cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA SITUS JOLOTUNDO SEBAGAI OBYEK WISATA DI KAWASAN PERUNTUKAN PARIWISATA BUDAYA KABUPATEN MOJOKERTO Setya Yonas Onky Tamara, Dega
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Jolotundo is one of the historical heritage objects in the area of ??cultural tourism in Trawas subdistrict in Mojokerto district but its numbers of visitors is lesser than in cultural attractions in Trowulan subdistrict. This research aimed to know the supporting factors and obstacles of tourism development based on some aspects of tourism, and to know the right strategy to develop Jolotundo using SWOT analysis. This research use quantitative study. The setting of the research was Jolotundo site in Mojokerto. There were 100 respondents as the samples selected using purposive sampling method. Data were collected using observation, questionnaires and documentation, and analyzed using scoring technique, and SWOT analysis. The result of the research showed that the supporting factors Jolotundo as cultural heritage tourism were the gazebo and joglo, the food stall and the souvenir, human resources, national-wide promotion, as well as good road accessibility The inhibiting factors of development were old and less infrastructure facilities such as public toilets and lodging, the less frequently promotion that was onlyl twice a month, the absence of public transportation, and lack of supporting facilities such as hotel communications, and restaurants around tourism. The Strategy to develop the tourismwas based on SWOT analysis is in quadrant I, Recommendation given strategy was Progressive. The right strategy done at the Jolotundo Site attractions was to preserve historical heritage as the main attraction of Jolotundo Site tourism by taking care of the temple and maintaining the asset. Increasing the construction of basic infrastructure such as public and utilize human resources and building accessibility are enough and able to facilitate visitors. Keywords  : Cultural Tourism, Development, SWOT Abstrak Obyek wisata Situs Jolotundo merupakan salah satu obyek wisata peninggalan sejarah di kawasan peruntukan pariwisata budaya Kabupaten Mojokerto yaitu di Kecamatan Trawas. Kunjungan wisatawan cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan di obyek wisata budaya di Kecamatan Trowulan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan pariwisata dilihat dari beberapa aspek pariwisata, serta untuk mengetahui strategi  pengembangan yang tepat obyek wisata Situs Jolotundo dengan menggunakan analisis SWOT. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di obyek wisata Situs Jolotundo Kecamatan Trawas, Mojokerto. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Peneliti mengambil sampel 100 orang responden. Metode pengumpulan data melalui observasi, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring, serta analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor pendukung pengembangan  obyek wisata Situs Jolotundo adalah daya tarik obyek wisata Situs Jolotundo sebagai warisan sejarah, adanya gazebo dan joglo, warung makan dan tempat oleh-oleh, sumberdaya manusia, promosi tingkat nasional, serta aksesibilitas jalan yang sudah baik. Faktor penghambat pengembangan adalah sarana prasarana yang sudah tua dan kurang seperti toilet umum dan penginapan, frekuensi promosi yang masih dua kali dalam sebulan, tidak adanya transportasi umum, dan kurangnya fasilitas penunjang seperti komunikasi hotel, dan restoran yang ada disekitar obyek wisata. Strategi pengembangan wisata berdasarkan analisis SWOT berada pada kuadran I, Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Progresif. Strategi yang tepat dilakukan di obyek wisata Situs Jolotundo adalah menjaga peninggalan sejarah sebagai daya tarik utama obyek wisata Situs. Meningkatkan pembangunan sarana prasarana pokok di lokasi obyek wisata serta memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dengan maksimal dan menggencarkan promosi dan membangun aksesibilitas yang memadai dan memudahkan pengunjung. Kata Kunci : Pariwisata Budaya, Pengembangan, SWOT
ANALISIS DAMPAK KEBERADAAN TAMBAK UDANG INTENSIF TERHADAP KONDISI FISIK DAN SOSIAL EKONOMI PEKERJA TAMBAK KECAMATAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN - MADURA HUDA, NURUL
