cover
Contact Name
Shita Dewi
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jkki.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia
ISSN : 2089 2624     EISSN : 2620 4703     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 436 Documents
Hubungan Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dengan Peningkatan Cakupan Kunjungan Antenatal K4 di Puskesmas Kota Serang Tahun 2014-2016 Siti Nurul Laeliyah; Mardiati Nadjib
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.182 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v6i3.29666

Abstract

ABSTRACTHealth Operational Aid Fund (BOK) realization at Serang City Community Health Centers (CHC) through 2014-2016 has always reached 100% mark which more than 30% of the fund was allocated for maternal and children health each year. However the achievement from maternal and children health scope especially on K4 antenatal visit was not proportional with the budget, instead each year a decreasing trend from proposed target (75%) was observed thus the need of evaluation. This study was conducted at regional health agency and four CHCs (Banten Girang, Curug, Sawah Luhur and Serang Kota) with retrospective study case design and considering fund variables and scopes. The result shows lack of human and other resources in managing maternal and children health program; the lack of operational fund for preventive and promotive activities from regional government budget (APBD) and only rely on health operational fund; the lack of supervision in midwife records and reports, also the contract ending of trained cadres as the result of village chief replacement. Keywords: community health centre, health operational fund, K4 antenatal visit ABSTRAKRealisasi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas Kota Serang dari tahun 2014-2016 selalu mencapai 100% dengan alokasi dana untuk kegiatan KIA lebih dari 30% setiap tahunnya, namun tidak berbanding lurus dengan capaian cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya kunjungan antenatal K4 yang justru semakin tahun menunjukkan penurunan dari target yang ditetapkan (75%) sehingga perlu dievaluasi. Penelitian dilakukan di Dinas Kesehatan dan 4 Puskesmas, yaitu Puskesmas Banten Girang, Curug, Sawah Luhur dan Serang Kota dengan studi kasus bersifat retrospektif dan mempertimbangkan variabel dana serta cakupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua Puskesmas kekurangan sumber daya manusia dan sarana prasarana dalam mengelola program KIA, ketersediaan dana operasional untuk kegiatan preventif dan promotif dari APBD tidak ada dan hanya mengandalkan dana BOK, kurangnya pengawasan pencatatan pelaporan bidan, serta putusnya kontak dengan kader yang sudah dilatih sebagai efek pergantian kepala desa. Kata Kunci: Bantuan Operasional Kesehatan, Puskesmas, Kunjungan Antenatal K4
Analisis Besaran dan Pembayaran Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan terhadap Pengendalian Rujukan di Puskesmas Kota Bengkulu Henni Febriawati; Yandrizal Yandrizal; Yulia Afriza; Bintang Agustina Pratiwi; Riska Yanuarti; Desri Suryani
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2719.886 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v6i4.30890

Abstract

Background: Puskesmas as primary health care center where the role of Puskesmas is interpreted as gate keeper or first contact and referral agent in accordance with standard of medical service. BPJS Kesehatan always strives to increase efficiency and effectiveness by developing quality control system of service and payment system of health service through capitation payment pattern to first  level health facility. Problem formulation, how the implementation of Kapuas basaran policy based on fulfillment of service commitment to control at Public Health Center of Bengkulu City. Research Objective, knowing the role of policy of capitation scale based on fulfillment of service commitment to referral control at public health center Bengkulu City. Research methods: This research uses quantitative and qualitative method with exploratory research design, unit of Puskesmas analysis in Bengkulu City. The type of this research is descriptive research to describe the implementation of capitation policy based on fulfillment of service commitment to referral number in public health center Bengkulu City. Results and discussion:Referral from public health center in Bengkulu City decreased from 2014 as many as 113,075 visits and 25,183 (22.27%) referrals, by 2015 149,483 visits and 26,963 (18.04%) referrals, 2016 226,313 visitation and 23,545 referrals (10 , 40%) In 2016 the number of participants in Bengkulu City was 156,854 inhabitants and the number of contact rate was 15.726 (10.06%). Visits were 13,068 (8.33%) and healthy visits 2,658 (1.69%). All informants understand about the activities undertaken to achieve the safe zone target ratio. Conclusions and recommendations:The implementation of a service commitment-based capitation policy can control the referral of the public health center. Informants have a common perception in achieving contact numbers to achieve the target of safe zones and achievement zones by optimizing public health efforts and individual health efforts to make healthy visits and sick visits to the community. Policy implementation can be developed by maximizing existing community health efforts in Puskesmas, improving the achievement of contact rates indicator, non-specialist referral ratios, and proline visits routinely.
Evaluasi Implementasi Public Private Mix Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2012 Maria Agustina P.Tondong; Yodi Hasthayoga Mahendradhata; Riris Andono Ahmad
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkki.36356

