cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016)" : 83 Documents clear
THE FLOUTING OF GRICEAN MAXIMS IN CONVERSATION AMONG THE CHARACTERS IN HOTEL TRANSYLVANIA 2 MOVIE: A PRAGMATIC ANALYSIS ., Ni Putu Astri Pradnyandari; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8731

Abstract

Abstrak Penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan pelanggaran maksim di film Hotel Transylvania 2. Tiga teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu teknik observasi, menyeleksi data, dan mencatat informasi penting. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis tindak tutur ditemukan di dalam percakapan, yaitu representative, direktif, komisif, dan ekspresif dan empat jenis pelanggaran maksim: pelanggaran maksim kuantitas, pelanggaran maksim kualitas, pelanggaran maksim relasi dan pelanggaran maksim cara. Terdapat enam alasan ditemukan dalam percakapan, yaitu untuk meyakinkan penerima, untuk menanyakan sesuatu, untuk menekankan sesuatu, untuk memberitahu sesuatu, untuk mengajak seseorang, untuk menolak sesuatu, dan untuk mengekspresikan perasaan. Kata Kunci : Kata Kunci: alasan, pelanggaran maksim, tindak tutur Abstract This study was designed in form of descriptive qualitative study with the aim of describing the flouting maxims in Hotel Transylvania 2 movie. Three techniques were used to collect the data, namely observation technique, selecting the data, and take a note the important information. The results of the study indicate that there are four kinds of speech acts found in the conversation, namely Representatives, Directives, Commisives, and Expressives and four kinds of flouting maxim: flouting maxim of quality, flouting maxim of quantity, flouting maxim of relevance, and flouting maxim of manner. There are six motives found in the conversation, namely to convince the addressee, to ask something, to stress something, to tell something, to invite someone, to reject something, and to express the feeling. keyword : Keywords: flouting maxims, motives, speech acts
DEVELOPING A LOCAL CULTURE-BASED PICTURE STORYBOOK IN THE FORM OF MYTH FOR YOUNG LEARNERS ., Ni Putu Puspita Selly Aryati; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8746

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku cerita bergambar berbasis budaya lokal dalam bentuk mitos untuk peserta didik muda. Budaya lokal yang dirujuk adalah kesusastraan Bali dalam bentuk mitos. Penelitian ini menggunakan kerangka penelitian dan pengembangan yang diusulkan oleh Sugiyono (2014). Produk dikembangkan dengan menggabungkan karakteristik peserta didik muda dan kriteria buku cerita bergambar yang baik. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah buku cerita bergambar berjudul “Kala Rau dan Asal-Mula Gerhana”. Isi buku cerita bergambar tersebut divalidasi oleh dua ahli dengan hasil adalah 1.00 yang menunjukkan validitas sangat tinggi dan telah memenuhi seluruh kriteria buku cerita bergambar yang baik. Selain itu, dari segi kualitas, hasil yang diperoleh adalah 4.75 yang menandakan bahwa buku cerita bergambar tersebut dapat dikategorikan sangat baik. Dengan demikian, produk ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan tambahan untuk kesenangan bagi peserta didik muda.Kata Kunci : budaya lokal, mitos, buku cerita bergambar This study aimed at developing a local culture-based picture storybook in the form of myth for elementary school students. The local culture referred to is Balinese literature in the form of myth. It used research and development framework proposed by Sugiyono (2014). The product was developed by combining characteristics of young learners and the criteria of good picture storybook. The result of this research is the picture storybook entitled “Kala Rau and the Origin of Eclipses”. The picture storybook was validated its content validity by two experts and the result of validation was 1.00 which means very high validity and had met all of the criteria of good picture storybook. Moreover, in terms of quality, the result was 4.75 which signified that the picture storybook was categorized as excellent. Thus, this product can be used as a supplementary reading for pleasure material for young learners.keyword : local culture, myth, picture storybook
AFFIXATION OF KUTUH DIALECT: A DESCRIPTIVE STUDY OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL PROCESSES ., Kadek Prajinggo Patrya; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8751

