cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
BULLYING PADA POLA INTERAKSI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH INKLUSIF TIKA RIBBANY, ERAYA
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam dunia pendidikan pastinya tedapat beberapa macam permasalahan yang terjadi di dalamnya, salah satunya yaitu adanya bullying. Maraknya aksi kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh siswa terutama di sekolah semakin banyak saja adanya berita tentang kasus kekerasan atau bullying tersebut baik itu di media cetak maupun media elektronik. Dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana terjadinya tindakan bullying pada pola interaksi yang terjadi khusunya pada anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi serta bagaimana bentuk tindakan bullying tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik. Pengambilan data di lapangan dengan melakukan observasi berpartisipasi dan proses wawancara. Subjek penelitian ini yaitu anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya adanya tindakan bullying yang terjadi pada anak berkebutuhan khusus dimana tindakan bullying tersebut terjadi ketika berada di sekolah baik di dalam kelas ataupun diluar kelas serta ketika pada saat jam pelajaran maupun pada saat jam istirahat berlangsung. Bentuk-bentuk bullying tersebut berupa ejekan, godaan, pengucilan, intimidasi dan lain sebagainya. Perlunya usaha dari semua pihak agar tindakan bullying tersebut tidak lagi terjadi khusunya di dalam dunia pendidikan. Kata Kunci : Bullying, Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Inklusi   Abstract In education world, there are certainly some problems, one of which is bullying. There is an increasing number of bullying cases done by students, mainly at school. There are also many news on the bullying cases, both in printed media and electronic media. This research is done to know the bullying in interaction pattern, especially in children with special needs at inclusion schools and also to know the form of bullying done. This research uses qualitative method using symbolic interaction approach. The field data collection is done by participated observation and interview. The research subjects are the children with special needs at inclusion school. The research results show that there is a bullying action in children with special needs. This bullying action happens at school, both in the class and outside the class, at learning hours and at break time. The forms of bullying are ridicule, temptation, isolation, intimidation and others. It is necessary for some efforts from all parties so that there will be no any bullying, especially in educational world. Keywords: Bullying, Children with special needs, inclusion school
KECINTAAN SKATERS TERHADAP SKATEBOARD (STUDI FENOMENOLOGI KECINTAAN SKATERS TAMAN BUNGKUL TERHADAP SKATEBOARD) WESTORO, PANDU
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KONSTRUKSI IDENTITAS INDONESIA TIMUR DALAM TAYANGAN KOMEDI TELEVISI TRIMULYA PUTRA, ASRIL
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banyaknya kondisi wilayah Indonesia Timur yang masih tertinggal, salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kurangnya informasi yang diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas, membuat kurangnya perhatian terhadap kondisi di Indonesia wilayah timur. Saat ini, program Stand Up Comedy menjadi sebuah cara bagaimana seseorang menyampaikan keresahannya terkait dengan fenomena sosial, masalah kebijakan, hingga masalah pembangunan. Salah satu comic yang menyuarakan tentang kegelisahannya adalah Abdurrahim Arsyad yang selalu menyelipkan materi tentang ketertinggalan yang ia rasakan dengan cara merepresentasikan Nusa Tenggara Timur pada setiap penampilannya, khususnya kota Larantuka, yakni tempat asal Abdurrahim. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi konten (isi) materi stand up comedy serta menjelaskan representasi Nusa Tenggara Timur melalui stand up comedy yang dibawakan oleh Abdurrahim. Metode penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian Kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan AWK atau Analisis Wacana Kritis. Hasil dari penelitian ini adalah dalam setiap penampilannya, Abdur menyampaikan makna dalam setiap materi stand up comedynya yang merepresentasikan kondisi di Nusa Tenggara Timur. Dalam penyampaiannya, Abdur menggambarkan bagaimana kondisi yang ada pada masyarakat Nusa Tenggara Timur. Penggambaran yang ada pun dapat diklasifikasikan menjadi enam bagian, yakni gambaran dari segi daerah yang tertinggal, daerah yang mengalami ketertinggalan pembangunan, budaya yang ada disana, dikriminasi dari pemerintah, kondisi lingkungan yang ada, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pada