Irana Astutiningsih
English Department, Faculty Of Humanities, Universitas Jember Jln.Kalimantan 37, Jember 68121

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

LOOKING INTO CYBER SPACE :FAN FICTION ONLINE AS A CREATIVE WRITING Astutiningsih, Irana
Jurnal Pengembangan Pendidikan Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Pengembangan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.345 KB)

Abstract

Abstract. Artikel ini ditulis sebagai upayamenawarkan strategi pembelajaran creative writing melalui penulisan fiksi dimedia internet. Sebagai media yang menciptakan ruang cyber, ruang maya yangmenawarkan anonimitas dan ‘kebebasan’, media ini memungkinkan siapapun untukberpartisipasi didalamnya tidak sekedar sebagai konsumen teks, namun sekaligussebagai produsen aktif. Situs  www.fanfiction.net adalah salah satu situs yang marakdengan karya fiksi penulis non profesional yang lazim disebut fanfiction. Dalamsitus ini, para penulis fanfiction bebas berkreativitas melalui tulisan merekatanpa diketahui identitas aslinya.  Dalamkonteks ini, ruang cyber dan fan ficton dapat dipahami sebagai satu alternatifstrategi pembelajaran creative writing yang cukup efektif. Key words: mediainternet, ruang cyber,fan fiction, creative writing
SEARCHING CULTURAL IDENTITY IN YANN MARTEL’S LIFE OF PI PENCARIAN IDENTITAS KULTURAL DI DALAM NOVEL LIFE OF PI KARYA YANN MARTEL Wulandari, Ferina Tri; Sutarto, Sutarto; Astutiningsih, Irana
Publika Budaya Vol 2, No 3 (2014): Nopember
Publisher : Publika Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.59 KB)

Abstract

Life of Pi adalah novel yang ditulis oleh Yann Martel. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda bernama Piscine Patel yang hidup di ruang antara. Dia tidak bisa memilih apakah dia orang Timur atau Barat, Kanada atau India. Penelitian ini berfokus pada identitas kultural, suatu hal yang tidak dimiliki langsung sejak lahir. Identitas kultural selalu berproses. Penelitian ini disusun dengan menggunakan cara deskriptif dan penelitian kualitatif untuk mengartikan dan menganalisa yang berhubungan dengan isu postkolonial terutama dalam hal identitas. Sumber utama pengambilan data adalah informasi sumber data dan fakta tentang isu postkolonial melalui perwujudan watak dan peristiwa yang terpilih didalam Life of Pi yang berhubungan dengan identitas dan sumber lain seperti jurnal, thesis, internet, dan buku untuk membantu pengumpulan data. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengartikan konsep dari negara berbangsa di saat tidak adanya identitas yang pasti dan untuk mendapatkan pengertian bahwa tidak ada lagi yang lebih hebat antara Timur dan Barat semenjak Kanada sebagai tanah yang menjanjikan terpatahkan. Kata kunci: postkolonial Homi Bhabha, identitas budaya, Yann Martel. ABSTRACT Life of Pi is a novel written by Yann Martel. This novel tells a story of a young indian boy named Piscine Patel who lives "in-between". He does not choose whether he is east or west, Canada or India. This research is focused on cultural identity which is not something already exist. It is always on going process. This research is conducted by using qualitative research and descriptive way to interpret and analyze the data that relates with postcolonial issue especially in identity. The main source of the data is the fact and information about postcolonial issue through selected event and characterization in the Life of Pi which related on identity and other sources such as jurnal, thesis, internet, and the book to help collecting the data. The goals of this research are; to interpret the concepts of nation-state since there is no fixed identity and to get understanding that there is no more superior between West and East since Canada as the promising land is rejected. Keywords : Postcolonial Homi Bhabha, cultural identity, Yann Martel.
ANTI CAPITALISM THROUGH THE ADOPTION OF SOCIALIST IDEOLOGY SEEN IN JOHN STEINBECK’S THE GRAPES OF WRATH PANDANGAN ANTI KAPITALISME MELALUI ADOPSI IDEOLOGI SOSIALIS DALAM NOVEL THE GRAPES OF WRATH KARYA JOHN STEINBECK Selyandita, Silviana; Basuki, Imam; Astutiningsih, Irana
Publika Budaya Vol 2, No 3 (2014): Nopember
Publisher : Publika Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.778 KB)

