cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Analisis Kualitatif Peran Ibu Terhadap Pencegahan COVID-19 Dan Pemberian Gizi Pada Masa Pandemi Tri Bayu Purnama; Rahayu Sakinah Pasaribu; Kaaf Wajiah Siregar; Eka Githa Roszaliya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i4.4553

Abstract

More than two million children suffer from malnutrition and more than 7 million children under the age of 5 suffer from stunted growth. Nutritional status is important as it is a risk factor for morbidity and mortality. The role of mothers is required to monitor the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. This study aims to determine the role of mothers in monitoring the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. In this study, a qualitative approach was used to describe maternal activities in monitoring infant nutritional status during the pandemic. Data collection was carried out through in-depth interviews using a questionnaire as an interview guide. The whistleblower research was conducted in Medan City with up to 4 people as an area with a high COVID-19 prevalence rate and with Sibolga City with up to 6 whistleblowers as a comparison city with a low COVID-19 prevalence in North Sumatra province. This study found that the whistleblowers still had not implemented the COVID-19 prevention protocol, e.g. B. by not cleaning items frequently touched with disinfectants because they did not have disinfectant, did not feel the need to be cleaned regularly and lacked knowledge. Most of the whistleblowers had given their young children balanced diets during the COVID-19 pandemic, but some of the whistleblowers found restrictions on eating vegetables and fruits. Abstrak Lebih dari dua juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting. Status gizi penting karena merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kesakitan dan kematian. Peran ibu dibutuhkan untuk memantau status gizi pada balita selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ibu terhadap pemantauan status gizi balita pada masa pandemi COVID-19. Pendekatan kualitatif digunakan pada penelitian ini untuk mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan oleh ibu dalam pemantauan status gizi bayi pada masa pandemi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan menggunakan kuesioner sebagai panduan wawancara. Informan penelitian dilakukan pada Kota Medan sebanyak 4 orang sebagai daerah dengan tingkat penyebaran COVID-19 yang tinggi dan Kota Sibolga sebanyak 6 informan sebagai kota pembanding dengan penyebaran COVID-19 rendah di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menemukan bahwa informan masih belum menerapkan protokol pencegahan COVID-19 seperti tidak membersihkan barang-barang yang sering disentuh dengan disinfektan dikarenakan tidak punya disinfektan, tidak merasa perlu untuk dibersihkan secara berkala, dan kurangnya pengetahuan. Sebagian besar informan sudah memberi balita makanan gizi seimbang di masa pandemi COVID-19 tetapi ditemukan keterbatasan dalam konsumsi sayur dan buah pada beberapa informan.
Faktor-Faktor Penyebab Pernikahan Dini di Beberapa Etnis Indonesia Sri Handayani; Syarifah Nuraini; Rozana Ika Agustiya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i4.4619

Abstract

Early marriage is still a severe problem in Indonesia. One out of nine women in Indonesia is married before eighteen. It occurs almost in all over provinces in Indonesia. There are 23 provinces where the prevalence of early marriage is higher than the national data. This article aims to determine factors that cause early marriage in several ethnic groups in Indonesia. This study reviews the Ethnographic Health Research book series in the Lampung, Sasak and Bugis ethnic groups. Pierre Bourdieu’s theory was used to analyze the phenomenon of early marriage. Bourdieu divides this theory of social practice into three interrelated parts: habitus, arena, and capital. The existence of customary rules, patriarchal systems, modernization and applicable formal laws, namely marriage laws, affect the habitus of early marriage actors. Weak economic, cultural and social capital also encourages individuals to marry earlier. In conclusion, the relationship between habits, The involvement of the capital owned by adolescent or their families influences the decision to have an early marriage. The prevention of early marriage needs mutual interactions by both structural and cultural conditions of the community. The role of traditional and religious leaders also needs to be optimized in preventing early marriage. It is also necessary to strengthen the implementation of the law that regulates the minimum age for marriage. Abstrak Pernikahan dini masih menjadi masalah yang serius dihadapi oleh Indonesia. Satu dari sembilan perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Pernikahan dini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat 23 provinsi dengan prevalensi pernikahan dini lebih tinggi dari angka nasional. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pernikahan dini pada beberapa etnis di Indonesia. Kajian literatur dari buku seri Riset Etnografi Kesehatan pada etnis Lampung, Sasak dan Bugis dipilih menjadi metode pada artikel ini. Untuk menganalisis fenomena pernikahan dini digunakan teori praktik sosial oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu membagi teori praktek sosial ini menjadi tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu: habitus, arena dan modal. Adanya aturan adat, sistem patriarki, modernisasi dan hukum formal yang berlaku yaitu undang-undang perkawinan mempengaruhi habitus pelaku pernikahan dini. Lemahnya modal ekonomi, kultural dan sosial juga turut mendorong individu melakukan pernikahan dini. Kesimpulan dari analisis tersebut adalah relasi antara habitus, arena dengan melibatkan modal yang dimiliki oleh remaja atau keluarganya mempengaruhi keputusan untuk melakukan pernikahan dini. Upaya pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi struktur dan budaya masyarakat. Peran tokoh adat dan tokoh agama juga perlu dioptimalkan dalam mencegah pernikahan dini. Penguatan implementasi undang-undang yang mengatur batas minimum usia menikah juga perlu dilakukan.
Kinerja Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Papua Tahun 2018: Apakah input tenaga bidan dan dokter berpengaruh? Ratna Dwi Wulandari; Agung Dwi Laksono; Ratu Matahari; Nikmatur Rohmah; Hana Krismawati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i4.4913

