cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin
  • jurnal-pendidikan-teknik-mesin
  • Website
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 11 Documents clear
PENGEMBANGAN MODUL SYSTEM AIR CONDITIONER (AC) MOBIL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII TEKNIK KENDARAAN RINGAN DI SMK KOSGORO 1 BALONGBENDO ISNAINI DHINARSARI, VALIESYA; MADE MULIATNA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK PENGEMBANGAN MODUL SISTEM AIR CONDITIONER (AC) MOBIL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII TEKNIK KENDARAAN RINGAN DI SMK KOSGORO 1 BALONGBENDO Nama : Valiesya Isnaini Dhinarsari NIM : 14050524033 Program Studi : S1 Pendidikan Teknik Mesin Konsentrasi : Otomotif Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknik Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Drs. I Made Muliatna, M.Kes. Permasalahan penelitian ini adalah belum tersedianya modul pembelajaran pada mata pelajaran sistem AC Mobil di SMK Kosgoro 1 Balongbendo. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung selama ini adalah menggunakan metode ceramah dengan memanfaatkan alat bantu papan tulis dan siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru/pengajar. Akibat dari ketidak tersediaannya modul pembelajaran sistem AC Mobil pada SMK Kosgoro 1 Balongbendo berdampak pada rendahnya pengetahuan dan hasil belajar siswa tentang sistem AC Mobil. Untuk itu peneliti melakukan pengembangan modul Sistem AC Mobil di SMK Kosgoro 1 Balongbendo. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XII TKR di SMK Kosgoro 1 Balongbendo. Model penelitian yang digunakan adalah model pengembangan 4-D yang dikembangkan oleh S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel dan Melvyn I. Semmel. Model pengembangan 4-D memiliki empat tahapan yang harus dilakukan yaitu Tahap Pendefinisian (Define), Tahap Perencanaan (Design), Tahap Pengembangan (Develop), Tahap Penyebaran (Disseminate). Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas XII TKR SMK Kosgoro 1 Balongbendo. Instrumen yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa berupa test uji coba yang dilakukan pada siswa kelas XII Teknik Kendaraan Ringan SMK Kosgoro 1 Balongbendo dengan memberikan pre-test dan post-test. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut : hasil validasi tingkat kelayakan modul dari dosen ahli materi sebesar 80%, validasi ahli bahasa sebesar 94% dan validasi ahli desain sebesar 91% rata-rata skor validasi dari semua validator diperoleh prosentase sebesar 88% yang masuk dalam kategori sangat layak. Hasil pre-test siswa mendapat prosentase sebesar 38% dan post-est setelah diberikan modul mendapat rata-rata sebesar 81%. Aktivitas siswa, dari pengamatan yang telah dilakukan oleh 3 pengamat menunjukkan hasil rata-rata skor aktivitas siswa mendapatkan skor 81.7% yang masuk dalam kategori ?Sangat Aktif?. Hasil belajar siswa dari pre-test ke post-test mengalami peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran yaitu pada pre-test jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM sebanyak 0 siswa dengan persentase 0% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 23 siswa dengan persentase 100%, sedangkan pada tahap post-test jumlah siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM sebanyak 21 siswa dengan persentase 91.3% sedangkan belum tuntas sebanyak 2 siswa dengan persentase sebanyak 8.7%. Kata kunci : pengembangan modul, sistem AC, aktivitas belajar, hasil belajar. ABSTRACT DEVELOPMENT OF CAR CONDITIONER (AC) SYSTEM MODULE TO IMPROVE ACTIVITIES AND RESULTS OF CLASS XII STUDENTS IN LIGHT VEHICLE ENGINEERING IN SMK 1 KOSGORO BALONGBENDO Name : Valiesya Isnaini Dhinarsari NIM : 14050524033Study Program : Bachelor of Mechanical Engineering Education Konsentration : AutomotiveDepartment / Faculty : Mechanical Engineering/Faculty of EngineeringSupervisor : Drs. I Made Muliatna, M.Kes. The problem in this research is unavailability of learning modules on subject of AC car system at SMK Kosgoro 1 Balongbendo. Teaching and learning activities that take place so far is to use lecture method by using the whiteboard aids and students just listen and send the material delivered to the teacher. As a result of the unavailability of learning module of AC car system at SMK Kosgoro 1 Balongbendo have an impact on the low of knowledge and result of student learning about AC car system. For that, the researchers will conduct the development of AC car System module in SMK Kosgoro 1 Balongbendo. The purpose of this research is to know the activity and learning outcomes of students class XII Light Vehicle Engineering SMK Kosgoro 1 Balongbendo. The research model used a 4-D development model developed by S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel and Melvyn I. Semmel. The 4-D development model has four stages to do, namely Define, Design, Development, Disseminate. Subjects in this study were the students of class XII SMK Kosgoro 1 Balongbendo who followed the lesson of the AC car system. Instrument used to measure the improvement of student learning outcomes in the form of test trials conducted on students class XII Light Vehicle Engineering SMK Kosgoro 1 Balongbendo by providing pre-test and post-test. The result from the research that has been done are: validation result of modification level of module from material expert lecturer 80%, material expert validation 94% and material expert validation 94% average validation score from all validator obtained percentage equal to 88% entered in the category is very feasible. The result of the pre-test of students gets the percentage of 38% and post-test after the given module gets an average of 81%. Student activity, from observations that have been carried out by 3 observers shows the results of the average score of student activity get a score of 81.7% which is in the category "Very Active". Student learning outcomes from pre-test to post-test experienced an increase in the number of students who completed learning in the pre-test of the number of students who scored above the KKM as many as 0 students with a percentage of 0% and unfinished students as many as 23 students with a percentage of 100% while in the post-test stage there were 21 students who scored above the KKM as many as 21 students with a percentage of 91.3% while not yet complete as many as 2 students with a percentage of 8.7% Keywords: module development, AC system, learning activity, learning outcomes.
