cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Pythagoras: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
ISSN : 19784538     EISSN : 2527421X     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Analisis kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita barisan ditinjau dari adversity quotient Linda Nur Chabibah; Emy Siswanah; Dyan Falasifa Tsani
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 14, No 2: December 2019
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.078 KB) | DOI: 10.21831/pg.v14i2.29024

Abstract

Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi barisan ditinjau dari Adversity Quotient (AQ). Kemampuan pemecahan masalah memiliki 4 indikator yaitu: 1) mengidentifikasi masalah, 2) merumuskan masalah, 3) melaksanakan strategi, dan 4) memverifikasi solusi. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2018/2019. Subjek penelitian terdiri dari 30 Siswa kelas XI IPA 1 SMA Kesatrian 1 Semarang yang telah diajarkan materi barisan. Kemudian dipilih subjek berdasarkan tipe AQ yaitu Climber, Camper dan Quitter. Teknik pengumpulan data menggunakan angket AQ, tes kemampuan pemecahan masalah, dan wawancara. Teknik analisis data penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa bertipe Climber mampu memenuhi seluruh indikator dari 4 indikator kemampuan pemecahan masalah yaitu indikator 1, 2, 3, dan 4. Siswa bertipe Camper mampu memenuhi 3 dari 4 indikator kemampuan pemecahan masalah yaitu indikator 1, 2, dan 3. Siswa bertipe Quitter hanya mampu memenuhi 1 indikator kemampuan pemecahan masalah yaitu indikator 2. Analysis of students' problem-solving abilities in solving word problem sequence in terms of adversity quotientAbstractThe purpose of this qualitative research was to describe the students' problem-solving abilities in solving word problems in the sequences material in terms of Adversity Quotient (AQ). Problem-solving has four indicators namely: 1) overcoming the problem, 2) formulating the problem, 3) implementing the strategy, and 4) verifying the solution. The study was conducted in the even semester of the 2018/2019 academic year. The research subjects consisted of 30 students of class XI IPA 1 of Kesatrian 1 Semarang High School who had taught the sequences material. Then the subject was chosen based on the type of AQ namely climber, camper and quitter. Data collection techniques using the AQ questionnaire, the problem-solving test, and interview. The data analysis techniques of this study include data reduction, data presentation, and conclusion. The results showed that students of the climber type were able to meet all the indicators of the four indicators of problem-solving namely indicators 1, 2, 3, and 4. Students of the camper type were able to fulfill three from four indicators of problem-solving namely indicators 1, 2, and 3. Students' quitter type were only able to meet one indicator of problem-solving, namely indicator 2.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Menggunakan Metode Inkuiri Muhammad Suhadak; Dhoriva Urwatul Wutsqa
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9, No 1: June 2014
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.54 KB) | DOI: 10.21831/pg.v9i1.9066

Abstract

 Tujuan penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel menggunakan metode inkuiri yang valid, praktis, dan efektif ditinjau dari prestasi dan curiosity siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Model pengembangan diadaptasi dari model pengembangan Borg Gall. Pengembangan terdiri atas delapan tahap yaitu pengumpulan data, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba pendahuluan, revisi produk utama, uji coba utama, revisi produk akhir, dan diseminasi dan implementasi. Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel menggunakan metode inkuiri yang meliputi silabus, RPP, LKS, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing silabus, RPP, LKS dan tes valid, praktis, dan efektif. Valid menurut validasi ahli dengan kriteria sangat baik, praktis menurut penilaian guru, lembar penilaian siswa, dan lembar observasi pembelajaran dengan kriteria sangat baik dan efektif ditinjau dari prestasi, dengan 76,74%  siswa mencapai KKM serta efektif ditinjau dari curiosity, dengan 100% angket siswa minimal kategori baik.Kata Kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, sistem persamaan linear dua variabel, metode inkuiri. Developing Two-Variable Linear Equation Systems Teaching Package Using the Inquiry Method AbstractThe study aims to develop a two-variable linear equation systems teaching package using the inquiry method, which is valid, practical, and effective in terms of students’ achievement and curiosity. This study is developmental research, with model adapted from Borg Gall model. The development consists of eight phases data collecting, planning, developing the preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, final product revision, and dissemination and implementation. This study has produced a two-variable linear equation systems teaching package using the inquiry method including a syllabus, lesson plan, worksheet, and test. The result of the study shows that each of the syllabus, lesson plan, worksheet, and test is valid, practical, and effective. They are valid according to experts’ judgment, in very good criteria; they are practical according to the teachers’ judgment, students’ judgment, and instruction observation sheet, in very good criteria; they are effective  in terms of achievement, where 76.74% student achieve the standard value and effective in terms of curiosity, where 100% of student questionnaire minimum score is in good criteria.Keywords: development, teaching package, two-variable linear equation systems, inquiry method
Komparasi Pendekatan Penemuan Terbimbing dalam Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share dengan Two Stay Two Stray Deny Sutrisno; Heri Retnawati
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1: June 2015
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.155 KB) | DOI: 10.21831/pg.v10i1.9093

