cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 2 (2023): October 2023" : 10 Documents clear
Continuity of Housing Expression based on the Elderly Bugis Culture Putri Nur Sakinah; Arina Hayati; Muhammad Faqih
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p06

Abstract

Elderly people tend to continue passing down cultural values to the next generation. The Bugis community from South Sulawesi has solid cultural values that relate to rules of life and living called "Siri' na Pesse”. Over time, users' needs and desires for homes change and increase, and subsequently affect the ways the Bugis community perceives its living environments. This research aims to identify aspects and elements that are changed during implementing of the "Siri' na Pesse" conception. This identification is based on the perspective of the elderly group of the Bugis community who live in vernacular houses in Tolitoli, Central Sulawesi. For data collection, this research first distributed questionnaires to get information on concepts applied to the vernacular houses of its participants. However, this method did not provide responses relevant to the research criteria and objective. To seek more detailed information, it was then decided to proceed with participants’ observations and in-depth interviews to find out the extent and reasons for applying “Siri' na Pesse” conception in houses. Study results show that "Siri' na Pesse" conception is applied in some design aspects only, which are mainly in building elements of a vernacular living design. Some conceptions are no longer applied due to participants’ declining understanding of cultural values and conditions surrounding the settlements.Keywords: Buginese; elderly; housing; siri’ na pesse; valuesAbstrakLansia cenderung akan mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Suku Bugis memiliki nilai budaya yang kuat terkait dengan aturan hidup dan berhuni yang disebut "Siri' na Pesse". Seiring waktu, kebutuhan penghuni semakin bertambah dan berubah, sehingga terjadi perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan huniannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek dan elemen yang berubah dalam penerapan nilai “Siri’ na Pesse” pada hunian dari perspektif lansia Bugis. Partisipan penelitian adalah masyarakat lansia yang tinggal di hunian vernakular Bugis di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Tahap pertama, riset ini menyebarkan kuesioner untuk mendapatkan informasi nilai-nilai yang diterapkan pada bangunan hunian vernakular oleh partisipan. Hasil kuesioner kurang menunjukkan hasil yang sesuai dengan kriteria dan tujuan penelitian sehingga dibutuhkan metode penelitian lanjutan untuk lebih mendetailkan. Kemudian, observasi partisipan dan wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dan alasan penerapan nilai ”Siri’ na Pesse” pada hunian. Hasil penelitian menunjukkan nilai “Siri’ na Pesse” hanya diterapkan pada sebagian aspek terutama pada elemen bangunan dalam desain hunian vernakular. Beberapa nilai tidak lagi diterapkan karena menurunnya pemahaman terhadap nilai budaya dan kondisi lingkungan permukiman.Kata kunci: Bugis; lansia; nilai budaya; hunian; siri’ na pesse
Filosofi Pola Pekarangan dan Rumah Tradisional, Obyek Studi di Desa Bayung Gede - Bangli A A Gde Djaja Bharuna S.; I Ketut Muliawan Salain; Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p02

