cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
JARINGAN SOSIAL MASYARAKAT PEMULUNG DI KELURAHAN BARATA JAYA KOTA SURABAYA YUSUF AKBAR, MUHAMMAD
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang Jaringan Sosial Masyarakat Pemulung di Kelurahan Barata Jaya Kota Surabaya. Tujuannya adalah untuk memahami keterkaitan jaringan sosial yang dimiliki oleh masyarakat pemulung dengan pemenuhan kebutuhan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial yang dimiliki masyarakat pemulung memiliki dampak secara garis besar pada pemenuhan kebutuhan mereka. Tidak hanya dilihat dari segi ekonomi saja melainkan dari jaringan, kepercayaan serta hubungan timbal balik yang mereka miliki. Hidup perkampungan yang kumuh identik dengan masyarakat golongan bawah, namun masyarakat pemulung tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jaringan sosial melalui kepercayaan dan hubungan timbal balik menjadi faktor utama yang membantu masyarakat pemulung untuk bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kata Kunci: Jaringan Sosial, Pemulung, Pemenuhan Kebutuhan Abstract This study discusses Social Networking Community Scavenger in the Village Barata Jaya Surabaya. The goal is to understand the interrelatedness of the social network owned by the community of scavengers with fulfillment. This research uses descriptive qualitative method with phenomenological approach. The data collection is done by observation and interview techniques. The results showed that the sosial network owned by the community of scavengers has the impact outlined in the fulfillment of their needs. Not only in terms of economics, but also from the network, the trust and the mutual relationship that they have. Life settlements are slums are identical with the lower classes, but the scavenger community to keep working hard to make ends meet. Social networking through trust and mutual relationship becomes the main faktor that helps people scavengers to survive in meeting the needs of life. Keyword: Social Networking, Scavengers, Meeting the Needs
INTERAKSI SIMBOLIK ANGGOTA HIMPUNAN MAHASISWA PECINTA ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FANANI AZIZ, RIZAL
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang Interaksi Simbolik Anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Surabaya. Tujuannya adalah untuk memahami pola interaksi Simbolik Anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik Triangulasi dan menggunakan perspektif Interaksi Simbolik George Herbert Mead. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat polarisasi interaksi antara anggota Himapala Unesa, antara Anggota Aktif dengan Senior, Anggota Aktif dengan Calon Anggota, Senior Dengan Anggota Aktif, Senior dengan Calon Anggota, Calon Anggota dengan Anggota Aktif, Calon Anggota dengan senior. Yang dimana dalam polarisasi tersebut dikaji menurut self dan mind dalam teori Herbert Mead. Disamping itu didalam pola interaksi tersebut terdapat simbol-simbol baik itu verbal dan non verbal seperti dalam hal penyebutan beberapa istilah yangmembedakan Himapala dengan kelompok ataupun mapala yang lain. Kata Kunci: Interaksi Simbolik, Komunikasi, Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Abstract The study discusses about the interaction symbolic of the members of Himapala state university of surabaya. The aim is to understand the patterns of interaction symbolic of Himapala state University of Surabaya. The study is using the method of qualitative descriptive with triangulation technique and perspective of interaction symbolic George Herbert Mead. The collecting data was done by using observation and interview techniques. The result showed that there is polarization of the interactions between members of the Himapala University of Surabaya, between active members and seniors, between active members and candidate members, between senior and active members, between senior and candidate members. The polarization is reviewed with ?self? and ?mind? in Herbert Mead theory. In addition in the pattern of these interactions consist of symbols of verbal and non verbal like in terms to mention something that make Himapala different with other group or the other ?Mapala? Keyword: symbolic interaction, communication, Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam
MOTIF PERILAKU MENYIMPANG REMAJA DENGAN KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KOTA SURABAYA AISYAH MADYARATRI, SHANSIA
