cover
Contact Name
Retno Winarni
Contact Email
retno.winarni@unej.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Publika Budaya
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Terbit tiga kali dalam setahun pada bulan Maret, Juli, November. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil karya ilmiah mahasiswa yang berupa gagasan konseptual, kajian dan aplikasi teori dari karya ilmiah skripsi mahasiswa gelar S-1 di Bidang Budaya dan Media
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2015): Juli" : 7 Documents clear
PUISI-PUISI LANGSTON HUGHES TERPILIH DALAM PERSPEKTIF RIFFATERRE Nova Munawaratul Riana; Moch Ilham; Hat pujiati
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji signifikansi tiga puisi terpilih Hughes yang berjudul The Mother to Son, Trumpet Player dan The Negro Speaks of Rivers dengan menggunakan teori Michael Riffaterre yakni semiotika puisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan signifikansi dari tiga puisi tersebut. Riffaterre menyatakan bahwa puisi memberi kesan yang tidak langsung. Ketidak langsungan kesan tersebut diproduksi oleh pergantian makna, pergeseran makna dan pembuatan makna. Untuk menemukan makna dari puisi, kami menggunakan metode analisis yang dihadirkan oleh Riffaterre yakni pembacaan heuristik and hermeneutik. Pembacaan heuristik diaplikasikan untuk menemukan arti dari kamus. Dalam pembacaan heuristik, kami akan menemukan arti, model dan varian. Pembacaan hermeneutik adalah proses semiotika yang ada pada pemikiran pembaca dan di pembacaan inilah kami menemukan matrik, hipogram dan makna signifikansi. Makna signifikansi dari tiga puisi Hughes adalah sebuah pemikiran liberalisme. Liberalisme terdiri dari kebebasan dan keadilan individu dalam masyarakat.
Life of Pi: Pemunculan Realisme Magis dan Penghapusan Dunia-Dunia Rizka Septiana; Hat Pujiati Pujiati; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas kemunculan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia sebagai strategi narasi dalam memunculkan aspek posmodernisme dalam novel Life of Pi. Artikel ini menyuguhkan tiga pertanyaan yang sekaligus menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini. Pertama, artikel ini memperlihatkan bagaimana realisme magis dimunculkan dalam novel Life of Pi karya Yann Martel. Kedua, artikel ini menunjukkan bagaimana dunia-dunia mengalami penghapusan di dalam novel tersebut. Terakhir, artikel ini menjelaskan gambaran kultur posmodernisme yang muncul melalui penggunaan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia sebagai strategi narasi dalam novel Life of Pi. Penelitian ini menggunakan perspektif posmodernis dalam menguji pembangunan dunia-dunia dan kemunculan realisme magis berdasarkan teori McHale. Penelitian ini dikelompokkan ke dalam penelitian kualitatif. Metode dokumenter digunakan untuk mengumpulkan data, sementara metode induktif digunakan untuk menganalisis novel tersebut. Setelah menganalisis novel tersebut, kami menemukan bahwa dengan memunculkan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia, Life of Pi telah menghadirkan permasalahan ontologis yang merupakan ciri dari karya posmodernis. Selain itu, kami juga menemukan bahwa melalui kemunculan realisme magis dan penghapusan dunia sebagai strategi narasi dalam novel Life of Pi, Yann Martel menggambarkan kultur posmodernis yang disebut "anything goes"
PHILANTHROPISM IN CHARLES DICKENS’S A CHRISTMAS CAROL: A GENETIC STRUCTURALISM ANALYSIS Fachriza Amalia Rakhman; Eko Suwargono; Meilia Adiana
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKArtikel ini menganalisis tentang pandangan dunia Charles Dickens yang terdapat dalam karyanya yang berjudul A Christmas Carol. Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan pandangan dunia yang dimiliki oleh Charles Dickens serta tujuan Charles Dickens memasukkan pandangan dunianya tersebut ke dalam karyanya. Selain itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang menyebabkan Charles Dickens memiliki pandangan dunia tersebut. Penelitian ini menggunakan teori Lucien Goldmann tentang Strukturalisme Genetik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam melakukan penelitian ini, dilakukan beberapa tahapan. Tahapan pertama yaitu mengumpulkan data yang berkaitan dengan topik bahasan. Tahapan yang ke dua adalah mengklasifikasi data yang telah dikumpulkan sesuai dengan topik bahasan dan teori strukturalisme genetik. Tahapan yang ketiga yaitu menganalisis data yang telah terklasifikasi tersebut dengan menggunakan teori strukturalisme genetik. Dari analisis tersebut dihasilkan kesimpulan yang menunjukkan bahwa Charles Dickens memiliki pandangan dunia pilantropisme. Pandangan dunia yang terdapat dalam karyanya tersebut muncul karena masa kecil Charles Dickens yang menyedihkan, keadaan orang-orang miskin di Inggris yang sangat memprihatinkan serta agama yang dianutnya. Tujuannya menciptakan novela ini adalah untuk mengembalikan keseimbangan antara dirinya dengan lingkungannya. Ttujuan dimasukkannya pandangan dunia ini dalam karyanya adalah untuk menyadarkan para kaum atas akan pentingnya berbagi dan cinta sesama sehingga tidak ada jarak antara mereka dan orang-orang miskin. Selain itu, Dickens ingin mengembalikan moral manusia yang mengalami kemunduran akibat kapitalisme.
