cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 24, No 3 Sep (2014)" : 7 Documents clear
DETERMINAN PERILAKU PADA KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH TAHUN 2008 Pujiyanti, Aryani; Trapsilowati, Wiwik; Ristiyanto, Ristiyanto
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.427 KB)

Abstract

AbstrakPerilaku manusia dapat menjadi faktor pemicu terjadinya leptospirosis sebagai re-emerging zoonosis di Kabupaten Demak. Tujuan penelitian adalah menggambarkan determinan perilaku penderita pada kejadian luar biasa leptospirosis (KLB) di Kabupaten Demak, Tahun 2008. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Sampel adalah penderita leptospirosis periode 1 Januari – 1 April 2008. Hasil menunjukan mayoritas penderita berusia produktif. Lebih dari 50% penderita tidak tahu bahaya leptospirosis. Kaporit dipahami sebagai penjernih air bukan desinfektan. Lebih dari 50% penderita memiliki aktivitas kontak dengan sumber penularan leptospirosis. Mayoritas penderita tidak memakai alas kaki dan sarung tangan sebagai pelindung diri dari penularan leptospirosis. Bangkai tikus lebih banyak dibuang di sungai (59,3%), sedangkan perilaku pengendalian tikus yang efektif belum banyak dilaksanakan (68,5%). Kewaspadaan penderita terhadap leptospirosis masih rendah karena adanya persepsi leptospirosis tidak berbahaya dan pengetahuan tentang leptospirosis yang masih kurang. Responden mendukung penggunaan kaporit tetapi untuk menjernihkan air bukan sebagai desinfektan. Perilaku hidup bersih dan sehat, pengendalian tikus serta penggunaan alat pelindung diri untuk mencegah leptospirosis masih kurang. Rekomendasi yang diberikan adalah perlu peningkatan edukasi kesehatan tentang bahaya leptospirosis, aktivitas berisiko, penggunaan kaporit dan teknik pengendalian tikus yang benar.Kata kunci : leptospirosis, perilaku, determinan, kejadian luar biasaAbstractHuman behavior could be a trigger factor for leptospirosis as a re-emerging zoonoses in Demak Regency. Objective of this study was to describe patients behavioral determinants in leptospirosis outbreaks in Demak Regency, 2008. Research was a descriptive study with cross – sectional design. Data was collected with interview. Samples were leptospirosis patients from 1 January to 1 April 2008. Results showed the majority of respondents were in productive age. More than 50% of patients did not know the  danger  of  leptospirosis.  Chlorine  was  understood  as  water  purifier  instead  of  disinfectant.  More than 50% of patients had activity contact with source of transmission. The majority of respondents did not wear shoes and gloves as protective of transmission of leptospirosis. Respondents dumped dead rats in the river (59.3%), while effective rat control behavior had not been widely implemented (68.5%). Precautions against leptospirosis on patients was still low due to perception of leptospirosis were harmless and knowledge of leptospirosis were still lacking. Respondents supported the use of chlorine to purify water but not as disinfectant. Behavior of clean and healthy lifestyle, rat controls and the use of personal protective equipment were lacking. Increasing health education about the dangers of leptospirosis, risky activities, use of chlorine and effective rat control techniques were reccomended.Keywords : leptospirosis, behavior, determinants, outbreak
PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN DEWASA Erris, Erris; Harahap, Irma
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.585 KB)