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penyalahgunaan narkoba di Kota Surabaya dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Banyaknya pengedar dan pengguna sudah mulai merambah ke kalangan remaja-remaja yang masih sekolah. Bermacam-macam motif yang diperoleh dari hasil observasi menunjukkan bahwa memang remaja sangat rentan dan mudah sekali terjerumus ke dalam hal-hal negatif yang dapat merugikan diri mereka sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Penelitian ini mengungkapkan tentang motif-motif dari luar maupun dari dalam lingkungan remaja ityu sendiri. Dalam hal penyalahgunaan narkoba di Kota Surabaya.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui motif dari perilaku menyimpangnya remaja di Kota Surabaya lebih tepatnya di daerah Rungkut Gunung Anyar. Teori ini digunakan untuk menganalisis teori fenomenologi Alferd Schutz. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan data perimer dan skunder. Hasil yang di dapatkan adalah ada berbagai macam motif remaja yang menggunakan narkoba yakni karena kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua, digunakan untuk pelarian, coba-coba, untuk kesenangan saja, pengaruh lingkungan luar rumah. Kata Kunci : Perilaku Menyimpang, Remaja, Fenomenologi Abstract Drug abuse in Surabaya from year to year is always increasing. The number of dealers and users have started to spread to the teenagers who are still in school. An assortment of motifs derived from the observation showed that indeed adolescents are particularly vulnerable and easy to fall into the negative things that can harm themselves and the surrounding environment. This study reveals about the motives from the outside or from within their own environment ityu teenagers. In terms of drug abuse in the city of Surabaya. The purpose of this study to find out the motives of the behavior of teenagers in the city of Surabaya menyimpangnya more precisely in the area of Mount Anyar Rungkut. This theory is used to analyze the theory of phenomenology Alferd Schutz. The method used is qualitative with phenomenological approach. The data collection technique using the data perimer and secondary. The results I discovered is there are a variety of motives teens who use drugs is because of the lack of affection and attention from their parents, used to run, try, for fun, environmental influences outside the home. Keyword : Deviant Behavior, Adolescent, Phenomenology
DRAMATURGI LESBIAN DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS SEKSUAL DI KOTA SURABAYA HAMIDIAH, NURUL
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang Dramaturgi Lesbian Dalam Mempertahankan Identitas Seksual Di Kota Surabaya. Lesbian berusaha menutupi orientasi seksualnya dengan meninggalkan semua identitas atau simbol-simbol yang bisa menunjukkan bahwa mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda ketika berada di lingkungan heteroseksual. Namun ketika di dalam komunitasnya atau ketika berjumpa dengan sesama maka seorang lesbian akan menunjukan identitas seksual yang sesungguhnya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dramaturgi seorang lesbian dalam mempertahankan identitas seksualnya di lingkungan sosial. Dengan tujuan penelitian untuk menganalisis dramaturgi lesbian dalam mempertahankan identitas seksual mereka di lingkungan masyarakat dengan menggunakan analogi drama Erving Goffman. Teori yang digunakan untuk menganalisis pada penilitian ini adalah teori dramaturgi Erving Goffman di mana terdapat front stage dan back stage untuk membongkar bagaimana sisi kehidupan para kelompok lesbian jika dilihat dari panggung depan dan panggung belakang dengan analogi drama milik Erving Goffman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan dramaturgi yang menggambarkan bahwa individu tidak sekedar mengambil peran orang lain, melainkan bergantung pada orang lain untuk melengkapi citra dirinya. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah wajah depan dan wajah belakang dari pelaku lesbian dalam mempertahankan identitas seksualnya. Wajah depan atau front stage yang merupakan bagian penampilan dari pelaku lesbian yang secara teratur berfungsi secara pasti dan umum untuk mendefinisikan situasi dalam berperilaku. Para pelaku lesbian ketika berada pada front stage mereka akan berpenampilan layaknya wanita normal degan bantuan setting yang mengacu pada pemandangan fisik dan personal front yang merupakan berbagai macam barang perlengkapan yang bersifat menyatakan perasaan. Kemudian wajah belakang atau back stage para pelaku lesbian akan menjadi dirinya sendiri. Back stage merupakan daerah dibelakang layar di mana back stage menyembunyikan fakta di depan atau berbagai tindakan informal pelaku lesbian. Para pelaku lesbian cenderung memiliki peranan yang berbeda-beda disetiap kondisi yang tidak sama. Selama kegiatan rutin seorang lesbian akan menyampingkan sosok dirinya yang ideal sebagai seorang pelaku lesbian. Kata Kunci: Lesbian, front stage, back stage, identitas seksual Abstract This research talk about the Dramaturgy Lesbian in Maintaining Sexual Identity In the city of Surabaya. Lesbian attempt to cover up their sexual orientation or identity by abandoning all symbols that can show that they have a different sexual orientation when it is in heterosexual environment, but when in the community or when meeting with fellow then a lesbian will show the true sexual identity. The formulation of the problem in this research is to find out how the dramaturgy of a lesbian in maintaining sexual identity in a social environment. The Purpose of research to analyze dramaturgy lesbian in maintaining identity their sexual in the community with uses the analogy drama Erving Goffman. The theory is used to analyze in this research is the theory of dramaturgy Erving Goffman where there are front stage and back stage to uncover how the lives of lesbian groups when viewed from the front stage and back stage drama by analogy belongs to Erving Goffman. Methods used in this research is qualitative approach dramaturgy describing that those individuals are not just to take the roles of others, but relying on others to furnish image himself. The results obtained from this study is the front face and rear face of the offender in maintaining lesbian sexual identity. Front stage which is a part of the appearance of the perpetrators of the lesbian who regularly functioned exactly and defines the situation in public to behave. The perpetrators are lesbian in front stage they will look like a normal woman with the help of the setting which refers to the physical landscape and the personal front which is an assortment of goods supplies are expressed feelings. Then face the rear or back stage lesbian actors will be himself. Back stage is the area behind the scenes where a back stage hide the fact in front or a variety of informal action lesbian abusers. Lesbian attend to have the role of different situations that remained the same .During the routine activities a lesbian will place side by side the figure of him who ideal as a doer lesbian. Keyword: Lesbian, front stage, back stage, Sexual Identity
GAYA HIDUP KOMUNITAS DRONE APDI (ASOSIASI PILOT DRONE INDONESIA) DI SURABAYA YUNI KRISBIANTO, FITRIA
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Artikel ini membahas tentang komunitas drone APDI yang ada di Surabaya. Tujuannya yaitu mengetahui bentuk gaya hidup komunitas drone APDI di Surabaya. Teori yang digunakan yaitu “Habitus” Pierre Bourdieu yang menggunakan metode kualitatif, metode kualitatif mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, dengan pendekatan structural genetis merupakan pendekatan yang berusaha mendeskripsikan suatu cara berpikir dan cara mengajukan pertanyaan. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive. Subjek yang dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu tingkat pengetahuan yang dihapakan mampu menjawab tujuan artikel, berdasarkan lama, atau baru bergabung dalam komunitas, kemudian dari aspek modal ekonomi, modal sosial, modal budaya dan simbolis yang dimiliki oleh informan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui getting in agar tercipta trust antara peneliti dan informan, kemudian observasi dan melakukan wawancara yang mendalam dalam menggali data. Analisis dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, display data kemudian menarik kesimpulan. Hasil yang didapat adalah terdapat dua macam bentuk gaya hidup, pertama yaitu gaya hidup aktif yang meliputi gaya hidup hobi drone untuk menghasilkan uang, gaya hidup drone custom(merakit) dan gaya hidup jaringan sosial. Yang kedua yaitu gaya hidup tidak aktif yang berupa gaya hidup hobi menerbangkan drone. Kata Kunci : gaya hidup, drone, komunitas drone Abstract This article mainly discuss about APDI, community of drone which is located in Surabaya. It is written to find