Abstract

Maternal and child health is one of factors that indicate the community health status. The study analyzes the relationship between the input of midwives and doctors on the performance of maternal and child health services. This study uses an ecological analysis approach. The population is 42 districts/cities in Papua Island . In addition ,this study analyzes K4, childbirth in health care facilities, and KN1 as the dependent variable. The analysis uses a scatter plot with a linear fit line as a determinant. The study results a very high variation among districts/cities, both the input variable and maternal and child health performance. Spatially, the lowest input of midwives and doctors is more likely to the Central Mountain region. It showed the higher the input of midwives and doctors, the higher the K4 performance. The higher the input of midwives and doctors, the higher the delivery performance at health service facilities. In addition, The higher the input of midwives and doctors is the higher the performance of KN1. The midwife's input has a more significant effect than the doctor's input for all maternal and child health performance. The study concludes that the input range for midwives and doctors in Papua Island is very extensive. The input of midwives and doctors is positively related to the performance of maternal and child health services in Papua Island. K4 is the factor that is least carried out, both by midwives and doctors. Abstrak Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan status kesehatan masyarakat di suatu wilayah. Studi ditujukan untuk menganalisis hubungan antara input tenaga bidan dan dokter pada kinerja pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pulau Papua. Studi dilakukan dengan pendekatan analisis ekologi. Populasi studi adalah seluruh kabupaten/kota di Pulau Papua (42 kabupaten/kota). Selain input tenaga bidan dan tenaga dokter sebagai variabel independen, studi ini menganalisis K4, persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan, dan KN1, sebagai variabel dependen. Analisis memanfaatkan scatter plot dengan garis fit linier sebagai penentu. Hasil studi menunjukkan variasi yang sangat tinggi antar kabupaten/kota, baik pada variabel input tenaga maupun pada kinerja kesehatan ibu dan anak. Secara spasial input tenaga bidan dan dokter yang paling rendah cenderung di wilayah Pegunungan Tengah. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, semakin tinggi pula kinerja K4 di kabupaten/kota tersebut. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, maka semakin tinggi pula kinerja persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah tersebut. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, maka semakin tinggi pula kinerja KN1 di area tersebut. Lebih lanjut, input tenaga bidan memiliki efek yang lebih bermakna dibanding input tenaga dokter untuk seluruh kinerja kesehatan ibu dan anak. Studi menyimpulkan bahwa rentang input tenaga bidan dan dokter di Pulau Papua sangat lebar. Input tenaga bidan dan tenaga dokter berhubungan secara positif dengan kinerja pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pulau Papua. K4 merupakan faktor yang paling kurang dilakukan, baik oleh tenaga bidan maupun tenaga dokter.
Cover, Dewan Redaksi, Daftar Isi dan Kata Pengantar hsr managerxot
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyeksi Admisi Rawat Inap Dan Kebutuhan Tempat Tidur di Rumah Sakit an Puskesmas dalam Universal Health Coverage Di Indonesia sendy agita; Mugi Wahidin
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.3969