Abstract

Abstrak Salah satu penyebab menurunnya kuantitas dan kualitas spermatozoa adalah stres. Bising sebagai bentuk  stres  fisik  dan  psikologis  mengaktifkan  respon  sentral  dan  perifer  sistem  endokrin.  Aktivasi sistem endokrin sumbu Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal melibatkan neurohormon corticotropin releasing hormon(CRH), CRH menuju gonadotrophin releasing hormon (GnRH)  dan  mengganggu  aktivitas kelenjar adenohipofise untuk menghasilkan folicle stimulating hormon(FSH) dan luteinizing hormon (LH), LH dan FSH yang menurun secara umum mengganggu proses spermatogenesis dan khususnya terhadap kuantitas dan kualitas spermatozoa. Penelitian ini adalah eksperimental dengan post test control  group  design.  Variabel  yang  diperiksa  meliputi  jumlah,  motilitas  dan  morfologi  spermatozoa. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan dewasa (Rattus norvegicus), yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol, perlakuan berdasarkan perbedaan intensitas bising yaitu 65 , 85 dan 105 dB yang diberikan setiap 8 jam/hari selama 48 hari (satu tahap spermatogenesis tikus). Hasil penelitian dianalisis dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna (p<0.05) terhadap kuantitas dan kualitas spermatozoa tikus putih jantan dewasa (Rattus norvegicus) meliputi jumlah, persentase motil dan morfologi spermatozoa. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terlihat kebisingan dengan intensitas 65-105 dB dapat menurunkan kuantitas dan kualitas spermatozoa. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut agar dilihat juga pengaruh kebisingan dengan melakukan pemeriksan histologi pada sel leydig, sel sertoli dan pemeriksaan kadar hormon testosteron.Kata kunci : kualitas, kuantitas, spermatozoon, tikus putih, kebisingan.AbstractOne of causes in decreasing quantity and quality of spermatozoon is stress. Noise as the physical and pshycological stress is activating the central response and periphery endocrinal system. Activating the endocrinal system which is axis of Hypothalamus-Pituitary-Adrenal involve neurohormone, corticotropin releasing hormon (CRH). CRH through gonadotrophin releasing hormon (GnRH) and infere with activity of adenohypophyse to produce folicle stimulating hormon(FSH) and luteinizing hormon(LH). LH and FSH decreased commonly disrupt the process of spermatogenesis and especially to the quantity and quality of spermatozoon. This study is experiment with post test control group design. The variable examined include number, motility and morphology. It also use 24 adult white male mice (Rattus norvegicus), denaid  in  to  three  groups  of  treatment  and  1  group  of  control.  The  treatment  group  is based to the difference of intensity of 65, 85 and 105 dB is being given 8 hours per day for 48 days (one stage of mouse spermatogenesis). The result is analyzed by ANOVA test and further by Post-Hoc-Test (Bonferroni). The result show the significant differences (p<0,05) to quantity and quality of spermatozoon of adult white male mouse (Rattus norvegicus). This study showed that the noise by intensity of 65-105 dB can descrease quantity and quality of spermatozoon.Keywords : quality, quantity, spermatozoon, adult male white mouse, noise.
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS DOSIS SEKALI MINUM ARTEMISININ-NAFTOKUIN DENGAN DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN PADA PENGOBATAN PASIEN DEWASA MALARIA FALSIPARUM TANPA KOMPLIKASI Siswantoro, Hadjar; Hasugian, Armedy Ronny; Purnamasari, Telly; Laning, Sri; Yanuar, Lidwina; Dedang, Tersila; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.468 KB)

Abstract

AbstrakKombinasi pengobatan berbasis artemisinin yang praktis dan sederhana dengan kepatuhan minum obat yang baik telah ditunjukkan dalam artikel utama: “Efficacy and Safety of Artemisinin-naphthoquine versus  dihydroartemisinin-piperaquine  in  adult  patients  with  uncomplicated  malaria:  a  multi-centre study in Indonesia” pada pasien dewasa dengan malaria apapun. Untuk melengkapi data terdahulu, disajikan  data  keamanan  dan  efikasi  obat  sekali  minum  artemisinin-naftokuin  (ANT)  dibandingkan dihidroartemisinin-piperakuin  (DHP)  pada  pengobatan  pasien  dewasa  dengan  malaria  falsiparum. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dan keamanan antara ANT dengan DHP pada pasien dewasa dengan malaria falsiparum. Studi dilakukan dengan uji klinik fase III, acak, terbuka menggunakan amplop terbuka, menggunakan protokol who untuk menilai efikasi obat antimalaria yang dipantau selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan efikasi ANT dan DHP pada hari ke-42 berturutturut adalah 100% (74/74) dan 97,1% (66/68) dengan 2,9% (2/68) mengalami kegagalan pengobatan kasep.  Kejadian  sampingan  adalah  2,5%  batuk  setelah  pengobatan  ANT,  dan  1,4%  batuk  setelah pengobatan  DHP.  Kesimpulan  yang  diambil ANT  dosis  tunggal  aman  dan  efektif  seperti  DHP  dosis tunggal harian selama 3 hari untuk pengobatan malaria falsiparum dewasa tanpa komplikasi.Kata  kunci:  malaria,  dihidroartemisinin-piperakuin,  artemisinin-naftokuin,  Plasmodium  falciparum, Indonesia.AbstractA practical and simple Artemisinin based combination  therapy (ACT) with good compliance  in adult patients for all malaria species has been shown in the first article: “Efficacy and Safety of Artemisininnaphthoquine  versus  dihydroartemisinin-piperaquine  in  adult  patients  with  uncomplicated  malaria:  a multi-centre study in Indonesia”. It is worth to add data safety and efficacy of single dose artemisininnaphthoquine  (ANT)  compared  with  dihydroartemisinin-piperaquine  (DHP)  in  adult  patients  with P.falciparum malaria. The aims of this study is to compare safety and efficacy of ANT with DHP in adult patients  with  uncomplicated  P.falciparum  malaria. this  study  is  a  clinical  trial  phase  III,  randomized, open-label using unsealed envelopes, using WHO protocol to measure efficacy of antimalaria drug with 42 days of follow-up. The results show the efficacy of ANT and DHP at day 42 was 100% (74/74) and 97.1% (66/68), respectively with 2.9% (2/68) late treatment of failure for DHP. Adverse event was 2.5% cough after ANT treatment, and 1.4% cough after DHP treatment. The conclusion is that single dose of ANT is safe and very effective similar with DHP single daily dose for three days for treatment adult patients with uncomplicated P.falciparum malaria.Keywords : malaria, dihydroartemisinin-piperaquine, artemisinin-naphthoquine, Plasmodium falciparum, Indonesia.
SURVEI DARAH JARI FILARIASIS DI DESA BATUMARTA X KEC. MADANG SUKU III KABUPATEN OGAN KOMERING ULU (OKU) TIMUR, SUMATERA SELATAN TAHUN 2012 Pahlepi, R. Irpan; Santoso, Santoso; Putra, Deriansyah Eka
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.739 KB)