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Udang merupakan salah satu komoditi perikanan yang kaya akan gizi dan nutrisi membuat permintaan terhadap udang cukup tinggi baik untuk impor maupun ekspor. Permintaan yang tinggi menjadi suatu peluang usaha bagi beberapa masyarakat pesisir, khususnya masyarakat Kecamatan Kwanyar yang mulai melakukan usaha budidaya tambak udang intensif. Keberadaan suatu usaha pasti akan menimbulkan suatu dampak baik itu dampak terhadap lingkungan ataupun dampak terhadap kondisi sosial ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak keberadaan tambak udang intensif terhadap kondisi lingkungan fisik dan mengetahui dampak sosial ekonomi terhadap pekerja tambak udang intensif Kecamatan Kwanyar Kabupaten bangkalan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei. Data dikumpulkan dengan cara pengukuran di lapangan, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Pengukuran di lapangan digunakan untuk parameter kualitas air. Teknik wawancara terstruktur digunakan untuk menggali data sosial ekonomi karyawan tambak udang intensif. Teknik dokumentasi digunakan untuk menggali data-data dari dinas terkait seperti data kependudukan dan kondisi daerah penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air menurut peraturan pemerintah dalam PP nomor 82 tahun 2001 bahwa sampel air untuk BOD, COD, DO dan ammonia masuk dalam kategori tercemar sedangkan untuk suhu, pH dan DHL masil dalam batas wajar untuk suatu air hasil budidaya. Pada kondisi sosial ekonomi adanya tambak udang intensif menyebabkan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja baik dari dalam daerah ataupun luar daerah serta turut berperan dalam peningkatan pendapatan dan perubahan pekerjaan terhadap karyawan. Kata kunci: Dampak, Kondisi Fisik, Kondisi Sosial-Ekonomi   Abstract A high nutritional shrimp makes its demand high for either import and export. This was a business opportunity for coastal communities, especially the society of Kwanyar subdistrict doing an intensive shrimp farm. The existence of a business would effect both environment or the economical-social conditions. The purpose of this study was to know the impact of intensive shrimp farms to physical environmental condition and know the economical-social impact to shrimp farmer in Kwanyar subdistrict Bangkalan Regency. This study used survey research methode. Data were collected by using field measurements, structured interviews, and documentation. Field measurements were used for measuring water quality parameters, Structured interview for exploring the socio-economic data intensive shrimp farmers and Documentation used for exploring the data from relevant agencies such as demographic data and conditions of the study area. The results showed that the water quality conditions based on government regulations No. 82 of 2001 where the water samples for BOD5, COD, DO and ammonia was contaminated while for temperature, pH and DHL still within reasonable was limited for a water cultivation. On their economical-social conditions of intensive shrimp farms brought an impact for workers, either local or interlocal region and playing important role for their income increase and job exchange. Keywords: Impact, Physical, Economical-social Conditions.
PENDEKATAN ANALISIS CLUSTER DALAM MENENTUKAN KARAKTERISTIK PELAKU PERCERAIAN DI KABUPATEN PONOROGO EKO PURNOMO, ANGGA
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   Divorce is the termination of marriage canceling the legal duties and dissolves the bonds of matrimony between a married couple under the rule of law. The number of divorce cases in Ponorogo is the highest in the region of the ex-county Madiun with 2029 number of divorce cases. This research aimed to know the characteristics of divorce prepetrators in Ponorogo. The research method used was descriptive quantitative using cluster analysis. The data was collected using the engineering documentation and interview questionnaires. The results divided into 3 clusters namely are, cluster 1 with good predicate including Jambon, Jetis, and Siman subdistricts. Cluster 2 with medium predicate including Badegan, Bungkal, Ngrayun, Pulung, and Sooko subdistricts. Cluster 3 with bad predicate include Babadan, Balong, Jenangan, Mlarak, Ngebel, Kauman, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Sukorejo, and Slahung subdistricts. The results of  Z score for each cluster were positive and negative. Cluster 1 variables with positive Z score is variable structure of the region, while  variables with negative Z score include variable level of education, type of job, income level, age of first marriage, old marriage, number of children, and couple’s family background. Cluster 2 variables with positive Z score include variable type