PENGEMBAGAN MEDIA PEMBELAJARAN AUTOMATIC INJECTOR TESTER AND CLEANER PADA MATA PELAJARAN PRAKTIK INJEKSI MOTOR BENSI DI SMK NEGERI 1 JABON SIDOARJO BAKHRUL ILMI, MOHAMMAD; MADE ARSANA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada saat ini teknologi sistem injeksi bukan lagi hal yang baru bagi semua orang, perkembangan teknologi dalam bidang ini sangat erat kaitanya dengan tenologi terbaru dalam memaksimalkan penggunaan bahan bakar pada engine motor bensin dengan menggunakan input data dari sensor-sensor dan pengaturan secara elektronik. Proses belajar yang masih menggunakan model pembelajaran ceramah tanpa menggunakan media penunjang belajar, sehingga respon siswa terhadap proses pembelajaran menjadi terasa membosankan, hal tersebut berpengaruh terhadap menurunnya semagat dan ketertarikan dalam belajar siswa. Berdasarkan kasus tersebut dikembangkan suatu media dengan menggunakan media pembelajaran Automatic Injector Tester and Cleaner yang mana berdasarkan hasil dari beberapa penelitian dapat meningkatkan keterampilan dan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan Jenis penelitian ini adalah Research and Deevelopment yang menggunakan dua siklus dengan subjek penelitian siswa kelas XI TKR SMK Negeri 1 Jabon tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 33 siswa. Variabel dalam penelitian ini adalah hasil respon siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket, dan data yang di peroleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Tujuan mengetahui validitas dan respon siswa terhadap Pengembangan Media Pembelajaran Automatic Injector Tester and Cleaner Pada Mata Pelajaran Praktik Injeksi Motor Bensin Kelas XI Jurusan TKR SMK Negeri 1 Jabon. Maka trainer automatic injector tester akan mempermudah peserta didik dalam mempelajari dan merawat komponen sistem injeksi. Salah satunya utuk menguji hasil semprotan bahan bakar pada injektor pada trainer sistem injeksi. Dengan trainer ini siswa akan lebih aktif karena dapat melakukan praktik pada trainer tersebut. Dengan demikian peserta didik menjadi tidak jenuh dan lebih mudah dalam memahami materi yang di ajarkan dalam proses belajar mengajar.Kata kunci: media pembelajaran automatic injector tester and cleaner, jobsheet, validitas, responAbstractAt present injection system technology is no longer new to everyone, technology development in this area is very closely related to the latest tenology in maximizing fuel use in petrol engine engines by using data inputs from sensors and electronic settings. The learning process is still using the lecture learning model without the use of learning support media, so the students response to the learning process becomes boring, it affects the downturn and interest in student learning. Based on the case, a media was developed by using the Automatic Injector Tester and Cleaner learning media which based on the results of several studies can improve the students skills and understanding of the material provided. This research type is Research and Development which uses two cycles with the subject of XI TKR SMK Negeri 1 Jabon school year 2018/2019 amounting to 33 students. Variables in this study are the results of student responses. Technique of collecting data that used is observation, questionnaire, and data that get and then analyzed descriptively. The purpose of knowing the validity and response of the student to the Learning Instruction of Automatic Injector Tester and Cleaner Learning In The Class of Gasoline Motor Injection Practice Class XI Department TKR SMK Negeri 1 Jabon. Then the automatic injector tester trainer will facilitate learners in studying and treating injection system components. One of them is to test fuel injection results on injectors on injection system trainers. With this trainer students will be more active because they can practice the trainer. Thus learners become unsaturated and easier to understand the material taught in the teaching and learning process.Keywords: learning media automatic injector tester and cleaner, jobsheet, validity, response
KOMPARASI KARAKTERISTIK BIOETANOL GEL DENGAN PENGENTAL KARBOPOL DAN CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF HANUN, VIRGINIA; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komparasi Karakteristik Bioetanol Gel Dengan Pengental Karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) Sebagai Bahan Bakar Alternatif Virginia Hanun S1 Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: virgniahanun@mhs.unesa.ac.id Dwi Heru Sutjahjo Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: dwiheru@unesa.ac.id Abstrak Menipisnya cadangan bahan bakar minyak khususnya bahan bakar yang tidak dapat diperbarui (unrenewable) dapat dicegah dengan cara melakukan usaha penghematan dan mencari sumber energi alternatif. Bioetanol merupakan produk etanol yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara bioteknologi. Mengubah bioetanol cair menjadi bioetanol gel diharapkan selama pembakaran tidak berasap, tidak menimbulkan jelaga, memudahkan dalam pengemasan dan juga pendistribusian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan prosentase Karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) yang dihasilkan dan menganalisa nilai ekonominya. Penelitian ini menggunakan metode. Obyek penelitian ini adalah karakteristik bioetanol gel dengan pengental karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Penelitian dilakukan melalui tahap persiapan, tahap pembuatan bioetanol gel, tahap pengujian karakteristik bioetanol gel dan analisa. Tahap pengujian menggunakan metode ASTM meliputi nilai kalor (D 240), Titik nyala api (D 92), kadar air (D 6304-07), kadar abu (D 482), kerapatan (D 792-13), Specific Gravity (D 891-09) dan lama nyala api menggunakan Stopwatch. Uji karakteristik bioetanol gel dilakukan dengan masing-masing sampel terdiri dari 100 ml bioetanol, 100ml aquades, serta variasi berat pengental 3 gram, 4, gram, 5 gram, dan 6 gram. Berdasarkan pengujian, bioetanol gel menggunakan pengental Carboxy Methyl Cellulose (CMC) pada sampel 2D menunjukkan nilai hasil uji karakteristik yang lebih baik jika dibandingkan dengan sampel lainnya. Semakin banyak penambahan bahan pengental akan membuat nilai karakteristik bioetanol gel semakin baik. Secara keseluruhan, bioetanol gel dinilai lebih ekonomis daripada bahan bakar paraffin karena selisih harga bioetanol gel dengan paraffin cukup banyak yaitu Rp.9.799/Kg. Kata kunci : Bioetanol gel, Karbopol, Carboxy Methyl Cellulose (CMC), Bahan bakar alternatif, Karakteristik bioetanol gel. Abstract Depletion of the reserves of fuel oil in particular fuel that cannot be updated (unrenewable) can be prevented by means of doing business savings and look for alternative energy sources. Bioetanol is a product of ethanol produced from biological raw materials and other biomass processed in biotechnology. Change liquid into gel bioetanol bioetanol expected during burning smokeless, soot does not cause, facilitate in packaging and distribution as well. This research aims to analyze the influence of the addition of Karbopol and percentage Carboxy Methyl Cellulose (CMC) produced and