Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5 No 01 (2018)"
:
20 Documents
clear
PENGARUH KUANTITAS, KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL, DAN PERILAKU ALTRUISME ANGGOTA KELOMPOK TERHADAP SOCIAL LOAFING DALAM PROSES DISKUSI KELOMPOK DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
Pratama, Putu Yoga Sukma;
Wulanyani, Ni Made Swasti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (527.528 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p18
Social loafing merupakan kecenderungan individu untuk memberikan usaha minimal terhadap pencapaian kelompok. Adanya Social loafing dapat merugikan anggota kelompok lain, karena tidak seimbangnya kontribusi yang diberikan individu dan hasil yang diperoleh individu tersebut. Diperlukan pertimbangan tepat agar Social loafing dalam kelompok dapat ditekan kemunculannya. Faktor yang perlu dipertimbangkan tersebut diantaranya ukuran kelompok, komunikasi interpersonal, dan perilaku altruisme. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk mengetahui pengaruh kuantitas, kemampuan komunikasi interpersonal, dan perilaku altruisme anggota kelompok terhadap Social loafing pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan menggunakan simple random sampling. Sebanyak 139 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter dan Ilmu Keperawatan yang menjadi responden dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Social loafing dengan reliabilitas 0.918, Skala Komunikasi Interpersonal dengan reliabilitas 0.914, dan Skala Altruisme dengan reliabilitas 0.850. Hasil uji regresi berganda menunjukkan R=0.440 dan adjusted R square sebesar 0.176. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kuantitas, kemampuan komunikasi interpersonal, dan perilaku altruisme anggota kelompok memiliki hubungan yang positif terhadap Social loafing dan memberikan pengaruh sebesar 17.6% terhadap Social loafing. Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa sangat disarankan untuk mempertahankan hubungan dengan sesama anggota kelompok melalui komunikasi interpersonal dan perilaku altruisme terutama saat melakukan diskusi kelompok, serta mempertahankan keaktifan dalam proses diskusi kelompok, karena diskusi kelompok merupakan salah satu media yang dapat mengasah kemampuan interpersonal dan mempertajam clinical/soft skill mahasiswa. Kata kunci: Kuantitas, komunikasi interpersonal, altruisme, Social loafing
PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DALAM PEMILIHAN PASANGAN PADA WANITA TRIWANGSA DEWASA AWAL DI BALI YANG DITINJAU BERDASARKAN POLA ASUH OTORITARIAN
Adi, Ida Ayu Ratih Purnama;
Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1200.416 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p09
Indonesia yang memiliki beragam tradisi, budaya dan adat istiadat masih mengganggap pemilihan pasangan merupakan hal yang penting, khususnya bagi masyarakat Bali. Secara tidak langsung, orangtua akan ikut berperan dalam menentukan kriteria pasangan hidup untuk anak-anaknya, terutama terhadap anak perempuan. Peran tersebut dapat tercermin melalui pola asuh yang diterapkan. Orangtua dari kategori triwangsa yaitu wangsa Brahmana, Ksatrya, dan Waisya meyakini bahwa dengan menerapkan pola asuh otoritarian dapat membuat anak patuh dan mampu menerapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat untuk melestarikan wangsa. Anak dengan penerapan pola asuh otoritarian cenderung menggambarkan kecemasan yang disebabkan oleh kontrol yang tinggi dari orangtua agar anak perempuannya mencari wangsa yang sepadan atau lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dalam pemilihan pasangan pada wanita triwangsa dewasa awal di Bali yang ditinjau berdasarkan pola asuh otoritarian. Subjek dalam penelitian ini adalah 105 wanita triwangsa dewasa awal di Bali yang belum menikah. Subjek dipilih dengan menggunakan teknik cluster sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala kecemasan dalam pemilihan pasangan dan skala pola asuh otoritarian. Hipotesis penelitian diuji dengan analisis kovarian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pola asuh otoritarian dan triwangsa memberikan kontribusi terhadap tingkat kecemasan dalam pemilihan pasangan pada wanita