Abstract

governmental organizations in the implementation of quality DOTS known as Public Private Mix (PPM). Ende has executed the implementation of PPM DOTS approach involving government hospitals, private hospitals and private clinics since 2010, but the program has never been evaluated to determine the problem and found a solution to improve the performance of the TB control program in Ende. Objectives: To evaluate the implementation of the Public Private Mix (PPM) for TB control in Ende Methods: This study used a qualitative design, with descriptive case study approach, to describe the implementation of PPM for TB control in Ende, a district of East Nusa Tenggara Province. Result and Discussion: PPM implementation of TB control in Ende not run optimally, this showed by the low performance of the TB control program that is low TB case detection rate (CDR) <70%, although there was an increase in TB case detection (CDR) of 12% , treatment success rate <85%, the conversion rate <80% and the high dropout rate of TB patients> 10% in the last three years. Factors - factors that inhibited the implementation of PPM for TB control are shortage of human resources, insufficient budget, lack of logistics and facilities infrastructures of TB DOTS unit and dependence on donor resources, the absence of operational guidelines governing cooperation mechanisms, the lack of commitment of the government and partners in the implementation of PPM control TB, lack of communication and coordination between PPM network, caseholding of TB patients. Conclusion: Implementation of PPM TB Control has not been optimal as it has not improve the performance of the TB control program in the district of Ende yet. Latar belakang: Salah satu komponen strategi stop TB adalah melibatkan seluruh penyedia layanan pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat dalam pelaksanaan DOTS yang berkualitas yang dikenal dengan Public Private Mix (PPM). Kabupaten Ende sejak tahun 2010 telah melaksanakan pendekatan PPM dalam pelaksanaan DOTS yang melibatkan rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta dan balai pengobatan swasta, namun belum pernah dilakukan evaluasi untuk mengetahui permasalahan dan ditemukan solusi untuk memperbaiki kinerja program pengendalian TB di Kabupaten Ende. Tujuan Penelitian: Untuk mengevaluasi implementasi Public Private Mix (PPM) pengendalian TB di Kabupaten Ende. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif, dengan pendekatan studi kasus deskriptif, untuk menggambarkan pelaksanaan PPM pengendalian TB di Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil dan Pembahasan: Implementasi PPM pengendalian TB di Kabupaten Ende belum berjalan optimal, ini terlihat dari masih rendahnya kinerja program pengendalian TB yaitu rendahnya angka penemuan kasus TB (CDR) < 70%, meskipun ada peningkatan penemuan kasus TB (CDR) sebesar 12 %, angka keberhasilan pengobatan < 85%, angka konversi < 80% dan tingginya angka drop out pasien TB > 10% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Faktor – faktor yang menghambat implementasi PPM pengendalian TB adalah keterbatasan sumber daya manusia, anggaran, logistik TB dan sarana prasarana unit DOTS serta ketergantungan sumber daya terhadap pihak donor, tidak adanya pedoman operasional yang mengatur mekanisme kerjasama, kurangnya komitmen pemerintah maupun mitra dalam implementasi PPM pengendalian TB, kurangnya komunikasi dan koordinasi antara jejaring PPM dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan penderita TB.Kesimpulan: Implementasi PPM Pengendalian TB belum berjalan optimal karena belum dapat meningkatkan kinerja Program Pengendalian TB di Kabupaten Ende 
Pengelolaan Sisa Lebih Dana Kapitasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah (Monitoring dan Evaluasi Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia) M Faozi Kurniawan; Budi Eko Siswoyo; Aulia Novelira; Dedik Sulistiawan; Wan Aisyah; Welly Gadistina; Golda Kurniawati
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.5 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v6i1.29001

