cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Media Komunikasi Geografi
ISSN : 02168138     EISSN : 25800183     DOI : -
MKG is a journal that facilitates the interests of lecturers, teachers and the academic community to communicate articles from research results and strengthen the exchange of ideas from academic reviews in the field of geography. The academic articles include research and reviews of studies in Human Geography and Physical Geography, population and environmental reviews, regional issue investigations, resource management, disaster management, remote sensing techniques (RS) and the application of geographical information system (GIS) and in-depth discussion on the development of standards in education and geography teaching, both at school and college level.
Arjuna Subject : -
Articles 341 Documents
ANALISIS POTENSI MATA AIR SEMERU UNTUK KEBUTUHAN AIR BERSIH PENDUDUK DAN IRIGASI PERTANIAN DESA NGUTER, KECAMATAN PASIRIAN, KABUPATEN LUMAJANG Ikaf Fajar Maulana
Media Komunikasi Geografi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v18i1.10554

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air untuk penduduk dan irigasi di Desa Nguter. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi mata air Semeru untuk pemenuhan kebutuhan air bagi penduduk dan irigasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey meliputi pengukuran kuantitas mata air dengan menggunakan metode WEIR, pengukuran kualitas air, kebutuhan air penduduk dilakukan wawancara, serta kebutuhan irigasi dianalisis menggunakan software cropwat 8.0. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil debit rata-rata mata air Semeru yaitu sebesar 1.564.973,28 liter/hari. Dari segi kualitas mata air Semeru termasuk kedalam kategori layak untuk disuplai kepada penduduk maupun irigasi. Rata-rata kebutuhan air penduduk Desa Nguter pada musim kemarau dan hujan yang 608.569,5 liter/hari. Secara kuantitas perbandingan debit mata air Semeru untuk kebutuhan air bersih penduduk sangat mencukupi dari masa sekarang atau 50 tahun kedepan. Selain itu, mata air Semeru memenuhi kebutuhan dalam jaringan irigasi Umengan.
PERENCANAAN KELUARGA DAN FERTILITAS SUKU BAJO DI ERA PERUBAHAN (STUDI KASUS: SUKU BAJO DI PERKAMPUNGAN MOLA KECAMATAN WANGI-WANGI SELATAN KABUPATEN WAKATOBI) Subardjan Subardjan
Media Komunikasi Geografi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v18i1.10556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perencanaan keluarga dan fertilitas suku Bajo dengan fokus: (1) pandangan suami-istri terhadap perencanaan keluarga, (2) mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, demografi dan budaya dalam kaitannya dengan perencanaan keluarga, (3) menganalisis penggunaan alat kontrasepsi KB dan fertilitas. Analisis dilakukan dengan tekhnik statistik kuantitaif (crosstab) dan tekhnik analisis kualitatif (Miller dan Huberman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) nilai keluarga yang berlaku pada pasangan suami-istri suku Bajo di era perubahan adalah nilai “keluarga besar”; (2) aspek- aspek sosial, ekonomi, demografi, dan budaya merupakan aspek-aspek yang menentukan ukuran keluarga di “era perubahan” dalam hal ini jumlah anak yang diinginkan dan preferensi terhadap anak laki-laki yang masih tinggi. (3) dari kondisi tersebut (1 dan 2) sehingga menyebabkan wanita usia subur (15-49) tahun suku Bajo mayoritas tidak menggunakan alat kontrasepsi KB. Dengan demikian, mengakibatkan fertilitas dalam hal ini jumlah rata-rata Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH) cenderung lebih tinggi.
PEMANFAATAN CITRA PENGIDERAAN JAUH PADA GOOGLE EARTH UNTUK PEMBUATAN PETA CITRA DI KECAMATAN MARGA, KABUPATEN TABANAN I Wayan Krisna Eka Putra
Media Komunikasi Geografi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v18i1.10557