triwangsa. Hal tersebut terjadi karena sistem masyarakat Hindu di Bali terkait dengan wangsa masih memiliki pengaruh yang signifikan, sehingga wanita triwangsa akan mendapatkan kontrol dan tuntutan dari keluarga untuk mencari pasangan dari wangsa yang sepadan atau lebih tinggi. Kecemasan dalam memilih pasangan akan timbul ketika wanita triwangsa tidak memenuhi tuntutan dari orangtua untuk memilih pasangan dari wangsa yang sepadan atau lebih tinggi, dalam penelitian ini yang lebih berpengaruh terhadap kecemasan dalam pemilihan pasangan adalah pola asuh otoritarian. Kata kunci: Wanita triwangsa, kecemasan dalam pemilihan pasangan, pola asuh otoritarian.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN SELF EFFICACY DENGAN TINGKAT STRES PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH
Putra, Putu Surya Parama;
Susilawati, Luh Kadek Pande Ary
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (671.24 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p14
Stres merupakan hal yang dapat terjadi pada setiap manusia termasuk perawat. Stres berkaitan dengan pemberian dukungan yang dapat menjadikan individu yang menerima merasa diterima dalam kelompok dan dicintai. Disamping itu, stres juga berkaitan dengan keyakinan individu pada kemampuannya sendiri dalam melaksanakan serangakaian kegiatan untuk mendapatkan hasil yang ingin dicapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan self efficacy dengan tingkat stres pada perawat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Sedangkan subyek penelitiannya adalah 341 orang perawat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Pengambilan data dilakukan dengan skala tingkat stres, skala dukungan sosial, dan skala self efficacy. Hasil penelitian memperlihatkan nilai F = 86,426 dengan sig = 0,000. Terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan tingkat stres, serta terdapat hubungan negatif antara self efficacy dengan tingkat stres. Berdasarkan hasil regresi berganda didapatkan hasil, bahwa semakin tinggi dukungan sosial dan self efficacy, maka semakin rendah tingkat stres yang dialami. Kata kunci: Dukungan Sosial, Self Efficacy, Tingkat Stres, Perawat
PERAN KECERDASAN EMOSIONAL DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PENYESUAIAN DIRI MAHASISWA BARU UNIVERSITAS UDAYANA YANG BERASAL DARI LUAR PULAU BALI
Widihapsari, Ida Ayu Gede Kusumaastuti;
Susilawati, Luh Kadek Pande Ary
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (697.725 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p05
Mahasiswa baru yang memutuskan untuk menjalani perkuliahan di luar daerah asalnya sebagian besar akan mengalami tekanan akibat lingkungan perkuliahan yang berbeda dengan masa SMA, serta adanya perbedaan norma, budaya dan kebiasaan dengan daerah asalnya. Mahasiswa baru yang merantau perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan perkuliahan dan kebudayaan setempat untuk mengurangi tekanan yang dirasakan agar proses perkuliahan berjalan dengan baik dan dapat mencapai prestasi akademik yang diinginkan. Kecerdasan emosional yang terdiri dari kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri, memahami emosi orang lain, memotivasi diri dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain dinyatakan dapat membantu individu dalam mengatasi tekanan yang dihadapi, sehingga dapat mempermudah proses penyesuaian diri. Taraf dukungan sosial yang tinggi juga dapat meningkatkan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri. Dukungan sosial dapat berasal dari keluarga, teman sebaya, maupun staf pengajar di kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kecerdasan emosional dan dukungan sosial terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru Universitas Udayana yang berasal dari luar Pulau Bali. Subjek dalam penelitian ini adalah 112 orang mahasiswa Universitas Udayana yang berasal dari luar Bali dan tidak sedang tinggal dengan keluarga atau saudara, yang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala penyesuaian diri, skala kecerdasan emosional dan skala dukungan sosial. Hipotesis penelitian diuji dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan kecerdasan emosional dan dukungan sosial secara bersama-sama berperan terhadap penyesuaian diri. Kata kunci: penyesuaian diri, kecerdasan emosional, dukungan sosial