out the lifestyle from of APDI community of drone in Surabaya. The theory used in this research is Habitus by Pierre Bourdieu, which also used qualitative method. Qualitative method defines qualitative research as a procedure which results descriptive data in written words or verbal that coming from people and behaviour that can be observed. It also used structural genetics approach  which is an approach that describes the mindset and the way a question is submitted. The subjects were choosen by using purposive sampling method. The subjects were choosen according to some considerations, they are: knowledge level which is expected to be able to answer this research aim; the membership, whether they are new or have been in the community for long time; the economy, social,culture, and symbolic capital owned by the subjects. Getting in method is also used in order to collect data, this method helps writer to build trust between writer and subjects, and then doing observation and indepth interview to get deeper data. Writer used three stages in analyzing, they are: data reduction;display;and then conclusion making. The result show  that there are two kind of lifestyle, the first one is an active lifestyle which include having Drone as a hobby and also making money from it, custom drone lifestyle and social network lifestyle. The second one is an inactive lifestyle which include a hobby of flying Drone lifestyle. Keywords: lifestyle, drone, drone community
PRAKTEK KEKERASAN SIMBOLIK PADA ANAK AUTIS DI SALAH SATU SLB DI KAWASAN SURABAYA TRI PRASTIA, HENDRA
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan pendidikan nasional tidak terlepas dari peran orangtua keluarga dan juga lembaga pendidikan seperti sekolah, sekolah tidak hanya dikhususkan terhadap anak normal saja tetapi juga kepada anak berkebutuhan khusus seperti anak autis lahirnya pendidikan formal bagi anak autis memang sangat membantu orang tua supaya anak autis sendiri bisa diterima dimasyarakat dan dapat membantu proses interaksi mereka dan membantu minat dan bakat pada anak autis sendiri dalam prakteknya memang banyak terjadi kekerasan simbolik memang kekerasan simbolik sendiri tidak luput kasat mata dan juga memang banyak orang yang tidak tau bahwasannya mereka memang melakukan kekerasan simbolik  guru,orang tua tidak sadar bahwasannya mereka melakukan kekerasan simbolik, kekerasan simbolik memang tidak terlihat tapi memang kekerasan simbolik terjadi lewat bahasan guru mencerminkan pesan dan pesan tersebut dimaknai dalam sebuah simbol yang mana dalam bahasa tersebut menyembuunyikan maksud dan tujuan dari suatu tindakan . Jenis penelitian ini adalah menggunaknan metode kualitatif dan bersifat deskriptif karena memang bertujuan menngambarkan objek yang diteliti lokasi penelitian ini adalah di  salah satu SLB di kawasan surabaya  subjek dalam penelitain ini adalah kepala sekolah,guru, dan juga orang tua siswa teknik pengumpulan data sendiri adalah pengamatan partisipasi,wawancara,dokumentasi dan menggunakan analisis reduksidata,penyajian data,penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini ternyata menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kekerasan simbolik adalah 1 Peringatan 2. Ancaman 3. Larangan 4. Kekerasan fisik tanpa disadir memang guru melakukan kekerasan simbolik karena memang siswa 1. Tidak mau belajar 2. Menggangu teman atau guru 3. Tantrum atau mengamuk dan juga guru melakukan kekerasn simbolik berfungsi untuk siswa menjadi tenang dan dapat mengikuti prses belajar mengajar 2. Guru dapat mengendalikan siswa yang sedang tantru karena memang siswa yang sedang tantru biasaya membahayak orang lain atas dasar ini juga guru disarankan supaya bahasa yang digunakan tidak terlalu kasar supaya tidak menggangu psikologis anak Kata kunci : kekerasan simbolik, bentuk kekerasan simbolik, tujuan dan sebab melakukan kekerasan simbolik Abstract National education goals can not be separated from the role of parent families and educational institutions such as schools, the school is not only devoted against normal children saj but also to children with special needs such as autistic children birth formal education for children with autism is very helpful parents to children with autism themselves acceptable in socity and can help the process of their interaction and help interest and talent in autistic children themselves in practice happened a lot symbolic violence indeed symbolic