be concluded that greater addition of fly ash on expansive clay results in a better soil bearing capacity. Keywords: Expansive clays, Fly Ash., Shallow Foundation Bearing Capacity.
ANALISIS KINERJA BIAYA DAN WAKTU PELAKSANAAN PEMBANGUNAN MY TOWER HOTEL & APARTMENT PROJECT MENGGUNAKAN METODE NILAI HASIL (EARNED VALUE) MARETA, MERRY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek-proyek besar memiliki ketergantungan pekerjaan yang sangat kompleks sehingga pengendalian sangat diperlukan untuk mencegah ataupun mengatasi permasalahan yang nantinya akan muncul. Dalam pelaksanaan proyek, sangat jarang ditemui proyek-proyek yang berjalan tepat waktu dengan biaya yang direncanakan. Dalam pengendalian biaya dan waktu ini telah diperkenalkan konsep Nilai Hasil (Earned Value). Metode Nilai Hasil (Earned Value) memberikan informasi status kinerja proyek pada suatu periode pelaporan dan memberikan informasi prediksi biaya yang dibutuhkan dan waktu untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan berdasarkan indikator kinerja saat pelaporan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja biaya dan waktu tiap minggu dan mengetahui biaya penyelesaian dan waktu akhir proyek. Metode yang digunakan adalah metode Nilai Hasil (Earned Value) yang dilakukan pada pembangunan My Tower Hotel & Apartment Project. Dari hasil analisis metode Nilai Hasil (Earned Value) diperoleh kinerja biaya dan waktu per minggu berada dibawah rencana, yang berarti bahwa realisasi pekerjaan per minggu belum mencapai target. Proyek mengalami keterlambatan sebesar 28,6935% dari rencana awal 94,4410%. Hasil penelitian memperkirakan biaya akhir proyek yaitu Rp. 40.295.096.433,69 dari nilai kontrak Rp. 49.201.800.000,00 dan mendapat keuntungan Rp. 4.433.843.461,41 dengan PPn 10%. Untuk perkiraan waktu akhir proyek yaitu 378 hari dari waktu kontrak 365 hari. Proyek mengalami keterlambatan 13 hari dengan denda sebesar Rp. 639.623.400,00. Sehingga keuntungan bersih proyek sebesar Rp. 3.794.220.061,41 atau 8,48%. Kata Kunci : pengendalian, biaya, waktu, nilai hasil Every project has complexly dependencies work so that controls are necessary to prevent or overcome the problem. In the implementation of project, it was very rare project running on time with good budgeted cost. The control of cost and time has introduced the concept of earned value. Results of Earned Value give an information status of project performance reporting period and provide predictive information and time costs required to complete the entire job based on the current performance indicator report. The aim of this research is determine cost and time performance each week and determine solution cost and the final project. The method was used method Earned Value conducted on the construction of My Tower Hotel & Apartment Project. Based on the data analysis was obtained by the performance of the cost and time per week under the plan, it means the realization of the work per week has not reached the target. The project has been delayed by 28,6935 % from 94,4410 % main planned. The result of studies estimate at complation of the project was Rp. 40.295.096.433,69 from the contract value Rp. 49.201.800.000,00 and benefit Rp. 4,433,843,461.41 with 10% Ppn. Estimate all schedule of the project was 378 days from the time the contract 365 days. The project has been delayed 13 days with fine Rp. 639,623,400.00. So the net profit Rp. 3,794,220,061.41 or 8.48%. Keyword : Control, cost, time and earned value
PENGARUH PENAMBAHAN CATCHMENT AREA TERHADAP DEBIT ALIRAN PADA SISTEM DRAINASE PERKOTAAN PERUMAHAN PURI SURYA JAYA CLUSTER VALENCIA SPRING DI KECAMATAN GEDANGAN KABUPATEN SIDOARJO RACHMAWATI, TATI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Gedangan merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Sidoarjo yang memiliki potensi kepadatan penduduk. Hal ini yang menjadikan kecamatan Gedangan menjadi pusat industri sehingga pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dan kebutuhan akan tempat tinggal menjadi hal utama atau kebutuhan primer sehingga banyak properti perumahan yang mengembangkan area luasan perumahannya sehingga menyebabkan perubahan tata guna lahan dan resapan air menjadi berkurang yang awalnya sawah menjadi pemukiman mewah di tengah kota. Perubahan tataguna lahan dan sawah yang berdekatan dengan sungai berpengaruh pada kondisi sawah di sekitar perumahan. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi penampang saluran yang ekonomis untuk saluran drainase cluster valencia akibat penambahan catchment area serta mengetahui berapa besar pengaruh penambahan catchment area terhadap debit aliran, mengevaluasi saluran existing dan merencanakan kapasitas tampung saluran akibat penambahan catchment area pada cluster valencia sehingga banjir dapat dihindari pada area perumahan.   Hasil yang diperoleh dari analisa perhitungan didapatkan debit saluran existing adalah 1,120 m3/det. Untuk hasil perhitungan debit total dari air limbah rumah tangga dan debit air hujan akibat penambahan catchment area pada cluster valencia dengan kala ulang 10 tahun dengan nilai          Q = 2,2656 m3/det. Jadi untuk 10 tahun kedepan saluran yang ada tidak dapat menampung debit aliran air sehingga perlu dilakukan normalisasi saluran agar tidak menyebabkan banjir dari perhitungan normalisasi didapatkan debit saluran sebesar Q = 2,2976 m3/det sehingga saluran tersebut dapat dialiri air limbah rumah tangga dan air hujan. Kata Kunci: Drainase, Intensitas, Debit Gedangan subdistrict is one of sub-district in Sidoarjo which has potential density of citizen. This makes Gedangan become a center of the industry so economic growth is increasing and the need for shelter becomes to the main or primary needs for many residential properties developed area extents causing changes in land usages and water absortion be reduced which was rice fields and now  become luxury residential in the central of the city. The change of land’s utilization which