of job, income level, age of first marriage, old marriage, and the number of children, while a variables with negative Z score include variable level of education, couple’s family background, and structure of the region. Cluster 3 variables with positive Z score include level of education, type of job, income level, age of first marriage, number of children, couple’s family background, and structure of the region, while a variable variables with negative Z score is variable old marriage. The result of anova analysis with unknown variables influenced significantly to formation of the clusters in the Ponorogo include variable level of education, type of job, income level, number of children, and couple’s family background. Keyword                : divorce,  characteristics of divorce prepetrators, cluster analysis Abstrak Perceraian adalah putusnya suatu hubungan antara suami dan istri yang disebabkan karena adanya suatu  masalah tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan Agama. Jumlah kasus perceraian di Kabupaten Ponorogo merupakan yang tertinggi di wilayah eks-karesidenan Madiun dengan jumlah 2029 kasus perceraian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengelompokkan karakteristik pelaku perceraian di Kabupaten Ponorogo.  Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan wawancara kuesioner. Penelitian ini menggunakan Sampel 100 janda atau duda yang belum menikah lagi serta terdata di Pengadilan Agama Kabupaten Ponorogo. Teknik analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisis cluster dengan menggunakan metode Non-Hierarki atau K-Means Cluster, dengan cluster berjumlah 3. Hasil analisis penelitian menunjukkan di wilayah Kabupaten Ponorogo terbagi menjadi 3 cluster yaitu cluster 1 dengan predikat cluster baik meliputi wilayah kecamatan Jambon, Jetis, dan Siman. Cluster 2 dengan predikat sedang meliputi wilayah kecamatan Badegan, Bungkal, Ngrayun, Pulung, dan Sooko. Cluster 3 dengan predikat buruk meliputi wilayah kecamatan Babadan, Balong, Jenangan, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Slahung, dan Sukorejo. Hasil analisis masing-masing  cluster diketahui variabel-variabel yang memiliki nilai Z skor positif dan negatif. Cluster 1 variabel yang memiliki nilai Z skor positif yaitu variabel Struktur Wilayah dan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif meliputi variabel Tingkat Pendidikan, Jenis Pekerjaan, Tingkat Pendapatan, Usia Perkawinan Pertama, Lama Perkawinan, Jumlah Anak, dan Latar Belakang Keluarga Pasangan. Cluster 2 variabel yang memiliki nilai Z skor positif meliputi variabel Jenis Pekerjaan, Tingkat Pendapatan, Usia Perkawinan Pertama, Lama Perkawinan, dan Jumlah anak, sedangkan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif meliputi Tingkat Pendidikan, Latar Belakang Keluarga Pasangan, dan Struktur Wilayah. Cluster 3 variabel yang memiliki nilai Z skor positif meliputi Tingkat Pendidikan, Jenis Pekerjaan, Tingkat Pendapatan, Usia Perkawinan Pertama, Jumlah Anak, Latar Belakang Keluarga Pasangan, dan Struktur Wilayah, sedangkan variabel yang memiliki nilai Z skor negatif yaitu variabel Lama Perkawinan. Hasil analisis anova diketahui variabel-variabel yang berpengaruh signifikan  terhadap pembentukan cluster-cluster di wilayah Kabupaten Ponorogo meliputi  variabel Tingkat Pendidikan, Jenis Pekerjaan, Tingkat Pendapatan, Jumlah Anak, dan Latar Belakang Keluarga Pasangan. Kata kunci            : Perceraian, Karakteristik Pelaku Perceraian, Analisis Cluster
HUBUNGAN FAKTOR PENDAPATAN MASYARAKAT DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN TINGKAT KEMATIAN BAYI DI KABUPATEN JOMBANG ARUM RATNASARI, DIAH
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KONDISI SOSIAL EKONOMI, PENGETAHUAN, LINGKUNGAN DAN PERSONAL HIGIENE MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PENYAKIT HEPATITIS A DI KELURAHAN MAYANGAN KECAMATAN MAYANGAN KOTA PROBOLINGGO Dwi Prasetyo, Teguh