Abstract

Penelitian ini berbentuk kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran dalam dialek Kutuh yang mengalami proses infleksi and derivasi. Ada tiga informan dipilih berdasarkan kriteria yang ada. Tiga teknikdigunakan untuk mengumpulkan data yaitu: observasi, perekaman, dan teknik wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam awalan dan enam akhiran ada dalam dialek Kutuh. Awalannya adalah {N-}, {me-}, {ka-}, {pe-}, {a-} and {maka-}. Sedangkan akhirannya adalah {-ang}, {-in}, {-an}, {-o}, {-e} and {-nyo}. Awalan yang mengalami proses derivasi adalah {N-}, {me-}, {ka-} and {pe-} sedangkan akhirannya {-ang}, {-an} and {-in}. Jumlah imbuhan dalam dialek Kutuh yang mengalami proses infleksi adalah empat awalan dan enam akhiran. Awalan tersebut adalah {N-}, {me-}, {a-} and {maka-}. Sedangkan Akhirannya adalah {-ang}, {-an}, {-o}, {in}, {-e} and {- nyo}. Kata Kunci : awalan dan akhiran derivasi, awalan dan akhiran infleksi, dialek Kutuh This study was a descriptive qualitative research. The study aimed at describing the prefixes and suffixes in Kutuh dialect which undergo derivational and inflectional process. There were three informants chosen based on a set of criteria. Three techniques were used to collect the data, namely observation, recording, and interview technique (listening and note-taking). The results of the study show there are six prefixes and six suffixes exist in Kutuh dialect. Those are prefixes {N-}, {me-}, {ka-}, {pe-}, {a-} and {maka-}. Meanwhile, the suffixes were {-ang}, {-in}, {-an}, {-o}, {-e} and {-nyo}. The prefixes which undergo derivational process are {N-}, {me-}, {ka-} and {pe-} while, the suffixes are {-ang}, {-an} and {-in}. The number of affixes in Kutuh dialect undergo inflectional process are four prefixes and six suffixes. The prefixes are {N-}, {me-}, {a-} and {maka-}. Whereas, the suffixes are {-ang}, {-an}, {-o}, {in}, {-e} and {- nyo}.keyword : derivational prefixes and suffixes, inflectional prefixes and suffixes, Kutuh dialect
AN ANALYSIS OF CLASSROOM INTERACTION IN THE PROCESS OF ENGLISH TEACHING AND LEARNING IN THE TENTH GRADE EFL CLASSES IN SMK NEGERI 1 SUKASADA 2016 ., Dedy Kusdianto Klau; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8756

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jenis-jenis interaksi kelas dan jenis-jenis tindakan yang digunakan oleh seorang guru bahasa Inggris dan siswa. Penelitian ini menggunakan model interaksi kelas teori I-R-F oleh Sinclair dan Choulthad dengan subjek penelitian guru bahasa Inggris dan siswa kelas sepuluh SMK Negeri 1 Sukasada. Teknik pengumpulan data menggunakan rekaman video, lembar observasi, dan wawancara yang akan dijelaskan secara kualitatif berdasarkan teori IRF. Hasil dari penelitian menunjukan ada sembilan jenis interaksi kelas yang digunakan oleh guru dan siswa, yaitu: Question, Direction, Response, Prompt, Ignore, Encouragement, Criticize, Inform, dan acknowledgement. Comment dan invitation tidak ditemukan dari jenis-jenis interaksi kelas. Ada sepuluh jenis tindakan dalam interaksi kelas yang digunakan oleh guru dan siswa yaitu: Elicitation, Check, Directives, Reply, Prompt, Informative, Comment, Clue, Nomination, Accept.kan oleh guru dan siswa, yaitu: Question, Direction, Response, Prompt, Ignore, Encouragement, Criticize, Inform, dan acknowledgement. Comment dan invitation tidak ditemukan dari jenis-jenis interaksi kelas. Ada sepuluh jenis tidakan dalam interaksi kelas yang digunakan oleh guru dan siswa yaitu: Elicitation, Check, Directives, Reply, Prompt, Comment, Clue, Nomination, dan Accept. Kata Kunci : Interaksi kelas, Teori IRF This study aims to describe the types of classroom interaction and types of act used by an English teacher and students at SMK Negeri 1 Sukasada. In analyzing the data I-R-F model of classroom interaction study by Sinclair and Choulthard theory was used. The subjects of this study were the English teacher and the tenth grade students of SMK Negeri 1 Sukasada. The data were collected by using video recording, observation sheet and also interview guide. The data were described qualitatively based on IRF theory. The study found nine types of classroom interaction used by the English teacher and students, namely: Question, Direction, Response, Prompt, Ignore, Encouragement, Criticize, Inform, and acknowledgment. Comment and invitation were not found in types of classroom interaction. Besides, ten types of act used by the English teacher and the students, namely: Elicitation, Check, Directives, Reply, Prompt, Informative, Comment, Clue, Nomination, and Accept. keyword : Classroom Interaction, IRF theory
DESIGNING ENGLISH SONGS AS SUPPLEMENTARY MATERIAL IN TEACHING ENGLISH FOR SEVENTH GRADE STUDENTS IN SMP NEGERI 1 KUBUTAMBAHAN IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Gede Pradipta Putra; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8787