Abstract

ABSTRACTBackground: During the two years of implementation of the National Health Insurance (JKN), many national and district regulations have been published and revised. However, there is no clear regulation in the management of unutilized capitation fund. The high actual capitation in line with the low utilization ratio, which means it could potentially lead unutilized capitation. Financial management in the district that has not been integrated with unutilized capitation become a challenge for the Puskesmas to accommodate the operational requirements of service.Objective: To analyze the potential and the management of unutilized capitation of JKN program at the Puskesmas and its determinant factorsMethod: This is a case study using cross sectional design and implementation research approach. A total of 492 samples in 13 regionals and 26 districts were selected using multistage random sampling. Primary data were collected through series of interviews and FGDs using a standardized questionnaire. Variables that become secondary data (2014-2015) were collected from Puskesmas and BPJS Kesehatan database. Qualitative data were analyzed using thematic approach and quantitative data were analyzed descriptively and analytically using test for comparison and correlation.Result: Allocation in the utilization of capitation funds, distribution of membership, geographical aspects, service time, the ratio of doctors to the participants, contact rate, total revenue from the Puskesmas have correlation to the unutilized capitation and performance indicators. Planning, budgeting, and disbursement of unutilized capitation follow the budget mechanism of APBD, either early budget document or the mid-year budget document; so it can not be used directly by Puskesmas without submission, reconciliation, and the budget approval from the district government. Nevertheless, the majority of Puskesmas do not manage unutilized capitation because there are no local regulations and technical guidelines for managing unutilized capitation fund.Conclusion: Intervention should consider the variables that had a significant correlation value, both on unutilized capitation and performance indicators. It is necessary to evaluate the fund channeling; and also the strengthening of the regulation should also be followed by optimizing the role BPJS Kesehatan, Health Office, and other stakeholders to support the implementation of the concept of strategic purchasing. Keywords: unutilized fund, capitation, JKN ABSTRAKLatar Belakang: Selama dua tahun penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), banyak regulasi nasional dan daerah yang telah diterbitkan dan direvisi. Walaupun demikian, belum ada kejelasan regulasi dalam pengelolaan sisa lebih kapitasi. Tingginya kapitasi aktual sejalan dengan rendahnya rasio utilisasi yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan sisa lebih kapitasi. Belum terintegrasinya pengelolaan keuangan daerah dan sisa lebih dana kapitasi menjadi tantangan Puskesmas untuk mengakomodir kebutuhan operasional pelayanan.Tujuan: Menganalisis potensi dan pengelolaan sisa lebih kapitasi JKN di Puskesmas beserta faktor-faktor determinannya.Metode: Studi kasus dengan rancang bangun cross sectional ini menggunakan pendekatan riset implementasi. Sejumlah 492 sampel dari 13 regional dan 26 kabupaten/ kota ditentukan secara multistage random sampling. Data primer dikumpulkan melalui serangkaian wawancara dan FGD menggunakan kuesioner terstandar. Variabel yang menjadi data sekunder (2014-2015) dikumpulkan dari Puskesmas dan BPJS Kesehatan. Data kualitatif dianalisis dengan pendekatan tematik, sementara data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan analitik menggunakan uji komparasi dan uji korelasi.Hasil: Alokasi pemanfaatan dana kapitasi, distribusi kepesertaan, aspek geografis, waktu pelayanan, rasio dokter terhadap peserta, angka kontak, total penerimaan Puskesmas berkorelasi terhadap sisa lebih dana kapitasi dan capaian indikator komitmen pelayanan. Perencanaan, penganggaran, dan pencairan sisa lebih dana kapitasi mengikuti mekanisme APBD baik induk maupun perubahan; sehingga tidak dapat digunakan secara langsung oleh Puskesmas tanpa pengajuan, rekonsiliasi, dan pengesahan dokumen anggaran dari Pemda. Walaupun demikian, sebagian besar Puskesmas belum mengelola sisa lebih dana kapitasi karena tidak ada Peraturan Daerah dan pedoman teknis pelaksanaan.Kesimpulan: Intervensi dapat mempertimbangkan variabel yang memiliki nilai korelasi signifikan, baik terhadap sisa lebih dana kapitasi dan capaian komitmen pelayanan. Selain perlu adanya evaluasi fund channeling; penguatan regulasi sebaiknya juga diikuti dengan optimalisasi peran BPJS Kesehatan, Dinkes, dan stakeholder lainnya untuk mendukung penerapan strategic purchasing. Kata Kunci: sisa lebih, kapitasi, JKN
Gambaran Pelaksanaan Program Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Era JKN Daerah Perbatasan di Puskesmas Ponu Kabupaten Timor Tengah Utara Robertus Tjeunfin; Laksono Trisnantoro; Sitti Noor Zaenab
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.509 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i2.30789