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kejadian hepatitis A dengan jumlah penduduk sebesar 4.391dengan jumlah kasus 471. Angka ini lebih tinggi daripada kelurahan lainnya di Kota Probolinggo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sosial-ekonomi, pengetahuan, lingkungan dan personal higiene terhadap kejadian hepatitis A di masyarakat nelayan kelurahan Mayangan kecamatan Mayangan kota probolinggo. Jenis penelitian yang digunakan adalah survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan rancangan penelitian yaitu Case control. Populasinya adalah seseorang yang terkena penyakit hepatitis A maupun yang tidak terkena penyakit hepatitis A.Pemilihan sampel secara random sampling berjumlah 100 responden yang diambil dari data puskesmas case 50 orang dan control 50 orang. Pengambilan data dengan wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh sosial-ekonomi, penggetahuan, lingkungan dan personal higiene menggunakan uji Chi Square, sedangkan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian hepatitis A menggunakan uji Regresi Logistik Berganda. Berdasarkan hasil penelitian dengan uji statistik Chi Square bahwa kondisi sosial tidak ada pengaruh terhadap kejadian hepatitis A (χ2 = 0.407), kondisi ekonomi tidak ada pengaruh terhadap kejadian hepatitis A (χ2 = 0.421), pengetahuan ada pengaruh terhadap kejadian hepatitis A (χ2 = 0.009) Kondisi lingkungan ada pengaruh terhadap kejadian hepatitis A (χ2 = 0.001). personal hygiene ada pengaruh terhadap kejadian hepatitis A (χ2 = 0.036). Analisis secara bersama berdasarkan uji Regresi Logistik Berganda variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian hepatitis A adalah lingkungan (p = 0,001, B = 0.192). Kata kunci: Sosial,’ ekonomi, pengetahuan, lingkungan dan personal higiene Abstract Occurrence of hepatitis A with a population of 4.391 with the number of cases 471. This number is higher than other urban villages in Probolinggo. This study aims to determine the influence of socio-economic, knowledge, environment and personal hygiene against the occurrence of hepatitis A in the fishing community of the village of Mayangan Mayangan subdistrict probolinggo city. The type of research used is a survey using a quantitative approach and research design that is Case control. The population is a person affected by hepatitis A disease and those who are not exposed to hepatitis A. Random sampling sampling is 100 respondents taken from the data of puskesmas case 50 people and control 50 people. Data collection by interview and documentation. Data analysis used to know the existence of socio-economic, knowledge, environment and personal hygiene influence using Chi Square test, while to know the most influencing factor to the occurrence of hepatitis A using Multiple Logistic Regression test. Based on the result of the research with Chi Square statistic test that social condition has no effect on the occurrence of hepatitis A (χ2 = 0.407), economic condition has no effect on the occurrence of hepatitis A (χ2 = 0.421), knowledge there is influence to the occurrence of hepatitis A (χ2 = 0.009 ) Environmental conditions have an influence on the incidence of hepatitis A (χ2 = 0.001). personal hygiene has an effect on the occurrence of hepatitis A (χ2 = 0.036). Joint analysis based on Multiple Logistic Regression test the most influential variable to the occurrence of hepatitis A is the environment (p = 0.001, B = 0.192). Keywords: Social, economic, knowledge, environment and personal higiene
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETANI CABAI DESA TEGALAGUNG KECAMATAN SEMANDING KABUPATEN TUBAN Irawan, Candra
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Chili agriculture is a business that changes into agricultural commodities especially land cultivation, chili seeds planting, the process of chili plant treatment, and its marketing. Tegalagung produced 1 tons of chili per 1 hectares. But it was less amount of production compared with other areas in Tuban with 14 tons per 1 hectares land. Because of this less chili production, farmers had to think alot to fulfill their family needs in this limited economic condition. This study aimed to know chili farmers’ survival strategy limited economic condition. This study qualitative research. The data  were collected using observation, interviews and documentation.The subject of the research were chili farmers in Tegalagung Village, while object was chili farmers’ survival strategy survival to fulfill their family needs in this limited economic condition. Chili farmer’ Survival strategy was by taking care and fertilizing plants in regular, optimizing water of a river, planting chili plant  assisted by their families; a wife and child. chili farmers’ Survival strategy fulfill their family needs in this limited economic condition was by making a side job such as food stall at home assisted by member of family, second was by priopritizing family expenditure for a primary need than ohter need, the thirdis by optimazing social netwok such as borrowing money to a friend, relatives, bank and a pawnshop.   