Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The use of social media in the creation of personal learning environment during the #studyfromhome period Ni Ketut Agusintadewi; Ni Made Mitha Mahastuti; Kadek Agus Surya Darma; Anak Agung Ngurah Aritama
Journal of Education and Learning (EduLearn) Vol 15, No 1: February 2021
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.243 KB) | DOI: 10.11591/edulearn.v15i1.17851

Abstract

Due to the Covid-19 outbreak in Indonesia the Government urged students and lecturers to conduct the learning process from home through an online system called #studyfromhome. The architecture undergraduate students in this study were millennial students who used digital technology on a daily basis. This study was conducted to determine the role of social media, as well as millennial students’ preferences and feedback on the use of social media as learning tools to create a personal learning environment (PLE). Questionnaires were distributed online to students of Class of 2017 and 2018, out of whom 115 respondents provided their feedback. The results of the study showed that the students of the Architecture Study Program at Udayana University in Bali were fond of using social media especially audio-visual applications for learning activities. In addition, very positive feedback was also provided in terms of knowledge sharing and creativity, acquisition of information, and submission of assignments. Social media were considered more student-friendly. This condition was relevant to the characteristics of the millennial students who were independent learners, and facilitated the creation of PLE. Dealing with the new approach, the students hoped that social media could be used in a better manner as architecture learning platforms.
PENANDA FUNGSI DAN MEDIA PROMOSI DI KORIDOR JALAN HAYAM WURUK, DENPASAR Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.475 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i03.p04

Abstract

The installation of signage serves numerous functions and is now an integral part of commercial development, transport and other urban uses. In addition it is frequently located to promote information driven by political, economic, social and directional purposes. The phenomenon raised within this article is the uncontrolled presence of urban signage to a level that ruins the image of a town, as is observed when one walks along the Hayam Wuruk Corridor of Denpasar Kota. The article focuses on the comprehension of factors leading to the overall lack of control that generates such chaotic effects. In achieving this objective, the following article is organized into four sub sections. First, the abstract briefly explains the structure and organization of the presentation. Second, the introduction outlines the overall context of the problem and the choice of the Hayam Wuruk Corridor as the selected case study. The third section contains an explanation of the meaning, function and type of signage found along the Corridor. The fourth section demonstrates in a great detail, the underlying factors in the organization of urban signage and the criteria that allow functional requirements to be met without ruining environmental considerations. Thus the urban image the Denpasar Kota is keen to maintain can be respected. The last section synthesizes key elements in the paper and suggests potential outcomes. Keywords: urban signage; urban image; type, meaning and function of the urban signage. Abstrak Seiring perkembangan waktu, keberadaan penanda fungsi dan media promosi pada koridor kawasan menimbulkan berbagai permasalahan terkait visual dan wajah kota. Begitu pula yang terjadi pada koridor Jalan Hayam Wuruk di Kota Denpasar. Koridor jalan ini merupakan salah satu koridor dengan aktivitas komersial dan perdagangan yang cukup sibuk. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi penanda fungsi dan media promosi pada koridor tersebut tidak tertata dengan baik. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menemukan faktor-faktor yang menyebabkan sejumlah permasalahan tersebut. Pendekatan yang dilakukan melalui metode kualitatif dengan didukung oleh studi kepustakaan yang relevan dengan topik penelitian. Artikel ini terdiri atas empat sub pokok bahasan. Bagian abstrak memuat poin-poin penting mengenai artikel ini. Bagian kedua memaparkan pokok-pokok permasalahan serta gambaran umum mengenai tiga segmen dari koridor yang diteliti. Bagian ketiga berisikan penjelasan mengenai pengertian, fungsi dan jenis penanda fungsi dan media promosi; dan faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan pada penanda fungsi dan media promosi tersebut. Bagian keempat memuat kesimpulan hasil studi.
Penanganan Bencana Pohon Tumbang dalam Konteks Manajemen Perkotaan di Kabupaten Badung Anak Agung Ngurah Aritama; I Made Agus Dharmadhiatmika
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 3 (2019): Edisi Khusus 1 : Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26151847.v3i0.5189

