cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
SEMIMO: SEMINAR, DEMO DAN WORKSHOP WINISIS-Perubahan Paradigma Perpustakaan Memasuki Milenium Ke-3 Subiyanto, Sri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 10, No 4 (2000)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2878

Abstract

Pendahuluan
LAPORAN SEMINAR: PERAN DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI PROTEIN DALAM PENGEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN Handayani, Sarwo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 10, No 4 (2000)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2879

Abstract

Pendahuluan.
MEMBANGUN HOMEPAGE BADAN LITBANGKES Sugiharto, Sugiharto
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 10, No 4 (2000)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2880

Abstract

Pendahuluan.
MENGENAL DR. HUSAINI MAHDIN ANWAR, M.Ss Anonim, Anonim
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 10, No 4 (2000)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2881

Abstract

Abstrak.
VIRULENSI DAN TRANSMISI VIRUS INFLUENZA A PADA MANUSIA, HEWAN MAMALIA DAN UNGGAS Setiawaty, Vivi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2904

Abstract

Abstract In the 20th century, influenza virus A infections caused the pandemic severe respiratory illness in humans, some of the cases were fatal. Therefore, it is important for us to know the transmission mechanism and factors that can affect the virulence of influenza viruses. Virulence of influenza virus in birds, mammals and humans is determined by its ability to inflict damage to host cells caused by the eight genes in the virus. Eight of these genes have different tasks and functions that need to be analyzed. Besides knowing the virulence of influenza virus, should also know the transmission mechanism of these viruses. Influenza type A virus in poultry (called avian influenza) can transmit directly from birds to humans that can cause fatal infections. Understanding of the factors that play a role in the transmission between species of birds, mammals and humans can help the development of surveillance strategies to determine rapidly the potential strain of influenza A virus that can cause a pandemic. Keywords: Influenza A, virulence, virus transmission, avian     Abstrak Di abad ke-20, beberapa pendemi/wabah gangguan saluran pernafasan yang berat pada manusia dan dapat juga menyebabkan kematian, disebabkan oleh virus influenza A. Oleh karena itu penting bagi kita mengetahui bagaimana virus Influenza ini bertransmisi dan faktor–faktor yang mempengaruhi virulensi dari virus Influenza. Virulensi virus influenza pada unggas, hewan mamalia dan manusia ditentukan oleh kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan pada sel host yang disebabkan oleh delapan gen yang ada padanya. Delapan gen ini mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda-beda yang perlu dipelajari. Selain mengetahui virulensi virus Influenza, perlu juga diketahui cara transmisi dari virus ini. Virus influenza tipe A pada unggas (disebut juga avian influenza) dapat bertransmisi secara langsung dari unggas ke manusia yang dapat menyebabkan infeksi fatal. Pemahaman terhadap faktor-faktor yang berperan dalam transmisi antara spesies unggas, hewan mamalia dan manusia dapat membantu pengembangan strategi surveilans guna mengetahui dengan cepat potensi strain virus influenza A yang dapat menimbulkan pandemi.   Kata kunci: Influenza A, virulensi, transmisi, unggas
DETEKSI P.VIVAX SINGLE NUCLEOTIDE POLYMORPHISM (SNP) Y976F DARI SAMPEL MONITORING PENGOBATAN DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN DI KALIMANTAN DAN SULAWESI Salwati, Ervi; Herman, Reni; Handayani, Sarwo; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2905