Keywords: survival strategy , farmers chili , agriculture chili , economy family Abstrak Pertanian cabai merupakan usaha yang bergerak di bidang pertanian komoditas cabai, utamanya mencakup usaha pengolahan tanah,  penanaman benih cabai, proses perawatan tanaman cabai, dan pemasaran hasil produksi pertanian cabai. Desa Tegalagung sendiri merupakan desa dengan perolehan hasil produksi cabai sebanyak 1 ton per 1 hektare lahan pertanian. Hasil ini terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Kabupaten Tuban dengan kisaran angka 14 ton per 1 hertare lahan. Hasil produksi pertanian cabai yang seperti ini secara tidak langsung memaksa petani cabai untuk memutar otak guna untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan kondisi perekonomian yang terbatas. Penelitian ini berutjuan untuk mengetahui strategi bertahan hidup yang dilakukan oleh petani cabai dalam menghadapi kondisi perekonomian keluarga yang terbatas. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah petani cabai Desa Tegalagung, sedangkan obyek dalam penelitian ini adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan oleh keluarga petani cabai dalam menghadapi kondisi perekonomian keluarga yang terbatas. Strategi bertahan hidup yang digunakan petani cabai dalam bertahan pada pertanian cabai adalah dengan cara perawatan dan pemupukan tanaman secara teratur, pengoptimalan sumberdaya air sungai, mengerjakan lahan pertanian cabai secara sendiri dan dibantu anggota keluarga istri dan anak. Strategi bertahan hidup yang dilakukan petani cabai untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah dengan cara melakukan pekerjaan sampingan dan dibantu oleh peran anggota keluarga istri dengan usaha membuka warung di depan rumah, kedua adalah melakukan penghematan dengan cara mendahulukan kebutuhan pangan dan menekan setiap pengeluaran kebutuhan keluarga lainnya, yang ketiga adalah dengan memanfaatkan jaringan sosial dengan cara meminjam uang kepada teman, kerabat, bank dan pegadaian. Kata Kunci : strategi bertahan hidup, petani cabai, pertanian cabai, perekonomian keluarga
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PERAJIN SULING BAMBU KELURAHAN GAYAM KECAMATAN MOJOROTO KOTA KEDIRI RUBI E M, ROMANA
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Bamboo flute is one of  the greatest musical instrument for the handicrafts workers in Gayam village, sub district of Mojoroto, city of Kediri. Bamboo flute is one of traditional art musical instrument inherited by local ancestor in gayam village. Since 1950 until now, bamboo flute handicrafts workers declined significantly from 83 to 5 handicrafts workers. This happened because of rare raw materials and the monetary crisis in 1998. Research was to know handicraft workers’ survival startegy to fulfill their family needs. The subject of study were 9 bamboo flute workers who lived in Gayam village, consisting of 5 informants bamboo flute handicrafts workers, 3 informants who were  former Bamboo flute handicrafts worker, and key informants was a local officials. This study used qualitative research conducted by the use of the basic theories of james c scoot. The result of this research showed that bamboo flute handicrafts workers used 3 survival strategy includin, strategy of adding up the expenditure add up, managing expenditure, and using network. Although handicrafts workers were still  classified as the poor family, but they felt prosperous society in their own personal .When handicrafts workers stop being an bamboo flute handicrafts workers they felt not being prosperous. This feeling happened because they were happy to be a Bamboo flute and could  continue cultural heritage as Bamboo flute in Gayam village, sub district of  Mojoroto, city of Kediri.  Keywords: handicrafts workers, survival strategy, prosperous   Abstrak Suling bambu adalah salah satu alat musik yang menjadi andalan bagi para perajin di Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Suling bambu yang ada di Kelurahan Gayam adalah salah satu seni tradisional alat musik yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang Kelurahan Gayam setempat. Dari tahun 1950 sampai sekarang suling bambu mengalami penurunan jumlah perajin yang signifikan dari 83 perajin menjadi 5 perajin. Penurunan yang signifikan di karenakan bahan baku yang langka dan krisis moneter tahun 1998. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Penelitian ditarik dari strategi bertahan hidup perajin suling bambu demi kesejahteraan kehidupan keluarga perajin yang menurut Scoot ada 3 strategi yaitu strategi alternative substansi, strategi mengikat sabuk lebih kencang dan strategi jaringan. Subjek penelitian adalah perajin suling bambu yang hidup di Kelurahan Gayam dengan jumlah informan 9 orang, terdiri dari 5 informan perajin suling bambu, 3 informan mantan perajin suling bambu, dan informan kunci lurah setempat. Penelitian diangkat dengan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menggambarkan perajin suling bambu yang masih bertahan di karenakan menggunakan 3 strategi bertahan hidup antara lain strategi menambah pemasukan, mengatur pengeluaran, dan memanfaatkan jaringan. Keadaan ekonomi perajin yang dikategorikan masyarakat miskin, perajin suling bambu adalah masyarakat yang sejahtera secara pribadi mereka sendiri. Ketika perajin berhenti menjadi seorang perajin suling bambu di situlah perajin merasa mereka tidak sejahtera, di karenakan yang diinginkan perajin suling bambu ialah menjadi seorang perajin dan meneruskan warisan budaya suling bambu yang ada didaerah Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Kata Kunci : Perajin, Strategi Beretahan Hidup, Kesejahteraan
DAMPAK RELOKASI PEDAGANG OLAHAN IKAN TERHADAP PENDAPATAN DAN LINGKUNGAN DI SENTRA IKAN BULAK KOTA SURABAYA(STUDI KASUS TENTANG DAMPAK RELOKASI PEDAGANG OLAHAN IKAN DI SENTRA IKAN BULAK KOTA SURABAYA) Pragustomo, Alfian
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sentra ikan bulak (SIB) merupakan salah satu pasar binaan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya,  SIB sendiri diharapkan menjadi salah satu fasilitas penunjang perekonomian masyarakat Kecamatan Bulak yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan pedagang olahan ikan. Setelah direlokasi, masih banyak pedagang olahan ikan yang kembali berjualan di tempat yang lama dengan alasan sepinya pengunjung di SIB. Peneliti tertarik untuk mengetahui dampak relokasi pedagang olahan ikan terhadap pendapatan dan lingkungan di sentra ikan bulak Kota Surabaya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan pedagang olahan ikan dan kondisi lingkungan di sentra ikan bulak setelah adanya relokasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, sedangakan subyek dalam penelitian ini adalah pedagang olahan ikan di SIB. Obyek dalam penelitian ini adalah pendapatan pedagang olahan ikan dan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah adanya relokasi. Salah satu dampak relokasi pedagang adalah menurunnya pendapatan harian para pedagang olahan ikan yang berjualan di SIB dibandingkan saat berjualan di tempat yang lama, hal ini terjadi karena menurunnya jumlah pembeli, salah satu faktor penyebab penurunan jumlah pembeli adalah banyaknya pedagang yang kembali berjualan di bahu jalan. Kebanyakan pembeli lebih memilih untuk membeli di pedagang yang berjualan di luar karena persis berada di bahu jalan, sehingga pembeli merasa lebih praktis dalam mekakukan transaksi dan tidak perlu parkir. Relokasi juga berdampak pada kondisi lingkungan, dimana para pedagang yang masih bertahan di SIB merasa nyaman untuk tetap berjualan di sana, hal ini didasari oleh lengkapnya fasilitas yang tersedia, seperti cerobong pengasapan, stand yang lebih bersih, lahan parkir, kamar mandi.  Kata kunci: Dampak relokasi, Pedagang olahan ikan, Pendapatan, Lingkungan, Sentra ikan bulak    Abstract Bulak fish center is one of the targeted markets of Surabaya Food and Agriculture department, it is expected to be supporting facilities of public economy in subDistrict of Bulak where most of people are fishermen and fish-processing merchant. But most of them still returned to the formerplace because of the less visitors. Therefore, researchers are interested to know of fish-processing merchant relocation on the income and Environment in Bulak fish Center at Surabaya City. The purpose of this study was to know income level fish-processing merchant and environmental conditions in areas Bulak fish center after the relocation. This design of study was qualitative method using case studies. Data were collected using observation, in-depth interviews and documentation, while the subjects in this study were fish-processing merchant at Bulak fish center. The object in this research was fish-processing merchants income and environmental conditions before and after the existence of the relocation. The result showed that merchant’ income was smaller on when selling in Bulak fish center than thier old place, this happened because of a decreasing number of buyer. One of factors was that some of merchants sold at road side that made buyers prefer to buy there.  Because it was more practical and did not need to Park the vehicles. Furthermore, the existence of the relocation also effected environmental conditions, where traders who still kept selling in Bulak fish Center were comfortable to keep because of its full facilities, such as the chimney smoking, clean stand, bathrooms, and more extensive paling area.  Keywords: Effect of relocation, Fish-processing merchant, Income, Environment, Bulak fish center