violence itself does not escape the naked eye and also did a lot of people who do not know bahwasannya they did make symbolic violence teachers, parents that aware they perform symbolic violence, symbolic violence is not visible but it is symbolic violence took place through discussion of teachers reflects a message and it is interpreted in a symbol which in the language of hiden intent and purpose of an action. This type of research is using methods of qualitative and descriptive because it aims describe observed object location of this research is in the SLB subject in research are principals, teachers, and parents of students techniques of data collection itself is the observation of participation, interview , documentation and use reduksi data analysis, presentation of data, drawing conclusions. The results of this study apparently showing that the forms of symbolic violence is 1. Warning 2. Threats 3. Prohibition 4. Physical violence without disadir indeed symbolic violence teachers because students want to learn 1. 2. 3. Disrupting a friend or a teacher or a Tantrum rampage and teachers also perform communal violence symbolic function for the students to be quiet and be able to follow the teaching and learning prses 2. the teacher can control the students who are tantrum because students are being tantru usually edanger others on the basis of the teacher is also recommended that the language used is not too rough so as not to interfere with the child psychologically Keywords: symbolic violence, forms of symbolic violence, because the purpose and symbolic violence
INTERAKSI SOSIAL PADA WONG MENDO : STUDI DI DESA SIDOHARJO KECAMATAN JAMBON KABUPATEN PONOROGO DAMARA, DHONY
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon merupakan salah satu desa  yang memiliki penderita retardasi mental paling banyak di Kabupaten Ponorogo. Retardasi mental merupakan keadaan mental yang terganggu sejak lahir dan berakibat pada kondisi intelektual. Masyarakat Desa Sidoharjo menyebut penderita retardasi mental ini sebagai orang idiot. Dalam keseharian menggunakan bahasa jawa masyarakat memanggilnya dengan sebutan wong mendo. Mereka hidup membaur dengan masyarakat sekitar tanpa adanya jarak. Dalam interaksi sosialnya orang idiot menggunakan simbol ketika menjalin komunikasi dengan masyarakat. Simbol tersebut digunakan dalam keseharinya ketika berkomunikasi dengan sesama idiot maupun warga normal. Tujuan dari penelian ialah untuk mengetahui penggunaan dan pemaknaan simbol dalam interaksi sosial pada orang idiot/ wong mendo di Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Perspektif interaksionisme simbolik berusaha mempelajari interaksi sosial individu dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahaminya. Hasil penelitian adalah interaksi sosial dilakukan oleh masyarakat Desa Sidoharjo baik sesama orang  idiot maupun orang idiot dengan orang normal. Keduanya berinteraksi menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal digunakan orang idiot melalui bahasa istilah dan penyingkatan bahasa. Komunikasi non verbal yang berupa gerakan tubuh digunakan ketika simbol verbal yang digunakan mengalami kesulitan. Kedua komunikasi tersebut digunakan oleh orang idiot dalam menjalin komunikasi sesama orang idiot maupun orang normal. Sebaliknya orang normal meresponya juga menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Perbedaanya orang normal lebih sedikit menggunakan simbol tersebut. Hal tersebut karena orang normal lebih banyak menggunakan komunikasi seperti biasanya karena sudah dirasa cukup dimengerti. Komunikasi dalam bentuk simbol verbal dan non verbal digunakan orang normal ketika orang idiot tidak mengerti. Komunikasi yang digunakan keduanya dibangun sejak lama atau sejak adanya orang idiot. Mereka menjalin komunikasi tersebut dengan lancar karena kebiasaan keseharian yang dilakukan. Orang lain yang belum pernah menjalin komunikasi dengan orang idiot akan merasa kesulitan jika belum beradaptasi. Kata kunci : interaksi sosial, komunikasi verbal, komunikasi non verbal, simbol verbal, simbol non verbal ABSTRACT Sidoharjo Village District of Jambon is a village that has people with mental retardation most in Ponorogo. Mental retardation is an impaired mental state since birth and affects in intellectual condition. Sidoharjo people refer patients with mental retardation as idiots. In daily activities, people called them wong mendo in Javanese. They live with the surrounding community without distance. In the social interaction, idiots use symbols when communicate with the others. The symbols are used in daily when communicating with fellow idiot and normal citizens. The aim of the study is to determine the use and meaning of symbols in social interaction of the idiots / wong Mendo in the SidoharjoVillage District of Jambon, Ponorogo. This study used qualitative methods to approach symbolic interactionism of George Herbert Mead. Perspective of symbolic interactionism tried to learn social interaction of individuals by using symbols understood. Result of the research is social interaction done by the Sidoharjo people both among idiots and the idiots with normal people. Both of them interact using verbal and non-verbal communication. Verbal communication is used by the idiots include terms and condensation language. Non-verbal communication is body movement which is used when verbal symbols are used in trouble. Both of these communications are used by idiots in establishing communication among idiot or a normal person. In contrast, normal people also response using verbal and non verbal communication. The difference is normal people use the symbol less. This is because the normal people use usual communication more since it has been considered quite understandable. Communication in the form of verbal and non verbal is used by normal people when the idiots do not understand. Communication used by both of them has been built long time ago or since the existence of the idiots. They communicate fluently everyday because habits have been conducted. Other people who have never communicated with an idiot would find it difficult if he has not adapted. Keywords: social interaction, verbal communication, non-verbal communication, verbal symbols, non-verbal symbols
MEKANISME SURVIVAL PEMULUNG DI KOMPLEKS PEMULUNG LANSIA (LANJUT USIA) TANGKIS GANG 17 BARATA JAYA SURABAYA SAPUTRA, DEKI
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Riset ini ingin melihat Mekanisme Survival yang dilakukan Pemulung di Kompleks Pemulung Lansia (Lanjut Usia Tangkis Gang 17 Barata Jaya Surabaya. Tujuannya adalah untuk memahami bentuk mekanisme survival yang dilakukan oleh masyarakat pemulung lanjut usia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan banyak sekali bentuk mekanisme survive yang dilakukan oleh para pemulung lanjut usia dalam usaha untuk bertahan hidup dari masalah kemiskinan. Hal yang dilakukan mulai dari pengurangan jatah makanan, meminjam uang ke tetangga atau saudara, dan mencoba mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Semua itu merupakan bentuk dari mekanisme survive yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu bentuk  mekanisme survive yang dilakukan adalah dengan menerapkan konsep budaya Jawa yaitu tolong menolong antar masyarakatnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat sekitar pemulung tersebut yang saling tolong menolong sebagi suatu kesatuan kearifan lokal dan budaya yang sama. Selain itu para pemulung lanjut usia juga menerapkan konsep savety first dengan mengajak individu lain yang sama untuk tinggal dan menetap bersama.   Kata Kunci: Mekanisme Survival, Pemulung, Lanjut Usia.   Abstract This research would like to see mechanisms Survival done Scavenger in Complex Scavenger Elderly (Seniors Badminton Gang 17 Barata Jaya Surabaya. The goal is to understand the shape of the mechanism of survival by the community of scavengers elderly. This study used a descriptive qualitative method with phenomenological approach. The data collection done by observation and interview techniques. the results showed a great many forms of mechanisms survive conducted by the scavengers elderly in an attempt to survive the poverty problem. This is done from the reduction of food rations, borrow money from neighbors or relatives, and try find a job according to their expertise. All of that is a form of mechanism survive done to meet their daily needs. in addition, the form of mechanisms to survive is by applying the concept of Javanese culture, namely mutual help among the people. this is evidenced by the many people around the scavengers who help each other as a unity of local wisdom and culture alike. Besides the scavengers elderly also apply the concept of savety first to invite other individuals a like to stay and settle down together.   Keyword: Survival Mechanism, Scavengers, Elderly. 