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) keefektifan pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) ditinjau dari kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), prestasi belajar dan curiosity, (2) keefektifan pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) ditinjau dari HOTS, prestasi belajar, dan curiosity dan, (3) pembelajaran yang lebih efektif antara pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran kooperatif  tipe TPS dan tipe TSTS ditinjau dari HOTS, prestasi belajar, dan curiosity. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan the pretest-posttest two treatment design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di MAN Yogyakarta 3 dan sampelnya dipilih 2 kelas dari 5 kelas yang ada. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes HOTS, tes prestasi dan angket curiosity siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pendekatan penemuan terbimbing dengan setting kooperatif TPS efektif terhadap HOTS, prestasi belajar, dan curiosity, (2) pendekatan penemuan terbimbing dengan setting kooperatif TSTS efektif terhadap HOTS, prestasi belajar, dan curiosity dan, (3) pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran kooperatif  tipe TSTS lebih efektif dibandingkan dengan tipe TPS ditinjau dari HOTS dan prestasi belajar dan pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih efektif dibandingkan dengan tipe TSTS ditinjau dari curiosity.Kata Kunci: penemuan terbimbing, pembelajaran kooperatif, Think Pair Share, Two Stay Two Stray, kemampuan berpikir tingkat tinggi, prestasi belajar, curiosity. A Comparison Between Guided Discovery Aprroach Through Cooperative Learning Think Pair Share and Two Stay Two Stray AbstractThe aims of this study aims to describe: (1) the effectiveness of guided discovery aprroach through cooperative learning Think Pair Share (TPS) type in terms of higher order thinking skills (HOTS), learning achievement, and curiosity, (2) the effectiveness of guided discovery aprroach through cooperative learning Two Stay Two Stray (TSTS) type in terms of HOTS, mathematic learning achievement, and curiosity, and (3) the more effective learning between guided discovery aprroach through cooperative learning TPS type and TSTS type in terms of HOTS, learning achievement, and curiosity. This study was a quasi-experimental study using the pretest-posttest two treatment design. The research population comprised all Year X students of MAN Yogyakarta 3 and the sample was 2 out of 5 classes. The data collecting instruments consisted of a HOTS test, learning achievement test and questionnaires for students’ curiosity. The results showed: (1) guided discovery aprroach through cooperative setting TPS type were effective in terms of HOTS, learning achievement, and curiosity, (2) guided discovery aprroach through cooperative setting TSTS type were effective in terms of HOTS, learning achievement, and curiosity, and (3) guided discovery aprroach through cooperative learning TSTS type was more effective than TPS type in terms of HOTS and learning achievement and then guided discovery aprroach through cooperative learning TSTS type was more effective than TPS type in terms of curiosity.Keywords: guided discovery, cooperative learning, Think Pair Share, Two Stay Two Stray, High Order Thinking Skill, learning achievement, curiosity.
Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Guided Inquiry dan Problem Solving Ditinjau dari Prestasi Belajar Peluang, Kemampuan Penalaran, dan Sikap Siswa terhadap Matematika Sardin Sardin