Abstract

ABSTRACTBackground: The fifth goal of Millennium Development Goals (MDGs) is reducing maternal mortality (AKI) by 75% in 2015. To overcome this problem, the Government of Indonesia through the Ministry of Health has issued a policy approach to health care maternal and newborn quality to the public through the Making Pregnancy Safer (MPS) with one of the key mes- sages that every birth attended by skilled health personnel. Whereas in East Nusa Tenggara Province, launched a pro- gram of Maternal and Child Health Revolution through East Nusa Tenggara Governor Regulation No. 42 in 2009. Based on the profile of department of health of North Central Timor in 2013 and the scope of SPM in 2014, total births assisted by health workers in 2013 were 4.805 or 79,5%. It declined com- pared with 2012 (91,5%). The scope of births by health work- ers in 2014 (semester I) was 36, 10% of the targeted 87% (Scope of SPM of TTU Department of Health 2014). Since January 1, 2014 the Government of Indonesia launched a Uni- versal Health Coverage for all Indonesian people.Purpose: This study aims to evaluate the Governor Decree No. 42 Year 2009 About KIA Revolution and Presidential De- cree No. 12 Year 2013 About the Health Security.Method: This study was an explorative study with qualitative approach and case study design to discover factors influenc- ing the scope of births by health workers in the era of National Health Insurance. The types of collected data included primary data from in-depth interviews and FGD (Focus Group Discus- sion) using interview guides and secondary data from docu- ment study and observation. Data was analyzed qualitatively using open codeResult: Factors influencing the scope of births by health workers in TTU Regency included (1) suboptimal communica- tion developed by BPJS and local Department of Health which only involved particular groups. This made the community/policy implementers at public health center level to not fully under- stand the implementation of JKN. This causes policy imple- menters weren’t consistent with the policies, e.g. midwives still performed actions outside of their authority without the assistance of doctors and existence of fee exceeding the provisions. 2) Resources, in addition, human resources factor is lacking where midwives there are only 4 people in health centers and from 9 villages 1 village not have a midwife. Ponu health center infrastructure is still lacking among them were old enough health center building, delivery equipment just only 2 sets but not complete, do not have an incubator, suction and oxygen and an ambulance was old quite.Conclusion: Implementation of the delivery program of the National Health Insurance era in the border area is very wor- rying. Lack of socialization and lack of facilities such as build- ings, equipment delivery, medicines and medical supplies and human resources lead to health delivery services in the bor- der area is very bad Keywords: Childbirth, Health Worker, Facility, Infrastructure, communication, JKN ABSTRAKLatar Belakang: Tujuan ke lima Milenium Development Goal’s (MDGs) adalah untuk mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 75% pada tahun 2015. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan pendekatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir berkualitas kepada masyarakat melalui Making Pregnancy Safer (MPS) dengan salah satu pesan kuncinya yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terampil. Propinsi Nusa Tenggara Timur mencanangkan Revolusi KIA melalui Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur No. 42/2009. Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Timor Tengah Utara Tahun 2013, Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2013 sebanyak 4.805 atau 79,5%, Pencapaian ini menurun dibanding dengan keadaan tahun 2012 (91,5%). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2014 (semester I) 36, 10% dari target 87% (Cakupan SPMDinkes TTU 2014). Sejak tanggal 1 Januari 2014 Pemerintah Indonesia mencanangkan Universal Health Coverage/jaminan kesehatan semesta bagi seluruh masyarakat Indonesia.Tujuan: penelitian ini bertujuan mengevaluasi Pelaksanaan Peraturan Gubernur No. 42/2009 Tentang Revolusi KIA dan Perpres No. 12/2013 Tentang Jaminan Kesehatan .Metode: Penelitian ini merupakan studi eksploratif dengan pendekatan kualitatif dan rancangan case study, dengan berusaha mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi cakup- an persalinan di era Jaminan Kesehatan Nasional. Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) menggunakan panduan wawancara dan observasi sedangkan data sekunder diperoleh dengan telaah dokumen. Data dianalisis secara kualitatif menggunakan open code.Hasil: Beberapa faktor yang mempengaruhi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di di daerah perbatasan Kabupaten TTU di antaranya 1) Komunikasi yang dibangun baik oleh BPJS dan dinas kesehatan setempat sangat kurang dan hanya melibatkan kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Hal ini mengakibatkan masyarakat/ pelaksana kebijakan di tingkat puskesmas belum memahami tentang pelaksanaan JKN sehing- ga pelaksana kebijakan belum konsisten dalam pemberian pelayanan misalnya bidan masih melakukan tindakan di luar kewenangannya tanpa didampingi dokter, dan adanya iur biaya yang melebihi ketentuan yang telah ditetapkan. 2) Selain itu faktor sumber daya seperti SDM kesehatan masih sangat ku- rang dimana untuk tenaga bidan hanya terdapat 4 orang di puskesmas induk dan dari 9 desa/keluraha, satu desa belum memiliki bidan desa. Sarana prasarana/fasiltas pada Puskes- mas Ponu masih sangat kurang di antaranya gedung puskes- mas terlihat sdh cukup tua, peralatan persalinan hanya terdapat dua set namun tidak lengkap, belum memiliki incubator, suction dan oksigen dan mobil ambulans untuk rujukan buatan tahun 2003 dan tidak layak pakai.Kesimpulan: Pelaksanaan program persalinan era JKN pada daerah perbatasan sangat memprihatikan. Kurangnya sosiali- sasi dan kurangnya fasilitas seperti gedung, peralatan persalin- an, obat dan perbekalan kesehatan serta SDM kesehatan mengakibatkan pelayanan persalinan pada daerah perbatasan sangat buruk. Kata kunci: Persalinan, Tenaga Kesehatan, Sarana Prasarana, Komunikasi, JKN
ANALISIS KEBIJAKAN JAMINAN KESEHATAN KOTA BENGKULU DALAM UPAYA EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS PELAYANAN DI PUSKESMAS Yandrizal Yandrizal; Betri Anita Anita; Desri Suryani
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.039 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v2i3.3213