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan topik yang bisa diajarkan dengan menggunakan lagu sebagai materi tambahan dalam mengajar bahasa Inggris di SMP N 1 Kubutambahan, (2) lagu apa yang akan di desain dan (3) mengetahui kualitas dari lagu bahasa Inggris yang telah dirancang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas tujuh A di SMP N I Kubutambahan. Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan lembar observasi, kuesioner guru dan siswa, ceklis, rubrik penilaian, dan catatan tambahan. Penelitian ini adalah R & D (penelitian dan pengembangan) yang mengikuti beberapa prosedur berdasarkan model Sugiyono yaitu, mengidentifikasi potensi dan masalah, pengumpulan data, merancang produk, validasi desain produk, merevisi produk desain, mencoba produk, dan merevisi produk. Dengan demikian, ada produk prototipe dari lagu bahasa Inggris di akhir penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam tema yang bisa diajarkan dengan menggunakan lagu yaitu Sapaan, Memperkenalkan diri dan teman-teman, Hari, Pekerjaan, Hewan, dan Keluarga. Lagu yang di desain dalam penelitian ini adalah lagu anak-anak dan terdapat sebuah buku panduan untuk masing-masing tema lagu dan latihan soal sebagai aktivitas tambahan. Untuk kualitas media, ditemukan bahwa semua lagu dikategorikan sebagai media yang sangat baik. Dengan demikian, lagu berbahasa Inggris sangat tepat untuk digunakan dalam mengajar bahasa Inggris untuk siswa kelas tujuh sebagai materi tambahan.Kata Kunci : Lagu, Materi tambahan, Pengajaran bahasa Inggris untuk anak - anak. This research aimed to (1) find the topics that could be developed songs as a supplementary material in teaching English in SMP N 1 Kubutambahan, (2) find what songs that should be designed, and (3) find out the quality of designed English songs. The subject of this research was seven grade students in 7A class in SMP N I Kubutambahan. The data of this research were obtained by using observation sheet, teacher and students’ questionnaires, checklist, rubric, and notes. This research was R&D (research and development) which followed several procedures based on Sugiyono model namely, identifying potency and problem, collecting data, designing product, validating design product, revising design product, trying-out product, and revising product. Thus, there is a prototype product of English songs in the end of this research. The result of this research shows that there were six themes that could be taught by using songs namely greeting, introducing myself and friends, days, occupation, animals, and family. Songs that should be designed was children songs and there was a guidance book for each theme of the songs and exercises as a follow up activity. For the quality of the media, it was found that the songs are categorized as an excellent product. Thus, it is proper to be used in teaching English for seventh grade students as a supplementary material.keyword : Song, Supplementary material, Teaching English for young learners
THE MORPHOLOGICAL PROCESSES OF BALINESE DIALECT SPOKEN BY BATUMULAPAN VILLAGERS: A DESCRIPTIVE STUDY ., Ni Made Arisani; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.9578