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 2: December 2015
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.627 KB) | DOI: 10.21831/pg.v10i2.9158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran guided inquiry dan problem solving, serta perbedaan kedua pembelajaran tersebut yang ditinjau dari prestasi belajar peluang, kemampuan penalaran siswa, dan sikap siswa terhadap  matematika. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-postest nonequivalent comparison-group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Baubau yang dikelompokan sebanyak 10 kelas. Sampel dalam penelitian ini sebanyak dua kelas yang dipilih secara acak. Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran digunakan uji one sample t-test; untuk mengetahui perbedaan keefektifan menggunakan uji MANOVA (multivariate tests); untuk mengetahui pembelajaran mana yang lebih efektif menggunakan uji independent sample t-test. Adapun  hasil penelitian ini adalah: (1) pendekatan pembelajaran guided inquiry dan pembelajaran problem solving masing-masing efektif ditinjau dari prestasi belajar, kemampuan penalaran siswa, dan sikap siswa terhadap matematika, (2) pendekatan pembelajaran guided inquiry sama efektifnya dengan pembelajaran problem solving ditinjau dari prestasi belajar dan sikap siswa terhadap matematika, dan (3) pendekatan pembelajaran guided inquiry lebih efektif dari pada pembelajaran problem solving ditinjau dari kemampuan penalaran siswa.Kata Kunci: pembelajaran guided inquiry, pembelajaran problem solving,  prestasi belajar, penalaran matematika, dan sikap siswa terhadap matematika Comparison of Effectiveness Between Guided Inquiry Learning Approach and Problem Solving on Learning Achievement Probability, Reasoning Ability and Attitude Toward Mathematics AbstractThis study aimed to describe the effectiveness of guided inquiry learning and problem solving, as well as those learning a second difference is in terms of achievement of learning opportunities, reasoning ability of students, and students' attitudes toward mathematics. This research is a quasi-experimental design with pretest-posttest nonequivalent comparison-group design. The population in this study were all students of Class XI SMAN 2 Baubau to be grouped as much as 10 classes. The sample in this study were two randomly selected classes. To determine the effectiveness of study used a test of one sample t-test; to determine differences in the effectiveness of using test MANOVA (multivariate tests); to know which one is more effective learning using independent sample t-test test. The results of this study are: (1) guided inquiry approach to learning and teaching problem solving each effective in terms of achievement of learning, reasoning ability of students, and students' attitudes toward mathematics, (2) guided inquiry learning approach is as effective as the learning problem solving in terms of achievement learning and students 'attitudes toward mathematics, and 3) guided inquiry learning approach is more effective than learning problem solving in terms of students' mathematical reasoning abilities.Keywords: guided inquiry learning, problem solving learning, academic achievement, mathematical reasoning, and students' attitudes toward mathematics
Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Berpikir Kritis pada Siswa Sekolah Dasar Sulianto, Joko
PYTHAGORAS Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 2: Desember 2008
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.958 KB) | DOI: 10.21831/pg.v4i2.555

