cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2024): October 2024" : 10 Documents clear
Tipologi Tipologi Rumah Pacenan Situbondo, Jawa Timur Berdasar Gender Selvia Noer Agustin; . Widiastuti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p06

Abstract

Pacenan houses are examples of vernacular architecture in Situbondo Regency, East Java Province. The lack of writing on this form of homes has encouraged authors to study them and to develop a typology of pacenan’s vernacular architecture based on gender. This study implements a qualitative approach supported by case studies of pacenan houses in Tanjung Pecinan Village, Mangaran District, and Situbondo Regency. The latest location is seen as the origin of the pacenan house. At first, an analysis of layout/spatial division and how spaces are zoned based on uses by male and female users is performed. Then, houses are grouped based on architectural differences. This activity is carried out by producing plans and three-dimensional drawings of all houses included in the study. This research develops two underlying considerations to be used to develop gender-based typologies: considerations regarding layout/spatial division and considerations about the overall existence of houses. Based on the layout, there are two typologies: female spaces that include an amper, roma, and kitchen, all of these spaces are part of the indoor formation. Male spaces consist of rangghun, langgar and tanean lanjhang. These are all located outside the houses. Then, based on the overall existence of houses, there are also two typologies. The first is based on the existence of distance between mothers’ houses and daughters’ houses. The second is based on the existence of langgar.Keywords: typology; pacenan house; Situbondo; East Java; gender AbstrakRumah pacenan adalah salah satu contoh arsitektur vernacular di Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Minimnya tulisan tentang wujud rumah pacenan telah mendorong penulis untuk menstudi serta membangun tipologinya berdasarkan pertimbangan gender. Metode yang digunakan adalah kualitatif didukung oleh studi kasus dari beragam rumah pacenan yang berlokasi di Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, dan Kabupaten Situbondo. Lokasi terakhir dipandang sebagai daerah asal kelahiran rumah pacenan. Di awal dilaksanakan analisis layout rumah pacenan yang dizone berdasar pemanfaatannya oleh pengguna lelaki dan/atau perempuan. Kemudian dilakukan pengelompokan tipe rumah yang berbeda. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memproduksi denah dan gambar tiga dimensi dari semua rumah yang menjadi bagian studi. Penelitian ini menunjukan dua dasar pertimbangan yang bisa dipakai membangun tipologi rumah pacenan berbasis gender, yaitu: pertimbangan terkait layout-divisi ruang dan pertimbangan terkait eksistensi rumah secara keseluruhan. Berdasarkan layout, dibangun dua tipologi ruang, yaitu: ruang perempuan yang terdiri dari amper, roma dan dapur, ruang-ruang ini berada di dalam rumah. Dan ruang lelaki yang terdiri dari rangghun, langgar dan tanean lanjhang. Semua ruang ini berada di luar rumah. Berdasarkan wujud rumah secara keseluruhan dibangun dua tipologi. Tipologi pertama didasari oleh keberadaan jarak antara rumah ibu dan rumah anak perempuan. Tipologi kedua didasari atas keberadaan langgar.Kata kunci: tipologi; rumah pacenan; Situbondo; Jawa Timur; gender
Informal City: Paradigma Baru menuju Kota Inklusif dan Berkelanjutan Syahri Ramadhan; Ratna Patmawati Wisnu Murti; Iwan Kustiwan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p02