Abstract

Kintamani has several Bali Aga villages. Bayung Gede is one of them, which is an old settlement that has distinct cultural and architectural features. It is geographically positioned on a mountainous terrain of 800-900 metres above sea level. Its chilling climate condition impacts the spatial formation of its traditional homes, including layout patterns, building functions, opening patterns, and building forms. A combination of all of these attributes creates Bayung Gede as a settlement with a unique physical formation. Space within a house compound directly adjacent to the rurung (community road) is categorised as a sacred zone. This article aims to identify the philosophical elements of settlement and homes of the Bayung Gede community. It describes building forms, spatial patterns, and various uniqueness of Bayung Gede’s traditional houses. Furthermore, it breaks down design elements, which include home patterns, orientation, zoning, circulation and building layouts that are restricted to those meant for living only. Within, it addresses the study of form, scale, and proportion. Data is gathered through observations, architectural documentation, and interviews. For the aforementioned study, a descriptive-naturalistic research approach is used. It is concluded that the design of traditional homes in Bayung Gede Village is well-founded by a particular philosophy that makes this settlement unique compared to other Bali mountainous villages in Bali.Keywords: philosophy; housing compound; house layout; building form AbstrakKitamani memiliki beberapa desa Bali Aga. Bayung Gede adalah salah satunya yang merupakan desa kuno dengan ciri khas dalam budaya dan arsitekturnya. Topografi daerah pegunungan (800-900 M, dpl) berhawa sejuk berpengaruh terhadap pola penempatan, fungsi ruang, pola bukaan ruang, serta bentuk bangunan. Keunikan pada penataan bangunan rumah yakni hierarki nilai yang berlawanan di kanan dan kiri jalan lingkungan. Pada setiap rumah, zona yang paling dekat dengan sumbu jalan (rurung), merupakan zona sakral. Tujuan penulisan adalah untuk menemukenali filosofi yang terkandung pada rumah tradisional dengan mendeskripsikan bentuk bangunan, pola, serta keunikan-keunikan rumah tradisionalnya. Selanjutnya mengurai unsur-unsur perancangan yakni: pola rumah, orientasi, zoning, dan sirkulasi; dan tata bangunan yang dibatasi hanya pada fungsi hunian. Kemudian kajian bentuk, skala, dan proporsi juga ditujukan di dalamnya. Pendataan dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode penelitian dengan karakteristik seperti ini, mempergunakan deskriptif-naturalistik. Dapat disimpulkan bahwa terdapat filosofi yang melatarbelakangi pola pekarangan dan rumah tradisional di Desa Bayung Gede yang membuat permukiman ini unik jika dibandingkan dengan desa-desa pegunungan lainnya yang ada di Bali.Kata kunci: filosofi; pekarangan rumah; layout rumah; tata bangunan
Urgensi Pendidikan Lingkungan dalam Manajemen Limbah di TPST Bantar Gebang Aminah Zuhriyah; . Megawati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p07

Abstract

The dynamic increase in population and urbanisation has become one of the causes of increasing waste production, especially in Indonesia. The rapid development of life in urban areas has also contributed to this waste problem. Several large cities in Indonesia also contribute to maximising the amount of waste each year. One of them is the city of Jakarta. Practical lifestyle changes have also changed the behaviour of city residents to become more consumerist. Thus, behavioural changes are needed that focus on reducing waste every day. For this reason, this research was carried out to examine the importance of environmental education in sustainable waste management. The research method used is qualitative, with a case study approach from 2021-2022. The target research objects are the community, Bantar Gebang TPST officers, and the DKI Jakarta Provincial Environmental Service. Research findings show that innovative campaign strategies are needed that focus on non-formal education for residents with a psychosocial approach so that residents can play a productive role in developing their abilities in supporting sustainable waste management practices.Keywords: environmental education; waste management; sustainable developmentAbstrakPertambahan laju populasi penduduk dan urbanisasi secara dinamis telah menjadi salah satu penyebab terjadinya peningkatan produksi limbah khususnya di negara Indonesia. Pesatnya perkembangan kehidupan di perkotaan juga turut andil dalam permasalahan limbah ini. Beberapa kota besar di Indonesia juga berkontribusi dalam memaksimalkan jumlah limbah pada tiap tahunnya. Salah satunya yakni kota Jakarta. Perubahan gaya hidup yang serba praktis juga telah mengubah tatanan perilaku warga kota menjadi lebih konsumtif. Dengan demikian, diperlukan perubahan perilaku yang fokus mengarah dalam mengurangi limbah setiap harinya. Untuk itulah riset ini dilakukan untuk mengkaji secara mendalam akan pentingnya pendidikan lingkungan dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Metode riset yang digunakan yakni kualitatif dengan pendekatan studi kasus dari tahun 2021-2022. Sasaran objek riset yakni masyarakat, petugas TPST Bantar Gebang, dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Temuan riset menunjukkan dibutuhkan strategi kampanye inovatif yang difokuskan kepada pendidikan non formal bagi warga dengan pendekatan psikososial sehingga warga dapat berperan secara produktif untuk mengembangkan kemampuannya dalam mendukung praktik pengelolaan sampah berkelanjutan. Kata kunci: pendidikan lingkungan; manajemen limbah; pembangunan berkelanjutan
Alih Fungsi Kawasan Jalur Hijau di Kecamatan Kuta Utara serta Pengaruhnya dalam Menyerap Emisi Co2 I Kadek Pasek Setiawan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p03