Abstract

Abstract This study was a part of the activity of monitoring Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP) treatment in subjects infected with P.falciparum and P.vivax in Kalimantan and Sulawesi. SNP Y976F had been proved as the mutation in pvmdr1 gene which was related to P. vivax resistance chloroquine in Papua. Data of spreading pvmdr1 SNP Y976F outside Papua is needed for using Dihidroartemisinin-Piperakuin policy in the treatment of vivax malaria in Indonesia. Detection of SNP Y976F was done against 95 day0-samples of subjects confirmed infected with P.vivax or mixed infection of P.vivax and P.falciparum by PCR. The results showed that 88 (93%) of a total 95 samples were positive detected 976F mutant which were distributed in all sentinel sites of West Kalimantan (2of 3), Central Kalimantan (6 of 8), North Sulawesi (63 of 65), and Central Sulawesi (17 of 19).  In conclusion,  pvmdr1 SNP Y976F has been spreaded in all sentinel sites. Key words: P.vivax, pvmdr1, Single Nucleotide Polymorphism Abstrak Penelitian ini merupakan bagian kegiatan dari monitoring pengobatan Dihidroartemisinin-Piperakuin (DHP) pada subyek yang terinfeksi dengan P.vivax atau infeksi campuran P.falciparum dan P. vivax di Kalimantan dan Sulawesi. SNP Y976F merupakan mutasi pada gen pvmdr1 yang terbukti berhubungan dengan P. vivax resisten klorokuin di Papua. Dalam rangka kebijakan penggunaan Dihidroartemisinin-Piperakuin untuk pengobatan malaria vivaks di seluruh Indonesia, perlu data penyebaran parasit SNP Y976F pada gen pvmdr1 di luar Papua. Deteksi SNP Y976F dilakukan terhadap 95 sampel H0 subyek terinfeksi P. vivax atau infeksi campuran P.vivax dan P.falciparum yang telah dikonfirmasi dengan PCR. Hasil menunjukkan bahwa 88 dari 95 sampel (93%)  terdeteksi positif galur mutan 976F yang tersebar di  Kalimantan Barat (2 dari 3), Kalimantan Tengah (6 dari 8), Sulawesi Utara (63 dari 65) dan Sulawesi Tengah (17 dari 19). Kesimpulannya bahwa P.vivax galur Y976F sudah tersebar di setiap sentinel penelitian.   Kata kunci: P.vivax, pvmdr1, Single Nucleotide Polymorphism
KERAGAMAN GENETIK PETANDA P. falciparum DARI SPECIMEN SUBYEK PENELITIAN MONITORING DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN DI KALIMANTAN DAN SULAWESI Handayani, Sarwo; Salwati, Ervi; Tjitra, Emiliana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2906

Abstract

Abstract Treatment failure in falciparum malaria may be caused by parasite resistant to antimalarial drug or new infection. Polymorphism genetic marker of P. falciparum namely MSP1, MSP2 and GLURP locus genes in the population should be identified as a baseline to distinguish the cause of treatment failure. A nested Polymerase Chain Reaction (PCR) method was applied to each locus gene separately. A total 121 dried blood spot specimens from subjects infected with P. falciparum in monitoring Dihydroartemisinin-Piperaquine treatment in Kalimantan and Sulawesi Islands were analyzed. Locus genes of MSP1, MSP2 and GLURP were successful identified 82.6%, 96.7% and 81.0% respectively. However, the three (MSP1, MSP2 and GLURP) locus genes were only found in 71.9% (87 of 121) samples. All of MSP1 locus gene had just one allele, two alleles on most of MSP2 (67.5%) and few of GLURP (14.3%). Multi genotype infection was likely dominant than a single genotype infection (65.5% vs. 34.5%). Based on allele length classification, MSP2 locus gene shows more variety of allele class (12 alleles) than GLURP (9 alleles) and MSP1 (7 alleles), with an allele length mostly for MSP1: 440 - 479 bp, MSP2: 480–519 bp and GLURP: 580–639 bp. In this study, falciparum malaria cases were commonly as multi-genotype infection, and MSP2 was a dominant and polymorphic genetic marker of P.falciparum. Keywords: P. falciparum, PCR, MSP1, MSP2, GLURP, allele     Abstrak Gagal pengobatan pada malaria falsiparum dapat disebabkan oleh parasit yang resisten terhadap obat antimalaria atau oleh infeksi baru. Keragaman genetik petanda Plasmodium falciparum yaitu lokus gen MSP1, MSP2 dan GLURP dalam suatu populasi perlu diidentifikasi sebagai dasar untuk membedakan penyebab gagal pengobatan. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah nested Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap masing-masing lokus gen secara terpisah. Telah dianalisis 121 spesimen resapan darah kering pada kertas filter dari subyek terinfeksi P.falciparum pada studi monitoring pengobatan dengan Dihidroartemisinin-Piperakuin di Kalimantan dan Sulawesi. Masing-masing lokus gen MSP1, MSP2 dan GLURP yang dapat diidentifikasi sebanyak 82,6%, 96,7% and 81,0%. Sedangkan ketiga lokus gen tersebut ditemukan hanya pada 71,9% (87/121) sampel. Lokus gen MSP1 semuanya mempunyai 1 alel, sedangkan dua alel ditemukan pada sebagian besar MSP2 (67,5%) dan sebagian kecil GLURP (14,3%). Infeksi multi-genotip oleh dua atau lebih genotip P.falciparum ditemukan pada 65,5% sampel dan infeksi tunggal hanya 34,5% sampel. Keragaman klas alel paling banyak ditemukan pada lokus gen MSP2 sebanyak 12 klas alel, GLURP sebanyak 9 klas alel, dan MSP1 sebanyak 7 klas alel. Alel pada lokus gen MSP1 sebagian besar pada kisaran 440 - 479 bp, MSP2: 480 – 519 bp, dan GLURP: 580–639 bp. Pada penelitian ini kasus malaria falsiparum umumnya merupakan infeksi multi-geotip, dan MSP2 merupakan petanda gen P.falciparum yang dominan dan beragam.   Kata kunci : P. falciparum, PCR, MSP1, MSP2, GLURP, alel
DISTRIBUSI SPASIAL KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD), ANALISIS INDEKS JARAK DAN ALTERNATIF PENGENDALIAN VEKTOR DI KOTA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Boewono, Damar Tri; Ristiyanto, Ristiyanto; Widiarti, Widiarti; Widyastuti, Umi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2907