panggung stand up comedy, bagi Abdur tidak hanya merupakan panggung untuk menghibur dengan mengeluarkan lelucon saja, akan tetapi sebagai sarana untuk menyampaikan kegelisahan dan bagaimana kondisi masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang jauh dari layak dan sejahtera. Kata kunci : Stand Up Comedy, Nusa Tenggara Timur, Representasi. Abstract A lot of the condition of the region Indonesia East that is still lagging, one of them is the Province East Nusa Tenggara. Lack of information that is known by the public Indonesia widely, make lack of attention to the conditions Indonesia the East. Currently, the program Stand Up Comedy be a way how someone convey restless associated with social phenomena, a matter of policy, until the problem of development. One of the comic that voiced about sense of restlessness is Abdurrahim Arsyad that always tucked material about of dropping he felt by the representation of the Southeast East Nusa on every appearance, especially the City Larantuka, the place of origin Abdurrahim. The purpose of this research is to identify the contents Stand Up Comedy material and explained the representation of the East Nusa Tenggara through Stand Up Comedy performed by Abdurrahim. This research method using qualitative research method. The approach used is the approach Critical Discourse AnalysisThe result of this research in every appearance, Abdur convey meaning in every material Stand Up Comedy that representation conditions in East Nusa Tenggara. Abdur describe how the people conditions in East Nusa Tenggara. The depiction can be classified into six parts, the picture in terms of lagging regions, which are lagging development, culture in there, discrimination from the government, the existing environmental conditions, and socio-economic conditions of society East Nusa Tenggara. On Stand Up Comedy stage, for Abdur a stage just not for entertain by issuing a joke, but as a means to convey the anxiety and the condition of the people in East Nusa Tenggara are far from decent and prosperous Keywords: Stand Up Comedy, East Nusa Tenggara, Representation
SEKS BEBAS DIKALANGAN SALES PROMOTION GIRL ROYAL PLAZA SURABAYA MAHMUDAH, SITI
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI KECANTIKAN PEREMPUAN DALAM MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA AKUN @MOSTBEAUTYINDO, @BIDADARISURGA, DAN @PAPUAN_GIRL) APRILITA, DINI
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecantikan pada perempuan bukan lagi menjadi hal yang relatif, melainkan sudah menjadi hal yang universal. Hal ini disebabkan adanya standar-standar tertentu yang diciptakan sebagian besar oleh media, baik media cetak, elektronik, maupun media online. Salah satu media online yang ikut mengkonstruksi kecantikan perempuan adalah Instagram, yakni melalui akun-akun yang berisi sekumpulan foto perempuan, yang mana akun tersebut menggunakan kata “cantik” sebagai username. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar representasi kecantikan yang ditampilkan oleh akun @mostbeautyindo, @Bidadarisurga, dan @papuan_girl. Teori yang digunakan adalah semiotika dari Roland Barthes dan konsep tubuh dan kecantikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga akun tersebut merepresentasi kecantikan secara berbeda-beda. Mitos kecantikan yang ditampilkan akun @mostbeautyindo adalah cantik modern dan cantik sensual. Akun @bidadarisurga_ menujukkan mitos kecantikan islami. Akun @papuan_girl menciptakan mitos kecantikan berupa cantik lokalitas. Kata Kunci: Representasi, Mitos Kecantikan, Instagram.   Abstract Women’s beauty is no longer a relative concept, but it turns out to be a universal concept. It was caused by the beauty standard which is created mostly by the mass media, wether it is printed, electronic, or even online media. One of many online medias that participate in creating the beauty standard is Instagram. It constructs the beauty concept trough accounts which contain women’s pictures and also use the “beauty” word for their usernames. This research aims to expose the beauty representations that were shown by three Instagram accounts; @mostbeautyindo, @bidadarisurga_, and @papuan_girl. The theory that were used in this research were semiotics by Roland Barthes and also body and beauty concept. The method used for this research was qualitative descriptive. The result shows that those three Instagram accounts show different beauty myths. The beauty myth shown by @mostbeautyindo account is the modern beauty and also sensual beauty. While @bidadarisurga_ shows religious beauty myth. @papuan_girl account creates the beauty myth of locality beauty. Keywords: Representation, Beauty Myth, Instagram