Abstract

Cities, with their numerous activities and facilities, have inevitably driven urbanization. The World Bank notes that in 2022, 57% of the world's population live in urban areas, which is predicted to continue to increase, especially in developing countries. While urbanization has a positive impact on economic growth, it also brings negative consequences, such as informal settlement. Urban informal settlements are typically located along the riverbanks, railway lines, and on lands without legal rights. They often have limited access to basic infrastructures and services, such as clean water, sanitation, waste management, etc. This research examines the boundaries of formality, the concept of informality, the characteristics of informal cities, and the relationship between informal cities and the New Urban Agenda (NUA). The NUA aims to address urban planning challenges by prioritizing inclusive urban development, including improving the quality of informal settlements to enhance the quality of life in line with the Sustainable Development Goals of 11 (SDGs 11). This study used a qualitative approach by reviewing relevant sources, including articles, books, laws, regulations, and others. Study results highlight the importance of incorporating the interests of informal urban communities into the formal planning process to promote inclusiveness in urban development.Keywords: urbanization; informality; informal city; new urban agenda; inclusive AbstrakKota dengan beragam aktivitas dan fasilitasnya secara tidak terelakan telah mendorong terjadinya urbanisasi. Bank Dunia mencatat bahwa di tahun 2022, 57% penduduk dunia tinggal di kota, dan angka ini diprediksi akan meningkat, khususnya di negara-negara berkembang. Urbanisasi selain membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, juga menimbulkan dampak negatif seperti misalnya permukiman informal. Permukiman informal perkotaan umumnya berlokasi di bantaran sungai, pinggiran rel kereta api, dan di atas lahan yang tidak memiliki kejelesan hak atas lahan. Permukiman semacam seringkali memiliki keterbatasan layanan dan infrastruktur dasar, seperti air bersih, sanitasi, persampahan, dan lainnya. Penelitian ini mengkaji batasan formalitas, konsep informalitas dan karakteristik kota informal, serta keterkaitannya terhadap Agenda Baru Perkotaan (New Urban Agenda (NUA)). NUA ditujukan untuk mengatasi tantangan perencanaan kota dengan mengedepankan pembangunan perkotaan inklusif, termasuk peningkatan kualitas permukiman informal guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan tujuan ke-11 SDGs. Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui kajian sumber literatur yang relevan, termasuk artikel ilmiah, buku, peraturan perundang-undangan, dan berbagai sumber lain. Hasil studi menekankan pada perlunya mengakomodasi kepentingan komunitas informal kota dalam proses perencanaan formal sebagai wujud inklusivitas dalam pembangunan perkotaan.Kata kunci: urbanisasi; informalitas; kota informal; agenda baru perkotaan; inklusif
Evaluasi Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Rawan Bencana Tsunami Sanur Anak Agung Indira Yufanda Hersalita; I G. N. Anom Rajendra; Ni Ketut Agusintadewi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p07

Abstract

The study documented in this article evaluates land use changes in an area prone to tsunami disasters. Sanur is chosen as a medium of study due to its intensive land use changes and geographical position close to the Indo-Australian and Eurasian Plate's collision lines, making it a high tsunami hazard area. While Sanur has had a Tsunami Evacuation Map issued by GITEWS in 2010, this study attempts to review its relevance, considering Sanur has always been targeted by various land use changes. This study uses a qualitative approach with a case study. Data collection methods include remote sensing, semi-structured interviews, and review documents. This research shows that land use classifications are for water bodies, vegetation, rice fields, built-up areas, and coastal plains. An increase in the number of tourism accommodations, land conversion, reclamation, and changes in the coastline causes changes in land utilization. These spatial deviations can potentially cause positive implications, especially in increasing land roughness, increasing the number of Temporary Evacuation Sites (TES), and changing the evacuation mode. However, evacuation zones based on the worst tsunami scenario still need to be planned to minimize the number of victims and damages to the existing infrastructures.Keywords: land use; high danger zone; evacuation zone; tsunami, coastal tourism area AbstrakStudi yang didokumentasikan di dalam artikel ini mengevaluasi perubahan tata guna lahan di kawasan yang rentan bahaya tsunami. Sanur dipilih sebagai media studi karena perubahan tata guna lahan yang intensif dan posisi geografis yang berdekatan dengan garis tumbukan antara lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia, yang membuatnya sebagai kawasan rentan tsunami. Walau Sanur telah memiliki Peta Evakuasi Tsunami yang dikeluarkan oleh GITEWS pada tahun 2010, studi ini mencoba mengevaluasi relevansi dari peta ini, mengingat Sanur telah secara kontinyu menjadi target perubahan tata guna lahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan melingkupi penginderaan jauh, wawancara semi-terstruktur, dan review dokumen. Hasil penelitian menunjukkan klasifikasi penggunaan lahan adalah untuk badan air, vegetasi, sawah, lahan terbangun, dan dataran pantai. Perubahan penggunaan lahan disebabkan oleh peningkatan jumlah akomodasi pariwisata, alih fungsi lahan, reklamasi, dan perubahan garis pantai. Simpangan spasial ini berpotensi menimbulkan implikasi positif, khususnya di dalam meningkatkan kekasaran daratan, menambah jumlah Tempat Evakuasi Sementara (TES), dan mengubah modus evakuasi. Walau demikian, zona evakuasi berdasarkan skenario tsunami terburuk perlu direncanakan untuk meminimalisir jumlah korban dan kerusakan infrastruktur yang ada.Kata kunci: penggunaan lahan; zona bahaya tinggi; zona evakuasi; tsunami; kawasan pariwisata pesisir
Contact Cooling dan Hubungan Material Lantai, Alas Lantai, dan Kondisi Termal Ruangan Unit Hunian Rusun Sewa di Surabaya Graciani Cahyadresta Dewanda; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi; I Gusti Ngurah Antaryama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p03