Abstract

Potensi bencana pohon tumbang yang kerapkali terjadi di kawasan perkotaan menjadi topik yang dibahas pada penelitian ini. Sebagai kawasan dengan kepadatan yang cukup tinggi dengan populasi manusia yang ada di dalamnya, kawasan kota menjadi wilayah yang sangat rentan jika terjadi bencana. Potensi bencana pohon tumbang di lingkungan perkotaan dikategorikan cukup tinggi dikarenakan setiap tepi jalan di perkotaan selalu diisi oleh pohon perindang. Dalam penelitian ini akan dibahas strategi penanganan bencana pohon tumbang dalam konteks perencanaan dan manajemen perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Kabupaten Badung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga strategi dalam meminimalisir bencana pohon tumbang yakni perencanaan dan penempatan, pemeliharaan dan perawatan, terakhir pemangkasan dan pemotongan pohon.
Bentang Budaya dan Orientasi Spasial di Bali Timur I Dewa Gede Agung Diasana Putra; I Made Adhika; Anak Agung Ngurah Aritama; Anak Agung Gede Bagus Udayana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 38 No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v38i2.2217

Abstract

Covid-19 has tremendously impacted global daily life and the built environment, particularly in tourist places' pleasure. Modern architectural practices, such as planning tourist sites, must display new patterns while updating current ones to control contagious diseases efficiently. Polarity is a spiritual concept in Bali that focuses on the impact of nature and geography on traditional Balinese societies. The island's natural environment influences traditional Balinese beliefs and practices on the propriety of specific architectural types and space layouts. According to this theory, the universe was created by colliding two opposed poles. It makes some suggestions for improving the layout of rural villages. This architecture can be seen on the Indonesian island of Bali at several major tourist spots, most notably in the island's eastern area. Despite this, the Covid-19 pandemic underscored the significance of virus prevention in building design, particularly tourist-oriented hotels. Architects, designers, environmentalists, and others in the tourism industry face several challenges while creating and building environmentally sustainable tourist facilities. The study's goal was to see if the traditional architectural principles of eastern Bali could be leveraged to create a tourism facility template that would allow the hospitality industry to meet the demand for new, effective layouts and layout variants. As a result, the villages in eastern Bali that have preserved their old practices have contributed significantly to our understanding of what it means to be a modern human. Professionals can use historical knowledge to build resilient patterns and configurations even when confronted with modern threats, such as viral attacks on famous tourist locations. This study refuted several long-held ideas in light of the Covid -19 results.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KENYAMANAN TERMAL RUMAH TRADISIONAL DESA TENGANAN PEGRINGSINGAN Anak Agung Ngurah Aritama
Jurnal PATRA Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Patra Mei 2023
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/patra.v5i1.461

Abstract

Dewasa ini, arsitektur memiliki tuntutan lain dalam mengakomodasi kebutuhan dan kegiatan manusia yaitu berkaitan dengan aspek kenyamanan ruang. Karena tidak didesain oleh arsitek sebagai perancang profesional, pengamatan pada rumah tradisional ini menjadi menarik terutama berkaitan dengan perspektif pengguna terhadap bangunan yang telah diwariskan turun menurun. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termal ruang dan bangunan yang ada pada rumah tradisional di Desa Tenganan Pegringsingan serta faktor yang berpengaruh pada kenyamanan termal rumah tradisional tersebut. Penelitian ini memakai mix method dengan analisis data menggunakan simulasi Building Performance System. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal suatu ruang yaitu faktor iklim/klimatik dan faktor parameter manusia/persepsi. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kenyamanan termal adalah suhu, kelembapan, kecepatan angin dan intensitas pencahayaan. Sistem konstruksi dan material alam juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kenyamanan termal suatu rumah tradisional.
Karakteristik Bentuk dan Proporsi Gerbang Tradisional Bali Angkul-Angkul pada Permukiman di Desa Gunaksa Klungkung Anak Agung Ngurah Aritama
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 21, No 1 (2023): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v21i1.66832

Abstract

Gate buildings in traditional Balinese settlements known as angkul-angkul, that classified as sacred building with profane and sacred functions. Angkul-angkul are built with traditional architectural principles that concerning its form and proportion. The study was carried out in settlements area in Desa Gunaksa, Klungkung, as the oldest empire in Bali. This research was conducted using a mixed-method with a descriptive-comparative analysis technique. Found 6 (six) authentic angkul-angkul that are 60-75 years old, that are used as case study to analyze its form and proportion characteristic. Proportion comparison ratio of angkul-angkul’s length: height: width: foot width: body width: roof height: and door opening width is 1 : 2 : 0,5 : 0.35 : 0.28 : 0.40 : 0.26. The study found that proportion comparison of its height and width ratio is 2 : 1, concluded that angkul-angkul in Gunaksa are implement ancient cecandian form with Paushtika proportion based on the Manasara-Silpasastra.
Filosofi Pola Pekarangan dan Rumah Tradisional, Obyek Studi di Desa Bayung Gede - Bangli A A Gde Djaja Bharuna S.; I Ketut Muliawan Salain; Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p02