KEHIDUPAN DIASPORA DALAM NOVEL THE BEAUTIFUL THINGS THAT HEAVEN BEARS KARYA DINAW MENGESTU Yuyun Wahyuni; Ikwan Setiawan; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakThe Beautiful Things That Heaven Bears adalah novel pertama dari Dinaw Mengestu yang menggambarkan kondisi komunitas diaspora Afrika di Amerika Serikat. Pengarang melukiskan kesulitan-kesulitan yang hadapi oleh subjek diaspora dari Ethiopia yang hidup di Amerika Serikat yang terinsspirasi dari pengalamannya karena dia juga merupakan bagian dari komunitas diaspora. Pembahasan ini diharapkan mampu untuk mengatahui kondisi dari subjek diaspora Afrika di Amerika Serikat, rintangan-rintangan yang mereka hadapi dan strategi bertahan yang mereka terapkan dengan tujuan untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat dominan. Permasalahan-permasalahan tersebut akan dianalisa melalui teori poskolonial tentang hibriditas dari Homi K. Bhabha. Teori ini sesuai untuk mendiskusikan topik pembahasan karena hidup dalam diaspora menyebabkan masyarakat to memiliki identitas ganda. Di samping itu, analisis poskolonial tidak hanya membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan negara penjanjah dan negara jajahan, tetapi juga dapat diterapkan untuk membahas hubungan antara masyarakat minoritas dan mayoritas. Hasil dari pembahasan ini menujukkan bahwa menjadi hibrid di tengah-tengah budaya dominan bagi subjek-subjek diaspora adalah suatu keharusan dengan tujuan agar dapat diterima oleh masyarakat dominan. Dalam pembahasan ini menjadi hibrid berarti subjek diaspora dapat mengadaptasi budaya dominan tanpa kehilangan budaya lokal seluruhnya. Konstruksi hibriditas dalam kasus ini menjadikan budaya Amerika sebagai yang lebih dominan dan orientasi ideal bagi subjek diaspora yang direpresentasikan dalam novel. The Beautiful Things That Heaven Bears adalah suara dari Mengestu untuk menyampaikan bagaimana kondisi subjek diaspora Africa di Amerika Serikat.
HIPERREALITAS DALAM NOVEL CYBERPUNK FREE TO FALL KARYA LAUREN MILLER Rahina Manik Wanodya; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakFree To Fall adalah sebuah novel cyberpunk yang ditulis oleh Lauren Miller. Sebagai sebuah novel cyberpunk, Free To Fall mengambil beberapa poin dari fiksi ilmiah dan fiksi postmodern. Novel ini berhubungan dengan teknologi dan efek dari teknologi yaitu hiperrealitas. Hiperrealitas adalah sebuah fenomena yang menyebabkan keterputusan antara yang asli dan tiruan. Hiperrealitas adalah topik utama dalam analisis ini. Analisis ini menggunakan metode analisis kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah tentang informasi yang berhubungan dengan hiperrealitas di Free To Fall, informasi tentang Paradise Lost, dan kondisi Amerika saat ini terkait dengan perkembangan teknologi. Diskusi dimulai dengan analisis konstruksi fiksi cyberpunk yang menuntun pada diskusi tentang hiperrealitas. Dalam menganalisis hiperrealitas di Free To Fall, teori hiperrealitas oleh Baudrillard digunakan untuk menganalisis perubahan imaji tentang teknologi di dalam novel. diskusi berlanjut untuk menganalisis intertekstualitas antara Free To Fall dan Paradise Lost oleh John Milton. Selanjutnya, analisis ini juga mendiskusikan tentang kondisi Amerika yang digunakan untuk menunjukkan hubungan antara hiperrealitas di Free To Fall dan Amerika. Hasilnya, teknologi telah mengaburkan realitas dan membawa orang-orang menuju realitas buatan. Analisis tentang hiperrealitas menunjukkan bahwa terdapat simulasi dari simulasi di dalam Free To Fall. Selain itu, hiperrealitas di Amerika menunjukkan bahwa orang-orang Amerika menggunakan teknologi untuk menciptakan surga mereka sendiri dimana mereka mendapatkan kebahagiaan.