FENOMENOLOGI RITUAL MALAM JUMAT LEGI WARGA NAHDLATUL ULAMA DESA KEMLAGI, KECAMATAN KEMLAGI, KABUPATEN MOJOKERTO MOCH.SHOFIYUDDIN,
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Di Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto ada budaya Jawa yang masih terjaga eksistensinya. Budaya Jawa tersebut ialah tradisi ritual malam jumat legi. Menariknya, tradisi Jawa ini mengalami perubahan menjadi salah satu ritus ibadah warga yang menganut kepercayaan islam berfaham NU. Pada penelitian ini ingin diketahui bagaimana warga NU memaknai ritual malam jumat legi sebagai budaya yang berubah menjadi bentuk ritus yang bernilai ibadah, selain itu ingin diketahui pula bagaiamana warga NU melaksanakan ritual, terrmasuk bagaimana bentuknya, esensi nilai dari ritual yang dijalankannya serta proses interaksi sosialnya yang akankah mengarah pada bentuk asosiatif atau disosiatif dalam lingkungan masyarakat. Digunakan teori akulturasi budaya untuk mengetahui bagaimana berubahnya ritual malam jumat legi yang akhirnya melebur dan menjadi budaya Islam. Selain itu juga dengan menggunakan teori interaksi simbolik George Herbert Mead dan Herbert Blummer yaitu konsep “Self” yaitu “I”, “Me” yang akan menunjukkan simbol-simbol interaksi yang dilakukan oleh Warga NU Desa Kemlagi dalam menjalani aktivitas kegiatan keagamaannya. Agar semakin memperkuat analisis makna tersebut digunakan pula fenomenologi Alfred Schutz sebagai pendekatan yang berfungsi untuk membongkar makna warga NU melakukan ritual malam jumat legi melalui motif dan tindakan aktor-aktor atau subyek yang melakoni ritual tersebut. Metode yang digunakan ialah merode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan fenomena sosial yang terjadi pada subyek warga NU Desa Kemlagi yang melaksanakan ritual malam jumat legi. Digunakan pula pendekatan fenomenologi untuk membedah makna-makna dari warga NU yang melakukan tradisi malam jumat legi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ritual malam jumat legi memiliki makna tersendiri bagi masing-masing subyek yang terkategori dari warga NU garis lurus dan warga NU garis lucu. Makna itu diketahui dari maksud dan tujuan mereka melakukan proses ritual malam jumat legi seperti wasilah, tahlilan, yasinan, ziarah kubur, sholawatan, khotmil Qur’an, sema’an Qur’an dan shodaqohan. Bagi warga NU garis lurus, mereka adalah warga NU yang boleh disebut NU asli. Mereka bersikap asosiatif, atau istilahnya sangat mendukung dilaksanakannya ritual tersebut oleh sebab menganggap malam jumat legi ialah malam yang sakral, keramat, momen untuk mencari berkah, dan mengirim pahala untuk keluarga yang sudah meninggal dunia. Bagi warga NU garis lucu, mereka cenderung disosiatif dengan tindakan cenderung mengacuhkan dan membiarkan, tanpa mengikuti secara langsung oleh sebab mereka menganggap malam jumat legi ialah malam yang sama seperti biasanya, bukan malam yang mempunyai keistimewaan dan keberkahan tertentu.      Kata kunci: Malam Jumat Legi, Ritual, Nahdlatul Ulama Abstract The existence of Java culture in Kemlagi, Mojokerto is still kept away. Malam Jum’at legi is one of tradition or ritual that still exist. Interestingly, this tradition becomes one of worship rituals of NU’s community believe. In this study, the researcher tried to find out how does NU’s community interpret about Malam Jum’at legi  as a tradition that changed become one of worship rituals. In addition, the researcher also tried to discover how does the way of this ritual implemented included the configuration of this ritual, the essential value of this worship ritual and the process of social interaction, which aim of this ritual will be directed. This ritual probably leads to associative or dissociative for human society. This study used culture acculturation theorists to know how does Malam Jum’at legi  ritual is finally changing and marge become Islamic Java culture. So, this study uses symbolic interaction theorists George Herbert Mead and Herbert Blummer. This theory is about the concept of “Self” is“I”, “Me”which shows the interaction symbols that have been implemented by the NU Kemlagi community in doing the worship activities. In addition, to give stronger evidence the meaning of this analysis, it also used Alfred Schutz’s phenomenology as an approach to know the meaning of NU’s Kemlagi in doing Malam Jum’at legi  through the motive and the subject in doing this ritual. The method that can be used for this study is a qualitative descriptive method of describing the social phenomena which are NU’s Kemlagi community activity in Malam Jum’at legi . To know the meaning of Malam Jum’at legi  ritual which is NU’s Kemlagi activity can be used phenomenology approach. The result of this study explains that Malam Jum’at legi  