analyzes its economic value. This research uses the method. The object of the research is characteristic of bioetanol gel thickener with karbopol and Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Research is done through the preparation phase, the phase of making bioetanol gel, gel bioetanol characteristics testing phase and analysis. Test method ASTM phase includes a heat value (240 D), flame Point (D 92), moisture content (D 6304-07), the levels of gray (d. 482), density (D 792-13), Specific Gravity (D 891-09) and old flame using a Stopwatch. Test characteristics bioetanol gel is done with each sample consisted of 100 ml aquades 100 ml, bioetanol, as well as variations in weight thickener 3 grams, 4, grams, 5 grams and 6 grams. Based on testing, using gel thickener bioetanol Carboxy Methyl Cellulose (CMC) on 2D sample test result value shows better characteristics when compared to other samples. The more the addition of thickening will make the value of the characteristic bioetanol gel the better. Overall, bioetanol gel rated more economical than paraffin fuel due to price difference bioetanol gel with paraffin quite a lot that is Rp. 9.799/Kg. Keywords: Bioetanol gel, Karbopol, Carboxy Methyl Cellulose (CMC), alternative fuels, bioetanol gel Characteristics. PENDAHULUAN Angka pertambahan penduduk semakin bertambah mengakibatkan semakin menipisnya cadangan bahan bakar minyak khususnya bahan bakar fosil yang merupakan bahan baku untuk bahan bakar minyak, bensin dan beberapa produk kimia lainnya yang tidak dapat diperbarui (unrenewable). Mengingat energi bahan bakar sangatlah mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia saat ini, terutama pada sektor rumah tangga, sektor transportasi, dan juga sektor industri. Oleh karena itu, kelangkaan bahan bakar dapat dicegah dengan usaha penghematan energi dan mencari energi alternatif atau energi pengganti lainnya yang bersifat dapat diperbarui. Kebutuhan energi primer dunia diperkirakan akan meningkat cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi dunia (World Energy Outlook, 2013. IEA). Pada tahun 2011 kebutuhan energi fosil tercatat sebesar 10.668 juta TOE atau 82% dari total kebutuhan, dan meningkat menjadi sebesar 14.898 juta TOE pada tahun 2035 meskipun pangsanya turun menjadi sebesar 80%. Pada periode tahun 2011 sampai dengan 2035 kebutuhan batubara mengalami peningkatan terbesar dibanding bahan bakar fosil lainnya dan mulai tahun 2020 mengambil alih peran minyak atau terbesar dalam bauran energi primer. Pada tahun 2011 penggunaan batubara sebesar 3.773 juta TOE dan meningkat 44% pada tahun 2035. Bahan bakar minyak masih tetap menjadi bahan bakar yang penting dalam bauran energi primer global, meskipun pangasanya turun dari 31% pada tahun 2011 menjadi 27% pada tahun 2035. Kebutuhan minyak global pada tahun 2011 diperkirakan sebesar 86.7 Mb/d dan meningkat menjadi 101.4 Mb/d pada tahun 2035. Sumber: Dewan Energi Nasional Republik Indonesia. Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang tinggi yang dapat menghasilkan bioetanol dalam jumlah yang besar. Potensi bioetanol menurut Kementrian ESDM (2012), sumber yang berasal dari bahan bakar nabati yang berasal dari molases dan singkong dengan tingkat produksi hingga 15.5 juta ton atau setara dengan 17.8 juta SBM. Bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang sangat potensial karena sumbernya mudah untuk diperbarui. Menurut Peraturan Menteri ESDM NO.25 Tahun 2013 pengertian bioetanol adalah produk etanol yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara bioteknologi. Sedangkan menurut Sutjahjo (2010), bioetanol adalah bahan bakar etanol (C2H5OH) yang diproduksi dari bahan bakar nabati. Bioetanol merupakan suatu cairan bening yang tidak berwarna, apabila digunakan tidak menyebabkan polusi lingkungan, dan apabila dibakar sempurna, bioetanol menghasilkan gas asam arang (CO2) dan air (H2O). Bahan baku untuk produksi bioetanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman dan limbah. Pembuatan etanol di Indonesia semakin berkembang sehingga produksi etanol semakin meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menunjukkan besarnya ekspor bioetanol sebesar 25.590 ton. Berdasarkan data BPS tersebut menunjukkan bioetanol sangat cocok untuk dikembangkan lebih besar lagi. Beberapa kendala yang harus dihadapi apabila kita akan menggunakan untuk kepentingan masyarakat dikarenakan bioetanol hanya diproduksi di daerah tertentu, tidak setiap daerah di Indonesia memproduksinya. Bioetanol cair pada dasarnya cukup beresiko apabila didistribusikan dalam drum, karena bioetanol yang berwujud cair lebih beresiko mudah tumpah dan juga mudah meledak karena sifat bioetanol cair yang volatil. Untuk membuat bioetanol aman digunakan untuk pemakaian dan pendistribusian maka bioetanol cair di rubah menjadi bioetanol gel. Untuk membuat bioetanol gel dibutuhkan kalsium asetat, atau pengental lainnya seperti xanthan gum, karbopol, CMC , EZ-3 polimer dan berbagai material turunan selulosa Tambunan. Bioetanol gel memeliki beberapa kelebihan dibanding bahan bakar padat briket maupun parafin yaitu terbarukan, selama pembakaran tidak berasap, tidak menimbulkan jelaga. Bentuk dari bioetanol gel memudahkan dalam pengemasan dan juga pendistribusian. Menurut Lioyd and Visiage bioetanol gel membantu mengatasi masalah sedikitnya energi sehingga kemudian bisa menjadi alternatif bahan bakar. Bioetanol bila ditinjau dari segi emisi polutan yang dihasilkan sangat rendah sehingga membantu mengatasi permasalahan pada saat kita akan menggunakan untuk memasak. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan Mulyono (2010). "Pembuatan Etanol Gel Sebagai Bahan Bakar Padat Alternatif" menggunakan variasi etanol menunjukkan hasil konsentrasi etanol 70% lebih tinggi apabila dibandingkan dengan konsentrasi etanol 65% yaitu nilai kalor sebesar 82.105 kal/gr, lama nyala api selama 7.4 menit dengan etanol gel 5 gr. Berdasarkana penelitian sebelumnya yang telah dilakukan Ariyani (2013) "Perbandingan Karbopol dan Karboksimetil Sellulosa Sebagai Pengental Pada Pembuatan Bioetanol Gel" dengan konsentrasi bioetanol sebesar 70%, variasi karbopol sebesar 1.5 , 3, 4.5, 6 gram menyimpulkan bahwa semakin tinggi karbopol maka lama nyala api semakin meningkat yaitu pada karbopol tertinggi nilainya 5.28 menit/5gr , sedangkan semakin rendah karbopol maka semakin rendah lama nyala api sebesar 3.6 menit/5gr. METODE Jenis Penelitian Dalam penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu penelitian dengan cara mencari suatu hubungan sebab akibat antara beberapa faktor yang saling berpengaruh. Eksperimen dalam penelitian ini dilaksanakan di laboratorium dengan kondisi dan peralatan yang disesuaikan guna memperoleh data tentang karakterisasi bioetanol, bioetanol gel dengan pengental karbopol, dan bioetanol gel dengan pengetal Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian · Pembuatan bioetanol gel dilakukan di Laboratorium Bahan Bakar dan Pelumas jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. · Pengujian flash point, lama nyala api, kerapataan massa dan specific gravity dilakukan di Laboratorium Bahan Bakar dan Pelumas jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. · Pengujian nilai kalor, kadar abu, dan kadar air dilakukan di Laboratorium Motor Bakar jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang. Objek penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah bioetanol murni dengan kadar 96%, serta penambahan karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebagai pengental bioetanol. Variabel Penelitian Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya Sugiono (2010). Variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: · Variabel kontrol Variabel kontrol adalah variabel yang digunakan untuk mengendalikan variabel yang lain. Variabel kontrol dalam penelitian pembuatan bioetanol gel adalah: · Bioetanol dengan kadar 96%. · Proses pembuatan bioetanol gel memakai temperatur + 27ºC. · Kecepatan pengadukan 1000 rpm dengan waktu 25 menit. · Variabel terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi. Dalam penelitian ini variabel terikatnya yaitu nilai kalor (heating value), kadar air (moisture content), kerapatan, Spesific Gravity, kadar abu (ash content), titik nyala (flash point), dan lama nyala api. · Variabel bebas Variabel bebas adalah variabel yang mendahului atau variabel penyebab. Variabel bebas dalam penelitian pembuatan bioetanol gel adalah karbopol untuk sampel 1 dan Carboxyl Methyl Cellulose (CMC) untuk sampel 2 dengan takaran dan jumlah yang divariasi sebagai berikut: Tabel 1. Variabel Bioetanol sampel 1 No Bahan Variabel 1A 1B 1C 1D 1 Bioetanol 96% (ml) 100 100 100 100 2 Aquades (ml) 100 100 100 100 3 Karbopol (gr) 3 4 5 6 Tabel 2 Variabel Bioetanol sampel 2 No Bahan Variabel 2A 2B 2C 2D 1 Bioetanol 96% (ml) 100 100 100 100 2 Aquades (ml) 100 100 100 100 3 CMC (gr) 3 4 5 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data hasil penelitian yang disajikan merupakan nilai dari hasil pengujian pada masing-masing sampel. Hasil peneitian ini meliputi pengujian diantaranya nilai kalor, titik nyala api, lama nyala api, kadar air, kadar abu, kerapatan massa, dan spesific gravity. Data dan hasil Analisis penelitian disajikan dalam tabel dan grafik. Tabel 3. Data hasil pengujian karakteristik bioetanol gel. Sehingga dari semua pengujian dapat diketahui bahwa penambahan variasi berat pengental maupun jenis pengental dapat mempengaruhi nilai karakteristik bahan bakar bioetanol gel. Hasil dan Pembahasan · Nilai Kalor Pengujian nilai kalor perlu diketahui dalam pembuatan bioetanol gel, karena untuk mengetahui nilai panas pembakaran yang dihasilkan oleh bioetanol gel tersebut. Semakin tinggi nilai kalor yang dihasilkan oleh bahan bakar tersebut, maka akan semakin baik pula kualitasnya. Gambar 1. Grafik Nilai Kalor Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa nilai kalor dari bioetanol gel Carboxy Methyl Cellulose (CMC) lebih tinggi daripada bioetanol gel dengan pengental karbopol secara keseluruhan. Nilai kalor yang paling optimum yaitu sebesar 5232 kal/gr dengan komposisi bahan pengental Carboy Methyl Cellulose (CMC) sebesar 6 gram, 100 ml bioetanol dan 100 ml aquades. · Titik Nyala Api Titik nyala api merupakan temperatur terendah dari suatu bahan bakar untuk dapat diubah bentuk menjadi uap dan akan menyala (terbakar sekejap) bila terpapar busi pijar atau panas api. Pada dasarnya pengujian ini digunakan untuk keamanan, untuk mengetahui sampai suhu berapakah orang dapat bekerja dengan aman tanpa adanya bahaya kebakaran. Gambar 2. Grafik Titik Nyala Api Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 2 menunjukkan bahwa, semakin tinggi komposisi bahan pengental pada bioetanol gel maka titik nyala api semakin tinggi. Tingginya titik nyala api depengaruhi oleh adanya bahan pengental yang mengikat oksigen sehingga bahan bakar tidak mudah terbakar pada suhu rendah. · Lama Nyala Api Lama nyala api merupakan perhitungan waktu dari bahan bakar bioetanol gel menyala dalam sekejap saat pengujian titik nyala api. Pengujian ini mengambil 5 gram bioetanol gel dari setiap sampel, secara grafis hasil pengujian lama nyala api adalah sebagai berikut: Gambar 3. Grafik Lama Nyala Api Bioetanol Gel. Lamanya nyala api pada bioetanol gel dipengaruhi oleh banyaknya bahan pengental karbopol maupun Carboxy Methyl Cellulose (CMC) yang dicampur dengan aquades dan bioetanol. Semakin banyak bahan pengentalnya maka lama nyala api semakin berkurang. · Kadar Air Kadar air (moisture content) bahan bakar merupakan jumlah air yang terdapat pada bahan bakar, dinyatakan sebagai presentase berat material. Berat tersebut dapat disebut sebagai berat basah dan juga berat kering. Jika kadar air ditentukan atas dasar basah, berat air dinyatakan sebagai presentase dari jumlah berat air, abu, dan bebas dari abu dalam keadaan kering. Secara grafis hasil pengujian kadar air pada bioetanol gel adalah sebagai berikut: Gambar 4. Grafik Kadar Air Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 4 menunjukkan bahwa secara kesuluruhan, kadar air pada bioetanol gel dengan pengental Carboxy Methyl Cellulose (CMC) lebih tinggi daripada bioetanol gel dengan pengental karbopol. Kadar air tertinggi yaitu 74% pada sampel 2A dengan komposisi Carboxy Methyl Cellulose (CMC) 3 gr, bioetanol 100 ml dan aquades 100 ml sedangkan kadar air terendah yaitu 65% pada sampel 1D dengan komposisi karbopol 3 gr, bioetanol 100 ml dan aquades 100 ml. · Kadar Abu Kadar abu merupakan bagian dari sisa pembakaran yang sudah tidak memiliki unsur karbon. Semakin tinggi kadar abu maka semakin rendah kualitas bioetanol gel karena semakin tinggi kadar abu dapat menurunkan nilai kalor suatu bahan bakar. Gambar 5. Grafik Kadar Abu Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 5 nilai kadar abu pada pengujian bioetanol gel secara keseluruhan menunjukkan bahwa bioetaol gel dengan pengental karbopol memiliki kadar abu yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kadar abu pada bioetanol gel dengan pengental Carboxy Methyl Cellulose (CMC). · Densitas Densitas merupakan suatu besaran yang dinyatakan sebagai perbandingan massa dengan volume suatu benda. Kerapatan mempengaruhi nilai bakar suatu bahan bakar seperti bioetanol gel. Besar kecilnya nilai kerapatan dipengaruhi oleh ukuran dan keseragaman ukuran partikel. Hasil pengujian kerapatan massa pada bioetanol gel dapat dilihat pada gambar 4.6 sebagai berikut: Gambar 6. Grafik Densitas Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 6 nilai kerapatan jenis secara keseluruhan bioetanol gel dengan pengental Carboxy Methyl Cellulose (CMC) lebih tinggi jika dibandingkan dengan bioetanol gel dengan pengental karbopol. · Specific Gravity Specific Gravity merupakan sebuah perbandingan atau rasio antara kerapatan massa suatu substansi dengan kerapatan massa substansi standar Gambar 7. Grafik Specific Gravity Bioetanol Gel. Berdasarkan gambar 7, menunjukkan grafik spesific gravity dengan hasil perhitungan dimana kerapatan massa telah diketahui dari grafik gambar 4.6 dan 1000 kg/m³ sebagai pembaginya. Hasil perhitungan specific gravity diatas sudah memenuhi syarat yaitu dibawah 1. PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian, pengujian, dan analisa bioetanol gel dengan pengental karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dapat diambil simpulan sebagai berikut: · Pengaruh penambahan berat (gram) karbopol yang terdapat pada kualitas bioetanol gel yang terbaik yaitu pada penambahan karbopol sebesar 6 gram dimana didalam pengujian memiliki nilai kalor sebesar 4137,776 kal/gr, titik nyala api pada suhu 84°C, nyala api selama pembakaran selama 190 detik, kadar air sebesar 65%, memiliki nilai kadar abu sebesar ,6%, nilai densitas sebesar 945 kg/m3 dan yang terkahir memiliki nilai specific gravity sebesar 0,945. Semakin banyak penambahan karbopol maka semakin baik pula kualitas pembakaran bioetanol gel yang dihasilkan. · Pengaruh penambahan berat (gram) Carboxy Methyl Cellulose (CMC) terhadapat kualitas bioetanol gel yang terbaik yaitu pada penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebesar 6 gram dimana didalam pengujian memiliki nilai hasil sebesar 5232,721 kal/gr yang terdapat pada nilai kalor, titik nyala api baru terbakar pada suhu 85°C, nyala api selama pembakaran selama 185 detik, kadar air sebesar 68%, memiliki nilai kadar abu sebesar 12,4%, nilai densitas menghasilkan nilai sebesar 945 kg/m3 dan yang terkahir memiliki nilai specific gravity sebesar 0,945. Semakin banyak penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) maka semakin baik pula kualitas pembakaran bioetanol gel yang dihasilkan. · Berdasarkan uji karakteristik dan perhitungan biaya produksi bioetanol gel dengan pengental karbopol dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC), menunjukkan bahwa bioetanol Gel dengan pengental Carboxy Methyl Cellulose (CMC) pada sampel 2D dinilai layak jika dibandingkan dengan bahan bakar pada paraffin karena mempunyai nilai karakteristik terbaik yaitu nilai kalor sebesar 5232.721 kal/gr, titik nyala api 85°C, lama nyala api 185 detik, kadar air 68%, kadar abu 12.4%, densitas 945 kg/m³ dan specific gravity 0.945 serta biaya produksi sebesar Rp.23.815/Liter atau Rp. 25.201/Kg sedangkan harga paraffin dipasaran cukup mahal yaitu Rp. 35.000/Kg. Bioetanol gel dinilai lebih ekonomis daripada bahan bakar paraffin karena selisih harga bioetanol gel dengan paraffin cukup banyak yaitu Rp.9.799/Kg. · Bioetanol gel mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya yaitu tidak mudah terbakar, tidak berjelaga, tidak menimbulkan asap dan praktis karena bentuknya berupa gel mudah dibawa. SARAN Saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut: · Perlu diadakan peelitian lagi mengenai bioetanol gel dengan menggunakan bahan pengental lainnya untuk mengetahui bahan pengental manakah yan terbaik untuk meningkatkan kualitas bioetanol gel. · Perlu adanya penambahan parameter pengujian untuk mengetahui karakteristik bahan bakar gel lebih detail. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2004. Annual Book Of ASTM Standards. Gaseous Fuels; Coal and Coke Vol. 05.06 No. D1070-03 - D6883-04 Ariyani, Sukma Budi dan Nana Supriyatna. 2013. Perbandingan Karbopol dan Karboksimetil Selulosa Sebagai Pengental Pada Pembuatan Bioetanol Gel. Pontianak: Jurnal Biopropal Industri Vol 4 No 2, 59-64 Dewan Energi Nasional Republik Indonesia. 2014. Outlook Energi Indonesia. Jakarta: Kementrian ESDM. Direktorat Bioenergi Dirjen EBTK Kementrian ESDM, 2013. Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Bioetanol, Jakarta: Direktorat Jendral EBTK Kementrian ESDM. 2012. Kajian Supply Demand Energy. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian ESDM. Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi. 2008. Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi No: 23204.K/10/DJM.S/2008.Jakarta: Kementrian ESDM Lioyd, P.J.D and Visagie, E.M. A comparison of gel fuels with alternative cooking fuels. South Africa: Vol 18 No 3 pp. 26-31 Mulyono. 2010. Pembuatan ethanol gel sebagai bahan bakar padat alternatif. Surakarta: Skripsi Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Permen ESDM. 2008. Permen ESDM No.32/2008. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian ESDM. Perry, Robert H. 1984. Perry?s Chemical Engineering Handbook. Singapura: McGraw-Hill Sugiono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: AlfaBeta Sutjahjo, Dwi Heru. 2007. Diktat Kuliah Bahan Bakar dan Teknik Pembakaran, Universitas Negeri Surabaya. Tambunan, L. A. 2008. Bioetanol Antitumpah. Trubus. 2008. Vol XXXIX.pp.24-25.
OPTIMALISASI WAKTU KERJA MEKANIK PADA SERVICE MOBIL DENGAN METODE WORK SAMPLING DI BENGKEL LIEK SATU INVICTA TOYOTA PAMEKASAN DWI LESTARI, TIARA; , ISKANDAR
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK OPTIMALISASI WAKTU KERJA MEKANIK PADA SERVICE MOBIL DENGAN METODE WORK SAMPLING DI BENGKEL LIEK SATU INVICTA TOYOTA PAMEKASAN Nama : Tiara Dwi Lestari NIM : 14050524012 Prodi/Konsentrasi : S1 Pendidikan Teknik Mesin Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknik Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Dosen Pembimbing : Iskandar, S.T., M.T. PT. Liek Satu Invicta Toyota Pamekasan merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa pemasaran, penjualan, layanan jasa perbaikan perawatan dan penyediaan suku cadang. Jasa perawatan perbaikan merupakan kebutuhan primer untuk menunjang kegiatan di perusahaan. Perawatan dan perbaikan mobil harus dikerjakan dengan tenaga-tenaga teknis yaitu mekanik yang handal. Mekanik dalam sehari ditargetkan menyelesaikan service berkala non keluhan sebanyak 5 unit mobil. Dan target waktu yang harus diselesaikan adalah 75 menit. Akan tetapi ada beberapa mekanik yang tidak mengerjakan service berkala sesuai dengan target perusahaan. Ini akan menyebabkan waktu tunggu konsumen akan menjadi lama. Dan konsumen akan kehilangan peluang untuk melakukan aktifitas lain. Hal ini memang tidak bisa dihindarkan kecuali jika perusahaan mengambil tindakan konkret. Untuk itu pada penelitian ini berusaha menyelesaikan masalah jam kerja mekanik agar optimal. Pada penelitian ini, pengoptimalan jam kerja mekanik dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode Work Sampling. Work Sampling merupakan metode pengamatan pekerjaan yang sifatnya berulang atau memiliki waktu yang relatif panjang. Hasil penelitian yang dilakukan menggunakan Metode Work Sampling didapatkan waktu baku SBE 10.000 KM adalah 81,47. Sedangkan pengukuran waktu baku untuk SBE 20.000 KM didapatkan waktu 84,73 menit. Dari data perusahaan waktu standar kerja mekanik adalah 75 menit. Sedangkan dari analisa yang didapat dilapangan waktu baku SBE 10.000 KM dan 20.000 KM melebihi waktu standar yang ditentukan oleh perusahaan. Akar utama penyebab waktu menjadi lama karena mekanik yang sebagian besar tidak memahami sikap kerja yang bagus, dan peletakan peralatan atau kunci tidak konsisten dengan prosedur. Kata kunci : waktu baku, Work Sampling, dan waktu standar PerusahaanABSTRACT OPTIMIZATION OF WORKING TIME AS MECHANICAL ON CAR SERVICE BY USING WORK SAMPLING METHODE AT THE LIEK SATU INVICTA TOYOTA PAMEKASAN Name : Tiara Dwi Lestari NIM : 14050524012 Study Program : Bachelor of Education Mechanical Engineering Concentration : Automotive Department : Mechanical Engineering Faculty : Engineering Instution : Surabaya State University Pembimbing : Iskandar, S.T., M.T. PT. Liek