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan afiksasi yang termasuk derivasi dan infleksi dari dialek Batumulapan di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah penduduk asli dari dialek tersebut. Subjek dari penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan melaksanakan observasi dan teknik perekaman. Data yang diperolah dikumpulkan dari tiga domain yang berbeda yaitu: domain keluarga, pertemanan dan persahabatan dan dianalisis dengan menggunakan prosedur dari data analisis yang diusulkan oleh Miles dan Huberman, (1984). Objek dari penelitian ini adalah afiksasi dari dialek Batumulapan yang termasuk derivasi dan infleksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam jenis awalan di BDBM yaitu: awalan {me-}, {nge-}, {ng-}, {a-}, {ny-}, and {h-}. Ada satu jenis sisipan {-h-}., dan ada lima jenis akhiran di BDBM yaitu: akhiran {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}. Awalan dan akhiran yang termasuk derivasi di BDBM adalah awalan {me-} dan akhiran {-te}, {-an}, dan {-e}. Awalan dan akhiran yang termasuk infleksi di BDBM adalah awalan {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-}, {a-}, dan {h-}, sisipan {-h-) dan akhiran {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}.Kata Kunci : Kata-kata kunci: afiksasi, dialek Batumulapan, proses derivasi dan infleksi This study aimed at describing the affixation which belongs to derivation and inflection of Balinese dialect spoken by Batumulapan villagers (BDBM) in Nusa Penida, Klungkung regency, Bali province. This research was a qualitative descriptive study. The subject of this study was the native speakers of the dialect. The subject was taken through purposive sampling technique. The data were collected by conducting observation and recording technique. The obtained data were collected in three different domains: family, friendship, and neighborhood domain, then analyzed by using the procedure of data analysis suggested by Miles and Huberman, (1984). The object of this study is affixation of BDBM that belongs to derivational and inflectional morpheme. The results of this research show that there are six kinds of prefixes: {me-}, {nge-}, {ng-}, {a-}, {ny-}, and {h-} in BDBM. There is one kind of infix {-h-}., and there are five suffixes: {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne} in BDBM. The prefixes and suffixes which belong to derivation in BDBM include: prefix {me-} and suffix {-te}, {-an}, and {-e}. Prefixes and suffixes in BDBM which belong to inflection include: Prefix {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-}, {a-}.and {h-}, infix {-h-) and suffix {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}.keyword : Key Words: affixation, Batumulapan dialect, derivational and inflectional processes
THE ANALYSIS OF TEACHERS' CODE SWITCHINGS BASED ON THE PERCEPTIONS OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 2 SAWAN ., I Gede Juliadnyana; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dewa Putu Ramendra, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.9262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menidentifikasi tipe dari rubahan bahasa dan untuk menyelidiki persepsi siswa terhadap penggunaan rubahan bahasa oleh guru bahasa Inggris kelas delapan di SMP Negeri 2 Sawan. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas delapan dan guru bahasa Inggris di kelas delapan. Instrumen yang digunakan dalam peneliian ini meliputi lembar observasi, kuisioner, pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tiga tipe rubahan bahasa yang digunakan oleh guru bahasa Inggris. Data menunjukan bahwa 31.7% intra sentential code switching, 54.8% inter sentential code switching, dan 13.4% inter personal code switching. Hasil dari kuisioner menunjukan respon rata – rata siswa adalah 70.74%, itu berarti siswa dikategorikan memiliki persepsi yang positif terhadap penggunaan rubahan bahasa oleh guru bahasa Inggris. Wawancara menunjukan bahwa siswa memiliki persepsi yang positif terhadap penggunaan rubahan bahasa oleh guru bahasa Inggris. Ada dua alasan berkenaan dengan jawaban positive siswa seperti: rubahan bahasa membuat siswa “mengerti” materi pelajaran lebih mudah, dan rubahan bahasa menurunkan “stres” siswa dalam belajar.Kata Kunci : Rubahan Bahasa, Tipe Rubahan Bahasa, Fungsi dari Rubahan Bahasa, Persepsi This research aimed to identify the types of code switching and the students’ perception about code switching used by the English teachers in the eighth grade students of SMP Negeri 2 Sawan. This research was conducted in descriptive qualitative design. The subjects of this research were the eighth grade students and the eighth grade English teachers. The instruments used in this study were observation sheet, questionnaire, and interview guide. The results of this research showed that there were three types of code switching used by the English teachers. The data showed there were (31.7%) of intra sentential code switching, (54.8%) of inter sentential code switching and (13.4%) of inter personal code switching.The results of the questionnaire showed that the average responses of the students were (70.74%), it means that students were categorized to have positive perception about the use of code switching by the English teachers. The interview shows that the students had positive response about the use of code switching by the English teachers. There were two reasons concerning the students’ positive answer, that is, code switchings that make the students understand the material more easily, and code switchings that reduce the students’ stress in learning.keyword : Code switching, type of code switching, function of code switching, perception
DEVELOPING CHARACTER BASED STORYBOOKS FOR TEACHING ENGLISH FOR THE FIFTH GRADE STUDENTS AT SDN 4 BANYUASRI IN THE ACADEMIC YEAR OF 2016/2017 ., Desi Nursari Andayani; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.9679