Abstract

Sudah menjadi tugas guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan siswa belajar secara berdaya guna dan berhasil guna. Suatu upaya agar tercipta kondisi yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secara optimal, yaitu dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan yang dapat membuat siswa belajar secara mudah dan dengan perasaan senang. Salah satu prinsip yang dikembangkan dalam KTSP adalah berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Apa artinya? Artinya KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya. Peserta didik memiliki posisi sentral mempunyai makna bahwa kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Pendekatan pembelajaran matematika di sekolah yang diduga akan sejalan dengan harapan dari kurikulum dan dapat meningkatkan berpikir kritis siswa adalah pendekatan kontekstual. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual materi disajikan melalui konteks yang bervariasi dan berhubungan dengan kehidupan siswa baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat secara luas, dan pengetahuan didapat oleh siswa secara konstruktivis.
Pengembangan perangkat pembelajaran geometri bangun ruang SMP dengan menggunakan model guided inquiry Siti Rochana
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 11, No 2: December 2016
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.017 KB) | DOI: 10.21831/pg.v11i2.10659

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran perangkat pembelajaran geometri bangun ruang SMP dengan menggunakan model Guided Inquiry berorientasi pada kemampuan berpikir kreatif dan motivasi belajar siswa yang valid, praktis, dan efektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Development of Research). Penelitian ini mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja siswa (LKS) dengan menggunakan model pengembangan Plomp. Hasil validasi menunjukkan perangkat yang dikembangkan layak digunakan dengan kategori valid. Hasil uji coba menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan praktis dan efektif. Ketuntasan belajar secara klasikal sudah mencapai kriteria minimal 80% yaitu untuk tes ketercapaian kompetensi mencapai 80% sedangkan tes kemampuan berpikir kreatif 86, 67%. Berdasarkan analisis angket motivasi belajar menunjukkan bahwa persentase siswa yang memiliki motivasi dengan kategori minimal baik adalah 80%.Kata kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, guided inquiry Developing a learning kit on geometry build space for junior high schools by using model-oriented guided inquiry AbstractThis research aims to produce a geometry learning device for SMP by using models of Guided Inquiry oriented to creative thinking skills and students' motivation which is valid, practical, and effective. This type of research is research development (Development of Research). This study developed a learning device that includes learning implementation plan (RPP) and the student worksheet (LKS) using a model developed by the development Plomp. The result of the validation shows that the kits device developed are decent with a valid category. The experimental results show that the device developed practical and effective. Classical learning completeness reached at least 80% criterion for the test of achievement of competence reached 80%, while creative thinking ability test 86, 67%. Based on the analysis of motivation questionnaire show that the percentage of students who have a good motivation with minimal category is 80%Keywords: development, learning kit, guided inquiry
MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI PROBLEM POSING Ali Mahmudi
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 1: Juni 2007
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.032 KB) | DOI: 10.21831/pg.v3i1.641

Abstract

Di dunia yang begitu cepat berubah, kreativitas menjadi penentu keunggulan. Daya kompetitif suatu bangsa sangat ditentukan pula oleh kreativitas sumber daya manusianya. Tidak sebagaimana pandangan klasik yang menganggap kreativitas sebagai kemampuan yang hanya dimiliki oleh individu luar biasa, pandangan terkini mengenai kreativitas menempatkannya sebagai kemampuan yang dapat dibentuk atau dikembangkan melalui berbagai usaha, termasuk melalui kegiatan pembelajaran yang terencana dengan baik. Dalam artikel ini dikemukakan mengenai keterkaitan problem posing yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan pengembangan kemampuan siswa terhadap tiga dimensi utama kreativitas, yaitu kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility), dan kebaruan (novelty).Kata kunci: kreativitas, problem posing
Kesiapan mahasiswa LPTK swasta di Semarang menjadi guru matematika yang profesional Saifan Sidiq Abdullah
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 12, No 1: June 2017
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.418 KB) | DOI: 10.21831/pg.v12i1.14051

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan mahasiswa LPTK swasta menjadi guru matematika yang profesional. Penelitian ini merupakan penelitian mixed method dengan desain sequential explanatory strategy. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan matematika semester 8 LPTK swasta di Semarang. Kesiapan menjadi guru matematika yang profesional dinilai melalui tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Analisis data deskriptif menggunakan kecenderungan kesiapan dalam lima kriteria, yaitu Sangat Siap, Siap, Cukup, Kurang, dan Sangat Kurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan mahasiswa LPTK swasta di Semarang ditinjau dari: (1) pengetahuan profesional masuk dalam kategori kurang, (2) keterampilan profesional masuk dalam kategori siap, dan (3) sikap profesional masuk dalam kategori siap untuk menjadi (calon) guru matematika yang profesional. Secara umum, kesiapan mahasiswa LPTK swasta di Semarang menjadi guru matematika yang profesional masuk dalam kategori cukup.Kata Kunci: kesiapan mahasiswa, pengetahuan profesional, keterampilan profesional, sikap profesional The Readiness of Private Pre-Service Teachers in Semarang to be Professional Math Teachers AbstractThis research aims to describe the readiness of private pre-service teacher in Semarang to be professional mathematics teachers.. This was a mixed method study using the Sequential Explanatory Strategy. The population was all the 8th semester private math pre-service teachers in Semarang. The descriptive data analysis categorized performance trend into five criterias: Very Ready, Ready, Fairly Ready, Poor, and Very Poor. The results show that the readiness of private pre-service teachers in terms of: (1) professional knowledge are in the Poor category, (2) professional skills are in the Ready category, and (3) the professional attitudes are in the Ready category to be professional mathematics teachers. Generally, the readiness of private pre-service teachers to be professional math teachers are in fairly ready category.Keywords: preservice teachers readiness, professional knowledge, professional skills, professional attitudes
PERMASALAHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA Hasratuddin, Hasratuddin
PYTHAGORAS Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1: Juni 2008
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.29 KB) | DOI: 10.21831/pg.v4i1.688