Satu Invicta Toyota Pamekasan is a company engaged in marketing services, sales, maintenance repair services and supply of spare parts. Repair care services are primary needs to support activities in the company. Car maintenance and repairs must be carried out with technical personnel, namely reliable mechanics. Mechanics in a day are targeted to complete 5 units non-complaint periodic service . And the target time to be completed is 75 minutes. However, there are some mechanics who do not work periodically according to the companys target. This will cause consumers to wait longer. And consumers will lose the opportunity to do other activities. This is inevitable unless the company takes concrete action. For this reason, this research tries to solve the problem of mechanical working hours in order to be optimal. In this study, optimization of mechanical work hours is done using the Work Sampling method. Work Sampling is a method of observing work that is repetitive or has a relatively long time. The results of research conducted using the Work Sampling Method found that the 10,000 KM standard SBE standard was 81.47. While the standard time measurement for SBE 20,000 KM is 84.73 minutes. From the company data the standard mechanical work time is 75 minutes. Whereas from the analysis obtained in the field, the SBE standard time is 10,000 KM and 20,000 KM is more than the standard time determined by the company. The main root causes time to be long because mechanics who mostly do not understand good work attitudes, and laying down equipment or keys are not consistent with the procedure. Keywords: Standard Time, Work Sampling, and Company Standard Time
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN CNC MILLING DENGAN PENGATURAN TITIK AWAL PAHAT PADA POSISI CENTER DI SMK NEGERI 5 SURABAYA DHIMAS WIDAYANTO, LUTHFI; YASA UTAMA, FIRMAN
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya media dan pemahaman siswa mengenai pemrograman CNC milling 3A pada pembahasan pengaturan titik awal pahatt pada posisi center dalam proses pembelajaran mata pelajaran CNC. Merujuk dari permasalahan tersebut peneliti membuat modul yaitu ?Modul Pembelajaran CNC Milling Dengan Pengaturan Titik Awal Pahat Pada Posisi Center Menggunakan Software Mach3? yang nantinya sebagai penunjang dalam proses pembelajaran sehingga membantu siswa secara individual mencapai tujuan belajar pada suatu proses pembelajaran. Modul pembelajaran yang akan diterapkan, nantinya dikembangkan menggunakan model pengembangan 4-D (four D model) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu: (1) penetapan (Define), (2) perancangan (Design), (3) pengembangan (Develop), dan (4) penyebaran (Disseminate). Tahap pendefinisian meliputi analisis awal akhir, analisis siswa,analisis konsep, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. Tahap perancangan terdiri dari penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal (desain awal). Pada tahap pengembangan terdiri dari validasi modul oleh dosen ahli, angket respon siswa, dan soal pretest postest untuk siswa. Sedangkan untuk penyebaran tidak dilakukan dikarenakan terbatasnya waktu penelitian. Hasil penelitian menunjukkan (1) persentase penilaian modul sangat layak digunakan (2) siswa menunjukkan respon positif terhadap modul yang dikembangkan (3) hasil belajar dari siswa mengalami peningkatan dengan kategori baik. Kata kunci: Modul CNC Milling, Software Mach3, Validasi Modul, Hasil Belajar Siswa, Respon Siswa. Abstract This research is based on the lack of media and students understanding of CNC milling 3A programming at the initial stage of the implementation of the central point in the learning process of CNC subjects. Referring from the problem the researcher make modules that is "CNC Milling Learning Module with Chisel Starting Point on Middle Position Using Mach3 Software" which then as a support in the learning process helps individuals to achieve the learning process. The learning module that will be implemented will then be developed using a 4-D development model (four-D models) consisting of 4 stages: (1) Define, (2) design (3), (3) development, and (4) distribution (Disseminate).The stage of defining the final initial completion, student analysis, concept analysis, task analysis, and specification of learning objectives. The design stage consists of the preparation of tests, media selection, format selection, and initial design (initial design). In the development stage consists of module validation by expert experts, student response questionnaires, and pretest posttest questions for students. Whereas for collection is not done because of the limited time for research.The results of this research indicats (1) developed module products are very feasible to use (2) students showed a positive response to the developed module (3) the learning outcomes of the improvement students with good category. Keywords: transmission module, 4 d learning (four D model), the results of the study
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN CNC MILLING MENGGUNAKAN SOFTWARE MACH3 PADA MATA PELAJARAN CNC DI SMK NEGERI 5 SURABAYA GUNTUR CHRISARDY, ELISA; YASA UTAMA, FIRMAN
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode penelitian ini mengacu pada pengembangan model 4-D yang memiliki empat tahap ialah Define (Pendefinisian), Design (Perencanaan), Develop (Pengembangan), Disseminate (Penyebaran), tetapi dalam penelitian pengembangan modul ini peneliti tidak menggunakan tahap Disseminate (Penyebaran). Subyek penelitian yaitu siswa Kelas XII TPm SMK Negeri 5 Surabaya yang mengikuti Mata Pelajaran CNC. Instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa lembar angket validasi modul. Hasil analisis data validasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakaan modul pembelajaran CNC Milling Menggunakan Software Mach3 yang dihasilkan. Hasil penelitian dengan dukungan software Mach3 menunjukkan skor validasi modul oleh dosen/pengajar kompetensi materi sebesar 3.64, kompetensi bahasa sebesar 3.8 dan kompetensi desain sebesar 3.26 , di mana persentase tersebut jika diinterpretasikan pada Skala Likert, masuk dalam kriteria sangat layak. Hasil respon siswa diperoleh dengan presentase sebesar 92% dengan kriteria sangat baik. Hasil belajar tahap pertama sebelum menggunakan modul persentase nilai belum memenuhi kriteria dengan nilai rata-rata 63,91 pada tahap kedua setelah pembelajaran menggunakan modul mendapatkan nilai rata-rata 79,68 dan tahap ini mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan terdapat peningkatan hasil belajar pada siswa kelas XII jurusan Teknik Pemesinan SMK Negeri 5 Surabaya.Kata Kunci: Validasi Modul, Respon Siswa, Hasil Belajar Siswa