Abstract

Kecamatan Marga merupakan salah satu kecamatan yang sebagian besar desa-desa nya belum memiliki peta desa khususnya peta citra. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar (1) terbentuknya pengetahuan dan keterampilan aparat desa dalam hal membuat peta citra, dan (2) memfasilitasi aparat desa agar dapat menghasilkan peta citra. Tahapan pelaksanaan kegiatan yaitu: (1) persiapan yang meliputi penyusunan materi dan pedoman untuk download data citra penginderaan jauh pada Google Earth menggunakan software StichMaps dan Quantum GIS, penyusunan materi dan pedoman untuk membuat peta citra, serta validasi data citra yang akan digunakan sebagai data dasar, (2) pelaksanaan yang meliputi pemberian bimbingan teknis cara download data citra penginderaan jauh pada Google Earth, (3) evaluasi keberhasilan kegiatan membuat peta citra dari data citra penginderaan jauh pada Google Earth, dan proses print out peta. Kegiatan ini berjalan dengan lancar sesuai rencana, hanya saja peserta masih belum bisa mandiri membuat peta terutama pada saat melakukan proses layout peta.
REFLEKSI KRITIS KONDISI DEMOGRAFI INDONESIA: ANTARA BONUS DAN BENCANA DEMOGRAFI I Made Sarmita
Media Komunikasi Geografi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v18i1.10558

Abstract

Indonesia still has various demographic problems. Large population, low population quality, and uneven distribution of population. In quantity, Indonesia can be said will soon enjoy the demographic dividend because the large number of population is a productive age. But the large number of productive age population was not followed by a reliable quality and this can actually be a demographic disaster. This article presents the outlook as a critical reflection of Indonesia's current demographic condition derived from the review of demographic data and related writings. The results obtained are that the demographic conditions of Indonesia are in the "crossroads".  In terms of quantity, Indonesia will enjoy demographic dividend, but in terms of the quality of Indonesia will be faced with the demographic disaster. To avoid the negative impacts of the demographic conditions and to enjoy the momentum, extra effort needs to be done not only by the government, but by all components of the nation. Real, immediate and continuous efforts that can be done include improving the quality of human resources, especially through education and health, creating jobs by all parties, placing the elderly population as an asset, and consolidating the agricultural sector through the empowerment of local farmers as well as cutting wages between agriculture and non-agricultural sectors.
PERJUANGAN MASYARAKAT PASEBAN DALAM MENJAGA KELESTARIAN PESISIR UJUNG BARAT KABUPATEN JEMBER Fikri Haikal Akbar
Media Komunikasi Geografi Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v18i1.10619

Abstract

Artikel ini membahas perjuangan masyarakat Paseban untuk melakukan konservasi terhadap lingkungan. Permasalahan yang dikaji pada artikel ini adalah faktor penyebab masyarakat melakukan perjuangan untuk menolak pertambangan serta upaya yang dilakukan masyarakat untuk menolak tambang. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial dan pendekatan antropologi. Metode yang digunakan adalah observasi non partisipasi dengan teknik wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah Paseban merupakan wilayah dipesisir pantai selatan jawa yang memiliki kandungan pasir besi dan direncanakan sebagai daerah penambangan. Dampak rencana penambangan yakni dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Masyarakat menggunakan kearifan lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan di Paseban. Upaya yang dilakukan antara lain dengan cara sosial budaya yakni selametan perempatan, larung sesaji, dan tanggap wayangan. Selain itu dilakukan pula upaya penanaman tanaman mangrove, pemanfaatan sebagai tempat wisata, lahan perkebunan dan penggunaan alat tradisional sebagai kearifan lokal masyarakat. Artikel ini menunjukkan bahwa ada upaya dari masyarakat untuk menjaga agar wilayah pesisir tetap lestari.
Inovasi Pendidikan Bencana Berbasis Pendekatan Spasial di Indonesia Putu Indra Christiawan
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11419

