cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 25, No 3 Sep (2015)" : 9 Documents clear
Hubungan Kunjungan K4 dengan Kematian Neonatal Dini di Indonesia (Analisis Lanjut Data Riskesdas 2013) Lolong, Dina Bisara; Pangaribuan, Lamria
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.479 KB)

Abstract

AbstrakAngka kematian neonatal pada dua periode Survei Demograf Kesehatan Indonesia (SDKI 2007 danSDKI 2012) masih tetap konstan yaitu sebesar 19 kematian per 1000 kelahiran hidup. Pada SDKI 2012tercatat sebanyak 268 kematian neonatal dini dan pada SDKI 2007 tercatat sebanyak 241 kematianneonatal dini. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi hubungan K4 dengan kematian neonatal diniberdasarkan data Riskesdas 2013. Desain yang digunakan adalah kasus kontrol, jumlah sampel 175kasus dan 175 kontrol. Kasus adalah wanita usia 10-54 tahun yang sudah pernah kawin dan melahirkananak dan meninggal pada usia 0-7 hari. Kontrol adalah wanita usia 10-54 tahun yang sudah pernahkawin dan melahirkan anak dan masih hidup minimal sampai usia 8 hari. Analisis multivariat denganlogistik regresi ganda diperoleh bahwa ibu dengan kelompok umur < 20 tahun atau > 35 tahun, K4tidak terpenuhi berisiko 4,3 kali untuk melahirkan anak yang akan meninggal pada masa neonataldini dibandingkan ibu dengan K4 terpenuhi. Ibu yang mengalami komplikasi persalinan, dengan K4tidak terpenuhi berisiko 2,8 kali untuk mengalami kematian neonatal dini dibandingkan ibu dengan K4terpenuhi. Dengan demikian jika K4 terpenuhi maka faktor-faktor risiko selama hamil dan pada saatmelahirkan bisa ditatalaksana dengan baik sehingga dapat menurunkan risiko kematian neonatal dini.Ibu hamil khususnya kelompok umur < 20 tahun dan > 35 diharapkan memeriksakan kehamilan secarateratur dan rutin sehingga faktor risiko dapat dideteksi sedini mungkin. AbstractAbstractNeonatal mortality rate in the two periods of Indonesia Demographic Health Survey (IDHS 2007 and IDHS 2012) remains constant in the amount of 19 deaths per 1,000 live births. In the 2012 IDHS and in the 2007 IDHS, there were 268 and 241 early neonatal deaths respectively. The purpose of this study is to evaluate the relationship between four antenatal care visits and the early neonatal deaths based on the 2013 Basic Health Survey (Riskesdas) data. The design was a case control with 175 sample cases and 175 controls. Cases were ever-married women age 10-54 years who had death children at the age of 0-7 days. Controls were ever-married women age 10-54 years who had live birth children surviving until at the age of at least 8 days. Multivariate analysis with multiple logistic regression showed that mothers in the age group < 20 years or > 35 years who did not meet at least four antenatal care visits had 4.3 times risk to have children die in the early neonatal period than women who met at least four antenatal care visits. Mothers who had experience birth complications and did not meet at least four antenatal care visits had 2.8 times risk to have early neonatal death than women who met at least four antenatal care visits. Therefore if at least four antenatal care visits are met, then the risk factors during pregnancy can be managed properly and the risk of early neonatal death can be decreased. Pregnant women in particular age group < 20 years and > 35 should receive antenatal care regularly and routinely so that the risk factors can be detected as early as possible.
Metode Sederhana dan Efektif Untuk Penghitungan dan Visualisasi Tiga Dimensi (3D) Biofilm Vibriio Cholera Prihanto, Asep Awaludin; Sukoso, Sukoso; Fadjar, Mohamad; Kurniawan, Andi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3588.565 KB)