Abstract

This study examines the significant role of the floor in contact cooling, which is passive cooling that happens through direct contact with the human body. It investigates the dynamic of the relationship between floor covering materials, mats, and thermal conditions, a topic that has not been widely explored. As a starting point, this study correlates thermal conditions and the use of mats in three highrise rental flats in Surabaya. Study results show that floor temperature tends to be higher than room temperature. The average room temperature is 30.61°C, while the floor temperature reaches 32.20°C on average. The widely used underlay material is polypropylene carpet with an average thickness of 4.23±4.99 mm. In the context of a contact cooling process, floor covering materials act as both radiative and conductive cooling elements. Meanwhile, mats act as a thermal moderation whose condition can be adapted to match the occupants' behavioral patterns and preferences.Keywords: thermal condition; floor covering material; contact cooling; rental highrise unit AbstrakStudi ini mendalami peran signifikan dari lantai dalam contact cooling - pendinginan pasif yang terjadi melalui sentuhan langsung dengan tubuh manusia. Studi menginvestigasi dinamika dari hubungan antara lantai, alas lantai, dan kondisi termal, sebuah topik yang belum dieksplorasi secara luas. Sebagai titik awal, studi ini mengkorelasikan kondisi termal dengan pemanfaatan alas lantai di hunian rusun sewa di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu lantai cenderung lebih tinggi daripada suhu ruangan. Rata-rata suhu ruangan adalah 30.61°C, dan rata-rata suhu lantai adalah 32.20°C. Jenis material alas yang banyak digunakan adalah karpet polypropylene dengan ketebalan rata-rata adalah 4.23±4.99 mm. Dalam konteks contact cooling, lantai berperan sebagai elemen radiative dan conductive cooling. Sedangkan alas berperan sebagai moderasi termal yang bisa diadaptasikan sesuai dengan patrun tingkah laku dan preferensi dari penghuni.Kata kunci: kondisi termal; bahan penutup lantai; contact cooling; rusun sewa
Peran Serta Masyarakat dalam Penyusunan RDTR Wilayah Perencanaan Selatan Kota Denpasar Eka Lestari; Ni Putu Pandawani; I GD. Yudha Partama; I Ketut Widnyana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p08