Abstract

Strengthening service facilities is an important aspect of universal health complaints and this is consistent with the achievement of sustainable development goals (SDGs). The bed occupancy rate in the inpatient facility a measure of the ability of inpatient facilities to function safely and effectively. This study aims to find out the projection of inpatient admissions and beds needs in hospitals and Public Health Center in Indonesia. Analysis to projection was conducted used the Need based model method with 2015 population reference from SUPAS 2015. The results showed that the yearly inpatient admission rate in 2023 increased by around 71% (115,554 TT) compared to 2019. Conclusion The projection of inpatient admissions for PHC in 2023 increases by 20%, the average number of days of hospitalization increases by 18.38%, and the number of Beds increases by 29% compared to 2018. The projection of hospital admissions in 2023 increases by 60%, the average day of hospitalization increases by 81.62%, and the number of inpatient beds increased by 71% compared to 2018. The suggestions are needed to build inpatient facilities, strengthen the FKTP, IT development to with applications or software model need based. Abstrak Penguatan fasilitas layanan merupakan aspek penting dalam pencapaian cakupan kesehatan universal dan ini sejalan dengan pencapaian sustainable development goals (SDGs). Akses dan ketersediaan rawat inap menjadi perhatian utama untuk memenuhi kebutuhan peserta JKN. Tingkat hunian di fasilitas rawat inap telah diakui sebagai ukuran kemampuan fasilitas rawat inap agar berfungsi secara aman dan efektif. Untuk memenuhinya diperlukan estimasi admisi dan kebutuhan tempat tidur. Tujuan penelitian ini untuk memproyeksikan kebutuhan tempat tidur rawat inap di Indonesia tahun 2023. Analisis proyeksi menggunakan metode Need based model dengan acuan penduduk Indonesia SUPAS tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan tingkat admisi rawat inap tahun di tahun 2023 meningkat sekitar 71% (115.554 TT) dibanding dengan tahun 2019 dikarenakan proyeksi pertambahan jumlah penduduk Indonesia dan kebutuhan menuju Universal Health Coverage. Kenaikan ini menyebabkan kebutuhan tempat tidur rawat inap meningkat. Kesimpulan Proyeksi admisi rawat inap Puskesmas tahun 2023 naik 20%, rerata hari rawat inap naik 18,38%, dan jumlah TT naik 29% dibanding tahun 2018. Proyeksi admisi rawat inap RS tahun 2023 naik 60%, rata hari rawat inap naik 81,62%,dan jumlah tempat tidur rawat inap naik 71% dibanding 2018. Saran: Pemenuhan FKTP selain PKM yaitu klinik dan praktek dokter dan FKTL dengan peningkatan kelas RS. Penguatan regulasi pola rujukan berjenjang yang komprehensif melibatkan swasta. Penguatan SDM serta pembenahan sarana prasarana FKTP dan FKTL yang memadai sesuai kebutuhan. Optimalisasi peran pemerintah dalam penetapan kebutuhan tempat tidur, membuka seluas-luasnya kesempatan kepada klinik dan RS swasta untuk bekerjasama dengan BPJS.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Cedera pada Pengendara Sepeda Motor Siswa SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen Kurniasih Kurniasih; Eka Denis Machfutra; Zainul Khaqiqi Nantabah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.4085

