cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
LenteraBio
ISSN : 22523979     EISSN : 26857871     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
AKTIVITAS ANTIBAKTERI YOGHURT SUSU SAPI DAN YOGHURT SUSU KEDELAI TERHADAP SHIGELLA DYSENTERIAE SECARA IN VITRO FITRIANARNI, DAHLIA
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 1 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri yoghurt susu sapi dan yoghurt susu kedelai terhadap Shigella dysenteriae secara in vitro. Yoghurt susu sapi dan yoghurt susu kedelai dibuat dengan menggunakan dua kultur bakteri starter yaitu Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 dan Streptococcus thermophilus FNCC 0040. Yoghurt yang dihasilkan selanjutnya disentrifugasi untuk diambil supernatannya. Supernatan yoghurt yang diujikan yaitu supernatan asam dan supernatan netral. Pengujian dilakukan menggunakan metode sumuran (well diffusion). Data diameter clear zone selanjutnya diuji normalitasnya menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Analisis Ragam (Analysis of variance/ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supernatan asam yoghurt susu sapi, supernatan netral yoghurt susu sapi dan supernatan asam yoghurt susu kedelai mampu menghambat pertumbuhan S. dysenteriae dengan terbentuknya clear zone di sekitar sumuran dengan diameter sebesar 23,63 + 4,38 mm; 20,73 + 2,68 mm; dan  23,40 + 3,77 mm. Supernatan netral yoghurt susu kedelai tidak menunjukkan aktivitas antibakteri. Berdasarkan uji Duncan dari ketiga supernatan yang dapat menghambat pertumbuhan S. dysenteriae tidak menunjukkan kemampuan penghambatan yang berbeda nyata antara perlakuan satu dengan yang lain, namun ketiganya berbeda nyata terhadap supernatan netral yoghurt susu kedelai, antibiotik Metronidazole 10 mg/ml dan kontrol negatif berupa supernatan susu sapi dan supernatan susu kedelai. Kemampuan aktivitas antibakteri yoghurt susu sapi dan yoghurt susu kedelai diduga karena senyawa-senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh L. bulgaricus dan S. thermophilus berupa asam organik, bakteriosin, hidrogen peroksida, dan diasetil.   Kata kunci : aktivitas antibakteri, yoghurt, L. bulgaricus, S. thermophilus, S. dysenteriae
UPAYA PENURUNAN LOGAM BERAT TIMBAL PADA MYSTUS NIGRICEPS DI KALI SURABAYA MENGGUNAKAN FILTRAT KULIT NANAS ULFAH, SYAZWANI
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 1 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan keting (Mystus nigriceps) di Kali Surabaya tercemar timbal (Pb) sebesar 1.81 mg/kg. Sementara ambang batas maksimum pencemaran logam berat timbal dalam pangan yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Indonesia yaitu tidak boleh lebih dari 0,4 mg/kg. Berdasarkan hal tersebut, maka ikan keting di Kali Surabaya tidak aman untuk dikonsumsi penduduk. Tujuan penelitan ini adalah untuk menurunkan kadar logam berat timbal pada ikan keting dengan menggunakan berbagai konsentrasi dan lama perendaman filtrat kulit nanas. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan, yaitu perbedaan konsentrasi filtrat kulit nanas (0%, 25%, 50%, 75%, 100%) dan lama waktu perendaman (30 menit dan 60 menit). Penelitian dilakukan dengan 4 kali pengulangan. Parameter penelitian yang diamati adalah persentase penurunan kadar logam berat timbal ikan keting. Data dianalisis dengan analisis varian dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penurunan kadar logam timbal pada perlakuan berbagai konsentrasi filtrat kulit nanas dan lama perendaman terhadap penurunan kadar logam timbal pada ikan keting di Kali Surabaya.   Kata kunci: timbal; Mystus nigriceps; Kali Surabaya; filtrat kulit buah nanas
INDUKSI KALUS UMBI ILES-ILES (AMORPHOPHALLUS MUELLERI) DENGAN KOMBINASI KONSENTRASI 2,4-D DAN BAP SECARA IN VITRO MASRURI AZIZ, MOCHAMMAD
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 2 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iles-iles (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian yang mengandung kadar glukomannan tertinggi di antara Amorphophallus lainnya yang berada di Indonesia. Iles-iles mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangkan karena senyawa glukomannan pada umbi mempunyai nilai ekonomi tinggi. Perbanyakan iles-iles secara alami membutuhkan waktu lama karena memiliki dormansi 1–5 bulan sehingga dilakukan alternatif perbanyakan dengan kultur jaringan. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pengaruh kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BAP terhadap pembentukan kalus umbi iles-iles secara in vitro dan memperoleh kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BAP yang terbaik dalam pembentukan kalus. Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel manipulasi A = 0,5 mg/l 2,4-D + 1 mg/l BAP, B = 1 mg/l 2,4-D + 1 mg/l BAP, C = 1,5 mg/l 2,4-D + 1 mg/l BAP, D = 0,5 mg/l 2,4-D + 1,5 mg/l BAP, E = 1 mg/l 2,4-D + 1,5 mg/l BAP. Parameter pengamatan adalah waktu induksi kalus, biomassa kalus, pembentangan eksplan, warna dan tekstur kalus yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BAP berpengaruh terhadap induksi kalus umbi iles-iles dan kombinasi konsentrasi terbaik dalam menginduksi kalus umbi iles-iles adalah 1 mg/l 2,4-D + 1 mg/l BAP (perlakuan B) dengan rerata waktu induksi 13 hari, rerata biomassa kalus 567 ± 413 mg, rerata pembentangan eksplan 7,31 ± 1,70 mm, dan terbentuk kalus yang kompak dan berwarna putih.    Kata kunci: umbi Iles-iles; 2,4-D; BAP; kalus; in vitro    
PATOGENITAS CENDAWAN ENTOMOPATOGEN (LECANICILLIUM LECANII) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA UNTUK PENGENDALIAN HAMA WERENG COKLAT SECARA IN VIVO KHOIROH, FAHIMATUL
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 2 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wereng coklat merupakan hama utama tanaman padi yang menyerang dengan cara menghisap cairan jaringan tanaman padi. Apabila populasi tinggi, tanaman akan mengering seperti terbakar (hopperburn). Salah satu upaya pengendalian wereng coklat menggunakan cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas cendawan L. lecanii sebagai bioinsektisida dan menentukan konsentrasi kerapatan konidia L. lecanii yang paling efektif terhadap mortalitas dan waktu kematian wereng coklat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu konsentrasi kerapatan konidia (107, 108, 109 dan 1010 konidia/ml). Mortalitas dan waktu kematian wereng coklat diamati selama 10 hari setelah aplikasi (HSA). Data mortalitas dianalisis menggunakan ANAVA satu arah dan dilanjutkan uji Duncan, sedangkan waktu kematian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patogenitas cendawan L. lecanii sebagai bioinsektisida efektif terhadap mortalitas dan waktu kematian wereng coklat. Konsentrasi kerapatan konidia yang paling efektif yaitu pada 1010 konidia/ml menyebabkan mortalitas hingga 78,33 % dan waktu kematian hingga 5,81 HSA.   Kata kunci: Patogenitas; cendawan Lecanicillium lecanii; bioinsektisida, wereng coklat 
KEPADATAN CACING TANAH DI KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR DAN HUBUNGANNYA DENGAN KADAR LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DALAM TANAH STYA NINGRUM, IVA
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 2 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacing tanah merupakan hewan tanah yang memiliki toleransi berbeda pada kondisi habitatnya. Gresik merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu kawasan industri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan beberapa jenis cacing tanah dan hubungan kepadatan cacing tanah dengan adanya kadar logam berat Timbal (Pb) dalam tanah di kabupaten Gresik, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dengan pengambilan sampel pada 6 stasiun di Kabupaten Gresik menggunakan metode purposive random sampling. Pengambilan sampel cacing tanah menggunakan metode hand sorting kemudian diidentifikasi sampai tingkatan spesies. Parameter fisik dan kimia yang diamati yaitu pH, suhu, kelembapan, kandungan C organik dan kandungan Pb dalam tanah. Perhitungan kepadatan cacing tanah menggunakan rumus kepadatan, kemudian hubungan antara kepadatan dan kandungan Pb dalam tanah dianalisis menggunakan analisis korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis cacing tanah yang ditemukan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yaitu jenis Pheretima cf. racemosa, Metaphire cf. javanica, Metapheretima cf. elongata dan Amynthas cf. zebrus. Kepadatan total cacing tanah pada keenam stasiun yaitu Kecamatan Driyorejo, Wringinanom, Cerme, Kebomas, Gresik dan Bungah masing-masing 50, 70, 60, 140, 56 dan 104 individu/m2. Hasil analisis hubungan menggunakan korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kepadatan cacing tanah dengan adanya logam berat Pb dalam tanah.    Kata kunci: Cacing tanah; Gresik; Timbal (Pb); kepadatan
UJI ANTAGONIS CENDAWAN AGENS HAYATI TERHADAP CENDAWAN CERCOSPORA MUSAE PENYEBAB PENYAKIT SIGATOKA SECARA IN VITRO DEWI R., JULIKAH