Abstract

AbstrakMikroorganisme yang mampu menghasilkan biofim menimbulkan masalah yang serius dalam bidang kesehatan dan pangan. Penelitian biofim bagi sebagian peneliti sangat identik dengan kerumitan proses penghitungan dan visualisasi penutupan permukaan substrat penempelan bakteri. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efiiensi metode alternatif untuk menghitung dan memvisualisasikan biofimVibrio cholera. Pada penelitian ini beberapa faktor lingkungan seperti pH, suhu, dan kondisi kultur diujicobakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pembentukan biofim V. cholera. Pembentukan biofim dihitung berdasarkan Biofim Coverage Rate (BCR) yang selanjutnya divisualisasikan menjadi bentuk tiga dimensi (3D) dengan memanfaatkan software Image-J. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH, suhu, dan kondisi kultur mampu memberikan pengaruh yang signifian terhadap pembentukan biofim Vibrio cholera. Metode alternatif yang digunakan dalam penelitian ini mampu menghitung BCR serta menggambarkannya dalam bentuk 3D dengan efiien sehingga dapat dijadikan alternatif analisis biofim bakteri. AbstractMicroorganism which produces biofim, will causes serious issues in health and safety of food. Researches in biofim are identic with the complexities and relatively laborious tasks especially on assaying and visualizing method of biofim. This study was aimed to calculate and visualize biofims produced by Vibrio cholera. In this study several environmental factors such as pH, temperature, andculture conditions have been tested to determine its inflence on biofim formation of Vibrio cholerae.Biofim formations were calculated and visualized based on Biofim coverage rate (BCR) and threedimensions (3D) structure using Image-J software. The results showed that pH, temperature, and cultureconditions had a signifiant inflence on the formation of V. cholerae biofim. The alternative method thatwas used in this study could effiiently calculate and visualize BCR to 3D structures. Therefore, here wereport an alternative method for calculating bacterial biofim.
Front-matter Jurnal Media Litbang Vol. 25 No.3 2015 Media, Jurnal
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.007 KB)

Abstract

Faktor Risiko Terjadinya Tuberculosis Paru Usia Produktif (15-49 Tahun) di Indonesia Nurjana, Made Agus
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.713 KB)

Abstract

TB paru merupakan penyakit yang paling banyak menyerang usia produktif dan masih menjadimasalah kesehatan dunia termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorrisiko terjadinya TB paru pada usia produktif di Indonesia dan faktor risiko yang paling dominan. Studicross-sectional telah dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2013. Data bersumber dari data Riskesdas2013 yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Kesehatan. Sampel yang dianalisis usia 15 – 49 tahunsebanyak 522.670 orang. Data dianalisis dengan logistic regression complex samples. Hasil analisismenunjukkan bahwa faktor risiko TB paru pada usia produktif di Indonesia yaitu pendidikan, indekskepemilikan, bahan bakar memasak, kondisi ruangan dan perilaku merokok. Faktor risiko yang palingdominan adalah pendidikan. Untuk mendukung global tuberculosis control maka program pengenalansedini mungkin TB paru pada Sekolah Dasar dan pemanfaatan media informasi perlu ditingkatkan gunapenurunan kasus dan kematian akibat TB paru khususnya pada usia produktif
Determinan Hipertensi Pada Masyarakat Miskin Kota Banda Aceh Fitria, Eka; Hanum, Sari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.403 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular dimana prevalensinya secaraumum lebih tinggi pada wilayah miskin dibandingkan dengan wilayah kaya. Penelitian ini bertujuanuntuk membuktikan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada penduduk miskinusia produktif dan usia tua di Kota Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan karena data tentang hipertensipada masyarakat miskin di Kota Banda Aceh belum tersedia. Penelitian yang telah dilakukan dari bulanApril sampai November 2012 merupakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintangdan teknik penarikan sampel secara purposive di daerah perkotaan Gampong Ceurih, KecamatanUlee Kareng, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untukmeneliti hubungan antara beberapa karakteristik individu dengan hipertensi. Analisis statistik secarabivariat memperlihatkan bahwa kelompok umur dan latar belakang pendidikan signifian terhadapkejadian hipertensi stage-1. Hasil analisis multivariat diperoleh karakteristik individu orang miskin yangmenentukan hipertensi secara signifian berturut-turut adalah kelompok umur 55-90 tahun (OR = 58,15p = 0,000; 95% CI 7,09-476,7), umur 43-54 tahun (OR = 11,07 p = 0,028; 95% CI 1,30-94,0) dan umur31-42 tahun (OR = 8,75 p = 0,044;95 % CI 1,05-72,6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipertensimerupakan masalah kesehatan umum masyarakat miskin di populasi Kota Banda Aceh. Intervensiprogram pemerintah dibutuhkan dalam upaya pencegahan hipertensi seperti penyuluhan makanansehat dan kemudahan akses untuk memperolehnya, aktifias fiik yang adekuat serta mengontroltekanan darah secara rutin.
Model Analisis Terapi Jamu Sebagai Komplementer Terhadap Perbaikan Keluhan Pada Pasien Artritis Hasanah, Siti Nur; Widowati, Lucie
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.226 KB)