Abstract

Kuta Utara District is a sub-district in Badung Regency that is growing rapidly. This is mainly due to the Badung Regency Regulation number 26 of 2013 about the Spatial Planning of the Badung Regency. This regulation assigns the North Kuta District coast as a Tourism Area and a part of the Sarbagita metropolitan Area. The growing development on this coast has put pressure on the urban land, increased co-optation of agricultural land, and threatened the existence of green open space. The latest especially has endangered the quality of the environment as less space and vegetation are available to absorb the level of carbon dioxide in the air. This study has three goals, including determining the level of conversion of the green belt area, configuring the ratio of deviations, and analysing the impact of the first two goals on the level of carbon dioxide absorption. Data used is sourced from Google images available for the years 2006, 2010, and 2019, maps of the Geospatial Information Agency, and from direct identification on the field. Study results indicate that the conversion of green belt areas in North Kuta is dominated by 56% trade and services, 24% housing and 10.6% accommodation for tourists. Analysis of trends in deviation of green belt utilisation shows that in 2006-2019, land uses were dominated by trade, services, housing development and tourist accommodation. The rapid construction of tourist accommodations has taken place since 2010. The reduction of the green belt has consequently decreased vegetation available to absorb carbon dioxide by 2.300,28 tons per year in 2019, or equal to an average of 30.98 tons annually.Keywords: green belt; changes; spatial; carbon dioxideAbstrakKecamatan Kuta Utara adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung yang perkembangan pertumbuhan pembangunannya cukup pesat. Hal ini terjadi karena dikeluarkannya Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 26 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung yang menjadikan wilayah pesisir ini sebagai kawasan pariwisata dan menjadi bagian dari kawasan metropolitan Sarbagita. Semakin berkembangnya kawasan ini mengakibatkan tekanan terhadap ketersediaan lahan, meningkatnya kooptasi lahan pertanian, dan mengancam eksistensi ruang terbuka hijau. Berkurangnya luas ruang terbuka hijau menurunkan kualitas lingkungan karena salah satu fungsi utama ruang terbuka hijau adalah penyerapan karbon dioksida. Penelitian ini memiliki tiga tujuan termasuk mengetahui perkembangan pembangunan pada kawasan jalur hijau; mengetahui rasio penyimpangan yang terjadi; serta dampaknya terhadap fungsi penyerapan karbon dioksida. Data yang digunakan adalah yang bersumber dari citra Google tahun 2006, 2010, 2019, peta citra Badan Informasi Geospasial, serta melalui identifikasi langsung di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan konversi kawasan jalur hijau di Kuta Utara didominasi perdagangan dan jasa seluas 56%, perumahan seluas 24% dan akomodasi wisata seluas 10,6%. Analisis tren penyimpangan pemanfaatan kawasan jalur hijau menunjukan bahwa pada periode tahun 2006-2019 tren pemanfaatan lahan didominasi oleh fungsi perdagangan dan jasa, perumahan dan akomodasi wisata. Khusus untuk akomodasi wisata perkembangannya paling tinggi dari tahun 2010. Penurunan luas jalur hijau ini juga menurunkan kemampuan serapan karbon dioksida oleh vegetasi yang ada yaitu sebesar 2.300,28 ton/tahun di tahun 2019 atau terjadi penurunan rata-rata sebanyak 30,98 ton setiap tahunnya.Kata kunci: jalur hijau; perubahan; spasial; karbon dioksida
Strategi Manajemen Lanskap yang Dikembangkan untuk Taman Kota di Kota Purwokerto Annisaa Farah Fitriana; Regan Leonardus Kaswanto; Nurhayati Hadi Susilo Arifin
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p09