ritual have its own meaning for every NU’s community, straight faction and strange faction. This meaning can be based on the purposes and the objectives of them in doing malam Jum’at legi ritual such as wasilah, tahlilan, yasinan ziarah kubur, sholawatan, khatmil Qur’an, sema’an Qur’an dan shodaqohan. Based on NU straight faction, they can be called as the pure NU faction. They behave to be an associative, they agreed and very supportive in implementing this ritual because they assume that Malam Jum’at legi  is sacred night, mystics, hieratic, a moment to find blessings and to send the rewards for their dead family. Based on NU strange faction, they almost dissociative, ignorant and do not care, without following the ritual or the tradition. Therefore, they assume that Malam Jum’at legi  just a night, no meaning of that night. A night that has no idiosyncrasy and no blessing. Keywords              : Malam Jumat Legi, Ritual, Nahdlatul Ulama, 
IDENTIFIKASI DIRI MELALUI PENGGUNAAN JILBAB MODIS KARTIKA SARI, EKA
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengenai identifikasi diri yang coba dimunculkan mahasiswi Muslim Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surbaya melalui jilbab modis yang dikenakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan identifikasi diri mahasiswi Muslim FISH UNESA melalui jilbab modis yang mereka kenakan. Penelitian ini menggunakan konsep gender serta pemikiran Simone De Beauvoir dalam pendefinisian posisi perempuan, kemudian teori identitas Peter L. Berger dan juga teori fenomenologi Edmund Husserl untuk mendeskripsikan proses pembentukan identitas dan kesadaran mahasiswi Muslim FISH UNESA. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode observasi langsung dan wawancara dalam penggalian data serta pendekatan fenomenologi Edmund Husserl. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles & Huberman dengan mengkategorikan dan menentukan pola temuan data yang kemudian dianalisis dengan teori yang digunakan. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah, terdapat dua kategori identifikasi diri yang coba ditunjukkan subjek melalui penggunaan jilbab modis, yang pertama adalah perempuan Muslimah yang moderen, dan yang kedua adalah perempuan dewasa yang bebas dan mandiri. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan model jilbab serta tahapan penggunaan jilbab modis dan beberapa faktor lainnya yang mendasari kesadaran subjek mengenai gender dan emansipasi yang kemudian dihubungkan dengan identifikasi diri yang ingin ditampilkan dengan jilbab modis. Style yang dipilih lewat corak warna, model, hingga brand pun menunjukkan identitas subjek dari sudut pandang kelas sosial, kepribadian dan juga keahlian yang coba mereka tunjukkan. Kata Kunci: Mahasiswi Muslim, Identifikasi diri, Studi Fenomenologi, Jilbab modis.   Abstract This research is about Muslim women students Faculty of Social and Legal State University of Surabaya who trying to identification her self through the fashionable veil. The purpose of this research is to find out identification of a Muslim women students FlSH UNESA through the fashionable veil that they were wearing. This research using the concept of gender as well as thinking Simone de Beauvoir in describe the position of women, then the theory of the identity of Peter L. Berger and also of the phenomenology Edmund Husserl to describe the process of formation of the identity and awareness of Muslim women students FISH UNESA. Qualitative research with the method of observation and direct interview in extracting data and the approach of the phenomenology Edmund Husserl that researchers were able to directly involved and can explore the data that is found with the subject.The analysis of data using the model of interactive Miles & Huberman to categorise and determine the pattern of the findings of the data which is then analyzed with the theory be used.The conclusion came out of this research is, there are two categories of identification of trying to show the subject through the use of the fashionable, the first is Muslim women that modern, and seconds women who are free and independent. It was shown based on the model a veil and the use of the fashionable and some other factors that led to the awareness of the subject of the concept of gender and emancipation which is then connected with the identification of want to be featured with a veil of fashion. By style their choosen, color,  model , until brands that later showed the identify of the subject from the point of view of social class, personality and also expertise that they showed through the use of the fashionable. Keywords: Muslim Women Student, Self-identification, Phenomenology Study, Fashionable Veil.