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 2 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cercospora musae merupakan cendawan penyebab penyakit sigatoka yang mengganggu produksi buah pisang. Pengendalian hayati dapat dengan menggunakan cendawan Trichoderma harzianum, Aspergillus niger, dan Penicillium sp.. Cendawan T. harzianum menghasilkan enzim kitinase dan selulase, cendawan A. niger menghasilkan enzim ekstraseluler ß-1, 3 glucanase, dan enzim hidrolitik sedangkan cendawan Penicillium sp. mengeluarkan beberapa senyawa alkaloid untuk menghambat pertumbuhan cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan persentase hambatan dari penggunaan cendawan T. harzianum, A. niger dan Penicillium sp. terhadap pertumbuhan cendawan C. musae dan untuk mendeskripsikan cendawan antagonis apa yang mampu memberikan hambatan paling tinggi terhadap pertumbuhan cendawan C. musae. Penelitian dilaksanakan pada bulan September - Februari 2014 di laboratorium Agen Hayati Unit Pelaksana Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT-PTPH) Pagesangan, Surabaya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor penelitian yaitu jenis cendawan antagonis. Cendawan antagonis yang digunakan ada tiga yaitu cendawan T. harzianum, A. niger dan Penicillium sp. dengan pengulangan sebanyak 6 kali sehingga secara keseluruhan terdapat 18 unit perlakuan. Parameter pengamatan dalam penelitian ini yaitu persentase hambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan A. niger, Penicillium sp., dan T. harzianum dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen C. musae dengan persentase hambatan berurutan sebesar 95,43 ± 4,73 %, 94,99 ± 4,78 %, 94,13 ± 4,82 %.   Kata kunci: Cendawan Cercospora musae; Trichoderma harzianum; Aspergillus niger; Penicillium sp.; uji antagonis 
PEMANFAATAN BEKATUL PADI, BEKATUL JAGUNG, DAN KULIT ARI BIJI KEDELAI SEBAGAI MEDIA PERTUMBUHAN MISELIUM CENDAWAN METARHIZIUM ANISOPLIAE SADAD, ANWAR
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 2 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis media (bekatul padi, bekatul jagung ataukah kulit ari biji kedelai) yang paling efektif untuk pertumbuhan miselium cendawan M. anisopliae berdasarkan diameter permukaan media yang tertutupi miselium terbesar. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor perlakuan yaitu berbagai macam media yang digunakan antara lain media PDA, bekatul padi, bekatul jagung dan kulit ari biji kedelai. Perlakuan diulang 6 kali sehingga diperoleh 24 unit eksperimen dan penempatannya dilakukan secara acak. Data berupa diameter miselium diuji secara statistik dengan uji anava satu arah, hasilnya signifikan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media memberikan perbedaan pertumbuhan diameter miselium cendawan M. anisopliae. Media perlakuan yang paling baik dalam menumbuhkan miselium cendawan M. anisopliae  yaitu pada media bekatul padi dengan rerata diameter permukaan media yang tertutupi miselium 6,8 cm.   Kata kunci: Metarhizium anisopliae; bekatul jagung; bekatul padi; kulit ari biji kedelai; diameter miselium
INDUKSI DAN PERTUMBUHAN KALUS DAUN TIN (FICUS CARICA) DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KOMBINASI KONSENTRASI IBA DAN KINETIN PADA MEDIA MS SECARA IN VITRO FADILAH, RAHMA
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 3 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman tin (Ficus carica) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Daun tin digunakan sebagai obat berbagai penyakit, namun budidaya tanaman tin di Indonesia banyak dijumpai kendala, sehingga diperlukan teknik perbanyakan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IBA (Indole-3-butyric acid) dan kinetin (6-fulfurylamino purine) terhadap induksi dan pertumbuhan kalus daun tin pada media MS (Murashige dan Skoog) secara in vitro dan mengetahui kombinasi konsentrasi IBA dan kinetin terbaik untuk induksi dan pertumbuhan kalus daun tin. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, yaitu (A) MS+0 mg/l IBA+2 mg/l kinetin, (B) MS+0,5 mg/l IBA+1,5 mg/l kinetin, (C) MS+1 mg/l IBA+1 mg/l kinetin, (D) MS+1,5 mg/l IBA+0,5 mg/l kinetin, (E) MS+2 mg/l IBA+0 mg/l kinetin dengan 5 ulangan pada tiap perlakuan, sehingga didapatkan 25 unit eksperimen. Parameter yang diamati adalah kecepatan waktu induksi kalus, biomassa kalus, pembentangan eksplan, tekstur dan warna kalus. Data biomassa kalus dianalisis dengan ANAVA satu arah, sedangkan data pembentangan, tekstur dan warna kalus dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi konsentrasi IBA dan kinetin berpengaruh terhadap induksi dan pertumbuhan kalus daun tin pada media MS secara in vitro. Kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh 0,5 mg/l IBA+1,5 mg/l kinetin merupakan kombinasi konsentrasi yang terbaik untuk induksi dan pertumbuhan kalus daun tin yang ditanam pada media MS secara in vitro, dengan waktu induksi 20 hari, biomassa kalus (0,712 gram), tekstur kalus kompak dan berwarna hijau.   Kata kunci: Ficus carica; IBA; kinetin; induksi kalus; pertumbuhan kalus.