Abstract

Background. Mayor of Bengkulu Regulation Number 13 Year2012 on The Implementation Guidelines for State HealthInsurance Assistance Costs (Jamkeskot) in Bengkulu city ismanaged by the Secretariate of the Government of CommunityWelfare Section in Bengkulu. The cost of referral health carein Provincial General Hospital could be made more efficient byoptimizing the role of community health centers as a curative,preventive and promotive health services. It is hoped to reducethe number of visits for treatment and referral to hospital. Thepurpose of this study is to analyze the City Health Insurancepolicies in an effort to improve the efficiency and effectivenessof primary health care and public health efforts to reduce thenumber of visits for treatment and referral to hospital.Method: The type of research is non-experimental research,or also called qualitative research. It is an exploratory researchto find a new role of the city government and AdministeringAgency to improve the efficiency and effectiveness of healthservices at the health center.Unit of Analysis: 1) Community Health Center Unit 20, 2)organizing: PT. Askes 2 person and Community Welfare section2 person, 3) the City: Head of the Community Welfare Section1 person, Bengkulu City Health Office 2 person. Data is collectedusing interview using questionnaire as the instrument, anddocuments review.Results: Bengkulu Jamkeskot policies have not applied theprinciple of insurance in which the organizers serves to controlthe quality and cost of health care provided in both basicservices/primary and referral services. Most of the healthcenters tend to refer patients (67%) that are still within theirauthorization to provide care. The reason being: the healthcenters have limited equipment and drugs, and some patientsdemanded to be referred due to perceived bad quality of serviceat the health centers. The Community Welfare section has notcoordinated with the City Health Office to conduct training forthe health center in an effort to increase the effectiveness ofservices.Recommendation: The City Government is to establish ateam to conduct technical guidance supervision to healthcenters to ensure that the health centers play the role ofgatekeeper and only refer patients that need complex care,providing medical equipment and drugs to the health centerswith proposed funding from Bengkulu City budget and provincialbudget. The Health Centers are to provide routine counselingon healthy behavior and IEC on nutrition and hygiene to everyposyandu. The City Health Office provides technical guidancein drafting POA for promotive and preventive activities to havemore focus in efforts to control the causes of disease. Improvepolicy management of Jamkeskot by submitting the managementto an administering body, so that the Jamkeskot can apply theinsurance principles where the strong help the weak, thehealthy help the sick, the rich help the poor; and also cancontrol the quality and cost of service.Keywords: Health Policy, Health Insurance, Gatekeeper
Edisi Khusus Seri 2 Kepersertaan JKN Shita Dewi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.034 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v4i4.36114