KONFLIK PEREBUTAN LAHAN PEMAKAMAN: STUDI DI DESA MAMBULU BARAT KECAMATAN TAMBELANGAN KABUPATEN SAMPANG SULAIMAN,
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik adalah bagian dari realitas sosial yang tidak dapat dihindari. Masyarakat Madura yang dianggap memiliki nilai-nilai agama islam yang tinggi pun tidak dapat terhindar dari konflik baik yang bersifat manifest maupun laten, yang berbentuk realistis maupun nonrealistis, yang melibatkan perorangan maupun kelompok. Salah satunya adalah konflik di Desa Mambulu Barat, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang yang melibatkan dua kelompok warga yakni warga Desa Mambulu Barat dan Desa Glagas yang memperebutkan lahan pemakaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik perebutan lahan pemakaman di Desa Mambulu Barat, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fungsionalisme konflik perspektif Lewis Alfred Coser yang melihat konflik tidak hanya berwajah negatif tetapi juga berwajah positif.                    Hasil penelitian ini adalah adanya bentuk-bentuk konflik antar warga Desa Mambulu Barat dan Desa Glagas yang termasuk dalam konflik realistis, dimana elite-elite agama yang terpinggirkan dari kepengurusan masjid Raudhatul Falah Glagas berusaha untuk membangun masjid lain di area lahan pemakaman wakaf milik warga Desa Mambulu Barat dan Desa Glagas. Konflik antar elite ini mampu meningkatkan integrasi antar anggota in group yang berbanding lurus dengan  meluasnya konflik seperti pelarangan penggalian lahan pemakaman oleh warga Desa Mambulu Barat kepada warga Desa Glagas, serta pengrusakan batu nisan dari makam leluhur warga Desa Glagas yang diduga kuat dilakukan oleh warga Desa Mambulu Barat. Sementara perlawanan dari warga Desa Glagas dilakukan dengan cara merusak pipa saluran air sumber milik warga Desa Mambulu Barat. Kata kunci :   Fungsionalisme Konflik, Bentuk Konflik, Konflik Realistis. Abstract                    Conflict is a part of social reality which can not be denied. Madura society, which is considered having strong value in Islam, can not either avoid conflicts, whether it is manifest or latent, realistic or non-realistic, individual level or group level. One example of the conflicts is the one that happen in West Mambulu village, Tambelangan district, Sampang regency which involves two communities, they are West Mambulu and Glagas villagers who fight over burial field. This research aims to describe the forms of burial field seizing conflicts in West Mambulu Village, Sampang. This research used qualitative method with functionalism conflict perspective by Lewis Alfred Coser who sees conflict as something usefull.                    The result shows that the conflict between West Mambulu and Glagas villagers is a realistic conflict. Religious elites who had been marginalized from the management of Raudhatul Falah mosque in Glagas decided to build another mosque in the burial field owned by West Mambulu dan Glagas villagers. This conflict contributes in increasing the integration of in-group members which is linear with the expansion of the conflicts itself, such as the restriction of digging the burial field by West Mambulu villagers to Glagas villagers, and also the devastation of tombstone of Glagas’s ancestor which allegedly done by West Mambulu villagers. While the resistance from Glagas was done by ruining the water pipes owned by West Mambulu villager. Keywords: Functionalism Conflict, Form of Conflict, Realistic Conflict.
PERSEPSI NILAI ANAK DALAM PENGATURAN KELAHIRAN PADA PASANGAN USIA SUBUR MULYA SARI, SAHRUL
Paradigma Vol 5, No 1 (2017): Vol 5 Nomer 1 (2017)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk memotivasi para pasangan usia subur dalam merencanakan kelahiran sesuai dengan nilai anak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Lokasi penelitian di Desa Balonggebang, Gondang, Nganjuk. Sampel penelitian 100 Responden. Teknik pengumpulan data dengan kueioner, teknik analisi  menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai anak mempengaruhi pengaturan kelahiran bagi pasangan usia subur. Diharapkan pemerintah atau lembaga yang ingin mengurangi kepadatan penduduk mempertimbangkan upaya untuk merubah pola pikir tentang anak.   Kata kunci : pasangan usia subur, keluarga, nilai anak, fertilitas.            Abstract The purpose of this study was to motivate the couples of childbearing age in planned births according to the value of children. This study uses quantitative methods. The research location in the village Balonggebang, Gondang, Nganjuk. The research sample of 100 respondents. Kueioner data collection techniques, analysis techniques using descriptive statistical analysis techniques. The results showed that the value of the child affect birth control for couples of childbearing age. Expected government or institutions that want to reduce the population density into account efforts to change the mindset of children.   Keywords : couples of childbearing age, the family, the value of the child, fertility..