Abstract

Through The Grapes of Wrath, Steinbeck shows his idea to protest against bourgeois class. He tells about the bad conditions faced by migrant workers in California. This novel is announcing that a worldwide of proletariat’s consciousness is in the process of formation for socialism. This consequence means that this novel connotatively saves the rejection of capitalism. Therefore, seen from this rejection and its involvement to portrait social conflict, this novel can be included as the part of social realism genre. To analyse this novel, Marx’s theory is applied. On Marxist perspective, Steinbeck’s novel is categorized as the superstructure basis. It is because this novel gives a portrait about the change of social system because of economic system called capitalism. As the part of social realism genre, however, Steinbeck applies Marx’s intention about the idea of socialism. He considers that there is a need for universal kinship to overcome this mass oppression occurred by capitalist class. This universal kinship will point to class struggle where at the end of the struggle, it emerges classless society. Keywords: Capitalism, Socialism, Universal Kinship ABTRAK Melalui The Grapes of Wrath, Steinbeck menunjukan kritiknya terhadap kelas borjuis. Ia menceritakan bagaimana kehidupan pekerja migran di California mendapat perlakuan begitu buruk. Karena itu, novel ini menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi tindak-tindak opresif akibat sistem kapitalisme. Menurut Steinbeck salah satu caranya adalah dengan membentuk kesadaran kelas yang berujung pada terbentuknya sistem sosialisme. Dari sini juga, dapat diketahui bila novel ini termasuk dalam kategori novel realism social. Untuk itulah, teori Marxis digunakan untuk menyelidiki konsep-konsep sosialisme yang ditawarkan Steinbeck dalam novelnya. Ia ingin menunjukan bahwa kapitalisme dapat di atasi dengan adanya kesadaran kelas, dimana kelas proletar menyadari posisinya terhadap kelas borjuis. Kesadaran ini kemudian akan membawa sebuah rasa persaudaraan yang universal antar kelas proletar. Di titik inilah, serangan terhadap sistem kapitalisme dapat dimulai dengan memunculkan sebuah perjuangan kelas. Muara dari semua ini pada hakikatnya adalah menuju suatu masyarakat tanpa kelas. Kata Kunci: Kapitalisme, Persaudaraan Universal, Sosialisme
LOOKING INTO CYBER SPACE :FAN FICTION ONLINE AS A CREATIVE WRITING Astutiningsih, Irana
Jurnal Pengembangan Pendidikan Vol 9 No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Pengembangan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Artikel ini ditulis sebagai upayamenawarkan strategi pembelajaran creative writing melalui penulisan fiksi dimedia internet. Sebagai media yang menciptakan ruang cyber, ruang maya yangmenawarkan anonimitas dan ‘kebebasan’, media ini memungkinkan siapapun untukberpartisipasi didalamnya tidak sekedar sebagai konsumen teks, namun sekaligussebagai produsen aktif. Situs  www.fanfiction.net adalah salah satu situs yang marakdengan karya fiksi penulis non profesional yang lazim disebut fanfiction. Dalamsitus ini, para penulis fanfiction bebas berkreativitas melalui tulisan merekatanpa diketahui identitas aslinya.  Dalamkonteks ini, ruang cyber dan fan ficton dapat dipahami sebagai satu alternatifstrategi pembelajaran creative writing yang cukup efektif. Key words: mediainternet, ruang cyber,fan fiction, creative writing
Life of Pi: Pemunculan Realisme Magis dan Penghapusan Dunia-Dunia Rizka Septiana; Hat Pujiati Pujiati; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas kemunculan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia sebagai strategi narasi dalam memunculkan aspek posmodernisme dalam novel Life of Pi. Artikel ini menyuguhkan tiga pertanyaan yang sekaligus menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini. Pertama, artikel ini memperlihatkan bagaimana realisme magis dimunculkan dalam novel Life of Pi karya Yann Martel. Kedua, artikel ini menunjukkan bagaimana dunia-dunia mengalami penghapusan di dalam novel tersebut. Terakhir, artikel ini menjelaskan gambaran kultur posmodernisme yang muncul melalui penggunaan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia sebagai strategi narasi dalam novel Life of Pi. Penelitian ini menggunakan perspektif posmodernis dalam menguji pembangunan dunia-dunia dan kemunculan realisme magis berdasarkan teori McHale. Penelitian ini dikelompokkan ke dalam penelitian kualitatif. Metode dokumenter digunakan untuk mengumpulkan data, sementara metode induktif digunakan untuk menganalisis novel tersebut. Setelah menganalisis novel tersebut, kami menemukan bahwa dengan memunculkan realisme magis dan penghapusan dunia-dunia, Life of Pi telah menghadirkan permasalahan ontologis yang merupakan ciri dari karya posmodernis. Selain itu, kami juga menemukan bahwa melalui kemunculan realisme magis dan penghapusan dunia sebagai strategi narasi dalam novel Life of Pi, Yann Martel menggambarkan kultur posmodernis yang disebut "anything goes"
KONSTRUKSI MEDIA TERHADAP SOSOK TOKOH PAHLAWAN PEREMPUAN DALAM NOVEL MOCKINGJAY KARYA SUZANNE COLLINS Dea Felycia; Irana Astutiningsih; L Dyah Purwita WSWW
Publika Budaya Vol 6 No 2 (2018): Publika Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/pb.v6i2.8706