Abstract

The objectives of this study were (1) to develop character based storybooks to supplement the character education in English classes for the fifth grade students at SDN 4 Banyuasri and (2) to analyze the quality of the developed character based storybooks for teaching the fifth grade students at SDN 4 Banyuasri. The type of this study was developmental research which use Hannafin and Peck (1988) instructional design model. There were three phases in this study including need analysis, design, and development/implementation. In testing stages, the products were validated through a review by the experts. The instruments used to collect the data in this study were observation, interview guide, and questionnaire. The results of the study were (1) the developed storybooks were a simple cause and effect story which contained moral value messages which taught hard working and discipline character. (2) The mean score of the expert judgments for the developed storybooks was in range 4.73 – 4.95. According to quantitative data conversion which proposed by Suharto (2006), the quality of the product of the research could be categorized as very good. This means that the storybooks are ready for implementation in the classes.Kata Kunci : character education, media development, storybook Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan buku cerita berbasis karakter untuk melengkapi pendidikan karakter dalam pelajaran bahasa Inggris untuk kelas 5 di SDN 4 Banyuasri dan (2) mengevaluasi kualitas dari buku cerita yang dikembangkan untuk mengajar bahasa Inggris untuk kelas 5 di SDN 4 Banyuasri. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan yang model pengembangan dari Hannafin dan Peck (1988). Ada tiga fase dalam penelitian ini yaitu, need analysis, design, dan development/implemetation. Dalam tahap evaluasi, produk yang dikembangan divalidasi oleh para ahli. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah panduan observasi, panduan wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini adalah (1) Buku cerita yang dikembangkan adalah cerita sebab dan akibat yang simple yang memiliki pesan tentang nilai moral yang dapat digunakan untuk mengajarkan karakter disiplin dan kerja keras. (2) nilai rata-rata dari penilaian para ahli untuk buku cerita yang dikembangkan berada di kisaran 4.20 – 5.00. Berdasarkan quantitative data conversion dari Suharto (2006), kualitas dari hasil dari penelitian ini bisa dikategorikan sebagai very good media. Ini berarti buku cerita yang dikembangkan bisa dimplementasikan di kelas.keyword : pendidikan karakter, pengembangan media, buku cerita
REPRESENTATION OF A STRONG WOMAN IN THE LYRIC OF ROLLING IN THE DEEP BY ADELE ., Putu Yasamahadewi; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8547