Abstract

This research aims to develop a strategy to increase community participation in instigating a Detailed Spatial Plan (RDTR) for the Southern Region of Kota Denpasar to minimize deviations during its implementation. This research used a mixed method, preceded by a qualitative data collection, and then progressed to a quantitative data collection. Distribution of questionnaires aided both started in January and ended in May 2024. Three forms of analysis are used: qualitative descriptive analysis, interval analysis, and SWOT. Study findings show that the stage of community participation falls into the category of consultation level - the fourth step on Arnstein's participation ladder. This is included in the degree of tokenism category. Based on the internal-external (IE) matrix analysis results in SWOT, the position of community participation is in cell II. The appropriate strategy to be used is the growth and development strategy. At this stage, the required actions are either intensive (information, dissemination, strengthening regulations, and innovation) or integrative (controlling information, strengthening human resource capacity, and cooperation/partnership). This research also leads to a range of opportunities to conduct further studies discussing community participation in policy conformance, land utilization control, and the application of e-participation and partnership.Keywords: participation; spatial planning[ RDTR; level of participation; Internal-External (IE) matrix AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi peningkatan peran serta masyarakat di dalam tahap penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Wilayah Perencanaan (WP) Selatan Kota Denpasar, dalam rangka meminimalisir terjadinya simpangan saat implementasi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) yang diawali dengan pengumpulan data kualitatif, dan kemudian dilanjutkan dengan perolehan data kuantitatif. Proses pengumpulan data dibantu oleh penyebaran kuesioner yang dimulai di bulan Januari dan berakhir di bulan Mei 2024. Ada tiga frame analisis yang diterapkan, yaitu analisis deskriptif kualitatif, analisis interval dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat berada pada level consultation yaitu tangga keempat dari tingkatan partisipasi Arnstein yang masuk dalam kategori degree of tokenism. Berdasarkan hasil analisis matrik internal-eksternal (IE) dalam SWOT, posisi peran serta masyarakat berada di sel II dimana strategi yang tepat digunakan yaitu strategi tumbuh dan membangun. Di dalam tahapan ini, aksi yang disyaratkan yaitu bersifat intensif (penyebarluasan informasi, penguatan regulasi, dan inovasi) atau integratif (memegang kendali informasi, penguatan kapasitas SDM, dan kerjasama/partnership). Penelitian ini juga membuka peluang untuk beberapa studi lanjutan yang mendalami peran serta masyarakat pada tahap pentaatan kebijakan, pengendalian pemanfaatan ruang serta penerapan e-participation dan partnership.Kata kunci: peran serta masyarakat; tata ruang; RDTR, tingkat partisipasi; matrik Internal-Eksternal (IE)
Karakteristik Permukiman Informal di Sepanjang Alur Kereta Api: Studi Opini Media Tasya Fatihah; Allis Nurdini
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p04

Abstract

Informal settlements have dominated many urban areas in Indonesia. They are usually found in areas dedicated as buffer zones between transportation lines and areas outside them. This research has three objectives: identifying and understanding the characteristics of informal settlements along railways, analyzing factors that are frequently associated with common problems and drawing public attention, and setting priorities for future research. Data was collected by reviewing 50 online-accessible news articles published in various media from 2017 to 2023. The selection process of these sources was based on the purposive sampling principle. This study then applies manifest content analysis by adopting topic analysis that is run through the JMP application. Study findings demonstrate that perception of the opportunity to occupy available spaces tends to be neutral, while issues about vulnerability, legal status, safety, and ownership harvest negative perceptions. Factors that often cause common problems and attract public attention include high rents, poor sanitation, threats of eviction, legal uncertainties, safety risks, and inability to access basic services.Keywords: perception of characteristics; informal settlements; railway infrastructure buffer area; media opinion study; transportation infrastructure AbstrakPermukiman informal telah mendominasi area perkotaan di Indonesia. Mereka biasanya ditemukan di area yang membatasi alur transportasi dengan area di sekitarnya. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu: mengidentifikasi dan memahami karakteristik permukiman informal di sepanjang jalur kereta api; menganalisis faktor-faktor yang diasosiasikan dengan beragam masalah umum dan menarik perhatian publik; serta merumuskan prioritas studi lanjutan yang perlu dilaksanakan ke depan. Pengumpulan data dilakukan dengan mereview 50 artikel berita online yang dipublikasi pada periode 2017-2023. Proses seleksi dari sumber data ini dilaksanakan berdasarkan prinsip purposive sampling. Studi ini kemudian menerapkan manifest content analysis dengan mengadopsi analisis topik yang dioperasikan melalui aplikasi JMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terkait kesempatan untuk mengakses ruang untuk tinggal cenderung netral. Sementara isu kerentanan, status legal, keselamatan, dan kepemilikan memiliki persepsi yang negatif. Faktor-faktor yang sering kali menimbulkan masalah umum dan menarik perhatian publik meliputi sewa yang tinggi, kondisi sanitasi yang buruk, ancaman penggusuran, ketidakpastian status legal, risiko keamanan, dan ketidakmampuan mengakses layanan dasar.Kata kunci: persepsi karakteristik; permukiman informal; sempadan infrastruktur kereta api; studi opini media; infrastruktur transportasi
Tinjauan Literatur Sistematis tentang Arsitektur Nusantara: Definisi, Posisi, dan Persepsi Audiens Ilmiah Muhammar Khamdevi; Daniel Bun Joel
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p09