Abstract

AbstrakFilariasis atau penyakit kaki gajah adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria  yang  ditularkan  melalui  berbagai  jenis  nyamuk.  Penyebaran  filariasis  hampir  meliputi  seluruh wilayah di Indonesia termasuk Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Angka kesakitan filarisis di Kabupaten OKU Timur tahun 2007 sebesar 1,05%. Kegiatan pengobatan massal di Kabupaten OKU Timur belum pernah dilakukan sampai saat ini, sehingga perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penyebaran penyakit filariasis. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan desain potong lintang. Pengambilan dan pemeriksaan sediaan darah jari dilakukan pada malam hari dimulai pukul 19.00 WIB. Jumlah penduduk yang diperiksa sebanyak 502. Hasil pemeriksaan diperoleh 4 orang positif mikrofilaria (Mf_ rate 0,8%) dengan spesies Brugia  malayi  dan  kepadatan  rata-rata  200mf/ml.  Seluruh  kasus  yang  ditemukan  merupakan  kasus baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penularan filariasis masih terjadi di Kabupaten OKU Timur sehingga perlu adanya pengobatan massal untuk mencegah penularan lebih lanjut.Kata kunci : Filariasis, Brugia malayi, Survei darah jari, OKU TimurAbstractFilariasis or elephantiasis is an infectious diseases caused by filarial worms that transmitted by various species of mosquitoes. Filariasis distributions almost covers all districts in Indonesia including East Ogan Komering Ulu (OKU). Filarisais morbidity in East OKU regency in 2007 was 1.05 %. Mass treatment in the district of East OKU have not been done yet, so it is necessary to do a research that aim to determine the prevalen of filariasis. This study is a cross-sectional survey design. Collection and examination of finger’s blood was done at night starting at 19:00. Number of people examined were 502. Examination results obtained 4 positive microfilariae (Mf_ rate 0.8 %) of Brugia malayi and the average density of 200/ml. All cases were new cases. These results indicate that the transmission of filariasis is still on going in the district of East OKU so mass treatment is needed to prevent further transmission.Keywords : Filariasis, Brugia malayi, Finger blood survey, East OKU
PELATIHAN PENGENDALIAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN SUKOHARJO Trapsilowati, Wiwik; Agustini, Maria; Setiyaningsih, Riyani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.37 KB)