Abstract

Abstrak Kajian ini mencoba untuk menganalisa tentang konstruksi media terhadap sosok tokoh pahlawan perempuan dalam karya Suzanne Collins di novel Mockingjay. Di novel Mockingjay, televisi merupakan media yang mengkonstruksi wacana tentang sosok tokoh pahlawan perempuan. Kajian ini berfokus pada konstruksi dari sosok tokoh pahlawan perempuan televisi di Distrik 13. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menemukan wacana tentang sosok tokoh pahlawan perempuan di dalam novel untuk memperoleh pengertian tentang konstrusksi media terhadap sosok tokoh pahlawan prerempuan. Kajian ini menggunakan teori representasi dengan model diskursif dari Stuart Hall. Model ini menekankan pada konstruksi tentang wacana sosok tokoh pahlawan perempuan. Hal ini berhubungan dengan kondisi kontekstual tentang konstruksi media di Amerika. Dalam hal ini, kondisi kontekstual yang berhubungan dengan konstruksi realitas melalui realitas televisi Amerika. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Katniss digambarkan sebagai sosok tokoh pahlawan perempuan yang dikonstruksi oleh televisi. Tujuan dari pengkonstruksian ini adalah untuk melawan Capitol dan otoritas Snow sebagai kekuatan dominan. Model konstruksi ini juga berjalin-kelindan dengan perkembangan reality TV yang sangat mempengaruhi pola pikir penonton terkait representasi ideal dalam kehidupan. Kata Kunci: konstruksi, televisi, tokoh pahlawan perempuan, Mockingjay.
SEARCHING CULTURAL IDENTITY IN YANN MARTEL’S LIFE OF PI PENCARIAN IDENTITAS KULTURAL DI DALAM NOVEL LIFE OF PI KARYA YANN MARTEL Ferina Tri Wulandari; Sutarto Sutarto; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 2 No 3 (2014): Nopember
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Life of Pi adalah novel yang ditulis oleh Yann Martel. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda bernama Piscine Patel yang hidup di ruang antara. Dia tidak bisa memilih apakah dia orang Timur atau Barat, Kanada atau India. Penelitian ini berfokus pada identitas kultural, suatu hal yang tidak dimiliki langsung sejak lahir. Identitas kultural selalu berproses. Penelitian ini disusun dengan menggunakan cara deskriptif dan penelitian kualitatif untuk mengartikan dan menganalisa yang berhubungan dengan isu postkolonial terutama dalam hal identitas. Sumber utama pengambilan data adalah informasi sumber data dan fakta tentang isu postkolonial melalui perwujudan watak dan peristiwa yang terpilih didalam Life of Pi yang berhubungan dengan identitas dan sumber lain seperti jurnal, thesis, internet, dan buku untuk membantu pengumpulan data. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengartikan konsep dari negara berbangsa di saat tidak adanya identitas yang pasti dan untuk mendapatkan pengertian bahwa tidak ada lagi yang lebih hebat antara Timur dan Barat semenjak Kanada sebagai tanah yang menjanjikan terpatahkan. Kata kunci: postkolonial Homi Bhabha, identitas budaya, Yann Martel. ABSTRACT Life of Pi is a novel written by Yann Martel. This novel tells a story of a young indian boy named Piscine Patel who lives "in-between". He does not choose whether he is east or west, Canada or India. This research is focused on cultural identity which is not something already exist. It is always on going process. This research is conducted by using qualitative research and descriptive way to interpret and analyze the data that relates with postcolonial issue especially in identity. The main source of the data is the fact and information about postcolonial issue through selected event and characterization in the Life of Pi which related on identity and other sources such as jurnal, thesis, internet, and the book to help collecting the data. The goals of this research are; to interpret the concepts of nation-state since there is no fixed identity and to get understanding that there is no more superior between West and East since Canada as the promising land is rejected. Keywords : Postcolonial Homi Bhabha, cultural identity, Yann Martel.
YOUNG JU’S HYBRID IDENTITY IN AN NA’S A STEP FROM HEAVEN M. Fadlil Abdillah; Eko Suwargono; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/pb.v5i2.6154