Abstract

The Green Open Space (RTH) development program for 2021-2025 states that Dinas Lingkungan Hidup (DLH) of Banyumas Regency manages city parks in Purwokerto City. Despite the fact that developments and optimisations took place in both 2021 and 2022, landscape conditions still need attention. So, this study aims to evaluate the management of urban parks’ landscapes and to analyse perceptions of community members who visited the city parks across Purwokerto City regarding city park management. Study findings will be used to develop a sustainable landscape management strategy. This research implements a mixed method in data collection, a Chi-Square test, and a SWOT-based analysis. Results show landscape management works well when intensive maintenance is enforced despite labour shortages. Visitors’ perception is central in assessing the management of a city park, especially when analysis is done based on the most significant Chi-Square test results. Male respondents of Taman Satria Berkoh and male-female respondents to Purwokerto Square have a strong perception of the role of temperature comfort and performance of park managers in landscape management. Respondents aged between 26-34 years in Taman Mas Apung Kemambang, as well as respondents with status as residents of Purwokerto City and Banyumas Regency in Ahmad Yani Literacy Park, focused their perceptions on the importance of facilities provision in landscape management. Ultimately, this research proposes a landscape management strategy of "hold and maintain."Keywords: city park; landscape manajement; Purwokerto city; visitor perseptionAbstrakDinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas mengelola taman kota di Kota Purwokerto dalam program pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 2021-2025. Meskipun ada pengembangan dan optimalisasi di tahun 2021-2022, kondisi lanskap masih perlu diperhatikan. Sehingga penelitian ini bertujuan mengevaluasi manajemen lanskap taman kota dan menganalisis persepsi pengunjung taman kota di Kota Purwokerto. Hasilnya akan digunakan untuk menyusun strategi manajemen lanskap yang berkelanjutan. Metode penelitian menggunakan analisis mix method, uji Chi-Square, dan analisis SWOT. Hasil menunjukkan bahwa manajemen lanskap taman berjalan baik menggunakan pemeliharaan intensif, meskipun ada kekurangan tenaga kerja. Persepsi pengunjung menjadi sorotan utama penilaian taman, terutama berdasarkan hasil uji Chi-Square yang paling signifikan. Dari jenis kelamin, responden laki-laki di Taman Satria Berkoh dan responden laki-laki maupun perempuan di Alun-Alun Purwokerto, mempunyai persepsi yang kuat terhadap kenyamanan suhu, dan kinerja pengelola taman dalam pengelolaan lanskap. Responden yang berusia antara 26-34 tahun di Taman Mas Apung Kemambang, serta responden dengan status sebagai warga Kota Purwokerto dan Kabupaten Banyumas di Taman Literasi Ahmad Yani, memfokuskan persepsinya akan pentingnya penyediaan fasilitas dalam pengelolaan lanskap. Hasil strategi manajemen lanskap yang dikembangkan dan diusulkan adalah "hold and maintain”.Kata kunci: taman kota; manajemen lanskap; Kota Purwokerto; persepsi pengunjung
Tipologi dan Dinamika Wilayah Pesisir Padangbai di Kabupaten Karangasem I Putu Wahyu Wedanta Pucangan; Tri Anggraini Prajnawrdhi; I Nyoman Widya Paramadhyaksa
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p01

Abstract

This study examines typologies and dynamics, disaster potential and development schemes for the Padangbai coastal area. Analysis within is based on primary and secondary spatial typologies. The results of the literary synthesis show that there is a link between coastal typologies and coastal dynamics, which are inseparable from potential disasters and coastal development. This study uses a qualitative method of descriptive analysis of both secondary data and data collected from field observations. The development of typologies for the Padangbai coastal area is divided into three stages. The first is the establishment of a man-made coastal typology. The second is the formation of beaches on cliffs due to erosion by sea waves. The third is the formation by sedimentation processes on the coast, namely sea deposition beaches. Coastal dynamics that occur in the Padangbai Coastal Area consist of two processes, namely anthropodynamics and hydrodynamics. Based on the typology of the wave erosion coast, potential forms of development for the Padangbai Coastal Area are accommodation for tourism, snorkelling, diving and water sports with a low level of disaster potential. The potential for development in the Padangbai Coastal Area based on the coastal typology of the marine deposition coast is the development of marine infrastructure (harbour) and tourism accommodation with high to low levels of disaster potential.Keywords: coastal; typology; dynamics; disaster AbstrakPenelitian ini mengkaji tipologi pesisir, dinamika pesisir, potensi bencana dan pengembangan pesisir di Wilayah Pesisir Padangbai. Analisisnya didasarkan pada tipologi keruangan primer dan sekunder. Hasil sintesa literatur didapat bahwa ada kaitan antara tipologi dan dinamika pesisir yang tidak terpisahkan dari potensi bencana serta pengembangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif terdiri dari deskriptif dari data yang diperoleh dari data sekunder dan observasi lapangan. Pembentukan tipologi di Wilayah Pesisir Padangbai dapat dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama adalah pembentukan tipologi pesisir buatan manusia. Kedua pembentukan wave erotion coast pada cliff , dan ketiga pembentukan oleh proses sedimentasi di pesisir yaitu marine deposition coast. Dinamika kepesisiran yang terjadi di Wilayah Pesisir Padangbai terdiri dari dua proses yaitu antropodinamik dan hidrodinamik. Potensi pengembangan di Wilayah Pesisir Padangbai berdasarkan tipologi pesisir wave erotion coast adalah akomodasi pariwisata, snorkeling, menyelam dan olahraga air dengan potensi bencana rendah. Potensi pengembangan di Wilayah Pesisir Padangbai berdasarkan tipologi pesisir marine deposition coast adalah pembangunan infrastruktur laut (pelabuhan) dan akomodasi pariwisata dengan potensi bencana tinggi-rendah.Kata kunci: pesisir; tipologi; dinamika; bencana
Strategi Pengembangan Kawasan Pariwisata Terintegrasi Berorientasi Pejalan Kaki, Kasus: Kawasan Wisata Candidasa dan Desa Tenganan Gede Windu Laskara; Ni Made Mitha Mahastuti; Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p04