FUNGSI PENDIDIKAN BAGI PENGURUS YAYASAN SMA PESANTREN TERPADU ROUDLOTUL HUDA DI DESA BLIMBINGSARI KECAMATAN SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO WAHYU NENGSEH, EKA
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Masalah pendidikan masih menyita perhatian publik, salah satunya adalah fenomena ketidak disiplinan yang terjadi di sekolah. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah fungsi manifest dan laten pendidikan bagi pengurus yayasan di SMA Pesantren Terpadu Roudlotul Huda. Berangkat dari masalah ketidaksesuaian kompetensi yang harus dipenuhi oleh guru, dan berbagai ketidaksiplinan lainnya.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang, terdiri dari 4 pengurus aktif yayasan. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara terhadap informan serta dengan melakukan observasi partisipan. Hasil penelitian ini adalah terdapat fungsi manifest dan laten pendidikan bagi pengurus yayasan. Fungsi manifest pendidikan bagi pengurus yayasan adalah bahwasannya pendidikan untuk mentransformasikan nilai agama dan moral di dukung dengan pondok pesantren yang dimiliki oleh yayasan, kemudian yang kedua adalah mengurangi angka putus sekolah, dan untuk membuat kehidupan peserta didik lebih baik. Fungsi laten  yang pertama adalah untuk menciptakan solidaritas sosial, karena banyak dijumpai alumni yayasan yang mengajar di yayasan tersebut, kemudian yang kedua pendidikan berfungsi sebagai cara untuk mengabdi kepada yayasan karena banyak pengurus yayasan merupakan alumni dari yayasan tersebut. Kata Kunci: fungsi, pendidikan, pengurus yayasan   Abstract Education problems have still drew public attention. One of it is the phenomena of indisclipine happening in the school. The issues raised in this research is how manifest function and latent education for trustee. This research is descriptive qualitative. The data was collected through interview to the informant by using participant observation. The results of the research show that there are manifest function and latent ducation for trustee. Manifest function of education for trustee is that education is used to transform religion value and morality supported by Islamic boarding school owned by the trustee. Moreover education is also used to reduce the number of dropouts and make the students life better. Then, the first latent education function is to create social solidarity because many graduates teaching in that institute. The second function of latent education is that education is used as a way to serve the institute because many trustee are the graduates from that institute. Keywords : function, education, trustee.