is close to a rivers effect the condition of the farmland surrounding it. This research method is descriptive quantitative. This research aims to know the dimensions of the cross-section of an economical channel for drainage channels cluster at valencia residence due to the catchment areas additional as well as find out how great the influence of addition of the catchment area additional against the discharge flow, evaluate the existing channels and plan the capacity of the channel accomodation due to the a catchment area additional at a cluster of valencia residents o floods can be avoided in a residential area. The results obtained from the analysis of the existing channel discharge was obtained by calculation is 1.120 m3/sec. Results for the calculation of the total discharge of waste water and rain water discharge due to the addition of a catchment area on a cluster of valencia residents with 10 year period with the epoch value of Q = 2.2656 m3/sec. So for the next 10 years  an existing channel can not accommodate the flow of water so it needs to keep channels of normalizing flooding from the calculation of the discharge was obtained by normalizing the channel of  Q = 2.2976 m3/sec. This channel can be passed through by housing waste and rainy waters. Key Words: Drainage, Intensity, Discharge
PERENCANAAN ULANG GEDUNG FAVE HOTEL KALI RUNGKUT SURABAYA DENGAN STRUKTUR BAJA BETON KOMPOSIT HALIM, ABDUL
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini antara lain: untuk mengetahui perencanaan pelat pada suatu bangunan komposit, mengetahui seberapa besar dimensi struktur balok dan kolom komposit yang dapat digunakan, mengetahui dimensi sambungan-sambungan yang dapat digunakan, mengetahui dimensi kolom pedestal yang dapat digunakan, dan untuk mengetahui dimensi fondasi yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur bangunan gedung Fave Hotel Kali Rungkut Kota Surabaya yang awalnya beton konvensional diganti dengan struktur baja beton komposit. Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur baja beton komposit. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, momen yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi balok yang terbesar menggunakan WF. 500.200.10.16 dan shear connector dengan diameter 3/4"–225 mm dan tinggi 80 mm; dimensi kolom terbesar adalah 400 mm x 800 mm, profil baja WF 600.200.11.17, tulangan utama 8 D19, dan sengkang Ø10 – 150. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur yang digunakan pada penelitian ini lebih kecil dan lebih ringan daripada dimensi struktur bangunan existing. Kata Kunci: hitungan ulang struktur, komposit, baja, beton The purpose of this paper are: to determine the planning of the plate in a composite construction, knowing how big the dimension structural beam and column composite that can be used, determine the dimensions of the connections that can be used, determine the dimensions of the column pedestal that can be used, and to determine the dimensions of the foundation that can be used in this research. This method of this paper is descriptive with using the case study method. This research will describe how the planning of the building structure Fave Hotel Kali Rungkut Surabaya, originally conventional concrete was initially replaced with  steel-concrete composite structures. The data collected by using literature or the libraries,  and computational simulation. Literature is used to to obtain regulations,  formulas and the steps used to calculate the steel-concrete composite structures. Computational simulations used to model the structure (space frame) building and obtained axial force, shear, moment occurs. The results showed that the largest dimension of the beam using WF. 500.200.10.16 and shear connector with a diameter of 3/4 "-225 mm and height 80 mm; the largest column dimensions are 400 mm x 800 mm, steel profiles WF 600.200.11.17, the main reinforcement 8 D19, and stirrups Ø10 - 150. Thus, it can be concluded that the structure used in this research is smaller and lighter than the dimensions of the existing building structure. Key Word : recalculation struccture, composit, steel, concrete
PENGARUH PENAMBAHAN KERAK TANUR TINGGI SLAG TERHADAP POROSITAS DAN PERMEABILITAS BETON GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN NAOH 10 MOLAR NUR FAHMI FAUZI, M.
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan di dunia konstruksi yang terus berkembang menyebabkan kebutuhan beton yang semakin meningkat yang menyebabkan kebutuhan semen akan meningkat pula. Adanya proses produksi semen menghasilkan gas CO2 dalam jumlah banyak, untuk menyederhanakan 1 ton semen dapat menghasilkan 1 ton CO2 (Davidovits, 1994). Pembuatan beton geopolymer berbahan dasar fly ash dan kerak tanur tinggi slag yang biasanya menggunakan pemaparan suhu tinggi. Penelitian ini bertujan untuk mengurangi pemaparan suhu tinggi pada beton geopolymer dengan penambahan slag dan bagaimana pengaruhnya terhadap porositas dan permeabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penambahan 30% slag merupakan campuran yang optimum karena memperoleh nilai porositas dan nilai permeabilitas paling minimum. Kata kunci : geopolymer, abu terbang, slag, porositas, permeabilitas The increasing of concrete material has led to the increasing needs of cement . However, the production of cement releases CO2 in large quantities in the proportion of 1 ton of cement produces 1 ton of CO2 (Davidovits, 1994). Fly ash geopolymer concrete usually produced at high temperature. The purpose of this research is to eliminate the heat curing requirement of geopolymer concrete by using Slag addition. The porosity and permeability tests were carried out to evaluate the performance of geopolymer concrete. The results showed that optimum mixture was achieved by the addition 30% of slag due on the low value of porosity and permeability. Keywords: geopolymer, fly ash, slag, porosity, permeability

Page 9 of 38 | Total Record : 380