Abstract

The Candidasa Tourism Area and Tenganan Village are well-known tourist objects in Karangasem Regency, Bali, and are adjacent. Both have the potential to be integrated into pedestrian-friendly tourism areas. However, there are several problems regarding pedestrians and their paths that need to be addressed, such as safety, connectivity, and integrated transportation modes. Therefore, a study is required in order to formulate a strategy for developing a pedestrian-friendly tourism area in the Candidasa tourist area and Bali Aga Tenganan Village. This study uses a qualitative descriptive method by collecting data through surveys, field observations, interviews, and questionnaire distribution. The analysis was carried out in both areas, which were divided into 13 segments, discussing issues of land use, safe traffic, protection from possible crimes, pedestrian facilities, accessibility, aesthetics, and social support. Within, it is concluded that the development of a pedestrian-friendly tourist destination needs to pay attention to the development of tourist attractions, pedestrianised environment, and the overall management of the area. The proposed development strategy is based on the relationship between pedestrians and walkable-tourist neighbourhoods. The strategy focuses on increasing connectivity between the two areas and creating facilities to encourage tourists to walk. It is further recommended to develop a walkable tourist neighbourhood based on local genius and enhance the cultural characteristics of the area. Keywords: Candidasa; development; pedestrians-oriented; strategy; Tenganan; tourism AbstrakKawasan Wisata Candidasa dan Desa Tenganan merupakan daerah tujuan wisata (DTW) yang terkenal di Kabupaten Karangasem, dengan lokasi yang saling berdekatan. DTW tersebut memiliki potensi untuk diintegrasikan menjadi kawasan pariwisata yang ramah pejalan kaki. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang perlu diatasi, seperti faktor keselamatan pejalan, konektivitas jalur pedestrian, dan integrasi moda transportasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan kawasan pariwisata berbasis pejalan kaki di kawasan wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui survei, observasi lapangan, wawancara, dan pengisian kuesioner. Penelitian dilakukan pada 13 segmen dalam kawasan dengan analisa aspek antara lain guna lahan, keselamatan, keamanan, fasilitas pejalan, aksesibilitas, estetika lingkungan, dan dukungan sosial. Pengembangan kawasan pariwisata berbasis pejalan kaki perlu memperhatikan pengembangan daya tarik wisata, lingkungan pejalan kaki, dan pengelolaan. Strategi pengembangan diusulkan berdasarkan hubungan pejalan kaki dan lingkungannya, dengan fokus pada peningkatan konektivitas antara kedua kawasan. Strategi yang direkomendasikan adalah mengembangkan lingkungan wisata pejalan kaki berdasarkan kearifan lokal dan meningkatkan karakteristik budaya daerah tersebut.Kata kunci: Candidasa; pengembangan; pejalan kaki; strategi; Tenganan; pariwisata
Strategi Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dalam Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami I Ketut Sudiarta; I Gd Yudha Partama; I Ketut Arnawa; Nyoman Utari Vipriyanti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p08