Abstract

AbstrakPartisipasi masyarakat melalui peran kader PSN membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pelatihan bagi kader PSN dengan tujuan untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader PSN tentang DBD. Penelitian ini merupakan penelitian operasional dengan responden seluruh kader PSN yang ditunjuk oleh RT/RW setempat. Analisis data dilakukan dengan uji beda antara sebelum dan sesudah intervensi.Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai pengetahuan kader PSN tentang DBD mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan sebelum intervensi dengan nilai t sebesar -13,543 dengan nilai signifikansi pada dua sisi (2-tailed) sebesar 0,000 (p<0,05). Penilaian keterampilan dalam pemantauan jentik di daerah perlakuan pada evaluasi ke-3 menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai t hitung: -10,597 dan t tabel = 2,262 dan Sig (2-tailed) = 0,000 (p<0,05) dan di daerah kontrol menunjukkan tidak ada beda dengan t hitung = 1,639 dan t tabel = 2,262, dan Sig (2-tailed) sebesar 0,182 (p>0,05). Terjadinya penurunan nilai keterampilan kader PSN dalam pemantauan jentik perlu dilakukan penyegaran kembali secara berkala untuk pengendalian DBD khususnya yang dapat dilakukan oleh masyarakat.Kata Kunci : Pelatihan, Kader PSN, DBDAbstractCommunity participation through role PSN cadres needs sufficient knowledge and skills. This study conducted training for PSN cadres with the goal to assess the improvement of knowledge and skills of PSN cadres about dengue. This was operational research with total sampling of PSN cadres designated by the RT/RW. Data analysis was performed by premises difference test between before and after intervention. The results showed an average value of knowledge about dengue PSN cadre has increased significantly compared to before the intervention with t values: -13.543 with significance values  on the two sides (2-tailed): 0.000 (p<0.05). Assessment skills in monitoring larvae in the treatment areas on the 3rd evaluation showed significant differences with t value: -10.597 and t table: 2.262 and Sig (2-tailed) = 0.000 (p<0.05) and the control areas showed no difference with t value: 1.639 and t table: 2.262, and Sig (2-tailed): 0.182 (p>0.05). The result of the research showed that PSN cadres knowledge and skill dengue control is tend to decrease, therefore it is suggested to do periodical skill refresment for PSN cadres.Keywords : Capacity building, PSN Cadres, DHF
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP RISIKO KEHAMILAN “4 TERLALU (4-T)” PADA WANITA USIA 10-59 TAHUN (ANALISIS RISKESDAS 2010) H, Puti Sari; Hapsari, Dwi; Dharmayanti, Ika; Kusumawardani, Nunik
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.165 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan penulisan ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi risiko kehamilan. Desain penelitian cross sectional. Data yang dianalisis merupakan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang telah dilaksanakan oleh Badan Litbangkes. Unit analisis adalah ibu atau wanita usia subur (WUS) yang pernah melahirkan minimal 1 anak dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sampai dengan saat wawancara. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode logistik regresi untuk mengetahui faktor yang paling dominan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa variabel yang paling dominan dalam hubungan antara faktor tidak langsung dengan kejadian fisiko kehamilan 4-T (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak dan terlalu dekat) adalah variabel tempat tinggal  (desa/kota),  tingkat  pendidikan,  status  ekonomi,  dan  keinginan  hamil.  Ibu  yang  tinggal  di perdesaan berpeluang 1,1 kali berisiko kehamilan 4T, sementara ibu yang berpendidikan rendah (SD ke bawah) berpeluang 1,4 kali untuk mengalami risiko kehamilan. Ibu dari keluarga miskin berpeluang 1,3 kali mengalami risiko kehamilan, sedangkan ibu yang sulit akses ke pelayanan kesehatan berpeluang 1,9 kali berisiko hamil dengan kondisi 4-T, dan ibu yang tidak/belum ingin hamil berpeluang 4,9 kali mengalami risiko kehamilan. Masalah risiko kehamilan lebih mungkin terjadi pada kelompok ibu yang tinggal di perdesaan, dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, dan kesulitan akses ke fasilitas kesehatan serta belum atau tidak menginginkan kehamilannya. Oleh sebab itu diperlukan pemerataan program jamkesmas agar keluarga tidak mampu dan yang tinggal di perdesaan semakin mudah untuk mendapat  pelayanan  kesehatan.  Selain  itu  memprioritaskan  pembangunan  fasilitas  kesehatan  dan penyediaan tenaga kesehatan di perdesaan, dan juga penyuluhan tentang cara mengatur kehamilan yang sehat.Kata kunci : risiko kehamilan, WUS, 4-TAbstract The purpose of this paper is to identify factors that may indirectly affect the risk of pregnancy. Crosssectional study design. The data is from the Basic Health Research (Riskesdas) in 2010 which has been implemented by the National Health Research, Ministry of Health. The unit of analysis is the mothers or women of childbearing age (WUS) who had delivered at least one child within a period of 5 years up to the time of the interview. The analysis was performed by using logistic regression to determine the most dominant factor. Based on the analysis found the most dominant variable in the relationship between the indirect factors associated with the incidence of pregnancy risk 4-T (too old, too young, too many and too often) is variable residency (rural/urban), level of education, economic status, access to health facility and desire of pregnancy. Mothers who live in rural areas are likely 1.1 times have the chance of pregnancy risk, while mothers with low education (elementary school and below) 1.4 times as likely to experience a pregnancy risk. Then, mothers of poor families having a chance to experience 1.3 times the risk of pregnancy, whereas mothers who have difficult access to health services were likely 1.9 times at risk of pregnancy with 4-T conditions, and women who did not want to get pregnant were likely to experience 4.9 times the risk of pregnancy. Risk of pregnancy problems is more likely to occur in the group of women who live in rural areas, with low levels of education and the economy, and the difficulty of access to health facilities and does not want her pregnancy. Therefore, it requires health insurance or “jamkesmas”in order to provide an equal health services for poor people and those who living in rural areas. In addition to prioritize the provision of health facilities and health workers in rural areas, as well as counseling on how to manage a healthy pregnancy.Keywords : risk of pregnancy, fertility.
ANALISIS DESKRIPTIF KESEHATAN LINGKUNGAN DI DAERAH TERTINGGAL, PERBATASAN, KEPULAUAN DAN TERPENCIL (DTPK-T) Senewe, Felly Philipus; Elsi, Elsa
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.964 KB)