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR OTOMOTIF (TDO) PADA SISWA KELAS X TKR I DI SMK NEGERI 1 MOJOKERTO YUSUF, AHMAD; MADE ARSANA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR OTOMOTIF (TDO) PADA SISWA KELAS X TKR I DI SMK N 1 MOJOKERTO Nama : Ahmad Yusuf NIM : 14050524003 Program Studi : S1 Pendidikan Teknik Mesin Kosentrasi : Otomotif Jurusan/Fakultas : Teknik Mesin/Fakultas Teknik DosenPembimbing : Dr. I Made Arsana, M.T. Berdasarkan pengalaman pada saat Program Pengelolaan Pembelajaran (PPP) dan observasi di sekolah SMK Negeri 1 Mojokerto proses pendidikan masih menggunakan model pembelajran konvensional sehingga kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, dimana pembelajaran lebih didominasi oleh keterlibatan guru. Oleh sebab itu, aktivitas siswa terhadap proses pembelajaran rendah, hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang masih rendah dengan ditunjukkan aktivitas belajar peserta didik yang kurang aktif dan cenderung pasif. Berdasarkan masalah tersebut dikembangkan suatu model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan dua siklus dengan subjek penelitian kelas X TKR SMK Negeri 1 Mojokerto tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 36 peserta didik. Pada mata pelajaran Teknik Dasar Otomotif (TDO) kompetensi dasar yang di ajarkan adalah memahami rangkaian kelistrikan sederhana yang dilakukan dalam dua siklus yang tiap siklus terdapat tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I materi yang diajarkan adalah rangkaian kelistrikan seri-pararel sedangkan pada siklus II materi yang diajarkan yaitu rangkain kelistrikan gabungan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes yang diaplikasikan dalam bentuk instrumen penelitian. Hasil penelitian Aktivitas peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus I sebesar 60,4% dan meningkat di siklus II menjadi 78%. Kemudian untuk hasil belajar peserta didik, ranah kognitif pada siklus I sebesar 61% dan meningkat di siklus II dengan hasil 86%. Kata Kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Siswa ABSTRACT THE APPLICATION OF PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TO INCREASE THE LEARNING OUTCOMES OF AUTOMOTIVE BASIC TECHNIQUES IN GRADE X TKR I OF SMK N 1 MOJOKERTO Name : Ahmad Yusuf Number : 14050524003 Study Program : S1 Mechanical Engineering Education Consentration : Automotive Department/Faculty : Mechanical Engineering/ Engineering Advisor : Dr. I Made Arsana, M. T. Based on experience during the Learning Management Program and school observations at SMK Negeri 1 Mojokerto, teaching and learning process used the conventional models that dominated by teacher and made the students less active. Therefore, the low activity of students towards the learning process affected students learning outcomes that were still low by showing learning activities of students who were less active and tend to be passive. Based on these problems, this research is aimed to develop a teaching and learning model which improve the quality of the teaching and learning process by applying Problem Based Learning model. This research based on Classroom Action Research (CAR) which used two cycles. The research trials were conducted on 36 students of SMK Negeri 1 Mojokerto grade X TKR in the 2018/2019 school year. In the Basic Automotive Engineering subject, the basic competencies are understanding the simple electrical circuit that is carried out in two cycles, each cycle of which is planning, implementing, observing and reflecting. The cycle I of material was a series of parallel electrical series, while in second cycle of the material was a series of electrical joints. Data collection techniques used the observation and tests which applied in the form of research instruments. The results of the students? activities with the application of Problem Based Learning model in the first cycle was 60.4% and increased in the second cycle to 78%. Then for the students learning outcomes, the cognitive domain in the first cycle was 61% and increased in the second cycle with a result of 86%. Keywords: Problem Based Learning, Students? activity, Learning
PENGEMBANGAN MODUL MEMPERBAIKI SISTEM REM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TKR SMK AL HUSNA LOCERET NGANJUK FAJAR KHOIRAWAN, NOVI; MADE MULIATNA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK PENGEMBANGAN MODUL MEMPERBAIKI SISTEM REM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TKR SMK AL HUSNA LOCERET NGANJUK Nama : NOVI FAJAR KHOIRAWAN NIM : 14050524074 Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik Mesin Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknik Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Dosen Pembimbing : Drs. I MADE MULIATNA, M.Kes.Penelitihan ini bertujuan untuk menghasilkan modul yang layak digunakan siswa kelas XI SMK Alhusna Loceret Nganjuk, sehingga meningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran memperbaiki sistem rem, dan menambah referensi sarana pembelajaran disekolah. Metode yang digunakan dalam penyusunan modul ini adalah model 4-D (four-D) yang disarankan oleh Sivasailan Thiagarajan, Dorothy S. Semmel dan Melvyn I. Semmel. Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu : (1) Define, (2) Design, (3) Develop dan (4) Disseminat. Atau diadaptasikan menjadi model 4-P yaitu : Pendifinisian, Perancangan, Pengembangan dan Penyebaran. Intrumen yang digunakan dalam penelitihan pengembangan modul ini berupa angket validasi yang diberikan kepada : (1) Ahli Desain, (2) Ahli Bahasa, dan (3) Ahli Materi, dan uji coba keefektifan kepada kelompok terbatas dari 20 siswa kelas XI TKR SMK Al Husna Loceret Nganjuk melalui lembar soal pre test dan post test sebagai pengguna modul. Hasil penelitian ini dapat disampaikan bahwa : 1) Kelayaan modul memperbaiki sistem rem yang telah divalidasi dan diujikan mendapatkan hasil yang sangat valid. Sebagaimana hasil penilaian dari para validator ahli desain, ahli bahasa dan ahli materi diperoleh rata-rata skor sebesar 3,33 dengan katagori sangat valit. 2) Terdapat peningkatan (perbedaan) hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberikan modul memperbaiki sistem rem. Hasil belajar siswa sesudah diberikan modul memperbaiki sistem rem mempunyai rerata skor sebesar 84,7 lebih tinggi dari hasil belajar siswa sebelum menggunakan modul memperbaiki sistem rem yang hanya mempunyai rerata skor sebesar 43,85. Kata Kunci : Pengembangan Modul, Sistem Rem, Hasil BelajarABSTRACTMODULE DEVELOPMENT IN IMPROVING THE REM SYSTEM TO IMPROVE THE LEARNING OUTCOMES OF CLASS XI STUDENTS OF AL HUSNA VOCATIONAL SCHOOL, LOCERET NGANJUKName : NOVI FAJAR KHOIRAWANNIM : 14050524074Study Program : Bachelor of Mechanical Engineering Education Majoring : Mechanical engineering Faculty : EngineeringInstitution Name : Surabaya State University Supervisor : Drs. I MADE MULIATNA, M.Kes.This research aims to produce a feasible module used by the class XI students of Alhusna Loceret Nganjuk Vocational High School, so as to increase student learning outcomes in subjects to improve the brake system, and add reference to learning facilities in schools. The method used in the preparation of this module is the 4-D (four-D) model suggested by Sivasailan Thiagarajan, Dorothy S. Semmel and Melvyn I. Semmel. This model consists of 4 stages of development, namely: (1) Define, (2) Design, (3) Develop and (4) Disseminate. Or adapted to the 4-P model, namely: Defining, Designing, Developing and Spreading. The instruments used in this module development research are validation questionnaires which are given to: (1) Design Experts, (2) Language Experts, and (3) Material Experts, and testing the effectiveness of a limited group of 20 students of Al Husna Vocational School XI class XI Loceret Nganjuk through the pre test and post test questions as module users. The results of this study can be stated that: 1) The modules feasibility improves the brake system that has been validated and tested to get very valid results. As the results of the evaluation of the design experts validators, linguists and material experts obtained an average score of 3.33 with a very valit category. 2) There is an increase (difference) in student learning outcomes between before and after being given a module to improve the brake system. Student learning outcomes after being given a module to improve the brake system have a mean score of 84.7 higher than student learning outcomes before using the module to improve the brake system which only has a mean score of 43.85. Keywords: Module Development, Brake System, Learning Outcomes