Abstract

This study aims to analyse the ability of I Gusti Ngurah Rai Airport to deal with catastrophic impacts brought by both earthquakes and tsunamis. It bases its analysis on twelve (12) indicators of earthquake and tsunami preparedness. It intends to develop strategies for dealing with these disasters to reduce the number of casualties. A questionnaire as its research instrument aided its data collection. The survey was carried out between a period of November – December 2022. The research is designed to combine qualitative and quantitative methods through a qualitative descriptive analysis approach, Likert analysis, SWOT and QSPM. The results show that I Gusti Ngurah Rai Airport Disaster Management Strategies for earthquakes and tsunamis fall in an outstanding category. Furthermore, it is emphasised that as a priority, a strategy that needs to be implemented by I Gusti Ngurah Rai Airport for earthquake and tsunami disaster mitigation is to strengthen disaster mitigation capabilities through twelve (12) earthquake and tsunami alert indicators by utilising advances in information technology. For future studies, it is hoped that new methods in disaster mitigation will be further explored.Keywords: airport; mitigation; earthquake; tsunami; victim AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan Bandara I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami berdasarkan 12 indikator siaga gempa dan tsunami serta menyusun strategi penanggulangan bencana tersebut agar tidak ada korban jiwa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian dengan periode penelitian November – Desember 2022. Rancangan penelitian menggunakan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif, melalui pendekatan analisis deskriptif kualitatif, analisis Likert, SWOT dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan Bandara I Gusti Ngurah Rai dalam mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami berada pada kategori sangat baik berdasarkan 12 indikator gempa bumi dan tsunami. Strategi prioritas yang dapat diimplementasikan Bandara I Gusti Ngurah Rai untuk mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami adalah penguatan kemampuan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami melalui 12 indikator siaga gempa bumi dan tsunami dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Untuk penelitian ke depan, diharapkan metode-metode baru akan dieksplorasi lebih lanjut.Kata kunci: bandara; mitigasi; gempa bumi; tsunami; korban
Ergonomi dalam Perancangan Shelter Darurat Bencana Erupsi Gunung Semeru Ledy Fitra Ramadhani; Asri Dinapradipta; Sri Nastiti N. Ekasiwi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p05

Abstract

Being located on a significant ring of fire, Indonesia inevitably experiences frequent volcanic eruptions in varying degrees. Disaster mitigation for volcanic eruptions continues to be developed to minimise risks, including providing emergency shelter to those affected by the events. A series of catastrophes associated with volcanic eruptions that occur over a long period of time often requires emergency shelters till it is safe to go back home or an alternative for a new living arrangement is available and ready. Therefore, it is necessary to pay attention to the design of emergency shelters to provide both physical and mental comfort to the refugees. In this case, ergonomic aspects become pivotal and deserve serious attention. This study aims to explore the concept of ergonomics in designing emergency shelters for those who are affected by volcanic eruptions. It uses descriptive qualitative methods with a case study of impacts inflicted by Mount Semeru eruptions of East Java. It found its analysis by a thorough literature review and prior studies. Study results include references for emergency shelters that are ergonomically designed and efficiently meet needs for comfort, health, and dignity.Keywords: ergonomics; disaster emergency shelter; volcanic eruptionAbstrakSebagai negara yang terletak di Ring of Fire, Indonesia sering mengalami erupsi gunung berapi dalam beragam tingkat. Mitigasi bencana untuk erupsi gunung berapi terus dikembangkan untuk meminimalisir resiko bencana, termasuk juga dalam hal penyediaan shelter darurat bagi pengungsi korban bencana. Rangkaian bencana akibat erupsi gunung berapi yang dapat terjadi dalam jangka waktu panjang kerap menyebabkan masyarakat harus tinggal di shelter darurat selama periode bencana hingga pemulihan. Karenanya, rancangan shelter darurat perlu diperhatikan untuk dapat menyediakan kenyamanan bagi pengungsi serta kesehatan baik fisik dan mental selama periode tersebut, salah satunya dengan memperhatikan aspek ergonomi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep ergonomi pada shelter darurat bencana erupsi gunung berapi menggunakan metode kualitatif deskriptif menggunakan studi kasus dari Gunung Semeru di Jawa Timur. Hasil penelitian ini merumuskan aspek ergonomis dalam perancangan shelter darurat bencana erupsi gunung berapi melalui kajian literatur dan studi preseden yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai panduan untuk merancang shelter darurat bencana yang ergonomis sehingga efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal darurat yang nyaman, sehat, dan bermartabat.Kata kunci: ergonomi; shelter darurat bencana; erupsi gunung berapi
Detil Publikasi Jurnal Ruang-Space
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10