Abstract

Traffic accidents are the biggest cause of injury. Two of the three main causes of death are injuries from traffic accidents, which are expected to increase further than other causes of death. The number of injuries caused by riding in Kebumen District from 2014 to 2016 involves mainly motorcycles, occurring in the 15-30 year age group, with private and student status that did not possess any driving license. This study determines factors related to the incidence of injury on motorcyclist students of 1 State Vocational High School Puring, Kebumen District academic year 2016/2017 based on host factors, agent factors, and environmental factors. This study was a cross-sectional design with a random sampling technique on 313 motorcyclists. Questionnaires disseminated as the data collection. The analysis was either univariate or bivariate with a significance level p-value<0.05. Drivers were dominantly male. Most occupation of the parents was farmers. The majority of motorists never participate in any safe driving socialization, and the average age was 11 years old when they started to ride a motorcycle. The average mileage per day was 11 km. Bivariate analysis results no correlation among sex, parental occupation, age of first started to ride a motorcycle, use of personal protective equipment, the safe driving socialization, the vehicle feasibility, the driving license ownership, and parental support for safe driving with the incidence of injury. There was a relationship between distance to school, knowledge of safe driving, and friend's motivation to safe driving with injuries. Abstrak Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab cedera terbesar. Salah satu penyebab utama kematian adalah cedera akibat kecelakaan lalu lintas, yang diperkirakan terus meningkat dibandingkan dengan penyebab kematian lain. Jumlah kejadian cedera akibat berkendara di Kabupaten Kebumen tahun 2014−2016, banyak melibatkan kendaraan sepeda motor dengan pengendara usia 15−30 tahun, berstatus swasta, pelajar serta tidak memiliki SIM. Studi ini mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian cedera pada pengendara sepeda motor siswa SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen tahun ajaran 2016/2017 berdasarkan host, agent dan environment factors. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sample pada 313 pengendara sepeda motor. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariatengan tingkat signifikansi p-value < 0.05. Terdapat pengendara terbanyak usia 16 tahun sejumlah 145 pengendara, pengendara yang berusia 17˗21 tahun sejumlah 129 pengendara, didominasi laki-laki dan pekerjaan orangtua petani. Mayoritas pengendara tidak mengikuti sosialisasi berkendara yang aman. Sejak usia 11 tahun mereka mulai aktif mengemudikan sepeda motor dengan Jarak tempuh 11 km perhari. Hasil analisis bivariabel menunjukkan tidak ada keterkaitan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan orangtua, usia awal pengendara sepeda motor mulai aktif mengemudikan sepeda motor, penggunaan alat pelindung diri, sosialisasi berkendara yang aman, kepemilikan SIM C, faktor kelayakan kendaraan dan dukungan orangtua dalam berkendara yang aman dengan kejadian cedera. Terdapat hubungan antara jarak tempat tinggal dengan sekolah, pengetahuan tentang berkendara yang aman dan dukungan teman dalam berkendara yang aman dengan kejadian cedera. Dukungan teman sebaya menjadi faktor paling dominan menentukan terjadinya cedera. Siswa yang tanpa dukungan berkendara aman memiliki risiko cedera. Maka, sosialisasi berkendara oleh pihak kepolisian dan kolaborasi dengan sekolah menjadi hal yang wajib untuk siswa berkendara aman dan selamat di jalan.
Tantangan Kebijakan Satu Data Indonesia Irfan Ardani; Heti Sri Hari Cahyani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.4167

Abstract

Accurate vital statistics can be used to formulate health programs and policies. The problem is the overlapping and fragmented data sources in several agencies that record data on deaths and causes of death. The Indonesia’s One Data policy was created to organize the data generated by each agency that performs public data collection, recording and reporting. The purpose of this study is to examine the challenges of implementing the Indonesia’s One Data policy in the registration system of deaths and causes of death in DKI Jakarta Province. Data analysis uses the World Wide Web Foundation's framework of data openness, including legal frameworks, political barriers, coordination, and data quality. This study found that there are many regulations regarding data integration, but there are still overlaps in the recording and reporting systems. Coordination between agencies and political egos of each agency affect the quality of the data produced. In conclusion, weak coordination and sectoral political egos are still obstacles to implementing the One Data Indonesia policy. This study suggests eliminating data fragmentation and conducting data interoperability so that it is more accurate to use as a basis for policymaking. Abstrak Statistik hayati kematian dan penyebab kematian yang akurat dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program dan kebijakan kesehatan berbasis bukti. Permasalahan yang ada adalah sumber data yang tumpang tindih dan terfragmentasi di beberapa instansi yang melakukan fungsi pencatatan data kematian dan penyebab kematian. Kebijakan Satu Data Indonesia dibuat untuk mengorganisir data yang dihasilkan oleh setiap instansi yang melakukan pengumpulan, pencatatan dan pelaporan data publik. Tujuan penelitian ini mengkaji gambaran tantangan implementasi kebijakan Satu Data Indonesia pada sistem pencatatan kematian dan penyebab kematian di Provinsi DKI Jakarta. Analisis data menggunakan teori menurut World Wide Web Foundation tentang keterbukaan data yang terdiri dari variabel legal framework, political barriers, koordinasi, serta kualitas data. Hasil penelitian ini menemukan dari sisi regulasi telah banyak diatur tentang integrasi data, tetapi masih ada tumpang tindih sistem pencatatan dan pelaporan. Koordinasi antar instansi dan ego politik masing-masing instansi berpengaruh pada kualitas data yang dihasilkan. Kesimpulannya, hambatan koordinasi dan ego politik sektoral masih menjadi kendala dalam pelaksanaan kebijakan Satu Data Indonesia. Penelitian ini menyarankan untuk membuka fragmentasi data dan melakukan koordinasi interoperabilitas data sehingga data yang dihasilkan lebih akurat untuk digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan.
Fungsi Kognitif Anak Dengan Epilepsi Umum I Gusti Ngurah Made Suwarba; Ni Wayan Kurnia Wati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.4491