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) happens to be a public health problem in Samarinda city, East Kalimantan Province. Dengue was reported endemic in the entire six subdistricts of the city. Various vector control programs have been conducted by the Health Office, yet the dengue cases were still occurred on the previous years. Comprehensive research was conducted to determine the spatial distribution of DHF cases using geographical information system (GIS) mapping, in relation to positive larvae of the breeding habitat distributions. The study was carried out in five endemic areas namely Pelita village Samarinda Utara Subdistrict, Sambutan village Samarinda Ilir Subdistrict, Sidodadi village Samarinda Ulu Subdistrict, Harapan Baru village Samarinda Seberang Subdistrict and Karang Asam Ilir village Sungai Kunjang Subdistrict. The aim of the study was to determine the specific vector control strategies based on spatial DHF cases and breeding habitat distributions and distance index analyses, larvae free index and insecticide susceptible status of dengue vector of Ae. aegypti against the insecticides which were used for vector control programs. The study revealed that average ABJ in the study areas was 35.85-64.16% and lower the national standar of 95%. Dengue vector of Ae. aegypti was found to be resistant to Malathion, Permethrin, Lambdasihalothrin and Bendiocarb insecticides. Thus an alternative insecticide should be considered. Dengue cases distribution in Samarinda city were found in  clusters/gregorious. Distance index analyses indicated that the transmissions were due to mosquito behaviour. Community empowement is needed to encourage the potential groups (PKK, Dasa Wisma, public health caders, posyandu), to participate on the vector control program.   Keywords: DHF, Spatial distribution, Cases Distance Index, Samarinda City.     Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur dan dilaporkan endemis di enam wilayah kecamatan. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota, tetapi kasus DBD masih ditemukan sepanjang tahun.  Penelitian komprehensif telah dilakukan untuk menentukan distribusi spasial kasus DBD dengan pemetaan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG), berkaitan dengan habitat positif jentik. Penelitian dilakukan dilima (5) wilayah kalurahan endemis yaitu: Desa Pelita Kecamatan Samarinda Utara, Desa Sambutan Kecamatan Samarinda Ilir, Desa Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu, Desa Harapan Baru Kecamatan Samarinda Seberang dan Desa  Karang Asam Ilir  Kecamatan Sungai Kunjang. Tujuan penelitian adalah menentukan strategi pengendalian vektor spesifik berdasarkan distribusi spasial/ pemetaan kasus DBD dengan sistem informasi geografi (SIG), Index jarak (distance index) kasus DBD, angka bebas jentik (ABJ) serta status kerentanan nyamuk vektor Ae. aegypti terhadap insektisida. Hasil survei jentik ditemukan bahwa rata-rata ABJ di daerah penelitian jauh lebih rendah daripada standar nasional 95,0%. Uji susceptibility vektor DBD Ae. aegypti telah resisten terhadap insektisida Malathion, Permethrin, Lambdasihalothrin dan Bendiocarb, sehingga diperlukan insektisida alternatif. Distribusi kasus DBD Kota Samarinda ditemukan mengelompok distance index rata-rata 75 meter sebagai indikasi penularan lebih disebabkan perilaku nyamuk vektor. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan sebagai usaha memberikan motivasi kepada kelompok masyarakat potensial seperti PKK, Dasa Wisma, kader kesehatan dan posyandu, untuk berpartisipasi dalam program pengendalian vektor DBD.   Kata kunci: DBD, Distribusi spasial, Jarak indeks kasus, Kota  Samarinda
PENGARUH PERBEDAAN MEDIA DAN WAKTU PENGASINAN PADA PEMBUATAN TELUR ASIN TERHADAP KANDUNGAN IODIUM TELUR Yuniati, Heru; Almasyhuri, Almasyhuri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2908