Abstract

Pendidikan adalah barometer dari kualitas pembangunan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumberdaya alam. Kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh inovasi pendidikan yang dikembangkan. Di sisi lain, kegagalan kinerja pendidikan dalam meningkatkan kemampuan peserta didik merupakan awal dari disharmonis hubungan manusia dengan lingkungan sekitar, yang bermuara pada bencana. Tulisan ini bertujuan untuk membedah korelasi antara ketertinggalan pendidikan di Indonesia dengan peningkatan kejadian bencana melalui pemahaman dan analisis tentang: (1) esensi pendidikan bencana, 2) orientasi intelegensi spasial dalam pendidikan  serta (3) implementasi pendidikan spasial sebagai inovasi pendidikan bencana yang berbasis hasil pengkajian secara teoritis dan empiris dari kondisi pendidikan di Indonesia. Hasil pembahasan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa: (1) pendidikan adalah salah satu faktor kerentanan sosial utama yang memiliki kontribusi besar terhadap kejadian suatu bencana, maka dipandang penting adanya pendidikan yang menekankan pada intelegensi spasial agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami kondisi atau karakteristik ruang yang beragam, (2) intelegensi spasial dalam pendidikan memiliki orientasi untuk mampu memahami dan memecahkan banyak kasus dalam kehidupan sehari-hari serta permasalahan dalam lingkup lokal, regional, nasional dan global; untuk mampu dalam bekerja-sama dengan banyak disiplin ilmu; untuk pembangunan dan perkembangan dari teknologi baru dan mampu memahami proses interaksi manusia, lingkungan dan kemasyarakatan serta mencapai geoliteracy dan (3) inovasi pendidikan yang harus digunakan di sekolah, khususnya di wilayah rawan bencana dan umumnya di Indonesia yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana adalah dengan pendekatan spasial. Pendekatan spasial digunakan untuk memahami gejala geosfer agar mempunyai pengetahuan yang lebih mendalam tentang kebencanaan melalui analisis variabel keruangan. Intelegensi spasial adalah pondasi awal dari inovasi pendidikan bencana berbasis pendekatan spasial di Indonesia. Inovasi pendidikan ini merupakan harmoni dari hubungan manusia dengan keberagaman karakteristik ruang hidup Indonesia, termasuk di dalamnya kekayaan sumberdaya dan ancaman bencana.
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN UNTUK ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA LERENG TIMUR LAUT GUNUNG AGUNG KABUPATEN KARANGASEM-BALI I Gede Budiarta
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11420

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di lereng sebelah timur laut Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Daerah penelitian merupakan lahan kering dengan pola penggunaan lahan yang belum menunjukkan kesesuaian dengan potensi lahan yang ada. Di sisi lain, kemajuan teknologi dalam bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satunya dengan melakukan analisis kemampuan lahan untuk mengetahui potensi sumberdaya lahan dan meminimalisir resiko kegagalan petani. Hasil analisis kemampuan lahan diharapkan dapat menjadi pedoman penggunaan lahan secara lebih optimal sesuai dengan harapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi lahan dan merekomendasikan arahan penggunaan lahan berdasarkan kondisi kemampuan lahan eksisting pada daerah penelitian. Rancangan yang digunakan adalah rancangan deskriptif, dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang kemampuan dan kesesuaian penggunaan lahan daerah penelitian. Pedoman analisis kemampuan lahan dalam penelitian ini mengacu kepada Arsyad (2006) dan Peraturan Mentari Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup Dalam Penataan Ruang Wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kelas kemampuan lahan pada daerah penelitian berkisar antara kelas III hingga kelas VI. Kemampuan lahan kelas III tersebar pada unit lahan 1, unit lahan 2, unit lahan 3, dan unit lahan 8. Kemampuan lahan kelas IV terdapat pada unit lahan 4, unit lahan 7, unit lahan 9, unit lahan 10, dan unit lahan 12, dan kemampuan lahan kelas VI terdapat pada unit lahan 5, unit lahan 6, dan unit lahan 11;  2) Nilai kesesuaian penggunaan lahan yang diperoleh adalah 92,85 %. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah penelitian (92,85 %) sudah sesuai antara kemampuan lahan dan penggunaannya. Selebihnya (7,15 %) tergolong tidak sesuai. Kesesuaian penggunaan lahandaerah penelitian masuk ke dalam kriteria tinggi; 3) Arahan penggunaan lahan disesuaikan dengan kondisi eksisting unit lahan. Pada lahan kelas III-IV yang belum sesuai penggunaannya atau belum dimanfaatkan secara optimal, pilihan penggunaan lahan yang dapat dilakukan yaitu: 1) tanaman semusim ; 2) tanaman perkebunan 3);  Sementara pada lahan kelas VI yang belum sesuai penggunaannya atau belum dimanfaatkan secara optimal, pilihan penggunaan lahan yang dapat dilakukan yaitu hutan produksi dan penggunaan lahan nonpertanian.
Membangun Nasionalisme Melalui Pembelajaran Geografi Berbasis Pengembangan Wilayah I Gede Astra Wesnawa
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11421

Abstract

Geografi lingkungan sebagai ilmu pengetahuan memiliki objek kajian yang luas, mencakup fenomena geosfer di permukaan bumi yang terdiri dari atmofer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer. Dalam hubungan ini wawasan geografi lingkungan sebagai pemberdayaan sumberdaya wilayah dalam bingkai ke Indonesiaan ketersediaan data dasar sumberdaya alam secara spasial belum optmal, sehingga membawa dampak pada pengenalan dan pemahaman terhadap keberadaan suatu wilayah, yang pada akhirnya terjadi degradasi nasionalisme. Geografi memiliki naluri ilmiah untuk mempelajari gejala geosfer secara utuh menyeluruh dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan dan kewilayahan.  Dengan bekal pengetahuan tentang karakteristik wilayah, merupakan modal dasar dalam membangun nasionalisme. perlu adanya penguatan  internalisasi dan institusionalisasi pendidikan geografi. Penguatan tersebut memerlukan pengetahuan dan kearifan dalam mengatasi keterbatasan dan keangkuhan manusia dalam menyelaraskan dan menyingkap tabir alam. Inovasi dalam proses pembelajaran geografi dalam membangun nasionalisme meliputi: (1) kompetensi seperti pemahaman konsep geografi dan fenomena geosfer, mampu memanfaatkan peta dan berbagai citra penginderaan jauh dengan analisis dan sintesis data spasial, mampu mengenalkan karakteristik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2) materi yang  “membumi” dengan cara mengenalkan bentang alam secara berjenjang dari tingkat lingkungan sekitar, regional dan nasional dan materi yang bersifat dinamis, dan (3) model pembelajaran yang  harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk pengenalan objek kajian secara langsung di lapangan dan pengenalan alat survei lapangan.
POTENSI KONFLIK DI DAERAH TUJUAN TRANSMIGRASI (KASUS SAMPIT DAN MESUJI) I Made Sarmita
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11422

Abstract

Program transmigrasi yang digalakkan oleh pemerintah sebagai salah satu program kebijakan kependudukan tidak selamanya membawa berkah bagi kaum transmigran. Dibalik potensi kehidupan yang lebih terjamin, dalam program ini juga menyimpan potensi konflik yang setiap saat bisa meletus. Artikel ini menguraikan potensi konflik di daerah tujuan transmigrasi disertai dengan beberapa kasus yang telah terjadi. Potensi terjadinya konflik di daerah transmigrasi sangat besar, terjadi karena tidak adanya kesesuaian budaya pendatang dengan budaya lokal, fanatisme kedaerahan, kecemburuan terhadap keberhasilan penduduk pendatang, dan perilaku penduduk pendatang yang menyinggung kebiasaan atau adat-istiadat penduduk lokal. Konflik juga terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan utamanya berkaitan dengan teori ketamakan serta teori kemerosotan dan kelangkaan sumberdaya alam. Hasil studi empiris yang dipaparkan memperkuat teori yang sudah ada. Berbenturnya sifat-sifat negatif yang dimiliki masing-masing etnis menjadi akar konflik etnis Madura dengan etnis Sampit. Pada sisi lainnya teori ketamakan menjadi basis timbulnya konflik di Mesuji Lampung.
PERUBAHAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA GLAGAHARJO PASCA ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI TAHUN 2010 I Putu Ananda Citra
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Glagaharjo pasca erupsi gunungapi merapi tahun 2010 di Kabupaten Sleman. Pengumpulan data kondisi ekonomi dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dengan sejumlah sampel penduduk yang ditentukan menggunakan teknik snowball sampling. Data akan dianalisis dengan metode deskriptif analisis kualitatif untuk mendeskripsikan perubahan kondisi ekonomi penduduk. Dalam analisis tersebut diuraikan perbandingan mengenai kondisi ekonomi sebelum dan setelah erupsi tahun 2010. Dalam perubahan kondisi ekonomi tersebut selain menggunakan data atau informasi yang diperoleh secara langsung melalui kegiatan wawancara mendalam juga digunakan informasi pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi pada setiap dusun di Desa Glagaharjo. Mulai dari perubahan mata pencaharian, pendapatan, kepemilikan lahan, dan penolakan masyarakat karena terdapat wacana relokasi. Perubahan yang paling menonjol dari segi ekonomi yaitu perubahan mata pencaharian menjadi penambang pasir.