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk menemukan representasi dari sosok seorang wanita tangguh yang dideskripsikan di dalam syair lagu yang berjudul Rolling in the Deep oleh Adele. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga representasi dari sesosok wanita tangguh yang digambarkan di dalam syair lagu Rolling in the Deep by Adele, yaitu, keberanian, kekayaan, dan harga diri. Keberanian dari sosok wanita tangguh di dalam syair tersebut digambarkan sebagai seseorang yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Representasi wanita tangguh selanjutnya digambarkan dalam sesosok wanita tangguh yang memiliki kekayaan. Dalam hal ini sosok wanita yang berada didalam lirik tersebut digambarkan memiliki kekayaan lebih banyak dibandingkan mantan kekasihnya. Sementara representasi yang terakhir, yaitu seorang wanita tangguh yang memiliki harga diri. Wanita ini digambarkan sebagai seseorang yang mencintai dirinya lebih dari siapapun yang membuat dia berjuang untuk membela dirinya sendiri agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain.Kata Kunci : representasi wanita tangguh, feminisme, syair lagu This research aimed to find the representation of a strong woman in the lyric of Rolling in the Deep by Adele. This study was a qualitative study in which the data was described descriptively. The results of this study showed that there were three representations of strong woman in the lyric of Rolling in the Deep by Adele, namely, courage, wealth, and self-worth. The courage representation of a strong woman in the lyric was represented as someone who had the courage to express her feelings. The next representation was represented as someone who had wealth. In this case, the speaker of the poem was represented as someone who had better financial income than her ex lover. Meanwhile, the last representation of a strong woman was the one who had self-worth. The speaker of the poem was described as someone who loved herself more than anyone that made her stood up for herself to prevent the other people to harm her.keyword : representation woman, feminism, lyric
AN ANALYSIS OF CODES USED BY THE BALINESE FAMILIES OF NUSASARI VILLAGE, MELAYA, JEMBRANA ., I Gede Andre Agasi; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Dewa Putu Ramendra, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.9456

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kode yang digunakan dan bagaimana kode yang digunakan oleh keluarga Bali di desa Nusasari. Data dikumpulkan dalam tiga domain dari penggunaan bahasa. Domain penggunaan bahasa dalam penelitian ini adalah keluarga, lingkungan, dan persahabatan. Peneliti mewawancarai 2 keluarga untuk mendapatkan data tentang kode yang digunakan di desa. Para peserta ditanya tentang apa bahasa berbicara mereka didasarkan pada tiga domain dari penggunaan bahasa. Observasi, wawancara, dan dokumentasi dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan. Data yang dikumpulkan adalah trancribed dan dianalisis. Data dikumpulkan melalui wawancara dan alat perekam dan beberapa instrumen juga disiapkan, seperti catatan lapangan dan kamera. Dalam tiga domain yang dianalisis, mereka menggunakan kode yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kode yang digunakan di desa. Kedua kode yang bahasa Bali dan Bahasa Indonesia. Keunikan Bahasa Bali di Nusa Penida dialek terjadi di beberapa kata dalam pengucapan seperti; [Məhʌnʌʔ], [pəsɛlɛh], [oŋkʌbʌn], [ʌnonə], [bʌbuʌnʌn], [gələŋʌn], [wʌrʌsʌn], [jʌpə], [jʊlon], [bʌŋkag], [ŋrəbes], [Kʌuʔ], dan [ əndok] . Alih kode dan campur kode juga digunakan oleh penduduk desa dalam percakapan sehari-hari.Kata Kunci : campur kode, alih kode, penggunaan kode, domain penggunaan kode This qualitative study aimed to analyze codes used and how the codes were used by the Balinese families in Nusasari village. The data were collected in three domains of language use. The domains of language use in this research were family, neighborhood, and frienship. The researcher interviewed 2 families to get the data about codes used in the village. The participants were asked about what language they speak based on the three domains of language use. Observation, interview, and documentation were done by the researcher to get the data needed. The data gathered were trancribed and analyzed. The data were collected by interview and recorder tool and some instruments also prepared, such as field note and camera. In the three domains that were analyzed, they were used the same codes. The results showed that there two codes used in the village. Those two codes were Balinese language and Bahasa Indonesia. The uniqueness of Balinese language in Nusa Penida dialect occurred in several words in term of utterance such; [məhʌnʌʔ], [pəsɛlɛh], [oŋkʌbʌn], [ʌnonə], [bʌbuʌnʌn], [gələŋʌn], [wʌrʌsʌn], [jʌpə], [jʊlon], [bʌŋkag], [ŋrəbes], [Kʌuʔ], and [əndok].Code switching and code mixing are also used by the villagers in their daily conversation. keyword : code mixing, code switching, code used, domains of language use