Abstract

Telah dilakukan sebuah penelitian observasi, purposif dan deskriptif terhadap dokter praktik jamusecara komplementer-alternatif dengan menggunakan jamu di 9 dari 12 provinsi wilayah SentraPengembangan, Penerapan dan Pengobatan Tradisional (SP3T) di Indonesia selama 6 bulan penelitian.Didapatkan 63 pasien artritis yang yang masuk ke dalam penelitian, menerima terapi konvensionaldan tradisional. Seluruh pasien berusia ≥16 tahun, dengan persentase terbanyak pada usia 51-70tahun (50,8%). Ditemukan 37% pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi sebelumnya, dan 7%riwayat rematoid arthritis. Sebanyak 47% pasien dengan hipertensi pada keluarga dan 16% pasiendengan rematoid arthritis pada keluarganya. Terapi konvensional terbanyak yang digunakan dalamterapi pasien arthritis yaitu golongan NSAID (43%), disusul suplemen (22%), fiioterapi (12%), antipirai(10%), kortikosteroid (4%), lain-lain (4%), dan analgetik narkotik (3%). Komponen jamu yang seringdigunakan yaitu jamu osteoarthritis Tawangmangu (37,5%), sambiloto (11,3%), temulawak (11,2%),jahe (8,1%), habbatussauda/jinten hitam (8,1%), dan murat (4,8%). Adapun keterampilan dengan alatyang digunakan yaitu akupunktur (47%), akupresur (13%), stimulasi listrik (7%), akupunktur & stimulasilistrik (7%). Perubahan pasca terapi yang terjadi adalah perbaikan, berupa hilangnya gejala penyakit.Gejala klinis yang paling banyak menghilang saat follow up yaitu gejala sistem neurologis (33%), sistemmuskuloskeletal (31%), dan tak kalah pentingnya yaitu gejala umum (23%), karena 3 dari 4 gejala umum(tidak nafsu makan, letih, dan penurunan berat badan) merupakan gejala yang paling sering ditemuipada penderita rematoid artritis. Meskipun demikian perbaikan gejala klinis ini belum bisa dipastikansemata-mata karena efek terapi jamu saja, karena selain jamu digunakan pula terapi konvensionallainnya. Ditemukan pula peningkatan Quality of Life (QoL) derajat “baik” sebelum terapi (36%) danmenjadi 79% pada masa sesudah terapi.
Kinetika Vitamin B Komplek Pada Proses Pembuatan Tahu dan Oncom Merah Sundari, Dian; Efriwati, Efriwati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.01 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian kinetika vitamin B kompleks pada proses pembuatan tahu dan oncom merah.Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan beberapa vitamin B kompleks pada oncom merahdibandingkan pada tahu setelah proses fermentasi dari ampas tahu. Pengujian sampel ampas tahudiambil dari satu pabrik tahu dan pabrik oncom dimana bahan baku ampas tahunya berasal dari pabriktahu yang sama. Pengujian meliputi analisis kadar air dan analisis kadar vitamin B komplek. Hasilanalisis menunjukkan bahwa dari 10 kg kedelai dalam 1 kali produksi hanya 66,66% yang menjaditahu, sisanya 33,32% sebagai ampas tahu dan 0,901% sebagai air tahu. Pada pengolahan ampas tahumenjadi oncom merah terjadi penambahan bobot yang sangat berarti yaitu sebesar 345,19%. Padaproses pembuatan tahu, terjadi penurunan kadar vitamin B kompleks sangat tinggi dibandingkan dalamkacang kedelai yaitu vitamin B1 berkurang sebesar 41,07%; vitamin B2 berkurang 35,5%; vitaminB3 berkurang 99,08% dan vitamin B6 tidak terdeteksi lagi. Pada ampas tahu, kandungan vitamin Bkomplek yang masih ada yakni 19,59% (vitamin B2) dan berkisar antara 4-22% (vitamin B1; B3; B6)yang terkandung pada air tahu. Pada proses pembuatan oncom merah terjadi peningkatan vitamin Bkomplek yang sangat tinggi yakni untuk vitamin B1 dari tidak terdeteksi menjadi 234,78 mg; vitaminB2 dari 18,9 mg menjadi 304,89 mg; vitamin B3 dari tidak terdeteksi menjadi 517,26 mg dan vitaminB6 dari tidak terdeteksi menjadi 45,797 mg. Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa peningkatankadar vitamin B kompleks pada oncom merah terjadi karena adanya aktifias mikrobia selama prosesfermentasi.
Daya Lindung Antibodi Anti Difteri Pada Anak Usia 1-14 Tahun (Hasil Analisis Lanjut Riskesdas 2007) Pracoyo, Noer Endah; Edison, Hendrik; Rofiq, Ainur
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.594 KB)