Abstract

Selamat berjumpa kembali.Sebagai lanjutan dari edisi khusus yang lalu, maka edisi khusus ini masih akan membahas hal- hal terkait Jaminan Kesehatan Nasional. Pada edisi ini, bahasan difokuskan pada isu kepersertaan.Sebagaimana telah kita ketahui, salah satu komponen dari sistem jaminan kesehatan adalah sistem population coverage. Di banyak negara, ter- masuk Indonesia, target dari sistem jaminan kese- hatan nasional adalah universal health coverage (cakupan kesehatan semesta), yang berarti bahwa semua anggota masyarakat terlindungi. Strategi pencapaiannya beranekaragam. Indonesia memilih untuk mencapai target tersebut secara bertahap, memulainya dari sub-kelompok tertentu dari ma- syarakat, dan kemudian secara berangsur-angsur memperluas cakupannya.Sub-kelompok masyarakat tersebut dibagi ke dalam dua kelompok besar: peserta penerima bantu- an iuran (PBI), dan peserta bukan penerima bantuan iuran (non-PBI). Masing-masing kelompok pun masih dibagi lagi ke dalam sub-sub kelompok yang lebih kecil. Kelompok non-PBI misalnya terdiri dari pekerja penerima upah dan anggota keluarganya, serta pe- kerja bukan penerima upah dan anggota keluarga- nya. Setiap sub kelompok, masih dibagi lagi ke da- lam sub kelompok yang lebih kecil. Sub kelompok pekerja penerima upah dibagi ke dalam peserta yang merupakan anggota TNI, Polri, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pejabat negara, pegawai pemerintah non PNS, pegawai swasta dan penerima upah lain. Sementara sub kelompok pekerja bukan penerima upah terbagi ke dalam pekerja mandiri dan juga bukan pekerja, misalnya pensiunan, veteran, janda dan anak yatim piatu dari penerima pension, inves- tor dan pemberi kerja, dan sebagainya.Pada awal pelaksanaan JKN tahun 2014 lalu, fokus rekruitmen kepersertaan adalah pada peserta PBI, anggota TNI, Polri, PNS, peserta PT Askes dan PT Jamsostek. Tahun 2015 ini, rekruitmen keperser- taan mulai ditargetkan ke kelompok pekerja BUMN, usaha besar, menengah dan kecil. Tahun depan, fo- kus rekruitmen adalah pekerja usaha kecil. Demikian seterusnya hingga pada tahun 2019 mendatang, ditargetkan 95% penduduk Indonesia sudah menjadi peserta JKN/KIS (Kartu Indonesia Sehat), sehingga cakupan kesehatan semesta diharapkan dapat tercapai.Jadi, tepat kiranya jika bahasan edisi khusus kali ini adalah mengenai kepersertaan JKN. Bagi peserta PBI yang telah dijaring pada tahun sebelum- nya, apakah mereka memanfaatkan JKN? Seberapa baik pengalaman mereka dalam pemanfaatan JKN? Sedangkan bagi kelompok non PBI: apakah mereka telah memiliki awareness terhadap pentingnya ke- persertaan JKN? Mengingat sulitnya menjaring pe- serta dari sektor informal di banyak negara lain, apakah di Indonesia perlu ada upaya advokasi dan sosialisasi khusus untuk peserta sektor informal (pekerja bukan penerima upah)? Adakah hal-hal yang bisa kita pelajari dari kepersertaan sistem jaminan kesehatan yang lalu, misalnya Jamkesmas? Dan, masih banyak lagi pertanyaan lain yang bisa kita ajukan untuk membahas kepesertaan JKN. Oleh karena itu, edisi kali ini menampilkan beberapa hasil temuan mengenai hal ini, yang kami harap dapat membangkitkan minat untuk meneliti berbagai pertanyaan lain seputar kepesertaan JKN.Untuk mencapai cakupan kesehatan semesta, tentu masih banyak yang harus dibenahi, termasuk: 1) Penguatan sosialisasi dan advokasi; 2) Evaluasi berkala mengenai capaian kepesertaan dan penye- suaian target; serta 3) Penyiapan fasilitas kesehatan yang disesuaikan dengan pertumbuhan kepesertaan JKN/KIS. Semoga, penelitian yang kita lakukan dapat memberikan sumbangsih untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait ketiga hal ini.
Pengaruh Kepemilikan Jaminan Kesehatan terhadap Belanja Kesehatan Katastropik Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2012 Lena Elfrida Situmeang; Budi Hidayat
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.988 KB) | DOI: 10.22146/jkki.12186

Abstract

Background: Indonesia’s health development geared to achieve national health insurance scheme (JKN). However, funding of health in Indonesia is still dominated by domestic funding through out-of-pocket (OOP). Objective: Catastrophic health expenditure of households will disrupt household consumption and can lead to poverty. Using secondary data of the National Social Surveys 2 (Susenas) 2012, this study aims to prove health insurance ownership lowers catastrophic health expenditure of households in Indonesia in 2012. Methods: This study used a cross-sectional study design with models probit and bivariate probit. Results: The results found that the health insurance ownership lowers catastrophic health expenditure amounted 12.97% at the threshold 10% of total expenditure and amounted 18.42% at 20% of total non-food expenditure. Conclutions: Health insurance ownership provides protection for catastrophic health expenditure in Indonesia in 2012.ABSTRAKLatar Belakang: Pembangunan kesehatan Indonesia diarahkan untuk mencapai Jaminan kesehatan Nasional (JKN). Namun, sebagian besar pendanaan kesehatan masih didominasi oleh rumah tangga melalui out-of-pocket (OOP). Pengeluaran biaya kesehatan katastrofik rumah tangga akan mengganggu konsumsi rumah tangga dan dapat mengakibatkan kemiskinan. Tujuan: Menggunakan data sekunder Survei Sosial Nasional (Susenas) tahun 2012, penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa kepemilikan jaminan kesehatan menurunkan belanja kesehatan katastrofik rumah tangga di Indonesia tahun 2012. Metode: Penelitian dengan desain studi potong lintang ini, menggunakan pendekatan ekonometrik dengan model probit dan bivariat probit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan jaminan kesehatan menurunkan belanja kesehatan katastrofik sebesar 12.97% pada ambang batas 10% dari total pengeluaran dan sebesar 18.42% pada ambang batas 20% total pengeluaran non-makanan. Kesimpulan: Kepemilikan jaminan kesehatan memberikan perlindungan terhadap belanja kesehatan katastrofik di Indonesia pada Tahun 2012. 
Implementasi Kebijakan JKN oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Kepulauan Anambas Irawati Sagala; Laksono Trisnantoro; Retna Siwi Padmawati
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.661 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i3.30651