Abstract

Children with epilepsy may experience cognitive impairment due to the effects of structural lesions or seizure activity. This study aims to determine the cognitive function of children with general epilepsy. This study was a cross-sectional design that included children aged 6 to 68 months with general epilepsy in the polyclinic and pediatric ward of Sanglah Hospital Denpasar from September 2013 to January 2015. All children who participated in this study were subjected to a Mullen scale examination. Statistical analysis was performed using Chi-square test and multivariate analysis with logistic regression. In 93 children with general epilepsy, there was a significant correlation between the level of cognitive function and seizure frequency >10 times with an odds ratio 6.067 (95% CI 2.002-18.388, p value 0.001) and seizure duration ≥15 minutes with an odds ratio 6.006 (95% CI 1,817-20,246, p value 0.003). In this study, it can be concluded that seizure frequency >10 times and seizure duration ≥15 minutes in children with general epilepsy have a positive relationship of 6 times with the abnormal cognitive function. Further studies are needed to determine cognitive development of children with general epilepsy. Abstrak Anak dengan epilepsi dapat mengalami gangguan kognitif berkaitan dengan efek dari lesi struktural maupun aktivitas kejang. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui fungsi kognitif anak dengan epilepsi umum. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain potong lintang yang mengikutsertakan anak usia 6 sampai 68 bulan dengan epilepsi umum di poliklinik dan ruang perawatan anak RSUP Sanglah Denpasar pada bulan September 2013 hingga Januari 2015. Semua anak yang ikut serta dalam penelitian dilakukan pemeriksaan skala Mullen. Analisis statistik dilakukan dengan uji kai kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Pada 93 anak dengan epilepsi umum, didapatkan hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan frekuensi kejang >10 kali dengan rasio odds 6,067 (nilai p=0,001, 95% CI 2,002-18,388) dan lama kejang ≥15 menit dengan rasio odds 6,006 (nilai p=0,003, 95% CI 1,817-20,246). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa frekuensi kejang >10 kali dan lama kejang ≥15 menit pada anak dengan epilepsi umum memiliki hubungan yang positif sebesar 6 kali terhadap fungsi kognitif abnormal. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan fungsi kognitif anak dengan epilepsi umum.
Faktor-faktor Determinan Perilaku Mencuci Tangan Setelah Masa ‘Adaptasi Kebiasaan Baru’ Mutiara Widawati; Firda Yanuar Pradani; M. Ezza Azmi Fuadiyah; Hubullah Fuadzy; Rohmansyah Wahyu Nurindra
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.4786