Abstract

The study of Nusantara Architecture has been a subject of debate since it was first introduced. To this day, the concept continues to spark controversy, particularly among many academic audiences who view it as a representation of old local architecture rather than a body of design knowledge. This research aims to examine the definition and position of Nusantara Architecture further and explore the perceptions of academic audiences regarding the concept based on existing literature. By conducting a systematic literature review, this study builds upon previous research that analyzed trends in Nusantara Architecture studies and provides deeper insight into how this architecture is perceived and defined in academic discourse. The findings indicate that the definition of Nusantara Architecture lies in the formal aspects of traditional architecture, specifically in its design knowledge. In relation to Western architecture, it distinguishes itself from both traditional and vernacular architecture. However, it cannot fully detach from the knowledge of these two forms, which contribute to its development. The majority of academic audiences perceive its definition and position differently, focusing more on its material aspects. Keywords: nusantara architecture; traditional architecture; vernacular architecture; systematic literature review AbstrakPenelitian mengenai Arsitektur Nusantara telah menjadi topik perdebatan sejak awal diperkenalkan. Hingga saat ini, konsep ini masih menimbulkan polemik, khususnya bagi audiens ilmiah yang tetap memandangnya sebagai representasi dari arsitektur lokal lama ketimbang kumpulan pemahaman perancangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut definisi dan posisi Arsitektur Nusantara dan mengeksplorasi persepsi audiens ilmiah terhadap konsep tersebut berdasarkan literatur yang ada. Dengan melakukan tinjauan literatur secara sistematis, penelitian ini melanjutkan studi sebelumnya yang membahas tren penelitian Arsitektur Nusantara, serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana arsitektur ini dipersepsikan dan didefinisikan dalam wacana ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa definisi Arsitektur Nusantara terletak pada objek formal arsitektur tradisional, yakni pengetahuan perancangan. Selain dengan arsitektur barat, ia juga membedakan posisinya terhadap arsitektur tradisional dan vernakular. Namun ia tidak bisa benar-benar lepas dari pengetahuan keduanya yang ikut membangunnya. Persepsi mayoritas audiens ilmiahnya menunjukkan anggapan berbeda dari definisi dan posisi itu, yakni pada objek materialnya.Kata kunci: arsitektur nusantara; arsitektur tradisional; arsitektur vernakular; tinjauan literatur sistematis
Detil Publikasi Jurnal Ruang-Space
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infrastruktur Kota Ramah Pesepeda: Ruang Parkir Koridor Puputan Renon–Hangtuah Sanur, Denpasar I Gusti Ayu Intan Paramitha; Gusti Ayu Made Suartika; I Made Adhika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p05

Abstract

This article is about creating a cyclist-friendly city, taking a case study of Denpasar, which promotes sustainable infrastructures, particularly those dedicated to bicycles. In line with the Indonesian Ministry of Transportation’s Regulation No. 59 of 2020, which outlines the safety and accessibility of public parking for bicycles, it concentrates its discussions on the provision of such infrastructure for the Puputan Renon-Hangtuah Sanur Corridor of Kota Denpasar. This research employs a descriptive qualitative method, utilizing in-depth interviews as a data collection method. Its respondents include those coming from cycling communities and government agencies. Study findings will support the local government’s initiative to develop urban infrastructures that encourage public interest in cycling. This study has produced a map demonstrating potential bicycle parking spots along the Puputan Renon-Hangtuah Corridor in Denpasar. Locations of these spots have been based on respondents’ recommendations and include public facilities, shopping centers, and academic institutions. This map would recommend developing Denpasar as a cyclist-friendly city by providing safe and accessible bicycle parking spaces.Keywords: infrastructure; bike lanes; parking; safety AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang pembangunan kota ramah pesepeda dengan mengambil studi kasus di Denpasar, kota yang mempromosikan pembangunan infratruktur berkelanjutan, khususnya yang didedikasikan untuk sepeda. Beriringan dengan Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 yang menjelaskan keamanan dan aksesibilitas ruang parkir publik untuk sepeda, artikel ini mengkonsentrasikan pembahasannya pada pengadaan infrastruktur untuk Koridor Puputan Renon-Hangtuah Sanur di Kota Denpasar. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan interview mendalam sebagai metoda pencarian data. Para responden berasal dari komunitas pesepeda dan instansi pemerintah. Temuan studi akan menjadi rekomendasi kepada pemerintah lokal untuk membangun infrastruktur kota yang medorong minat masyarakat dalam bersepeda. Studi ini memproduksi sebuah peta yang menunjukkan titik-titik parkir yang potensial di sepanjang Koridor Puputan Renon-Hangtuah Sanur. Lokasi titik-titik ini didasari atas rekomendasi yang diberikan oleh para responden yang melingkupi fasilitas publik, pusat perbelanjaan dan kawasan akademik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi untuk pembangunan Denpasar sebagai kota ramah pesepeda dengan membangun ruang-ruang parkir bagi sepeda yang aman dan bisa diakses.Kata kunci: infrastruktur; jalur sepeda; parkir; keamanan
Persepsi Pengunjung terhadap Benteng Speelwijk sebagai Urban Heritage Tourism Rafanisa Intan Azzahra; Hanson Endra Kusuma
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p01