Abstract

Kintamani has several Bali Aga villages. Bayung Gede is one of them, which is an old settlement that has distinct cultural and architectural features. It is geographically positioned on a mountainous terrain of 800-900 metres above sea level. Its chilling climate condition impacts the spatial formation of its traditional homes, including layout patterns, building functions, opening patterns, and building forms. A combination of all of these attributes creates Bayung Gede as a settlement with a unique physical formation. Space within a house compound directly adjacent to the rurung (community road) is categorised as a sacred zone. This article aims to identify the philosophical elements of settlement and homes of the Bayung Gede community. It describes building forms, spatial patterns, and various uniqueness of Bayung Gede’s traditional houses. Furthermore, it breaks down design elements, which include home patterns, orientation, zoning, circulation and building layouts that are restricted to those meant for living only. Within, it addresses the study of form, scale, and proportion. Data is gathered through observations, architectural documentation, and interviews. For the aforementioned study, a descriptive-naturalistic research approach is used. It is concluded that the design of traditional homes in Bayung Gede Village is well-founded by a particular philosophy that makes this settlement unique compared to other Bali mountainous villages in Bali.Keywords: philosophy; housing compound; house layout; building form AbstrakKitamani memiliki beberapa desa Bali Aga. Bayung Gede adalah salah satunya yang merupakan desa kuno dengan ciri khas dalam budaya dan arsitekturnya. Topografi daerah pegunungan (800-900 M, dpl) berhawa sejuk berpengaruh terhadap pola penempatan, fungsi ruang, pola bukaan ruang, serta bentuk bangunan. Keunikan pada penataan bangunan rumah yakni hierarki nilai yang berlawanan di kanan dan kiri jalan lingkungan. Pada setiap rumah, zona yang paling dekat dengan sumbu jalan (rurung), merupakan zona sakral. Tujuan penulisan adalah untuk menemukenali filosofi yang terkandung pada rumah tradisional dengan mendeskripsikan bentuk bangunan, pola, serta keunikan-keunikan rumah tradisionalnya. Selanjutnya mengurai unsur-unsur perancangan yakni: pola rumah, orientasi, zoning, dan sirkulasi; dan tata bangunan yang dibatasi hanya pada fungsi hunian. Kemudian kajian bentuk, skala, dan proporsi juga ditujukan di dalamnya. Pendataan dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode penelitian dengan karakteristik seperti ini, mempergunakan deskriptif-naturalistik. Dapat disimpulkan bahwa terdapat filosofi yang melatarbelakangi pola pekarangan dan rumah tradisional di Desa Bayung Gede yang membuat permukiman ini unik jika dibandingkan dengan desa-desa pegunungan lainnya yang ada di Bali.Kata kunci: filosofi; pekarangan rumah; layout rumah; tata bangunan
Strategi Pengembangan Kawasan Pariwisata Terintegrasi Berorientasi Pejalan Kaki, Kasus: Kawasan Wisata Candidasa dan Desa Tenganan Gede Windu Laskara; Ni Made Mitha Mahastuti; Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p04