Abstract

Abstract Background: An adequate intake of iodine cause one of public health problem in Indonesia community. One way to overcome this problem is through the use of iodized salt. The uses of salt in community beside in the cooking of food also use in food preservation such as the salted eggs. Objective: The objective of this study was to observe the iodine content of the salted eggs which proceed by using the iodized salt in different of salting media. Method: In making of salted eggs was performance by using 3 kinds of media. Those were the ash usually used by household for cleaning the cooking utensil, the powder of brick, and just iodized salt. The iodine content of the egg were analyzed every 5 days. Result: The result of observation indicated that the iodine content of the eggs in 5 days incubation was 1.4 ppm for the eggs incubated in the ash of household, whereas for the eggs incubated in the brick powder media only 0.65 ppm. Incubation time affected the penetration of iodine into the duck eggs, and has a significant correlation (p = 0.001). Keywords: salted egg, iodine, salting media, incubation time.   Abstrak Gangguan kesehatan akibat kekurangan konsumsi iodium merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui penggunaan garam beriodium. Penggunaan garam selain digunakan pada pemasakan, juga digunakan untuk pengawetan makanan seperti pembuatan telur asin. Tujuan. Mempelajari pengaruh penggunaan garam beriodium terhadap kandungan iodium telur asin dengan menggunakan media yang berbeda. Metode. Pembuatan telur asin dilakukan dengan menggunakan 3 media garam beriodium. Media abu gosok, media serbuk batu bata, dan media air, dengan lama pengasinan selama 20 hari, dan setiap selang 5 hari dilakukan analisis iodium telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan iodium telur dari media abu gosok pada hari ke lima pengasinan sebesar 1.4 ppm, sementara dalam telur asin dari media serbuk bata hanya 0.65 ppm. Lama pengasinan mempengaruhi penetrasi iodium ke dalam telur itik, dan memiliki korelasi yang signifikan (p= 0.001). Kata kunci :  telur asin,  iodium, media pengasinan, waktu pengasinan.
RAMUAN OBAT TRADISIONAL DI SUMATERA BARAT DAN NUSA TENGGARA BARAT UNTUK KELUHAN PADA SISTEM REPRODUKSI Sa’roni, Sa’roni; Nugroho, Yun Astuti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/2909

Abstract

Abstract Indonesian traditional posseses, various kind of traditional healers to heal various complain. Therefor reproduction healthy condition not yet like an expectant, therefore to carry out survey to get data principal ingredients and plants kind to use for reproduction system complaint. Survey was conducted in West Sumatera and West Southeast Island Province. Traditional healers ingredients age more than 17 years old and to hold for respondent. Discriptif analysis to carry out and which to be difference ingredients either plants in ingredients in the two province. Efficacy and safety plants in ingredients were investigated. The result of survey showed that a lot of ingredients in West Sumatera and West Shoutheast Island complaint for reproduction system disorder. The ingredients either plants to use difference in the two province. Efficacy and safety investigated from plants to use in ingredients possible to carry on efficacy and safety ingredients. Keywords : Traditional ingredients, Reproduction System, West Sumatera, West Southeast Island.     Abstrak Indonesia banyak terdapat pengobat tradisional (Battra) yang menggunakan ramuan dari bahan tanaman untuk mengobati berbagai macam keluhan. Karena keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia belum seperti yang diharapkan maka dilakukan survei terutama untuk mendapatkan data jenis ramuan dan jenis tanaman yang digunakan dalam ramuan untuk keluhan pada sistem reproduksi. Survei dilakukan di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Responden adalah Battra yang menggunakan ramuan yang sudah berusia lebih dari 17 tahun dan bersedia menjadi responden. Analisis dilakukan secara diskriptif dan apakah ada perbedaan ramuan dan jenis tanaman yang digunakan dalam ramuan di kedua daerah tersebut. Tanaman tanaman yang digunakan dalam ramuan dikaji dengan penelitian khasiat dan keamanan yang sudah dilakukan. Hasil survei mendapatkan berbagai macam ramuan di Sumatera Barat dan di Nusa Tenggara Barat untuk keluhan pada sistem reproduksi. Ramuan maupun jenis tanaman yang digunakan di ke dua daerah berbeda. Kajian hasil penelitian dari tanaman tanaman yang digunakan dalam ramuan mendukung khasiat dan keamanan ramuan.   Kata Kunci :  Ramuan Obat Tradisional, Sistem Reproduksi, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat

Page 3 of 47 | Total Record : 467