PENGEMBANGAN MODUL SISTEM PENDINGIN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI TKR SMK NU 1 KEDUNGPRING LAMONGAN IMAM SYA RONI, MOHAMAD; MADE MULIATNA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPENGEMBANGAN MODUL SISTEM PENDINGIN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI SMK NU 1 KEDUNGPRING LAMONGANNama : MOH. IMAM SYA RONINIM : 14050524075Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik MesinJurusan : Teknik MesinFakultas : TeknikNama Lembaga : Universitas Negeri SurabayaDosen Pembimbing : Drs. I MADE MULIATNA, M.Kes. Penelitihan ini bertujuan untuk menghasilkan modul yang layak digunakan siswa kelas XI SMK NU 1 Kedungpring Lamongan, sehingga meningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sistem pendingin, dan menambah referensi sarana pembelajaran disekolah.Metode yang digunakan dalam penyusunan modul ini adalah model 4-D (four-D) yang disarankan oleh Sivasailan Thiagarajan, Dorothy S. Semmel dan Melvyn I. Semmel. Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu : (1) Define, (2) Design, (3) Develop dan (4) Disseminat. Atau diadaptasikan menjadi model 4-P yaitu : Pendifinisian, Perancangan, Pengembangan dan Penyebaran.Intrumen yang digunakan dalam penelitihan pengembangan modul ini berupa angket validasi yang diberikan kepada : (1) Ahli Desain, (2) Ahli Bahasa, dan (3) Ahli Materi, dan uji coba keefektifan kepada kelompok terbatas dari 20 siswa kelas XI TKR SMK NU 1 Kedungpring Lamongan melalui lembar soal pre test dan post test sebagai pengguna modul.Hasil penelitian ini dapat disampaikan bahwa : 1) Kelayaan modul sistem pendingin yang telah divalidasi dan diujikan mendapatkan hasil yang sangat valid. Sebagaimana hasil penilaian dari para validator ahli desain, ahli bahasa dan ahli materi diperoleh rata-rata skor sebesar 3,3 dengan katagori sangat valit. 2) Terdapat peningkatan (perbedaan) hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberikan modul sistem pendingin. Hasil belajar siswa sesudah diberikan modul sistem pendingin mempunyai rerata skor sebesar 79 lebih tinggi dari hasil belajar siswa sebelum menggunakan modul memperbaiki sistem rem yang hanya mempunyai rerata skor sebesar 49.Kata Kunci : "Pengembangan modul, sistem pendingin, hasil belajar"ABSTRACTDEVELOPMENT OF COOLING SYSTEM MODULE TO IMPROVE THE LEARNING OUTCOMES OF CLASS XI STUDENTS IN SMK NU 1 KEDUNGPRING LAMONGANName : MOH. IMAM SYA? RONINIM : 14050524075Study Program : Bachelor of Mechanical Engineering EducationMajoring : Mechanical engineeringFaculty : EngineeringInstitution Name : Surabaya State UniversitySupervisor : Drs. I MADE MULIATNA, M.Kes.This research aims to produce a feasible module used by the class XI students of NU 1 Kedungpring Lamongan Vocational High School, so as to increase student learning outcomes in subjects to improve coller system, and add reference to learning facilities in schools. The method used in the preparation of this module is the 4-D (four-D) model suggested by Sivasailan Thiagarajan, Dorothy S. Semmel and Melvyn I. Semmel. This model consists of 4 stages of development, namely: (1) Define, (2) Design, (3) Develop and (4) Disseminate. Or adapted to the 4-P model, namely: Defining, Designing, Developing and Spreading. The instruments used in this module development research are validation questionnaires which are given to: (1) Design Experts, (2) Language Experts, and (3) Material Experts, and testing the effectiveness of a limited group of 20 students of Al Husna Vocational School XI class XI NU 1 Kedungpring Lamongan through the pre test and post test questions as module users. The results of this study can be stated that: 1) The modules feasibility improves the brake system that has been validated and tested to get very valid results. As the results of the evaluation of the design experts validators, linguists and material experts obtained an average score of 3.33 with a very valit category. 2) There is an increase (difference) in student learning outcomes between before and after being given a module to improve the coller system. Student learning outcomes after being given a module to improve the brake system have a mean score of 79 higher than student learning outcomes before using the module to improve the brake system which only has a mean score of 46.Keywords: "Development of modules, cooling systems, learning outcomes"
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW BERBASIS VIDEO TUTORIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PEMELIHARAAN CHASIS DAN PEMINDAH TENAGA KELAS XI TKR 2 DI SMK NEGERI 7 SURABAYA SETIAWAN, AGUNG; MADE ARSANA, I
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan pengalaman mengajar pada saat Program Pengelolaan Pembelajaran (PPP) dan observasi di sekolah SMK Negeri 7 Surabaya proses pendidikan masih menggunakan model pembelajran konvensional sehingga kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, dimana pembelajaran lebih didominasi oleh keterlibatan guru. Oleh sebab itu, pembelajaran siswa terhadap proses pembelajaran rendah, hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang masih rendah dengan ditunjukkan nilai siswa dibawah KKM yaitu 50%. Berdasarkan masalah tersebut dikembangkan suatu model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbasis video tutorial. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan dua siklus dengan subjek penelitian kelas XI TKR 2 SMK Negeri 7 Surabaya tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 25 peserta didik. Pada mata pelajaran Pemeliharaan Chasis dan Pemindah Tenaga kompetensi dasar yang di ajarkan adalah transmisi manual yang dilakukan dalam dua siklus yang tiap siklus terdapat tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes yang diaplikasikan dalam bentuk instrumen penelitian. Kemudian untuk hasil belajar peserta didik, ranah kognitif pada siklus I sebesar 64% dan meningkat di siklus II dengan hasil 88%, kemudian untuk rana psikomotorik pada siklus I sebesar 52% dan meningkat di siklus II dengan hasil 88%. Kata Kunci: Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, Hasil belajar siswa.

Page 1 of 2 | Total Record : 11