ANALISIS KETERSEDIAAN AIR HUJAN UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DI KECAMATAN KEDAMEAN KABUPATEN GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR HARTANTO, BAGUS
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Gresik termasuk daerah yang mempunyai curah hujan relatif tinggi, tetapi ancaman akan bencana kekeringan dan krisis air bersih masih terjadi di beberapa Kecamatan, termasuk Kecamatan Kedamean. Penelitian ini memiliki tujuan guna mengetahui ketersediaan air terhadap kebutuhan air domestik dan tingkat kekritisan air di Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian survey. Teknik pengumpulan data pada penelitian dengan cara wawancara terstruktur, pengukuran lapangan, dan dokumentasi. Teknik wawancara terstruktur digunakan untuk menggali data penggunaan air domestik masyarakat daerah penelitian. Teknik Pengukuran lapangan digunakan untuk mengetahui koordinat astronomi. Teknik dokumentasi digunakan untuk menggali data-data dari dinas terkait seperti data curah hujan dan data suhu udara. Hasil penelitian menunjukan perhitungan neraca air dan diperoleh nilai ketersediaan air sebesar 29339,18 juta liter/tahun. Standar kebutuhan air domestik di daerah penelitian tahun 2017 sebesar 135,3 liter/orang/hari. Kebutuhan air domestik di daerah penelitian tahun 2017 sebesar 3199,5 juta liter dengan rata-rata per bulan sebesar 266,625 juta liter. Tingkat kekritisan air pada daerah penelitian memiliki nilai <50% artinya tidak krisis air. Secara kuantitas ketersediaan air di daerah penelitian sangat melimpah, namun distribusi waktu hujan dipengaruhi oleh musim sedangkan kebutuhan air cenderung tetap bahkan meningkat sehingga perbandingannya tidak tepat. Bulan Desember-April ketersediaan air dalam kondisi surplus, tetapi pada bulan Mei-Nopember kondisi ketersediaan air mengalami de?sit. Kebutuhan air domestik tersebut masih dapat dipenuhi karena pasokan air pada bulan sebelumnya menjadi air permukaan dan air tanah. Kata kunci : ketersediaan air, kebutuhan air domestik, kekritisan air, Kecamatan Kedamean Abstract Gresik district has relatively high rainfall, but the threat of drought and clean water crisis still occured  in several sub-districts, including Kedamean Sub-district. This study was to know the availability of water to domestic water requirement and water level in Kedamean sub-district Gresik district. Thi study used survey research. Data  were collected using structured interviews, field measurements, and documentation. Structured interview technique was  used to collect data of domestic water usage of research area community. Field measurement techniques were used to determine astronomical coordinates. Documentation techniques were used to extract data from related agencies such as rainfall data and air temperature data. The results showed the calculation of water balance and the value of water availability  was 29339.18 million liters/ year.  the standard of domestic water demand in the research area in 2017 was 135.3 liters / person / day. Thus the domestic water demand in the research area in 2017 was  3199.5 million liters with an average per month of 266.625 million liters. The value of  water level  in area  was <50% meaning  that there was no water crisis. The quantity of water availability in the study area was  very abundant, but distribution of rain was affected by the season whereas the water demand tended to remain even increased so that the comparison was not appropriate. water availability was in surplus condition In December-April, but in May-November the condition of water availability was deficit. However, the domestic water needs could still be fullfiled because the water supply in the previous months became surface water and ground water.  Keywords: water availability, domestic water demand, water criticality, Kedamean sub-district
PENGARUH KARAKTERISTIK SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS XI DI MADRASAH ALIYAH MA’ARIF BANGIL SEPTIANI NASALIA, NUR
Swara Bhumi Vol 5, No 5 (2018): Volume 5 Nomer 5 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract