cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 271 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 271 Documents clear
AN ANALYSIS OF COMMUNICATION STRATEGIES USED BY ENGLISH EDUCATION DEPARTMENT STUDENTS IN CLASSROOM LEARNING INTERACTION ., Vivien Hartini Laksmi Magga; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., Dewa Putu Ramendra, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis-jenis strategi-strategi berkomunikasi yang digunakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris dalam interaksi pembelajaran di kelas dan menginvestigasi alasan-alasan mereka dalam menggunakan jenis-jenis strategi-strategi berkomunikasi tersebut. Subjek dari penelitian ini ada mahasiswa semester 6 jurusan pendidikan bahasa inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Data dari penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Temuan-temuan dari penelitian in menunjukkan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris menggunakan 6 jenis strategi-strategi berkomunikasi, yaitu: approximation, circumlocution, code-switching, clarification request, use of all-purpose words, dan use of fillers/hesitation devices. Dari keenam jenis strategi-strategi berkomunikasi yang digunakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris dalam interaksi pembelajaran di kelas, use of fillers/hesitation devices merupakan strategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris dengan jumlah persentasi yaitu 47.61%. sehubungan dengan wawancara yang dilakukan, temuan-temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris menggunakan jenis-jenis strategi-strategi berkomunikasi tersebut untuk membantu teman-temannya lebih mudah dalam memahami tentang apa yang sedang dikatakan atau menghindari kesalahpahaman dari teman-temannya dan karena kurangnya kemampuan berbahasa mereka. Kata Kunci : strategi-strategi berkomunikasi, interaksi kelas, pelajar bahasa inggris sebagai bahasa asing. The purposes of this study are to find out the types of communication strategies used by English Education Department students in classroom learning interaction and investigate their reasons in using those types of communication strategies. The subject of this study was the sixth semester students of English Education Department, Ganesha University of Education. The data were collected by using observation and interview method. The findings of this study showed that English Education Department students used six types of communication strategies, namely; approximation, circumlocution, code-switching, clarification request, use of all-purpose words, and use of fillers/hesitation devices. From the six types of communication strategies used by English Education Department students in classroom learning interaction, the use of fillers/hesitation devices was the most frequently used by English Education Department students with the total percentage of utterance 47.61%. In relation to the interview, the findings showed that English Education Department students used those types communication strategies in order to help their friends easier in understanding about what was being said or avoid misunderstanding of their friends and because of the lack of their language ability.keyword : communication strategies, classroom interaction, EFL learners.
Politeness Strategies Used by the Second-Grade Students at SDN 1 Pemaron ., Pande Ayu Cintya Ningrum; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe-tipe maksim kesopanan yang digunakan dan mendeskripsikan penggunaan maksim kesopanan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam tipe maksim kesopanan yang di gunkan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron. Selanjutnya, tipe maksim kesopanan yang paling sering di gunakan oleh siswa-siswi kelas dua di SDN 1 Pemaron adalah maksim pemufakatan/kecocokan dimana muncul sebanyak 53 kali (35%). Tipe yang kedua adalah maksim kesederhanaan yang muncul sebanyak 40 kali (27%). Tipe maksim yang ketiga adalah maksim kesimpatian yang muncul sebanyak 19 kali (13%). Tipe maksim yang keempat adalah maksim kedermawanan yang muncul sebanyak 18 kali (12%). Tipe maksim yang kelima adalah maksim kebijaksanaan yang muncul sebanyak 12 kali (8%). Tipe maksim yang terakhir adalah maksim penghargaan yang muncul sebanyak 8 kali (5%). Maksim tersebut digunakan untuk memaksimalkan persetujuan dengan lawan bicaranya terlebih dahulu sebelum mengungkapkan perasaan atau opini mereka, menunjukkan rasa rendah hati ketika mereka berbuat kesalahan atau tidak bisa melakukan sesuatu yang di minta, menunjukkan rasa peduli dan simpati, menunjukkan keramahan mereka, untuk membuat teman mereka diam ketika mereka membuat kesalahan atau masalah, dan untuk memuji temannya sebelum mereka meminta bantuan. Kata Kunci : Maksim Kesopanan, Siswa-siswi kelas dua, Strategi Kesopanan. This study aimed at identifying types of politeness maxim use and describe the use of politeness maxim by the second-grade students in SDN 1 Pemaron. This study is descriptive qualitative research. The results of this study reveals that there are six types of politeness maxim used by second-grade students in SDN 1 Pemaron. Then the most frequently used type of politeness maxim by second-grade students in SDN 1 Pemaron was agreement maxim which occurred 53 times (35%). The second type was modesty maxim which occurred 40 times (27%). The third type was sympathy maxim which occurred 19 times (13%). The fourth type was generosity maxim which occurred 18 times (12%). The fifth type was tact maxim which occurred 12 times (8%). The last type was approbation maxim which occurred 8 times (5%). Those maxims use for maximize the agreement between the interlocutor first before revealed their feeling or opinion, dispraise themselves when they make a mistake or cannot do something that have been told, show their care and sympathy, show their friendliness, to make their friends keep silent when they made a mistake or problem and to praise their friends before asked for a help.keyword : Politeness Maxims, Politeness Strategies, Second-grade Students.
AN ANALYSIS OF TEACHERS' NON-VERBAL COMMUNICATION IN EFL CLASSROOM AT SMP NEGERI 3 BANJAR ., I Putu Indrawan; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12051

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk, (1) menganalisa jenis-jenis komunikasi non-verbal yang digunakan oleh guru bahasa inggris ketika proses belajar dan mengajar, (2) mengungkapkan tentang jenis – jenis komunikasi non-verbal yang mempengaruhi motivasi siswa ketika proses pembelajaran di kelas berlangsung, (3) mengungkapkan tentang kontribusi komunikasi non-verbal dalam pembelajaran bahasa inggris. Peneleitian berikut ini merupakan penelitian deskritif kualitatif yang dilaksanakan di SMPN 3 Banjar. Data pada penelitian berikut dengan cara rekaman video, penyebaran kuisioner, dan interview. Terdapat 2 guru bahasa Inggris yang diikutsertakan dalam penelitian ini, dan 40 siswa kelas delapan dari kelas yang berbeda diikutsertakan dalam penelitian berikut ini. Sebelum analisis data, hasil dari penelitian berikut dianalisa secara deskriptip dengan cara mencari phenomena komunikasi non-verbal guru yang terlihat pada rekaman video, menganalisis hasil interview dan mencari perentasi dari hasil kuisioner. Hasil dari analisis data yaitu komunikasi non-verbal guru di SMPN 3 Banjar sudah memenuhi kriteria komunikasi non-verbal yang diusulkan oleh ahli, terdapat beberapa jenis komunikasi non-verbal guru yang berpengaruh terhadap motivasi siswa yaitu ekspresi wajah, gestur, proxcemics (kedekatan), haptics (sentuhan), kontak mata, dan paralanguage. Temuan yang terakhir yaitu, gestur dan paralanguage dianggap sebagai komunikasi non-verbal yang memberikan kontribusi terhadap pemberlajaran bahasa inggris. Kata Kunci : Guru, Komunikasi non-verbal, Motivasi siswa This study aimed at (1) analyzing kinds of non-verbal communication used by English teacher during the teaching and learning process, (2) revealing what kinds of teacher’s non-verbal communications affect students’ motivation during the learning process in the classroom, (3) revealing the contribution of non-verbal communications in English education. This study was a descriptive qualitative study conducted at SMPN 3 Banjar. The data were collected by video recording, questionnaire administration, and interviewing. There were 2 English teachers involved as the subject of this research, and 40 students of eighth grade in different classes were involved. the results of the study analyzed descriptively by finding out the phenomenon of teachers’ non-verbal communication in the video recording, analyzing the interview results, and finding out the percentage of questionnaire administration. The result of data analysis showed that, teachers’ non-verbal communication in SMPN 3 Banjar already fitted with the seventh kinds of non-verbal communication proposed by Burgoon, Buller, and Woodall, (1994) as cited in Birjandi and Nushi (2014), and there are some kinds of non-verbal communication that affect students' motivation, namely facial expression, body movement, gestures, proxemics (proximity), haptics (touch), eye contact, and paralanguage. Gestures and paralanguage are considered as non-verbal communication that gives the contribution to English education. keyword : Teacher, Non-verbal communication, Students motivation
The Use of ICT Based Teaching Media by English Teachers at Junior High Schools in Singaraja: Age and Gender Analysis ., I Kadek Febriandikayasa; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.466 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media yang digunakan oleh guru bahasa inggris SMP di singiraja. Penelitian ini adalah penelitian Mix-method dan self-checklist serta panduan interview adalah instrument yang digunakan. Total ada 39 guru terlibat dalam penelitian ini. 13 diantaranya laki-laki dan 26 adalah wanita, 23 diantara mereka dikategorikan sebagai Generation-X dan 16 Generation-Y. hasl dari penelitian ini adalah guru laki-laki mendominasi penggunaan media berbasis ICT dengan 100% menggunakan gambar sebagai media. sebagai alasannya 76.92% berpendapat bahwa media berbasis ICT dapat merangsang minat belajar mereka, membuat mereka lebih fokus dan juga dapat menarik perhatian mereka. Tetapi pada guru wanita, skor yang rendah terlihat dari point yang diperoleh dari penggunaan media berbasis ICT. hanya 10 guru (38.46%) menggunakannya dan alasan yang sama mereka tunjukan untuk penggunaannya. Selain itu, Generation-X juga menunjukan poin yang rendah dimana hanya ada 7 guru menggunakan media berbasis ICTsisanya setuju untuk tidak menggunakanya karena alasan kurangnya dukungan secara teknis, sedikitnya jam mengajar, dan juga tidak memiliki waktu untuk mempelajarinya. Tapi disisi lain, Generation-Y lebih memilih untuk menggunakan media berbasis ICT mereka juga percaya kalau ICT mampu memberi dampak positif terhadap siswa dan juga guru itu sendiri. Kata Kunci : Media pembelajaran berbasis ICT, jenis kelamin dan umur di dalam penggunaan ICT This study aimed to investigate the use of ICT based teaching media by English teachers at junior high schools in Singaraja in terms of age and gender, and their reasons for using and not using it in the English teaching and learning process. A mixed methods design was used on this study. Self-checklist and interview guide were used as the instruments. Totally there were 39 teachers who participated in this study. 13 teachers were males and 26 were females; 23 of them were categorized as Generation-X and 16 were Generation-Y. The result was that the male teachers took the domination in using ICT based media with 100% of them used pictures. In terms of the reasons of using ICT, 76.92% agreed that ICT based media can stimulate the students, make them more focused and get their attention during the lesson. But on the female teachers, lower point was shown in the types of ICT media used. Only 10 (38.64%) female teachers used media, and similar reasons to the male ones’ were expressed in using ICT-based media. On the other hand, Generation-X teachers also showed the low number with only 7 teachers used ICT based media, the rest of them agreed to not use it because of technical support, shortage class-time, and need time to learn it. But Generation-Y teachers preferred to use ICT based because they also believed that it can give positive impacts to the students in teaching and learning process. keyword : Age and Gender in ICT usage, ICT based Teaching media.
Phonological and Lexical Features of Lemukih and Galungan Dialects of Balinese ., Luh Made Wina Jayanti; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Putu Ramendra, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.10871

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan ciri-ciri fonologis dan leksikal dari Lemukih Dialek (LD) dan Galungan Dialek (GD). Informan dari penelitian ini adalah penutur LD dan GD. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian lapangan kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan daftar kata Swadesh dengan cara observasi, wawancara, mendengarkan, mencatat, dan merekam. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa LD dan GD memiliki persamaan dan perbedaan secara fonologis dan leksikal. Secara fonologis, ditemukan 25 fonem yang sama pada LD dan GD. Fonem-fonem tersebut adalah: 6 vokal: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /∂/, and /ɔ/; dan 19 konsonan: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /ʔ/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/. Di sisi lain, perbedaan secara fonologis terletak pada penggunaan fonem /ʌ/ dan /∂/ pada LD dan GD. Berdasarkan daftar kata Swadesh yang digunakan yang terdiri dari 206 leksikon, 179 leksikon ditemukan sama di LD dan GD secara leksikal. Leksikon tersebut diklasifikasikan menjadi: 144 leksikon yang sama dan 35 leksikon yang serupa. Di sisi lain, hanya 27 leksikon ditemukan sebagai bukti yang membedakan LD dan GD secara leksikal. Penduduk Desa Lemukih dan Galungan menggunakan dialek Bahasa Bali yang berbeda karena adanya bentuk sopan atau Sor Singgih Basa dalam Bahasa Bali.Kata Kunci : dialek Bahasa Bali, fitur fonologis, fitur leksikal The study aimed to find out the phonological and lexical features in Lemukih Dialect (LD) and Galungan Dialect (GD) of Balinese. The informants of this study were the speakers of LD and GD. This research employed field linguistic design. The data of the study were collected based on Swadesh word list using observation, interview, listening, note-taking, and recording techniques. The obtained data were transcribed and analyzed descriptively. The results of the study show that LD and GD actually have similarities and differences in term of phonological and lexical features. The results of the study show that there are 25 phonemes that similar in LD and GD in term of phonological features. Those phonemes include 6 vowels: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /∂/ ; and 19 consonants: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /ʔ/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, /ŋ/. In addition, the differences are the distribution of phoneme /ʌ/ and /∂/ in LD and GD. Furthermore, from the Swadesh word list which contain 206 lexicons, 179 lexicons are found similar in LD and GD in term of lexical features. Those lexicons can be classified into 144 exactly same forms and 35 similar forms of lexicons. On the other hand, only 27 lexicons are found as the evidence that differentiates LD and GD in term of lexical features. In addition, the reason Lemukih and Galungan villagers differ in using Balinese language dialect because of the honorific system or the polite form of the dialect.keyword : dialect of Balinese, lexical features, phonological features
CLASSROOM INTERACTION ANALYSIS IN EFL WRITING CLASS BASED ON THE CURRICULUM 2013 AT SMP NEGERI 1 SINGARAJA ., Komang Ayu Sukmawati; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12443

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kategori interaksi kelas yang terjadi di kelas delapan SMP Negeri 1 Singaraja berdasarkan Sistem Analisis Interaksi Bahasa Asing (FLINT), perilaku verbal dan nonverbal guru dan siswa yang ditemukan pada kelas penulisan EFL di SMPN 1 Singaraja dan untuk menemukan kendala dalam menerapkan interaksi kelas aktif selama kelas penulisan EFL di SMPN 1 Singaraja. Subyek penelitian adalah guru bahasa Inggris dan siswa kelas VIII A3. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semua kategori interaksi kelas berdasarkan sistem FLINT ada selama proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan ditanggapi oleh siswa dalam setiap tahap pendekatan ilmiah berdasarkan K-13. (2) kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan interaksi kelas aktif berasal dari kedua peserta, yaitu guru memiliki keterbatasan kekreatifan and inovatif dalam mengajar dan karakter siswa dipengaruhi oleh sikap budaya.Kata Kunci : Interaksi Kelas, Tahap Pendekatan Ilmiah berbasis K-13, Sistem Analisis Interaksi Bahasa Asing (FLINT) This study was aimed at finding the classroom interaction categories occurring in the eighth grade of SMP Negeri 1 Singaraja based on Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System, the teacher’s and students’ verbal and nonverbal behaviors found during EFL writing class in SMPN 1 Singaraja and discovering the constraints in implementing active classroom interaction during EFL writing class in SMPN 1 Singaraja. The subjects of the study were the English teacher and students in class VIII A3. This study was designed by using descriptive qualitative research. The result of the research showed that:(1)all categories of classroom interaction based on FLINT system existed during the teaching and learning process produced by the teacher and responded by the students in every stage of scientific approach based on K-13. (2) the constraints were faced by the teacher in implementing an active classroom interaction came from both participants; those are the teacher has the lack of creative and innovative teaching and the students characteristics which were influenced by the cultural attitudes.keyword : Classroom interaction, Scientific Approach Stage based on K-13, Foreign Language Interaction (FLINT) system