INDUKSI KALUS DAUN MELATI (JASMINUM SAMBAC) DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI DICHLOROPHENOXYACETIC ACID (2,4-D) DAN 6-BENZYLAMINO PURINE (BAP) PADA MEDIA MS SECARA IN VITRO ROSYIDAH, MASCHURIYAH
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 3 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melati (Jasminum sambac) merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, tetapi pada saat ini populasi dan pasokan melati semakin berkurang sehingga mendorong untuk pengembangan tanaman melati. Teknik perbanyakan melati dengan cara setek batang banyak dijumpai kendala, antara lain kualitas bibit yang dihasilkan kurang baik. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan perbanyakan tanaman melati yang relatif cepat secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh induksi kalus daun melati akibat pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP pada media MS secara in vitro. Penelitian ini disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan 5 perlakuan, yaitu media MS dengan 0 mg/l 2,4-D + 2 mg/l BAP, Media MS dengan 0,5 mg/l  2,4-D + 1,5 mg/l BAP, Media MS dengan 1 mg/l  2,4-D + 1 mg/l BAP, Media MS dengan 1,5 mg/l 2,4-D + 0,5 mg/l BAP, Media MS dengan 2 mg/l 2,4-D + 0 mg/l BAP dan setiap perlakuan ada 5 ulangan. Parameter yang diamati yaitu kecepatan waktu induksi, biomassa, warna dan tekstur. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANAVA satu arah) dan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP pada berbagai konsentrasi berpengaruh seignifikan terhadap pertumbuhan kalus eksplan daun tanaman melati pada media MS secara in vitro, kombinasi konsentrasi 1 mg/l  2,4-D + 1 mg/l BAP menghasilkan pertumbuhan kalus eksplan daun tanaman melati (Jasminum sambac) yang optimal, yaitu waktu induksi kalus pada hari ke-6, rerata biomassa kalus 1,330 gram, warna kalus hijau dan tekstur kompak.   Kata Kunci: induksi kalus; daun melati; Jasminum sambac; Dichlorophenoxyacetic Acid  (2,4-D); 6-Benzylamino Purine (BAP);  media MS
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI NAA (NAPTHALENE ACETIC ACID) DAN BAP (BENZYL AMINO PURINE) TERHADAP INDUKSI KALUS DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA) SECARA IN VITRO FITRIANA PUTERI, RANI
LenteraBio: Berkala Ilmiah Biologi Vol 3, No 3 (2014):
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman sirsak (Annona muricata) mengandung senyawa kimia acetogenins yang sangat bermanfaat bagi pengobatan. Produksi metabolit sekunder acetogenins melalui kultur in vitro merupakan pilihan yang mempunyai harapan dibandingkan dengan produksi tanaman utuh, karena senyawa-senyawa metabolit sekunder dalam tanaman dapat ditingkatkan dan sistem produksi  dapat diatur sehingga kualitas dan produksinya lebih konsisten untuk memenuhi kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pertumbuhan kalus, waktu induksi tercepat serta konsetrasi NAA dan BAP yang tepat untuk menghasilkan biomassa dan viabilitas kalus paling optimal dari daun sirsak. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan setiap perlakuan memiliki 5 ulangan sehingga terdapat 25 unit ekperimen. Parameter yang diamati adalah kecepatan waktu induksi, viabilitas kalus yang terdiri atas biomassa, serta  tekstur kalus. Waktu induksi dan tekstur kalus diamati secara visual dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan biomassa kalus dianalisis dengan menggunakan ANAVA satu arah dan dilanjutkan dengan uji BNT, hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan berbagai konsentrasi NAA (Napthalene Acetic Acid) dan BAP (Benzyl Amino Purine)  secara in vitro berpengaruh secara signifikan terhadap kecepatan waktu induksi dan viabilitas kalus daun tanaman sirsak. Pemberian konsentrasi yang paling optimal untuk menghasilkan kecepatan waktu induksi dan viabilitas kalus daun sirsak adalah penambahan NAA dengan konsentrasi 3 mg/l dan BAP dengan konsentrasi 1 mg/l menghasilkan biomassa kalus sebesar 0,551 mg dan menghasilkan waktu induksi tercepat, yaitu 7 hari.   Kata kunci: Annona muricata; kultur jaringan; metabolit sekunder; waktu induksi; biomassa dan viabilitas kalus; Napthalene Acetic Acid; Benzyl Amino Purine; kultur in vitro

Page 10 of 29 | Total Record : 281