cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi
ISSN : 14121131     EISSN : 25285750     DOI : 10.21831
Core Subject : Science,
FISIENSI - Kajian Ilmu Administrasi adalah jurnal ilmiah dari hasil penelitian dan/atau kajian pustaka dalam bidang ilmu administrasi perkantoran baik dalam bidang kependidikan maupun dalam bidang ilmu administrasi murni dengan fokus dan ruang lingkup pembahasan tentang: 1) Pendidikan Vokasi Administrasi Perkantoran, 2) Manajemen Sumber Daya Perkantoran, 3) Administrasi/Manajemen Perkantoran, 4) Otomatisasi Perkantoran, 5) Teknologi Perkantoran, 6) Hubungan Masyarakat, 7) Simulasi Perkantoran, 8) Manajemen Event, 9) Pelayanan Prima, 10) Kesekretarisan, 11) Korespondensi, 12) Komunikasi, 13) Organisasi, dan 14) Kearsipan. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY secara berkala satu tahun dua kali yakni pada bulan Februari dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007" : 7 Documents clear
Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan dalam Organisasi Rosidah Rosidah
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7236.668 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3912

Abstract

Seiring dengan pengembangan teknologi dan informasi, persoalan organisasi semakin bertambah banyak baik dari segi kuantitas maupun tuntutan kualitas para pengguna jasa. Macam kualitas sebagaimana tuntutan masyarakat atau pengguna jasa kantor semakin kompleks. Ini semua memaksa manajemen lembaga untuk melihat kembali sejauh mana kualitas yang dapat diberikan kepada pelanggannya. Perhatian lembaga akan kualitas pelanggan meliputi borbagai aspek, yakni dilihat dari bagaimana membangun budaya penlngkatan kualitas, artinya memberikan kesadaran kepada sumber daya manusia yang ada di dalamnya akan pentingnya kualitas pelayanan. Di samping itu juga perlu perhatian terhadap aspek manajemen tersebut yang butuh diaplikasikan dalam proses penyelenggaraan organisasi. Tidak kalah pentingnya bahwa penentuan stadard kualitas pelayanan sebagai pedoman dalam penuaian kinerja juga harus menjadi perhatian. Tulisan berikut akan membahas secara detail langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan.
Pengembangan Etos Kerja Aparat Pemerintah Desa dalam Pelayanan Publik Francisca Winarni
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6306.675 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3913

Abstract

Pelayanan publik merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh instansi pemerintah untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Pelayanan publik ini menjadi penting karena senantiasa berhubungan dengan kalayak masyarakat atau orang banyak dalam masyarakat. Dengan memahami prinsip-prinsip nilai kerja yang berkembang dalam pelaksanaan pelayanan public, maka membawa implikasi  terhadap penyiapan strategi yang tepat bagi peningkatan kualitas pelayanan public, untuk mengimbangi tuntutan perubahan-perubahan dalam era global yang bertumpu pada information technology (IT). Nilai kerja tidak serta merta melekat pada setiap orang, apalagi orang yang baru mulai kerja. Oleh karena itu, segenap atau beberapa nilai kerja perlu sekali diperkenalkan kepada semua pegawai dalam organisasi, dibina secara teratur, dan ditanamkan dalam diri mereka dengan langkah-Iangkah yang terencana melalui pendidikan dan latihan yang terstruktur. Adapun bentuk etos kerja yang sangat diperlukan antara lain: efisiensi, ketekunan, kerapian, sikap tepat waktu, kesederhanaan, kejujuran, rasionalitas dalam mengambil keputusan, kesediaan untuk berubah, kegesitan dalam mempergunakan setiap kesempatan, sikap bekerja secara energik/bersemangat, sikap bertumpu pada kekuatan sendiri, dan sikap memandang jauh kedepan dan sikap bekerjasama.
Sistem Informasi Berbasis Komputer (CIBS) Saliman Saliman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8899.336 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3914

Abstract

Informasi adalah salah satu dar; lima jenis utama sumber daya yang digunakan manajer. Pengelolaan informasi makin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan. Pengelolaannya lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Output komputer digunakan oleh berbagai pihak untuk bahan pengambilan keputusan. Saat para manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif. Hal ini bisa terwujud bila manajer memiliki keahlian dalam bidang komunikasi dan pemecahan masalah. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut. Sistem ini dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbol-simbol yang memiliki value (nilai) sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih etektif bila dikelola atau berbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS.
Uji Sertifikasi Menurut Pandangan Guru Sekolah Dasar Sugi Rahayu
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7738.12 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3915