PERBEDAAN MOTIVASI KERJA DAN ETOS KERJA ANTARA KARYAWAN PENDATANG DENGAN KARYAWAN NON PENDATANG YANG BEKERJA PADA HOTEL BINTANG LIMA DI BALI
Dhanendra, Dewa Gede Ari;
Indrawati, Komang Rahayu
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (586.069 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p19
Provinsi Bali sebagai destinasi utama wisatawan, menjadikan usaha-usaha yang bergerak di bidang pariwisata seperti hotel bintang lima tumbuh pesat sehingga menjadi daya tarik bagi tenaga kerja dari Bali maupun luar Bali untuk bekerja pada hotel bintang lima. Hal tersebut membuat pengusaha hotel bintang lima memiliki kandidat karyawan yang beragam, sehingga aspek pertimbangan lainnya dibutuhkan untuk meramalkan kinerja calon karyawannya. Motivasi kerja dan etos kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui perbedaan motivasi kerja dan etos kerja antara karyawan pendatang dengan karyawan non pendatang yang bekerja di hotel bintang lima di Bali. Sampel penelitian diambil secara acak dengan metode two-stage cluster sampling hingga mendapatkan 134 sampel dari 13 hotel bintang lima yang tersebar di dua kabupaten dan satu kotamadya dengan. Analisis uji beda Independent Sample T-Test menunjukkan hasil yang signifikan pada variabel motivasi kerja (t = -2.325; p = 0.022 ? 0.05) dan pada variabel etos kerja (t = -2.967; p = 0.004 ? 0.05) yang artinya Ho ditolak. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi kerja dan etos kerja antara karyawan pendatang dengan karyawan non pendatang yang bekerja pada hotel bintang lima di Bali. Kata kunci: Motivasi Kerja, Etos Kerja, Karyawan Pendatang dan Non-pendatang, Hotel Bintang Lima
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEBERAGAMAAN DAN INTERAKSI SOSIAL ASOSIATIF PADA REMAJA YANG MENGIKUTI GERAKAN KESADARAN KRISHNA (HARE KRISHNA) DI BALI
Yanthi, Putu Srie Wedha;
Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (383.704 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p10
Interaksi sosial asosiatif merupakan interaksi yang mengarah pada proses keharmonisan dalam sebuah hubungan, dengan bentuk kerjasama, upaya penyelesaian konflik, dan upaya mengurangi perbedaan. Interaksi sosial asosiatif akan membawa kelompok menuju ke arah hubungan yang positif dengan masyarakat terutama out group. Interaksi sosial asosiatif penting dikembangkan pada saat usia remaja. Interaksi sosial asosiatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah aspek keberagamaan. Keberagamaan cenderung memberikan batasan antara in group dan out group sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam hubungan antar masyarakat. Remaja merupakan individu yang belum bisa dikatakan matang, termasuk pada proses keberagamaannya. Gerakan Kesadaran Krishna atau Hare krishna merupakan salah satu komunitas keagamaan berbasis agama Hindu yang diikuti remaja. Remaja yang mengikuti Hare krishna diharapkan dapat mampu membentuk interaksi sosial yang asosiatif dengan out group, mengingat salah satu tugas perkembangan remaja adalah membangun hubungan sosial yang positif dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidak hubungan antara tingkat keberagamaan dengan interaksi sosial asosiatif pada remaja yang mengikuti Hare krishna di Bali. Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Responden dalam penelitian ini adalah remaja Hare krishna yang berdomisisli di Bali berjumlah 96 responden. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala tingkat religiusitas dan interaksi sosial asosiatif. Koefisien reliabilitas skala religiusitas adalah 0,970 dan skala interaksi sosial adalah 0,940. Penelitian ini menggunakan analisis data korelasi pearson product moment. Hasil dari penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,811 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 (0,000<0,05), sehingga dapat dinyatakan terdapat hubungan yang negatif antara religiusitas dengan interaksi sosial, artinya semakin tinggi tingkat religiusitas, maka semakin tidak baik interaksi sosial asosiatif pada remaja Hare krishna terhadap out-group. Kata kunci: religiusitas, remaja, interaksi sosial, Hare krishna.