RASIONALITAS MEMILIH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) (STUDI KASUS DI DESA DINGIL KECAMATAN JATIROGO KABUPATEN TUBAN) LESTARI, SRI
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas mengenai fenomena memilih sekolah menengah kejuruan (SMK) di desa Dingil kecamatan Jatirogo kabupaten Tuban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami rasionalitas siswa dan orang tuanya dalam memilih pendidikan di SMK, membongkar alasan memilih pendidikan di SMK dan juga mengeahui motif memilih pendidikan di sekolah menengah kejuruan. Teori yang digunakan adalah teori tindakan sosial dari Max Weber, teori pilihan rasional dari James S. Coleman, sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan versthehen dari Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar seseorang memilih pendidikan di SMK ialah karena ketertarikan terhadap alumninya yang bisa langsung memasuki dunia pekerjaan, adanya keinginan bekerja setelah lulus sekolah, keinginan untuk menjaga hubungan dengan pasangannya, dorongan ekonomi, karena keterpaksaan, serta melihat kemampuan dirinya. Kata Kunci: pendidikan, rasionalitas memilih, SMK   Abstract This research discussed the phenomena of selesting vocation school on dingil village district jatirogo, tuban. The purposes of this research are to understand the retionality of student and their parents, to dig up the reasons, and to know the motive on selecting education in vocation school. Theories that being used are social actions theory from Max Weber, rational choice theory from James S. Coleman,  the research method used is qualitative method using versthehen approach from max weber. The result of this research are: most of the subject selecting education in vocation school because the alumna from education who can directly entering workplace, the willingness to work after graduation, the willingness to keep in touch with their partner (couple), economic matters, external influence (force), and the ability they have. Keywords: education, selecting rationality, vocation school
TINDAKAN SOSIAL PENGGUNAAN UANG “GANTI RUGI” PETANI TAMBAK PASCA ALIH FUNGSI LAHAN DI DESA MANYARSIDORUKUN KECAMATAN MANYAR KABUPATEN GRESIK NUR ROHMAIDA, FITRI
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pembangunan megaproyek JIIPE (Java Integrated Industrial Port Estate), memaksa terjadinya pembebasan lahan milik warga Desa Manyar. Meskipun begitu warga yang lahannya terkena pembangunan proyek, mendapatkan uang ganti rugi yang besar. Rata-rata informan mendapat uang ganti rugi Rp 600 juta sampai Rp 4 milliar. Besarnya uang ganti rugi, menyebabkan banyak komoditas-komoditas yang dibeli. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalitas penggunaan uang ganti rugi pembebasan lahan. Penelitian ini menggunakan teori tindakan sosial Max Weber dengan  pendekatan verstehen (pemahaman). Hasilnya terdapat beberapa rasionalitas ditiap tindakan konsumsi yang dipilih informan. Tindakan rasional instrumental yang diambil diantaranya: mendirikan pabrik pupuk, jual beli lahan, membeli rumah untuk dijadikan kos-kosan, membeli tambak lagi, membuka usaha toko bangunan dan menyewa tambak. Tindakan rasional berorientasi nilai, diantaranya: berangkat haji, berangkat umroh, dan shodaqoh. Tindakan rasional bersifat afektif yang dilakukan diantaranya: membelikan perhiasan untuk istri dan anaknya, membelikan motor baru untuk anaknya, membeli tanah untuk anak-anaknya waktu besar nanti, merenovasi rumah untuk kenyamanan keluarganya. Terakhir tindakan rasional bersifat tradisional yaitu selamatan (Tahlilan). Kata Kunci: Rasionalitas, Uang Ganti Rugi, Tindakan.   Abstract The costruction of Megaproject JIIPE (Java Integrated Industrial Port Estate) which is done by PT Pelindo III, caused the insisted liberation of land owned by Manyar Villagers. However, the villagers whose lands are ousted by the construction got a huge amount of money as compensation. The average compensation that is given is from 600million rupiah up to 4 billion rupiah. That amount of money has caused the purchase of so many commodities. This research aims to analyse the rasionality of the usage of land liberation compensation. This research used the theory of Social Act by Max Weber with verstehen approach from Max Weber. The result shows that there are some rasionalities in every act of consumption that was choosen by the informant. The instrumentally rational act that were choosen such as: build a fertilizer company, land trade, buy houses which next functioned as boarding house, buy another fishpond, build a store, and also fishpond rental. The value-rational act, such as: umroh and palmer to Mecca, and do charity. All of them are value-rational act based on religious value. The affective rational act such as: buying jewelry for wife and kids, new motorcycle for kids, lands for kids when they grow older, and rebuilding house for their comfort. Last, the traditional rational act is Tahlilan (praying together and also get feasted). Keywords: Rationality, Compensation, Act.

Page 10 of 34 | Total Record : 337