Abstract

Tulisan ini disusun berdasarkan hasil penelitian berjudul "Tanggapan Guru Sekolah Dasar di Kota Yogyakarta terhadap Uji Sertifikasi sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Profesi Guru". Mengkaji tanggapan guru terhadap uji profesi sebagaimana yang diamanatkan oleh UUGD no. 14 tahun 2005, hambatan yang dirasakan dalam menghadapi uji sertifikasi, dan harapan guru SD terhadap diselenggarakannya sertifikasi guru. Populasi dan wilayah generalisasi penelitian, guru SD di Kota Yogyakarta. Subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 41 orang yang diambil dari wakil SD yang berada di wilayah utara, barat, timur, dan selatan kota Yogyakarta. Pengambilan sampel berdasar area di mana SD tersebut berada secara acak sederhana. Pengumpulan data dimaksudkan untuk mengungkap fakta ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan : 1) 76% responden menyambut gembira dengan diundangkannya UU no. 14 tahun 2005 tentang UUGD dan 75,61 o setuju bila guru SD berijazah S1 atau D4; 2) 46,34% responden tidak setuju untuk menjadi tenaga profesional, guru harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui uji sertifikasi karena persyaratan sangat berat; 3) 53,66% responden tidak yakin kesejahteraan guru akan meningkat dengan dimilikinya sertifikat pendidik; 4) Sebagian besar responden menyadari kompetensi untuk menjadi guru profesional masih perlu ditingkatkan. Hambatan yang dirasakan terkait dengan uji sertifikasi meliputi: persyaratan untuk dapat mengikuti uji sertifikasi berijazah S1 atau D4, dirasakan berat oleh para guru SO yang belum berijazah S1 atau D4; kurangnya informasi yang jelas mengenai uji sertifikasi; keterbatasan fasilitas untuk mengembangkan diri, materi uji sertifikasi, dan biaya untuk melanjutkan studi ke S1/D4 maupun untuk uji sertifikasi.
Pembangunan melalui Kolaborasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dwi Harsono
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6957.48 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3910

Abstract

Pembangunan di Negara berkembang sering mengalami kegagalan. Hal ini dicurigai sebagai akibat dari faktor internal negara tersebut. Penduduk negara berkembang kurang memiliki budaya ilmiah sehingga kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologinya (iptek/ST) lemah. Implikasinya adalah kurangnya investasi yang dikeluarkan untuk penguasaan ST. Iptek berkembang pesat di negara maju sehingga aplikasi di negara berkembang mengalami kendala. Negara maju dan negara berkembang harus melakukan kolaborasi pembangunan untuk mengatasi kendala yang dihadapi negara berkembang. Negara maju harus melakukan tranformasi iptek yang dibutuhkan oleh negara berkembang sehingga lambat laun kapasitasnya semakin meningkat. Terbangunnya ST capacity merupakan langkah penting dalam kolaborasi pembangunan karena didalamnya terdapat transfer of knowledge. Transfer ini akan memperkuat soft skill untuk. melaksanakan pembangunan. Pembentukan soft skill harus selaras dengan keragaman dan kearifan budaya iokal sehingga pembangunan tidak kontra produktif terhadap budaya.
Kepuasan Kerja dan Peningkatan Prestasi Kerja Muslihkah Dwi Hartanti
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6430.866 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3916

Abstract

Sebuah perusahaan tentu memiliki tujuan yang telah ditetapkan dan ingin diwujudkan melalui kegiatan operasional. Upaya untuk mewujudkan tujuan perusahaan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik fisik maupun nonfisik. Salah satu faktor nonfisik yang menjadi persoalan bagi perusahaan adalah masalah kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja mempunyai arti penting bagi karyawan maupun perusahaan, terutama untuk menciptakan keadaan positif di lingkungan kerja perusahaan.Sementara itu, prestasi kerja atau kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan yang telah dirumuskan. karena ukuran terakhir keberhasilan departemen peronalia adalah prestasi kerja atau pelaksanaan kerja (performance) karyawan. Prestasi kerja perlu diberikan umpan batik sebagai pemacu untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi kerja pada masa yang akan datang.Kepuasan kerja berhubungan dengan prestasi kerja karyawan, meskipun diantara keduanya sulit menentukan apa mempengaruhi yang mana. Hubungan prestasi dan. kepuasan kerja menjadi suatu sistem yang berlanjut (continues). Dimana kondisi kepuasan dan ketidakpuasan kerja menjadi umpan balik atau feedback yang akan mempengaruhi prestasi kerja di waktu yang akan datang, untuk selanjutnya penghargaan dari prestasi akan memunculkan kepuasan maupun ketidakpuasan kerja.Kata kunci: kepuasan kerja, prestasi kerja
Manajemen Kehumasan di Perguruan Tinggi Lena Satlita
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VII, Februari 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7834.403 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v7i1.3911

Abstract

Otonomi pendidikan tinggi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, meningkatnya kompetisi antar perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, berkembangnya media massa cetak dan eletronik, kristisnya pandangan masyarakat terhadap perkembangan pendidikan tinggi dan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang terkait dengan masyarakat, pendidikan dan perguruan tinggi, menyebabkan perguruan tinggi harus 'mengkemas' informasi yang di sampaikan pada publik agar publik dapat memperoleh pemahaman yang jelas dan mendukung berbagai kebijakan dan produk yang dihasilkan suatu perguruan tinggi. Manajemen kehumasan perguruan tinggi harus didasarkan pada pemahaman yang tepat terhadap persoalan kehumasan yang dihadapi oleh sebuah perguruan tinggi. Oleh karenanya proses rencana program kerja humas yang efektif pada dasamya adalah sebuah proses yang diawali dengan penentuan masalah melalui penelitian, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi. Dengan demikian dapat dihasilkan suatu program kerja kehumasan yang tidak saja sejalan dengan visi den misi perguruan tinggi tetapi juga misi pokok Humas perguruan tinggi yaitu membangun image positif, menumbuhkan komunikasi yang sinergis antara perguruan tinggi dengan masyarakat dan membangun institusi yang responsif terhadap dinamika masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2007 2007