PERAN SELF REGULATED LEARNING DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA REMAJA AKHIR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA YANG PERNAH MENJADI FINALIS BALI PAGEANTS
Liana Puspita, Syntia Agung;
Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (498.802 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p01
Pencapaian prestasi akademik yang tinggi merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi remaja yang pernah mengikuti ajang Bali Pageants. Keberhasilan mencapai prestasi yang tinggi berkaitan dengan self regulated learning dan juga konsep diri. Self regulated learning adalah kemampuan individu untuk mengatur disiplin diri dalam belajar, sedangkan konsep diri merupakan kemampuan seorang menilai kekuatan dan kelemahan dalam diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self regulated learning dan konsep diri terhadap prestasi akademik pada mahasiswa remaja akhir. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa remaja akhir FK UNUD yang pernah menjadi finalis ajang Bali Pageants. Hasil uji regresi berganda adalah R=0,385 dan koefisien determinasi sebesar 0,148. Hal ini menunjukkan variabel self regulated dan konsep diri secara bersama-sama berperan sebesar 14,8% terhadap prestasi akademik. Koefisien beta terstandarisasi self regulated learning sebesar 0,405 dan signifikansi 0,012 (p<0,05) menunjukkan self regulated learning berperan secara signifikan terhadap prestasi akademik. Koefisien beta terstandarisasi konsep diri sebesar -0,034 dan signifikansi 0,827 (p>0,05) menunjukkan konsep diri tidak berperan terhadap prestasi akademik. Kata kunci: prestasi akademik, self regulated learning, konsep diri, remaja akhir, finalis Bali Pageants
HUBUNGAN ANTARA RASA KOMUNITAS DAN KOMITMEN ORGANISASI DENGAN KOHESIVITAS KELOMPOK PADA ANGGOTA SEKAA TERUNA-TERUNI DI BADUNG
Vilayanti, Luh Putu Ela;
Supriyadi, Drs
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (756.94 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p15
Masa remaja merupakan masa mengembangkan potensi diri sehingga diperlukan wadah untuk remaja mengembangkan kemampuan dirinya agar menjadi remaja yang lebih baik. Provinsi Bali memiliki suatu perkumpulan bagi remaja yang disebut dengan Sekaa Teruna-Teruni. Sekaa Teruna-Teruni merupakan kumpulan pemuda-pemudi yang berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial. Kegiatan dan program kerja Seka Teruna-Teruni agar menjadi sukses diperlukan rasa komunitas, komitmen organisasi dan kohesivitas kelompok antar anggota, akan tetapi fakta yang terjadi pada beberapa anggota Sekaa Teruna-Teruni yaitu kehadiran anggota yang sedikit, keaktifan yang kurang, kegiatan yang kurang menarik, anggota banyak yang merantau, sibuk dengan pekerjaan rumah serta terjadinya kelompok-kelompok kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rasa komunitas dan komitmen organisasi dengan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota Sekaa Teruna-Teruni di Badung yang berjumlah 99 orang. Instrumen dalam penelitian ini yaitu skala rasa komunitas, skala komitmen organisasi dan skala kohesivitas kelompok yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara rasa komunitas dan komitmen organisasi dengan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni di Badung. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut berhubungan secara signifikan (p<0.05) dan diyakini bahwa variabel rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat memprediksi kohesivitas kelompok. Varian rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat menjelaskan varian kohesivitas kelompok sebesar 72,3%, sehingga dapat disimpulkan bahwa rasa komunitas dan komitmen organisasi dapat meningkatkan kohesivitas kelompok pada anggota Sekaa Teruna-Teruni. Kata kunci: kohesivitas kelompok, rasa komunitas, komitmen organisasi, Sekaa Teruna-Teruni
PERAN KONTROL DIRI DAN ASERTIVITAS PADA SIKAP TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA AKHIR PEREMPUAN DI BANGLI