AN ANALYSIS OF HESITATION PHENOMENA IN SECONDARY SCHOOL TEACHERS’ SPEECH AT AN INTERNATIONAL SCHOOL IN BADUNG. ., Ni Luh Patma Gita; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16537

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari hesitation phenomena (fenomena keragu-raguan) yang digunakan oleh guru sekolah menengah saat mengajar di sekolah internasional, Badung. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi tipe-tipe hesitation yang digunakan guru saat mengajar; (2) mengetahui tipe mana yang paling sering muncul; dan (3) kenapa tipe tersebut yang paling sering muncul saat guru mengajar. Subjek dari penelitian ini adalah tiga guru yang merupakan penutur asli bahasa Inggris (English Native Speaker) dan menggunakan bahasa Inggris dalam mengajar. Obyek daari penelitian ini adalah hesitation yang digunakan oleh guru saat mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode observasi dan interview dalam mengumpulkan data. Data dianalisis menggunakan teori yang dikemukakan oleh Lacey and Luff (2009) yang terdiri dari 5 tahap yaitu Transcription, Organizing the Data, Familiarization, Coding, dan Themes. Berdasarkan teori hesitation yang dikemukakan oleh Rose (2013), terdapat enam tipe hesitation yang mucul yaitu: Silent Pause (11,4%), Filled Pause (52.1%), False Start (5.9%), Repair (4.2%), Repeat (12.7%), dan Lengthening (13.6%). Tipe hesitation yang paling sering muncul adalah Filled Pause. Para guru paling sering menggunakan Filled Pause karena Filled Pause dapat menghubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya saat mereka ragu, membuat guru terdengar lebih profesional dan para murid juga tidak akan sadar jika guru ragu-ragu berbicara.Kata Kunci : guru sekolah menengah, hesitation, ucapan This research studied about hesitation phenomena occurred in secondary school teachers’ speech at an international school in Badung. The aims of this research were (1) to identify the types of hesitation occurred in the teachers’ speech; (2) to know which type of hesitation that mostly occurred; and (3) to know the reasons why such hesitation occurred. The subjects of the study were three teachers who taught in secondary school. They were English native speakers and used English in teaching the students. The object of the study was the hesitation used by the teacher while teaching the students. The research was a descriptive qualitative research and the data were collected by using observation method and interview method. The data were analyzed by using data analysis proposed by Lacey and Luff (2009) which consisted of five steps: Transcription, Organizing the Data, Familiarization, Coding, and Themes. According to the theory of hesitation proposed by Rose (2013), six types of hesitation were occurred in the teachers’ speech: Silent Pause (11,4%), Filled Pause (52.1%), False Start (5.9%), Repair (4.2%), Repeat (12.7%), and Lengthening (13.6%). The most dominant one was Filled Pause. Filled pause was used frequently because it could connect the teacher’s previous sentence with their following sentence, it was also more professional when using filled pause and the student would not notice or realize that the teacher hesitated.keyword : hesitation, secondary school teacher, speech
THE EFFECT OF WORD WALL STRATEGY TOWARD THE VOCABULARY MASTERY OF FIFTH GRADE STUDENTS ., Ni Made Susi Herlina Wati; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16771

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh strategi pembelajaran word wall terhadap penguasaan kosa kata pada siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SDN 5 Yehembang Kauh tahun akademik 2017/2018. Sample penelitian ini adalah semua anggota siswa kelas lima yang berjumlah 23 orang siswa, dimana penentuan sampel menggunakan teknik intact group sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes objektif yang terdiri dari 25 soal. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji-t. Hasil pengujian uji-t dengan menggunakan taraf signifikan 5% menunjukkan signifikansi 0,001 (sign. < 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Word Wall dapat memberikan pengaruh positif terhadap meningkatkan penguasaan kosa kata siswa sehingga Word Wall dapat direkomendasikan sebagai alternatif dalam mengajar kosa kata. Kata Kunci : Kosa Kata, Penguasaan Kosa Kata, Word Wall The study aimed at investigating students’ vocabulary mastery after the use of Word Wall Strategy in Elementary school. This was a pre-experimental study with one group pretest- posttest design using quantitative approach. The population on this study was all of students of SDN 5 Yehembang Kauh in academic year 2017/2018. The sample of this study was all of the members of fifth grade students which consisted of 23 students. The data was collected by using pretest and posttest which consisted of 25 questions. The type of question was multiple choice. The data were analyzed by using T-test. The result of the T-test with the significant 5% is 0,01 (sign. < 0,05). It can be concluded that Word Wall gives positive effect in improving students’ vocabulary mastery so that Word Wall can be recommended as an alternative on teaching vocabulary mastery. keyword : Vocabulary,Vocabulary mastery, word wall
A Comparison of EFL Teachers Use of ICT as Learning Media Seen from Gender and Age ., I Gusti Ngurah Indradhikara; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marhaeni; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.591 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan untuk menggunakan atau tidak menggunakan TIK dalam proses pembelajaran bahasa inggris. Sebanyak 54 guru dilibatkan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain concurrent triangulation. Penelitian ini menggunakan sebuah instrumen, yait kuesioner terbuka. Berdasarkan hasil analisis data kualitatif, baik guru laki-laki maupun perempuan, dan guru dari generasi X maupun Y sadar akan pentingnya TIK dalam proses pembelajaran bahasa inggris juga keterbatasan mereka dalam menggunakan TIK dalam mengajar. Pengembangan lebih lanjut disarankan kepada pemerintah, guru bahasa inggris, dan peneliti lainya untuk meningkatkan penggunaan TIK dalam mengajar. Kata Kunci : TIK, Gender, Umur. This study aimed to identify the reasons implementing or not implementing ICT in the process of English teaching and learning. There were 54 of English teachers employed in this research. This research integrated mix method concurrent triangulation design. There was an instrument used in this research, namely open ended questionnaire. The quantitative data showed there were differences of ICT use across gender and ages. Based on the qualitative data analysis, both male and female, and, X and Y generations of English teachers seemed to realize the importance of ICT in English teaching and learning, including their limitation in employing ICT in teaching and learning process. Further works suggested for the government, English teachers, and other researchers to improve the number of ICT integration in teaching.keyword : ICT, Gender, Ages
An Analysis of Lexical Borrowing Used By The Eighth Semester Students of English Language Education in Social Media ., Ni Kadek Yuni Artini; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.96 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.16995

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis peminjaman leksikal dan untuk menyelidiki makna dari setiap penggunaan pinjaman leksikal di media sosial terutama di grup Line oleh mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa semester delapan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah smartphone. Data dikumpulkan dengan mengambil tangkapan layar dari percakapan online yang mengandung leksikal borrowing. Data kemudian diururtkan, diklasifikasi, dianalisis, didiskusikan dan disimpulkan berdasarkan klasifikasi teori yang diusulkan oleh Capuz. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga jenis peminjaman leksikal dari 50 jenis kata dari peminjaman leksikal yang dihasilkan oleh mahasiswa semester delapan. 30 jenis kata termasuk importation, 18 jenis kata termasuk loanblend dan 2 jenis kata termasuk loan translation. Peminjaman leksikal tetap memiliki makna secara harfiah dan beberapa memiliki makna secara tersirat. Kata Kunci : Sosial Media, Jenis Peminjaman Leksikal, Makna Peminjaman leksikal This study aimed at identifying the types of lexical borrowing and to investigate the meaning of each lexical borrowing in social media especially in Line group chatting by the eighth semester students of English Language Education. This study was descriptive qualitative research. The subjects of this study were the eighth semester students of English Language Education. The instrument used in this study was mobile phone. The data were collected by taking the screenshot of any conversation containing lexical borrowing. The data were listed, classified, analyzed, discussed and summarized based on the theory classification proposed by Capuz. The result of this study showed that there were three types of lexical borrowing from fifty (50) words of lexical borrowing produced by the eighth semester students. Thirty (30) words belong to importation, eighteen (18) words belong to loanblend, and two (2) words belong to loan translation. The lexical borrowing still have their literal meaning and some have their implied meaning. keyword : Social Media, Lexical Borrowing Types, Lexical Borrowing MeaninG