Abstract

AbstrakDalam Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2009-2014 prioritas kesehatan antara lain peningkatan pelayanan kesehatan di DTPK dan meningkatkan penyehatan dan pengawasan kualitas lingkungan. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran status kesehatan lingkungan penduduk yang tinggal di DTPK-T. Sampel berasal dari 199 kabupaten (kab) daerah tertinggal, 20 kab/kota daerah perbatasan, 19 kab/kota daerah kepulauan dan 35 kab daerah terpencil. Hasil penelitian rumah tangga yang mempunyai akses yang baik terhadap air bersih di daerah kepulauan 58,6%, di daerah tertinggal 51,9%. Akses rumah tangga terhadap jamban paling tinggi di daerah kepulauan (42,4%) dan daerah terpencil (34,7%). Kepadatan hunian rumah di daerah terpencil sangat rendah (74,6%). Jenis lantai rumah bukan tanah paling banyak di daerah perbatasan dan tertinggal (83%). Hasil penelitian menunjukkan akses rumah tangga terhadap air bersih paling baik di daerah kepulauan dan daerah tertinggal serta di kab bukan daerah tertinggal, akses rumah tangga terhadap jamban paling tinggi di daerah kepulauan dan daerah terpencil serta di kab bukan daerah tertinggal. Secara keseluruhan status kesehatan lingkungan yang baik banyak ditemukan di daerah kepulauan (58,6%). Diperlukan kebijakan yang lebih khusus untuk peningkatan status kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan dan terpencil (DTPK-T), program peningkatan perpipaan air bersih untuk menjangkau rumah tangga yang berada di DTPK-T dan program jambanisasi untuk seluruh rumah tangga di DTPK-T.Kata kunci : kesehatan lingkungan, daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, terpencil.AbstractIn Strategic Plan of Ministry of Health year 2009-2014, health priority, among others are to increase health service enhanced at DTPK and health restructure and environment quality supervision. This study aims to detect environment health status description of society who live in DTPK-T. Sample are from 199 less development district area, 20 borderlands district/city area, 19 archipelagoes district/city area and 35 purilieus/remote district. The result shows that households which have good access towards clean water is at archipelagoes district/city area (58.6%) and less development area (51.9%). The highest rate of household access towards lavatory is at archipelago area (42.4%) and purilieus (34.7%). The lowest house dwelling density is at purilieus/remote area (74.6%). House floor type of not soil most is at borderland and less development area (83%). The result of the study shows that the access of household towards clean water best is at archipelago area and less development area and at development district area, the highest rate of household access towards lavatory is at archipelago area and purilieus and also at development district area. Overall good environmental health status are found in the archipelago area (58,6%). It is suggested to have more special policy to enhance health status of community who live in less development district area, borderland, archipelago and remote area (DTPK-T), program to enhance clean water piping to reache out for household reside in DTPK-T and lavatory programming to entire households at DTPK-T.Keywords : environment of health, less development area, borderland area, archipelago area, remote area.

Page 1 of 1 | Total Record : 7