Abstract

Difteri merupakan penyakit infeksi menular akut yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. DiIndonesia, pada tahun 2011 terdapat 333 kasus difteri dengan 11 kematian. Penyakit ini merupakanpenyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi DPT (Diphteria, Pertusis, Tetanus). Cakupan imunisasiDPT pada Riskesdas 2007 adalah 88%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yangberpengaruh terhadap titer antibodi difteri pada anak berumur 1-14 tahun berdasar hasil Riset KesehatanDasar 2007. Metode yang digunakan adalah analisa data sekunder hasil pemeriksaan titer antibodiresponden Riset Kesehatan Dasar 2007 (anak umur 1-14 tahun) dengan sampel sejumlah 2041. Hasilanalisa menunjukkan bahwa variabel umur memiliki hubungan yang signifian dengan titer antibodi(OR=0.78, p=0.001;95% CI (0,69-0,88)) dan dari variabel umur tersebut, kelompok umur 1-4 tahunadalah kelompok umur yang paling terlindung dari infeksi difteri sebesar 78%. Kesimpulan dari analisisini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap difteri semakin menurun seiring meningkatnya usia.
Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang Ramadhani, Tri; Astuti, Novia Tri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.22 KB)

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit demam akut yang dapat menginfeksi manusia dan hewan (zoonosis) dandisebabkan oleh bakteri leptospira. Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosisdengan insiden pada tahun 2009 sebanyak 13,27/100.000 penduduk dan kematian 3,5%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik individu penderita leptospirosis dan hubungannya denganlingkungan pemukiman. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional.Populasi adalah semua pengunjung Puskesmas, sedangkan sampel adalah pengunjung Puskesmasdengan gejala klinis leptospirosis (terutama: demam dengan suhu tubuh > 37oC) atau demam disertaisakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis dan ruam). Data lingkungan pemukiman diperoleh denganmelakukan pengamatan sedangkan karakteristik individu kasus leptospirosis dengan wawancara, datadianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristikresponden sebagian besar kelompok usia 10-19 tahun (38,1%), jenis kelamin laki-laki (56,2%), dantingkat pendidikan tidak tamat SD (30,5%). Kasus leptospirosis lebih banyak terjadi pada laki-laki,kelompok usia 0-19 tahun dengan (CFR=3,6). Kondisi lingkungan yang berhubungan dengan kejadianleptospirosis meliputi dinding dapur tidak permanen, tidak ada langit-langit, tempat sampah terbukadan kondisi rumah yang kotor. Upaya pencegahan penularan leptospirosis dapat dilakukan melaluikebersihan lingkungan, penanganan sampah yang baik sehingga tidak menjadi tempat bersarang tikus.

Page 1 of 1 | Total Record : 9