REPRESENTASI WACANA FANDOM DALAM NOVEL FANGIRL KARYA RAINBOW ROWELL Hat Pujiati; Irana Astutiningsih; Maya Novita Sari
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMelalui Fangirl, Rowell menyampaikan fenomena fandom dalam dua sudut pandang. Di satu sisi dia menunjukan pandangan seorang fan yang menilai fandom sebagai kegiatan yang wajar dan dia juga menunjukan gambaran orang-orang yang memberi penilaian buruk terhadap fandom. Wacana fandom di dalam novel dibentuk melalui karakter fiksi. Di dalam novel Fangirl terdapat pemeran utama dan pemeran pendukung yang memiliki perbedaan pandangan dalam menginterpretasikan sebuah teks. Teori representasi dan encoding/decoding oleh Stuart Hall diaplikasikan untuk menganalisa wacana fandom di dalam novel. Di dalam novel Fangirl, Rowell menunjukkan bahwa maksud dari sebuah teks tidak hanya dibentuk oleh satu pihak atau penulis saja tetapi juga bisa dibentuk oleh pembaca. Sebuah makna dibentuk melalui representasi wacana itu sendiri. Untuk menunjukan wacana fandom di dalam novel Fangirl, penelitian ini merangkum posisi karakter menjadi tiga grup sesuai dengan teori Hall yaitu posisi hegemoni dominan, negosiasi dan oposisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahawa novel Fangirl merepresentasikan ketiga posisi proses decoding. Konstruksi wacana fandom di dalam novel memiliki keterkaitan dengan pemikiran masyarakat Amerika tentang fandom; sebagian dari mereka menolak dan sebagian menerima. Disisi lain penulis Fangirl meletakkan novel sebagai produk asli yang lebih layak untuk di apresiasi dibandingkan produk dari fan terutama fan fiction. Rowell mengembalikan lagi hal tersebut kepada hirarkinya bahwa posisi budaya subordinasi masih dibawah budaya populer.
JOHN STEINBECK’S WORLD VIEW ON MASCULINITY OF THE MALE CHARACTERS IN OF MICE AND MEN Rahmat Ade Darmawan; Eko Suwargono; Meilia Adiana
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literary works can be said as the representation of human life. John Steinbeck’s Of Mice and Men is the novella that brings the issues about agricultural worker, especially ranch worker. Most of the characters in Of Mice and Men are men. It shows strong sense of masculinity of ranch workers at that time that John Steinbeck tried to show as the response of the social condition in America especially in ranch worker society. The purpose of this research is to understand John Steinbeck’s world view on masculinity of the male characters in Of Mice and Men by analyzing the America’s condition in Of Mice and Men and America’s condition around 1937. The analyzing process uses Lucien Goldman’s genetic structuralism to find the author’s world view. The research uses qualitative data that that is categorized into two kinds. There are primary data and secondary data. Primary data are taken from the novella Of Mice and Men and the secondary data are taken from thesis, books, and internet material related with John Steinbeck historical background, genetic structuralism, some previous researches and masculinity. The result of this research shows that John Steinbeck as the author of Of Mice and Men has the same tendency with worker class point of view in seeing a phenomenon related with the transition of masculinity in mid-nineteenth until early twentieth. It is showed by worker-class masculinity’s traits found in the male characters in Of Mice and Men. There are physical power, using outfit that is related with jeans and denim and using verbal abuse in daily communication. Keywords: genetic structuralism, world view, male characters, masculinity, historical background

Page 1 of 1 | Total Record : 7