Abstract

AbstractThis study discusses hybrid identity problem experienced by the main character, Young Ju, in A Step from Heaven. As a diasporic subject, she has to face some problems related to her identity. Her effort to survive among the differences of two different cultures (South Korea/eastern and America/western) is the main problem this study. Besides, the violence of her father becomes a barrier to her adaptation process in the new environment. For that reason, the problems are analyzed in this study using theory of hybridity by Homi K. Bhabha. The result of this study shows that to survive in a place with many differences especially it has relation to identity and culture, Young Ju needs to adopt some cultures that consider can give advantage in order to survive without losing the old culture. Then, this process leads her to be hybrid subject. By having the hybrid identity, it means that her hard work to accustom with the host society is running smoothly.
KEHIDUPAN DIASPORA DALAM NOVEL THE BEAUTIFUL THINGS THAT HEAVEN BEARS KARYA DINAW MENGESTU Yuyun Wahyuni; Ikwan Setiawan; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakThe Beautiful Things That Heaven Bears adalah novel pertama dari Dinaw Mengestu yang menggambarkan kondisi komunitas diaspora Afrika di Amerika Serikat. Pengarang melukiskan kesulitan-kesulitan yang hadapi oleh subjek diaspora dari Ethiopia yang hidup di Amerika Serikat yang terinsspirasi dari pengalamannya karena dia juga merupakan bagian dari komunitas diaspora. Pembahasan ini diharapkan mampu untuk mengatahui kondisi dari subjek diaspora Afrika di Amerika Serikat, rintangan-rintangan yang mereka hadapi dan strategi bertahan yang mereka terapkan dengan tujuan untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat dominan. Permasalahan-permasalahan tersebut akan dianalisa melalui teori poskolonial tentang hibriditas dari Homi K. Bhabha. Teori ini sesuai untuk mendiskusikan topik pembahasan karena hidup dalam diaspora menyebabkan masyarakat to memiliki identitas ganda. Di samping itu, analisis poskolonial tidak hanya membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan negara penjanjah dan negara jajahan, tetapi juga dapat diterapkan untuk membahas hubungan antara masyarakat minoritas dan mayoritas. Hasil dari pembahasan ini menujukkan bahwa menjadi hibrid di tengah-tengah budaya dominan bagi subjek-subjek diaspora adalah suatu keharusan dengan tujuan agar dapat diterima oleh masyarakat dominan. Dalam pembahasan ini menjadi hibrid berarti subjek diaspora dapat mengadaptasi budaya dominan tanpa kehilangan budaya lokal seluruhnya. Konstruksi hibriditas dalam kasus ini menjadikan budaya Amerika sebagai yang lebih dominan dan orientasi ideal bagi subjek diaspora yang direpresentasikan dalam novel. The Beautiful Things That Heaven Bears adalah suara dari Mengestu untuk menyampaikan bagaimana kondisi subjek diaspora Africa di Amerika Serikat.
GAYA BERPAKAIAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS DALAM NOVEL THE HUNGER GAMES KARYA SUZANNE COLLINS Gayuh Wahyu Utami; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
Publika Budaya Vol 6 No 2 (2018): Publika Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/pb.v6i2.8708

Abstract

Abstrak Kajian ini menganalisa gaya berbusana para tokoh dalam novel ‘The Hunger Games’ yang memiliki kecenderungan dalam menggunakan gaya berbusana sebagai alat untuk membentuk identitas seseorang ataupun identitas sebuah kelompok tertentu. Kajian ini fokus pada pembentukan identitas melalui gaya berbusana dan juga untuk mengetahui ideologi di balik gaya berbusana para tokoh ‘The Hunger Game’. Kajian ini menggunakan teori representasi dari Stuart Hall dengan pendekatan semiotika mitologi dari Roland Barthes. Roland Barthes menekankan bahwa proses penandaan berfungsi untuk menaturalisasikan ideologi tertentu dalam masyarakat. Sehingga pendekatan ini sesuai untuk diaplikasikan dalam proses menemukan ideologi di balik gaya berbusana para tokoh ‘The Hunger Games’. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga ideologi dibalik gaya berbusana para tokoh tersebut. Pertama pemberontakan terhadap budaya popular. Kedua objektifikasi yang mengarah pada dominasi sistem patriarki. Ketiga dominasi sistem kapitalis. Analisa lebih lanjut menunjukkan bahwa melalui novel ini penulis ingin mengkritik gaya hidup masyarakat moderen yang sangat bergantung pada kemajuan teknologi untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup dan juga bahaya dari kemajuan teknologi jika dikendalikan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab dan hanya ingin mendapatkan keuntungan dari kurangnya pemahaman dalam penggunaan teknologi tingkat tinggi tersebut. Kata Kunci: Gaya berbusana, Fashion dan Pembentukan identitas, Kapitalisme, The Hunger Games.