Abstract

ABSTRACTBackground: On January 1st, 2014, the implementation of NHI started in Indonesia as well as in the district of Anambas Islands accordance with the mandate of Law No. 24 in 2014. NHI policy is a top-down policy that must be implemented. On the process of implementation, the health service providers in the RSL, as the main reference in Anambas Islands, have some problems due to the characteristics’ differences of regional and limitations the District of Anambas Islands as the border areas, islands and separated-areas (DTPK). In the context of health, rural and remote areas is often associated with a state of limited public transport, poor road infrastructure, long distances to health service facilities and difficulties in recruiting and retaining health personnel. As a result there is a significant impact on the provision of adequate health care. The availability of resources is inadequate in every health facility in Anambas Islands is also an obstacle for the implementation of NHI any existing health facilities in the District of Anambas Islands must qualify credensialing set by BPJS Health.The Objective: To analyze the implementation of NHI policy by the health service providers in the District of Anambas Islands.Method: This research is using the descriptive research with qualitative methods using a single case study, design to analyze the implementation of the NHI policy established by the health service providers in Anambas Islands, which is focused on resources, bureaucratic structure and disposition.Result: Implementation of policy NHI by health care providers both in health centers and hospitals are still many have constraints such as limited power specialist, especially in hospitals, general practitioners definitive still lacking in some health facilities, the limited infrastructure in health centers and hospitals that cause will not want the patient should be referred. This adds to the burden of transportation costs to society as ocean freight rates are quite expensive though some things can be addressed as a problem of information and improvement of bureaucratic structures, but it can not prevent the public to be referred.Conclusion: The implementation of NHI policy does not match held in Anambas Islands as the border areas, islands and separated-areas area because of the benefits received by the community of NHI be limited due to so many constraints faced by health care providers. Keywords : Implementation of policy, the National Health Insurance, health service providers.ABSTRAKLatar belakang : Dengan diberlakukannya UU Nomor 24 Tahun 2014 maka pada tanggal 01 Januari 2014 Jaminan Kesehatan Nasional dimulai di Indonesia, demikian juga halnya di Kabupaten Kepulauan Anambas. Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan kabupaten yang dikategorikan sebagai daerah DTPK. Dalam konteks kesehatan, daerah pedesaan dan terpencil sering dikaitkan dengan keadaan transportasi umum yang terbatas, infrastruktur jalan yang buruk, jarak yang jauh ke fasilitas pelayanan kesehatan dan kesulitan dalam merekrut dan mempertahankan tenaga kesehatan. Akibatnya ada dampak yang signifikan untuk penyediaan pelayanan kesehatan yang memadai. Ketersediaan sumber daya yang tidak memadai pada setiap fasilitas kesehatan di Kabupaten Kepulauan Anambas juga menjadi kendala karena dalam pelaksanaan JKN setiap fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas harus memenuhi syarat kredensialing yang telah ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.Tujuan: Menganalisis implementasi kebijakan JKN oleh pemberi pelayanan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Anambas.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif menggunakan rancangan studi kasus tunggal terjalin untuk menganalisis implementasi kebijakan JKN oleh pemberi pelayanan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Anambas, yang difokuskan pada sumber daya, struktur birokrasi dan disposisi.Hasil: Implementasi kebijakan JKN oleh pemberi pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit masih banyak mengalami kendala seperti terbatasnya tenaga spesialistik khususnya yang ada di rumah sakit, dokter umum yang definitif masih kurang di beberapa fasilitas kesehatan, keterbatasan prasarana di puskesmas dan rumah sakit yang menyebabkan mau tidak mau pasien harus dirujuk. Hal ini menambah beban biaya transportasi bagi masyarakat karena tarif angkutan laut yang cukup mahal walaupun beberapa hal dapat dibenahi seperti masalah informasi dan perbaikan struktur birokrasi namun hal tersebut tidak dapat mencegah masyarakat untuk dirujuk.Kesimpulan: Implementasi kebijakan JKN tidak cocok dilaksanakan di Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai daerah DTPK karena manfaat yang diterima masyarakat dari JKN menjadi terbatas disebabkan begitu banyak kendala yang dihadapi oleh pemberi pelayanan kesehatan. Kata Kunci : Implementasi kebijakan, Jaminan Kesehatan Nasional, pemberi pelayanan kesehatan
Active Case Treatment Lebih Cost Effective untuk Pengobatan TB Paru Tahap Awal Ni Ketut Ardani; Thinni Nurul Rochmah; Chatarina Umbul Wahyuni
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.804 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v1i2.36011