Abstract

Matematika adalah ilmu deduktif yang mengacu pada sistem aksiomatik dan taat azas serta memiliki objek yang abstrak yaitu berupa objek langsung dan objek tak langsung. Matematika merupakan suatu sarana yang dapat menumbuh kembangkan pola pikir logis, sistematis, kritis, objektif, rasional dan taat azas. Secara umum pekerjaan dalam matematika adalah menunjukkan dan membuktikan suatu kebenaran. Dengan keabstrakan objek dalam matematika, maka suatu hal yang wajar apabila dalam memahami suatu konsep dalam matematika akan memerlukan suatu analisis yang lebih dibanding dengan ilmu lain, dan kerap sekali siswa akan menemui kesulitan. Kata kunci : matematika, deduktif, abstrak, pandangan, berguna 
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis dengan metode make a match dalam inkuiri ditinjau dari perbedaan gender Anggela Soraya; Wardani Rahayu; Lukita Ambarwati
PYTHAGORAS Jurnal Pendidikan Matematika Vol 13, No 1: June 2018
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.8 KB) | DOI: 10.21831/pg.v13i1.15341

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis menggunakan metode make a match dalam strategi pembelajaran inkuiri ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini dilakukan di SMP Jakarta Islamic School dan SMPIT Thariq Bin Ziyad, DKI Jakarta. Di SMP Jakarta Islamic School diterapkan strategi pembelajaran inkuiri, sementara di SMPIT Thariq Bin Ziyad diterapkan strategi pembelajaran inkuiri yang dipadukan dengan metode pembelajaran make a match. Populasi penelitian melibatkan peserta didik kelas VII, dimana kelas tersebut terpisah antara peserta didik laki-laki dan perempuan. Data yang diperoleh yaitu berasal dari data pre test dan post test yang berisi soal-soal pemecahan masalah matematis. Analisis data dilakukan menggunakan analisis varians (ANAVA) dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak tedapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara peserta didik laki-laki dan perempuan; (2) tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara peserta didik yang menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dan yang menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dipadukan dengan metode make a match, dan (3) terdapat pengeruh interaksi antara model pembelajaran dan gender terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik. Improvement of mathematical problem solving ability with make a match method in inquiry judging from gender differences AbstractThis study aims to describe the improvement the students’ ability in mathematical problem solving using make a match method in inquiry learning strategy in terms of gender differences. This study conducted in SMP Jakarta Islamic School and SMPIT Thariq Bin Ziyad, Jakarta, Indonesia. In SMP Jakarta Islamic School applied inquiry learning strategy, while in SMPIT Thariq Bin Ziyad applied inquiry strategy that combined with make a match learning method. The study population was students of class VII, where the class was separated between male and female students. The data obtained was derived from pre test and post test data containing problem solving mathematical problems. The data analysis using analysis of variance (ANOVA) test. The result showed that (1) there was no difference in the improvement of mathematical problem solving ability between male and female students (2) there was no difference in the ability to solve mathematical problems between students using inquiry strategies and using inquiry strategies that combined with make a match, and (3) There was an effect of interaction between lerning strategy and gender toward students’ ability in mathematical problem solving.

Page 5 of 30 | Total Record : 294