Abstract

Changes in policies implemented in Indonesia before and after the New Normal policy affect the prevention habits that have been implemented by the community. Therefore, a study to determine factors affecting washing hands behavior after the implementation of the new normal policy during the COVID-19 period has been conducted in order to address this issue. This study uses two analyzes, the paired T-test which aims to determine whether there are differences in handwashing behavior among respondents before and after the new normal period, and a multivariate test using logistic regression analysis which aims to determine the factors that influence the lack of hand washing behavior. The results of this study's data analysis showed that there was a decrease in the number of respondents who had washed their hands well before and after new normal policy (73.75% to 67.75%). The results of the analysis also show that the lack of hand washing habits is related to factors such as education, intensity of seeking information related to COVID-19, have had positive for COVID-19, and anxiety due to information received. Meanwhile, age, gender, and income have no effect on this behavior. Hopefully, these results can be used as a foundation for the making of policies to improve health promotion and education on proper handwashing to targeted communities, such as people with low education level, rarely seek information, or are not anxious about COVID-19 disease. Image media can also be used to increase the interest of these targeted people towards information related to COVID-19. Abstrak Perubahan kebijakan yang diterapkan di Indonesia sebelum dan setelah kebijakan “New normal”/Adaptasi kebiasaan baru (AKB) dapat mempengaruhi upaya pencegahan penyakit di masyarakat. Informasi terkait perubahan perilaku masyarakat setelah diberlakukannya suatu kebijakan pemerintah sangat penting diketahui. Oleh karena itu, studi tentang faktor-faktor penentu kebiasaan mencuci tangan setelah diterapkannya kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (“New normal”) AKB pada masa COVID-19 telah dilakukan untuk menjawab persoalan tersebut. Studi ini melakukan dua analisis yaitu uji beda dengan menggunakan uji T berpasangan yang bertujuan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan perilaku mencuci tangan pada responden sebelum dan setelah masa adaptasi kebiasaan baru dan uji multivariat menggunakan analisis regresi logistik yang bertujuan untuk menentukan faktor yang berpengaruh pada kurangnya perilaku mencuci tangan pada responden. Hasil analisis data studi ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah responden yang tadinya mencuci tangan dengan baik pada masa sebelum adaptasi kebiasaan baru (73,75%) menjadi kurang baik di masa setelah adaptasi kebiasaan baru (67,75%). Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kurangnya kebiasaan mencuci tangan berhubungan dengan faktor-faktor seperti pendidikan, intensitas pencarian informasi terkait COVID-19, pernah positif COVID-19, dan kecemasan akibat informasi yang diterima. Sedangkan umur, gender, dan pendapatan tidak berpengaruh terhadap perilaku ini. Diharapkan hasil studi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan kebijakan promosi dan edukasi kesehatan terkait kebiasaan cuci tangan yang benar terhadap orang-orang yang ditargetkan, seperti orang-orang dengan tingkat pendidikan rendah, jarang mencari informasi, atau orang-orang yang tidak khawatir terhadap penyakit COVID-19. Media gambar juga dapat digunakkan untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat yang ditargetkan ini terhadap informasi terkait COVID-19.
Peran Rumah Tangga Dan Lingkungan Tempat Tinggal Terhadap Kondisi Air Minum Sumur Gali Di Indonesia Ika Dharmayanti; Dwi Hapsari Tjandrarini; Zahra Zahra
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25 No 1 (2022): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v25i1.4939

Abstract

Water is essential for human life. The availability of decent dan safe water for drinking, food processing, and day to day necessity is required to prevent water-borne diseases. This study analyzes the role of household factors (compositional) and rural/urban village factors (contextual) on the condition of dug-wells water in Indonesia. The analysis used data integration of the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) – the National Socioeconomic Survey (Susenas)in March 2018 and the 2018 Village Potential (Podes) data. These three surveys employed a cross-sectional design. We applied multilevel logistic regression modeling using STATA in the analysis. Samples were households that used dug wells in 12,259 rural/urban villages in Indonesia. The result found that 76,5% of households use basic drinking water facilities, in which 54% were in poor condition. The role of household-level (level 1) and rural/urban village-level (level 2) were almost the same, which were 50.13% and 49.87% respectively. In conclusion, there were no differences between household factors and rural/urban village factors in explaining the condition of drinking water from dug wells in Indonesia. To maintain proper and safe dug-wells-drinking-water facilities for all family members, it is necessary to provide environmental education to the community, to encourage community service and to reforest the living environment. Abstrak Air sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Ketersediaan air yang layak dan aman sangat diperlukan oleh masyarakat untuk keperluan minum, pengolahan makanan dan kebutuhan sehari-hari agar dapat terhindar dari penyakit yang ditularkan melalui air. Penelitian ini menganalisis peranan faktor rumah tangga (komposisional) dan faktor desa/kelurahan (kontekstual) terhadap kondisi air minum sumur gali di Indonesia. Analisis menggunakan data integrasi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 - Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018 dan Potensi Desa (Podes) 2018. Ketiga survei tersebut menggunakan rancangan potong lintang. Analisis menggunakan pemodelan multilevel logistic regression dengan program STATA. Sampel diambil dari rumah tangga yang menggunakan sumur gali pada 12.259 desa/kelurahan di Indonesia. Dari hasil diketahui bahwa 76,5% rumah tangga menggunakan sarana air minum dasar, dengan 54% kondisinya tidak baik. Besar peran tingkat rumah tangga (level 1) dan desa/kelurahan (level 2) hampir sama besar yaitu 50,13% dan 49,87%. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan faktor rumah tangga dan desa dalam menjelaskan kondisi air minum dari sumur gali di Indonesia. Untuk menjaga keberlangsungan sarana air minum sumur gali yang layak dan aman bagi seluruh anggota keluarga, diperlukan penyuluhan lingkungan bagi masyarakat, menggiatkan kerja bakti dan melakukan penghijauan lingkungan tempat tinggal.