Abstract

Speelwijk Fort is one of the most visited historical heritage sites. Each visitor has their views in regard to this Fort. This study categorizes perception as a determining element in conservation activities. While no research has been conducted on this subject, this study explores visitors’ perceptions of Speelwijk Fort as an urban heritage tourist destination. It is designed to contribute towards developing an appropriate framework for managing, developing, and improving facilities, services, and quality provided by a historical tourism site. This study implements a grounded theory approach and is supported by an explorative qualitative method. Data collection was carried out using Google Maps review. Incoming reviews are selected based on a purposive sampling technique whose three main selection criteria are: reviews contain visitors’ evaluations that are relevant to the Speelwijk Fort; they are part of the 50 newest reviews representing the most updated conditions of the Speelwijk Fort; and review forms are completed with proper ratings. Using a three-stage content analysis method, this research reveals two groups of visitors’ perceptions. First are those who have positive perceptions and appreciate historical values, attractions, comfort, management, facilities, infrastructures, and the crowds offered by Speelwijk Fort during their visits. Second, visitors with negative perceptions experience discomfort and dissatisfaction with the management and facilities available at the fort.Keywords: Speelwijk Fort; visitor perceptions; urban heritage tourism; content analysis AbstrakBenteng Speelwijk menjadi salah satu situs peninggalan bersejarah yang ramai dikunjungi. Setiap pengunjung memiliki pandangannya sendiri akan benteng ini. Studi ini mengkategorikan persepsi sebagai elemen penting dalam kegiatan pelestarian. Ketika belum adanya penelitian tentang hal ini, studi ini mengeksplorasi persepsi pengunjung terhadap Benteng Speelwijk sebuah destinasi wisata kota tua. Studi didesain untuk memberi kontribusi dalam pembangunan kerangka yang tepat untuk pengelolaan, pengembangan, dan pembenahan fasilitas, pelayanan serta kualitas tempat pariwisata bersejarah. Penelitian ini menerapkan pendekatan grounded theory dan didukung oleh metode kualitatif yang bersifat eksploratif. Pengumpulan data dilakukan melalui Google Maps review. Review-review yang masuk diseleksi dengan teknik purposive sampling, dengan tiga kriteria utama, yaitu: review berisi evaluasi pengguna yang relevan dengan Benteng Speelwijk; merupakan 50 review terbaru yang mewakili kondisi terkini Benteng Speelwijk; dan review dilengkapi dengan rating. Dengan memakai tiga tahap analisis data isi (content analysis) sebagai metode analisisnya, penelitian ini mengungkap dua grup persepsi pengunjung. Pertama adalah kelompok pengunjung yang memiliki persepsi positif dan mengapresiasi nilai sejarah, daya tarik, kenyamanan, pengelolaan, fasilitas, prasarana, serta menikmati keramaian yang ditawarkan oleh Benteng Speelwijk. Kedua, pengunjung yang memiliki persepsi negatif yang mengalami ketidaknyamanan dan ketidakpuasan terhadap pengelolaan dan fasilitas yang tersedia di benteng ini.Kata kunci: Benteng Speelwijk; persepsi pengunjung; urban heritage tourism; analisis isi

Page 1 of 1 | Total Record : 10