Abstract

Background: Estimated one third of world population have been infected with Mycobacterium tuberculosis. Infected per- son will lose 3-4 months work time and will decrease 20%- 30% of income per year. Finding and treating TB patients are the best endeavor to stop TB spreading with a correct inter- vention. Jember Regency is executing Passive Case Treat- ment (PCT), which lung TB patients should come to puskes- mas to take the Tuberculosis Drug (ATD) in a certain day and hour. The method was not effective, proven by the increase of default rate for 3 years: 5.08% in 2007, 5.14% in 2008 and 6.18% in 2009, followed by the decrease of conversion rate for 3 years: 95.26% in 2007, 93.09% in 2008 and 92.08% in 2009. It is raising alertness for increased re-treatment which will lead to MDR, where MDR is clearly affecting TB patients’ quality of life. Afterward, an idea to create an ATD delivery to patients’ homes was executed, it is called Active Case Treat- ment (ACT). Method: This study was a Quasy Experimental Research with a prospective design. Conducted in 16 Puskesmas with default rate more than 5% and conversion rate less than 80% in 2009. Begin in September until November 2010, using total sampling technique. The sample was all lung TB patients who came for treatment in September 2010, with criteria were: new case, 15-50 years of age, did not suffer HIV and Diabe- tes Mellitus, was not malnourished, and was not allergic to ATD. Data collection was done through interview, filling ques- tionnaires and exploring documents. Then followed the calcu- lation of the total cost (direct and indirect cost) and Quality of Life (QoL) of both PCT and ACT. Later, total cost was com- pared to QoL, the lesser amount was considered more cost effective. Result: Research result showed that to increase 1 scale of Quality of Life (QoL) of PCT needed an amount of IDR. 35,295.00, while to increase 1 QoL scale ACT was IDR 14,377.00. ACT was smaller than PCT. Conclution: Conclusion derived from the result was that ACT is more cost effective than PCT. Recommendation to be pre- sented is to endorse lung TB treatment with ACT in Jember Regency particularly in Puskesmas with the same character- istics with this research.Latar belakang: Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi mikrobakterium tuberkulosis. Bila terinfeksi, diperkira- kan akan kehilangan waktu kerja 3-4 bulan dan berkurangnya pendapatan 20-30% pertahun. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penu- laran TB dengan intervensi yang tepat. Pengobatan TB di Kabu- paten Jember dilakukan dengan cara Pasive Case Treatment (PCT), yang mengharuskan pasien datang ke puskesmas untuk mengambil OAT pada hari dan jam yang telah ditentukan. Cara ini ternyata kurang efektif yang ditandai dengan meningkatnya default selama 3 tahun yaitu: 2007= 5.08%, 2008= 5.14% dan 2009= 6.18%, yang diikuti dengan menurunnya conversion rate selama 3 tahun, yaitu; 2007= 95.26%, 2008= 93.09% dan 2009= 92.08%. Hal ini akan meningkatkan kasus re-treatment yang berakibat munculnya MDR (Multidrugs resistance) dan juga akan mempengaruhi kualitas hidup penderita TB. Kemudian muncul ide untuk menciptakan cara penggobatan dengan meng- antar OAT ke rumah penderita yang dilakukan oleh kader kese- hatan, yang diistilahkan dengan Active Case Treatment (ACT). Metode: Penelitian ini merupakan Quasy Experimental Re- search dengan rancangan prospektif. Dilakukan di 16 Puskes- mas di Kabupaten Jember yang memiliki angka default lebih dari 5% dan conversion rate kurang dari 80% pada tahun 2009. Dilakukan pada awal September sampai akhir Nopember 2010. Sampelnya adalah seluruh pasien TB Paru yang berobat pada bulan september 2010 dengan kriteria; kasus baru, usia 15-50 tahun, tidak HIV dan diabetes, tidak malnutrisi, dan tidak alergi terhadap OAT. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner dan penelusuran doku- men. Selanjutnya menghitung biaya total (biaya langsung dan biaya tidak langsung) dan tingkat kualitas hidup penderita TB dari kedua cara pengobatan (PCT dan ACT). Kemudian memban- dingkan antara total cost dengan tingkat kualitas hidup. Angka yang lebih kecil menunjukkan lebih cost effective. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menaikkan 1 skala Qol dengan cara PCT dibutuhkan dana sebesar Rp. 35,295.00. Sedangkan untuk menaikkan 1 skala Qol dengan cara ACT membutuhkan dana sebesar Rp. 14,377.00. Cara ACT membutuhkan dana lebih kecil dibanding PCT. Kesimpulan: Dari hasil tersebut diatas maka dapat diambil kesimpulan akhir bahwa pengobatan TB paru cara ACT lebih cost effective dibanding dengan pengobatan TB paru cara PCT. Dengan demikian, rekomendasi yang diusulkan adalah memberlakukan pengobatan TB Paru dengan cara ACT di Kabu- paten Jember terutama pada wilayah puskesmas yang memiliki karateristik yang sama dengan penelitian ini.