Karniyanti, Ni Kadek;
Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (639.245 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p07
Masa remaja merupakan periode transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa yang melibatkan banyak perubahan seperti perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Salah satu perubahan biologis yang terjadi pada remaja yaitu produksi hormon seksual dari tubuh yang menyebabkan timbulnya dorongan emosi dan seksual. Beberapa penelitian menunjukkan tingginya masalah seksualitas pada remaja yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut menandakan bahwa sikap positif (permisif) terhadap perilaku seksual pranikah sudah semakin meluas. Banyak faktor yang menyebabkan perilaku seksual pranikah di kalangan remaja, antara lain tingkat kontrol diri dan asertivitas yang dimiliki remaja. Santrock mengatakan bahwa kenakalan yang dilakukan oleh remaja merupakan akibat dari kegagalan remaja dalam mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Sementara itu, menurut Lazarus remaja yang asertif lebih mampu mengatakan “tidak” untuk hal-hal yang bersifat negatif dan tidak diinginkan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kontrol diri dan asertivitas berperan pada sikap terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja perempuan di Bangli. Subjek dalam penelitian ini adalah 106 orang remaja perempuan di Kabupaten Bangli yang berusia 17-21 tahun dan belum menikah. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik cluster sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala sikap terhadap perilaku seksual pranikah, skala kontrol diri dan skala asertivitas. Hipotesis penelitian diuji dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) yang berarti kontrol diri dan asertivitas secara bersama-sama berperan terhadap sikap terhadap perilaku seksual pranikah. Kata kunci: sikap terhadap perilaku seksual pranikah, kontrol diri, asertivitas, remaja perempuan
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KECEMASAN BERTANDING PADA ATLET SOFTBALL REMAJA PUTRI DI BALI
Pradnyaswari, Anak Agung Ayumas;
Budisetyani, I Gusti Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.828 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p20
Banyak faktor yang memengaruhi performa atlet pada saat menghadapi pertandingan, salah satunya adalah kecemasan bertanding. Kecemasan bertanding merupakan sebuah emosi yang menimbulkan respon tentang bagaimana individu menginterpretasikan dan menilai situasi lingkungan seperti kompetisi atau pertandingan. Kecemasan berada pada tingkat yang tinggi akan menyebabkan atlet menjadi sangat hati-hati, takut berbuat salah, tidak berani membuat keputusan, dan terlalu bersikap menunggu. Oleh karena itu penting bagi atlet untuk memahami emosi yang dirasakan dan bagaimana mengelola agar emosi tersebut tidak mengganggu performa atlet dalam pertandingan sehingga dapat mencapai prestasi yang maksimal. Kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengelola suasana hati dan perasaan, baik pada diri sendiri maupun orang lain disebut dengan kecerdasan emosional. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecemasan bertanding pada atlet softball remaja putri di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 114 atlet softball remaja putri yang berusia 15 hingga 18 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini berupa skala kecerdasan emosional dengan reliabilitas sebesar 0,919 dan skala kecemasan bertanding dengan reliabilitas 0,898. Hasil dari uji hipotesis dengan menggunakan metode analisis data korelasi Spearman menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (sig < 0,05). Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kecemasan bertanding pada atlet softball putri. Nilai koefisien korelasi yang negatif (-0,395) menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan kecemasan bertanding. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Kecemasan Bertanding, Atlet Putri, Remaja