Abstract

The Candidasa Tourism Area and Tenganan Village are well-known tourist objects in Karangasem Regency, Bali, and are adjacent. Both have the potential to be integrated into pedestrian-friendly tourism areas. However, there are several problems regarding pedestrians and their paths that need to be addressed, such as safety, connectivity, and integrated transportation modes. Therefore, a study is required in order to formulate a strategy for developing a pedestrian-friendly tourism area in the Candidasa tourist area and Bali Aga Tenganan Village. This study uses a qualitative descriptive method by collecting data through surveys, field observations, interviews, and questionnaire distribution. The analysis was carried out in both areas, which were divided into 13 segments, discussing issues of land use, safe traffic, protection from possible crimes, pedestrian facilities, accessibility, aesthetics, and social support. Within, it is concluded that the development of a pedestrian-friendly tourist destination needs to pay attention to the development of tourist attractions, pedestrianised environment, and the overall management of the area. The proposed development strategy is based on the relationship between pedestrians and walkable-tourist neighbourhoods. The strategy focuses on increasing connectivity between the two areas and creating facilities to encourage tourists to walk. It is further recommended to develop a walkable tourist neighbourhood based on local genius and enhance the cultural characteristics of the area. Keywords: Candidasa; development; pedestrians-oriented; strategy; Tenganan; tourism AbstrakKawasan Wisata Candidasa dan Desa Tenganan merupakan daerah tujuan wisata (DTW) yang terkenal di Kabupaten Karangasem, dengan lokasi yang saling berdekatan. DTW tersebut memiliki potensi untuk diintegrasikan menjadi kawasan pariwisata yang ramah pejalan kaki. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang perlu diatasi, seperti faktor keselamatan pejalan, konektivitas jalur pedestrian, dan integrasi moda transportasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan kawasan pariwisata berbasis pejalan kaki di kawasan wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui survei, observasi lapangan, wawancara, dan pengisian kuesioner. Penelitian dilakukan pada 13 segmen dalam kawasan dengan analisa aspek antara lain guna lahan, keselamatan, keamanan, fasilitas pejalan, aksesibilitas, estetika lingkungan, dan dukungan sosial. Pengembangan kawasan pariwisata berbasis pejalan kaki perlu memperhatikan pengembangan daya tarik wisata, lingkungan pejalan kaki, dan pengelolaan. Strategi pengembangan diusulkan berdasarkan hubungan pejalan kaki dan lingkungannya, dengan fokus pada peningkatan konektivitas antara kedua kawasan. Strategi yang direkomendasikan adalah mengembangkan lingkungan wisata pejalan kaki berdasarkan kearifan lokal dan meningkatkan karakteristik budaya daerah tersebut.Kata kunci: Candidasa; pengembangan; pejalan kaki; strategi; Tenganan; pariwisata
Arsitektur Bangunan Suci di Desa Bayung Gede: Studi Bentuk dan Konsep Filosofis A.A. Gde Djaja Bharuna S.; Anak Agung Ngurah Aritama; Ketut Muliawan Salain
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p06

Abstract

Being part of cultural forms, the architecture of sacred buildings is inextricably linked to principles contained in manuscripts and philosophical norms passed through generations. As places for worship, sacred buildings have socio-cultural importance. Bayung Gede settlement is one of Bali Aga villages that has distinctive cultural and architectural features. The architecture of its sacred buildings is founded by a belief system dominated by inherited ancestral values and norms. This article reveals figures, forms, and philosophical concepts of sacred buildings of the Bayung Gede Village. Discussions within reflect a study of a qualitative approach using descriptive data analysis supported by relevant drawings and images. Research findings indicate that sacred buildings in Bayung Gede village are classified into four types: those that come with tetambakan, without tetambakan, in the shape of altars, and sacred buildings in residential areas.Keywords: architecture; sacred buildings; forms; philosophical concepts AbstrakSebagai bagian wujud budaya, arsitektur dari bangunan suci tidak terlepas dari aturan yang termuat dalam pustaka dan norma filosofis yang diturunkan antar generasi. Selain sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan, keberadaan bangunan suci memiliki makna sosial budaya. Permukiman Bayung Gede merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki ciri khusus dalam budaya dan arsitekturnya. Arsitektur bangunan-bangunan sucinya didasari oleh sistem kepercayaan yang didominasi oleh tata nilai dan norma yang diwarisi oleh para leluhurnya. Artikel ini akan mengungkap sosok, bentuk, serta konsep filosofis dari arsitektur bangunan suci dari Desa Bayung Gede. Diskusi yang ada di dalamnya mencerminkan sebuah studi yang memiliki pendekatan kualitatif yang mempergunakan analisa deskriptif, didukung oleh beragam gambar dan foto arsitektural yang relevan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bangunan suci di Desa Bayung Gede terbagi menjadi empat macam yakni bangunan suci yang dilengkapi dengan tetambakan, tanpa tetambakan, berupa tahta batu/altar, dan bangunan suci yang ada di pekarangan rumah.Kata kunci: arsitektur; bangunan suci; bentuk; konsep filosofis
IDENTIFICATION OF GREEN ARCHITECTURAL CHARACTERISTICS OF TENGANAN PEGRINGSINGAN VILLAGE, KARANGASEM, BALI Aritama, Anak Agung Ngurah; Laskara, Gede Windu; Satria, Made Wina
ASTONJADRO Vol. 11 No. 2 (2022): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v11i2.6770

Abstract

Tenganan Pegringsingan village is one of most Bali Aga villages that located at Karangasem Regency, Bali. This village has a variety of vernacular buildings especially a settlement building. The settlement buildings that is a traditional houses are dwelling that still maintain pattern and shape of the building in the past. In this article will discuss about characteristics of green architecture in vernacular architecture and the genius that applied by people to response the environmental issues. Research using qualitative descriptive method by collecting data through field observations on vernacular building objects followed by a drawing of the object. The result of this research show that there four characteristics of green architecture on vernacular buildings at Tenganan village including aspects of land use, energy efficiency, water conservation, and cycles and material sources.